JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
50
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
Menjaga Tradisi: Transformasi dan Keberlanjutan
Rumah Tradisional di Era Kontemporer
Ajril Mustaqim
a,1
, Ayatullah Humaeni
b,2
a,b
Program Studi Bimbingan Konseling Islam,
Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Serang, Banten, Indonesia
1
221340002.ajril@uinbanten.ac.id
2
ayatullah.humaeni@uinbanten.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 27 April 2025
Direvisi: 5 Mei 2025
Disetujui: 19 Mei 2025
Tersedia Daring: 13 Juni 2025
Rumah tradisional merupakan representasi identitas budaya yang kaya
akan nilai lokal dan kearifan ekologis. Namun, di tengah modernisasi,
keberadaannya menghadapi berbagai tantangan, seperti tekanan
urbanisasi, perubahan pola hidup, dan minimnya pemahaman generasi
muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi transformasi fisik
dan fungsi rumah tradisional serta faktor keberlanjutannya di era
kontemporer. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
deskriptif, penelitian ini dilakukan melalui observasi, wawancara, dan
studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah tradisional
tetap mempertahankan keaslian arsitektural meskipun mengalami
adaptasi terhadap kebutuhan modern, seperti penambahan fasilitas
baru. Faktor keberlanjutan yang paling signifikan meliputi peran
masyarakat lokal, dukungan kebijakan pemerintah, dan adaptasi
teknologi yang relevan. Rumah tradisional juga menjadi simbol penting
dalam menjaga memori kolektif masyarakat dan pusat aktivitas sosial.
Untuk memastikan pelestariannya, dibutuhkan sinergi antara
masyarakat, pemerintah, dan akademisi dalam menciptakan kebijakan
yang berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan elemen tradisional ke
dalam desain modern, rumah tradisional dapat tetap relevan tanpa
kehilangan nilai budayanya.
Kata Kunci:
Rumah Tradisional
Transformasi
Keberlanjutan
ABSTRACT
Keywords:
Traditional House
Transformation
Sustainability
Traditional houses represent a cultural identity rich in local values and
ecological wisdom. However, in the midst of modernisation, its existence
faces various challenges, such as the pressure of urbanisation, changes in
lifestyle, and the lack of understanding of the younger generation. This
research aims to explore the physical transformation and function of
traditional houses and their sustainability factors in the contemporary
era. Using a qualitative method with a descriptive approach, the research
was conducted through observation, interviews, and literature study. The
results show that traditional houses retain their architectural authenticity
despite experiencing adaptations to modern needs, such as the addition of
new facilities. The most significant sustainability factors include the role
of local communities, government policy support, and adaptation of
relevant technology. Traditional houses are also important symbols in
maintaining the community's collective memory and centres of social
activity. To ensure their preservation, synergy between the community,
government and academia is needed to create sustainable policies. By
integrating traditional elements into modern designs, traditional houses
can remain relevant without losing their cultural value.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
51
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
©2025, Ajril Mustaqim, Ayatullah Humaeni
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Rumah tradisional merupakan salah satu bentuk manifestasi budaya yang mencerminkan
identitas, nilai-nilai lokal, dan kearifan lokal masyarakat suatu daerah. Namun, di tengah arus
globalisasi dan modernisasi, keberadaan rumah tradisional menghadapi tantangan yang
signifikan, baik dari aspek keberlanjutan material maupun pelestarian nilai-nilai tradisional.
Transformasi yang terjadi tidak hanya mencakup bentuk fisik rumah, tetapi juga fungsi dan
filosofi yang mendasarinya. Hal ini menciptakan diskursus mengenai bagaimana rumah
tradisional dapat bertahan dan relevan di era kontemporer.
Rumah tradisional tidak hanya memiliki fungsi sebagai tempat tinggal tetapi juga berperan
dalam ritual budaya, simbol status sosial, dan ekspresi nilai-nilai spiritual. Dalam konteks ini,
rumah tradisional menjadi artefak yang menyimpan makna historis dan filosofis yang mendalam.
Misalnya, atap rumah adat di Jawa dan Sunda sering kali mencerminkan hierarki sosial dan
memiliki simbolisme yang berkaitan dengan kosmologi masyarakat lokal (Nuryanto, 2021).
Namun, upaya pelestarian rumah tradisional sering kali terkendala oleh tekanan ekonomi,
perubahan pola hidup, dan minimnya pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai tradisional.
Dalam era globalisasi, banyak komunitas lokal menghadapi dilema antara mempertahankan
tradisi atau mengadopsi gaya hidup modern yang lebih praktis dan ekonomis (Sari et al., 2022).
Artikel ini berupaya untuk mengkaji bagaimana rumah tradisional dapat mengalami
transformasi sambil tetap mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya. Dengan mengintegrasikan
konsep keberlanjutan arsitektur, penelitian ini menawarkan perspektif baru untuk menjawab
tantangan tersebut. Penelitian ini juga akan menyoroti bagaimana strategi pelestarian dapat
dilakukan melalui pendekatan adaptasi, penggunaan teknologi, serta penguatan edukasi tentang
nilai-nilai tradisional kepada generasi muda. Harapannya, upaya ini tidak hanya menjaga
keberadaan rumah tradisional, tetapi juga menjadikannya bagian yang relevan dari kehidupan
masyarakat modern.
Globalisasi dan urbanisasi telah menyebabkan pergeseran signifikan dalam cara hidup
masyarakat, yang berpengaruh pada pola permukiman dan desain rumah. Rumah tradisional
sering kali terpinggirkan oleh gaya hidup modern yang lebih praktis dan efisien. Di banyak kota
besar, pembangunan gedung-gedung tinggi dan rumah-rumah minimalis menggantikan
keberadaan rumah tradisional yang membutuhkan perawatan intensif dan ruang yang lebih luas.
Padahal, rumah tradisional memiliki nilai yang lebih dalam daripada sekadar tempat tinggal,
yaitu sebagai simbol keberlanjutan budaya dan identitas lokal. Perubahan yang terjadi pada
desain rumah tradisional sering kali menghilangkan filosofi dan nilai yang terkandung dalam
elemen-elemen rumah tersebut, seperti penggunaan material alami dan desain yang disesuaikan
dengan iklim lokal (Samosir, 2013).
Penurunan jumlah rumah tradisional ini menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya
elemen-elemen kebudayaan lokal yang sangat penting dalam memperkaya khasanah budaya
bangsa. Sebagai contoh, beberapa jenis rumah adat yang terbuat dari bahan alami seperti bambu,
kayu, dan tanah liat, kini semakin jarang dijumpai di kawasan perkotaan (A. P. Wibowo, 2021).
Selain itu, rumah tradisional seringkali memiliki desain yang tidak hanya fungsional, tetapi juga
kaya akan simbolisme budaya dan filosofis yang terkait dengan masyarakat adat. Hal ini
menunjukkan bahwa rumah tradisional memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan dengan
sekadar struktur fisik, sehingga keberlanjutan dan pelestariannya perlu mendapatkan perhatian
khusus. Selain tantangan dari modernisasi, rumah tradisional juga harus beradaptasi dengan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
52
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
perubahan iklim yang semakin ekstrem. Seiring dengan pemanasan global, kebutuhan akan
rumah yang tahan terhadap bencana alam, seperti banjir, gempa bumi, dan angin kencang,
semakin mendesak. Di sisi lain, rumah tradisional sering kali menggunakan bahan bangunan
yang lebih ramah lingkungan, seperti kayu, bambu, dan batu, yang memiliki keunggulan dalam
hal ketahanan terhadap perubahan iklim (Nuryanto, 2021).
Dalam konteks ini, rumah tradisional dapat dijadikan model untuk pembangunan rumah
yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan. Penggunaan bahan alami yang mudah didapat
dan dapat diperbaharui dapat menjadi alternatif yang sangat baik untuk mengurangi dampak
negatif pembangunan modern terhadap lingkung (Bayu Hermawan & Yulianto P. Prihatmaji,
2019). Selain itu, desain rumah tradisional yang mengikuti prinsip-prinsip arsitektur
berkelanjutan, seperti ventilasi alami dan pencahayaan yang optimal, memungkinkan
penghematan energi dan pengurangan jejak karbondioksida rumah tangga. Oleh karena itu,
dengan memperkenalkan kembali elemen-elemen rumah tradisional ke dalam desain modern,
kita tidak hanya melestarikan warisan budaya, tetapi juga berkontribusi pada upaya menjaga
kelestarian lingkungan.
Untuk menjaga dan melestarikan rumah tradisional, salah satu langkah utama yang perlu
dilakukan adalah melalui pendidikan dan peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya
budaya dan arsitektur tradisional. Banyak generasi muda yang kurang memahami nilai-nilai yang
terkandung dalam rumah tradisional. Oleh karena itu, penting untuk memperkenalkan kembali
konsep rumah tradisional melalui pendidikan formal dan informal. Pada dasarnya rumah
tradisional memberikan pembelajaran mengenai arsitektur tradisional dalam kurikulum
pendidikan, baik di tingkat dasar maupun perguruan tinggi, agar generasi muda dapat
menghargai warisan budaya mereka. Selain itu, perlu ada upaya yang lebih besar dalam
memperkenalkan keunggulan-keunggulan rumah tradisional dalam menjaga keberlanjutan
lingkungan dan menciptakan ruang hunian yang lebih nyaman dan sehat. Edukasi yang lebih
baik mengenai manfaat penggunaan material alami, desain rumah yang mengedepankan harmoni
dengan alam, dan pentingnya pemeliharaan rumah adat dapat membantu masyarakat untuk lebih
menghargai dan melestarikan warisan budaya mereka. Pengenalan dan pemahaman ini akan
menjadi faktor penentu dalam upaya menjaga keberlanjutan rumah tradisional di masa depan.
Komitmen dari masyarakat lokal juga menjadi faktor kunci dalam keberlanjutan
pelestarian rumah tradisional. Masyarakat yang sadar akan pentingnya rumah tradisional sebagai
bagian dari identitas budaya mereka akan lebih termotivasi untuk menjaga dan merawat rumah
adat mereka. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi sangat
diperlukan untuk menciptakan kebijakan dan program pelestarian yang efektif.
Penelitian sebelumnya tentang tema "Menjaga Tradisi: Transformasi dan Keberlanjutan
Rumah Tradisional di Era Kontemporer" telah dilakukan dengan beragam pendekatan.
Hermawan dan Prihatmaji (2019) meneliti bagaimana elemen tradisional rumah adat di
Yogyakarta tetap dipertahankan meskipun terdapat transformasi dalam desain akibat
modernisasi lingkungan perkotaan. Studi ini terbatas pada wilayah Yogyakarta dan tidak
membahas aspek keberlanjutan ekologis yang menjadi fokus tambahan dalam artikel ini (Pangat,
1994).
Penelitian lain oleh Wibowo (2020) membahas adaptasi material dan desain rumah adat
Betawi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat modern. Peneliti mengidentifikasi efisiensi
ruang dan penggunaan material baru sebagai fokus utama. Berbeda dengan penelitian ini, artikel
yang diajukan juga menyoroti pentingnya peran edukasi generasi muda dan kebijakan
pemerintah dalam melestarikan rumah adat (D. Wibowo, 2020). Sementara itu, Siregar dan
Marpaung (2018) menekankan pentingnya penggunaan bahan lokal dan prinsip desain ramah
lingkungan untuk keberlanjutan arsitektur tradisional. Artikel ini lebih luas dengan mencakup
analisis nilai filosofis rumah adat yang jarang disentuh dalam studi sebelumnya. Terakhir,
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
53
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
penelitian oleh Sari dkk. (2022) menyoroti pelestarian identitas budaya melalui rumah adat
dalam era globalisasi. Peneliti menekankan identitas lokal sebagai elemen penting untuk
menjaga budaya yang terancam punah. Artikel ini berbeda karena mengintegrasikan strategi
inovatif berbasis komunitas dan keberlanjutan ekologis sebagai pendekatan pelestarian yang
lebih holistik (Sari et al., 2022).
2. Metode
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk
mengeksplorasi fenomena transformasi dan keberlanjutan rumah tradisional di era kontemporer.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana nilai-nilai budaya dan keberlanjutan rumah
tradisional dapat bertahan di tengah modernisasi. Berikut adalah rincian metode penelitian yang
digunakan:
a. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan studi lapangan yang didukung oleh studi pustaka. Studi lapangan
dilakukan melalui observasi dan wawancara. Sementara studi pustaka menggunakan referensi
dari buku, jurnal, dan dokumen lain yang relevan.
b. Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif. Pendekatan ini dipilih karena penelitian
berfokus pada interpretasi nilai-nilai budaya, filosofi, dan transformasi yang terjadi pada
rumah tradisional.
c. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan dalam kurun waktu dua pekan, dari pekan kedua bulan November sampai
akhir bulan November 2024. Lokasi penelitian ini di salah satu rumah tradisional yang masih
bertahan di Kp. Citeureup 1 Rt 5 Rw 4 Ds. Barengkok Kec. Leuwiliang Kab. Bogor Prov.
