I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
1
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
Progresivitas Alumni Mahad Aly Asadiyah
Sengkang dalam Menguatkan Pendidikan Moderasi
Islam
Abd. Haris
a,1
, Nurfaika
b,2
a
Universitas PTIQ Jakarta, Ciputat Timur, Jakarta Selatan, Indonesia
b
Universitas Islam Asadiyah Sengkang, Jl. Veteran No. 46, Sengkang Wajo, Sul Sel, Indonesia.
*
Corresponding Author: abd.haris1890@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 1 April 2024
Direvisi: 18 April 2024
Disetujui: 29 April 2024
Tersedia Daring: 1 Mei 2024
Pedagogi pesantren dirancang untuk menerapkan dan mengembangkan pola
pendidikan yang dapat mengarahkan dan menguatkan nilai-nilai pesantren,
tanpa harus meninggalkan metode pendidikan yang sudah ada sejak dahulu.
Ma’had Aly berinovasi memajukan pendidikan dan dakwah moderasi
sebagai basic pengembangan ajaran keagamaan terhadap generasi Islam di
tengah masyarakat. Pesantren tidak hanya sebagai institusi formal untuk
menguatkan bangsa dan negara. Tetapi juga menjadi patron keutuhan
generasi masa depan bangsa. Kemandirian dan kekuatan isntitusinya telah
diformat dengan akar-akar spiritual yang tidak akan pernah goyah. Maka
tidak mengherankan apabila output suatu pesantren menjadi kiblat. Itu
karena melihat intelektualisme pesantren yang mengalami perkembangan
yang cukup dinamis, kompetitif, berperadaban dan berkemajuan. Perubahan
yang diembannya akan maju melaui pendidikan dan dakwah moderasi
sebagai pemersatu umat. Pendidikan bagi pesantren menjadi corak
tersendiri, yaitu pendidikan yang diarahkan untuk menebar wasatiyah tanpa
harus berselisih. Eksistensi Ma’had aly as’adiyah Sengkang misalnya,
menjadi media agent of change” di tengah-tengah masyarakat yang tengah
bingung terhadap situasi keberagamaan saat ini. Spiritualisme pesantren
As’adiyah yang sudah memiliki akar yang kuat untuk meneguhkan umat.
Keberadaannya di tengah-tengah masyarakat menjadi kebahagiaan
tersendiri bagi umat utamanya di cabang-cabang As’adiyah. Tulisan ini akan
melihat bagaimana partisipasi dan kontribusi alumni Ma’had Aly As’adiyah
Sengkang dalam mewujudkan transformasi sosial melalui pendidikan dan
dakwah secara wasaty di cabang-cabang pondok pesantren As’adiyah yang
tersebar di Indonesia. Jenis penelitian ini adalah kualitatif-deskriptif yang
didukung dari hasil wawancara, observasi dan analisis dokumen yang telah
diolah dan diramu agar menjadi suatu penelitian berharga (valuable).
Kata Kunci:
Transformasi Sosiall
Pendidikan
Dakwah
Moderasi
Mahad Aly
ABSTRACT
Keywords:
Social Tranformation
Education
Dawah
Moderation
Mahad Aly
Pesantren’s pedagogy is designed to apply and develop educational patterns
that can direct and strengthen the values of pesantren, without having to
abandon the educational methods that have existed for a long time. Ma'had
Aly As'adiyah has an important role in innovating and exploring the
knowledge gained through education and dakwah of moderation as the basis
for the development of religious teachings in society. Pesantren is not only a
formal institution to strengthen the nation and state. But it also became a
patron of the integrity of the future generations of the nation. His
independence and essential strength have been formatted with spiritual
roots that will never waver. So, it is not surprising that the output of a
pesantren becomes a reference. That's because it sees the intellectualism of
pesantren which has developed quite dynamically, competitively, civilized
and advanced. The changes it brings will advance through education and
dakwah of moderation as a unifier of the people. Pesantren’s education
becomes a pattern in itself, namely education that is directed to spread
wasatiyah without abandoning the old methodology. The existence of
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
2
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
Ma'had aly as'adiyah Sengkang, for example, has become a media "agent of
change" in the midst of a society that is confused about the current religious
situation. The spiritualism of pesantren already has strong roots to uplift the
people. Its existence in the midst of society became a special happiness for
its people, especially in the branches of As'adiyah. This paper will see how
the participation and contribution of Ma'had Aly As'adiyah Sengkang alumni
in realizing social transformation through education and da'wah wasaty in
branches of As'adiyah spread across Indonesia. This type of research is
qualitative-descriptive which is supported by the results of interviews,
observations and analysis of documents that have been processed and
concocted to become a valuable research.
