JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 41-49
E-ISSN: 3031-2957
41
Fityani Perenia et.al (Perkembangan Peradaban Arab:....)
Perkembangan Peradaban Arab: Jejak Sejarah Dan
Tantangan Di Era Globalisasi
Fityani Perenia
a,1
, Nur Hasaniyah
b,2
Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Humaniora, Universitas Islam Negri Maulana Malik
Ibrahim, Malang
Email: fityaniperenia8@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 27 April 2025
Direvisi: 5 Mei 2025
Disetujui: 19 Mei 2025
Tersedia Daring: 13 Juni 2025
Kata Kunci:
Peradaban
Arab
Budaya
Globalisasi
Tantangan
Artikel ini mengeksplorasi perkembangan peradaban Arab dengan
fokus pada jejak sejarah dan tantangan yang dihadapi di era
globalisasi. Melalui kajian historis dan sosiologis, penelitian ini
menelusuri kontribusi bangsa Arab terhadap ilmu pengetahuan,
filsafat dan seni, yang mencapai puncaknya pada masa Abbasiyah.
Transformasi budaya dan sosial yang terjadi setelah era kolonialisme
turut diulas, termasuk bagaimana bangsa Arab beradaptasi dengan
modernitas sambil mempertahankan identitas budaya mereka.
Globalisasi memiliki dampak yang signifikan terhadap peradaban
Arab kontemporer, terutama dalam hal pengaruh teknologi, media,
dan mobilitas global. Tantangan utama yang dihadapi adalah
mempertahankan nilai-nilai tradisional di tengah arus perubahan
yang cepat serta mendefinisikan ulang identitas budaya di tengah
diaspora Arab. Dengan pendekatan kualitatif berbasis kajian pustaka
dan analisis dokumen, penelitian ini menyoroti upaya masyarakat
Arab dalam menjaga warisan budaya sambil menyelaraskan didi
dengan tuntunan era digital. Artikel ini menyimpulkan bahwa,
meskipun menghadapi berbagai tantangan, peradaban Arab memiliki
potensi besar untuk terus berkontribusi dalam ranah global, asalkan
identitas budaya yang kuat tetap dijaga. Temuan ini diharapkan dapat
memberikan wawasan tentang dinamika peradaban Arab serta
relevansinya bagi studi-studi peradaban di era modern.
ABSTRACT
Keywords:
Civilization
Arab
Culture
Globalization
Challenges
This article explores the development of Arab civilization with a focus
on historical traces and challenges faced in the era of globalization.
Through historical and sociological studies, this research traces the
contribution of the Arab people to science, philosophy and art, which
reached its peak during the Abbasid era. The cultural and social
transformations that occurred after the era of colonialism are also
reviewed, including how Arabs adapted to modernity while maintaining
their cultural identity. Globalization has had a significant impact on
contemporary Arab civilization, especially in terms of the influence of
technology, media and global mobility. The main challenges faced are
maintaining traditional values amidst rapid changes and redefining
cultural identity in the Arab diaspora. With a qualitative approach
based on literature review and document analysis, this research
highlights the efforts of Arab society in preserving cultural heritage
while aligning didi with the demands of the digital era. This article
concludes that, despite facing various challenges, Arab civilization has
great potential to continue to contribute to the global realm, provided
a strong cultural identity is maintained. It is hoped that these findings
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 41-49
E-ISSN: 3031-2957
42
Fityani Perenia et.al (Perkembangan Peradaban Arab:....)
will provide insight into the dynamics of Arab civilization and its
relevance for civilization studies in the modern era.
©2025, Fityani Perenia, Nur Hasaniyah
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Peradaban merupakan sekumpulan dari kebudayaan, atau bisa dikatakan peradaban adalah
gabungan dari sikap dan semangat serta cara-cara yang membawa kehidupan sosial dan perilaku
masyarakat. Peradaban kehidupan manusia akan tetap mengalami perubahan sesuai dengan
perkembangan zaman, oleh karena itu peradaban kehidupan manusia dapat dilihat dari sejarah
dan peradaban manusia itu sendiri. Sejarah merupakan peristiwa lampau atau bisa dikatakan
masa lalu yang terjadi pada kehidupan, dan kita dapat mengetahuinya dari cerita atau
peninggalan-peninggalan sejarah dari peristiwa tersebut. Sejarah manusia sangat berkaitan
dengan tempat, waktu, dan peristiwa.