Jawa Barat.
d. Teknik Pengumpulan Data
Observasi Partisipasif: Peneliti mengamati langsung elemen fisik rumah tradisional,
termasuk desain, material, dan fungsinya, serta interaksi kepada tokoh masyarakat dan
pewaris rumah tersebut.
Wawancara semi-terstruktur: Menggali perspektif mendalam dari narasumber, seperti
tokoh adat, arsitek tradisional, dan pemilik rumah tradisional mengenai transformasi dan
nilai-nilai filosofis rumah tradisional
Studi Pustaka: Menggunakan literatur berupa buku, artikel jurnal, prosiding, dan laporan
penelitian untuk memperkaya pemahaman dan memberikan konteks pada hasil observasi
dan wawancara.
e. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan secara tematik melalui langkah-langkah berikut:
Pengorganisasian Data: Mengumpulkan data dari hasil observasi, wawancara, dan studi
pustaka.
Kategorisasi: Mengidentifikasi tema-tema utama, seperti transformasi fisik, nilai budaya,
dan strategi keberlanjutan.
Interpretasi: Menganalisis data untuk menemukan hubungan antara transformasi rumah
tradisional dan keberlanjutan nilai-nilai tradisional.
Validasi Data: Triangulasi dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai sumber
(observasi, wawancara, dan literatur) untuk memastikan keakuratan hasil penelitian.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
54
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
3. Hasil dan Pembahasan
Transformasi Fisik dan Fungsi
Perjalanan memahami rumah tradisional sebagai cerminan budaya dan warisan lokal, hasil
observasi dan wawancara memberikan gambaran mendalam tentang transformasi fisik dan
fungsi bangunan yang menjadi bahan penelitian. Rumah tradisional yang diamati ini
menunjukkan bahwa meskipun telah mengalami beberapa perubahan kecil, esensi asli dari
struktur dan fungsi rumah tetap terjaga. Setiap elemen yang ditambahkan, seperti teras depan
yang kini berlapis semen dan pagar besi, serta kamar mandi tambahan di sisi kiri rumah,
mencerminkan upaya untuk menyesuaikan kebutuhan pemilik rumah tanpa menghilangkan
karakter tradisionalnya. Namun, kondisi beberapa bagian rumah yang rusak, seperti dinding bilik
bambu di belakang rumah yang dibiarkan hancur oleh usia, juga mengingatkan kita akan
tantangan besar dalam pelestarian rumah tradisional. Bagian ini menjadi bukti nyata bahwa
meskipun rumah tradisional dapat bertahan lama, perawatan yang konsisten tetap diperlukan agar
nilai budaya dan fungsi praktisnya tetap terjaga. Transformasi sederhana dan keputusan untuk
menutup bagian belakang dengan tembok, misalnya, mencerminkan keseimbangan antara
mempertahankan keaslian budaya dan memenuhi kebutuhan keamanan di era kontemporer.
Gambar E.1. 1 Tampak Atas
Gambar E.1. 2 Tampak Depan
Gambar E.1. 3 Tampak Depan Kanan
Gambar E.1. 4 Tampak Samping Kiri
Gambar E.1. 5 Tampak Samping Kiri
Depan
Gambar E.1. 6 Tampak Samping Kanan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
55
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
Gambar E.1. 8 Pembatas Belakang Rumah
Hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat setempat, Nini Rumi, yang juga
merupakan adik dari pemilik rumah tradisional mendiang Almh. Romlah (Ma Oom),
memberikan wawasan yang berharga tentang sejarah dan kondisi rumah tersebut. Sebagai saksi
hidup dari perjalanan rumah tradisional ini, Nini Rumi menyampaikan cerita yang tidak hanya
menggambarkan keaslian rumah tetapi juga dinamika yang terjadi di dalamnya.
“Rumah ini sudah ada sejak tahun 1930-an. Artinya, rumah tradisional ini telah bertahan
hampir satu abad. Selama itu, pondasi dan struktur bangunannya masih tetap asli dan tidak
berubah sedikit pun. Hanya ada beberapa perubahan kecil yang pernah dilakukan, seperti
perbaikan pada atap dan penyesuaian interior untuk menyesuaikan dengan kebutuhan pemilik
sekarang. Namun, inti dari bangunan ini, termasuk material utama dan desain arsitekturalnya,
tetap sama seperti ketika pertama kali dibangun. Salah satu faktor utama adalah penggunaan
material yang sangat kuat dan sesuai dengan kondisi lingkungan di sekitar sini. Selain itu,
perawatan rutin oleh keluarga kami juga sangat membantu menjaga keaslian rumah ini. Filosofi
lokal yang menghargai nilai warisan leluhur juga menjadi motivasi bagi kami untuk menjaga
rumah ini tetap seperti aslinya. Banyak yang kagum dengan daya tahan rumah ini. Beberapa
bahkan menjadikan rumah ini sebagai contoh bagaimana bangunan tradisional dapat bertahan
lama jika dirawat dengan baik. Kami juga merasa bangga karena rumah ini bisa menjadi bagian
dari identitas budaya lokal yang masih hidup hingga sekarang.(Wawancara Personal Dengan Nini
Rumi, Kp. Citeureup 1, Ds. Barengkok, Kec. Leuwiliang, Kab. Bogor, Prov. Jawa Barat (21 November
2024), n.d.).
