JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 80-87
E-ISSN: 3031-2957
80
Intan Yulanda et.al (Partisipasi Masyarakat Dalam Upaya....)
Partisipasi Masyarakat Dalam Upaya Melestarikan
Tari Kuda Lumping Di Desa Marga Sakti Kecamatan
Padang Jaya Kabupaten Bengkulu Utara
Intan Yulanda
a,1
, Moch. Iqbal
b,2
a,b
Universitas Islam Negeri Fatmawati Sukarno Bengkulu. 38211, Indonesia
1
intanyulanda24@gmail.com;
2
moch.iqbal@gmail.uinfasbengkulu.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 27 April 2025
Direvisi: 5 Mei 2025
Disetujui: 19 Mei 2025
Tersedia Daring: 13 Juni 2025
Partisipasi masyarakat memegang peran penting dalam upaya
pelestarian budaya, termasuk tari tradisional seperti Kuda Lumping.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis partisipasi masyarakat
Desa Marga Sakti, Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara,
dalam melestarikan tari Kuda Lumping. Metode penelitian yang
digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data
dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi
dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi
masyarakat dalam pelestarian tari Kuda Lumping terwujud dalam
berbagai bentuk, seperti keterlibatan langsung dalam pertunjukan,
penyediaan sarana dan prasarana, serta upaya transmisi nilai-nilai
budaya kepada generasi muda. Faktor pendorong partisipasi
masyarakat meliputi rasa memiliki terhadap budaya lokal, dukungan
dari pemerintah setempat, dan kesadaran akan pentingnya menjaga
warisan budaya. Namun, tantangan seperti minimnya regenerasi
pemain dan kurangnya dana masih menjadi hambatan. Studi ini
menyimpulkan bahwa partisipasi aktif masyarakat merupakan kunci
utama dalam menjaga keberlangsungan tari Kuda Lumping sebagai
warisan budaya.
Kata Kunci:
Partisipasi Masyarakat
Pelestarian Budaya
Tari Kuda Lumping
Desa Marga Sakti
ABSTRACT
Keywords:
Community Participation
Cultural Preservation
Kuda Lumping Dance
Marga Sakti Village
Community participation plays an important role in cultural
preservation efforts, including traditional dances such as Kuda
Lumping. This research aims to analyze the participation of the people
of Marga Sakti Village, Padang Jaya District, North Bengkulu Regency, in
preserving the Kuda Lumping dance. The research method used is
qualitative with a descriptive approach. Data was collected through
observation, in-depth interviews and documentation studies. The
research results show that community participation in preserving the
Kuda Lumping dance takes various forms, such as direct involvement
in performances, provision of facilities and infrastructure, as well as
efforts to transmit cultural values to the younger generation. Factors
driving community participation include a sense of belonging to local
culture, support from the local government, and awareness of the
importance of preserving cultural heritage. However, challenges such
as the lack of player regeneration and lack of funding are still obstacles.
This study concludes that active community participation is the main
key in maintaining the continuity of the Kuda Lumping dance as a
cultural heritage.
©2025, Intan Yulanda, Moch. Iqbal
This is an open access article under CC BY-SA license
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 80-87
E-ISSN: 3031-2957
81
Intan Yulanda et.al (Partisipasi Masyarakat Dalam Upaya....)