Peradaban bangsa Arab mempunyai peran yang penting dalam sejarah di dunia, karena
memiliki peran yang sangat penting pada bidang seni, ilmu pengetahuan dan budaya. Setelah
Islam datang budaya, ekonomi, sosial, dan sistem pemerintahan bangsa Arab perlahan-lahan
membaik. Peradaban Arab dimasa kejayaan Islam dikenal dengan pusat inovasi dan ilmu
pengetahuan yang mendunia, dikarenakan ilmuan Arab atau muslim memiliki banyak penemuan
diberbagai bidang seperti matematika, filsafat, astronomi, dan juga kedokteran, itu semua
puncaknya pada masa dinasti Abbasiyah. Peradaban Arab pada masa dinasti Abbasiyah yang
memerintah selama kurang lebih 50 tahun telah membawa muslim dan bangsa Arab ke era
keemasan (golden age). Pada masa itu para khalifah-khalifah besar dinasti Abbasiyah membawa
mereka kepuncak kejayaan di bidang ekonomi, sosial, militer, perdagangan, politik, dan ilmu
pengetahuan. Dinasti Abbasiyah berasal dari nama paman Nabi Muhammad, dan dinasti
Abbasiyah mewarisi wilayah kekuasaan dari dinasti Umayyah. Dinasti Abbasiyah dipimpin oleh
37 khalifah. Hingga pemerintahan Harun al-Rasyid dan al-Ma’mun mereka sampai pada puncak
kekayaan, kemuliaan, kemajuan, kekuasaan, dan peradaban bangsa Arab dan Islam semakin
maju.
Globalisasi merupakan sebuah proses penyatuan dunia, yang secara perlahan , tetpai pasti
mulai menghiangkan sekat-sekat negara dan bangsa. Proses penyatuan ini melibatkan manusia,
informasi, perdagangan, dan modal. Derasnya arus informasi yang masuk lintas benua telah
menghilangkan halangan- halangan yang diakibatkan oleh batas-batas dimensi ruang dan waktu.
Oleh karena itu, suatu peristiwa terjadi di belahan bumi akan segera bisa diketahui di belahan
bumi lainnnya (Khotimah, 2009:2). Pada era glonalisasi, kebudayaan dan pemikiran Barat
mengungguli dari pemikiran dan kebudayaan-kebudayaan yang lain termasuk Arab dan Islam,
tetapi sebelum itu benar-benar menguasai seluruh peradaban dunia maka kita harus mengetahui
dan mengenal tujuan atau pandangan hidup kita, maka kita bisa menempati posisi kita di tempat
yang sepantasnya.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, yang
bertujuan untuk mengeksplorasi peradaban bangsa Arab dari masa peradaban Arab klasik dan
tantangan peradaban bangsa Arab pada masa modern dan globalisasi. Pendekatan ini juga cocok
untuk memahami bagaimana sistem politik, ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya pada masa
peradaban Arab klasik. Data pada penelitian ini dikumpulkan melalui membaca, memahami,
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 41-49
E-ISSN: 3031-2957
43
Fityani Perenia et.al (Perkembangan Peradaban Arab:....)
dan menganalisis jurnal dan buku yang berkaitan dengan materi yang dibahas. Data yang didapat
oleh peneliti kemudian ditulis, disusun, dan dipaparkan sesuai kebutuhan dari penelitian.
3. Hasil dan Pembahasan
Peradaban Arab Klasik
Peradaban Arab klasik dibagi menjadi dua fase yaitu, periode pertama fase ekspansi,
integrasi, dan kemajuan pada tahun 650-1000 M pada masa ini peradaban Arab berkembang
sangat pesat dari berbagai bidang, dan periode kedua fase disintegrasi pada tahun 1000-1250 M
pada masa ini peradaban Arab mulai mengalami kemunduran.
Dinasti Umayyah
Dinasti Umayyah berasal dari nama Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf, beliau
adalah seorang pemimpin kabilah Quraisy pada zaman Jahiliyah. Bani Umayyah mereka sudah
sejak lama ingin menjadi khalifah, tetpi mereka tidak berani memperlihatkan keinginan mereka
sampai masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar. Setelah khalifah umar wafat mereka secara
terang-terangan mendukung Utsman menjadi khalifah pada musyawarah sahabat tentang
pengganitan khalifah. Sejak itu mereka meletakkan dasar-dasar untuk membangun khalifah
Umayyah atau dinasti Umayyah.
