JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 6-12
E-ISSN: 3031-2957
6
Hodaifah et.al (Implementasi Tradisi “Angkaan Bherkat” dalam...)
Implementasi Tradisi “Angkaan Bherkat” dalam
Peringatan Maulid Nabi: Sebuah Kajian Etnografi di
Pulau Bawean
Hodaifah
a,1
, Wahono Widodo
b,2
, Ganes Gunansyah
c,3
a
Universitas Negeri Surabaya Gedung D1, Kayungan, Surabaya, Jawa Timur
b
Faculty of Science and Mathematics, Universitas Negeri Surabaya Gedung D1, Kayungan, Surabaya, Jawa
Timur
c
Faculty of Education Science, Lidah Wetan, Lekarsantri, Surabaya, Jawa Timur
1
24010855127@mhs.unesa.ac.id;
2
wahonowidodo@unesa.ac.id ;
3
ganesgunansyah@unesa.ac.id
*
24010855127@mhs.unesa.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 22 Maret 2025
Direvisi: 5 April 2025
Disetujui: 20 April 2025
Tersedia Daring: 31 Mei 2025
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di pulau Bawean selalu
menarik untuk dibahas, hal ini disebabkan karean terdapat hal-hal unik
dan menarik yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Salah satu keunikan
dalam peringatan tersebut adalah pada model angka’an bherkat yang
dikemas sedemikian rupa sehingga membuat orang takjub jika
melihatnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi
periode jenis angka’an bherkat, mengkaji dampak positif dan
negatifnya dalam pelaksanaan peringatan maulid dan menjelaskan
peran peringatan maulid dalam memberikan kontribusi finansial
terhadap suatu daerah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif
dengan menggunakan pendekatan etnografi melalui metode observasi,
dokumentasi dan interview mendalam. Sasaran dari penelitian ini
adalah golongan masyarakat umum, tokoh Masyarakat dan pemuda.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ada 5 periode angka’an
bherkat dalam peringatan maulid nabi di pulau Bawean, yaitu: (1)
periode usungan; (2) periode tengghuk (3) periode bekol dan ceppo (4)
periode timba plastik, dan (5) periode segala wadah. Dalam setiap
kegiatan selalu ada dampak positif dan negatifnya begitu juga dengan
peringatan maulid nabi dengan model angka’an bherkat. Namun
peringatan maulid nabi di pulau Bawean memberikan kontribusi
finansial yang besar terhadap perkembangan suatu daerah.
Kata Kunci:
Etnografi
Implementasi
Maulid Nabi
ABSTRACT
Keywords:
Etnography
Implementation
Prophet’s Birthday
The commemoration of the Prophet Muhammad's birthday on Bawean
Island is always interesting to discuss, this is because there are unique
and interesting things that are not owned by other regions. One of the
uniqueness of the commemoration is the model of angka'an bherkat
which is packaged in such a way that makes people amazed when they
see it. The purpose of this study is to explore the period of the type of
angka'an bherkat, examine its positive and negative impacts in the
implementation of the maulid commemoration and explain the role of
the maulid commemoration in providing financial contributions to a
region. This study is a qualitative study using an ethnographic
approach through observation, documentation and in-depth interview
methods. The targets of this study are the general public, community
leaders and youth. The results of this study indicate that there are 5
periods of angka'an bherkat in the commemoration of the Prophet's
birthday on Bawean Island, namely: (1) the usungan period; (2) the
tengghuk period (3) the bekol and ceppo period (4) the plastic bucket
period, and (5) the period of all containers. In every activity there are
always positive and negative impacts as well as the commemoration of
the Prophet's birthday with the angka'an bherkat model. However, the
commemoration of the Prophet's birthday on Bawean Island provides a
large financial contribution to the development of a region.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 6-12
E-ISSN: 3031-2957
7
Hodaifah et.al (Implementasi Tradisi “Angkaan Bherkat” dalam...)