1. Pendahuluan
Sebuah tari merupakan upaya suatu mewujudkan keindahan melalui susunan gerak dan
irama dalam satuan komposisi gerak untuk menyampaikan pesan tertentu. Tari selain sebagai
ungkapan ekspresi jiwa manusia yang disalurkan lewat gerak, namun tari juga sebagai bentuk
pengalaman keindahan, bentuk simbolis dan sebagai bentuk hiburan. Kesenian tidak bisa
dipisahkan dengan kebudayaan, karena, kesenian dipandang sebagai salah satu unsur
kebudayaan. Seni tari merupakan salah satu wadah yang mengandung unsur keindahan, dimana
dapat diserap melalui indera penglihatan (visual) dan indera pendengaran (auditif). Keindahan
atau yang sering disebut dengan estetika merupakan segala hal yang meyangkut keindahan
yang ada pada penglihatan seseorang. Pandangan itu sendiri dapat dianggap sebagai sesuatu
yang bersifat relatif dan tidak bisa dipastikan sama (Sakanthi & Lestari, 2019). Indonesia
merupakan negara yang kaya akan keragaman budaya, salah satunya adalah seni tari
tradisional. Tari Kuda Lumping, sebagai salah satu bentuk kesenian tradisional, memiliki nilai
budaya dan sejarah yang tinggi. Tarian ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga
mengandung makna simbolis dan spiritual yang mendalam bagi masyarakat. Namun, seiring
dengan perkembangan zaman dan pengaruh globalisasi, eksistensi tari Kuda Lumping mulai
terancam, terutama di daerah-daerah pedesaan seperti Desa Marga Sakti, Kecamatan Padang
Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara.
Tari Kuda Lumping merupakan salah satu kesenian tradisional kerakyatan di daerah Jawa
Tengah. Tari Kuda Lumping di Desa Sumbergirang ini sudah ada sejak tahun 2003 dan masih
tetap ada sampai sekarang ini. Kesenian rakyat ini dipimpin oleh Bapak Urip selaku pengurus
serta ketua dari kesenian rakyat yang ada di Rembang tepatnya yaitu berada di Desa
Sumbergirang, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang. Tari Kuda Lumping ini memiliki
keindahan tersendiri jika dimaikan secara rampak dan kompak karena tarian ini ditarikan
secara kelompok. Keindahan tarian kuda lumping juga bisa dilihat dari kekompakan penari
dalam melakukan gerak-gerak tari. Keindahan lainnya juga dapat dilihat dari penari membawa
kuda kepang, serta tata rias dan busana yang dikenakan oleh para penari.Desa Marga Sakti
merupakan salah satu daerah yang masih mempertahankan tari Kuda Lumping sebagai bagian
dari identitas budaya masyarakatnya (Wulansari & Hartono, 2021). Keindahan tari terdapat dua
nilai penting yangperlu diketahui, yaitu nilai instrinsik, dan nilai ekstrinsik. Nilai keindahan
intrinsik adalah nilai bentuk seni yang dapat diindera dengan mata, telinga, atau keduanya.
Nilai bentuk ini kadang juga disebut nilai struktur, yakni bagaimana cara menyusun nilai-nilai
ekstrinsiknya. Sedangkan nilai ekstrinsik atau nilai bahanya berupa rangkaian peristiwa.
Semuanya disusun begitu rupa sehingga menjadi sebuah bentuk yang berstruktur dan dinamai
nilai intrinsik. Karya seni tetap harus mengandung keindahan, makna ekstrinsik itulah yang
menyebabkan sebuah karya seni dikatakan indah, menyenangkan inderawi, dan
menggembirakan batin (Irawan, Priyadi, & Sanulita, 2014).
Namun, upaya pelestarian tari Kuda Lumping di desa ini menghadapi berbagai tantangan,
seperti kurangnya minat generasi muda, keterbatasan dana, dan kurangnya dukungan
infrastruktur. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat menjadi faktor krusial dalam menjaga
kelestarian tari Kuda Lumping. Partisipasi tersebut dapat berupa keterlibatan langsung dalam
pertunjukan, penyediaan sarana dan prasarana, serta upaya transmisi nilai-nilai budaya kepada
generasi penerus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk-bentuk partisipasi
masyarakat Desa Marga Sakti dalam upaya melestarikan tari Kuda Lumping serta faktor-faktor
yang memengaruhi partisipasi tersebut. Dengan memahami peran aktif masyarakat, diharapkan
dapat ditemukan strategi yang efektif untuk mempertahankan keberlangsungan tari Kuda
Lumping sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi.(Sumanto, 2022)
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 80-87
E-ISSN: 3031-2957
82
Intan Yulanda et.al (Partisipasi Masyarakat Dalam Upaya....)
