JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 13-21
E-ISSN: 3031-2957
13
Hima Kurniawan Arip Piyanto et.al (Semanggi Surabaya Sebagai Sumber.)
Semanggi Surabaya Sebagai Sumber Belajar Berbasis
Kearifan Lokal Pada Pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Alam dan Sosial di SDN Kandangan II/620 Surabaya
Hima Kurniawan Arip Piyanto
a,1
, Wahono Widodo
b,2
, Ganes Gunansyah
c,3
abc
Universitasn Negeri Surabaya, Lakarsantri, Kota Surabaya, jawa Timur
1
24010855121@mhs.unesa.ac.id;
2
wahonowidodo@unesa.ac.id ;
3
ganesgunansyah@unesa.ac.id
*
24010855121@mhs.unesa.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 26 April
Direvisi: 5 Mei 2025
Disetujui: 21 Mei 2025
Tersedia Daring: 10 Juni 2025
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemanfaatan Semanggi
Surabaya sebagai sumber belajar berbasis kearifan lokal dalam
pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di kelas IV SDN
Kandangan II/620 Surabaya. Pendekatan yang digunakan adalah
kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi
partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, dan studi pustaka.
Instrumen penelitian mencakup panduan observasi, panduan
wawancara, rubrik penilaian, catatan lapangan, dan lembar refleksi.
Perangkat pembelajaran dikembangkan menggunakan dengan
pendekatan etnografi dan model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran
berbasis kearifan lokal Semanggi Surabaya mampu meningkatkan
partisipasi aktif siswa, memperkuat pemahaman terhadap konsep
IPAS, serta menumbuhkan kesadaran budaya dan nilai karakter. Siswa
mampu menghasilkan karya poster sebagai bentuk pelestarian budaya
dan menunjukkan antusiasme dalam praktik pembuatan Semanggi.
Pembelajaran ini juga mendorong guru untuk lebih kreatif dalam
mengaitkan materi pelajaran dengan konteks lokal. Simpulan dari
penelitian ini menyatakan bahwa integrasi kearifan lokal ke dalam
pembelajaran kontekstual efektif dalam memperkaya pengalaman
belajar siswa sekaligus melestarikan warisan budaya daerah.
Kata Kunci:
Semanggi Surabaya
Kearifan Lokal
Etnopedagogik
ABSTRACT
Keywords:
Semanggi Surabaya
Local wisdom
Ethnopedagogic
This study aims to explore the use of Semanggi Surabaya as a learning
resource based on local wisdom in learning Natural and Social Sciences
(IPAS) in grade IV of SDN Kandangan II/620 Surabaya. The approach
used is descriptive qualitative with data collection techniques through
participatory observation, in-depth interviews, documentation, and
literature studies. The research instruments include observation
guides, interview guides, assessment rubrics, field notes, and reflection
sheets. Learning tools were developed using an ethnographic approach
and the Problem Based Learning (PBL) learning model. The results of
the study indicate that local wisdom-based learning in Semanggi
Surabaya is able to increase students' active participation, strengthen
understanding of the IPAS concept, and foster cultural awareness and
character values. Students are able to produce poster works as a form
of cultural preservation and show enthusiasm in the practice of making
Semanggi. This learning also encourages teachers to be more creative
in linking subject matter to the local context. The conclusion of this
study states that the integration of local wisdom into contextual
learning is effective in enriching students' learning experiences while
preserving regional cultural heritage.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 13-21
E-ISSN: 3031-2957
14
Hima Kurniawan Arip Piyanto et.al (Semanggi Surabaya Sebagai Sumber.)
©2025, Hima Kurniawan Arip Piyanto, Wahono Widodo, Ganes Gunansyah
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Surabaya memiliki keragaman budaya yang tercermin dalam berbagai aspek kehidupan,
salah satunya melalui kuliner tradisional. Makanan khas daerah tidak hanya berfungsi sebagai
pemenuhan kebutuhan konsumsi, tetapi juga mengandung makna budaya, mencerminkan
identitas lokal, nilai-nilai sosial, serta kearifan masyarakat setempat. Dalam ranah pendidikan,
kuliner tradisional berperan sebagai sarana penting dalam mentransmisikan nilai dan budaya.
