Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474 (online) 114
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
teknologi, agama, dan psikologi mampu meningkatkan self-efficacy, empati, dan
keseimbangan emosional (Coe et al., 2023; Hamid, 2022). Dengan demikian, program
ini tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga
membentuk kesadaran moral serta spiritual yang berakar pada nilai-nilai Islam.
Analisis mendalam terhadap hasil kegiatan menunjukkan bahwa integrasi antara
dakwah kreatif dan literasi keagamaan digital tidak hanya meningkatkan
kemampuan teknis peserta dalam membuat konten positif, tetapi juga
menumbuhkan pemahaman reflektif terhadap makna spiritual dan tanggung jawab
sosial dalam bermedia. Para peserta mulai memahami bahwa dakwah di media
sosial bukan sekadar aktivitas menyebarkan kutipan atau nasihat agama, melainkan
proses komunikasi yang memerlukan kepekaan etis, estetika visual, serta keakuratan
informasi. Kesadaran ini menjadi penting mengingat fenomena penyebaran hoaks
keagamaan dan ujaran kebencian yang kian marak di platform digital (Kemenag RI,
2024). Dengan membekali peserta kemampuan memilah dan memproduksi konten
yang bernilai edukatif, kegiatan ini membantu menciptakan ekosistem digital yang
lebih sehat dan bermoral.
Selain peningkatan kemampuan literasi digital, kegiatan ini juga berkontribusi
terhadap penguatan aspek psikologis remaja. Hasil refleksi individu menunjukkan
bahwa peserta merasa lebih percaya diri, lebih mampu mengelola stres akademik,
dan lebih tenang dalam menghadapi tekanan sosial setelah mengikuti pelatihan.
Pendekatan spiritual yang diintegrasikan dalam setiap sesi diskusi dan pelatihan
terbukti efektif dalam membangun keseimbangan antara aspek intelektual,
emosional, dan spiritual. Menurut penelitian Coe et al. (2023), generasi muda yang
memiliki keterhubungan spiritual yang kuat menunjukkan tingkat ketahanan mental
yang lebih baik dibandingkan remaja yang kurang memiliki landasan nilai. Dalam
konteks kegiatan ini, keterhubungan tersebut terbentuk melalui kombinasi kegiatan
edukatif, reflektif, dan kreatif yang memungkinkan peserta untuk mengekspresikan
nilai-nilai keislaman secara modern dan positif.
Hasil ini juga memperkuat argumentasi Hamid (2022) bahwa pendekatan dakwah
kreatif dapat berfungsi ganda, yakni sebagai sarana penyampaian nilai dan media
pengembangan diri. Melalui proses pembuatan konten digital, remaja dilatih untuk
berpikir kritis, berkolaborasi, dan mengkomunikasikan gagasan keagamaan dengan
cara yang menarik dan mudah dipahami oleh teman sebaya. Aktivitas ini bukan
hanya meningkatkan literasi digital, tetapi juga menumbuhkan self-efficacy —
keyakinan bahwa mereka mampu menjadi bagian dari perubahan positif di
lingkungan sosialnya. Peningkatan kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab sosial
tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan program, sebagaimana terlihat
dari terbentuknya komunitas dakwah digital remaja yang terus aktif hingga
beberapa minggu setelah kegiatan berakhir.
Dari perspektif sosial dan pendidikan, keberadaan komunitas dakwah digital ini
menjadi bentuk nyata keberlanjutan program (sustainability). Anggota komunitas
tidak hanya melanjutkan kegiatan produksi konten positif, tetapi juga berperan
sebagai mentor bagi siswa lain di sekolah mereka. Mereka berinisiatif membuat
kegiatan rutin seperti “Jumat Literasi Digital Islami” dan challenge kreatif di media
sosial bertema akhlak mulia. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan