JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 31-40
E-ISSN: 3031-2957
31
Luckia Syafarina et.al (Transformasi Pola Hidup Pekerja Migran....)
Transformasi Pola Hidup Pekerja Migran Indonesia
(PMI) Di Lombok Timur Sebelum Dan Setelah
Keberangkatan Ke Negara Tujuan
Luckia Syafarina
a,1
, Lulu Amini
b,2
, Maodia Ananta
c,3
, Mayla Padiatun Nisa
d,4
, Ika Wijayanti
e,5
a,b,c,d,e
Universitas Mataram, Jln. Majapahit No.62 Kota Mataram, Indonesia (83125)
1
syafarinaluckia@gmail.com,
2
luluamini1108@gmail.com,
3
maodiaananta0@gmail.com,
4
maylapadiatunnisa@gmail.com ,
5
ikawijayanti@unram.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 27 April 2025
Direvisi: 5 Mei 2025
Disetujui: 19 Mei 2025
Tersedia Daring: 13 Juni 2025
Penelitian ini membahas perubahan pola hidup Pekerja Migran
Indonesia (PMI) di Kabupaten Lombok Timur sebelum dan sesudah
bekerja di luar negeri. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif
dan desain studi kasus, data diperoleh melalui wawancara dan
observasi terhadap lima informan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kondisi ekonomi yang tidak stabil menjadi alasan utama para
PMI memutuskan bekerja di luar negeri. Sebelum keberangkatan,
mereka umumnya bekerja di sektor informal dengan penghasilan
yang hanya mencukupi kebutuhan dasar. Setelah bekerja di luar
negeri, terdapat peningkatan ekonomi yang signifikan,
memungkinkan para PMI menabung, membeli aset seperti tanah atau
rumah, serta memenuhi kebutuhan tersier. Walaupun pola hidup
mereka belum berubah drastis, para PMI merasa lebih mampu
merencanakan masa depan yang lebih baik. Penelitian ini juga
mengungkapkan bahwa komunikasi melalui teknologi membantu
menjaga hubungan dengan keluarga di tanah air. Hasil penelitian
memberikan wawasan tentang dinamika kehidupan PMI, terutama
dalam hal kesejahteraan ekonomi, sosial, dan psikologis.
Kata Kunci:
Pekerja Migran Indonesia
Pola Hidup
Ekonomi
ABSTRACT
Keywords:
Indonesian Migrant Workers
Lifestyle
Economy
This study examines the lifestyle changes of Indonesian Migrant
Workers (PMI) in East Lombok Regency before and after working
abroad. Using a qualitative approach and a case study design, data
were collected through interviews and observations with five
informants. The findings indicate that unstable economic conditions
are the main reason PMIs decide to work overseas. Before
departure, they generally worked in the informal sector with incomes
sufficient only for basic needs. After working abroad, there was a
significant economic improvement, enabling PMIs to save, purchase
assets such as land or houses, and meet tertiary needs. Although
their lifestyle has not drastically changed, PMIs feel more capable of
planning a better future. The study also reveals that communication
technology helps maintain relationships with family members back
home. These findings provide insights into the dynamics of PMIs’
lives, particularly regarding their economic, social, and
psychological well-being.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 31-40
E-ISSN: 3031-2957
32
Luckia Syafarina et.al (Transformasi Pola Hidup Pekerja Migran....)
©2025, Luckia Syafarina, Lulu Amini, Maodia Ananta,
Mayla Padiatun Nisa, Ika Wijayanti
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Migrasi tenaga kerja internasional (PMI) telah menjadi bagian integral dari dinamika sosial dan
ekonomi Indonesia dalam beberapa dekade terakhir. Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS),
jumlah PMI yang diberangkatkan oleh Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun.
Pada tahun 2020, tercatat sebanyak 3.192 PMI yang berangkat ke luar negeri, meningkat menjadi 3.254
pada tahun 2021, dan 3.436 pada tahun 2022 (Bank Indonesia & BNP2TKI, 2022). Peningkatan jumlah
Pekerja Migran Indonesia ini menunjukkan bahwa migrasi internasional tetap menjadi salah satu pilihan
utama bagi banyak masyarakat Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Pada 2023,
meskipun ada fluktuasi terkait kebijakan migrasi, PMI Indonesia tetap menjadi salah satu kontributor
bagi pasar tenaga kerja global. Data penempatan PMI menunjukkan peningkatan sebanyak 4.382
(18,06%) dari 24.268 pada Maret 2023 menjadi 28.650 pada Maret 2024. Disamping itu itu,
penempatan informal mendominasi sebanyak 53,45% dari seluruh jumlah penempatan pada Maret
2024. (BP2MI, 2024).