©2025, Hodaifah, Wahono Widodo, Ganes Gunansyah
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Kekayaan budaya Indonesia mengandung nilai-nilai yang harus dipelajari oleh peserta
didik. Budaya tersebut berupa bahasa daerah, pakaian adat, makanan khas daerah, dan lagu
daerah. Keberagaman tersebut dapat menjadi sumber belajar dan pengetahuan bagi peserta
didik. Pembelajaran yang berlandaskan pada perspektif budaya yang membahas fenomena
alam dalam kehidupan dikenal dengan istilah etnosains. Etnosains merupakan bentuk
pemahaman masyarakat terhadap alam dan budaya. Lebih lanjut, Khusniati menyatakan bahwa
etnosains merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana pengetahuan diperoleh berdasarkan
budaya yang ada dalam Masyarakat. Ki Hajar Dewantara mengusung tema pendidikan
nasional melalui konsep penguatan nilai-nilai budaya luhur yang dimiliki oleh bangsa, dan
ditanamkan ke dalam kehidupan anak didik. Ki Hajar Dewantara sebagai bapak Pendidikan,
merupakan salah satu penemu model pendidikan klasik Indonesia yang dulu dipandang sesuai
dengan visi misi serta konsep pendidikan sepanjang zaman serta dapat mengoptimalkan
pembentukan kultur generasi muda Indonesia berdasarkan ketiga aspek pendidikan maupun
aspek sosialitas dan spiritualitasnya (Noviani et al., 2017). Arti dari sebuah pendidikan itu
sendiri adalah suatu konsep pendidikan humanis (memanusiakan manusia) yang memiliki
makna bahwa manusia mendapatkan pendidikan agar mewujudkan kehidupan sebagai manusia
sesuai kultur budayanya.
Menurut Ralph Linton yang dikutip oleh Joko Tri Prasetya bahwa pendidikan tidak dapat
dipisahkan dengan budaya karena antara pendidikan dan budaya terdapat hubungan yang
sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yaitu nilai-nilai.
Dengan demikian tidak ada suatu proses pendidikan tanpa kebudayaan dan tidak ada suatu
pendidikan tanpa kebudayaan dan masyarakat. Pendidikan sebagai transformasi budaya dapat
dikatakan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lainnya.
Seperti bayi lahir sudah berada di dalam suatu lingkungan budaya tertentu.Di dalam
lingkungan masyarakat dimana seorang bayi dilahirkan telah mendapatkan kebiasaa-kebiasaan
tertentu. Larangan-larangan, anjuran dan ajakan tertentu seperti yang dikehendaki oleh
masyarakat. Hal-hal tersebut mengenai banyak hal seperti bahasa, cara menerima tamu,
makan, bercocok tanam dan lain-lain. Nilai-nilai kebudayaan mengalami proses transformasi
dari generasi tua ke generasi muda. Nilai-nilai yang masih cocok diteruskan.
Salah satu bentuk implementasi Pendidikan sebagai transformasi budaya dapat diterapkan
melalui pembelajaran yang berbasis kearifan lokal. Hal ini sejala dengan Sejalan dengan
pendapat Sarfiyo dan Pannen (Yuliana, 2017), mengemukakan bahwa kearifan lokal
merupakan suatu strategi penciptaan lingkungan dan perencanaan pembelajaran yang
mengintegrasikan budaya sebagai bagian dari proses pembelajaran sains. Selain itu,
pemanfaatan kearifan lokal merupakan salah satu pendekatan yang tepat untuk digunakan
dalam pendidikan di Indonesia. Hal tersebut dikarenakan kearifan lokal mengandung
pengetahuan berupa bahasa, moral, adat istiadat, budaya, dan teknologi yang bersumber dari
masyarakat yang mengandung pengetahuan ilmiah (Sudarmin et al., 2017). Tradisi peringatan
maulid nabi Muhammad SAW di pulau Bawean memang selalu menarik untuk dibahas. Ada
beberapa perbedaan yang unik dalam peringatan maulid nabi di pulau Bawean diantaranya
adalah; (1) sebelum memasuki bulan Rabiul Awal, Masyarakat pulau Bawean sudah mulai
menyicil bahan-bahan yang akan disajikan dalam angkaan bherkat maulid; (2) Maulid
“Budhuk”, yaitu Peringatan maulid pada tanggal 11 Rabiul Awal; (3) model “Angka’an
Bherkat”nya. Istilah “angka’an bherkat” adalah sebutan khusus masyarakat Bawean dalam
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 6-12
E-ISSN: 3031-2957
7
Hodaifah et.al (Implementasi Tradisi “Angkaan Bherkat” dalam...)