©2024, Abd. Haris, Nurfaika
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Eksistensi pondok pesantren sejak dahulu hingga dewasa ini, cukup banyak diminati oleh
masyarakat se-nusatara, bahkan dunia internasional. Pesantren hari ini juga sangat meningkat
dan berkembang pesat, ditandai dengan kuantitas jumlah pondok pesantren dan santri yang
sangat meningkat dari tahun ke tahun. Sekarang ini, kontribusi alumni pondok pesantren cukup
berperan penting dalam skala lokal, nasional maupun internasional, baik di bidang pemerintahan,
politik, perekonomian dan lain-lain.
Pesantren juga unik dan menarik untuk diteliti dan dianalisis sistem pendidikannya yang
cukup populer dengan istilah talaqqi dengan konsep tradisional atau klasik bersifat mukim,
kalong, sorogan dan bandongan”. Dalam suku bugis dikenal dengan istilah dan bahasa daerah
mangaji tudang atau mappasantereng”.
Istilah mappasantereng atau mangaji tudang berlaku bagi kalangan santri-santriwati baik
yang mukim maupun yang kalong baik tingkat tsanawiyah hingga tingkatan perguruan tinggi
yang pelaksanaannya magrib dan subuh. Sistem halaqah melibatkan ustaz, ustadzah dalam
bahasa bugis dikenal dengan istilah anregurutta/gurutta, santri (ana’ mangaji), kitab kuning
(kitta’ gundulu).
Kedudukan pondok pesantren tidak dapat dipisahkan dari kehidupan umat Islam Indonesia.
Lembaga pendidikan Islam tertua ini sudah dikenal semenjak agama Islam masuk ke wilayah
nusantara. Oleh karena itu, sejarah pondok pesantren merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari sejarah pertumbuhan masyarakat Islam Indonesia.(Mahmud, 2006).
Pendidikan pesantren merupakan salah satu sistem yang banyak memberikan model-model
pembelajaran dalam bentuk pengkajian buku-buku klasik. Sisi uniknya, biasanya di pesantren
diajarkan ilmu agama yang bersumber dari literatur-literatur yang dikarang oleh ulama salaf,
literatur ini populer dengan sebutan kitab kuning yang membahas seputar Tauhid, Fiqh dan
Akhlak. Pesantren dengan sistem sederhana bukan semata-mata mengajarkan penguasaan ilmu
pengetahuan agama, melainkan sebagai proses pelatihan-pelatihan yang diberikan pada santri
(riyadhoh) agar terbiasa hidup sederhana, menjunjung tinggi moral, menghargai nilai-nilai
spiritualitas dan kemanusiaan, terbangun sikap dan tingkah laku yang jujur. Sedangkan tujuan
pendidikan pesantren bukan untuk sekedar mengejar kepentingan dunia, tetapi belajar semata-
mata mencari ridho Allah swt.(Faiqoh, 2003).
Dibalik pondok pesantren, baik yang tradisional maupun yang modern, tentu ada sosok
tokoh yang memiliki khasanah pengetahuan yang luas dalam proses transfer ilmu, sehingga ilmu
yang dicurahkan bukan hanya sekedar membagi ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai tauhid
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
3
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
dan akhlak dalam mewujudkan santri yang kharismatik. Itulah ulama intelektualis yang memiliki
nilai keikhlasan dan keberkahan. Tokoh yang memang mengabdikan diri di pesantren dengan
beragam ilmu yang didalami dan dikembangkan, sehingga lahirlah tokoh-tokoh intelektual
pesantren.
Secara general dan struktural, semua pondok pesantren memiliki sosok ulama yang
melatarbelakangi berdirinya pesantren, tidak terkecuali pondok pesantren As’adiyah Sengkang.