Salah satu daerah yang mengalami lonjakan signifikan dalam jumlah PMI adalah Kabupaten
Lombok Timur, yang kini tercatat sebagai salah satu kabupaten dengan kantong PMI terbesar di Nusa
Tenggara Barat (NTB). Berdasarkan data yang diunggah oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Kabupaten Lombok Timur (2024), Satu Data Lombok Timur pada bulan Desember, 2023 mencatat ada
sebanyak 10.182 Tenaga Kerja dan Transmigran Lombok Timur yang akan, sedang, atau telah
melakukan pekerjaan dengan menerima upah di luar wilayah Republik Indonesia. Berdasarkan laporan
ANTARA News (2024), Lombok Timur mengalami peningkatan jumlah PMI yang signifikan, berkat
adanya program-program pemerintah seperti Desa Migran Produktif (Desmigratif). Program ini
memberikan fasilitas berupa pelatihan keterampilan, pendampingan, dan pengurusan dokumen
keberangkatan secara legal dan aman bagi calon PMI (ANTARA, 2024).
Bagi banyak masyarakat di Kabupaten Lombok Timur, bekerja ke luar negeri bukan hanya
sekadar solusi untuk masalah ekonomi, tetapi juga sebagai strategi untuk meningkatkan kualitas hidup.
Meskipun demikian, keputusan untuk bekerja di luar negeri membawa dampak besar pada kehidupan
sosial, ekonomi, dan psikologis mereka. Sebelum keberangkatan, calon PMI sering kali terlibat dalam
serangkaian persiapan yang intensif, seperti pelatihan keterampilan kerja, pelatihan bahasa, pengurusan
dokumen, serta pembekalan budaya yang berkaitan dengan negara tujuan. Proses ini sering kali
memengaruhi keseimbangan aktivitas harian mereka, termasuk pola makan, waktu istirahat, dan
kesehatan mental. Menurut Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia
(BNP2TKI), tekanan untuk memenuhi berbagai persyaratan keberangkatan sering kali menambah beban
fisik dan mental yang dapat mempengaruhi kesehatan para calon PMI (BNP2TKI, 2023).
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 31-40
E-ISSN: 3031-2957
33
Luckia Syafarina et.al (Transformasi Pola Hidup Pekerja Migran....)
Di negara tujuan, PMI sering kali menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungan kerja dan budaya baru. Kondisi kerja yang berat, akses terbatas ke layanan kesehatan, serta
penyesuaian terhadap pola makan dan budaya lokal dapat memengaruhi kesejahteraan fisik dan mental
mereka. Hal ini dapat memicu transformasi pola hidup yang signifikan, yang tidak hanya berlangsung
selama masa kerja di luar negeri, tetapi juga berlanjut setelah mereka kembali ke Indonesia. Setelah
kembali, banyak PMI mengalami perubahan dalam cara pandang terhadap gaya hidup, pola konsumsi,
hingga model pengelolaan keuangan. Beberapa di antaranya membawa kebiasaan positif, seperti
kemampuan untuk mengelola keuangan dengan lebih baik atau berinvestasi dalam pendidikan dan
usaha. Namun, ada juga yang menghadapi tantangan besar, seperti kesulitan dalam membangun
kembali hubungan keluarga, memenuhi ekspektasi sosial yang telah berkembang, atau mengatasi
masalah kesehatan yang timbul akibat kondisi kerja yang buruk selama bekerja di luar negeri.
Faktor risiko lebih lanjut yang dapat memperburuk kesehatan khususnya mental pekerja migran
juga mencakup pengucilan sosial, stigma dan diskriminasi (Rahmawati & Kamilah, 2020). Dalam
penjabarannya, Rahmawati dan Kamilah menjelaskan bahwa pengucilan sosial, stigma, dan
diskriminasi bukan hanya mempengaruhi kesejahteraan fisik pekerja migran, tetapi juga memiliki
dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental mereka. Ketika pekerja migran terpapar secara
berulang terhadap faktor-faktor ini, mereka lebih cenderung mengembangkan masalah psikologis yang
bisa berlangsung hingga mereka kembali ke tanah air. Keputusan untuk bekerja di luar negeri, yang
awalnya dianggap sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas hidup, malah berpotensi memperburuk
kesehatan mental mereka jika tidak diimbangi dengan dukungan sosial yang memadai. Oleh karena itu,
diperlukan perhatian yang lebih besar terhadap dampak psikologis dari migrasi tenaga kerja ini, baik
selama masa kerja maupun setelah mereka kembali ke Indonesia (Rahmawati & Kamilah, 2020).
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Erawati, Karyadi & Syuhada (2023) dan Khotimah &
Ali (2024) memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai dampak sosial dan ekonomi dari
migrasi tenaga kerja. Penelitian Erawati et al. (2023) mengkaji dampak migrasi terhadap kondisi sosial
dan ekonomi keluarga PMI di Desa Lepak, Kabupaten Lombok Timur, dengan menekankan perubahan
signifikan dalam status sosial, interaksi sosial, serta pendidikan anggota keluarga yang ditinggalkan
oleh PMI. Dampak ekonomi juga terlihat dari meningkatnya pendapatan keluarga dan perubahan pola
konsumsi mereka. Dalam studi yang menggunakan pendekatan fenomenologi ini, ditemukan bahwa
keberangkatan PMI membawa dampak positif pada kesejahteraan keluarga secara keseluruhan (Erawati
et al, 2023).
Penelitian Khotimah & Ali (2024) juga memfokuskan pada dampak migrasi terhadap kondisi
sosial dan ekonomi keluarga PMI di Desa Lepak. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya, namun lebih menekankan pada dampak perubahan dalam tingkat partisipasi sosial anggota
keluarga yang meningkat setelah PMI kembali ke kampung halaman. Perubahan dalam status sosial,
interaksi sosial, dan peningkatan pendapatan menjadi fokus utama penelitian ini, dengan kesimpulan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 31-40
E-ISSN: 3031-2957
34
Luckia Syafarina et.al (Transformasi Pola Hidup Pekerja Migran....)
bahwa keberangkatan PMI memiliki dampak yang cukup besar terhadap struktur sosial dan ekonomi
keluarga mereka (Khotimah & Ali, 2024).
Perbedaan utama antara dua penelitian tersebut dan penelitian yang penulis kaji terletak pada
fokus utama yang lebih menitikberatkan pada transformasi pola hidup PMI, baik sebelum
keberangkatan, selama berada di luar negeri, maupun setelah mereka kembali ke tanah air. Kajian ini
bertujuan untuk mengeksplorasi perubahan gaya hidup, kesejahteraan fisik dan mental, serta cara
pengelolaan keuangan PMI setelah kembali ke Indonesia. Fokus ini lebih mengarah pada bagaimana
PMI menyesuaikan diri dengan kondisi sosial dan budaya di negara tujuan dan bagaimana mereka
beradaptasi kembali ke kehidupan di kampung halaman setelah masa migrasi. Dengan mengidentifikasi
perubahan dalam pola hidup PMI, penelitian ini berusaha memberikan gambaran yang lebih
komprehensif mengenai dampak sosial dan psikologis migrasi internasional yang berkaitan erat dengan
pola hidup Pekerja Migran Indoensia (PMI). Hal ini lah yang menjadi novelty atau kebaruan dari kajian
ini.
Di beberapa daerah di Lombok Timur, migrasi tenaga kerja menjadi salah satu alternatif utama
bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka. Bagi sebagian besar penduduk,
bekerja di luar negeri sering dianggap sebagai peluang untuk memperoleh penghasilan yang lebih
tinggi, terutama mengingat terbatasnya lapangan pekerjaan di dalam negeri. Namun, meskipun banyak
PMI yang berhasil mendapatkan penghasilan lebih tinggi, mereka tetap menghadapi tantangan besar
terkait kesehatan fisik dan mental. Banyak PMI yang bekerja di sektor informal, seperti pekerja rumah
tangga atau pekerja konstruksi, yang sering kali berada dalam kondisi kerja yang kurang aman dan tidak
mendapatkan perlindungan yang cukup sehingga memilih untu kembali ke tanah air. Selain itu, banyak
PMI yang kembali ke tanah air mengalami kesulitan beradaptasi dengan kehidupan di kampung
halaman, baik dalam aspek sosial, ekonomi, maupun kesehatan.