peringatan maulid nabi; (4) tradisi ater-ater, yaitu kegiatan mengantarkan nasi maulid dan
lauk pauknya kepada famili atau kerabat dekat yang kebetulan tidak merayakan maulid secara
bersamaan; dan (5) Lomba penyemarak peringatan maulid.(6) Gerakan filantropi Islam / social
giving.
Peringatan Maulid Nabi di pulau Bawean diperingati mulai dari tingkat kecamatan, dusun,
jenjang sekolah mulai dari TK sampai SMA bahkan peringatan ini diperingati sampai pada
tingkat gang dan dan kelompok-kelompok TPA/TPQ bahkan pada setiap kelompok mengaji.
Masyarakat sangat antusias sekali dalam menyambut moment ini. selama bulan Rabiul Awal
Gema Asyrakalan selalu terdengar dari setiap dusun dan desa di Bawean. Tradisi yang ada di
dalam masyarakat adalah hasil dari sebuah komunikasi yang dibangun atas berbagai unsur,
baik dari kepercayaan maupun kebudayaan. Dalam pengertian tersebut, setiap individu dalam
masyarakat merupakan pihak yang mem-bangun tradisi. Dari sini lahir tiga konsep yakni
proses dialektis objektivasi, inter-nalisasi, dan eksternalisasi. Internalisasi menyiratkan realitas
objektif ditafsirkan secara subjektif oleh setiap individu. Dalam proses penafsiran tersebut
terjadi inter-nalisasi. Dengan demikian, internalisasi merupakan proses manusia untuk me-
masukkan dunia yang dihuni bersama individu yang lain. Eksternalisasi merujuk pada
pencurahan kedirian manusia secara terus menerus ke dalam dunia, baik da-lam aktivitas fisik
maupun mental.
Menurut Peter L. Berger dalam Ali Maschan Moesa, objek konstruksi atas realitas sosial
adalah masyarakat sebagai bagian dari satu dunia manusiawi, yang dibuat oleh manusia,
dihuni olehnya, dan pada gilirannya membuat ia berada dalam satu proses historis yang
berlangsung terus menerus. Lebih lanjut, Berger menjelaskan bahwa individu merupakan
produk dan sekaligus pencipta pranata sosial. Agama sebagai pranata sosial diciptakan untuk
manusia dan agama juga mengembangkan realitas objektif lewat konstruksi sosial. Secara
empirik, pranata-pranata itu selalu berubah seiring dengan perubahan kepentingan individu.
Dalam konteks ini agama memeli-hara realitas yang didefinisikan secara sosial dengan cara
melegitimasikan situasi-situasi marjinal dalam kerangka suatu realitas spiritual yang di
dalamnya manusia eksis dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks ini agama dapat dikatan
melayani dua tujuan penting, yaitu menyediakan makna dari realitas dan sekaligus melgitimasi
realitas tersebut .
