JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 63-72
E-ISSN: 3031-2957
63
Leony Assyifa Putri et.al (Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit....)
Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit di
Kalangan Generasi Muda
Ashila Maghfira
a,1
, Leony Assyifa Putri
b,2
, Mariana Luna Esy
c,3
, Siti Salma Rahmawati
d,4
, Ratna Fitria
e,5
a,b,c,d,e
Universitas Pendidikan Indonesia, Jl. Setiabudhi No. 229, Kota Bandung 40154, Indonesia
1
maghfirashila@upi.edu;
2
29syifaputri@upi.edu;
3
marianalunaea19@upi.edu;
4
salmaarhmwtii@gmail.com;
5
ratna_fitria@upi.edu
* 29syifaputri@upi.edu
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 27 April 2025
Direvisi: 5 Mei 2025
Disetujui: 19 Mei 2025
Tersedia Daring: 13 Juni 2025
Kata ngabuburit diartikan sebagai bersantai-santai sambil menunggu
waktu sore di bulan puasa. Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi
ngabuburit perlahan berubah, meskipun tidak signifikan. Nilai-nilai
kebersamaan dan kesederhanaan yang dulu menjadi inti dari
ngabuburit perlahan memudar, tergeser oleh dominasi perangkat digital
yang membuat interaksi sosial semakin berjarak. Penelitian ini
bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi
perkembangan tradisi ngabuburit di era modern. Penelitian ini
menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif
deskriptif bertujuan untuk menggambarkan dan memahami fenomena
yang diteliti secara mendalam berdasarkan perspektif responden.
Penelitian ini juga berupaya menggali makna sosial dan budaya di balik
kegiatan ngabuburit dalam konteks generasi muda saat ini. Penelitian ini
menyajikan data terkini dan mengungkap kegiatan generasi muda
dalam menghabiskan waktu sebelum berbuka puasa atau ngabuburit.
Berbeda dari penelitian terdahulu yang lebih banyak membahas tentang
ngabuburit secara tradisional, penelitian ini berfokus pada tren dan
perubahan pola ngabuburit yang muncul di kalangan generasi muda
selama Ramadhan. Dari hasil survei yang melibatkan 50 responden
berusia 18-21 tahun, ditemukan bahwa aktivitas ngabuburit yang paling
sering dilakukan oleh generasi muda masih berkisar pada jalan-jalan,
dan jajan. Walaupun begitu, ada juga yang lebih memilih menghabiskan
waktu di rumah dengan bersantai atau tidur. Ketika ditanya tentang
pentingnya ngabuburit dalam menjalani ibadah puasa, tanggapan
responden cukup beragam. Beberapa menganggap ngabuburit sebagai
bagian penting dalam menjalani Ramadhan karena membantu
mengalihkan rasa lapar dan menjaga keseimbangan mental. Sementara
itu, yang lain merasa bahwa ngabuburit hanyalah aktivitas tambahan
yang tidak terlalu berpengaruh terhadap esensi ibadah puasa itu sendiri.
Di bagian kesimpulan, peneliti mencantumkan esensi dari aktivitas
ngabuburit itu sendiri tetap sama yaitu untuk menjadi momen penting
untuk menyegarkan pikiran dan menjadi penyeimbang diri dari
kesibukan sehari-hari selama menjalankan ibadah puasa.
Kata Kunci:
Ngabuburit
Generasi muda
Tradisi
Ramadhan
Puasa
ABSTRACT
Keywords:
Ngabuburit
The younger generation
Tradition
Ramadhan
Fasting
The word ngabuburit is interpreted as relaxing while waiting for the
afternoon in the fasting month. Along with the times, the ngabuburit
tradition slowly changed, although not significantly. The values of
togetherness and simplicity that used to be the core of ngabuburit are
slowly fading, displaced by the dominance of digital devices that make
social interaction increasingly distanced. This research aims to explain the
factors that affect the development of the ngabuburit tradition in the
modern era. This study uses a type of descriptive qualitative research.
Descriptive qualitative research aims to describe and understand the
phenomenon that is researched in depth based on the perspective of the
respondents. This research also seeks to explore the social and cultural
meaning behind ngabuburit activities in the context of today's young
generation. This study presents the latest data and reveals the activities of
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 63-72
E-ISSN: 3031-2957
64
Leony Assyifa Putri et.al (Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit....)
the younger generation in spending time before breaking the fast or
ngabuburit. Different from previous research that discussed more
traditional ngabuburit, this study focuses on trends and changes in
ngabuburit patterns that emerge among the younger generation during
Ramadan. From the results of a survey involving 50 respondents aged 18-
21 years, it was found that the most common ngabuburit activities carried
out by the younger generation still revolve around walking, and snacks.
Even so, there are also those who prefer to spend time at home relaxing or
sleeping. When asked about the importance of ngabuburit in undergoing
fasting, respondents' responses were quite diverse. Some consider
ngabuburit to be an important part of living Ramadan because it helps to
divert hunger and maintain mental balance. Meanwhile, others feel that
ngabuburit is just an additional activity that does not have much effect on
the essence of fasting itself. In the conclusion, the researcher stated that
the essence of the ngabuburit activity itself remains the same, namely to
be an important moment to refresh the mind and be a self-balancing from
daily busyness during fasting.
