1. Pendahuluan
Kebijakan tarif tinggi yang diterapkan oleh Amerika Serikat kepada Indonesia
menimbulkan kekhawatiran terhadap ekonomi, seperti penurunan nilai rupiah dan
kemungkinan pemecatan besar-besaran. Pandangan ekonom tentang isu ini mencerminkan
sikap, evaluasi, dan tuntutan tertentu yang diungkapkan melalui pilihan bahasa, terutama
dalam hal modalitas. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis penggunaan modalitas dalam
mengarahkan wacana kebijakan luar negeri, serta bagaimana pernyataan dari para ekonom
berdampak pada cara pandang masyarakat mengenai kestabilan ekonomi domestik.
Modalitas didefinisikan sebagai cara pembicara atau penulis menunjukkan pendirian
(stance) dan ketertarikan (affinity) mereka kepada seseorang atau sesuatu dalam klausa, kata,
dan kalimat dalam wacana (Fairclough, 2003, dikutip dalam Widyaningroh et al., 2023).
Fairclough juga menyatakan bahwa modalitas berfungsi sebagai penanda hubungan sosial
yang dapat menunjukkan sikap dan kuasa. Alwi (1993, dikutip dalam Widyaningroh et al.,
2023) menyatakan bahwa modalitas dapat berupa keharusan atau kepastian dengan kata-kata
seperti "yakni", "seharusnya", "baiknya", "pantasnya", dan sebagainya. Alwi (1992, dikutip
dalam Widyaningroh et al., 2023), modalitas adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan bagaimana pembicara menggunakan bahasanya.
Teori dari Halliday dan Matthiessen (2004, dikutip dalam Widyaningroh et al., 2023)
menyatakan bahwa membagi modalitas menjadi dua jenis: modalisasi (modalization), yang
terdiri dari dua bagian kemungkinan (certain, possible, perhaps, etc.) dan frekuensi (selalu,
biasa, sore, dll.) dan modulasi (modulation), yang terdiri dari dua bagian keharusan (required,
expected, permissible, etc.) dan frekuensi (selalu, biasa, sore, dll). Penelitian terdahulu
(Widyaningroh et al., 2023) menyelidiki modalitas dalam bentuk teks berita dari website
dengan tema kenaikan PPN. Namun, belum ada penelitian yang secara mendalam mengkaji
modalitas dalam teks berita mengenai pernyataan ekonom terkait penerapan tarif tinggi AS di
Indonesia, khususnya dalam konteks dampak kebijakan luar negeri. Oleh karena itu, penelitian
ini menawarkan kontribusi dengan mengisi kesenjangan tersebut, serta memberikan analisis
yang lebih spesifik mengenai bagaimana modalitas berperan dalam membentuk pemahaman
dan sikap publik terhadap kebijakan pajak baru.
2. Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode kualitatif dengan
pendekatan analisis wacana. Pendekatan ini dipilih karena peneliti ingin mengetahui wacana
teks berita berdasarkan modalitas MAK Haliday. Metode yang diterapkan dalam studi ini
adalah metode kualitatif dengan pendekatan analisis wacana. Pilihan pendekatan ini diambil
karena peneliti berkeinginan untuk memahami wacana dalam teks berita berdasarkan
modalitas yang diusulkan oleh Halliday. Proses analisis dilakukan untuk mengidentifikasi dan
mengelompokkan jenis-jenis modalitas seperti probabilitas, usualitas, inliknasi, dan obligasi
dalam ungkapan dua tokoh utama yang dicantumkan dalam berita. Tujuan dari penelitian ini
adalah untuk menggambarkan bagaimana pilihan modalitas mencerminkan sikap, tingkat
intensitas, serta afiliasi ideologis narasumber terhadap masalah kebijakan tarif luar negeri.
Oleh karena itu, data diambil dari dua sumber berita daring yang memuat pernyataan dari
ekonom Didin S. Damanhuri dan Presiden KSPI Said Iqbal. Teks berita dianalisis secara
mendetail menggunakan teori modalitas menurut Halliday dan Matthiessen, dengan fokus
pada frekuensi, jenis, dan fungsi modalitas dalam membentuk pandangan publik terhadap
ancaman krisis ekonomi.