Pembelajaran yang berlandaskan budaya adalah pendekatan dalam menciptakan suasana
pembelajaran dan merancang pengalaman belajar yang menggabungkan budaya dalam proses
pendidikan. Pendekatan ini didasarkan pada pengakuan bahwa budaya merupakan elemen
yang sangat penting dalam pendidikan, sebagai bentuk komunikasi ide dan perkembangan
pengetahuan. Dalam konteks pembelajaran berbasis budaya, budaya berfungsi sebagai sarana
bagi siswa untuk mengubah hasil pengamatan mereka menjadi bentuk dan prinsip yang kreatif
tentang dunia. Oleh karena itu, melalui pembelajaran yang berakar pada budaya, siswa tidak
hanya meniru atau menerima informasi yang disampaikan, tetapi juga menciptakan makna,
pemahaman, dan arti dari informasi yang mereka peroleh (Retno, 2021).
Dasar teori pembelajaran yang berorientasi pada budaya muncul dari pemikiran Vygotsky,
ide-ide Piaget, dan konsepsi Brooks: Pembelajaran yang berakar pada budaya memberikan
peluang bagi siswa untuk menampilkan pencapaian pemahaman atau makna yang mereka
ciptakan dalam suatu konteks budaya. Dalam proses pembelajaran yang berbasis budaya,
budaya berfungsi sebagai metode bagi siswa untuk mengonversi hasil pengamatan mereka
menjadi bentuk dan prinsip-prinsip kreatif tentang alam, sehingga peran siswa bukan hanya
sekadar meniru atau menerima informasi, tetapi juga aktif sebagai pencipta makna,
pemahaman, dan arti dari informasi yang diterimanya (Prihartini & Buska, 2019).
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 6-12
E-ISSN: 3031-2957
8
Hodaifah et.al (Implementasi Tradisi “Angkaan Bherkat” dalam...)
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi untuk
mengkaji secara mendalam implementasi tradisi Angkaan Bherkat dalam peringatan Maulid
Nabi di Pulau Bawean. Metode etnografi dipilih karena mampu mengungkap makna, simbol,
dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam tradisi tersebut melalui keterlibatan langsung
peneliti di lapangan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam
dengan tokoh masyarakat, guru, dan siswa, serta dokumentasi kegiatan Maulid Nabi yang
memuat unsur Angkaan Bherkat.
Melalui pendekatan ini, peneliti berusaha memahami konteks sosial, nilai religius, dan
fungsi edukatif dari tradisi Angkaan Bherkat dalam kehidupan masyarakat serta potensi
integrasinya ke dalam pembelajaran di sekolah dasar. Data yang diperoleh akan dianalisis
secara deskriptif-kualitatif dengan menitikberatkan pada makna budaya, nilai karakter, serta
peran tradisi sebagai sarana pendidikan informal yang berkelanjutan dalam konteks lokal.
Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian
budaya dan penguatan pembelajaran berbasis kearifan lokal.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali makna dari peringatan maulid nabi di
pulau Bawean, mengimplementasikan pembelajaran berbasis budaya lokal dan meningkatkan
literasi religius dan sosial. Subjek dari penelitian ini terdiri dari tiga golongan yaitu: golongan
tokoh Masyarakat, Masyarakat umum dan dari golongan anak muda. Penulis menggunakan
pendekatan etnografi dengan metode pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan
interview mendalam. Analisis data yang penulis gunakan adalah analisis naratif.