Dinasti Umayyah adalah pemerintahan Islam yang dibawa oleh keluarga Umayyah pada
tahun 661-750 Masehi. Pendirinya adalah Muawiyah bin Abu Sufyan (661-680 M), awalnya
Muawiyah adalah gubernur Syiria yang ditempatkan di Damaskus, beliau memberontak kepada
khalifah Ali bin Abi Thalib yang dijadikan khalifah baru hingga beliau wafat dibunuh oleh kaum
Khawarij (orang-orang yang keluar dari golongan Ali), dan pengikut Ali mengangkat hasan
anak sulung Ali bin Abi Thalib sebhagai khalifah baru mereka, kemudian Hasan tidak mau
berkonflik dengan Muawiyah dan para pengikutnya maka Hasan membuat perjanjian damai
dengan pihak Muawiyah yang pada akhirnya Muawiyah yang naik menjadi penguasa muslim
pada masa itu (Manshur, 2003:172). Muawiyah bin Abi Sufyan memindahkan ibu kota dari
Madinah ke Damaskus, dan beliau juga mengganti sistem pemerintahan dari demokrasi ke
monarki. Jumlah khalifah yang memimpin dinasti Umayyah ada 14 khalifah diantaranya yaitu,
Muawiyah I (661-680 M), Yazid I (680-683 M), Muawiyah II (683-684 M), Marwan I (684-685
M), Abdul Malik (685-705 M), Al-Walid I (705-715 M), Sulaiman (715-717 M), Umar II (717-
720 M), Yazid II (720-724 M), Hisyam (724-743 M), Al-Walid II (743-744 M), Yazid III (744
M), Ibrahim (744 M), dan yang terakhir yaitu Marwan II (744-750 M).
Sistem Politik dan Ekonomi Dinasti Umayyah
Kebijakan politik dinasti Umayyah yaitu, membangun komunikasi dan interaksi yang kuat
diantara kekuasaan dan pengaturan yang sistematis untuk dikuasainya, mereka membangun
lembaga-lembaga politik untuk pemerintahan yang lebih baik. Setiap wilayah akan ditetapkan
seorang gubernur yang memimpin dan mereka juga memberikan kekuasaan yang penuh kepada
gubernur atas wilayah yang dipimpinnya, walaupun diberi kekuasaan penuh tetapi gubernur
tetap dalam pengawasan penuh khalifah. Muawiyah juga memindahkan ibukota
pemerintahannya dari Madinah ke Damaskus karena di sana adalah tempat yang sangat strategis
dan lebih mudah untuk pengaturan kekuasannya.
Dalam bidang ekonomi dinasti Umayyah sangat memperhatikan kesejahteraan
masyarakatnya, dan mereka mendirikan lembaga negara untuk mempermudah dalam mengatur
dan mengurusi bidang administrasi dan masyarakat, dan bisa lebih efektif dalam membantu
perekonomian masyarakat.
a. Diwan al-khajj (mengatur keuangan)
b. Diwan Al-Khatim (mengatur arsip)
c. Diwan Ar-Rasa’il (mengatur surat-surat)
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 41-49
E-ISSN: 3031-2957
44
Fityani Perenia et.al (Perkembangan Peradaban Arab:....)
d. Diwan Al-Barid (mengatur pos)
e. Diwan Al-Ummal (mengatur kepegawaian).
Kondisi Sosial
Pada masa ini mereka mengenal stratifikasi sosial, dan masyarakat Arab terbagi menjadi
empat golongan yaitu, golongan pertama adalah golongan tertinggi kaum muslim yang
memegang kekuasaan, golongan kedua adalah orang yang baru memegang agama Islam,
golongan ketiga adalah pemeluk agama secara umumnya yang mengikat perjanjian dan kaum
muslimin, dan golongan yang terakhir adalah budak walaupun cara mereka diperlakukan lebih
baik (Manshur, 2003:178). Walaupun mereka memiliki kelas sosial mereka hidup dengan
damai, para khalifah melindungi tempat-tempat peribdatan dan membangun kembali tempat
peribadatan yang rusak dengan menggunakan dana negara.