Testimoni dari Nini Rumi memberikan konteks budaya dan emosional yang memperkaya
pemahaman tentang pentingnya rumah ini bagi keluarga dan masyarakat sekitar. Narasi yang ia
sampaikan membuka perspektif tentang bagaimana nilai-nilai tradisional tetap dijaga meskipun
berbagai tantangan telah dilalui oleh rumah yang sarat sejarah ini. Wawancara ini menjadi
jembatan antara masa lalu dan upaya pelestarian di masa kini. Menurut penjelasan pewaris
rumah, yaitu Bapak Ujang Idris, rumah tradisional ini memiliki sejarah panjang yang tidak hanya
menjadi tempat tinggal, tetapi juga saksi dari perjalanan mendiang ibunya Almh. Romlah (Ma
Oom) yang menjadikan rumah tersebut menjadi tempat pengobatan tradisional, misalnya refleksi
atau urut, pembuatan obat cacing dan kumis kucing. Sebagai anak ke-6 dari 6 bersauda generasi
pewaris, Bapak Ujang Idris menjelaskan bagaimana rumah ini telah bertahan dan mengalami
adaptasi selama bertahun-tahun, sembari tetap menjaga nilai-nilai tradisional yang diwariskan
oleh ibunya.
Transformasi yang ada hanya berupa penambahan teras yang disemen dan kamar mandi
luar. Selain itu, struktur bangunan aslinya tetap dipertahankan. Material yang digunakan masih
mempertahankan unsur tradisionalnya. Penambahan atau perbaikan hanya dilakukan pada
bagian yang rusak karena usia, seperti atap genteng yang sudah berulang kali diganti. Tapi
semuanya dilakukan dengan cara yang tidak merusak struktur asli rumah. Kami hanya
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
56
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
menambahkan atau memperbaiki bagian yang memang sudah termakan usia, tanpa mengubah
bentuk atau nilai tradisional dari rumah ini. Itu bagian dari usaha kami untuk menjaga
keasliannya.(Wawancara Personal Dengan Bapak Ujang Idris, Kp. Citeureup 1, Ds.
Barengkok, Kec. Leuwiliang, Kab. Bogor, Prov. Jawa Barat (28 November 2024), n.d.)
Testimoni ini tidak hanya memberikan gambaran tentang kondisi fisik rumah, tetapi juga
membuka wawasan tentang makna emosional dan simbolis dari rumah tradisional tersebut dalam
kehidupan keluarga dan masyarakat. Penuturan ini memperkuat pentingnya rumah tradisional
sebagai bagian dari identitas budaya yang perlu dijaga dan dihormati. Transformasi fisik rumah
tradisional merujuk pada perubahan yang terjadi pada struktur dan material bangunan seiring
berjalannya waktu. Proses ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk modernisasi dan
kebutuhan penghuni. Berikut adalah beberapa aspek penting dari transformasi fisik rumah
tradisional (Oktaviana et al., 2023).
1) Perubahan Material
Seiring dengan perkembangan teknologi dan ketersediaan bahan bangunan, material yang
digunakan dalam konstruksi rumah tradisional juga dapat berubah. Misalnya, penggunaan
bahan modern seperti beton dan baja menggantikan bahan tradisional seperti kayu dan
bambu.
2) Perubahan Bentuk dan Tatanan Ruang
Meskipun bentuk fisik rumah tradisional mungkin tetap terlihat, tatanan ruang di dalamnya
sering kali berubah untuk menyesuaikan dengan jumlah penghuni yang bertambah atau
untuk memenuhi kebutuhan lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa meskipun
penampilan fisik rumah dapat berubah, konfigurasi spasial tradisional sering kali masih
dipertahankan.
3) Pengaruh Modernisasi
Modernisasi membawa perubahan signifikan pada rumah tradisional, baik dari segi desain
maupun fungsi. Hal ini dapat mencakup penerapan teknologi baru dalam konstruksi dan
desain interior, yang sering kali mengubah karakteristik asli rumah.
4) Kepunahan dan Pelestarian
Transformasi fisik yang tidak terelakkan dapat mengarah pada kepunahan rumah
tradisional. Oleh karena itu, penting untuk melakukan upaya pelestarian yang melibatkan
perekaman nilai-nilai budaya dan sejarah yang terkandung dalam bangunan tersebut.
Secara keseluruhan, transformasi fisik rumah tradisional adalah proses kompleks yang
mencerminkan perubahan sosial dan budaya dalam masyarakat. Upaya untuk memahami dan
melestarikan rumah tradisional sangat penting untuk menjaga identitas budaya dan warisan
arsitektur suatu daerah. Rumah tradisional ini, selain berfungsi sebagai tempat tinggal, memiliki
peran sosial yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Fungsi tambahan rumah ini tidak lepas dari
sosok mendiang Almh. Romlah (Ma Oom), yang semasa hidupnya dikenal sebagai praktisi
pengobatan tradisional. Rumah ini menjadi pusat pengobatan tradisional yang dipercaya
masyarakat sekitar untuk menangani berbagai keluhan kesehatan. Peran tersebut menjadikan
rumah ini lebih dari sekadar tempat tinggal, ia menjadi bagian penting dari dinamika sosial dan
budaya lokal. Ketika Ma Oom masih hidup, rumah ini hampir setiap pekan didatangi oleh
masyarakat yang memerlukan pengobatan. Dari sekadar keluhan ringan hingga permasalahan
kesehatan yang lebih kompleks, rumah ini menjadi salah satu tempat untuk masyarakat mencari
kesembuhan. Ma Oom tidak hanya dikenal karena keahliannya dalam pengobatan, tetapi juga
karena pendekatannya yang penuh kasih dan berbasis kearifan lokal. Hal ini memperkuat ikatan
emosional antara rumah ini dengan masyarakat sekitar.
Transformasi fungsi ini tidak menghilangkan karakter rumah sebagai hunian tradisional.
Sebaliknya, fungsi pengobatan tradisional yang diemban rumah ini memperkaya nilai sosialnya.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
57
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
Dinding dan lantai yang terbuat dari anyaman bambu, memberikan suasana yang alami,
memberikan rasa tenang dan nyaman bagi siapapun yang datang. Pasca wafatnya Ma Oom,
fungsi pengobatan tradisional ini perlahan mulai memudar. Meski demikian, ingatan akan peran
rumah ini tetap hidup dalam benak masyarakat. Kini, rumah tersebut menjadi saksi bisu sejarah
panjang peran sosial yang pernah dijalankan, sekaligus simbol budaya yang mengingatkan pada
pentingnya hubungan antara tradisi dan kehidupan masyarakat. Transformasi fungsi yang terjadi
pada rumah ini mencerminkan bagaimana nilai tradisional dapat menyatu dengan kebutuhan
sosial, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan komunitas. Ini juga
menggambarkan bagaimana rumah tradisional tidak hanya menjadi warisan fisik tetapi juga
warisan budaya yang hidup, menghubungkan masa lalu dengan masa kini melalui fungsinya
yang relevan dan adaptif. Rumah ini, dengan segala nilai dan fungsinya, menunjukkan bahwa
tradisi dan modernitas dapat berjalan berdampingan tanpa kehilangan esensi kearifan lokal yang
melekat.