©2025, Leony Assyifa Putri, Ashila Maghfira, Mariana Luna Esy,
Siti Salma Rahmawati, Ratna Fitria
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Ramadhan menurut Hasanah (2020) merupakan waktu yang sangat dinantikan oleh umat
muslim di berbagai belahan dunia karena bulan ini dipercaya membawa banyak berkah dan
ampunan. Selama Ramadhan, umat muslim menjalankan ibadah puasa yang dimulai dari terbit
fajar hingga terbenam matahari, kemudian diakhiri dengan kegiatan berbuka puasa saat
matahari terbenam, serta sahur yang dilakukan pada malam hingga dini hari sebelum puasa
dimulai kembali (Safira et al., 2023). Selama berpuasa umat Muslim diwajibkan menahan diri
dari hal-hal yang membatalkan puasa sejak sahur hingga waktu berbuka puasa akhirnya tiba,
dengan niat beribadah kepada Allah sebagaimana dengan QS. Al-Baqarah ayat 183 yang
berbunyi: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Siregar et al., 2023). Tetapi,
selain umat Muslim, banyak juga orang dari berbagai latar belakang yang berbeda menantikan
bulan Ramadhan. Hal ini disebabkan oleh berbagai hidangan takjil atau makanan yang
biasanya dibeli untuk berbuka puasa yang menggugah selera dan hanya muncul di bulan ini,
juga tradisi khas yang membuat suasana meriah dan penuh kebersamaan.
Tradisi, secara umum, diartikan sebagai kebiasaan yang telah dilakukan sejak lama dan
terus menerus, sehingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat
dalam suatu negara, kebudayaan, waktu, dan juga agama yang sama (Sudirana, 2020). Adapun
pendapat lain tentang tradisi menurut Simamora & Sinulingga (2023) yaitu tradisi adalah
sebuah perbuatan yang dilakukan secara berulang dengan cara yang sama oleh suatu kelompok
atau komunitas. Menurut Gusti et. al., tradisi memiliki banyak karakteristik. Lebih lanjut,
tradisi dalam masyarakat tumbuh dan berkembang seiring dengan lingkungan sosialnya.
Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, dan agama. Tradisi yang
diwariskan dari generasi ke generasi biasanya tidak tertulis dalam aturan yang baku, melainkan
terwujud dalam bentuk lisan, perilaku, dan kebiasaan yang tetap dijaga. Beragam bentuk tradisi
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 63-72
E-ISSN: 3031-2957
65
Leony Assyifa Putri et.al (Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit....)
telah menjadi objek kajian para sosiolog dan antropolog, yang kemudian memunculkan
pemahaman bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki tradisi dan kepercayaan masing-
masing. Tradisi tersebut diyakini kebenarannya dan diwariskan secara turun-temurun dari satu
generasi ke generasi berikutnya (Abdullah, 2020). Adapun sebuah tradisi yang sudah melekat
dengan masyarakat Indonesia dan terjadi atau dilakukan pada saat bulan Ramadhan yaitu
ngabuburit (Jazilah & Safitri, 2024).
Kata ngabuburit, menurut Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS) diserap dari kata
bahasa Sunda yang berarti "Ngalantung ngadagoan burit" atau yang dalam bahasa Indonesia
dapat diartikan sebagai “Bersantai-santai sambil menunggu waktu sore (Menunggu waktu
berbuka) di bulan puasa. (Hamdani & Karir, n.d.). Kegiatan ngabuburit biasanya berjalan-jalan
mencari makanan untuk berbuka puasa seperti kue atau takjil atau bahkan hanya menikmati
udara dan matahari yang hendak terbenam (Awaliyah, 2021). Bernadus, et. al., (2021)
mengatakan seiring dengan perkembangan zaman, tradisi ngabuburit perlahan berubah,
meskipun tidak signifikan. Bernadus juga menambahkan bahwa perubahan tradisi ini
disebabkan oleh kemunculan teknologi dan trend yang beredar di kalangan generasi muda,
sehingga kegiatan ngabuburit kini menjadi lebih beragam dan unik. Hal ini sejalan dengan apa
yang diungkapkan oleh Jazilah & Safitri (2024) bahwa kemajuan zaman telah membawa
remaja ke dalam era digital yang sarat akan kemudahan dan beragam peluang. Media sosial,
platform streaming, aplikasi game, serta berbagai aplikasi lain yang menjadi daya tarik utama
bagi banyak orang untuk mengisi waktu sebelum berbuka puasa. Contohnya menonton film di
YouTube, atau sekedar scroll TikTok. Di masa kini, komunikasi tak lagi terbatas pada
pertemuan langsung. Berkat teknologi yang semakin canggih, manusia dapat berinteraksi
dengan siapa pun di berbagai penjuru dunia tanpa dibatasi jarak dan waktu. Akses yang mudah
memungkinkan kita untuk tetap terhubung dengan keluarga yang jauh. Dahulu, media cetak
seperti surat kabar dan surat pos menjadi sarana utama dalam komunikasi jarak jauh. Namun,
seiring pesatnya perkembangan teknologi, cara manusia berkomunikasi mengalami perubahan
yang sangat signifikan. Informasi yang sebelumnya membutuhkan waktu lama untuk tersebar
kini dapat diakses dengan lebih mudah, cepat, dan efisien melalui media sosial (Suryawati &
Alam, 2022).