Sebagai kota besar, Surabaya memiliki kekayaan budaya seperti tari Remo, batik khas, rujak
cingur, lontong balap, teknik pengawetan ikan, hingga kuliner semanggi (Suryanti, Prahani,
Widodo, 2021). Budaya-budaya tersebut dapat dimanfaatkan untuk menggali berbagai konsep
keilmuan. Salah satu contohnya adalah semanggi Surabaya, makanan tradisional yang tidak
hanya menawarkan rasa yang khas, tetapi juga mengandung nilai-nilai budaya yang berkaitan
erat dengan sejarah, lingkungan alam, serta kehidupan sosial masyarakat. Hidangan ini terdiri
atas daun semanggi rebus yang disajikan bersama sambal kacang, ketupat, dan kerupuk puli,
melambangkan kesederhanaan, kebijaksanaan lokal, serta keterikatan masyarakat dengan alam
di sekitarnya.
Semanggi Surabaya bukan sekadar makanan khas melainkan sebuah warisan kuliner yang
telah mengakar kuat sebagai ikon kota Surabaya yang merepresentasikan identitas kota.
Kuliner ini, dengan daun semanggi yang khas, saus bumbu kacang dicampur ketela rambat
yang menggugah selera, dan kerupuk puli yang renyah, telah menjadi bagian tak terpisahkan
dari kehidupan masyarakat Surabaya. Semanggi Surabaya hadir dalam berbagai momen, dari
perayaan hingga keseharian, dari warung sederhana hingga restoran. Lebih dari itu, Semanggi
Surabaya juga menjadi simbol ketahanan dan kreativitas masyarakat Surabaya dalam
mengolah sumber daya alam menjadi hidangan yang istimewa. Semanggi Surabaya yang
mencerminkan identitas masyarakat Kota Surabaya, kini keberadaanya mulai terancam akibat
menjamurnya gerai makanan cepat saji (Setyowati, 2016). Produksi daun semanggi terjamin
pasokannya ke pedagang pecel semanggi, peningkatan pendapatan petani semanggi surabaya
sebesar 65 % (Humaidi, 2021). Derasnya arus modernisasi dan gempuran kuliner global,
upaya pelestarian dan pengembangan Semanggi Surabaya menjadi sangat penting, bukan
hanya untuk menjaga warisan kuliner agar tidak terlupakan oleh generasi pemuda Surabaya,
tetapi juga untuk memperkuat identitas kota dan memberdayakan ekonomi masyarakat lokal.
Meskipun Semanggi Surabaya telah lama dikenal sebagai ikon kuliner tradisional yang
merepresentasikan identitas lokal kota Surabaya, masih terdapat sejumlah tantangan yang
perlu segera diatasi agar warisan budaya kuliner ini tidak tergerus oleh zaman. Menurunnya
eksistensi pedagang Semanggi akibat perubahan tren dan tantangan globalisasi, serta perlunya
inovasi dan dukungan teknologi untuk kelestariannya (Sutanto et al., 2024). Salah satu
persoalan utama adalah kurangnya regenerasi penjual Semanggi, yang mayoritas masih
didominasi oleh generasi tua. Generasi muda cenderung enggan meneruskan usaha ini karena
dianggap kurang menguntungkan dan tidak sesuai dengan gaya hidup modern. dalam program
pemberdayaan pedagang menyebutkan rendahnya inovasi produk turunan dan pemanfaatan
platform digital sebagai kendala besar, belum memanfaatkan platform digital sebagai media
pemasaran (Suprayoga et al., 2023). Selain itu, minimnya inovasi dalam pengemasan dan
pemasaran membuat Semanggi kalah bersaing dengan kuliner kekinian yang lebih menarik
perhatian masyarakat, khususnya di media sosial. Tidak kalah penting, keberadaan Semanggi
kini semakin sulit dijumpai karena keterbatasan ruang jual yang strategis.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 13-21
E-ISSN: 3031-2957
15
Hima Kurniawan Arip Piyanto et.al (Semanggi Surabaya Sebagai Sumber.)