Hal itu terlihat dalam data pengaduan Pekerja Migran Indonesia periode Maret 2024 yang
terkonsentrasi di Malaysia, Taiwan, Saudi Arabia, Korea Selatan, dan Cambodia. Pengaduan di lima
negara tersebut mencapai 96 pengaduan atau 83,47% dari seluruh Pengaduan. Sementara itu, Provinsi
dengan pengaduan Pekerja Migran Indonesia terbanyak adalah Provinsi Jawa Barat sebanyak 34, yang
mengalami peningkatan 26% dari bulan sebelumnya yang berjumlah 27. Pengaduan paling umum
meliputi Pekerja hamil dan memiliki anak, dan Pekerja Migran Indonesia ingin dipulangkan karena
alasan-alasan tertentu (BP2MI, 2024). Banyak PMI asal Pulau Lombok yang berhasil membawa
kebiasaan positif, seperti pola konsumsi yang lebih baik atau kemampuan berinvestasi dalam
pendidikan dan usaha. Namun, tidak sedikit pula yang menghadapi kesulitan dalam beradaptasi dengan
ekspektasi sosial yang berkembang, kesulitan dalam membangun kembali hubungan keluarga, atau
masalah kesehatan yang ditinggalkan oleh kondisi kerja yang berat di luar negeri.
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis transformasi pola hidup PMI,
baik sebelum keberangkatan, selama bekerja di luar negeri, maupun setelah kembali ke Indonesia,
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 31-40
E-ISSN: 3031-2957
35
Luckia Syafarina et.al (Transformasi Pola Hidup Pekerja Migran....)
khususnya di Kabupaten Lombok Timur. Dengan memahami dinamika perubahan pola hidup PMI ini,
diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi dalam merancang kebijakan yang mendukung
keberlanjutan kesejahteraan PMI dan keluarganya, serta membantu mereka dalam masa adaptasi yang
lebih baik setelah kembali ke tanah air.
2. Metode
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode kualitataif dengan pendekatan studi kasus,
menurut Moleong, 2010 metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang bermaksud
untuk memahami fenomena yang di alami oleh subjek penelitain seperti perilaku, persepsi, motif, dan
tindakan yang di lakukan kemudian dideskripsikan dalam bentuk kata-kata dan bahasa melalui metode
yang ilmiah (Ndarujati:2021). Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Lombok Timur Nusa Tenggara
Barat, yang relevan dengan fenomena dan menjadi fokus kajian. Jumlah PMI dari Kabupaten Lombok
Timur menempati posisi tertinggi dibandingkan dengan kabupaten atau kota di Nusa Tenggara Barat.
Subjek penelitian meliputi pekerja migran, yang dipilih berdasarkan kriteria seperti keterlibatan
langsung dengan fenomena dan kesediaan untuk berpartisipasi. Pengumpulan data dilakukan
melalui dua teknik utama, yaitu wawancara dan observasi. Wawancara dilakukan secara semi-
terstruktur menggunakan panduan pertanyaan untuk mengeksplorasi pengalaman dan pandangan subjek
terkait fenomena yang dikaji. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan secara sistematis
dengan tujuan untuk memehami dan menginterprestasikan makna dari data yang terkumpul. Dalam
penelitian ini menggunakan tiga teknik analisis data yaitu. Reduksi data, penyajian data, dan penarikan
kesimpulan.
3. Hasil dan Pembahasan
Pola Hidup PMI Asal Lombok Timur Sebelum Keberangkatan ke Negara Tujuan
1. Kebutuhan Dasar Sandang
Kebutuhan sandang merupakan kebutuhan dasar yang berkaitan dengan pakaian yang fungsinya
untuk melindungi tubuh dan sebagai penunjang penampilan. Selain sebagai kebutuhan fungsional,
sandang juga memiliki peran simbolis dalam status sosial dan kehidupan bermasyarakat. Bagi para
Pekerja Migran Indonesia (PMI) seringkali mencerminkan keterbatasan ekonomi. Informan hanya
membeli pakaian pada momen tertentu, seperti lebaran atau ketika acara keluarga. Sebagian besar
informan tidak memiliki kebiasaan membeli baju secara berkala, kecuali jika benar-benar dibutuhkan.