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif untuk
menganalisis partisipasi masyarakat dalam upaya melestarikan tari Kuda Lumping di Desa
Marga Sakti, Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara. Pendekatan kualitatif
dipilih karena mampu menggali informasi mendalam tentang peran, motivasi, dan tantangan
yang dihadapi masyarakat dalam melestarikan budaya tradisional.
Jenis dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh melalui observasi langsung dan wawancara mendalam dengan tokoh
masyarakat, pelaku seni, dan generasi muda di Desa Marga Sakti. Sementara itu, data sekunder
diperoleh dari studi dokumentasi, seperti arsip desa, jurnal, buku, dan artikel yang relevan
dengan topik penelitian.
Teknik Pengumpulan Data
Observasi: Dilakukan untuk mengamati secara langsung aktivitas masyarakat dalam
melestarikan tari Kuda Lumping, termasuk proses latihan, pertunjukan, dan kegiatan budaya
lainnya.
Wawancara Mendalam: Dilakukan dengan menggunakan panduan wawancara semi-
terstruktur untuk menggali informasi dari informan kunci, seperti tokoh adat, seniman, dan
pemuda desa.
Studi Dokumentasi: Digunakan untuk mengumpulkan data pendukung dari sumber tertulis,
seperti catatan sejarah, foto, dan video terkait tari Kuda Lumping di Desa Marga Sakti.
Teknik Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisis secara interaktif menggunakan model analisis data Miles
dan Huberman, yang meliputi tiga tahap, yaitu:
Reduksi Data: Memilah dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan penelitian.
Penyajian Data: Menyajikan data dalam bentuk naratif atau tabel untuk memudahkan
interpretasi.
Penarikan Kesimpulan: Menarik kesimpulan berdasarkan temuan data yang telah dianalisis.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Marga Sakti, Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu
Utara. Pengumpulan data dilaksanakan selama tiga bulan, mulai dari bulan Oktober hingga
Desember 2023.(Rokhim, 2019).
Keabsahan data sangatlah penting sebab data yang teruji di dalamnya memuat informasi
yang bisa dipertanggungjawabkan. Untuk menguji keabsahan data, maka diperlukan tehnik
keabsahan data. Peneliti menggunakan triangulasi yang digunakan untuk memeriksa keabsahan
data. Triangulasi menurut menguraikan triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan
sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan berbagai waktu.
Peneliti melakukan triangulasi sumber yaitu untuk membandingkan dan mengecek informasi
yang ada dalam Tari Kuda Lumping. pelatih dengan penari Tari Kuda Lumping hal tersebut
dilakukan untuk mencocokan data dari beberapa sumber (Tiani, Rochayati, & Siswanto, 2023).
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilakukan untuk menggali partisipasi masyarakat dalam melestarikan Tari
Kuda Lumping di Desa Marga Sakti, Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara.
Berdasarkan pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, ditemukan
bahwa masyarakat Desa Marga Sakti sangat aktif dalam menjaga kelangsungan dan
perkembangan Tari Kuda Lumping, meskipun mereka menghadapi beberapa
tantangan.(Irhandayaningsih, 2018)
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 80-87
E-ISSN: 3031-2957
83
Intan Yulanda et.al (Partisipasi Masyarakat Dalam Upaya....)
a. Bentuk Partisipasi Masyarakat
Masyarakat Desa Marga Sakti menunjukkan berbagai bentuk partisipasi dalam
upaya pelestarian Tari Kuda Lumping, yang dapat dikategorikan sebagai berikut:
Partisipasi Aktif dalam Kegiatan Tari
Warga desa, khususnya generasi muda, ikut terlibat dalam pelatihan dan
pertunjukan Tari Kuda Lumping yang sering diadakan sebagai bagian dari acara
adat atau perayaan desa. Banyak anggota komunitas seni yang telah bergabung
dalam kelompok tari yang ada di desa ini, menunjukkan kesadaran dan minat tinggi
terhadap pelestarian budaya mereka.