Dalam konteks pendidikan, Semanggi Surabaya dapat dijadikan sebagai sarana
pembelajaran interdisipliner, yang mengajarkan tidak hanya aspek kuliner dan kesehatan,
tetapi juga sejarah, ekonomi lokal, ekologi, serta nilai-nilai seperti kerja keras, gotong royong,
dan pelestarian tradisi. Sesuai yang disampaikan oleh Kurniawati & Gunansyah (2019) bahwa
Semanggi suroboyo sebagai kearifan lokal khas Surabaya banyak mengandung muatan materi,
sehingga cocok dijadikan sebagai sumber belajar berbasis etnopedagogi di sekolah dasar. Oleh
karena itu, penting untuk menjadikan kuliner Semanggi sebagai bagian dari strategi pewarisan
budaya melalui pendidikan berbasis etnografi. Melalui pembelajaran berbasis kearifan lokal,
pengetahuan tradisional masyarakat dapat dimaknai dan ditransformasikan menjadi bagian
dari sistem pendidikan yang relevan dan kontekstual. Salah satu bentuk nyata dari
penerapannya adalah melalui pelestarian dan pewarisan kuliner tradisional kepada generasi
muda melalui integrasi pada pembelajaran di sekolah dasar.
Pendidikan bukan sekadar proses mentransfer pengetahuan, tetapi juga merupakan sarana
utama dalam pewarisan nilai dan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Dalam
konteks pendidikan dasar, proses ini menjadi sangat penting karena pada tahap inilah karakter,
identitas, dan pandangan dunia anak mulai terbentuk. Sayangnya, dalam praktik pembelajaran
di sekolah dasar, khususnya pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS),
konteks budaya lokal seringkali diabaikan. Pembelajaran lebih banyak bersumber dari buku
teks yang bersifat umum dan kurang merefleksikan realitas lokal siswa. Padahal, lingkungan
budaya sekitar anak menyimpan potensi besar sebagai sumber belajar yang autentik dan
relevan. mengatakan bahwa budaya lokal atau kearifan lokal harus dikembangkan agar
keberadaannya selalu diminati oleh generasi muda, (Gunansyah, 2018). Kearifan lokal tidak
hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga merupakan hasil interaksi manusia dengan alam
dan sosial dalam jangka waktu panjang, yang mencerminkan cara hidup, nilai, dan
pengetahuan komunitas lokal. Salah satu bentuk kearifan lokal di Surabaya adalah Semanggi
Surabaya, yang dikenal sebagai makanan tradisional, namun memiliki nilai sejarah, sosial,
ekonomi, serta ekologis yang dapat diangkat sebagai materi pembelajaran kontekstual.
Pendidikan berbasis budaya lokal memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar
dalam konteks yang dekat dengan kehidupan mereka. Pendekatan ini memungkinkan siswa
memahami materi pelajaran melalui pengalaman nyata dan memperkuat keterkaitan antara
ilmu dan budaya. Dalam hal ini, Semanggi Surabaya bukan sekadar objek pembelajaran, tetapi
juga media pewarisan nilai-nilai budaya, seperti gotong royong, ketahanan pangan lokal, dan
identitas daerah. Dengan mengaitkan pembelajaran IPAS dengan Semanggi Surabaya, siswa
tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga membentuk kesadaran budaya dan rasa
memiliki terhadap warisan lokal mereka.
Beberapa penelitian terdahulu telah membahas pembelajaran kearifan lokal dan Semanggi
Surabaya. Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Shufa (2018) diielaskan bahwa pembelajaran
berbasis kearifan lokal sangat penting untuk diterapkan guru dalam pembelajaran yang
bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik serta sebagai
media untuk penanaman rasa cinta terhadap kearifan lokal di daerahnya, penanaman karakter
positif sesuai nilai luhur kearifan lokal serta membekali siswa untuk menghadapi segala
permasalahan diluar sekolah. Menurut Islamia (2020), penelitian ini menggunakan konsep
identitas budaya untuk menganalisis bagaimana Kampung Semanggi berkontribusi dalam
membentuk identitas budaya kota Surabaya melalui kuliner. Penelitian ini menemukan bahwa
warisan turun-temurun sebagai petani dan penjual Semanggi, serta peran pelestarian kuliner
ini, menjadi elemen kunci dalam mempertahankan identitas budaya lokal di tengah arus
modernisasi. Pembelajaran di lembaga pendidikan terdiri atas berbagai materi ajar (subject
matter), dimana setiap materi tersebut sudah ditentukan target-target pembelajarannya. Tanpa
mengganggu sama sekali setiap materi ajar tersebut, bahkan memperkuatnya, muatan kearifan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 13-21
E-ISSN: 3031-2957
16
Hima Kurniawan Arip Piyanto et.al (Semanggi Surabaya Sebagai Sumber.)