Mereka membebasakan masyarakatnya beragama, dan mendapatkan masyarakat
mendapatkan hak-hak mereka, seperti keadilan dan hukum. Damaskus menjadi salah satu kota
teindah di duniadan menjadi pusat budaya dan kerajaan Islam. Para khalifah melaksanakan
pemerintahan dengan mahkamah tinggi, dan para khalifah langsung mendengarkan keluh kesah
rakyatnya.
Perkembangan Dalam Bidang Pendidikan
Pada dinasti Umayyah mulai dikembangkan ilmu-ilmu baru yang sebelumnya mereka
tidak pernah diajarkan dalam pendidikan Arab seperti, geografi, sejarah, dan tata bahasa. Akan
tetapi perkembangan pendidikan baru muncul ketika akhir masa pemerintahan dinasti Umayyah.
Sejak saat itu ilmu tafsir dan al-Qur’an berkembang dengan pesat, bahkan ilmu kesehatan
mencapai puncak yang sempurna pada masa ini, bahkan banyak buku-buku Yunani yang
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Pada masa itu juga dinasti Umayyah membangun lembaga
pendidikan untuk mempermudah pendidikan rakyatnya seperti, kuttab, privat istana,
perpustakaan, halaqah (masjid), dan majelis sastra.
Perkembangan Budaya
Pada dinasti Umayyah dikatakan mencapai budaya baru dalam pemerintahan dan agama,
dikatakan budaya baru dipemerintahan dikarenakan beliau menciptakan mentri, hakim,
mencetak mata uang, dan bahasa Arab ditetapkan menjadi bahasa resmi mereka. Dan hal yang
baru pada masa itu adalah rakyat dibuatkan infrastruktur, dan panti asuhan, gedung-gedung
pemerintahan, tempat peribadatan, dan juga pabrik yang dimana pada saat itu adalah puncak
kemakmuran bangsa Arab. Pada masa khalifah Umar ibn Abdil Aziz (717-720 M) beliau lebih
menekankan dalam bidang sosial dan moral ketimbang fisik. Dan karena sebagian wilayah
Eropa dikuasai oleh dinasti Umayyah maka budaya arab juga mengalami pencampuran dengan
busaya Eropa pada bidang pemerintahan, ilmu pengetahuan, gaya hidup, teknologi, miiter, dan
juga kesenian.
Dinasti Abbasiyah
Pemerintahan pada dinasti Abbasiyah adalah melanjutkan dari pemerintahan dinasti
Umayyah. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn
Abdullah ibn al-Abbas, dinamakan Abbasiyah karena pendiri dan penguasa dinasti ini adalah
keturunan Abbas yaitu paman Nabi Muhammad SAW. Era keemasan bangsa Arab (Golden
Age) adalah prestasi yang didapatkan oleh dinasti Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah telah dipimpin
oleh 37 khalifah, nama-nama khalifah yang paling berjasa dalam sejarah karena dapat membawa
bangsa Arab ke puncak kejayaan mereka diberbagai bidang seperti ekonomi, politik, militer,
perdagangan, sosial, dan yang oaling penting juga ilmu pengetahuan yang sangat berkembang
pesat pada saat itu, yaitu Abu Ja’far (754-775 M), Al-Mahdi (775-785 M), Harun al-Rasyid
(785-809 M), al-Makmum (813-833 M), al-Mu’tashim (833-842 M), al-Watsiq (842-847 M),
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 41-49
E-ISSN: 3031-2957
45
Fityani Perenia et.al (Perkembangan Peradaban Arab:....)
dan yang terakhir al-Mutawakkil (847-961 M). Dinasti Abbasiyah berdiri selama lebih dari 5
abad atau sekitar 512 tahun (Megawati, 2019:1-2).
Berdirinya dinasti Abbasiyah ini karena pemberontakan yang terjadi di seluruh dinasti
Umayyah dikarenakan khalifah yang memimpin tidak cakap, puncak pemberontakan ini terjadi
ketika perang antara pengikut Abbul Abbas dan pengikut Marwan ibn Muhammad (dinasti
Umayyah), dan perang ini dimenangkan oleh Abbul Abbas dengan jatuhnya negri Syiria ke
tangan Abbul Abbas dan jatuhlah pemerintahan dinasti Umayyah ke tangan Abbul Abbas, dan
berdirilah kekuasaan Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah membentuk rakyatnya agar mempunyai
rasa persamaan dan tidak ada yang membedakannya, dan kelas sosial dinasti Abbasiyah tidak
lagi seperti dinasti Umayyah, di sini kelas sosial terbagi menjadi 2 kelompok, yang pertama
kelas khusus yang terdiri dari khalifah, keluarga khalifah, para pembesar negara, para
bangsawan, tentara, petugas khusus, dan pembantu istana. Kelompok yang kedua yaitu kelas
umum yang terdiri dari pengusaha buruh, petani, ulama, fuqaha, seniman, dan pujangga.