As’adiyah merupakan lembaga pendidikan Islam yang bergerak di bidang pendidikan dan
dakwah Islamiyah yang dirintis oleh al-marhum Al-‘alim al-‘Allamah Anregurutta Haji
Muhammad As’ad kemudian disingkat menjadi AG (anregurutta) yang lebih masyhur dengan
panggilan Anregurutta Pungngaji Sade. Beliau lahir di Kota Makkah pada hari senin 12 Rabiul
Awal 1236 H/1907 M.(Pasanreseng, 1992).
Pondok pesantren As’adiyah menyelenggarakan pendidikan dan dakwah Islamiyah dan
dikelola secara organisasi kelembagaan. Mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak/Raodatul Atfal,
hingga perguruan Institut Agama Islam As’adiyah (IAIA) yang sekarang telah menjadi
Universitas Islam Asadiyah Sengkang dan perguruan tinggi Ma’had Aly As’adiyah. Ma’had
Aly As’adiyah kini cukup diminati di Sulawesi-Selatan, bahkan di luar Sulawesi-Selatan, seperti
Kalimantan, Sumatera, NTT, Papua, Sulawesi Barat dan Sulawesi Tenggara. Ma’had Aly
As’adiyah Sengkang cukup populer dikalangan masyarakat dan di berbagai cabang As’adiyah.
Mahasantri yang telah menyelesaikan studinya di Ma’had Aly dan dinyatakan lulus akan
dikirim ke luar cabang As’adiyah. Setiap tahunnya terkadang Ma’had Aly tidak mampu
memenuhi kuota permintaan dari cabang As’adiyah. Ma’had Aly memiliki daya tarik tersendiri
dalam dunia pendidikan pesantren utamanya di cabang-cabang As’adiyah baik dalam lingkup
provinsi Sulawesi Selatan maupun di luar provinsi.
2. Metode
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif-deskriptif dengan dukungan lapangan (field
research) berupa observasi lokasi yang menjadi tempat penelitian ini. dari hasil observasi ini,
peneliti juga mendapatkan informasi dari informan secara langsung dan tidak langsung, yaitu
berupa wawancara dari alumni Ma’had Aly, tokoh masyarakat dan wawancara langsung dari
pengurus pusat pondok pesantren As’adiyah yang telah melakukan kunjungan ke cabang-cabang
As’adiyah di dalam dan di luar provinsi. Seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Kalimantan
Timur, Kalimantan Utara dan Papua. Dari data yang diperoleh lau selanjutnya menganalisisnya.
3. Hasil dan Pembahasan
Pesantren adalah institusi pendidikan yang berorientasi pada pembangunan karakter
(caracter building). Pembangunan moral yang ditanamkan dalam diri merupakan salah satu
unsur terpenting dalam menciptakan keteladanan dalam kehidupan bermasyarakat. Moralitas
keislaman dan sosial yang tinggi yang diterapkan dalam dunia pendidikan dan pengajaran tidak
lebih dari sebuah proses pematangan karakter.
Kualitas pendidikan tidak mesti diukur dengan kualitas saja, sebab kualitas tanpa adab juga
akan dianggap nihil di tengah-tengah masyarakat. Inovasi pendidikan pesantren saat ini cukup
beragam. Melalui pola pendidikan yang penuh kelenturan serta memiliki spektrum yang luas,
menjadikannya disebut dengan istilah dischooling society, yakni dengan menjadikan masyarakat
sebagai masyarakat pembelajar dan menjadikan belajar sebagai proses yang berjalan terus.(A’la,
2006) Alih-alih pesantren melakukan pembaruan mengikuti trend modernitas dan sekolah-
sekolah modern, mereka cenderung kehilangan otentisitasnya sebagai pesantren yang
mengetahui persoalan-persoalan agama yang memadai, karakter yang paling mencolok misalnya
ialah membaca kitab kuning, tidak bisa dilakukannya. Karena kebanyakan santri justru lebih
konsentrasi pelajaran-pelajaran umum yang dianggapnya lebih fungsional dan aplikatif, serta
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
4
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
lebih menjanjikan masa depan.(Takbir, 2016) Tidak dengan Pondok Pesantren As’adiyah yang
kekhasan sistem dan proses pembelajaran di pesantren mampu memberikan sumbangsi tenaga,
ide serta pemeliharaan ilmu-ilmu agama sebagai basic mencetak kaderisasi ulama dan kiprahnya
terhadap masyarakat setempat.