Seperti yang disamapaikan oleh salah satu informan dalam wawancara yaitu
“Gaji guru honorer pire lalok terus mauk arak 3 bulan sekali, penghasilan
bangket endah ndek ne nentu, keseringan rugi, sekali wah nalet terong aceh,
laguk pas panen rugi sengak sekilo arak seribu, ndek ne sesuai biaya tanam
kance penjualan”.
Dari kutipan wawancara diatas informan menjelaskan bagaimana penghasilannya sebelum
menjadi PMI, ia sebagai guru honorer dan petani, walapun memiliki dua pekerjaan tetapi tetap saja
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 31-40
E-ISSN: 3031-2957
36
Luckia Syafarina et.al (Transformasi Pola Hidup Pekerja Migran....)
belum bisa memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan, karena gaji dari seoarng guru
honorer diberikan dalam tiga bulan sekali dengan jumlah yang tidak terlalu besar, dan ketika bertani
biaya yang dikeluarkan untuk bertanam tidak sesuai dengan hasil yang didapat, karena dalam harga
sayuran seperti tomat, cabai dan sayuran lainnya selalu mengalami kenaikan dan penurunan harga yang
signifikan. Dari hal inilah yang membuat prioritas informan lebih berorientasi pada pemenuhan
kebutuhan pokok dibandingkan gaya hidup konsumtif.
2. Kebutuhan Dasar Pangan
Kebutuhan pangan merupakan kebutuhan dasar mengenai makanan dan minuman yang
diperlukan untuk memenuhi nutrisi dalam tubuh agar dapat bertahan hidup dan bertumbuh kembang.
Kebutuhan pangan berkaitan dengan pola makan dan vitamin yang terkandung dalam makanan yang
akan masuk kedalam tubuh, agar tubuh mendapat energy dan zat-zat yang seimbang. Namun, sebelum
memutuskan untuk bekerja ke luar negeri, kehidupan para pekerja migran Indonesia (PMI) di Lombok
Timur ditandai dengan gaya hidup yang sederhana. Berdasarkan hasil wawancara yang sudah dilakukan
dengan beberapa informan, dalam memenuhi kebutuhan pangan, informan dan keluarga tetap makan
tiga kali sehari, tetapi dengan menu lauk yang kurang bervariasi. Lauk yang dikonsumsi terbatas pada
pilihan yang paling terjangkau, tersedia di wilayah informan, sehingga tidak selalu memenuhi
kebutuhan gizi yang ideal. Fokus utamanya adalah memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, meskipun
kualitas gizi makanan sering kali harus dikorbankan.
3. Kebutuhan Dasar Papan
Kebutuhan papan atau kebutuhan mengenai tempat tinggal adalah salah satu kebutuhan yang
sangat berperan penting bagi manusia untuk dapat merasakan keamanan, kenyamanan, dan
perlindungan dari kondisi lingkungan. Selain itu, memiliki tempat tinggal yang layak juga
mencerminkan kestabilan ekonomi sebuah keluarga. Namun, kondisi kebutuhan papan, atau tempat
tinggal ini menjadi tantangan terbesar bagi sebagian besar PMI. Banyak dari informan yang belum
memiliki rumah pribadi sebelum keberangkatan. Beberapa tinggal bersama keluarga besar. Ketiadaan
tempat tinggal yang dimiliki secara pribadi mencerminkan keterbatasan finansial yang dialami sebelum
memutuskan untuk bekerja ke luar negeri. Keterbatasan ini menjadi salah satu faktor pendorong utama
bagi informan untuk mencari peluang kerja di luar negeri, dengan harapan dapat meningkatkan taraf
hidup dan memperoleh stabilitas ekonomi yang lebih baik.
Pola Hidup PMI Asal Kabupaten Lombok Timur Setelah Menjadi PMI
Setelah menjadi pekerja migran, kondisi ekonomi para informan mengalami perubahan yang
signifikan. Pendapatan yang lebih stabil dan jauh lebih besar dibandingkan dengan pekerjaan yang
sebelumnya, hal ini memungkinkan informan memenuhi kebutuhan primer sekaligus kebutuhan tersier.
Informan tidak hanya mampu membeli barang-barang yang sebelumnya sulit dijangkau, tetapi juga
memenuhi keinginan pribadi yang sebelumnya harus ditunda karena keterbatasan finansial. Hal ini
mencerminkan peningkatan kualitas hidup yang mereka rasakan setelah mendapatkan penghasilan dari
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 31-40
E-ISSN: 3031-2957
37
Luckia Syafarina et.al (Transformasi Pola Hidup Pekerja Migran....)
bekerja di luar negeri, seperti yang dijelaskan oleh salah satu informan dalam kutipan wawancara
berikut.