Media sosial, yang awalnya berkembang dari cara berkomunikasi tradisional, kini
menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menyebarkan berbagai
jenis informasi (Dwitama, et. al., 2022). Melalui platform seperti Facebook, Instagram,
TikTok, dan Twitter, pengguna bisa berbagi berita, foto, hingga video secara cepat dan
langsung. Selain itu, media sosial juga memungkinkan orang-orang di berbagai belahan dunia
untuk terhubung dan berinteraksi tanpa batasan jarak dan waktu. Perkembangan teknologi
yang pesat, didorong oleh arus globalisasi, membuat proses penyampaian informasi menjadi
semakin mudah (Salsabila, et. al., 2022). Tidak hanya untuk keperluan pribadi, media sosial
kini banyak dimanfaatkan di berbagai bidang, seperti bisnis, pendidikan, hingga pemerintahan
(Arianto, 2022). Berbagai instansi dan perusahaan memanfaatkannya untuk menyampaikan
pesan, mempromosikan produk, serta menjalin komunikasi dengan audiens yang lebih luas.
Lebih dari sekadar alat komunikasi, media sosial telah mengubah cara masyarakat berinteraksi.
Penyebaran informasi yang dulu membutuhkan waktu lama, kini bisa dilakukan secara instan
dan menjangkau banyak orang sekaligus. Selain itu, media sosial juga membantu membangun
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 63-72
E-ISSN: 3031-2957
66
Leony Assyifa Putri et.al (Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit....)
komunitas digital yang semakin kuat, di mana orang-orang dengan minat yang sama dapat
saling terhubung dan bertukar pikiran. Peran media sosial dalam membentuk pola interaksi
yang lebih dinamis ini semakin terasa, seiring dengan perkembangan teknologi yang terus
berlanjut (Iryani & Nurwahid, 2023).
Pada akhirnya, ngabuburit kini bukan lagi sekadar aktivitas untuk mengisi waktu
menjelang berbuka puasa, melainkan telah bertransformasi menjadi ruang ekspresi bagi
berbagai tren dan gaya hidup, serta membuka peluang bisnis yang kian berkembang pesat.
Kehadiran teknologi dan media sosial membuat tradisi ini semakin semarak, namun di balik
kilauan kehidupan digital, tersembunyi kekhawatiran yang tak kalah besar. Nilai-nilai
kebersamaan dan kesederhanaan yang dulu menjadi inti dari ngabuburit perlahan memudar,
tergeser oleh dominasi perangkat digital yang membuat interaksi sosial semakin berjarak.
Selain itu, budaya konsumerisme dan hedonisme semakin merajalela, seakan menutupi makna
spiritual Ramadhan yang seharusnya menjadi inti dari tradisi ini. Pergeseran makna tersebut
menciptakan tantangan baru dalam menjaga esensi ngabuburit agar tetap selaras dengan nilai-
nilai budaya dan keagamaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Berbeda dari penelitian terdahulu yang lebih banyak membahas tentang ngabuburit
secara tradisional, penelitian ini berfokus pada trend dan perubahan pola ngabuburit yang
muncul di kalangan generasi muda selama Ramadhan. Analisis kesenjangan dalam penelitian
ini berfokus pada perbedaan antara tradisi ngabuburit di masa lalu dan praktik yang dilakukan
oleh generasi muda saat ini. Meskipun ngabuburit tetap menjadi bagian dari budaya Ramadan,
ada perubahan signifikan dalam cara aktivitas ini dijalankan, terutama dengan adanya
pengaruh teknologi dan tren global. Penelitian sebelumnya cenderung menyoroti aspek
tradisional dari ngabuburit, seperti kegiatan berbasis komunitas dan nuansa religius yang
kental. Namun, kajian mengenai bagaimana generasi muda memaknai dan mempraktikkan
tradisi ini di era modern masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi
kesenjangan tersebut dengan mengeksplorasi perubahan pola aktivitas, faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan tren, serta makna sosial yang melatarbelakangi fenomena ini di
kalangan generasi muda.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi berbagai aktivitas yang
dilakukan oleh generasi muda saat ngabuburit serta menganalisis perubahan tren tersebut dari
waktu ke waktu. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan tradisi ngabuburit di era modern. Penelitian ini juga berupaya
menggali makna sosial dan budaya di balik kegiatan ngabuburit dalam konteks generasi muda
saat ini. Penelitian ini menyajikan data terkini dan mengungkap kegiatan generasi muda dalam
menghabiskan waktu sebelum berbuka puasa atau ngabuburit.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif
deskriptif bertujuan untuk menggambarkan dan memahami fenomena yang diteliti secara
mendalam berdasarkan perspektif responden, tanpa menggunakan analisis statistik yang ketat.
Menurut Sugiyono dalam penelitian Hermawan et al., (2023), penelitian kualitatif deskriptif
adalah pendekatan yang digunakan untuk menjelaskan dan mendeskripsikan data yang telah
dikumpulkan tanpa bermaksud membuat generalisasi. Menurut I Made Laut Mertha Jaya dalam
penelitian yang dilakukan oleh Satyani dan Enhar (2023, p. 111), analisis data kualitatif dengan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 63-72
E-ISSN: 3031-2957
67
Leony Assyifa Putri et.al (Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit....)
pendekatan deskriptif fokus pada gejala yang diamati. Ini berarti bahwa penelitian kualitatif tidak
selalu terbatas pada data kuantitatif atau hubungan antar variabel yang diukur. Dalam konteks
penelitian ini, pendekatan tersebut digunakan untuk mengeksplorasi perkembangan tradisi
ngabuburit di kalangan generasi muda. Data utama dalam penelitian ini berupa data kualitatif
yang diperoleh dari jawaban responden melalui kuesioner. Kuesioner yang digunakan berisi
pertanyaan terbuka yang dirancang untuk menggali pandangan dan pengalaman responden
mengenai tradisi ngabuburit. Sumber data dalam penelitian ini adalah generasi muda yang
memiliki pengalaman dalam melakukan kegiatan ngabuburit selama bulan Ramadhan.
Sementara teknik pengumpulan data dilakukan dengan menyebarkan kuesioner secara daring
melalui platform media sosial seperti WhatsApp dan X.
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil Penelitian Kegiatan Ngabuburit Generasi Muda
Dari hasil survei yang melibatkan 50 responden berusia 18-21 tahun, ditemukan bahwa
aktivitas ngabuburit yang paling sering dilakukan oleh generasi muda masih berkisar pada jalan-
jalan, dan jajan. Biasanya jajan membeli takjil yang bermacam-macam jenisnya untuk
dikonsumsi saat berbuka puasa (Pujianto, 2022). Hal ini menyoroti bahwa generasi muda pun
masih ada yang mampu mengimbangi gaya hidup modern sambil menjaga nilai-nilai tradisional
(Kadri & Fachruddin, 2024). Walaupun begitu, ada juga yang lebih memilih menghabiskan
waktu di rumah dengan bersantai atau tidur. Ketika memilih untuk ngabuburit di rumah, sebagian
besar responden menghabiskan waktu dengan menonton film, memasak, atau sekadar
beristirahat. Belum lagi adanya faktor teknologi yang bisa dibilang faktor paling dominan yang
mempengaruhi berubahnya tradisi ngabuburit (Muhaimin & Zuhriyah, 2024). Dalam konteks
ini, gaya hidup generasi muda tampak sangat bervariasi, dipengaruhi oleh aktivitas, minat, dan
pandangan pribadi yang mereka anut. Sejalan dengan itu, Gustika (2024) menyebutkan bahwa
gaya hidup seseorang dipengaruhi oleh enam komponen, yaitu sikap, pengalaman dan
penerapan, kepribadian, konsep diri, motivasi, serta persepsi. Hal ini menunjukkan bahwa bagi
beberapa orang, ngabuburit bukan hanya soal kegiatan di luar rumah, tetapi juga bisa menjadi
momen untuk menikmati waktu sendiri.
Mengenai dengan siapa ngabuburit dilakukan, sebagian besar responden menyebutkan
bahwa mereka lebih sering ngabuburit bersama keluarga atau teman-teman. Ketika kita
menghabiskan waktu bersama keluarga saat ngabuburit, bisa memberikan dampak positif yang
cukup signifikan terhadap kesehatan mental. Ngabuburit bersama keluarga dapat memperkuat
ikatan emosional, memberikan dukungan satu sama lain, dan menciptakan rasa aman bagi setiap
anggota keluarga (Zulfa, 2024). Namun, ada juga yang lebih nyaman melakukannya sendiri.
Mereka lebih memilih untuk melakukan aktivitas scrolling media sosial seperti Instagram,
TikTok, X, dan platform lainnya. Dalam sebuah penelitian tentang aktivitas ngabuburit, kegiatan
ini menempati peringkat kedua tertinggi dengan persentase mencapai 23,6% (Putri, 2023).
Perbedaan ini mencerminkan adanya perubahan pola sosial di kalangan generasi muda, di mana
beberapa masih menganggap ngabuburit sebagai ajang berkumpul, sementara yang lain
melihatnya sebagai momen untuk menikmati waktu secara mandiri.