Sosok tokoh sosial-intelek bugis Anregurutta Haji Muhammad. As’ad masa kecilnya dilalui
sebagaimana layaknya anak seorang guru agama; mengaji, sekolah dan bermain setelah tugas-
tugas yang diberikan telah usai ditunaikan. Setelah memperoleh pendidikan agama langsung dari
ayahnya sendiri, ia melanjutkan pendidikannya ke madrasah al-Falah. Dan menjadikan kota
mekah sebagai tempat menuntut ilmu dan banyak belajar dari ulama-ulama mekah dan madinah.
Dalam umur masih relatif muda. Sudah menghafal al-qur’an dan dipercayakan menjadi imam
salat tarwih di Masjid al-haram Mekkah. Dengan bimbingan ayahnya pula, Kyai As’ad mampu
menghafal beberapa kitab Safinah al-Najah, Zahdah al-‘Aqaid, Jurumiyah, dan Syarh Dahlan.
Juga menghafal alfiah (1000) bait dan menguasai Nahwu Sharaf.(Sila, 2017) Dan masih banyak
ilmu-ilmu yang lain.
Ilmu yang ditorehkan sosok Anregurutta Haji Muhammad As’ad tidak berlebihan apabila
dikatakan sebagai agen pembaharu (agent of change) di Indonesia Timur dan dikenal sebagai
pondok pesantren tertua di Sulawesi Selatan. Sosok tokoh sosial-intelek bugis ini dalam
sejarahnya merasa ada panggilan batin untuk mengubah perilaku menyimpang terhadap
masyarakat Wajo kala itu, dan juga di dukung oleh informasi masyarakat Wajo yang
menjalankan ibadah haji di kota Mekah yang sempat bertemu Anregurutta Haji Muhammad
As’ad. Meskipun beliau menetap di Mekah, Anregurutta Haji Muhammad As’ad senantiasa
menerima informasi mengenai situasi masyarakat di daerah asal wajo. Khususnya melalui H.
Abdurrahman Chatib Wattang Belawa (pamannya), Kyai Haji Muhammad As’ad mendapat
informasi bahwa daerahnya dipenuhi keangkaramurkaan.(A. Mujib, 2006).
Keberadaan pondok pesantren As’adiyah dianggap banyak memberikan pola dan sistem
pendidikan yang khas dari semua tingkatan, baik metode dalam pengembangan pendidikan dan
dakwah yang sangat menyentuh bagi semua kalangan masyarakat. Keberadaan Ma’ha Aly
As’adiyah Sengkang merupakan institusi pencetak ulama-ulama muda tafaqquh fi al-din, dalam
bahasa lokal bugis disebut dengan istilah “gurutta’ maloloe” dan perannya sangat urgen. Bahkan
pembentukan dan ekspansi masyarakat muslim yang menguasai ilmu-ilmu agama secara
mendalam serta menghayati serta mengamalkannya dengan ikhlas semata-mata ditujukan untuk
pengabdiannya kepada Allah SWT.
Ma’had Aly As’adiyah salah satu institusi pendidikan keulamaan yang ada di bawah
naungan pondok pesantren As’adiyah dan berperan penting dalam pengembangan pendidikan
pesantren, menjaga dan mempertahankan sistem pendidikan yang pernah diaktualisasikan oleh
Anregurutta Haji Muhammad As’ad tanpa harus menghilangkan metode yang pernah diajarkan
oleh Anregurutta Haji Muhammad As’ad. Oleh karena banyaknya pondok pesantren baru
bermunculan saat ini, maka Intelektualisme Pesantren As’adiyah harus berbenah dan
mempertahankan eksistensinya, bergerak maju dalam perubahan dan transformasi sosial dalam
bingkai pendidikan dan dakwah.
A. Pendidikan Ma’had Aly
Latar belakang munculnya pembaharuan (modernisasi) pendidikan Islam di Indonesia
berkaitan erat dangan pertumbuhan gagasan modernisme Islam di Indonesia. Gagasan
modernisme Islam yang menemukan momentumnya sejak awal abad ke 20, pada lapangan
pendidikan direalisasikan dengan pembentukan lembaga-lembaga pendidikan modern yang
diadopsi dari system pendidikan kolonial Belanda.(Ruchman Basori, 2006).