“Ada perubahan semenjak saya keluar negeri ini, kebutuhan anak dan istri
saya dapat terpenuhi dengan lebih baik, dan sebagian gaji sudah ditabung di
bank, sebelumnya kan saya ga punya tabungan, sekedar buat Menuhin
kebutuhan sehari-hari aja”.
Dari kutipan hasil wawancara diatas, informan menjelaskan bahwa kebutuhannya dan kebutuhan
anak istrinya dapat terpenuhi dengan cukup dan lebih baik dari sebelum ia bekerja diluar negeri, dan
dari hasil ia bekerja sudah bisa untuk menabung di bank, yang sebelumnya hanya bisa memenuhi
kebutuhan dasar saja. Tabungan ini menjadi jaminan masa depan yang sebelumnya sulit untik dimiliki
ketika bekerja di dalam negeri. Beberapa dari informan juga memanfaatkan penghasilan untuk membeli
tanah sebagai bentuk investasi jangka panjang. Langkah ini menunjukkan bagaimana PMI
memprioritaskan stabilitas ekonomi jangka panjang untuk diri sendiri dan keluarga.
Selain tabungan, Salah satu perubahan yang sangat dirasakan adalah kemampuan dari informan
untuk memiliki aset yang sebelumnya hanya menjadi impian. Beberapa informan menyatakan bahwa ia
berhasil membeli rumah baru, baik melalui pembayaran tunai maupun cicilan. Ada pula yang memilih
untuk membangun rumah sendiri di tanah yang sebelumnya dibeli dari hasil gaji menjadi PMI.
Ketersediaan tempat tinggal pribadi ini menjadi salah satu indikator keberhasilan informan dalam
meningkatkan taraf hidup melalui hasil kerja keras di luar negeri.
Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan tersier juga menjadi tanda meningkatnya kesejahteraan.
Beberapa informan mengungkapkan bahwa dapat membeli barang-barang konsumtif yang sebelumnya
dianggap sebagai kemewahan, seperti peralatan rumah tangga modern, kendaraan berupa motor, atau
barang-barang pribadi lainnya. Perubahan ini mencerminkan adanya ruang finansial yang lebih longgar
setelah mendapatkan penghasilan sebagai PMI.
Kehidupan PMI setelah bekerja di luar negeri tidak hanya mencerminkan perbaikan ekonomi
tetapi juga peningkatan rasa percaya diri dan kebahagiaan. Dengan penghasilan yang cukup, mereka
tidak lagi dibebani oleh kekhawatiran akan kebutuhan dasar. Perubahan ini memberikan peluang bagi
mereka untuk merencanakan masa depan dengan lebih optimis, baik untuk diri sendiri maupun
keluarga. Transformasi ini menjadi bukti nyata bahwa bekerja sebagai PMI telah memberikan dampak
yang signifikan terhadap peningkatan taraf hidup.
Hasil temuan ini sejalan dengan penelitian (Erawati, dkk 2023) yang menunjukkan bahwa bekerja
diluar negeri membawa dampak positif terhadap kondisi ekonomi keluarga PMI, terutama dalam
peningkatan pendapatan, perubahan pola konsumsi, dan perbaikan kondisi rumah. (Ernawati, dkk 2023)
juga membahas PMI membawa dampak pada perubahan status sosial, interaksi sosial, dan pendidikan
anggota keluarga PMI. Namun, perbedaan utama antara kedua penelitian ini adalah pada fokus
penelitian. Penelitian yang dilakukan oleh (Ernawati, dkk 2023) lebih menekankan pada perubahan
yang terjadi pada keluarga PMI secara keseluruhan, terutama dalam aspek sosial dan ekonomi keluarga.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 31-40
E-ISSN: 3031-2957
38
Luckia Syafarina et.al (Transformasi Pola Hidup Pekerja Migran....)
Dan penelitian ini lebih berfokus pada perubahan yang dialami oleh PMI itu sendiri, khususnya dalam
pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan.