Sistem Politik Dinasti Abbasiyah
Sistem politik dinasti Abbasiyah menerapkan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan
persaudaraan, prinsip-prinsip ini sangatlah penting dikarenakan masyarakat yang memiliki
berbagai perbedaan dan latar belakang seperti agama dan ras, akan membuat masyarakat
menjadi satu tanpa merasakan perbedaan dan merasakan ukhuwah islamiyah. Dinasti Abbasiyah
dibagi menjadi 5 periode yaitu, periode pertama atau disebut periode pengaruh persia pertama
(132 H/750 M – 232 H/847 M), periode kedua atau disebut pengaruh turki pertama (232 H/847
M – 334 H/945 M), periode ketiga atau disebut periode pengaruh persia kedua atau masa
kekuasaan dinasti Buwaih(334 H/945 M – 447 H/1055 M), periode keempat atau disebut
pengaruh turki dua atau masa kekuasaan bani Saljuk dalam pemerintahan (447 H/1055 M – 590
H/1194 M), periode kelima yang merupakan masa mendekati kemunduran dalam sejarah islma
(590 H/1194 M – 565 H/1258 M) (Aminullah, 2016:20).
Pada periode pertama masa pemerintahan dinasti Abbasiyah itu adalah masa
keemasannya, karena secara politis para khalifahnya adalah tokoh yang kuat dan merupakan
pusat dari agama dan politik, dan kemakmuran masyaraka pada saat itu benar-benar mencapai
tinggi, dan pada periode ini juga sangat menyiapkan untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan
filsafat. Dinasi Abbasiyah memindahkan ibukotanya yang dari al-Hasyimiyah ke Baghdad, oleh
karena itu pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah berada di tengah bangsa Persia, mereka juga
membuat lembaga eksekutif dan yudikatif, dan di bidang pemerintahan mereka membuat hal
baru yaitu mengangkat seorang wazir menjadi koordinator dari kementrian, mereka juga
membangun sekertaris negara, lembaga protokol negara, dan kepolisian negara. Jawatan pos
ketika masa dinasti Umayyah juga ditingkatkan tugasnya seperti mengumpulkan semua
informasi di daerah. Dan mereka juga berusaha menaklukkan kembali wilayah-wilayah yang
dahulu membebaskan diri dari pemerintahan pusat.
Pembangunan dan Perkrmbangan Perekonomian Dinasti Abbasiyah
Pada masa dinasti Abbasiyah para khalifah memperbaiki sektor-sektor perekonomian
seperti mempermudah tarnsportasi jalur perdagangan yaitu, didirikannnya stasiun khalifah
dagang dan menyediakan air untuk tempat tersebut, menyediakan kuda yang kuat untuk
mempercepat dan mempermudah pelayanan pos, dan ditingkatkan juga fasilitas keamannan
mereka dalam perekonomian. Besarnya matapencaharian dagang pada masa tersebut maka
menambah income yang sangat besar untuk perbendaharaan negara, dan membuat rakyat lebih
makmur. Perkembangan di bidang pertanian juga sangat pesat karena pusat pemerintaha dinasti
Abbasiyah di tempat yang sangat subur, dan pendapatan di bidang pertanian juga sangat besar
untuk negara, dan pengolahan tanah dikerjakan oleh penduduk aslinya. Lahan-lahan pertanian
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 41-49
E-ISSN: 3031-2957
46
Fityani Perenia et.al (Perkembangan Peradaban Arab:....)