Sama halnya sosok sosial-intelek bugis Anregurutta Haji Muhammad As’ad dalam
pendidikan. Sejak awal perkembangannnya, pesantren ini mencoba mensinergikan antara sistem
pendidikan tradisional dan sistem pendidikan yang diperkenalkan kolonial Belanda dengan
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
5
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
menempuh sistem klasikal (madrasi). Berdirinya madrasah Anregurutta Haji Muhammad As’ad
yang pernah menimba ilmu di kota Mekkah, beliau mengambil cara baru dalam dunia
pendidikan Islam yaitu mensinergikan sistem pendidikan pesantren dengan sistem pendidikan
dan pengajaran madrasah ala Saudi Arabia dan Mesir. Kurikulum yang digunakannya pun
merupakan gabungan dari kurikulum sistem Madrasah Al-Falah di Mekah, sistem Al-Azhar di
Mesir, dan kurikulum madrasah-madrasah di Madinah.(A. Mujib, 2006).
Dalam tahap selanjutnya, sistem pendidikan madrasah di pesantren As’adiyah ditata ulang
penjenjangannya sesuai dengan sistem penjenjangan pendidikan nasional di bawah pengaturan
Departemen Agama Republik Indonesia dengan menambah pelajaran umum dalam
kurikulumnya. Dengan demikian, santri yang mengikuti pendidikan di lembaga tersebut
memperoleh dua hal sekaligus: keluasan ilmu pengetahuan sekaligus kemantapan iman.(A.
Mujib, 2006).
Langkah-langkah pembaharuan tersebut, lembaga pendidikan lainnya di daerah Sulawesi
Selatan mulai terpengaruh dengan terobosan yang diambil pesantren As’adiyah tersebut.
Meskipun Anregurutta Haji Muhammad As’ad telah tiada, namun pesantren yang didirikannya
menjadi saksi sejarah atas ketokohannya. Kata “pembaharuan” dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia mengartikan “pembaharuan” sebagai perubahan radikal untuk perbaikan di bidang
sosial, politik, agama di masyarakat atau negara.(A. Mujib, 2006).
Pembaharuan pendidikan pesantren menarik untuk dikaji, karena mengandung empat
signifikansi: pertama, Kajian pembaharuan pesantren dan madrasah merupakan kajian yang
relevan dalam konteks Indonesia yang sedang melakukan pembangunan modernisasi; kedua,
Pesantren merupakan sub-cultural pendidikan Islam di Indonesia sehingga dalam menghadapi
pembaharuan akan memberikan warna yang unik; ketiga, Pendidikan pesantren disinyalir
merupakan prototype model pendidikan yang ideal bagi bangsa Indonesia. Karena di dalamnya
menyeimbangkan antara ranah kognitif, afektif dan psikomotorik; keempat, Untuk mengamati
apakah pesantren yang dikatakan sebagai sebuah lembaga pendidikan tradisional melakukan
pembaharuan atau tidak dan sejauh mana pembaharuan pesantren dilaksnakan untuk menjadikan
dirinya mampu berdialektika dengan modernisasi dan dunia luar.(A. Mujib, 2006).
Secara umum pondok pesantren yang ada di Indonesia menyentuh dalam segala sektor, baik
pembaharuan, sub-cultural, model pendidikan yang ideal, serta bagaimana pesantren mampu
berdialektika dengan modernisasi dunia. Secara khusus Ma’had Aly As’adiyah Sengkang
termasuk pesantren yang sangat progresif dan dinamis. Hal tersebut dapat dilihat
perkembangannya lima tahun terakhir. Alumi Ma’had Aly As’adiyah yang berkesempatan
mengabdikan diri turut berkontribusi dalam pendidikan dan dakwah.
Peran alumni yang telah menyelesaikan pendidikannya, mencoba mengaktualisasikan diri,
menerapkan sistem atau pola pendidikan di tengah-tengah masyarakat, bahkan banyak
permintaan masyarakat untuk mendirikan madrasah, huffadz bagi anak mereka khususnya di
cabang-cabang As’adiyah di dalam lingkup Sulawesi-Selatan, bahkan di luar pulau Sulawesi.