Selain peningkatan ekonomi, hubungan keluarga juga tetap terjaga meskipun informan tinggal
jauh dari keluarga. Teknologi komunikasi yang sudah canggih menjadi alat untuk tetap terhubung
dengan keluarga di rumah. Para informan memiliki pola komunikasi yang bervariasi, tergantung pada
kondisi kerja dan waktu yang tersedia. Seperti yang dilakukan oleh beberapa informan, yang tetap
menjaga komunikasi dengan keluarga secara rutin setiap hari, sedangkan yang masih lajang biasanya
berhubungan dengan orang tua mereka sekitar tiga kali seminggu. Komunikasi ini menjadi penghubung
penting yang membantu mereka menghadapi tantangan psikologis akibat jarak fisik dengan keluarga.
Setiap informan juga memiliki harapan yang beragam untuk masa depannya dan keluarga, setelah
selesai bekerja di luar negeri. Ada yang ingin memiliki usaha peternakan sapi, ayam, ada yang berharap
memiliki rumah dan mobil, sementara yang lain bercita-cita membuka usaha kecil-kecilan agar tidak
perlu kembali menjadi pekerja migran.
Analisis Teori
Teori yang relevan dengan pola hidup PMI sebelum dan sesudah mereka menjadi PMI yaitu teori
strukturasi Anthony Giddens yang menjelaskan pola hidup PMI dimana teori ini berhubungan dengan
bagaimana individu (PMI) dan struktur sosial (lingkungan kerja, budaya, atau kebijakan di negara
tujuan) saling memengaruhi. Teori ini menjelaskan bahwa gaya hidup PMI sebelum dan sesudah
menjadi pekerja migran merupakan hasil interaksi antara struktur sosial dan perilaku individu. Sebelum
menjadi pekerja migran, struktur sosial seperti norma budaya dalam negeri, kondisi ekonomi,
pendidikan, dan kesempatan kerja mempengaruhi keputusan seseorang untuk bekerja di luar negeri.
Misalnya, keterbatasan pekerjaan lokal, tuntutan ekonomi keluarga, atau persepsi bahwa bekerja di luar
negeri adalah peluang untuk meningkatkan standar hidup membuat individu mengambil keputusan ini.
Di sisi lain, individu mempunyai kemampuan untuk bertindak mandiri bahkan dalam kerangka struktur
sosial. Mereka mengenyam pendidikan, mencari pekerjaan, dan memutuskan meninggalkan tanah air
dan menjadi pekerja migran. Tindakan-tindakan ini tidak hanya dipengaruhi oleh struktur sosial, namun
juga berkontribusi terhadap reproduksi dan perubahannya. Setelah menjadi pekerja migran, pola hidup
mereka berubah seiring dengan interaksi dengan struktur sosial baru di negara tujuan. Aturan kerja di
tempat kerja, budaya lokal, dan kondisi sosial membentuk cara mereka beradaptasi dan menjalani
kehidupan sehari-hari (Priyono, 2000).
Saat mereka kembali ke rumah, gaya hidup mereka mungkin mencerminkan perubahan yang
terjadi. Struktur sosial komunitas asal mereka dapat dipengaruhi oleh kontribusi ekonomi mereka,
seperti membangun rumah atau berinvestasi dalam pendidikan anak-anak mereka. Namun, mereka
mungkin menghadapi tantangan baru, seperti kesulitan beradaptasi dengan lingkungan lokal dan
meningkatnya ekspektasi sosial. Proses ini menunjukkan bahwa struktur sosial membentuk gaya hidup
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 31-40
E-ISSN: 3031-2957
39
Luckia Syafarina et.al (Transformasi Pola Hidup Pekerja Migran....)
PMI, namun perilaku PMI juga dapat mempengaruhi dan mengubah struktur sosial yang ada (Achmad,
2020).
4. Kesimpulan
Transformasi pola hidup Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Lombok Timur sebelum
dan setelah bekerja di luar negeri. Sebelum keberangkatan, PMI hidup dengan keterbatasan
ekonomi yang hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan.
Kondisi ini mendorong mereka untuk mencari peluang kerja di luar negeri guna meningkatkan
taraf hidup. Setelah bekerja di negara tujuan, pendapatan mereka meningkat signifikan
sehingga mampu menabung, berinvestasi, dan memenuhi kebutuhan yang sebelumnya sulit
dijangkau, seperti membeli tanah atau membangun rumah. Meskipun kondisi ekonomi
membaik, gaya hidup PMI tidak berubah secara drastis karena fokus utama mereka adalah
menata masa depan keluarga. Penelitian ini menggunakan Teori Strukturasi Anthony Giddens
yang menjelaskan bagaimana interaksi antara individu dan struktur sosial membentuk
perubahan dalam pola hidup mereka. Temuan ini menekankan pentingnya dukungan kebijakan
dan program adaptasi untuk membantu PMI menghadapi tantangan setelah kembali ke
kampung halaman serta memastikan keberlanjutan kesejahteraan mereka.