3. Hasil dan Pembahasan
Wawancara dilakukan dengan beberapa tokoh masyarakat untuk mengetahui jenis-jenis
angkaan bherkat yang ada di pulau Bawean. Sugriyanto selaku tokoh Masyarakat dan penulis
buku Peringatan Maulid Nabi antara Tradisi dan Keharusan mengatakan bahwa, angka’an
bherkat dalam peringatan maulid nabi di pulau bawean dibagi dalam 3 periode yaitu (1)
periode usungan (2) periode tengghuk (3) periode bekol dan ceppo (4) periode timba plastic
(5) periode segala wadah. Periode usungan ini berupa usungan bambu yang menyerupai
keranda mayat dan ini berlangsung sekitar akhir abad XIII. Pada waktu itu rumah-rumah
penduduk di pulau Bawean masih terbuaat dari banbu dan kayu hutan lainnya. Kala itu belum
ada masjid atau tempat ibadah yang memadai sehingga perayaan maulid nabi diselenggarakan
di rumah pemuka kampung dengan kondisi yang sederhana dan seadanya. Kesepakatan yang
dicapai waktu itu satu usungan untuk satu blok yang terdiri dari beberapa rumah dengan
prinsip berat sama dipikul ringan sama dijinjing
Tengghuk adalah sebuah alat untuk penyuguhan berupa hidang atau talam berbahan
kuningan. Tengghuk mulai dipakai sebagai pengganti usungan bambu. Tengghuk menjadi
barang baru yang dianggap lebih praktis dalam memuat serta membawa suguhan angka’an
bherkat maulid menuju tempat perhelatan dibandingkan dengan usungan bambu yang banyak
memakan tempat. Disaat terjadi masa transisi dari usungan bambu ke tengghuk mulailah
terjadi pergeseran isi sajian makanan dan sistem pengangkatannya yang semula beberapa
rumah berkongsi mengangkat sajian angka’an bherkat dalam satu sajian usungan akhirnya
berubah menjadi satu rumah satu angka’an bherkat. Namun periode tengghuk ini juga
mengalami pergeseran karena berbagai factor. Salah satu factor penyebabnya adalah adanya
masukan dari salah satu anggapan bahwa tengghuk kuningan itu di daerah lain dipakai sebagai
tempat sesajen dalam ritual keagaamaan lain. Sehingga terjadi perubahan dari tengghuk ke
bekol atau ceppo.
Bekol atau ceppo adalah sebuah wadah yang berasal dari anyaman bambu. Pada periode
ini perayaan maulid berkembang dengan pesat. Wadah berupa bakul sebagai kerajinan tangan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 6-12
E-ISSN: 3031-2957
9
Hodaifah et.al (Implementasi Tradisi “Angkaan Bherkat” dalam...)
warga pulau Bawean memasuki babak baru, selain mudah didapat, harganyapun amat
terjangkau untuk segala lapisan Masyarakat. Bakul atau ceppo dihias dengan menggunakan
kertas warna-warni. Hiasan bakul atau ceppo menyerupai rok pakaian Wanita dalam tarian
ballerina. Hiasan bagian atas juga menyeruapai rok Perempuan penari ballerina yang bertolak
belakang menghadapnya dengan model di bagian bawah. Pasangan serasi bakul itu berupa
hiasan cocok telur dan tongghul sebagai hiasan pelengkap untuk memperindah serta memiliki
nilai filosofi yang mendalam.
Periode baldi atau timba plastic ini menyingkirkan posisi bakul atau ceppo yang secara
tidak langsung mematikan usaha kecil menengah Masyarakat. Warga yang memiliki
keterampilan anyaman bambu mulai kehilangan pendapatan tahunan secara drastis. Namun
bambu masih tetap dibutuhkan untuk membuat tongghul dan cocok telur. Periode yang
terakhir adalah periode segala wadah atau wadah kontemporer dan kekinian yang digunakan
sebagai wadah angka’an bherkat maulid. Pada periode ini mulai banyak kehilangan karakter
tradisi maulid asli pulau Bawean karena angka’an bherkat sudah tidak beraturan. Hal ini
terjadisekitar tahu 2000-an. Beberapa alat rumah tangga yang dipilih sebagai wadah angka’an
bherkat diantaranya adalah:termos nasi, dandang, rak piring, lemari plastic, kereta tolak, mesin
cuci, kulkas dan lain-lain. Pemasangan tongghul pu juga mengalami perubahan, Masyarakat
banyak menggunakan peralatan rumah tangga sebagai tongghul maulid diantaranya adalah;
payung, kipas angin, dispenser, dan lain-lain.