yang hancur atau rusak diperbaiki oleh negara, dan mereka juga membangun saluran irigasi
yang baru.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Majunya peradaban dinasti Abbasiyah juga merupakan hasil dari majunya ilmu
pengetahuan dan semangat yang sangat tinggi yang dimiliki olah khalifah dan masyarakat pada
saat itu, ilmu pengetahuan dalam bidang agama sangat pesat, dan didirikan perpustakaan agar
mempermudah dalam menuntut ilmu, pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang
paling penting pada masa dinsati Abbasiyah yaitu, yang pertama Hijaz sebagai pusat
pengembangan ilmu hadits dan fiqh, yang kedua Irak sebagai pusat pengembangan ilmu hadits,
tafsir, bahasa, fiqh, filsafat, sejarah,dll, yang ketiga Mesir yaitu kota Fushath dan masjid Amr
tempat sentral kegiatannya, yang terakhir Syam sebagai pusat pergerakan ilmu pengetahuan
(Megawati, 2019:4).
Pada saat itu para penerjemah buku asing digalakkan untuk menerjemahkan buku-buku
agar mempermudah dalam pengembangan ilmu pengetahuan, dibangun banyak sekolah, dan
dibangun pusat penerjemahan sebagai perpustakaan besar dan perguruan tinggi, imam-immam
madzhab yang empat mereka hidup pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah priode yang
pertama. Aliran-aliran sesat yang muncul pada dinasti umayyah pemikirannya disempurnakan
dan diperbaiki pada masa dinasti Abbasiyah.
Transformasi Sosial dan Budaya Arab Modern
Dampak dari kolonialisme Arab membuat integrasi budaya dan akulturasi melalui proses
identifikasi, sleksi, resepsi, dan adaptasi budaya Arab dengan negara lainnya (Manshur,
2003:175), seperti mengembangkan Arab dari segi ilmu pengetahuan karena masuknya buku-
buku negara luar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab yang membuat bertambahnya ilmu
pengetahuan bangsa Arab dari berbagai bidang seperti, kedokteran, filsafat, astronomi, fisika,
kimia, dan matematika. Dampaknya juga bangsa Arab mengenal teknologi-teknologi baru yang
mempermudah pekerjaan mereka, dan dalam periode ini banyak buku-buku yang diciptakan
oleh ilmuan Arab yang diterjemahkan ke bahasa asing dan disebarluaskan ke berbagai negara
menjadi pengetahuan yang global, dan membantu mereka transformasi budaya dari tradisi ke
modernitas. Setelah masa kolonialisme Arab, banyak bangsa Arab yang mengembangkan
identitas nasional mereka dengan agama. Peninggalan-peninggalan artefak dan seni pada masa
kejayaan Islam sering digunakan menjadi simbol negara mereka untuk identitas nasional mereka
di masa modern sebagai kebanggan mereka atas warisan budaya. karena kolonialisme Arab ini
banyak penduduk di daerah yang dikuasai tertarik dengan agama Islam.
Peran Globalisasi Dalam Perkembangan Peradaban Arab Kontemporer
Lahirnya revolusi Prancis di Eropa pada abad ke-18 telah mempengaruhi pola pikir
penduduk dunia pada umumnya. Modernisasi yang dihadapi masyarakat menjadikan
masyarakat bebas dalam semua urusan, urusan pembebasan itu adalah bentuk pola pikiran dari
kebiasaan masyarakat yang tunduk menuju pemikiran ke kehidupan yang lepas dan bebas. Pada
dekade terakhir para aktivis atau akademisi Arab mereka terjebak ke proyek pembebasan
massal, karena pandangan mereka bahwa dogma agama yang membuat Arab mundur, karena
kemunduran sebuah bangsa dikarenakan dogma agama yang terbukti pada ajaran kristen di
Eropa. Logika yang berkembang di Arab yaitu majunya bangsa Eropa karena mereja
melepaskan diri dari dogma agama (Sofyan, 2009:81-82).
Pemikiran Arab kontemporer karena pengaruh dari globalisasi tentang intelektual bangsa
Arab masa kini dengan hunbungan Arab masa lalu, yaitu kecendrungan menampakkan
ketegangan dan goncangan dalam kesadaran bangsa Arab saat ini dilahirkan dari perasaan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 41-49
E-ISSN: 3031-2957
47
Fityani Perenia et.al (Perkembangan Peradaban Arab:....)
frustasi bangsa Arab yang memaksa ego untuk selalu merujuk kepada masa lalu, dan juga
memaksa the other sebagai tuntunan kekinian yang harus dipenuhi. Pemikiran Arab modern dan
kontemporer adalah era yang statis dan beku, atau bisa dikatakan sebagai peradaban yang mati
(Al-Jaberi, 1989:10).