5. Daftar Pustaka
Achmad, Z. A. (2020). Anatomi teori strukturasi dan ideologi jalan ketiga Anthony Giddens.
Translitera: Jurnal Kajian Komunikasi Dan Studi Media, 9(2), 45-62.
ANTARA News. (2024). Kabupaten Lombok Timur Jadi Daerah Asal PMI Terbanyak di NTB.
Diakses melalui https://www.antaranews.com/berita/3310706/menaker-kabupaten-lombok-timur-
jadi-daerah-asal-pmi-terbanyak-di-ntb pada 26/11/2024.
Aswindo.M dkk. (2022). Kerentanan dan ketahanan pekerja migran indonesia di Malaysianpada masa
pandemic Covid-19: Jurnal Lembaga Ketahanan Nasional republic Indonesia.
Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI). (2023). Laporan
Tahunan BNP2TKI 2023. Diakses melalui https://www.bnp2tki.go.id pada 07/12/2024.
Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI). (2024). Data Penempatan dan Pelindungan
Pekerja Migran Indonesia Periode Januari - Maret 2024. Badan Perlindungan Pekerja Migran
Indonesia (BP2MI).
Badan Pusat Statistik (BPS). (2023). Statistik Tenaga Kerja Indonesia 2023. Badan Pusat Statistik.
Bait, A. (2022 Desember 28) Teori Strukturasi Anthony Giddens: Pengantar Diskusi. Rumah Sosiologi.
Diakses pada tanggal 25 November 2024 melaluihttps://rumahsosiologi.com/tulisan/sosiologi-
klasik/274-teori-strukturasi-anthony-giddens-pengantar-diskusi
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Lombok Timur. (2024). Data Perlindungan PMI Kabupaten
Lombok Timur 2024. Satu Data Lombok Timur.
Erawati, D. A., Karyadi, L. W., & Syuhada, K. (2023). Dampak Bekerja di Luar Negeri terhadap
Kondisi Sosial dan Ekonomi Keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Desa Lepak,
Kabupaten Lombok Timur. Prosiding Seminar Nasional Mahasiswa Sosiologi 2023.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 31-40
E-ISSN: 3031-2957
40
Luckia Syafarina et.al (Transformasi Pola Hidup Pekerja Migran....)
Giddens, Anthony. (2010). Teori Strukturasi Dasar-Dasar Pembentukan Struktur Sosial Masyarakat.
Terjemahan oleh Maufur dan Daryanto. Pustaka Pelajar
https://argyo.staff.uns.ac.id/2013/02/05/teori-strukturasi-dari-anthony-giddens/
Khotimah, H., & Ibrahim. (2024). Dampak Bekerja di Luar Negeri terhadap Kondisi Sosial dan
Ekonomi Pekerja Migran Indonesia di Desa Lebak, Kabupaten Lombok Timur. Lembaga
Penelitian & Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Mataram.
Ndarujati, D. (2021). Peran Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia dalam Mengatasi
Masalah Pekerja Migran Indonesia di Taiwan. Jurnal sosial dan sains, 1(1), 17-29.
Priyono, B. (2000). Teori strukturasi Anthony Giddens. Jurnal Sosiologi Indonesia, 5(1), 1-15.
Rumah Sosiologi. (n.d.). Teori strukturasi Anthony Giddens: Pengantar diskusi. Retrieved from.
https://rumahsosiologi.com/tulisan/sosiologi-klasik/274-teori-strukturasi-anthony-giddens-
pengantar-diskusi
Samad M.Y. dkk. (2022) Pencegahan dan penanganan praktik pekerja migran Indonesia non procedural
(PMI-NP) melalui pendekatan intelejen strategis: Jurnal Lemhannas.
Situmorang B.A.K dkk. (2021). Perlindungan hukum terhadap pekerja migran Indonesia informal
menurut undang-undang nomor 18 tahun 2017 tentang perlindungan pekerja migran: Jurnal
Ilmiah Metadata, 3(2), 669-693.