Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 5/08/2025 Selesai revisi: 27/08/2025 Disetujui: 25/09/2025 Diterbitkan: 30/10/2025
108
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Gen Z Bijak Digital Penguatan Mental Remaja Melalui Dakwah
Kreatif dan Literasi Keagamaan di Media Sosial
Muhammad Nurwahidin¹, Ari Sofia², Dayu Rika Perdana³*, Siska Mega Diana,
Jody Setya Hermawan
¹,²,³,, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung, Indonesia
e-mail: ¹muhammad.nurwahidin@fkip.unila.ac.id, ²ari.sofia@fkip.unila.ac.id,
³*dayurika.perdana@fkip.unila.ac.id, siska.megadiana@fkip.unila.ac.id,
jody.setyahernawan@fkip.unila.ac.id
Abstrak
Pertumbuhan pesat media sosial di era digital menghadirkan peluang sekaligus
tantangan bagi Generasi Z, khususnya dalam aspek kesehatan mental dan literasi
keagamaan. Sebagai pengguna digital yang aktif, remaja rentan terhadap krisis
identitas, tekanan sosial, serta paparan konten keagamaan yang belum terverifikasi.
Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memperkuat literasi
keagamaan dan keterampilan dakwah kreatif di kalangan remaja guna mendorong
keterlibatan positif di ruang digital. Kegiatan dilakukan dengan pendekatan
participatory-based learning melalui rangkaian webinar edukatif, pelatihan dakwah
kreatif, pelatihan literasi digital keagamaan, pendampingan, serta publikasi konten.
Program ini melibatkan 35 peserta dari komunitas remaja Islam di Bandar Lampung.
Hasil menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap literasi digital
keagamaan, keterampilan pembuatan konten kreatif, dan kesadaran akan kesehatan
mental berbasis spiritualitas. Selain itu, program berhasil membentuk komunitas
dakwah digital remaja yang berkelanjutan dan menghasilkan modul pelatihan yang
dapat direplikasi. Temuan ini menunjukkan bahwa dakwah kreatif mampu
memberdayakan Generasi Z menjadi agen perubahan digital yang berdaya saing,
berakhlak, dan menciptakan ekosistem media sosial yang sehat serta inspiratif.
Kata Kunci: Generasi Z, dakwah kreatif, literasi digital, kesehatan mental, media
sosial
Abstract
The rapid growth of social media in the digital era has created both opportunities and
challenges for Generation Z, particularly regarding mental health and religious literacy. As
active digital users, youth are vulnerable to identity crises, social pressure, and exposure to
unverified religious content. This community service program aimed to strengthen religious
literacy and promote creative da’wah skills among youth to foster positive engagement in
digital spaces. The activity employed a participatory-based learning approach consisting of
educational webinars, creative da’wah workshops, digital religious literacy training,
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474 (online) 109
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
mentoring, and content publication. The program involved 35 youth participants from school-
based Islamic communities in Lampung. The results showed an improvement in participants’
understanding of digital religious literacy, creative content-making skills, and awareness of
mental health through spiritual perspectives. The program also succeeded in forming a
sustainable digital da’wah youth community and producing a replicable training module.
These findings indicate that creative da’wah training effectively empowers Gen Z to become
digital change agents capable of promoting healthy, religious, and inspiring social media
ecosystems.
Keywords: Generation Z, creative da’wah, digital literacy, mental health, social media
Pendahuluan
Era digital saat ini telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia,
termasuk cara berinteraksi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi. Generasi
Zyang lahir dan tumbuh bersama perkembangan teknologi digitalmenjadi
kelompok yang paling aktif menggunakan media sosial. Berdasarkan data
Kementerian Komunikasi dan Informatika (2023), lebih dari 70% pengguna aktif
media sosial di Indonesia berasal dari kelompok usia 1324 tahun. Platform seperti
Instagram, TikTok, dan YouTube kini bukan hanya menjadi sarana hiburan, tetapi
juga ruang ekspresi, pembentukan identitas, serta interaksi sosial bagi remaja.
Meskipun demikian, paparan media digital yang sangat tinggi menimbulkan
berbagai dampak negatif, terutama pada aspek psikologis dan spiritual remaja.