Metode yang paling bertanggung jawab atas terjadinya krisi dan kegagalan dalam
pemikiran Arab modern dan kontemporer adalah metode pembacaan kaum salaf, karena melalui
metode pembacaan salaf, pemikiran Arab modern dan kontemporer mengadopsi kerangka
berpikir salafi, sekaligus membaca dan memahami dengan inspirasi metode salaf (Al-Jaberi,
1989:11). Karena pemikiran Arab kontemporer membawa bangsa Arab kepada krisis struktur
sosial, krisi nalar dan kebudayaan.
Tantangan dan Masa Depan Peradaban Arab
Perekonomian negara Arab sangat berkembang pesat dari tahun ke tahun dikarenakan
pemasukan yang banyak dari sumber minyak bumi dan pendapatan dari banyaknya kaum
muslim yang pergi beribadah ke Makkah. Akan tetapi minyak bunyi yang mulai surut mereka
mengalami deposit yang sangat besar, dan mereka menangani hal tersebut dengan
mempertahankan pasar dan tidak mengurangi produksi minyak untuk mendukung harga minyak
di pasar, karena itu diyakini bisa membuat naiknya harga minyak, dan negara Arab melepaskan
diri mereka dari ketergantungan perekonomian mereka dari minyak, dan Arab juga melakukan
reformasi dalam perekonomian mereka untuk harapan menjadi negara 15 terkaya di dunia.
(Hidriyah, 2016).
Politik dan pemerintahan negara Arab Saudi sekarang sudah menjadi negara berdaulat
setelah Abdul Azis bin Abdurrahman bin Faisal al-Saud secara resmi memproklamasikan
berdirinya kerajaan Arab Saudi, dan Arab adalah negara yang bentuknya kerajaan dan sistem
pemerintahannya itu monarki absolut, yang kepala negara dan kepala pemerintahannya itu
adalah seorang raja. Bahasa Arab ditetapkan sebagai bahasa resmi negara, dan tidak ada partai
politik yang berdiri di negara tersebut karena tidak diizinkan oleh negara, dan sistem kekuasaan
negara terdiri atas lembaga yudikatif, legislatif, dan yudikatif, para mentri langsung diamanahi
oleh raja dan biasanya para mentri diangkat dari kerabat raja (Warsito & Wulandari, 2022).
Arab Saudi melakukan reformasi di bidang pendidikan untuk dijadikan sarana dalam
melaksanakan reformasi ekonomi, Arab Saudi membuat kebijakan untuk wajib sekolah 12 tahun
dan menjamin seluruh biaya pendidikan masyarakatnya. Dan mereka juga membuat kebijakan
untuk mengintegrasikan ilmu agama dengan sosial-humanira dan sains-teknologi untuk
mengembangkan atau menambah wawasan masyarakatnya, dan mereka juga mengirim para
pelajarnya ke luar negri. Mereka juga mereformasi semua perguruan tinggi di sana dengan
menyewa tenaga pendidik dari luar negri, dan membuat adanya transfer ilmu dengan negara
asing yang menambah dan mengembangkan wawasan masyarakatnya. Raja Arab Saudi juga
pernah mengundang ilmuan-ilmuan dunia untuk membangun SDM yang tinggi di Arab Saudi.
(Yunal, 2022).
4. Kesimpulan
Peradaban Arab klasik itu dibagi menjadi dua fase yaitu, periode pertama fase ekspansi,
integrasi, dan kemajuan pada tahun 650-1000 M, atau pada masa dinasti Umayyah dan Abbasiyah
dan peradaban pada waktu itu sangat berkembang pesat dari berbagai bidang. Priode kedua yaitu
fase disintegrasi pada tahun 1000-1250 M pada masa kekuasaan dinasti Abbasiyah akhir, pada
masa ini peradaban Arab mulai mengalami kemunduran. Dinasti Umayyah dan Abbasiyah
membawa bangsa Arab pada kehidupan yang lebih baik, dan membuat kebijakan politik dan
pemerintahan yang baru untukmempermudah mereka dalam mengelola negara, dan mereka juga
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 41-49
E-ISSN: 3031-2957
48
Fityani Perenia et.al (Perkembangan Peradaban Arab:....)
