dan yang terakhir al-Mutawakkil (847-961 M). Dinasti Abbasiyah berdiri selama lebih dari 5
abad atau sekitar 512 tahun (Megawati, 2019:1-2).
Berdirinya dinasti Abbasiyah ini karena pemberontakan yang terjadi di seluruh dinasti
Umayyah dikarenakan khalifah yang memimpin tidak cakap, puncak pemberontakan ini terjadi
ketika perang antara pengikut Abbul Abbas dan pengikut Marwan ibn Muhammad (dinasti
Umayyah), dan perang ini dimenangkan oleh Abbul Abbas dengan jatuhnya negri Syiria ke
tangan Abbul Abbas dan jatuhlah pemerintahan dinasti Umayyah ke tangan Abbul Abbas, dan
berdirilah kekuasaan Abbasiyah. Dinasti Abbasiyah membentuk rakyatnya agar mempunyai
rasa persamaan dan tidak ada yang membedakannya, dan kelas sosial dinasti Abbasiyah tidak
lagi seperti dinasti Umayyah, di sini kelas sosial terbagi menjadi 2 kelompok, yang pertama
kelas khusus yang terdiri dari khalifah, keluarga khalifah, para pembesar negara, para
bangsawan, tentara, petugas khusus, dan pembantu istana. Kelompok yang kedua yaitu kelas
umum yang terdiri dari pengusaha buruh, petani, ulama, fuqaha, seniman, dan pujangga.
Sistem Politik Dinasti Abbasiyah
Sistem politik dinasti Abbasiyah menerapkan prinsip-prinsip keadilan, kesetaraan, dan
persaudaraan, prinsip-prinsip ini sangatlah penting dikarenakan masyarakat yang memiliki
berbagai perbedaan dan latar belakang seperti agama dan ras, akan membuat masyarakat
menjadi satu tanpa merasakan perbedaan dan merasakan ukhuwah islamiyah. Dinasti Abbasiyah
dibagi menjadi 5 periode yaitu, periode pertama atau disebut periode pengaruh persia pertama
(132 H/750 M – 232 H/847 M), periode kedua atau disebut pengaruh turki pertama (232 H/847
M – 334 H/945 M), periode ketiga atau disebut periode pengaruh persia kedua atau masa
kekuasaan dinasti Buwaih(334 H/945 M – 447 H/1055 M), periode keempat atau disebut
pengaruh turki dua atau masa kekuasaan bani Saljuk dalam pemerintahan (447 H/1055 M – 590
H/1194 M), periode kelima yang merupakan masa mendekati kemunduran dalam sejarah islma
(590 H/1194 M – 565 H/1258 M) (Aminullah, 2016:20).
Pada periode pertama masa pemerintahan dinasti Abbasiyah itu adalah masa
keemasannya, karena secara politis para khalifahnya adalah tokoh yang kuat dan merupakan
pusat dari agama dan politik, dan kemakmuran masyaraka pada saat itu benar-benar mencapai
tinggi, dan pada periode ini juga sangat menyiapkan untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan
filsafat. Dinasi Abbasiyah memindahkan ibukotanya yang dari al-Hasyimiyah ke Baghdad, oleh
karena itu pusat pemerintahan dinasti Abbasiyah berada di tengah bangsa Persia, mereka juga
membuat lembaga eksekutif dan yudikatif, dan di bidang pemerintahan mereka membuat hal
baru yaitu mengangkat seorang wazir menjadi koordinator dari kementrian, mereka juga
membangun sekertaris negara, lembaga protokol negara, dan kepolisian negara. Jawatan pos
ketika masa dinasti Umayyah juga ditingkatkan tugasnya seperti mengumpulkan semua
informasi di daerah. Dan mereka juga berusaha menaklukkan kembali wilayah-wilayah yang
dahulu membebaskan diri dari pemerintahan pusat.
Pembangunan dan Perkrmbangan Perekonomian Dinasti Abbasiyah
Pada masa dinasti Abbasiyah para khalifah memperbaiki sektor-sektor perekonomian
seperti mempermudah tarnsportasi jalur perdagangan yaitu, didirikannnya stasiun khalifah
dagang dan menyediakan air untuk tempat tersebut, menyediakan kuda yang kuat untuk
mempercepat dan mempermudah pelayanan pos, dan ditingkatkan juga fasilitas keamannan
mereka dalam perekonomian. Besarnya matapencaharian dagang pada masa tersebut maka
menambah income yang sangat besar untuk perbendaharaan negara, dan membuat rakyat lebih
makmur. Perkembangan di bidang pertanian juga sangat pesat karena pusat pemerintaha dinasti
Abbasiyah di tempat yang sangat subur, dan pendapatan di bidang pertanian juga sangat besar
untuk negara, dan pengolahan tanah dikerjakan oleh penduduk aslinya. Lahan-lahan pertanian