Dukungan Finansial dan Logistik
Masyarakat juga terlibat dalam penggalangan dana untuk mendukung
penyelenggaraan pertunjukan Tari Kuda Lumping. Mereka memberikan kontribusi
finansial atau menyediakan tempat serta fasilitas untuk latihan dan pertunjukan tari.
Pembelajaran dan Pengajaran Tradisi
Beberapa orang tua dan tokoh budaya di desa ini aktif mengajarkan Tari Kuda
Lumping kepada generasi muda. Mereka mentransfer pengetahuan tentang gerakan
tari, musik pengiring, serta filosofi dan makna yang terkandung dalam pertunjukan
tersebut.
b. Tantangan yang Dihadapi dalam Pelestarian Tari Kuda Lumping
Meskipun ada partisipasi yang tinggi, ada beberapa tantangan yang dihadapi oleh
masyarakat dalam melestarikan Tari Kuda Lumping, antara lain:
Kurangnya Fasilitas dan Sumber Daya
Fasilitas latihan yang terbatas menjadi kendala utama. Beberapa kelompok tari
harus berlatih di tempat terbuka tanpa perlengkapan yang memadai. Hal ini
menyulitkan dalam mengadakan latihan yang optimal.
Pengaruh Modernisasi
Pengaruh budaya modern, seperti hiburan digital dan perkembangan seni tari
kontemporer, mengakibatkan berkurangnya minat generasi muda untuk terlibat
dalam kegiatan tradisional, termasuk Tari Kuda Lumping. Meskipun demikian,
upaya pendidikan tentang pentingnya melestarikan seni tradisional masih dilakukan
oleh beberapa kelompok seni lokal.
c. Upaya Pemerintah dan Komunitas dalam Mendukung Pelestarian
Selain peran aktif masyarakat, dukungan dari pemerintah setempat juga terlihat
melalui program-program kebudayaan yang mendukung pelestarian Tari Kuda
Lumping. Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara sering mengadakan festival budaya
yang menampilkan berbagai seni tradisional, termasuk Tari Kuda Lumping, guna
memperkenalkan dan melestarikannya di tingkat regional.(Panjaitan & Maimunah,
2021).
Melalui hasil penelitian ini, dapat dilihat bahwa pelestarian Tari Kuda Lumping di Desa
Marga Sakti tidak hanya bergantung pada satu pihak saja, tetapi melibatkan seluruh elemen
masyarakat. Dalam hal ini, partisipasi masyarakat sangat beragam dan memiliki dampak positif
terhadap kelestarian tari tradisional tersebut. Estetika Tari Kuda Lumping dapat dilihat dari
gerak tarian yang terdapat didalamnya. Aspek dasar tari adalah gerak yang meliputi ruang,
waktu, dantenaga.Elemen-elementubuhyangdigerakkan pada Tari Kuda Lumping meliputi
kepala, badan, tangan, dan kaki. Peran elemen tubuh pada Tari Kuda Lumping adalah sebagai
alat untuk bergerak membentuk gerakan yang indah. Keindahan Tari Kuda Lumping dapat di
lihat melalui penari bergerak dengan menggunakan properti kuda, kesan yang dihasilkan pada
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 80-87
E-ISSN: 3031-2957
84
Intan Yulanda et.al (Partisipasi Masyarakat Dalam Upaya....)
gerak Tari Kuda lumping yaitu lembut,halus,terkadang gerakannya energik, lincah dan juga
kuat. Peneliti menganalisis Estetika Gerak Tari Kuda Lumping dengan melihat video
dokumentasi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan gerak yang digunakan dalam Tari
Kuda Lumping menggunakan gerak yang halus, lembut terkadang gerakannya energik, dan
juga kuat, bertempo pelan dan tidak sukar untuk diingat karena gerakan yang sederhana dan
diulang-ulang. Tari Kuda Lumping memiliki perinci angerak yang dapat dilihat melalui unsur
gerak Tari Kuda Lumping mulai dari kepala hingga kaki serta deskripsi gerak Tari Kuda
Lumping.