Ketika ditanya apakah kebiasaan ngabuburit mereka berubah dari tahun ke tahun, banyak
responden menyatakan bahwa tidak ada perubahan yang signifikan. Mereka masih melakukan
kegiatan yang sama. Namun, ada juga yang merasa bahwa salah satu faktor utama yang
mempengaruhi pola ngabuburit adalah lingkungan di mana seseorang tinggal. Misalnya, bagi
mereka yang masih tinggal bersama keluarganya cenderung melakukan kegiatan ngabuburit
dengan kegiatan yang hangat, seperti membantu ibu memasak. Namun, bagi mereka yang kini
tinggal di kos atau jauh dari keluarga merasa bahwa kegiatan ngabuburit mereka menjadi lebih
terbatas dibandingkan saat mereka masih tinggal bersama keluarga. Mereka biasanya lebih
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 63-72
E-ISSN: 3031-2957
68
Leony Assyifa Putri et.al (Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit....)
sering ngabuburit sendiri di kamar kos atau sesekali pergi keluar bersama teman teman. Hal itu
cukup menghibur meskipun tidak semenyenangkan suasana di rumah. Ada pula yang merasa
bahwa seiring bertambahnya usia, ngabuburit tidak lagi terasa seistimewa dulu ketika mereka
masih kecil. Hal itu bisa terjadi karena perspektif terhadap ngabuburit yang berubah-ubah setiap
usia bertambah. Anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan memandang kegiatan
ngabuburit sebagai kesempatan untuk bersosialisasi dan bermain. Mereka melakukan beberapa
aktivitas seperti mengaji bersama guru dan teman temannya di masjid/musholla. Lalu, mereka
juga bermain seperti bermain congklak, ular tangga, monopoli, atau permainan lainnya (Dalam
Islam, n.d.). Sedangkan, untuk orang yang berumur 18-21, ngabuburit hanyalah waktu untuk
beristirahat menunggu waktu berbuka puasa setelah kegiatan yang melelahkan di siang harinya.
Alasan kenapa saat berpuasa menjadi lebih mudah lelah dan lemas adalah karena dehidrasi.
Tidak minum air selama berpuasa menyebabkan dehidrasi yang dapat menyebabkan penurunan
konsentrasi, kelelahan, bahkan sakit kepala (Berita Nusa, 2025).
Media sosial di jaman ini berperan lumayan penting dalam kehidupan generasi muda dan
mempengaruhi cara mereka menjalani sebuah tradisi yang ada (Nurhasanah et al., 2021). Namun,
sebagian besar responden menyatakan bahwa tren di media sosial tidak terlalu berdampak pada
cara mereka ngabuburit. Meski begitu, beberapa orang mengakui bahwa media sosial tetap
memiliki pengaruh, terutama dalam memperkenalkan tempat-tempat ngabuburit baru yang
sedang viral. Biasanya diidentikan dengan tempat baru untuk memburu makanan atau tempat
yang memiliki spot foto yang bagus. Perilaku tersebut sudah sangat jelas didorong oleh keinginan
mengikuti tren (Abdul, 2022). Hasil dari responden menunjukkan bahwa meskipun media sosial
tidak sepenuhnya mengubah tradisi ngabuburit, ia tetap menjadi faktor yang bisa mempengaruhi
pilihan aktivitas generasi muda. Selain itu, tingginya keterlibatan generasi ini dalam dunia digital
membuat mereka semakin sulit lepas dari perangkat elektronik, termasuk ponsel. Penggunaan
ponsel tidak hanya sekedar untuk komunikasi, tetapi juga sebagai sarana hiburan, akses
informasi, hingga interaksi sosial. Akibatnya, muncul fenomena di mana mereka merasa cemas
atau tidak nyaman jika tidak membawa atau menggunakan ponselnya dalam jangka waktu
tertentu, sebuah kondisi yang dikenal sebagai nomophobia (no mobile-phone phobia). Hal ini
terjadi karena mereka telah terpapar teknologi sejak dini, sehingga ketergantungan terhadap
perangkat digital lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya (Haryana et al., 2023, p. 268).
Generasi Z atau generasi muda, menunjukkan preferensi yang kuat terhadap komunikasi lewat
platform digital, termasuk media sosial, aplikasi chat, dan layanan online lainnya. Mereka
umumnya menghindari percakapan tatap muka atau panggilan suara tradisional, lebih memilih
menggunakan pesan singkat yang memungkinkan respon cepat dan praktis. Studi yang dilakukan
oleh Fitriana (2024) menyatakan bahwa media sosial memainkan peranan penting dalam
membentuk cara Generasi Z berkomunikasi dan berpikir.
Ketika ditanya tentang pentingnya ngabuburit dalam menjalani ibadah puasa, tanggapan
responden cukup beragam. Beberapa menganggap ngabuburit sebagai bagian penting dalam
menjalani Ramadhan karena membantu mengalihkan rasa lapar dan menjaga keseimbangan
mental. Sementara itu, yang lain merasa bahwa ngabuburit hanyalah aktivitas tambahan yang
tidak terlalu berpengaruh terhadap esensi ibadah puasa itu sendiri. Karena ngabuburit sendiri
tidak memiliki syariat yang mewajibkan untuk melakukan kegiatan tersebut, meski
kenyataannya ngabuburit sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia (Hambali dan
Kusumaningtyas, 2022). Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda paham dan mengerti
esensi spiritual (Raharjo et al., 2023). Dari jawaban yang diberikan oleh responden dapat
disimpulkan bahwa ngabuburit memiliki makna yang berbeda-beda tergantung pada preferensi
pribadi dan kondisi mereka masing-masing. Beberapa orang masih ada yang melihat kegiatan
ngabuburit sebagai kegiatan yang bermanfaat khususnya untuk mempererat kebersamaan dengan
keluarga atau teman.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 63-72
E-ISSN: 3031-2957
69
Leony Assyifa Putri et.al (Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit....)