Transformasi fungsi rumah tradisional mencerminkan dinamika masyarakat yang terus
berkembang sebagai respons terhadap perubahan sosial dan budaya. Perubahan ini tidak hanya
terjadi karena kebutuhan praktis tetapi juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan
modernisasi yang mengubah cara pandang masyarakat terhadap ruang dalam rumah. Berikut
adalah penjelasan umum dari aspek-aspek penting transformasi fungsi rumah tradisional (Julita
& Hidayatun, 2020).
1) Penambahan Anggota Keluarga
Seiring bertambahnya jumlah anggota keluarga, kebutuhan ruang yang lebih besar menjadi
hal utama. Rumah tradisional yang pada awalnya dirancang untuk keluarga inti sering kali
harus diperluas untuk mengakomodasi anggota keluarga yang baru. Penyesuaian ini bisa
berupa penambahan kamar atau penggunaan ruang yang sebelumnya memiliki fungsi lain.
2) Perubahan Kegiatan Sosial
Gaya hidup masyarakat terus berubah, memengaruhi cara mereka menggunakan ruang
dalam rumah. Ruang yang sebelumnya digunakan untuk aktivitas tertentu, seperti tempat
menyimpan hasil panen atau ruang upacara, mungkin dialihfungsikan menjadi ruang
keluarga, ruang kerja, atau area berkumpul yang lebih santai. Perubahan ini mencerminkan
fleksibilitas rumah tradisional dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan sosial yang
berkembang.
3) Pengaruh Ekonomi
Faktor ekonomi memainkan peran signifikan dalam transformasi fungsi rumah. Dengan
meningkatnya pendapatan atau akses ke material modern, masyarakat dapat mengubah
ruang untuk meningkatkan kenyamanan atau memanfaatkan rumah secara komersial,
misalnya dengan menyewakan sebagian ruang. Transformasi ini sering kali
menggabungkan elemen tradisional dengan material dan desain modern untuk
menciptakan nilai tambah.
4) Adaptasi terhadap Modernisasi
Modernisasi membawa perubahan signifikan dalam cara masyarakat memandang dan
menggunakan ruang dalam rumah mereka. Penyesuaian seperti penambahan jendela untuk
ventilasi dan pencahayaan alami adalah contoh umum dari adaptasi yang bertujuan
meningkatkan kenyamanan. Selain itu, pengenalan peralatan modern juga memengaruhi
tata ruang, seperti ruang yang dikhususkan untuk dapur dengan teknologi baru.
5) Perubahan dalam Pengetahuan dan Teknologi
Edukasi dan akses terhadap teknologi modern telah mengubah cara masyarakat merancang
dan menggunakan ruang. Material modern yang lebih efisien dan tahan lama semakin
banyak digunakan untuk menggantikan material tradisional, sementara tata letak ruang
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
58
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
sering kali diubah untuk meningkatkan fungsionalitas sesuai dengan kebutuhan
kontemporer.
Transformasi fungsi rumah tradisional adalah proses adaptasi yang terus berkembang,
mencerminkan kebutuhan masyarakat untuk menyeimbangkan elemen budaya tradisional
dengan tuntutan kehidupan modern. Proses ini menunjukkan kemampuan rumah tradisional
untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman tanpa sepenuhnya kehilangan identitas
budayanya.
Faktor Keberlanjutan
Keberlanjutan rumah tradisional memainkan peran krusial dalam menjaga identitas budaya
dan warisan lokal di tengah arus modernisasi yang semakin intens. Sebagai simbol keberlanjutan
sosial, budaya, dan ekologis, rumah tradisional tidak hanya merepresentasikan elemen fisik
tetapi juga nilai-nilai yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan
lingkungannya. Namun, menjaga keberadaannya bukanlah tugas yang sederhana. Berbagai
faktor, seperti peran masyarakat lokal, kebijakan pemerintah dan pengaruh teknologi, memiliki
dampak signifikan terhadap keberlanjutan rumah tradisional. Dalam konteks ini, rumah
tradisional menghadapi tantangan besar, termasuk tekanan urbanisasi dan perubahan gaya hidup
yang cenderung menggantikan nilai tradisional dengan efisiensi modern. Meski begitu, banyak
rumah tradisional yang tetap bertahan berkat kesadaran masyarakat, dukungan kebijakan, dan
strategi adaptasi. Faktor-faktor keberlanjutan ini tidak hanya memungkinkan rumah tradisional
untuk tetap relevan, tetapi juga menjadi inspirasi untuk pelestarian budaya di era kontemporer.
Berikut adalah tiga faktor keberlanjutan rumah tradisional di era kontemporer.
1. Peran Masyarakat Lokal dalam Pelestarian Rumah Tradisional
Masyarakat berperan penting dalam menjaga keberlanjutan rumah tradisional, khususnya
dengan mempertahankan keaslian arsitektur rumah meskipun menghadapi tantangan seiring
waktu. Salah satu bentuk peran tersebut terlihat pada rumah ini, yang meskipun sempat
direncanakan untuk renovasi besar-besaran oleh anak-anak mendiang Ma Oom, tetap
dipertahankan dalam bentuk aslinya. Rencana renovasi muncul akibat kondisi bangunan yang
mulai rusak akibat usia, namun keinginan untuk menjaga warisan budaya dan nilai historis rumah
ini akhirnya menjadi prioritas utama. Upaya ini mencerminkan komitmen masyarakat untuk
melestarikan identitas lokal melalui perlindungan elemen-elemen tradisional yang melekat pada
rumah tersebut.
Masyarakat lokal merupakan pilar utama dalam menjaga keberlangsungan rumah
tradisional, sebuah warisan budaya yang tak ternilai harganya. Kesadaran kolektif yang
mendalam menjadi fondasi utama upaya pelestarian, di mana masyarakat tidak sekadar
memandang rumah tradisional sebagai bangunan fisik, melainkan sebagai living heritage yang
mengandung narasi sejarah, identitas, dan nilai-nilai fundamental komunitas. Dalam konteks
transformasi sosial yang serba cepat, komitmen masyarakat untuk mempertahankan arsitektur
tradisional menjadi benteng perlawanan terhadap homogenisasi budaya. Pilihan untuk tetap
memelihara rumah tradisional, meskipun dihadapkan pada tawaran arsitektur modern yang lebih
praktis, mencerminkan keteguhan spiritual dan kultural yang mendalam. Hal ini bukan sekadar
tindakan nostalgis, melainkan upaya aktif untuk mempertahankan kontinuitas identitas kolektif
(Fikria et al., 2019).