membangun perekonomian yang lebih baik seperti membuat fasilitas umum, dan ikut dalam
mengembangkan perekonomian masyarakat, membangun kehidupan sosial yang baik dan rukun,
mereka juga sangat mendorong perkembangan pendidikan untuk masyarakatnya agar menjadi
masyarakat yang lebih terdidik dan bisa menjadi bangsa yang maju mengikuti perkembangan
zaman. Peran globalisasi pada peradaban bangsa Arab kontemporer sangat banyak dikarenakan
bangsa Arab yang langsung berbaur dengan bangsa Eropa, membuat percampuran budaya,
pendidikan seperti masuknya buku-buku bangsa Eropa ke Arab untuk menambah,
mengembangkan, dan memperluas ilmu pengetahuan bangsa Arab, sosial, dan pola pikir bangsa
Arab. Bangsan Arab pada masa kini dan masa depan memiliki tantangan yang sangat besar dalam
bidang ekonomi karena minyak bumi yang mulai deposit, akan tetapi negara Arab sudah memiliki
perencanaan untuk menghadapi tantangan tersebut di masa mendatang. Politik dan pemerintahan
Arab sekarang sudah menjadi negara berdaulat setelah Abdul Azis bin Abdurrahman bin Faisal
al-Saud secara resmi memproklamasikan berdirinya kerajaan Arab Saudi, Arab Saudi berbentuk
kerajaan dan sistem pemerintahannya berbentuk monarki, dan bahasa Arab ditetapkan sebagai
bahasa yang resmi. Arab Saudi melakukan reformasi di bidang pendidikan, untuk meningkatkan
pendidikan bangsanya.
5. Daftar Pustaka
Al-Jaberi, M. A. (1989). PROBLEMATIKA Pemikiran Arab Kontemporer. Beirut: Markaz Dirasat
al-Wahdah al-'Arabiyyah.
Aminullah, A. (2016). DINASTI BANI ABBASIYAH, POLITIK, PERADABAN, DAN
INTELEKTUAL. Geneologi PAI: Jurnal Pendidikan Agama Islam .
Fathiha, N. (2021). PERADABAN ISLAM MASA DINASTI ABBASIYAH (PERIODE
KEMUNDURAN). ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah.
Hidriyah, S. (2016). REFORMASI EKONOMI ARAB SAUDI. Majalah Info Singkat Hubungan
Internasional.
Manshur, F. M. (2003). PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN BUDAYA ARAB PADA
MASA DINASTI UMAYYAH. Humaniora.
Megawati, B. (2019). PRESTASI ABBASIYAH DALAM BIDANG PERADABAN. Pena
Cendikia.
Meriyati. (2018). PERKEMBANGAN EKONOMI ISLAM PADA MASA DAULAH
ABBASIYAH. ISLAMIC BANKING.
Permana, F. (2018). PENDIDIKAN ISLAM DAN PENGAJARAN BAHASA ARAB PADA
MASA DINASTI UMAYYAH. Jurnal Ilmiah AL QALAM.
REVOLUSI PEMIKIRAN ARAB KONTEMPORER DI TIMUR TENGAH. (2009). Jurnal
ADABIYA.
Rosida, A. (2018). WACANA MODERNISASI DALAM TANTANGAN PERADABAN,
PERAN PEREMPUAN SEBAGAI TONGGAK SEJARAH ARAB SAUDI. PALITA:
Journal Of Social-Religion Research.
Rusydy, M. (2018). MODERNITAS DAN GLOBALISASI TANTANGAN BAGI
PERADABAN ISLAM. TAJDID.
Warsito, A., & Wulandari, S. (2022). KONSEP PEMERINTAHAN ARAB SAUDI DAN
KEBIJAKANVISI 2030. Jurnal Sejarah dan Peradaban Islam, 234-235.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 41-49
E-ISSN: 3031-2957
49
Fityani Perenia et.al (Perkembangan Peradaban Arab:....)
Wright, C. (2022). Arab Colonialism and the roots of the Golden Age of Islam. SSRN.
Yunal, M. H. (2022). Pendidikan Arab Saudi: Tantangan dan Reformasi. Akademika: Jurnal
Keagamaan dan Pendidikan, 40-42.
Zakariya, D. M. (2018). SEJARAH PERADABAN ISLAM Prakenabian hingga Islam di Indonesia.
Malang: CV. Intrans Publishing.