Penelitian McKinsey Health Institute (Coe, Doy, Enomoto, & Healy, 2023)
menunjukkan bahwa generasi muda saat ini mengalami tingkat stres dan tekanan
mental tertinggi akibat ekspektasi sosial, fear of missing out (FOMO), serta
perbandingan diri di media sosial. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan
mental dan literasi spiritual agar remaja mampu menghadapi arus informasi yang
cepat, kompleks, dan sering kali menyesatkan.
Selain tantangan psikologis, rendahnya tingkat literasi keagamaan digital juga
menjadi persoalan yang signifikan. Survei yang dilakukan oleh Kementerian Agama
Republik Indonesia (2024) mengungkap bahwa masih banyak remaja yang belum
mampu mengidentifikasi sumber informasi keagamaan yang kredibel di media
sosial. Akibatnya, sebagian dari mereka mudah terpengaruh oleh konten keagamaan
yang ekstrem, provokatif, atau bersifat eksklusif (Agusta, 2024; Nurdianto, 2020).
Minimnya kemampuan berpikir kritis terhadap informasi keagamaan di dunia
digital memperkuat urgensi program yang mampu menyeimbangkan antara literasi
digital dan literasi keagamaan. Di sisi lain, model dakwah yang selama ini
digunakan masih cenderung konvensionalbersifat satu arah, monoton, dan kurang
menyesuaikan dengan gaya komunikasi remaja (Hamid, 2022; Mustaqim, 2022).
Akibatnya, pesan dakwah menjadi kurang relevan dan gagal menarik perhatian
generasi muda yang lebih tertarik pada bentuk komunikasi visual, naratif, dan
interaktif.
Dalam konteks tersebut, muncul kebutuhan mendesak untuk mengembangkan
pendekatan dakwah kreatif yang mampu menyentuh cara berpikir dan gaya hidup
digital Generasi Z. Dakwah kreatif yang memanfaatkan teknologi dan media sosial
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474 (online) 110
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
dapat menjadi solusi untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman dengan cara yang
lebih menarik, kontekstual, dan inspiratif (Rizal, Maula, & Idamatussilmi, 2024).
Pendekatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran pesan keagamaan,
tetapi juga sebagai media penguatan mental dan pembentukan karakter positif di
tengah derasnya arus globalisasi informasi. Melalui konten kreatif seperti video
pendek, infografis, ilustrasi digital, dan kampanye daring, remaja dapat berperan
sebagai agen perubahan yang menyebarkan nilai kebaikan di ruang digital (Lusri &
Astuti, 2024). Dakwah digital yang bersifat kolaboratif dan partisipatif
memungkinkan terjadinya internalisasi nilai keagamaan secara alami sekaligus
memperkuat identitas positif remaja Muslim modern.
Program pengabdian masyarakat bertajuk “Gen Z Bijak Digital: Penguatan Mental
Remaja Melalui Dakwah Kreatif dan Literasi Keagamaan di Media Sosial” ini lahir dari
kesadaran tersebut. Kegiatan dilaksanakan di SMP Negeri 44 Bandar Lampung,
melibatkan 35 siswa kelas VIII dan IX yang aktif di organisasi Rohis dan OSIS.
Sekolah ini dipilih karena memiliki komunitas keagamaan yang aktif dan populasi
remaja digital yang tinggi, sehingga dianggap representatif untuk mengembangkan
model dakwah kreatif berbasis literasi digital. Fokus utama kegiatan adalah
membekali remaja dengan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi
keagamaan, mengasah kreativitas dalam menyampaikan pesan spiritual melalui
media sosial, serta menumbuhkan kesadaran kesehatan mental yang berpijak pada
nilai-nilai Islam. Diharapkan melalui kegiatan ini, para peserta tidak hanya menjadi
konsumen konten digital, tetapi juga produsen yang mampu menciptakan narasi
positif, moderat, dan menyejukkan di dunia maya.
Secara umum, tujuan program ini adalah untuk: (1) meningkatkan kemampuan
literasi digital keagamaan peserta agar mampu memilah informasi keagamaan secara
kritis dan bijak; (2) mengembangkan keterampilan dakwah kreatif sebagai sarana
ekspresi nilai keislaman di media sosial; dan (3) memperkuat mental spiritual
peserta agar memiliki daya tahan terhadap tekanan sosial dan tantangan psikologis
era digital. Melalui kolaborasi antara dunia pendidikan dan pendekatan dakwah
digital, kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya
cakap teknologi, tetapi juga berkarakter, berakhlak, dan memiliki kesadaran spiritual
yang kuat.