a. Partisipasi Aktif Sebagai Bentuk Kesadaran Sosial
Sebagaimana dikemukakan oleh Sutarto (2009), pelestarian budaya lokal sangat
dipengaruhi oleh partisipasi aktif masyarakat dalam memelihara dan meneruskan
tradisi. Di Desa Marga Sakti, masyarakat tidak hanya sebagai penikmat atau penonton,
tetapi juga berperan langsung sebagai pelaku seni. Hal ini sangat penting dalam
memastikan bahwa Tari Kuda Lumping tetap hidup di tengah perkembangan zaman
yang serba cepat.(Triyono, 2020)
b. Peran Generasi Muda
Penelitian ini juga menunjukkan pentingnya peran generasi muda dalam
melestarikan Tari Kuda Lumping. Widiastuti (2015) menjelaskan bahwa keberlanjutan
pelestarian budaya sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Jika generasi
muda tidak terlibat langsung maka keberlanjutan budaya tersebut akan terancam punah.
Oleh karena itu, upaya pendidikan dan pengajaran tradisi kepada generasi muda di Desa
Marga Sakti sangat krusial untuk menjaga eksistensi Tari Kuda Lumping.
c. Pengaruh Modernisasi Terhadap Budaya Tradisional
Fenomena yang terjadi di Desa Marga Sakti juga mencerminkan pengaruh
globalisasi dan modernisasi terhadap budaya lokal, sebagaimana diungkapkan oleh
Soepriyanto (2012). Modernisasi sering kali membawa budaya asing yang lebih
menarik bagi generasi muda, sehingga tradisi lokal seperti Tari Kuda Lumping
cenderung terabaikan. Untuk itu, upaya melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan
seni dan budaya menjadi penting sebagai langkah untuk memperkenalkan kembali
kekayaan budaya lokal.(Rachmawati & Hartono, 2019)
d. Dukungan Pemerintah
Sebagaimana diungkapkan oleh Arifin (2014), pelestarian budaya tidak bisa
lepas dari peran pemerintah yang memberikan dukungan berupa kebijakan dan
anggaran. Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara melalui berbagai program
kebudayaan yang ada memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan dan
memperkenalkan Tari Kuda Lumping dalam berbagai acara. Hal ini menunjukkan
adanya kolaborasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya pelestarian
budaya.
Tari Kuda Lumping memiliki ragam gerak Ndegar, Kebyak Jaran, Gendruwo nyondro,
Jangkah kanan kiri, jalan gejug maju, geyol mundur, maju adu bahu, dan selak’an jaran. Gerak
pada Tari Kuda Lumping masih sederhana, dan gerakkannya cenderung diulang-ulang. Tari
Kuda Lumping di Desa Sumbergirang Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang merupakan
kesenian kerakyatan yang dari dulu hingga sekarang tidak ada perubahan pada gerakannya.
Estetika gerak Tari Kuda Lumping muncul ketika penari menggerakkan seluruh elemen tubuh
dari kepala, badan, tangan dan kaki. Keserasian antara elemen tubuh saat melakukan gerak tari
menjadi suatu keindahan. Kesan gerak yang terdapat pada Tari Kuda Lumping yaitu energik,
lincah, kuat terkadang gerakannya halus, dan juga lembut.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 80-87
E-ISSN: 3031-2957
85
Intan Yulanda et.al (Partisipasi Masyarakat Dalam Upaya....)