Observasi dilakukan pada saat peringatan Maulid Nabi dengan melakukan wawancara
dan dokumentasi kegiatan peringatan maulid nabi.
Gambar 1. angkaan bherkat di UPT SD Negeri 346 Gresik
Gambar 2. angkaan bherkat Masyarakat umum
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 6-12
E-ISSN: 3031-2957
10
Hodaifah et.al (Implementasi Tradisi “Angkaan Bherkat” dalam...)
Gambar 3. Sajian makanan dalam angkaan bherkat
Gambar 4. Keguyupan masyarakat dalam peringatan maulid nabi
Dampak positif dan negative
Dampak positif dan negatif akan selalu ada dalam setiap hal yang dikerjakan seseorang
begitu juga dengan peringatan maulid nabi di pulau Bawean dengan model angka’an bherkat
selalu ada kontaversinya. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan beberapa Masyarakat
yang terdiri dari tokoh Masyarakat, kepala dusun, ibu rumah tangga dan pemuda. P eringatan
maulid nabi dengan model angka’an bherkat memiliki dampak positif dan negative. Adapun
dampak positifnya adalah: (1) Memperkuat iman dan rasa syukur atas nikmat yang diberika
Allah; (2) Menanamkan sifat berbagi terhadap sesame; (3) Mempererat tali silaturrahmi; (4)
Mempromosikan budaya; dan (4) Memberikan tambahan keuangan kampung. Sedangkan
dampak negatifnya adalah: (1) Tidak semua warga bisa ikut berpartisipasi; (2) Menimbulkan
persaingan angka’an bherkat antar warga; (3) Angka’an bherkat sering kali tidak sesuai
dengan ketentuan
Perayaan Maulid Nabi SAW di Bawean merupakan perayaan yang cukup unik dan
menarik, berbeda dengan perayaan maulid Nabi di daerah lain. Keunikan perayaan Maulid di
Bawean terletak pada formasi acaranya yang tidak hanya berbentuk serimonial keagamaan
saja, namun ada gerakan filantropi Islam atau social giving dalam bentuk angka’an bherkat.
Angka’an bherkat adalah sejumlah makanan yang disusun rapi sesuai adat dan dibawa ke
masjid, lalu ditukarkan dengan angka’an orang lain. Di dalam angka’an tersebut terdapat
bendera dari uang yang akan dikumpulkan oleh panitia untuk kebutuhan pembangunan desa
atau dusun. Hasil pengumpulan uang bendera tersebut cukup banyak dan cukup membantu
dalam memenuhi kebutuhan lembaga yang menyelenggarakan maulid, meskipun tidak semua
formasi acara maulid di Bawean seperti ini, terkadang ada yang hanya sekedar serimonial saja,
tanpa ada angka’an, atau tanpa ada bendera maulid.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 6-12
E-ISSN: 3031-2957
11
Hodaifah et.al (Implementasi Tradisi “Angkaan Bherkat” dalam...)
Menurut Robert L. Payton, yang dimaksud dengan filantropi adalah aktifitas sukarela
untuk kemaslahatan public . Fenomena Gerakan filantropi berbasis agama ini banyak menarik
perhatian para peneliti, sebab Gerakan filantropi berbasis agama memiliki semangat yang lebih
besar dibandingkan lainnya. Ada kekuatan iman yang membuat mereka berani untuk
mengorbankan sebagian hartanya untuk kemaslahaan umat, salah satunya adalah Gerakan
filantropi Islam yang terjadi dalam tradisi maulid Nabi SAW di Bawean. Filantropi berbasis
agama merupakan salah satu sumber terbesar untuk perkembangan ekonomi umat. Bahkan,
semangat filantropi atas dasar agama lebih besar dibandingkan yang lain, sebab motif agama
mempunyai pengaruh lebih besar daripada motif lainnya Adanya gerakan filantropi Islam
dapat membantu meningkatkan fasilitas social, dan adanya fasilitas sosial dapat membantu
meningkatkan kesejahteraan sosial.