Metode
Kegiatan pengabdian ini menggunakan pendekatan participatory-based learning, yaitu
model pembelajaran partisipatif yang menempatkan peserta sebagai subjek aktif
dalam seluruh proses kegiatan. Pendekatan ini dipilih karena dianggap paling sesuai
dengan karakteristik remaja yang menyukai aktivitas interaktif, kolaboratif, dan
berbasis pengalaman nyata. Program dilaksanakan di SMP Negeri 44 Bandar
Lampung selama tiga minggu, dengan melibatkan 35 siswa dari berbagai latar
belakang organisasi sekolah seperti Rohis, OSIS, dan Klub Literasi. Seluruh kegiatan
dirancang agar peserta tidak hanya menerima informasi secara teoritis, tetapi juga
mempraktikkan langsung pembuatan dan penyebaran konten dakwah kreatif di
media sosial.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474 (online) 111
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tahapan pelaksanaan kegiatan terdiri dari empat langkah utama. Pertama, tahap
persiapan, yang diawali dengan survei kebutuhan (need assessment) terhadap
peserta untuk mengidentifikasi tingkat literasi digital dan spiritual awal mereka. Tim
pengabdi juga melakukan koordinasi dengan pihak sekolah dan melakukan
penyusunan modul pelatihan yang berisi materi literasi keagamaan digital, teknik
komunikasi dakwah, serta dasar-dasar kesehatan mental Islami. Kedua, tahap
pelaksanaan edukasi dan pelatihan, yang meliputi penyelenggaraan webinar
interaktif, pelatihan pembuatan konten dakwah kreatif, serta sesi diskusi reflektif.
Pada tahap ini, peserta dibimbing untuk memahami konsep literasi digital
keagamaan, etika bermedia sosial, dan strategi penyampaian pesan dakwah yang
komunikatif. Mereka juga diajarkan cara menggunakan perangkat lunak seperti
Canva dan CapCut untuk membuat poster, video pendek, dan storytelling berbasis
nilai-nilai Islam.
Ketiga, tahap pendampingan dan publikasi konten, di mana peserta secara
berkelompok menghasilkan karya dakwah digital bertema moralitas, empati, dan
kesehatan mental. Seluruh konten yang dibuat dipublikasikan melalui akun media
sosial sekolah dan komunitas, seperti Instagram dan TikTok, untuk menjangkau
audiens yang lebih luas. Pada tahap ini, peserta mendapatkan bimbingan teknis serta
umpan balik langsung dari tim pengabdi untuk menyempurnakan karya mereka.
Keempat, tahap evaluasi dan refleksi, yang dilakukan melalui pre-test dan post-test
untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta mengenai literasi keagamaan
digital dan kesehatan mental. Selain itu, observasi, wawancara singkat, serta refleksi
kelompok digunakan untuk menilai perubahan sikap dan kesadaran peserta
terhadap pentingnya menjadi pengguna media sosial yang bertanggung jawab.
Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif sederhana.
Data kuantitatif berupa hasil tes awal dan tes akhir digunakan untuk mengetahui
peningkatan kompetensi peserta dalam memahami dan mengaplikasikan literasi
digital keagamaan. Sedangkan data kualitatif diperoleh melalui catatan lapangan,
dokumentasi kegiatan, serta hasil refleksi peserta yang menggambarkan dampak
psikologis dan spiritual dari kegiatan. Analisis ini menghasilkan temuan bahwa
integrasi antara literasi keagamaan dan dakwah kreatif efektif dalam membangun
kesadaran digital yang bijak sekaligus memperkuat kesehatan mental remaja.
Dengan metode partisipatif ini, kegiatan pengabdian tidak hanya bersifat edukatif,
tetapi juga transformatif, karena memberikan ruang bagi peserta untuk menjadi
pelaku perubahan sosial yang aktif, inspiratif, dan berorientasi pada nilai-nilai
keislaman.
Hasil dan Pembahasan
Pelaksanaan program “Gen Z Bijak Digital: Penguatan Mental Remaja Melalui Dakwah
Kreatif dan Literasi Keagamaan di Media Sosial” menghasilkan berbagai capaian yang
signifikan, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap peserta.
