Di negara tujuan, PMI sering kali menghadapi tantangan dalam menyesuaikan diri dengan
lingkungan kerja dan budaya baru. Kondisi kerja yang berat, akses terbatas ke layanan kesehatan, serta
penyesuaian terhadap pola makan dan budaya lokal dapat memengaruhi kesejahteraan fisik dan mental
mereka. Hal ini dapat memicu transformasi pola hidup yang signifikan, yang tidak hanya berlangsung
selama masa kerja di luar negeri, tetapi juga berlanjut setelah mereka kembali ke Indonesia. Setelah
kembali, banyak PMI mengalami perubahan dalam cara pandang terhadap gaya hidup, pola konsumsi,
hingga model pengelolaan keuangan. Beberapa di antaranya membawa kebiasaan positif, seperti
kemampuan untuk mengelola keuangan dengan lebih baik atau berinvestasi dalam pendidikan dan
usaha. Namun, ada juga yang menghadapi tantangan besar, seperti kesulitan dalam membangun
kembali hubungan keluarga, memenuhi ekspektasi sosial yang telah berkembang, atau mengatasi
masalah kesehatan yang timbul akibat kondisi kerja yang buruk selama bekerja di luar negeri.
Faktor risiko lebih lanjut yang dapat memperburuk kesehatan khususnya mental pekerja migran
juga mencakup pengucilan sosial, stigma dan diskriminasi (Rahmawati & Kamilah, 2020). Dalam
penjabarannya, Rahmawati dan Kamilah menjelaskan bahwa pengucilan sosial, stigma, dan
diskriminasi bukan hanya mempengaruhi kesejahteraan fisik pekerja migran, tetapi juga memiliki
dampak jangka panjang terhadap kesehatan mental mereka. Ketika pekerja migran terpapar secara
berulang terhadap faktor-faktor ini, mereka lebih cenderung mengembangkan masalah psikologis yang
bisa berlangsung hingga mereka kembali ke tanah air. Keputusan untuk bekerja di luar negeri, yang
awalnya dianggap sebagai langkah untuk meningkatkan kualitas hidup, malah berpotensi memperburuk
kesehatan mental mereka jika tidak diimbangi dengan dukungan sosial yang memadai. Oleh karena itu,
diperlukan perhatian yang lebih besar terhadap dampak psikologis dari migrasi tenaga kerja ini, baik
selama masa kerja maupun setelah mereka kembali ke Indonesia (Rahmawati & Kamilah, 2020).
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Erawati, Karyadi & Syuhada (2023) dan Khotimah &
Ali (2024) memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai dampak sosial dan ekonomi dari
migrasi tenaga kerja. Penelitian Erawati et al. (2023) mengkaji dampak migrasi terhadap kondisi sosial
dan ekonomi keluarga PMI di Desa Lepak, Kabupaten Lombok Timur, dengan menekankan perubahan
signifikan dalam status sosial, interaksi sosial, serta pendidikan anggota keluarga yang ditinggalkan
oleh PMI. Dampak ekonomi juga terlihat dari meningkatnya pendapatan keluarga dan perubahan pola
konsumsi mereka. Dalam studi yang menggunakan pendekatan fenomenologi ini, ditemukan bahwa
keberangkatan PMI membawa dampak positif pada kesejahteraan keluarga secara keseluruhan (Erawati
et al, 2023).
Penelitian Khotimah & Ali (2024) juga memfokuskan pada dampak migrasi terhadap kondisi
sosial dan ekonomi keluarga PMI di Desa Lepak. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya, namun lebih menekankan pada dampak perubahan dalam tingkat partisipasi sosial anggota
keluarga yang meningkat setelah PMI kembali ke kampung halaman. Perubahan dalam status sosial,
interaksi sosial, dan peningkatan pendapatan menjadi fokus utama penelitian ini, dengan kesimpulan