Dengan kata lain, ngabuburit tidak hanya sekedar rutinitas menjelang buka puasa, tetapi
juga mencerminkan bagaimana generasi muda menyeimbangkan antara nilai-nilai budaya,
perkembangan teknologi, serta kebutuhan personal mereka dalam menjalani bulan Ramadhan.
Dinamika ini menjadi potret unik tentang cara generasi muda mengadaptasi tradisi ke dalam
konteks kehidupan modern yang serba cepat dan digital. Di balik semua aktivitas yang dilakukan,
tampak jelas bahwa esensi ngabuburit bagi generasi muda sangat bergantung pada bagaimana
mereka memaknai waktu luang sebelum berbuka. Ada yang menjadikannya sebagai momen
untuk bersosialisasi dan terhubung dengan orang terdekat, ada pula yang memanfaatkannya
sebagai waktu untuk recharge diri sendiri setelah hari yang panjang dan melelahkan. Dalam
kondisi apapun, kegiatan ini menjadi ruang bebas yang memungkinkan tiap individu
mengekspresikan preferensinya tanpa tekanan, baik itu lewat kegiatan produktif seperti memasak
atau menonton, maupun lewat hiburan ringan seperti scrolling media sosial.
Kebiasaan ngabuburit juga dapat menjadi cerminan identitas generasi muda masa kini.
Mereka cenderung fleksibel, tidak terikat pada satu cara tertentu untuk menikmati waktu luang,
dan sangat terbuka pada perubahan. Meski teknologi memberikan pengaruh besar terhadap
kebiasaan dan pilihan aktivitas mereka, bukan berarti semua nilai tradisional ditinggalkan begitu
saja. Justru, generasi muda saat ini terlihat mampu memadukan keduanya. Tradisi tetap dijaga,
namun dikemas dalam bentuk yang lebih sesuai dengan gaya hidup modern. Misalnya, mencari
takjil kini tidak lagi sekadar membeli di pasar, tapi bisa juga lewat rekomendasi dari media sosial
yang kemudian mereka jadikan konten atau bahan cerita.
Dari sini terlihat bahwa ngabuburit bukan hanya aktivitas menunggu adzan maghrib, tapi
juga sarana refleksi, bersosialisasi, bahkan aktualisasi diri. Terlepas dari apakah dilakukan
sendirian atau bersama orang lain, di rumah atau di luar, tradisional atau modern, semuanya
kembali pada kebutuhan dan kenyamanan masing-masing individu. Fleksibilitas inilah yang
membuat tradisi ngabuburit tetap hidup dan relevan dari tahun ke tahun.
4. Kesimpulan
Ngabuburit adalah suatu tradisi menunggu adzan magrib menjelang buka puasa di bulan
Ramadhan. Tradisi ini menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu di bulan Ramadhan dan
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Secara umum
kegiatan ngabuburit biasanya berupa bermain bersama teman, berjalan-jalan, berburu takjil
ataupun menghabiskan waktu di taman. Kegiatan ngabuburit juga bisa berupa mendengarkan
kajian di masjid. Tradisi ngabuburit tidak hanya menghadirkan kesan yang menyenangkan
namun bisa menjadi tali silaturahmi antar umat muslim. Dari hasil penelitian bisa dilihat bahwa
tradisi ngabuburit di kalangan generasi muda memiliki perubahan. Awalnya tradisi ngabuburit
lebih identik dengan berjalan-jalan dan membeli takjil, namun di jaman ini generasi muda lebih
banyak memilih untuk beristirahat sambil bermain gadget di waktu ngabuburit. Generasi muda
berpikir bahwa ngabuburit tidak harus selalu identik dengan kegiatan di luar rumah dan bertemu
banyak orang, melainkan bisa juga dinikmati secara sederhana dan tenang. Adapun alasan
mengapa generasi muda lebih memilih untuk menyendiri di kala waktu ngabuburit yang pertama
adalah beberapa di antara sudah terlalu lelah karena berkegiatan di siang harinya. Usia 18-21
tahun adalah usia dimana generasi muda baru mencoba eksplor banyak hal, yang dimana
membuat para generasi muda aktif berkegiatan di luar ruangan entah itu untuk bekerja ataupun
menuntut ilmu. Alasan yang kedua yaitu generasi muda yang tidak merantau lebih menikmati
suasana ngabuburit dengan berkumpul di rumah bersama keluarga. Dan alasan yang terakhir
yang paling umum adalah karena generasi muda usia 18-21 tahun sudah tidak menggunakan
ngabuburit sebagai kesempatan untuk bersosialisasi atau bermain dengan teman. Selain itu, hasil
dari kuesioner yang telah diisi oleh generasi muda berumur 18-21 tahun menunjukkan bahwa
walaupun generasi muda memiliki hubungan erat dengan teknologi dan media sosial, namun cara
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 63-72
E-ISSN: 3031-2957
70
Leony Assyifa Putri et.al (Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit....)
generasi muda memilih kegiatan ngabuburit, tidak dipengaruhi sepenuhnya oleh media sosial.
