5. Arsitektur bangunan dipengaruhi oleh beberapa kebudayaan
6. Konstruksi bangunan adalah kayu
Bangunan ini terbuat dari kayu ulin kualitas terbaik yang mampu bertahan hingga ratusan
tahun. Rumah yang dibangun melalui gotong royong, berskala besar, panjang 30 hingga 150
m, lebar 10 hingga 30 m, dengan tiang-tiang 3 hingga 4 m di atas permukaan tanah. Huma
Betang dihuni oleh sebuah keluarga besar yang beranggotakan 100 hingga 150 orang yang
dipimpin oleh seorang kepala suku atau Pambakas Lewu. Berbagai nilai budaya yang terlihat
dalam Huma Betang adalah nilai persaudaraan yang disebut dengan Hapsari, nilai gotong
royong yang disebut dengan Hadep, nilai sopan santun dan etika yang disebut dengan Belom
Bahadat dan nilai musyawarah untuk mufakat disebut dengan Hapakat Kula.
Permukiman Dayak seringkali terletak di tepian sungai dengan pola linier mengikuti
lekukan sungai dan menghadap ke sungai. Hal tersebut sesuai dengan kepercayaan mereka
bahwa air adalah sebagai sumber kehidupan. Pada pemukiman yang terletak di pinggir
sungai, terdapat rakit, kayu sebagai tempat perahu yang sekaligus pula berfungsi sebagai
MCK. Suatu ciri dari pemukiman suku Dayak adalah adanya batang panggaring yang
biasanya merupakan tempat lebah bersarang. Pohon ini melambangkan “Kehidupan”
sehingga disebut pula “Pohon Kehidupan”. Ada pula rumah di beberapa desa yang berada di
tengah hutan dan jauh dari sungai, bila terjadi hal yang demikian maka orientasinya adalah
kearah matahari terbit, sehingga perumahannya akan memanjang ke samping dan menghadap
matahari terbit (Mujib, 2021).
F. Adat menikah
Prosesi pernikahan adat Dayak Ngaju berlangsung dalam banyak tahap. Pernikahan adat
ini dinamakan Pengantin Mandai. Dalam prosesi tersebut, seorang ibu tua dari keluarga calon
mempelai pria membawa mangkok berisi bingkisan. Sementara itu, keluarga mempelai
wanita menyambutnya di balik pagar. Sebelum memasuki rumah mempelai wanita. Setiap
keluarga calon pengantin memiliki perwakilan penyambut tamu yang menjelaskan maksud
dan tujuan kedatangan mereka dalam bahasa Dayak Ngaju. Namun, sebelum diperbolehkan
masuk, rombongan mempelai pria harus melawan penjaga agar bisa lolos dari barikade pintu.
Kemudian, setelah laki-laki dinyatakan sebagai pemenang, tali bisa dipotong dan di depan
rumah pengantin pria harus berjalan di atas kulit telur dan menaburkan koin di atas nasi.
Maksud dan tujuannya adalah agar perjalanan perkawinan mereka aman, sejahtera dan
damai. Usai duduk di dalam ruangan, dialog kedua belah pihak pun dimulai. Masing-masing
terwakili (Haluang Hapelek). Di atas tikar (amak badere), anggur disajikan untuk menjamin
kelancaran percakapan dan membangun keakraban antara dua lawan bicara (TELHALIA,
2021).
Sebelum menemui mempelai wanita, mempelai laki-laki terlebih dahulu menyerahkan
barang-barang adat antara lain palaku (mas kawin), kain, sinjang entang, penutup uwan,
balau singah tepi, lamiang turus tepi, dan buit lapik ruji. Menurut adat istiadat saat ini,
sebelum calon pengantin sah, mereka harus menandatangani akta nikah dengan disaksikan
oleh kedua orang tua. Dan adapun orang-orang yang menerima jaminan itu, mereka itu
dinyatakan sebagai saksi perkawinannya. Sebelum mengakhiri acara, masing-masing
keluarga akan berdoa untuk memberkati kedua mempelai (tampung rawar). Selanjutnya
hatata undus, yaitu upacara saling mengurapi antara dua keluarga sebagai tanda suka cita
menyatukan dua keluarga besar.
G. Adat lahir dan meninggal
Adat Lahir:
Menurut tradisi Dayak, saat melahirkan sering diadakan upacara pemukulan
kendang/gimar dan diiringi melodi khusus yang disebut Domaq. Hanya dengan begitu proses
persalinan bisa berjalan lancar dan aman. Setelah bayi lahir, tali pusar dipotong sembilu
seukuran lutut bayi, kemudian diikat dengan benang dan menggunakan sediaan obat