lokal perlu dimasukkan (Nadlir, 2016). Integrasi muatan kearifan lokal ke dalam materi ajar
tidak perlu dilakukan dengan mengubah atau mengganggu substansi kurikulum nasional yang
telah dirancang secara sistematis. Justru, kehadiran unsur budaya lokal dapat memperkuat
materi ajar dengan memberikan konteks yang lebih dekat dan relevan dengan kehidupan
siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk implementasi kuliner Semanggi
Surabaya sebagai sumber belajar berbasis kearifan lokal dalam pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di SDN Kandangan II/620 Surabaya serta menilai
dampak pembelajaran berbasis budaya lokal terhadap keterlibatan siswa melestarikan warisan
budaya daerah. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam upaya
pelestarian budaya kuliner tradisional Semanggi Surabaya serta mendorong pengembangan
Semanggi sebagai bagian dari identitas kota dan aset kuliner yang bernilai tinggi melalui
integrasi pembelajaran berbasis kearifan lokal.
2. Metode
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif
dengan tujuan untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan semanggi surabaya sebagai sumber
belajar berbasis kearifan lokal pada pembelajaran ilmu pengetahuan alam dan sosial di SDN
Kandangan II/620 Surabaya. Pendekatan ini dipilih karena mampu mengungkap makna, nilai,
dan konteks kultural yang muncul dalam praktik pembelajaran yang berbasis budaya lokal
(Creswell, 2015). Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksploratif
etnopedagogik, yaitu penelitian yang mengeksplorasi nilai-nilai budaya lokal (etno) dan
potensi edukatifnya dalam konteks pembelajaran. Fokus dari pendekatan ini adalah menggali
dan mengimplementasikan unsur-unsur kearifan lokal dalam pembelajaran agar relevan secara
sosial dan kontekstual (Zuchdi, 2013).
B. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini terdiri atas dua kelompok utama, yaitu siswa dan guru yang
terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Siswa yang menjadi subjek berjumlah 75 orang
dari kelas IV SDN Kandangan II/620 Surabaya. Selain itu, guru kelas yang mengampu mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) juga dijadikan subjek penelitian karena
memiliki peran penting dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran di kelas. Pemilihan
subjek dilakukan secara purposif dengan mempertimbangkan keterlibatan aktif mereka dalam
kegiatan belajar-mengajar, serta keberadaan budaya lokal di lingkungan sekolah yang masih
terjaga dengan baik. Keberadaan Semanggi Surabaya sebagai bagian dari budaya lokal di
sekitar sekolah menjadi pertimbangan utama dalam pemilihan lokasi dan subjek penelitian.
Keterhubungan antara materi pembelajaran dan konteks lokal diharapkan dapat menciptakan
pembelajaran yang lebih bermakna dan kontekstual bagi peserta didik.
C. Perangkat Pembelajaran
Perangkat pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas tiga komponen
utama, yaitu: (a) modul ajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) berbasis budaya lokal,
(b) Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD) yang mengangkat tema kuliner Semanggi
Surabaya, dan (c) media pembelajaran berupa audio visual dan media konkret, termasuk
contoh makanan Semanggi Surabaya, bahan gambar, serta video proses pembuatan kuliner
tersebut. Seluruh perangkat dikembangkan dengan mengacu pada model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) dan pendekatan etnopedagogik, yang menekankan keterkaitan
antara proses belajar dengan nilai-nilai budaya lokal. Integrasi budaya lokal dalam perangkat
pembelajaran ini terlihat melalui beberapa fitur utama: pertama, materi pembelajaran menggali
nilai-nilai kearifan lokal dari kuliner tradisional Semanggi Surabaya; kedua, kegiatan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 13-21
E-ISSN: 3031-2957
17
Hima Kurniawan Arip Piyanto et.al (Semanggi Surabaya Sebagai Sumber.)
pembelajaran dirancang untuk menyelesaikan permasalahan terkait pentingnya pelestarian
kuliner lokal, termasuk praktik langsung membuat makanan Semanggi Surabaya; ketiga,
penilaian difokuskan pada kemampuan siswa dalam menemukan solusi pelestarian, kreativitas,
keterampilan membuat Semanggi, dan kemampuan presentasi. Proses pengembangan
perangkat dilakukan mengikuti tahapan model ADDIE (Analysis, Design, Development,
Implementation, Evaluation), dengan penekanan khusus pada tahap analisis konteks budaya
lokal sebagai dasar perancangan materi yang kontekstual dan bermakna.
D. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui beberapa teknik yang
saling melengkapi untuk memperoleh data yang komprehensif. Pertama, observasi partisipatif
dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk mencatat secara langsung aktivitas
guru dan siswa, serta dinamika pembelajaran berbasis kearifan lokal. Kedua, wawancara
mendalam dilakukan terhadap guru dan siswa guna memperoleh pemahaman yang lebih
mendalam mengenai persepsi, pengalaman, dan tanggapan mereka terhadap pembelajaran
yang mengangkat kuliner tradisional Semanggi Surabaya sebagai materi utama. Ketiga,
dokumentasi dikumpulkan dalam bentuk foto hasil praktik siswa, rekaman kegiatan
pembelajaran, serta arsip perangkat pembelajaran yang digunakan selama penelitian. Terakhir,
studi pustaka dilakukan untuk mengkaji konsep-konsep yang relevan, seperti literasi budaya,
etnopedagogik, dan pembelajaran berbasis kearifan lokal, sebagai landasan teoritis dalam
merancang dan menganalisis hasil penelitian. Keempat teknik ini digunakan secara terpadu
untuk memastikan keabsahan data serta memberikan gambaran menyeluruh mengenai
implementasi pembelajaran kontekstual yang berbasis budaya lokal.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini disusun untuk mendukung pengumpulan
data secara sistematis dan mendalam. Instrumen pertama berupa panduan observasi kegiatan
belajar-mengajar, yang digunakan untuk mencatat secara rinci proses pembelajaran, interaksi
antara guru dan siswa, serta keterlibatan siswa dalam kegiatan yang berbasis kearifan lokal.
Instrumen kedua adalah panduan wawancara semi-terstruktur, yang dirancang untuk
mengeksplorasi pandangan, pengalaman, dan persepsi guru serta siswa terhadap pembelajaran
dengan muatan budaya lokal, khususnya kuliner Semanggi Surabaya. Selanjutnya, digunakan
rubrik penilaian hasil karya siswa, yang memuat indikator penilaian terkait kreativitas,
pemahaman konsep, keterampilan praktik, dan kemampuan presentasi. Instrumen tambahan
berupa catatan lapangan dan lembar refleksi guru juga digunakan untuk merekam temuan
penting selama proses pembelajaran berlangsung serta memberikan ruang bagi guru untuk
merefleksikan pengalaman mereka. Seluruh instrumen ini dirancang secara selaras dengan
pendekatan kualitatif dan bertujuan untuk memperoleh data yang kaya dan bermakna.
E. Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif dari Miles dan
Huberman (2014), yang terdiri atas tiga langkah utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan serta verifikasi. Pada tahap pertama, reduksi data dilakukan dengan
menyortir, memilih, dan menyederhanakan data mentah yang telah dikumpulkan agar sesuai
dengan fokus penelitian, yakni pembelajaran berbasis kearifan lokal kuliner Semanggi
Surabaya. Selanjutnya, pada tahap penyajian data, informasi yang telah direduksi disusun
dalam bentuk deskripsi naratif dan matriks tematik, sehingga memudahkan peneliti dalam
menelaah pola dan hubungan antar data. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan dan
verifikasi, yang dilakukan secara induktif dengan mempertimbangkan konteks penelitian serta
mengandalkan temuan empiris. Untuk memastikan validitas dan keabsahan data, dilakukan
triangulasi, yaitu dengan membandingkan dan mencocokkan data dari hasil observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Proses ini memungkinkan peneliti memperoleh pemahaman
yang mendalam, utuh, dan terpercaya terhadap fenomena yang diteliti.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 13-21
E-ISSN: 3031-2957
18
Hima Kurniawan Arip Piyanto et.al (Semanggi Surabaya Sebagai Sumber.)
3. Hasil dan Pembahasan
A. Deskripsi Data Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran dalam penelitian ini dilaksanakan dalam dua kali pertemuan bersama
siswa kelas IV SDN Kandangan II/620 Surabaya, dengan menggunakan Modul Ajar Ilmu
Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) berbasis kearifan lokal kuliner Semanggi Surabaya.