Gerak Kebyak Jaran dilakukan dengan Posisi kaki tanjak kanan, badan degeg kaki
mendhak. kaki kanan berada di depan kaki kiri, kemudian tangan kiri yang memegangi kuda
lumping di kibaskan ke samping kanan, posisi tangan kanan ngepel memegangi pecut ketika
kuda lumping di kibaskan ke samping kanan maka tangan kanan yang memegang pecut akan di
tarik ke depan pusar seperti membentuk sudut siku-siku.Kepala ceklek kananmengikuti kibasan
arah kuda lumping yang ke samping kanan. Dilanjutkan dengan tangan kiri yang memegangi
kuda lumping di kibaskan ke samping kiri, posisi tangan kanan yang memegangi pecut ketika
kuda lumping di kibaskan ke samping kiri maka tangan kanan ngepel memegang pecut akan
lurus kebawah seperti sikap siap. Posisi badan mendhak. Posisi kepala ceklek kiri mengikuti
kibasan arah kuda lumping yang ke samping kiri. Gerakan dilakukan dengan halus, dan lembut.
Dilakukan secara berulang sampai gendruwo mulai masuk dan ikut joget hingga sampai
akhirnya gendruwo mulai nyondro 4 penari wanita yang sedang menari.
a. Nilai Keindahan Gerak
Tari Kuda Lumping Gerakan Tari Kuda Lumping pada Paguyuban Sari Langgeng
Budoyo menggunakan pola-pola gerak yang tidak sulit dan cenderung diulang-ulang.
Gerak pada Tari Kuda Lumping menggunakan hampir seluruh bagian tubuh dari
kepala, badan, tangan hingga kaki. Gerakan tari Kuda Lumping menggunakan ragam
gerak yang baku atau yang sudah dari dulu diajarkan. Gerak yang digunakan
menggunakan gerak yang bertempokan pelan dan sesekali bertempo cepat. Gerak pada
Tari Kuda Lumping ini sederhana, tidak banyak ragam gerak, dan gerakkannya
cenderung diulang-ulang.
b. Gerak ndegar
Pada elemen kaki bergerak dengan kaki kanan dan kiri melompat bergantian seperti
gerak menunggang kuda yang memberikan kesan lincah, kuat dan energik. Begitu juga
pada elemen tangan dengan posisi tangan kiri memeganggi kuda lumping dan tangan
kanan memegangi pecutmenggunakan tenaga yang kuat karena memegangi properti
kuda dan juga pecut, hal ini memberikan kesan yang kuat.
c. Gerak Kebyak
Jaran Ragam Gerak kebyak jaran dilakukan dengan gerak kaki tanjak kanan, kaki kanan
berada di depan kaki kiri dengan volume yang kecil, dan tempo yang lambat. Gerak
tersebut disertai dengan gerak kepala ceklek kanan dan kiri dengan intensitas kecil,
tempo sedang, dan dilakukan dengan sedikit tekanan. Sikap elemen tubuh yang
menyertainya tangan kiri memegangi kuda lumping di kibaskan ke samping kanan dan
kiri dengan lemah lembut, dan tempo yang sedang. Tangan kanan ngepel memegangi
pecut trap cethik, badan degeg, kaki mendhak. Maka dari itu tata hubungan antar gerak
dan sikap elemen tubuh gerak kebyak jaran terkesan lemah lembut.
d. Gerak Jangkah kanan kiri
Ragam Gerak jangkah kanan kiri dilakukan dengan posisi kaki jangkah kanan kiri
secara bergantian, yaitu dengan posisi awal kaki kanan napak, kemudian junjung kaki
kanan, dengan volume yang kecil, kuat, dengan tempo yang cepat . Gerak tersebut
disertai dengan gerak kepala toleh kanan dan kiri dengan intensitas kecil, tempo sedang,
dan dilakukan dengan diberi tekanan. Sikap elemen tubuh yang menyertainya tangan
kiri memegangi kuda lumping dengan kuat. Tangan kanan ngepel memegangi pecut
trap cethik, badan degeg, kaki mendhak. Maka dari itu tata hubungan antar gerak dan
sikap elemen tubuh gerak jangkah kanan kiri terkesan tegas dan kuat.
e. Gerak Jalan gejug maju Ragam gerak jalan gejug maju dilakukan dengan gerak kaki
kanan berada di depan ibu jari kaki kiri ketika kaki kanan melangkah maju ke depan
maka posisi kaki kanan napak, sedangkan kaki kiri yang berada di belakang kaki kanan
gejug kaki kiri dan mengikuti kaki kanan yang maju ke
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 80-87
E-ISSN: 3031-2957
86
Intan Yulanda et.al (Partisipasi Masyarakat Dalam Upaya....)
depandenganvolumegerakkakiyangtidakterlalu sempit memberikan kesan tegas,
dantempo yang pelan.Geraktersebutdisertaidengangerakkepala menghadap ke depan.
Sikap elemen tubuh yang menyertainya tangan kiri memegangi kuda lumping
sedangkan tangan kanan ngepel memegangi pecut trap cethik denganvolume yang
sedang,dengan badan degeg, kaki mendhak. Maka dari itu tata hubungan antar gerak
dan sikap elemen tubuh gerak jalan gejug maju terkesan tegas.
f. Gerak Geyol mundur
Ragam gerak geyol mundur dilakukan dengan posisi kaki kanan melangkah mundur ke
belakang bergantian dengan kaki kiri dengan volume gerak kaki yang tidak terlalu
sempit memberikan kesan kuat, dan tempo yang pelan. Gerak tersebut disertai dengan
gerak kepala patahkan ke kanan dan kiri dengan intensitas kecil, tempo cepat, dan
sedikit diberi tekanan. Sikap elemen tubuh yang menyertainya tangan kiri memegangi
kuda lumping sedangkan tangan kanan ngepel memegangi pecut trap cethik dengan
volume yang sedang, dengan badan geyol dilakukan dengan agresif, tempo pelan.
4. Kesimpulan
Tari Kuda Lumping merupakan salah satu bentuk warisan budaya yang memiliki nilai
historis dan kultural yang tinggi bagi masyarakat Desa Marga Sakti, Kecamatan Padang Jaya,
Kabupaten Bengkulu Utara. Dalam upaya melestarikan tari ini, partisipasi masyarakat
memegang peranan penting. Beberapa faktor yang menunjukkan partisipasi masyarakat dalam
melestarikan Tari Kuda Lumping antara lain adalah pelatihan yang dilakukan oleh masyarakat
setempat, adanya pertunjukan rutin dalam berbagai acara desa, dan dukungan terhadap
kelompok seni yang berfokus pada pengembangan tari tradisional ini. Pelatihan dan
Pembinaan: Sebagian besar masyarakat, terutama kaum muda, terlibat dalam pelatihan tari
Kuda Lumping yang diadakan oleh para seniman lokal. Program pembinaan ini bertujuan
untuk meneruskan keterampilan dan pengetahuan mengenai tari Kuda Lumping kepada
generasi penerus. Masyarakat juga berperan aktif dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan
pembelajaran tari, yang berfungsi untuk menjaga agar pengetahuan tentang tari ini tidak hilang
seiring berjalannya waktu. Partisipasi dalam Pertunjukan Budaya: Setiap tahun, masyarakat
Desa Marga Sakti mengadakan pertunjukan Tari Kuda Lumping dalam rangka merayakan
tradisi desa. Acara ini tidak hanya melibatkan para penari, tetapi juga masyarakat secara
keseluruhan yang ikut hadir untuk menyaksikan dan memberikan dukungan moral kepada para
penari. Hal ini menunjukkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mempertahankan
budaya lokal sebagai bagian dari identitas mereka.
