Tabel dan dokumentasi di atas menunjukkan bagaimana setiap tahap dalam proses pembuatan
Kerupuk Gerandong mengandung nilai-nilai kearifan lokal yang relevan untuk pembelajaran karakter
siswa sekolah dasar. Pada tahap pemilihan bahan baku, siswa dapat belajar tentang pentingnya kejujuran
dan kepercayaan dengan memilih bahan berkualitas, yang merupakan dasar bagi pembentukan sikap jujur
dalam kehidupan sehari-hari. Dalam proses pengolahan, terdapat nilai ketekunan dan kerja keras, yang
mengajarkan kepada siswa bahwa keberhasilan membutuhkan usaha dan dedikasi. Penggunaan alat-alat
tradisional dalam pembuatan kerupuk ini juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar
mandiri dan berpikir inovatif. Dengan mengandalkan alat yang sederhana, mereka dapat melihat bahwa
kreativitas tidak selalu bergantung pada teknologi modern. Terakhir, tahap pemasaran produk
menanamkan nilai-nilai kerjasama dan tanggung jawab kepada siswa. Dalam proses ini, mereka belajar
untuk berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan bertanggung jawab atas peran masing-masing. Pengalaman
ini secara keseluruhan dapat mengembangkan keterampilan sosial dan memperkuat karakter siswa, yang
menjadi bekal penting dalam kehidupan mereka. Kerupuk Gerandong, sehingga pembelajaran menjadi
lebih komprehensif.
Proses produksi yang melibatkan banyak tahapan, seperti pengolahan bahan baku, pencetakan, dan
pemanasan, memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar tentang kerja sama, ketekunan, dan
keberlanjutan. Pembelajaran berbasis kearifan lokal ini memberikan dimensi baru dalam pendidikan, di
mana siswa tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga praktek yang menghubungkan mereka dengan
budaya lokal yang kaya (Mujiburahman, 2022). Dengan menggunakan Kerupuk Gerandong sebagai
media pembelajaran, guru dapat mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Pendekatan pembelajaran kontekstual ini tidak hanya menjadikan siswa lebih peka terhadap budaya
lokal, tetapi juga membantu mereka mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis yang
penting untuk masa depan mereka (Wafiqni & Nurani, 2018). Selain itu, pengenalan nilai-nilai kearifan
lokal ini dapat memperkuat rasa cinta tanah air dan identitas budaya siswa, yang sangat penting di
tengah arus globalisasi yang semakin kencang. Pembuatan Kerupuk Gerandong di Dusun Godegwetan
tidak hanya menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat setempat, tetapi juga kaya akan nilai-nilai
kearifan lokal yang dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran.
Dalam dunia pendidikan, integrasi kearifan lokal dalam kurikulum sangat relevan. Pendekatan ini
tidak hanya membuat pembelajaran menjadi lebih menarik, tetapi juga membantu siswa
mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analitis. Siswa diajak untuk melakukan eksplorasi,
eksperimen, dan refleksi terhadap hasil belajar mereka, yang merupakan bagian penting dari proses
pembelajaran aktif (Aji, 2024). Sistem pembelajaran yang memanfaatkan kearifan lokal juga dapat
meningkatkan keterlibatan orang tua dan masyarakat. Kegiatan pembuatan kerupuk gerandong dapat
melibatkan orang tua sebagai narasumber atau fasilitator, sehingga tercipta kolaborasi antara sekolah dan
komunitas. Hal ini memperkuat hubungan sosial dan mendukung keberlanjutan pendidikan berbasis
kearifan lokal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam pembuatan
Kerupuk Gerandong dapat dijadikan sebagai sumber pembelajaran karakter bagi siswa sekolah dasar.
Proses pembuatannya yang melibatkan berbagai tahap dari pemilihan bahan hingga pemasaran produk,
memberikan pemahaman kepada siswa bahwa setiap langkah memiliki nilai yang dapat diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Menurut Suparno (2022) pendidikan berbasis kearifan lokal sangat penting dalam
memperkaya pengalaman belajar siswa, terutama dalam membentuk karakter mereka. Kearifan lokal
tidak hanya memberikan nilai-nilai moral, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya dan
identitas mereka sendiri. Dalam konteks pembelajaran Kerupuk Gerandong, siswa belajar untuk
menghargai budaya lokal dan memahami nilai-nilai kehidupan yang diajarkan melalui setiap prosesnya.
Penelitian ini sejalan dengan pendapat Rahma (2023) yang mengungkapkan bahwa penggunaan media
kontekstual seperti kearifan lokal dalam pembelajaran dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa
untuk belajar. Hal ini terlihat dari tingginya partisipasi siswa ketika mereka diajak mempelajari
pembuatan Kerupuk Gerandong. Mereka tidak hanya belajar tentang kerupuk, tetapi juga terlibat secara
aktif dalam memahami pentingnya kerja keras dan tanggung jawab melalui proses produksi. Menurut
Damayanti (2024), pendidikan kontekstual memberikan ruang bagi siswa untuk memahami materi
pelajaran dalam situasi nyata. Dengan demikian, siswa lebih mudah memahami dan mengapresiasi nilai-
nilai yang diajarkan. Di masa depan, pendekatan ini dapat diperluas dengan menambahkan modul