Kegiatan ini berhasil membangun kesadaran baru di kalangan remaja tentang
pentingnya memanfaatkan media sosial sebagai sarana dakwah yang kreatif,
edukatif, dan bernilai spiritual. Secara umum, pelaksanaan program yang
berlangsung selama tiga minggu menunjukkan peningkatan yang konsisten dalam
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474 (online) 112
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
kemampuan literasi keagamaan digital, keterampilan pembuatan konten, serta
pemahaman peserta terhadap konsep kesehatan mental berbasis nilai-nilai Islam.
Sebelum kegiatan dimulai, hasil survei awal menunjukkan bahwa sebagian besar
peserta masih menggunakan media sosial sebatas untuk hiburan dan interaksi sosial,
tanpa mempertimbangkan nilai edukatif atau etika digital. Lebih dari 60% peserta
mengaku belum pernah membuat konten dengan tujuan dakwah atau edukasi
spiritual. Setelah mengikuti rangkaian kegiatan yang mencakup webinar, pelatihan,
dan pendampingan intensif, terjadi peningkatan signifikan baik dari sisi
pengetahuan maupun kemampuan praktik. Tabel 1 berikut menyajikan hasil capaian
kegiatan berdasarkan indikator yang telah ditetapkan:
Tabel 1. Capaian Program Pengabdian “Gen Z Bijak Digital”
No
Parameter
Nilai Capaian
1
Peningkatan literasi keagamaan digital
(berdasarkan hasil pre-test dan post-test)
Rata-rata peningkatan 32%
2
Keterampilan pembuatan konten
dakwah kreatif
85% peserta mencapai target kreativitas
dan kualitas konten
3
Kesadaran terhadap kesehatan mental
berbasis spiritual
78% peserta menunjukkan peningkatan
pemahaman melalui refleksi tertulis
4
Partisipasi aktif peserta dalam seluruh
sesi kegiatan
100% kehadiran dan keterlibatan aktif
5
Pembentukan komunitas dakwah digital
remaja
Terbentuk komunitas aktif di tingkat
sekolah dan media sosial
6
Publikasi konten dakwah digital di
media sosial
25 karya unggahan (video, poster,
reels) di akun sekolah dan peserta
Peningkatan literasi keagamaan digital menjadi salah satu hasil paling menonjol.
Berdasarkan hasil pre-test dan post-test, terjadi peningkatan rata-rata sebesar 32%
pada pemahaman peserta terhadap konsep literasi digital keagamaan. Peserta
mampu mengenali sumber informasi keagamaan yang valid, mengidentifikasi hoaks,
dan memahami pentingnya etika dalam menyebarkan pesan dakwah di media
sosial. Hal ini sejalan dengan temuan Kemenag RI (2024) yang menekankan perlunya
peningkatan kemampuan remaja dalam memilah informasi digital agar tidak mudah
terpapar konten ekstrem atau intoleran.
Pada aspek keterampilan, sebanyak 85% peserta berhasil menghasilkan karya
dakwah kreatif dengan kualitas baik, baik dalam bentuk video pendek, infografis,
maupun narasi digital. Konten yang dibuat mengangkat tema-tema ringan namun
bermakna, seperti rasa syukur, pentingnya salat, empati terhadap sesama, dan
pengendalian diri. Hasil karya ini dipublikasikan di media sosial sekolah, seperti
Instagram dan TikTok, dan mendapat tanggapan positif dari guru, teman sebaya,
serta masyarakat umum. Antusiasme ini membuktikan bahwa media sosial dapat
menjadi sarana dakwah yang efektif jika diolah secara kreatif dan komunikatif.
Menurut Rizal, Maula, dan Idamatussilmi (2024), dakwah digital yang dikemas
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474 (online) 113
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
secara menarik memiliki daya jangkau dan pengaruh yang lebih besar terhadap
remaja dibandingkan metode dakwah tradisional.
Dari segi psikologis, program ini juga berdampak positif terhadap kesehatan mental
peserta. Melalui sesi refleksi dan diskusi kelompok, peserta menunjukkan
peningkatan kesadaran terhadap hubungan antara nilai-nilai spiritual dan
keseimbangan emosional. Sebanyak 78% peserta menyatakan bahwa kegiatan ini
membantu mereka mengelola stres, meningkatkan rasa syukur, dan menemukan
ketenangan melalui praktik ibadah dan dzikir. Temuan ini sejalan dengan penelitian
Nadia dan Widiastuty (2024) yang menegaskan bahwa integrasi nilai-nilai keislaman
dalam kehidupan sehari-hari berperan penting dalam memperkuat ketahanan
mental remaja di era digital.