Pembelajaran dirancang dengan pendekatan Problem Based Learning (PBL) yang dipadukan
dengan prinsip etnopedagogik, guna memperkuat keterkaitan antara materi pelajaran dengan
konteks budaya lokal siswa. Kegiatan pembelajaran terdiri atas empat tahapan utama. Pertama,
siswa diajak mengeksplorasi budaya lokal melalui analisis terhadap kuliner khas Semanggi
Surabaya, diperkuat dengan pengenalan benda konkret (contoh makanan Semanggi) serta
pemutaran video proses pembuatannya. Kedua, siswa mengidentifikasi dan menguraikan
berbagai upaya pelestarian kuliner tradisional tersebut dalam konteks kehidupan modern.
Ketiga, siswa mengikuti praktik pembuatan Semanggi Surabaya secara langsung dengan
bimbingan guru, sebagai bentuk penguatan keterampilan dan pengalaman kontekstual.
Keempat, siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dalam bentuk poster edukatif yang
menampilkan pesan budaya dan dokumentasi proses pembuatan Semanggi. Selama proses
berlangsung, siswa menunjukkan antusiasme yang tinggi, terutama saat berinteraksi langsung
dengan media visual dan praktik budaya lokal. Guru berperan sebagai fasilitator yang
membimbing proses pemecahan masalah dan memastikan pengalaman belajar yang relevan,
interaktif, serta bermakna dalam membangun kesadaran budaya siswa.
B. Temuan Utama dan Tema-Tema Kualitatif
Berdasarkan hasil analisis data dari observasi, wawancara, dan dokumentasi, ditemukan
beberapa tema kunci yang muncul secara induktif dalam proses pembelajaran berbasis
kearifan lokal Semanggi Surabaya. Pertama, antusiasme terhadap budaya kearifan lokal
tampak dari tingginya rasa ingin tahu siswa terhadap kuliner Semanggi Surabaya, yang mereka
anggap dekat secara emosional dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kedua, muncul
tema pewarisan nilai dan identitas budaya, di mana proses pembelajaran tidak hanya
menyampaikan pengetahuan faktual, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai budaya seperti
kebanggaan terhadap identitas lokal, semangat gotong royong, serta cinta terhadap kota
Surabaya. Ketiga, siswa menunjukkan pemahaman dan kreativitas dalam upaya pelestarian
kearifan lokal, yang tercermin dari kemampuan mereka menuangkan ide-ide pelestarian dalam
bentuk karya poster edukatif. Keempat, teridentifikasi adanya kemauan yang kuat dari siswa
untuk terlibat aktif dalam praktik pembuatan makanan Semanggi Surabaya, sebagai wujud
kecintaan mereka terhadap budaya lokal. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran
kontekstual berbasis kearifan lokal tidak hanya meningkatkan partisipasi dan pemahaman
siswa, tetapi juga berkontribusi dalam menanamkan nilai-nilai budaya secara bermakna.
C. Analisis Deskriptif dan Interkoneksi Data
Hasil pembelajaran menunjukkan capaian yang signifikan baik dari sisi produk karya
siswa, refleksi pembelajaran, maupun relevansinya dengan teori etnopedagogik. Pertama,
dalam aspek karya siswa, peserta didik mampu menghasilkan poster yang menampilkan
berbagai upaya pelestarian kuliner Semanggi Surabaya sebagai bagian dari tanggung jawab
generasi muda terhadap budaya lokal. Selain itu, mereka juga menunjukkan kemampuan
praktik dengan membuat makanan khas Semanggi Surabaya secara langsung, yang
memperkuat pemahaman mereka terhadap nilai-nilai budaya setempat. Kedua, berdasarkan
refleksi guru dan siswa, pembelajaran berbasis kearifan lokal terbukti mendorong partisipasi
aktif serta kemampuan berpikir kritis siswa dalam menyelesaikan masalah dan mencari solusi
terhadap isu pelestarian budaya. Ketiga, hasil pembelajaran ini selaras dengan teori
etnopedagogik sebagaimana dikemukakan oleh Zuchdi (2013), yang menyatakan bahwa
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 13-21
E-ISSN: 3031-2957
19
Hima Kurniawan Arip Piyanto et.al (Semanggi Surabaya Sebagai Sumber.)
budaya lokal merupakan wahana efektif dalam pembentukan karakter dan pembelajaran
holistik. Hal ini tercermin dalam kegiatan siswa yang tidak hanya melibatkan praktik
pembuatan kuliner tradisional, tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai kebangsaan, cinta tanah
air, dan kepedulian terhadap pelestarian kearifan lokal melalui aktivitas kreatif dan kolaboratif.
D. Proses Pembuatan Semanggi Surabaya
Berikut disajikan tabel yang berisi langkah pembuatan Semanggi Surabaya :
No
Langkah
Keterangan
1
Persiapan Bahan
a. Siapkan daun semanggi(segar atau kering), touge, ketela
rebus, gula merah, kacang tanah yang sudah di goreng,
bawang merah, bawang putih, cabai rawit, kencur,
garam, petis, krupuk puli
2
Merebus bahan
b. Rebus daun semanggi dan touge secara terpisah
c. Tiriskan daun semanggi yang sudah direbus
d. Tiriskan tauge
3
Meracik bumbu pecel
semanggi
e. Haluskan bahan untuk bumbu seperti kacang, bawang
merah, bawang putih, kencur, garam dan ketela yang
sudah direbus
f. Haluskan cabai rawit, dan garam untuk membuat
sambal
g. Raciklah bumbu pecel semanggi dan ditambah sambal
sesuai selera, tambahkan pula petis
4
Menyajikan
h. Siapkan pincuk daun pisang sebagai wadah semanggi
dan touge yang sudah direbus, masukkan semua bahan
i. Siramkan bumbu yang sudah dibuat
j. Tambahkan krupuk puli
k. Pecel semanggi siap dihidangkan
Sebagai warisan kuliner, Semanggi Surabaya memiliki nilai historis yang harus dijaga
agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman dan dominasi makanan modern. Jika tidak
dilestarikan, ada kemungkinan generasi mendatang tidak lagi mengenal atau mengapresiasi
makanan tradisional ini, yang pada akhirnya dapat menyebabkan hilangnya salah satu aspek
penting dari budaya lokal. Selain itu, pelestarian semanggi juga berdampak pada keberlanjutan
ekonomi dan lingkungan. Para petani yang menanam semanggi serta pedagang semanggi akan
tetap memiliki sumber penghasilan jika makanan ini terus diminati dan dikembangkan.
E. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam menafsirkan
hasil dan implikasinya. Pertama, subjek penelitian terbatas pada siswa kelas IV di SDN
Kandangan II/620 Surabaya, sehingga hasil temuan belum dapat digeneralisasikan secara luas
ke konteks sekolah lain dengan karakteristik yang berbeda. Kedua, tema-tema yang diangkat
bersifat induktif dan subjektif, karena bergantung pada interpretasi peneliti terhadap narasi dan
respons siswa selama proses pembelajaran. Validasi terhadap tema-tema tersebut masih
sebatas pada triangulasi sumber dan teknik, sehingga memerlukan pengujian lebih lanjut
dalam penelitian lanjutan. Namun demikian, sebagaimana dikemukakan oleh Miles dan
Huberman (2014), keterbatasan dalam studi kualitatif merupakan hal yang wajar, mengingat
pendekatan ini lebih menekankan pada kedalaman makna dan pemahaman kontekstual
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 13-21
E-ISSN: 3031-2957
20
Hima Kurniawan Arip Piyanto et.al (Semanggi Surabaya Sebagai Sumber.)
daripada luasan data. Justru, kekuatan pendekatan kualitatif terletak pada kemampuannya
untuk mengeksplorasi pengalaman autentik, makna lokal, dan interaksi sosial yang kompleks
dalam konteks pembelajaran, seperti yang tercermin dalam upaya pelestarian kearifan lokal
melalui pembelajaran berbasis budaya.
4. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan Semanggi Surabaya sebagai sumber
belajar berbasis kearifan lokal dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS)
di SDN Kandangan II/620 Surabaya dapat meningkatkan keterlibatan aktif siswa,
menumbuhkan kesadaran budaya, serta memperkuat nilai-nilai karakter. Melalui pendekatan
Problem Based Learning (PBL) yang dipadukan dengan prinsip etnopedagogik, siswa tidak
hanya memperoleh pemahaman konseptual terhadap materi IPAS, tetapi juga terlibat secara
langsung dalam kegiatan eksplorasi budaya, praktik kuliner tradisional, dan penciptaan karya
yang merefleksikan nilai-nilai lokal. Pembelajaran ini mampu menginternalisasi sikap cinta
budaya, gotong royong, serta tanggung jawab pelestarian warisan lokal di kalangan peserta
didik. Kearifan lokal Semanggi Surabaya memiliki potensi besar untuk diintegrasikan ke dalam
pembelajaran kontekstual sebagai bagian dari strategi pendidikan karakter dan pelestarian
budaya di sekolah dasar. Oleh karena itu, upaya pelestarian perlu dilakukan melalui promosi
dan inovasi dalam penyajian, pemasaran yang lebih luas, serta dukungan dari pemerintah dan
sektor swasta. Jika langkah-langkah ini diterapkan, semanggi dapat terus dikenal dan dinikmati
oleh generasi mendatang, sekaligus mempertahankan posisinya sebagai bagian dari warisan
kuliner Surabaya yang berharga.
Saran
Guru dan Sekolah, disarankan untuk terus mengembangkan pembelajaran berbasis kearifan
lokal dengan menggali potensi budaya di lingkungan sekitar sekolah sebagai sumber belajar
yang kontekstual, autentik, dan bermakna. Pembelajaran seperti ini terbukti dapat
meningkatkan partisipasi siswa dan memperkuat nilai-nilai karakter. Peneliti Selanjutnya,
melalui penelitian ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan melibatkan lebih banyak sekolah
dan jenjang pendidikan yang berbeda untuk memperluas cakupan dan menguji efektivitas
model pembelajaran berbasis kearifan lokal secara lebih komprehensif. Selain itu,
pengembangan evaluasi kuantitatif dapat melengkapi pendekatan kualitatif yang digunakan
dalam penelitian ini.
5. Daftar Pustaka
Creswell, J. W. (2015). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five
Approaches. Sage Publications.
Gunansyah, G., dkk. 2018. Etnopedagogi: Kajian Lintas Bidang Studi di Sekolah Dasar.
Sidoarjo: Zifatama
Humaidi, Faisol. (2021). Peningkatan Produktifitas Semanggi Suroboyo di Kelurahan
Sememi, Kecamatan Benowo Surabaya. Prosiding PKM-CSR.
https://doi.org/10.37695/pkmcsr.v4i0.1296
Islamia, Vidia Azmi. (2020). Pembentukan Identitas Budaya Sebuah Kota Melalui Sektor
Kuliner: Kampung Semanggi, Surabaya. repository.ub.ac.id.
https://repository.ub.ac.id/id/eprint/182236
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 1, Mei 2025, page: 13-21
E-ISSN: 3031-2957
21
Hima Kurniawan Arip Piyanto et.al (Semanggi Surabaya Sebagai Sumber.)
Kurniawati, Firda dan Gunansyah, Ganes. (2019). Semanggi Suroboyo Desa Kendung
Benowo-Surabaya Sebagai Sumber Belajar Berbasis Etnopedagogi Di
Sekolah Dasar. ejournal.unesa.ac.id vol. 7 No. 3.
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-penelitian-
pgsd/article/view/28110
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A
Methods Sourcebook. Sage Publications
Nadlir, N. (2016). Urgensi pembelajaran berbasis kearifan lokal. Jurnal Pendidikan
Agama Islam (Journal of Islamic Education Studies), 2(2), 299-330.
Setyowati, Dyah Dwi. (2016). Semanggi Sebagai Identitas Kolektif Masyarakat Kota
Surabaya. journal.unair.ac.id Vol. 5 No. 2.
https://journal.unair.ac.id/Kmnts%40semanggi-sebagai-identitas-kolektif-
masyarakat-kota-surabaya-article
Shufa, N. K. F., Khusna, N., & Artikel, S. (2018). Pembelajaran berbasis kearifan lokal di
sekolah dasar: Sebuah kerangka konseptual. INOPENDAS: Jurnal Ilmiah
Kependidikan, 1(1), 48-53.Suprayoga, et al.(2023). Pemberdayaan Ibu-Ibu
Pedagang Pecel Semanggi di Kampung Semanggi Kota Surabaya. Prosiding
PKM-CSR. https://doi.org/10.37695/pkmcsr.v5i0.1712
Suryanti, Prahani, Widodo, dkk. (2021). Ethnoscience-based science learning in
elementary
Schools. Journal of Phisich: Conference series, Vol 1987. DOI 10.1088/1742-
6596/1987/1/012055
Sutanto, at al,. (2024). Strategi Mempertahankan Semanggi sebagai Warisan Gastronomi
Surabaya. Jurnal Hospitality dan Pariwisata Vol 10, No 1.
http://dx.doi.org/10.30813/jhp.v10i1.4868
Zuchdi, D. (2013). Humanisasi Pendidikan: Menumbuhkan Kemanusiaan Melalui
Pendidikan Nilai dan Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.