Para generasi muda memiliki preferensi masing masing tentang kegiatan ngabuburit. Hal ini
membuktikan bahwa banyak generasi muda memilih aktivitas ngabuburit yang sesuai dengan
minat pribadi mereka, tanpa takut terlihat seperti ketinggalan tren. Sebagai kesimpulan,
meskipun pemilihan aktivitas ngabuburit di kalangan generasi muda memiliki perubahan dan
perkembangan. Namun, esensi dari aktivitas ngabuburit itu sendiri tetap sama yaitu untuk
menjadi momen penting untuk menyegarkan pikiran dan menjadi penyeimbang diri dari
kesibukan sehari-hari selama menjalankan ibadah puasa. Baik itu dilakukan secara tradisional
maupun menyesuaikan dengan preferensi ngabuburit masing-masing. Jadi, meskipun dinikmati
dengan cara yang berbeda-beda, makna ngabuburit tetap hadir sebagai pelengkap pengalaman
pribadi selama bulan ramadhan.
5. Daftar Pustaka
Abdullah, M. Q. (2020). Riset Budaya: Mempertahankan Tradisi di Tengah Krisis
Moralitas..Sulawesi Selatan: IAIN Parepare Nusantara Press.
Abdul, R. (2022). Peran Moderasi Religiusitas Pada Hubungan Adiksi Internet Terhadap
Impulse Buying Online Dalam Perspektif Bisnis Syariah (Studi penelitian pada
Generasi Z UIN Raden Intan Lampung). UIN Raden Intan Lampung.
Arianto, B. (2022). Peran Media Sosial Dalam Penguatan Komunikasi Bisnis Kewargaan di
Era Ekonomi Digital. Jurnal Ekonomi Perjuangan. Vol. 4, No. 2. 140-141.
Berita Nusa. (2025, Februari 24). Kenapa badan lemas saat puasa? Ini dia penjelasan ilmiah
yang wajib kamu tahu. Berita Nusa. https://beritanusa.pikiran-rakyat.com/gaya-
hidup/pr-4059095787/kenapa-badan-lemas-saat-puasa-ini-dia-penjelasan-ilmiah-
yang-wajib-kamu-tahu
Bernadus, I., Proton, N., Hanifah, S. (2021). Pengaruh Pandemi COVID-19 Terhadap
Pelaksanaan Tradisi Ngabuburit pada Mahasiswa di Kota Bandung. CICES 2021.
Vol. 7, No. 1. 36.
Dalam Islam. (n.d.). Ngabuburit. DalamIslam.com. https://dalamislam.com/info-
islami/ngabuburit
Dwitama, M. I., Hakiki, F. A., Sulastri, E., Usni, Gunanto, D. (2022). Media Sosial dan
Pengaruhnya Terhadap Partisipasi Politik Masyarakat di Pilkada 2020 Tangerang
Selatan. Jurnal Politik Indonesia dan Global, Vol. 3, No. 1. 54-58
Fitriana, F. (2024). Media sosial dalam membentuk pola komunikasi dan pemikiran Generasi
Z: Tinjauan empiris tiga tahun terakhir. Retorika: Jurnal Kajian Komunikasi dan
Penyiaran Islam, 6(2), 89-99. https://doi.org/10.47435/retorika.v6i2.3402
Gusti, U. A., Islami, A., Ardi, A., Almardiyah, A., Rahayu, R. G., & Tananda, O. (2021).
TINJAUAN PENYEBARAN TRADISI LISAN DI SUMATERA BARAT. Jurnal Adat
Dan Budaya Indonesia, 3(1), 15. https://doi.org/10.23887/jabi.v3i1.39261
Hambali, A., & Kusumaningtyas, A. D. (2022). Pemberdayaan remaja melalui kegiatan
Ngabuburit Seru Bareng Kakak Muttaqien. SIVITAS, 2 (2), 6976.
Hamdani, H. Y. & Kadir, I. (n.d.). Upaya Digitalisasi Kearifan Lokal.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 63-72
E-ISSN: 3031-2957
71
Leony Assyifa Putri et.al (Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit....)
Haryana, N. R., Rosmiati, R., Purba, E. M., & Firmansyah, H. (2023). Generation Z lifestyle
in aspect of eating behavior, stress, sleep quality and its relation to nutritional status:
Literature review. Jurnal Gizi Kerja dan Produktivitas, 4(2), 268-278. Universitas
Sultan Agung Tirtayasa.
Hasanah, A. F. (2020). Analis Perilaku Konsumen Masyarakat Ponorogo Sesaat dan Sesudah
Datangnya Bulan Ramadan. IJoIS: Indonesian Journal of Islamic Studies, 1(2), 95-
106.
Hermawan, I., et al. (2023). Strategi literasi digital berbasis Al-Qur’an dalam program
Ngabuburit Relawan TIK Karawang untuk peningkatan literasi digital masyarakat
Karawang. Jurnal Ilmiah Karawang, 1(1), 49.
https://jika.karawangkab.go.id/index.php/jika/article/download/32/16/193
Iryani, J., Nurwahid, S. (2023). Peran Media Sosial dalam Menyebarkan Pesan Agama dan
Perubahan Sosial. Jurnal Khazanah Keagamaan. Vol. 11, No. 2. 360-361.
Jazilah, Safitri, R. M. (2024). From Togetherness to Individualism: The Evolving Meaning of
Ngabuburit Among Teenagers. Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Vol. 14, No. 1.
77-78. https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/jispo/index
Kadri, W. N. & Fachruddin, A. 2024. Pemanfaatan Dimensi Siber Media dalam Membentuk
Citra Keagamaan Selebriti Qari di TikTok. Vol. 23, No. 1, 5170.
Muhaimin, M., Z., & Zuhriyah, N. (2024). Meningkatkan Religiusitas Masyarakat melalui
Kajian Kitab Bidayatul Hidayah. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Desa. Vol.
5, No. 1. 59-71
Nurhasanah, L., Siburian, B. P. & Fitriana, J. A. 2021. “Pengaruh Globalisasi Terhadap Minat
Generasi Muda Dalam Melestarikan Kesenian Tradisional Indonesia.” Jurnal Global
Citizen : Jurnal Ilmiah Kajian Pendidikan Kewarganegaraan. Vol. 10. No. 2, 3139.
Nurmalia, G., Wulan, M. N., & Utami, Z. (2024). Gaya hidup berbasis digital dan perilaku
konsumtif pada Gen Z di Bandar Lampung: Keputusan pembelian melalui
marketplace Shopee. Jurnal Rekognisi Ekonomi Islam.
https://journal.unisnu.ac.id/jrei/article/view/846
Pujianto, W. E. (2022). Pengantar Manajemen Era Digital.
Putri, A. A. (2023). Aktivitas yang sering dilakukan ketika menunggu waktu berbuka.
GoodStats. https://data.goodstats.id/statistic/aktivitas-yang-sering-dilakukan-ketika-
menunggu-waktu-berbuka-bpXSX
Raharjo, S. H., Budiastra, K., & Suhardi, U. 2023. Fenomena Generasi Muda dalam Aktivitas
Ritual Keagamaan Hindu di Pura Parahyangan Jagat Guru Tangerang Selatan
(Studi Hiperealitas Jean Boudrilard). Jayapangus Press, Vol. 7, No. 4, 478493.
Safira, R., Sugianto, S., & Harahap, R. D. (2023). Pengaruh Kepercayaan, Kemudahan, dan
Manfaat Digital Payment Sebagai Alat Pembayaran Terhadap Perilaku Konsumtif
Individu Dengan Digital Savvy Sebagai Variabel Moderating. Al-Kharaj: Jurnal
Ekonomi, Keuangan & Bisnis Syariah, 5(6), 28592878.
Salsabila, U. H., Ariyanto, A., Wijaya, A. A., Aziz H. F., Ma’rif, A. M. S. (2022). Implikasi
Teknologi Terhadap Pendidikan Islam di Era Globalisasi. WARDAH. Vol. 23, No.
2. 309-310.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 63-72
E-ISSN: 3031-2957
72
Leony Assyifa Putri et.al (Observasi Perkembangan Tradisi Ngabuburit....)
Satyani, R., & Enhar, S. D. C. (2023). POPULARITAS TARI LENGGER LANANG DI
KALANGAN ANAK MUDA BANYUMAS. Tamumatra: Jurnal Seni Pertunjukan,
10(2), 110-120. http://e-journal.hamzanwadi.ac.id/index.php/tmmt
Simamora, A., Sinulingga, J. (2023). Komodifikasi Budaya Tradisi Mangebang Solu Bolon
dalam Meningkatkan Pariwisata di Kecamatan Baktiraja. Kompetensi, Vol. 16, No.
1, 2023. 151
Siregar, J. H., Batubara, S., Irwandi, S. (2023). Edukasi Pemakaian Obat Diabetes Melitus
saat bulan Ramadhan di RS Citra Medika. Kesehatan Deli Sumatera. Vol. 1, No. 1.
1
Sudirana, I. W. (2020). Tradisi versus modern: Diskursus pemahaman istilah tradisi dan
modern di Indonesia. MUDRA Jurnal Seni Budaya, 34(1), 127135
Suryawati, I., & Alam, S. (2022). Transformasi media cetak ke platform digital (Analisis
mediamorfosis pada harian SOLOPOS). Signal: Jurnal Komunikasi, 10(2).
https://doi.org/10.33603/signal.v10i2.7240
Zulfa, P. (2024, April 5). Peran penting keluarga terhadap kesehatan mental. Heritance.
https://www.heritance.org/id/2024/04/05/peran-penting-keluarga-terhadap-
kesehatan-mental