Selain hasil individu, kegiatan ini juga menghasilkan dampak sosial berupa
terbentuknya komunitas dakwah digital remaja di lingkungan sekolah. Komunitas
ini menjadi wadah bagi peserta untuk terus berkolaborasi dalam menciptakan
konten positif dan melanjutkan kegiatan dakwah secara mandiri. Aktivitas ini
memperkuat rasa tanggung jawab sosial dan semangat kebersamaan di antara
anggota, sejalan dengan pandangan Lusri dan Astuti (2024) yang menyatakan bahwa
pembelajaran berbasis partisipasi mampu menumbuhkan solidaritas dan
kemandirian pada generasi muda.
Gambar 1. Dokumentasi Kegiatan PKM
Hasil observasi lapangan juga menunjukkan adanya perubahan perilaku positif di
antara peserta. Mereka menjadi lebih selektif dalam menggunakan media sosial,
lebih terbuka terhadap diskusi keagamaan yang moderat, dan lebih percaya diri
dalam mengekspresikan pesan kebaikan melalui platform digital. Guru pendamping
bahkan mencatat bahwa beberapa peserta mulai memanfaatkan akun pribadi mereka
untuk membagikan pesan dakwah ringan dalam bentuk story dan video singkat. Hal
ini mengindikasikan terjadinya internalisasi nilai spiritual yang berkelanjutan pasca
kegiatan.
Secara umum, kegiatan ini memberikan bukti empiris bahwa pendekatan dakwah
kreatif berbasis literasi digital dapat menjadi strategi efektif untuk memperkuat
karakter dan kesehatan mental remaja di era media sosial. Hasil ini mendukung teori
bahwa keterlibatan aktif dalam kegiatan bermakna yang menggabungkan aspek
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474 (online) 114
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
teknologi, agama, dan psikologi mampu meningkatkan self-efficacy, empati, dan
keseimbangan emosional (Coe et al., 2023; Hamid, 2022). Dengan demikian, program
ini tidak hanya memberikan pengetahuan dan keterampilan teknis, tetapi juga
membentuk kesadaran moral serta spiritual yang berakar pada nilai-nilai Islam.
Analisis mendalam terhadap hasil kegiatan menunjukkan bahwa integrasi antara
dakwah kreatif dan literasi keagamaan digital tidak hanya meningkatkan
kemampuan teknis peserta dalam membuat konten positif, tetapi juga
menumbuhkan pemahaman reflektif terhadap makna spiritual dan tanggung jawab
sosial dalam bermedia. Para peserta mulai memahami bahwa dakwah di media
sosial bukan sekadar aktivitas menyebarkan kutipan atau nasihat agama, melainkan
proses komunikasi yang memerlukan kepekaan etis, estetika visual, serta keakuratan
informasi. Kesadaran ini menjadi penting mengingat fenomena penyebaran hoaks
keagamaan dan ujaran kebencian yang kian marak di platform digital (Kemenag RI,
2024). Dengan membekali peserta kemampuan memilah dan memproduksi konten
yang bernilai edukatif, kegiatan ini membantu menciptakan ekosistem digital yang
lebih sehat dan bermoral.
Selain peningkatan kemampuan literasi digital, kegiatan ini juga berkontribusi
terhadap penguatan aspek psikologis remaja. Hasil refleksi individu menunjukkan
bahwa peserta merasa lebih percaya diri, lebih mampu mengelola stres akademik,
dan lebih tenang dalam menghadapi tekanan sosial setelah mengikuti pelatihan.
Pendekatan spiritual yang diintegrasikan dalam setiap sesi diskusi dan pelatihan
terbukti efektif dalam membangun keseimbangan antara aspek intelektual,
emosional, dan spiritual. Menurut penelitian Coe et al. (2023), generasi muda yang
memiliki keterhubungan spiritual yang kuat menunjukkan tingkat ketahanan mental
yang lebih baik dibandingkan remaja yang kurang memiliki landasan nilai. Dalam
konteks kegiatan ini, keterhubungan tersebut terbentuk melalui kombinasi kegiatan
edukatif, reflektif, dan kreatif yang memungkinkan peserta untuk mengekspresikan
nilai-nilai keislaman secara modern dan positif.
Hasil ini juga memperkuat argumentasi Hamid (2022) bahwa pendekatan dakwah
kreatif dapat berfungsi ganda, yakni sebagai sarana penyampaian nilai dan media
pengembangan diri. Melalui proses pembuatan konten digital, remaja dilatih untuk
berpikir kritis, berkolaborasi, dan mengkomunikasikan gagasan keagamaan dengan
cara yang menarik dan mudah dipahami oleh teman sebaya. Aktivitas ini bukan
hanya meningkatkan literasi digital, tetapi juga menumbuhkan self-efficacy
keyakinan bahwa mereka mampu menjadi bagian dari perubahan positif di
lingkungan sosialnya. Peningkatan kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab sosial
tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan program, sebagaimana terlihat
dari terbentuknya komunitas dakwah digital remaja yang terus aktif hingga
beberapa minggu setelah kegiatan berakhir.
Dari perspektif sosial dan pendidikan, keberadaan komunitas dakwah digital ini
menjadi bentuk nyata keberlanjutan program (sustainability). Anggota komunitas
tidak hanya melanjutkan kegiatan produksi konten positif, tetapi juga berperan
sebagai mentor bagi siswa lain di sekolah mereka. Mereka berinisiatif membuat
kegiatan rutin seperti “Jumat Literasi Digital Islami” dan challenge kreatif di media
sosial bertema akhlak mulia. Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa pendekatan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474 (online) 115
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
partisipatif yang diterapkan dalam pengabdian ini berhasil menumbuhkan
kepemimpinan sosial dan semangat kemandirian pada remaja, sejalan dengan
pandangan Lusri dan Astuti (2024) bahwa keterlibatan langsung peserta dalam
proses pembelajaran komunitas mendorong rasa memiliki dan tanggung jawab
kolektif yang tinggi.
Di sisi lain, keterlibatan guru pembimbing dan pihak sekolah juga berperan penting
dalam keberhasilan kegiatan ini. Dukungan mereka memperkuat koordinasi,
memastikan keberlanjutan kegiatan pasca program, dan memfasilitasi penggunaan
sarana digital sekolah untuk publikasi konten dakwah. Dengan demikian, kegiatan
ini tidak hanya memberi manfaat bagi peserta individu, tetapi juga berdampak
sistemik terhadap lingkungan sekolah. Pihak sekolah bahkan berencana menjadikan
kegiatan dakwah digital ini sebagai bagian dari program ekstrakurikuler tetap. Hal
ini sejalan dengan pendapat Setiawan, Sari, dan Rizky (2024) yang menekankan
pentingnya keberlanjutan program berbasis digital literacy melalui integrasi kegiatan
dalam sistem pendidikan formal.
Secara keseluruhan, hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa penguatan mental
dan spiritual remaja tidak cukup dilakukan melalui ceramah atau penyuluhan
konvensional, tetapi harus disertai pendekatan kreatif yang adaptif terhadap
perkembangan zaman. Kombinasi antara creative da’wah dan literasi digital terbukti
mampu menjembatani kebutuhan spiritual generasi muda dengan cara komunikasi
yang mereka sukai. Kegiatan ini memberikan ruang bagi remaja untuk menjadi
subjek aktif dalam menyebarkan nilai-nilai Islam secara modern, moderat, dan
menyenangkan.
Dengan adanya peningkatan pemahaman, keterampilan, serta terbentuknya
komunitas dakwah digital, maka dapat disimpulkan bahwa program “Gen Z Bijak
Digital” telah mencapai tujuannya secara efektif. Dampak nyata yang ditunjukkan
baik secara kognitif, afektif, maupun sosialmembuktikan bahwa literasi
keagamaan dan kesehatan mental dapat dikuatkan secara bersamaan melalui
pendekatan edukatif yang kreatif dan partisipatif. Temuan ini sekaligus
memperkaya literatur pengabdian masyarakat di bidang pendidikan Islam dan
teknologi digital, serta memberikan model praktis bagi lembaga pendidikan lain
dalam mengembangkan program serupa.
Simpulan dan Rekomendasi
Program “Gen Z Bijak Digital: Penguatan Mental Remaja Melalui Dakwah Kreatif dan
Literasi Keagamaan di Media Sosial” terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan
literasi digital keagamaan, kreativitas, serta kesadaran kesehatan mental di kalangan
remaja. Melalui pendekatan participatory-based learning, peserta tidak hanya
memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga mengalami perubahan perilaku dalam
cara berpikir, berkomunikasi, dan berinteraksi di ruang digital. Hasil kegiatan
menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap etika bermedia,
kemampuan memilah informasi keagamaan yang kredibel, serta kemampuan
mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam konten digital secara kreatif dan moderat.
Selain itu, kegiatan ini juga berhasil menumbuhkan kesadaran spiritual dan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474 (online) 116
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
keseimbangan emosional, yang berkontribusi langsung terhadap penguatan
ketahanan mental remaja di era media sosial.
Pencapaian program ini terlihat nyata dari beberapa indikator keberhasilan, seperti
peningkatan nilai literasi keagamaan digital sebesar 32%, keterampilan pembuatan
konten dakwah kreatif yang mencapai 85% dari target, serta terbentuknya komunitas
dakwah digital remaja yang aktif dan berkelanjutan di lingkungan sekolah. Program
ini juga memperlihatkan bahwa kolaborasi antara tenaga pendidik, komunitas
sekolah, dan mahasiswa pengabdi mampu menciptakan lingkungan belajar yang
partisipatif, adaptif, dan berdampak sosial luas. Kegiatan ini tidak hanya
memberdayakan remaja sebagai pengguna media sosial yang bijak, tetapi juga
menjadikan mereka agen dakwah yang inspiratif, produktif, dan berakhlak mulia.
Dari hasil yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa penguatan mental remaja
melalui dakwah kreatif merupakan strategi efektif untuk membentuk karakter
religius sekaligus kompetensi digital generasi muda. Pendekatan ini menjadi
alternatif yang relevan terhadap tantangan degradasi moral dan tekanan psikologis
yang banyak dialami oleh Generasi Z akibat penggunaan media sosial yang
berlebihan. Dengan mengintegrasikan aspek spiritualitas, kreativitas, dan literasi
digital, kegiatan ini menawarkan model edukasi yang komprehensif dan berorientasi
pada keseimbangan antara akal, hati, dan teknologi.
Sebagai tindak lanjut, beberapa saran dapat diajukan untuk pengembangan program
serupa di masa mendatang. Pertama, kegiatan pelatihan sebaiknya diperluas ke
tingkat sekolah menengah atas dan perguruan tinggi agar jangkauannya lebih luas
serta melibatkan peserta dengan kapasitas digital yang lebih beragam. Kedua, perlu
adanya modul lanjutan yang fokus pada digital content management dan strategi
komunikasi dakwah lintas platform, agar peserta dapat mengoptimalkan berbagai
media digital dengan profesional. Ketiga, kolaborasi dengan lembaga keagamaan,
psikolog pendidikan, dan komunitas kreatif perlu diperkuat untuk memastikan
keberlanjutan program dan memperkaya perspektif pelatihan.
Selain itu, evaluasi jangka panjang perlu dilakukan untuk mengukur dampak
berkelanjutan dari kegiatan terhadap perilaku bermedia sosial dan kesejahteraan
mental peserta. Dengan pengembangan dan pendampingan berkelanjutan,
diharapkan model pengabdian ini dapat direplikasi oleh sekolah, universitas,
maupun organisasi keagamaan sebagai strategi penguatan literasi spiritual dan
digital di kalangan remaja Indonesia. Pada akhirnya, kegiatan ini diharapkan dapat
melahirkan generasi muda yang tidak hanya cerdas teknologi, tetapi juga memiliki
kecerdasan emosional dan spiritual yang kuat untuk menghadapi tantangan
kehidupan digital masa depan.
Daftar Pustaka
Achmad, M., Jannah, R., & Azizah. (2023). Media sosial sebagai strategi baru dalam
dakwah Islam: Studi analisis pada platform “Belajariah”. Dakwatuna: Jurnal
Dakwah dan Komunikasi Islam, 9(1), 115.
https://doi.org/10.54471/dakwatuna.v9i1.2109
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474 (online) 117
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Agusta, J. (2024). Pemanfaatan literasi digital keagamaan dalam membentuk sikap
moderasi beragama siswa. Jurnal Lingkar Mutu Pendidikan, 21(1), 19.
https://jlmp.kemdikbud.go.id/index.php/jlmp/article/download/125/56
Alimuddin, N. (2007). Konsep dakwah dalam Islam. HUNAFA: Jurnal Studia Islamika,
4(1), 7378.