Partisipasi masyarakat dalam pelestarian rumah tradisional berlangsung secara
multidimensional. Mereka tidak hanya berperan sebagai penjaga pasif, melainkan agen aktif
transformasi budaya. Keterlibatan ini mencakup pemeliharaan fisik bangunan dan transmisi
pengetahuan antargenerasi. Motivasi intrinsik yang mendorong upaya ini berakar pada kesadaran
akan pentingnya warisan budaya sebagai modal sosial yang tak ternilai. Dinamika pelestarian
rumah tradisional juga dipengaruhi oleh kompleksitas pertimbangan ekonomi dan sosial.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
59
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
Masyarakat kerap menghadapi dilema antara biaya pemeliharaan yang tinggi dan keinginan
untuk mempertahankan warisan. Namun, dalam banyak kasus, ikatan emosional dan kultural
jauh lebih kuat daripada sekadar perhitungan ekonomi sempit. Rumah tradisional dipandang
sebagai ruang hidup yang mengandung memori kolektif, bukan sekadar aset material. Identitas
visual dan kultural yang melekat pada rumah tradisional menjadi narasi penting dalam
mempertahankan kekhasan dalam masyarakat. Setiap detail arsitektur, setiap sudut ruang,
mengandung cerita yang tak terpisahkan dari perjalanan sejarah masyarakat. Dengan demikian,
pelestarian rumah tradisional bukan sekadar upaya konservasi fisik, melainkan proses
berkelanjutan dalam memaknai dan menghidupi warisan budaya (Fikria et al., 2019).
Jadi, peran masyarakat lokal dalam pelestarian rumah tradisional jauh melampaui sekadar
tindakan memelihara bangunan. Ini adalah sebuah upaya sistematis untuk menjaga kontinuitas
identitas, memelihara memori kolektif, dan mentransmisikan warisan budaya kepada generasi
mendatang. Dalam lanskap modernisasi yang kompleks, masyarakat lokal menjadi penjaga
terakhir dari narasi kultural yang hidup dan dinamis.
2. Kebijakan Pemerintah
Kebijakan pemerintah dalam pelestarian rumah tradisional masih menghadapi
kompleksitas tantangan yang signifikan. Berdasarkan dokumentasi penelitian yang ada, tampak
jelas bahwa intervensi struktural untuk melindungi warisan arsitektur tradisional belum
menunjukkan implementasi yang komprehensif. Kondisi rumah tradisional yang tergambar
dalam dokumen penelitian mengungkapkan realitas yang kompleks. Transformasi ruang yang
terjadi, didorong oleh inisiatif individual pemilik rumah daripada hasil intervensi sistematis dari
kebijakan pemerintah.
Kebijakan pemerintah dalam pelestarian rumah tradisional saat ini menghadapi tantangan
kompleks yang membutuhkan pendekatan menyeluruh dan strategis. Pada kondisi awal,
peraturan formal yang spesifik untuk melindungi rumah-rumah tradisional masih sangat minim,
yang menjadi hambatan utama dalam upaya pelestarian warisan budaya arsitektur. Ketiadaan
regulasi khusus menunjukkan perlunya intervensi pemerintah yang lebih komprehensif untuk
melindungi dan melestarikan aset budaya yang bernilai tinggi ini. Dalam konteks pembangunan
masa depan, pemerintah mulai menyadari pentingnya pengembangan kebijakan yang lebih
strategis. Fokus utama diarahkan pada pengakuan signifikansi budaya rumah tradisional,
pengembangan strategi pelestarian partisipatif, dan penciptaan insentif ekonomi yang
mendukung pemeliharaan struktur bersejarah. Salah satu pendekatan yang mulai
dipertimbangkan adalah mengintegrasikan rumah tradisional ke dalam pengembangan
pariwisata budaya, yang bertujuan meningkatkan nilai ekonomi warisan budaya dan mendorong
keterlibatan aktif masyarakat (Susanti et al., 2022).
Aspek ekonomi dan sosial menjadi pertimbangan krusial dalam kebijakan pelestarian.
Pemerintah diharapkan dapat memberikan dukungan konkret berupa subsidi, bantuan ekonomi,
dan pengembangan mata pencaharian berkelanjutan bagi masyarakat pemilik rumah adat.
Masyarakat sendiri ditempatkan sebagai aktor kunci dalam proses pelestarian, dengan strategi
memberdayakan mereka melalui keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan menumbuhkan
rasa memiliki terhadap warisan budaya. Pendekatan holistik yang memperhatikan dimensi
budaya, ekonomi, dan sosial dipandang sebagai kunci keberhasilan upaya pelestarian rumah
tradisional. Meskipun saat ini kebijakan masih sangat terbatas, terdapat optimisme akan
pengembangan kebijakan komprehensif di masa mendatang. Pemerintah diharapkan dapat
merancang strategi yang tidak sekadar melindungi struktur fisik, tetapi juga menjaga kontinuitas
nilai-nilai budaya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mempromosikan warisan
arsitektur sebagai bagian penting dari identitas dan kekayaan budaya. Tantangan utama yang
dihadapi adalah menyeimbangkan antara kebutuhan pelestarian dengan dinamika pembangunan
modern (Susanti et al., 2022). Oleh karena itu, kebijakan yang akan dikembangkan harus
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
60
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
fleksibel, inovatif, dan responsif terhadap perubahan sosial-ekonomi, sambil tetap menjaga
keaslian dan integritas rumah tradisional sebagai warisan budaya yang bernilai.