Peran Kelompok Seni Lokal: Kelompok seni yang fokus pada tari Kuda Lumping di desa
ini juga mendapat dukungan penuh dari masyarakat, baik dalam hal pendanaan maupun
partisipasi aktif anggota desa dalam kegiatan mereka. Masyarakat setempat sadar bahwa
keberlanjutan seni budaya ini memerlukan kolaborasi antara seniman, pemerintah lokal, dan
masyarakat luas. Oleh karena itu, mereka tidak hanya menonton, tetapi juga terlibat dalam
setiap aspek, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan pertunjukan. Pengaruh Sosial dan
Ekonomi: Selain melestarikan budaya, partisipasi masyarakat dalam kegiatan tari Kuda
Lumping juga memberikan dampak positif terhadap sosial dan ekonomi desa. Pertunjukan
yang rutin diadakan dapat menarik perhatian wisatawan lokal dan regional, yang secara tidak
langsung berkontribusi pada peningkatan perekonomian desa. Peningkatan ekonomi ini, pada
gilirannya, memberikan insentif lebih bagi masyarakat untuk terus melestarikan tradisi tari
tersebut. Secara keseluruhan, partisipasi aktif masyarakat Desa Marga Sakti dalam upaya
melestarikan Tari Kuda Lumping sangat penting untuk menjaga kelangsungan budaya ini. Hal
ini tidak hanya melibatkan aspek pelestarian budaya, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan
sosial dan ekonomi masyarakat setempat. Melalui kerja sama antara masyarakat, seniman
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 80-87
E-ISSN: 3031-2957
87
Intan Yulanda et.al (Partisipasi Masyarakat Dalam Upaya....)
lokal, dan pemerintah, diharapkan Tari Kuda Lumping dapat terus berkembang dan dikenalkan
ke generasi yang akan datan
5. DAFTAR PUSTAKA
Irhandayaningsih, A. (2018). Kampung Tematik Sebagai Upaya Melestarikan Seni Dan
Budaya Daerah di Jurang Blimbing Tembalang Semarang. Anuva, 2(4).
https://doi.org/10.14710/anuva.2.4.377-385
Panjaitan, B. S., & Maimunah, M. (2021). KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI PENGAMEN
KUDA LUMPING (STUDI FENOMENOLOGI DI KECAMATAN CIBINONG
BOGOR). Jurnal Broadcasting Communication, 3(1).
https://doi.org/10.53856/bcomm.v3i1.143
Rachmawati, S., & Hartono, H. (2019). Kesenian Kuda Lumping di Paguyuban Genjring Kuda
Lumping Sokoaji: Kajian Enkulturasi Budaya. Jurnal Seni Tari, 8(1).
https://doi.org/10.15294/jst.v8i1.30418
Rokhim, N. (2019). INOVASI KESENIAN RAKYAT KUDA LUMPING DI DESA GANDU,
KECAMATAN TEMBARAK, KABUPATEN TEMANGGUNG. Greget, 17(1).
https://doi.org/10.33153/grt.v17i1.2299
Sakanthi, A. L., & Lestari, W. (2019). Nilai Mistis pada Bentuk Pertunjukan Kesenian Kuda
Lumping Satrio Wibowo di Desa Sanggrahan Kabupaten Temanggung. Jurnal Seni Tari,
8(2). https://doi.org/10.15294/jst.v8i2.34423
Sumanto, E. (2022). Filosifis dalam Acara Kuda Lumping. Kaganga:Jurnal Pendidikan
Sejarah Dan Riset Sosial Humaniora, 5(1). https://doi.org/10.31539/kaganga.v5i1.3758
Tiani, N., Rochayati, R., & Siswanto, S. (2023). Struktur Tari Kuda Lumping di Desa Saleh
Mukti Kecamatan Air Salek Kabupaten Banyuasin. ANTHOR: Education and Learning
Journal, 2(5). https://doi.org/10.31004/anthor.v1i5.186
Triyono, T. (2020). Seni Kuda Lumping “Turangga Tunggak Semi” di Kampung Seni Jurang
Belimbing Tembalang: Sebuah Alternatif Upaya Pemajuan Kebudayaan di Kota
Semarang. Anuva: Jurnal Kajian Budaya, Perpustakaan, Dan Informasi, 4(2).
https://doi.org/10.14710/anuva.4.2.247-254
Wulansari, A., & Hartono, H. (2021). Regenerasi Kesenian Kuda Lumping Di Paguyuban
Langen Budi Setyo Utomo. Jurnal Seni Tari, 10(2).
https://doi.org/10.15294/jst.v10i2.46932