Arsanti, M., & Setiana, L. N. (2020). Pudarnya pesona bahasa Indonesia di media
sosial: Sebuah kajian sosiolinguistik penggunaan bahasa Indonesia. Lingua
Franca: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya, 4(1), 112.
Coe, E., Doy, A., Enomoto, K., & Healy, C. (2023). Gen Z mental health: The impact of
tech and social media. McKinsey Health Institute.
https://www.mckinsey.com/mhi/our-insights/gen-z-mental-health-the-
impact-of-tech-and-social-media
Dwy, R., & Zaini, A. (2021). Efektivitas dakwah melalui media sosial di era media
baru. At-Tabsyir: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam, 8(1), 163174.
http://dx.doi.org/10.21043/at-tabsyir.v8i1.1238
Fadillah, R., & Sari, N. (2023). Pengaruh media sosial (TikTok) influencer dakwah
terhadap perilaku keagamaan remaja. Jurnal Komunikasi dan Penyiaran Islam,
5(2), 4556. https://jkpjournal.com/index.php/menu/article/view/293
Hamid, A. (2022). Strategi dakwah kreatif di kalangan mahasiswa untuk
membangun generasi muda Muslim yang sukses. Jurnal Komunikasi Islam, 10(1),
2334.
Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI). (2024). Memetakan tingkat
literasi digital penyuluh agama. Jurnal Bimas Islam, 17(2), 101112.
https://jurnalbimasislam.kemenag.go.id/jbi/article/download/1293/238/335
0
Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo). (2023). Indeks literasi
digital nasional 2023. https://literasidigital.id
Lusri, R., & Astuti, Y. D. (2024). Penguatan literasi digital pada remaja berbasis
masjid. Menara: Jurnal Ilmu Komunikasi, 16(1), 7789. https://ejournal.uin-
suska.ac.id/index.php/Menara/article/view/27173
Mustaqim, A. M. (2022). Strategi dakwah kreatif di kalangan mahasiswa untuk
membentuk generasi muda Muslim yang sukses. Jurnal Komunikasi dan
Penyiaran Islam, 9(2), 5566.
Nadia, M., & Widiastuty, H. (2024). Dakwah kreatif dan penguatan mental spiritual
remaja. Proceedings of the UNITA National Conference, 2(1), 8897.
Nurdianto, A. (2020). Literasi keagamaan sebagai pondasi pengembangan karakter
siswa. Fikri: Jurnal Pendidikan Agama Islam, 5(1), 110.
https://jurnal.unissula.ac.id/index.php/fikri/article/download/42047/10934
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 2, August 2025, page: 108-118
E-ISSN: 3047-2474 (online) 118
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Pradidi, R., & Suryani, T. (2021). Masalah kesehatan mental pada generasi Z di
Indonesia. Jurnal Kesehatan Komunitas Indonesia, 3(2), 4553.
https://ebsina.or.id/journals/index.php/jkki/article/download/223/165/329
6
Rizal, D. A., Maula, R., & Idamatussilmi, N. (2024). Transformasi media sosial dalam
digitalisasi agama: Media dakwah dan wisata religi. Mukaddimah: Jurnal Studi
Islam, 9(2), 206218. https://ejournal.uin-
suka.ac.id/pusat/mukaddimah/article/download/3909/2287/10878
Setiawan, A., Sari, N., & Rizky, D. (2024). Pelatihan branding digital dan peningkatan
promosi budaya lokal. Jurnal Inovasi Sosial dan Teknologi, 2(1), 2331.
Siagian, N., & Rabitha, D. (2024). Memetakan tingkat literasi digital penyuluh agama.
Jurnal Bimas Islam, 17(2), 101112.
Sukmawati, D., & Hidayat, M. (2024). Peningkatan literasi digital pada anak dan
remaja dalam menghadapi era digital. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 4(1),
6070. https://ejournal.sisfokomtek.org/index.php/jpkm/article/view/5573
YambusLPKSA. (2024). Komunitas kreasi remaja sebagai media dakwah kreatif.
IDRIS: Jurnal Ilmiah Dakwah dan Komunikasi, 2(1), 4556. https://yambus-
lpksa.com/index.php/IDRIS/article/view/36