3. Pengaruh Teknologi dan Nilai Sosial Budaya
Rumah tradisional yang ditempati oleh Bapak Ujang Idris memperlihatkan karakteristik
autentik yang hampir tidak tersentuh oleh perkembangan teknologi modern. Sebagai sebuah
hunian kedua, rumah ini mempertahankan keaslian struktur dan desain aslinya, mencerminkan
kesederhanaan dan keberlangsungan warisan arsitektur tradisional. Minimnya aksesori atau
perangkat teknologi modern bukan sekadar pilihan kebetulan, melainkan representasi kesadaran
pemilik untuk melestarikan keutuhan dan makna historis bangunan. Bapak Ujang Idris dengan
sengaja memelihara rumah ini dalam kondisi orisinil, seakan menjaga cerita rumah tersebut
melalui konstruksi, material, dan detail arsitektur yang masih utuh. Teknologi tidak mendapatkan
ruang untuk mengubah atau mendistorsi narasi budaya yang terpahat kuat dalam setiap elemen
bangunan bersejarah ini.
Rumah tradisional milik mendiang Ma Oom tumbuh sebagai ruang hidup yang melampaui
fungsi fisik, menghadirkan dimensi sosial dan kultural yang mendalam. Menjadi simpul
pertemuan keluarga, rumah ini masih sering dikunjungi oleh sanak saudara, terutama anak-anak
Ma Oom yang pernah menghabiskan masa kecil di tempat ini namun kini tersebar di berbagai
kota. Setiap kunjungan menjadi momen sakral di mana ikatan keluarga dirajut ulang, kenangan
dihadirkan, dan tradisi diwariskan. Rumah tradisional ini berfungsi lebih dari sekadar tempat
singgah, melainkan menjadi pelarian dari hiruk-pikuk kehidupan metropolitan, menawarkan
kedamaian dan koneksi spiritual dengan akar budaya.
Orangtua membawa anak dan cucu ke rumah ini dengan maksud lebih dalam daripada
sekadar berlibur. Setiap sudut ruangan menjadi ruang dialog antargenerasi, di mana cerita leluhur
dibisikkan, praktik budaya diperkenalkan, dan pengetahuan tentang kearifan lokal diwariskan
secara alamiah. Rumah tradisional ini dengan sendirinya menjadi media pendidikan yang hidup,
mengajak generasi muda untuk memahami, menghargai, dan melestarikan warisan budaya.
Melalui pengalaman langsung, anak-cucu diajak memahami bahwa rumah tradisional bukan
sekadar bangunan, melainkan arsip kehidupan yang menyimpan kebijaksanaan dan identitas
kolektif.
Interaksi antara teknologi dan nilai-nilai sosial budaya dalam konteks arsitektur tradisional,
khususnya pada rumah-rumah Jawa, merupakan fenomena kompleks yang mencerminkan
dinamika perubahan sosial dan budaya masyarakat. Proses adaptasi ini tidak sekadar
transformasi fisik bangunan, melainkan representasi negosiasi berkelanjutan antara warisan
leluhur dan tuntutan modernitas. Secara fundamental, rumah tradisional adalah kristalisasi
filosofi dan kepercayaan masyarakat. Setiap elemen arsitekturnya mengandung narasi kultural
yang mendalam, mulai dari orientasi bangunan hingga tata letak ruang. Desain tidak ditentukan
semata-mata oleh pertimbangan praktis, melainkan dipengaruhi oleh kompleksitas kosmologi
dan norma sosial yang telah berkembang secara turun-temurun. Kemajuan teknologi membawa
transformasi signifikan dalam arsitektur tradisional. Bahan konstruksi modern seperti beton dan
baja memungkinkan eksplorasi struktural yang lebih beragam, melampaui keterbatasan material
tradisional. Namun, proses modernisasi ini bukanlah penggantian total, melainkan adaptasi yang
mempertahankan esensi kultural (Pangat, 1994).
Globalisasi memainkan peran penting dalam metamorfosis arsitektur tradisional.
Pertukaran informasi dan budaya membuka ruang bagi hibridisasi arsitektur, di mana elemen
tradisional berkolaborasi dengan estetika kontemporer. Hal ini menghasilkan tipologi bangunan
baru yang menjembatani masa lalu dan masa kini, tanpa kehilangan identitas kulturalnya.
Perdebatan antara pelestarian murni dan modernisasi terus berlangsung. Beberapa kelompok
memperjuangkan konservasi total rumah tradisional, sementara yang lain melihat teknologi
sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas hidup. Titik temu kedua perspektif ini terletak
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
61
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
pada upaya memelihara signifikansi budaya sambil mengadopsi inovasi yang mendukung
keberlanjutan (Pangat, 1994). Pada akhirnya, rumah tradisional bukanlah sekadar struktur fisik,
melainkan medium di mana nilai-nilai sosial budaya dan teknologi berinteraksi secara dinamis.
Ia menjadi saksi sekaligus aktor dalam proses transformasi sosial, mencerminkan kemampuan
masyarakat untuk beradaptasi sambil tetap mempertahankan esensi kulturalnya.
4. Kesimpulan
Transformasi rumah tradisional merupakan fenomena kompleks yang mencerminkan
negosiasi berkelanjutan antara warisan budaya dan tuntutan modernitas. Berdasarkan analisis
komprehensif, dapat disimpulkan bahwa pelestarian rumah tradisional bukanlah sekadar upaya
mempertahankan struktur fisik, melainkan proses dinamis yang melibatkan interaksi
multidimensional antara masyarakat, teknologi, kebijakan, dan nilai-nilai budaya.
a. Dinamika Transformasi Fisik dan Fungsional
Transformasi rumah tradisional tidak dapat dipahami sebagai proses linear atau sederhana. Ia
merupakan manifestasi kompleks dari adaptasi berkelanjutan yang mempertahankan esensi
kultural sambil mengakomodasi kebutuhan praktis modern. Perubahan fisik, seperti
penambahan teras semen atau kamar mandi modern, bukanlah bentuk degradasi, melainkan
strategi survival yang cerdas. Secara kritis, fenomena ini mengungkapkan kapasitas arsitektur
tradisional untuk bersifat fleksibel tanpa kehilangan identitasnya. Setiap modifikasi adalah
negosiasi halus antara kebutuhan kontemporer dan warisan budaya. Material tradisional tidak
sekadar digantikan, tetapi diperkuat dengan teknologi modern, menciptakan keseimbangan
antara konservasi dan inovasi. Rumah tradisional melampaui fungsi fisik sebagai tempat
tinggal. Ia adalah ruang hidup yang mengandung memori kolektif, praktik sosial, dan sistem
nilai masyarakat. Peran masyarakat lokal sebagai pilar utama pelestarian menjadi kunci
keberlanjutan. Komitmen mereka tidak sekadar upaya konservasi, melainkan ekspresi
identitas dan resistensi terhadap homogenisasi budaya. Partisipasi generasi muda dalam
melestarikan warisan budaya melalui rumah tradisional menunjukkan mekanisme regenerasi
kultural yang organik. Melalui pengalaman langsungmendengar cerita leluhur,
berpartisipasi dalam ritual mereka tidak hanya mempelajari sejarah, tetapi mengalami ulang
dan memaknai ulang tradisi.
b. Faktor Keberlanjutan Rumah Tradisional
Analisis kritis terhadap kebijakan pemerintah mengungkapkan keterbatasan signifikan dalam
pelestarian rumah tradisional. Minimnya regulasi spesifik mengindikasikan gagalnya sistem
administrasi dalam mengapresiasi kompleksitas warisan budaya. Pelestarian hingga saat ini
lebih banyak bergantung pada inisiatif individu dan komunitas. Integrasi potensial ke dalam
pariwisata budaya menawarkan solusi ekonomi, namun membutuhkan pendekatan yang
sangat hati-hati. Komersialisasi tidak boleh mengorbankan nilai-nilai intrinsik rumah
tradisional. Insentif ekonomi dan dukungan struktural harus dirancang dengan
mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan pelestarian budaya.
Interaksi antara teknologi dan nilai tradisional tidak dapat dipahami sebagai hubungan
antagonistik. Teknologi modern berpotensi menjadi alat pelestarian yang powerful, bukan
sekadar instrumen penggantian. Dokumentasi digital, bahan konstruksi inovatif, dan
pendekatan hybrid dapat memperkuat struktur tradisional sambil memelihara autentisitas.
Globalisasi membuka ruang bagi arsitektur hibrid yang mempertahankan identitas lokal
sambil memenuhi kebutuhan fungsional masyarakat modern. Ini bukan sekadar adaptasi,
melainkan proses kreatif di mana tradisi dan modernitas saling memperkaya. Transformasi
rumah tradisional adalah miniatur dari proses perubahan sosial-budaya yang lebih luas. Ia
menunjukkan bahwa kebudayaan bukanlah entitas statis, melainkan sistem dinamis yang
terus-menerus bernegosiasi dengan konteks yang berubah. Rumah tradisional bukan sekadar
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 50-62
E-ISSN: 3031-2957
62
Ajril Mustaqim et.al (Menjaga Tradisi: Transformasi dan....)
bangunan fisik. Ia adalah narasi hidup, memori kolektif, dan benteng pertahanan identitas
kultural. Dalam setiap transformasinya, ia menceritakan kisah resistensi, adaptasi, dan
keberlanjutan peradaban.
5. Daftar Pustaka
Bayu Hermawan, & Yulianto P. Prihatmaji. (2019). Perkembangan Bentukan AtapRumah
Tradisional Jawa. Prosiding Seminar Nasional Desain Dan Arsitektur (SENADA), 2, 387
393. https://eprosiding.idbbali.ac.id/index.php/senada/article/view/103
Fikria, W., Irwansyah, M., & Anggraini, R. (2019). Partisipasi Masyarakat Pada Pelestarian
Rumah Adat Aceh Di Desa Wisata Lubok Sukon Aceh Besar. Jurnal Arsip Rekayasa Sipil
Dan Perencanaan, 2(4), 324332. https://doi.org/10.24815/jarsp.v2i4.14949
Julita, I., & Hidayatun, M. I. (2020). Perubahan Fungsi, Bentuk Dan Material Rumah Adat Sasak
Karena Modernisasi. ATRIUM: Jurnal Arsitektur, 5(2), 105112.
https://doi.org/10.21460/atrium.v5i2.90
Nuryanto, N. (2021). FUNGSI, BENTUK, DAN MAKNA ATAP IMAH PANGGUNG SUNDA
(Studi Perbandingan Atap Rumah di Kasepuhan Ciptagelar, Naga, dan Pulo). Jurnal
Arsitektur ZONASI, 4(1), 92104. https://doi.org/10.17509/jaz.v4i1.27718
Oktaviana, A., Dahliani, D., & Huzairin, M. D. (2023). Studi Perubahan Fisik Rumah Tradisional
Banjar. Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan Dan Lingkungan, 12(3), 287.
https://doi.org/10.22441/vitruvian.2023.v12i3.007
Pangat. (1994). Pengaruh Budaya Dan Perkembangan Teknologi Bangunan Terhadap
Perkembangan Arsitektur Tradisional Jawa. Jurnal Cakrawala Pendidikan, 3(3), 115.
Samosir, A. (2013). Transformasi Arsitektur Tradisional Rumah Adat Batak Toba Di Toba
Samosir. Generasi Kampus, 6(2), 144162.
Sari, T. Y., Kurnia, H., Khasanah, I. L., & Ningtyas, D. N. (2022). Membangun Identitas Lokal
Dalam Era Globalisasi Untuk Melestarikan Budaya dan Tradisi Yang Terancam Punah.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal, 2(2), 7684.
https://doi.org/10.47200/aossagcj.v2i2.1842
Susanti, L., Febryano, I. G., Fitriana, Y. R., & Hilmanto, R. (2022). Pelestarian Rumah Panggung
(Rumah Tradisional Berbahan Dasar Kayu) Di Desa Penanggungan, Tanggamus. Jurnal
Belantara, 5(2), 143152. https://doi.org/10.29303/jbl.v5i2.809
Wawancara Personal dengan Bapak Ujang Idris, Kp. Citeureup 1, Ds. Barengkok, Kec.
Leuwiliang, Kab. Bogor, Prov. Jawa Barat (28 November 2024). (n.d.).
Wawancara Personal dengan Nini Rumi, Kp. Citeureup 1, Ds. Barengkok, Kec. Leuwiliang,
Kab. Bogor, Prov. Jawa Barat (21 November 2024). (n.d.).
Wibowo, A. P. (2021). Pemodernan Atap Rumah Tradisional Jawa sebagai Upaya Pelestarian
Kearifan Lokal. Sinektika: Jurnal Arsitektur, 18(2), 141147.
https://doi.org/10.23917/sinektika.v18i2.15337
Wibowo, D. (2020). Adaptasi Arsitektur Tradisional terhadap Tantangan Lingkungan Modern:
Studi Kasus Rumah Adat Betawi. Jurnal Lingkungan Dan Budaya, 7(3), 89100.