peringatan maulid nabi; (4) tradisi ater-ater, yaitu kegiatan mengantarkan nasi maulid dan
lauk pauknya kepada famili atau kerabat dekat yang kebetulan tidak merayakan maulid secara
bersamaan; dan (5) Lomba penyemarak peringatan maulid.(6) Gerakan filantropi Islam / social
giving.
Peringatan Maulid Nabi di pulau Bawean diperingati mulai dari tingkat kecamatan, dusun,
jenjang sekolah mulai dari TK sampai SMA bahkan peringatan ini diperingati sampai pada
tingkat gang dan dan kelompok-kelompok TPA/TPQ bahkan pada setiap kelompok mengaji.
Masyarakat sangat antusias sekali dalam menyambut moment ini. selama bulan Rabiul Awal
Gema Asyrakalan selalu terdengar dari setiap dusun dan desa di Bawean. Tradisi yang ada di
dalam masyarakat adalah hasil dari sebuah komunikasi yang dibangun atas berbagai unsur,
baik dari kepercayaan maupun kebudayaan. Dalam pengertian tersebut, setiap individu dalam
masyarakat merupakan pihak yang mem-bangun tradisi. Dari sini lahir tiga konsep yakni
proses dialektis objektivasi, inter-nalisasi, dan eksternalisasi. Internalisasi menyiratkan realitas
objektif ditafsirkan secara subjektif oleh setiap individu. Dalam proses penafsiran tersebut
terjadi inter-nalisasi. Dengan demikian, internalisasi merupakan proses manusia untuk me-
masukkan dunia yang dihuni bersama individu yang lain. Eksternalisasi merujuk pada
pencurahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik da-lam aktivitas fisik
maupun mental.
Menurut Peter L. Berger dalam Ali Maschan Moesa, objek konstruksi atas realitas sosial
adalah masyarakat sebagai bagian dari satu dunia manusiawi, yang dibuat oleh manusia,
dihuni olehnya, dan pada gilirannya membuat ia berada dalam satu proses historis yang
berlangsung terus menerus. Lebih lanjut, Berger menjelaskan bahwa individu merupakan
produk dan sekaligus pencipta pranata sosial. Agama sebagai pranata sosial diciptakan untuk
manusia dan agama juga mengembangkan realitas objektif lewat konstruksi sosial. Secara
empirik, pranata-pranata itu selalu berubah seiring dengan perubahan kepentingan individu.
Dalam konteks ini agama memeli-hara realitas yang didefinisikan secara sosial dengan cara
melegitimasikan situasi-situasi marjinal dalam kerangka suatu realitas spiritual yang di
dalamnya manusia eksis dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini agama dapat dikatan
melayani dua tujuan penting, yaitu menyediakan makna dari realitas dan sekaligus melgitimasi
realitas tersebut .
Pembelajaran yang berlandaskan budaya adalah pendekatan dalam menciptakan suasana
pembelajaran dan merancang pengalaman belajar yang menggabungkan budaya dalam proses
pendidikan. Pendekatan ini didasarkan pada pengakuan bahwa budaya merupakan elemen
yang sangat penting dalam pendidikan, sebagai bentuk komunikasi ide dan perkembangan
pengetahuan. Dalam konteks pembelajaran berbasis budaya, budaya berfungsi sebagai sarana
bagi siswa untuk mengubah hasil pengamatan mereka menjadi bentuk dan prinsip yang kreatif
tentang dunia. Oleh karena itu, melalui pembelajaran yang berakar pada budaya, siswa tidak
hanya meniru atau menerima informasi yang disampaikan, tetapi juga menciptakan makna,
pemahaman, dan arti dari informasi yang mereka peroleh (Retno, 2021).
Dasar teori pembelajaran yang berorientasi pada budaya muncul dari pemikiran Vygotsky,
ide-ide Piaget, dan konsepsi Brooks: Pembelajaran yang berakar pada budaya memberikan
peluang bagi siswa untuk menampilkan pencapaian pemahaman atau makna yang mereka
ciptakan dalam suatu konteks budaya. Dalam proses pembelajaran yang berbasis budaya,
budaya berfungsi sebagai metode bagi siswa untuk mengonversi hasil pengamatan mereka
menjadi bentuk dan prinsip-prinsip kreatif tentang alam, sehingga peran siswa bukan hanya
sekadar meniru atau menerima informasi, tetapi juga aktif sebagai pencipta makna,
pemahaman, dan arti dari informasi yang diterimanya (Prihartini & Buska, 2019).