4. Kesimpulan
Dari paparan penelitian di atas dapat disimpulkan bahwa tradisi perayaan maulid Nabi
Muhammad SAW di Bawean merupakan sebuah perayaan keagamaan yang sakral. Perayaan
maulid Nabi Muhammad SAW dimaknai sebagai bentuk ekspresi rasa syukur dan gembira
atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang diwujudkan dalam bentuk peringatan maulid nabi
dengan menggunakan versi angka’an bherkat. Banyak sisi positif yang dapat diambil dalam
memperingati maulid nabi dengan versi angka’an bherkat yang salah satunya adalah dapat
menambah income dan mengatasi permasalahan di daerah yang terkait dengan finansial.
Bahkan dapat dikatakan bahwa peringatan maulid nabi Muhammad SAW adalah perayaan
terbesar setelah perayaan hari raya di pulau Bawean
5. Daftar Pustaka
Sugriyanto, 2018, Peringatan Maulid Nabi Antara Trasdisi dan Keharusan, lamongan, Pustaka
Ilalang Group
Akmalia, Rizki, Mela Safitri Situmorang, Anggi Anggraini, Akbar Rafsanjani, Amaluddin
Tanjung, dan Elsa Elitia Hasibuan. “Penerapan Pembelajaran Berbasis Budaya dalam
Meningkatkan Mutu Pendidikan Di SMP Swasta Pahlawan Nasional.” Jurnal Basicedu 7,
no. 6 (2023): 387885. https://doi.org/10.31004/basicedu.v7i6.6373.
Anggraini, Garin Ocshela, dan Wiryanto Wiryanto. “Analysis of Ki Hajar Dewantara’s
Humanistic Education in the Concept of Independent Learning Curriculum.” Jurnal
Penelitian Ilmu Pendidikan 15, no. 1 (2022): 3345.
https://doi.org/10.21831/jpipfip.v15i1.41549.
Hafidz, Abdul. Konfigurasi Filantropi Islam Dalam Tradisi Maulid Nabi Saw Di Bawean.”
Pharmacognosy Magazine 75, no. 17 (2021): 399405.
Mahfud, Mahfud. “Tradisi Rasol Dalam Perspektif Islam.” Jurnal Penelitian Ilmiah INTAJ 2,
no. 01 (2018): 0144. https://doi.org/10.35897/intaj.v2i01.113.
Suryanti, S., B. K. Prahani, W. Widodo, M. Mintohari, F. Istianah, J. Julianto, dan Y.
Yermiandhoko. “Ethnoscience-based science learning in elementary schools.” Journal of
Physics: Conference Series 1987, no. 1 (2021). https://doi.org/10.1088/1742-
6596/1987/1/012055.
Suryanti, Suryanti, Neni Mariana, Yoyok Yermiandhoko, dan Wahono Widodo. “Local
wisdom-based teaching material for enhancing primary students’ scientific literacy skill.”
Jurnal Prima Edukasia 8, no. 1 (2020): 96105. https://doi.org/10.21831/jpe.v8i1.32898.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 6-12
E-ISSN: 3031-2957
12
Hodaifah et.al (Implementasi Tradisi “Angkaan Bherkat” dalam...)
Ummah, Masfi Sya’fiatul. “Transformasi Budaya Melalui Lembaga Pendidikan (Pembudayaan
dalam Pembentukan Karakter).” Sustainability (Switzerland) 11, no. 1 (2019): 114.
http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng-
8ene.pdf?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.regsciurbeco.2008.0
6.005%0Ahttps://www.researchgate.net/publication/305320484_Sistem_Pembetungan_Te
rpusat_Strategi_Melestari.