Cabang As’adiyah di Kalimantan Utara, Sebatik misalnya, posisinya berada di daerah
perbatasan Indonesia-Malaysia, pra kedatangan alumni Ma’had Aly cukup memperihatinkan
akan pergaulan anak-anak remaja, karena sangat rentang dengan pergaulan bebas khususnya
masalah narkotika. Kesadaran dan praktek keagamaan masih jauh dari nilai-nila agama Islam itu
sendiri, utamanya anak-anak remaja. Setelah cabang As’adiyah Sebatik muncul dan dikenal
ditengah-tengah masyarakat, praktek keagamaan di dalam keseharian masyarakat pun mulai
berangsur-angsur diterapkan dan menjadi suatu kebahagiaan yang tampak terhadap masyarakat
pun mengobati kekhawatirannya terhadap anak-anak mereka sendiri. Apalagi masyarakat bugis
yang merantau merasa terobati keberadaan cabang As’adiyah, karena masyarakat sangat paham
akan perkembangan dan pergaulan di perbatasan. Dalam tahap perkembangannya cabang
As’adiyah Sebatik menjadi pondok pesantren percontohan di Provinsi Kalimantan Utara.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
6
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
Kemampuan alumni Ma’had Aly dalam mempengaruhi praktek-praktek keagamaan juga
terlihat adanya perubahan khususnya dalam berpakaian, sehingga perubahan itu berangsur
angsur membaik. Remaja putri merasa malu berpakaian minim dan tidak menutup aurat
“berhijab”. Dalam ranah pembangunan madrasah, masyarakat berperan penting dalam
pembangunan, baik materi maupun non-materi, bahkan masyarakat sendiri yang banyak
menguras tenaga dan pikiran membangun madrasah dan pondok tahfidz demi anak-anak dan
cucu mereka. Apalagi sejak dahulu hingga sekarang pondok pesantren As’adiyah tetap eksis
dalam membangun insan-insan yang berakhlak al-karimah terutama pembangunan karakter itu
(caracter building).
Cabang As’adiyah Santang Tengah Kalimantan Timur juga terlihat perkembangannya,
Meskipun tergolong cukup baru, tetapi santri-santrinya banyak meraih prestasi baik tingkat
kabupaten, maupun tingkat nasional khususnya cabang hifdzil qur’an 5 juz putra dan putri.
Bukan hanya itu dalam kegiatan yang sama, santri-santrinya juga mengikuti cerdas cermat
Qur’an (CCQ) tingkat nasional tahun 2018. Selanjutnya juga santri-santrinya berpartisipasi
dalam ajang Musabaqah Hifdzil Qur’an tingkat asean zona Kalimantan, baik Kalimantan Utara
maupun Kalimantan Barat juga mendapat prestasi misalnya 5 juz putra dan 10 juz putri.
Pondok pesantren banyak mengaktualisasikan nilai tabarruk atau barokah dari tokoh ulama
pesantren yang menjadi basic transfer ilmu pengetahuan kepada santri-santrinya. Ma’had Aly
juga menjadi bagian dari institusi As’adiyah yang sangat menjung tinggi nilai tabarruk atau
barokah terhadap Guru-gurutta dan Anregurutta. Dengan nilai tabarruk itulah yang kemudian
diyakini dapat menjadikan washilah ilmu pengetahuan mudah diterima karena memuliakan
guru-gurunya di pondok pesantren.
Perkembangan cabang As’adiyah dapat melihat pengaruh alumni Ma’had Aly yang banyak
berkiprah dan berbaur di tengah-tengah masyarakat tempat mengabdikan dirinya, membangun
madrasah mulai tingkat taman kanak-kanak hingga tingkat madrasah aliyah, membagun lembaga
tahfidz, membuat kajian-kajian kitab klasik, majlis ta’lim, dan lainnya yang dianggap penting
oleh masyarakat dalam pengembangan SDM yang sadar akan perilaku sosial. Itu pun permintaan
dari masyarakat sendiri dan sangat antusias. Bahkan ada di antara alumni-alumni mengambil
peran dalam kursi pemerintahan misalnya kepala desa, politikus, pengusaha dan lain-lainnya.
K.H. Muhyiddin Tahir menuturkan bahwa alumni-alumni Ma’had Aly As’adiyah tidak bisa
dipungkiri keberhasilannya ada indikator dan faktor keikhlasan serta keberkahan barakka’
anreguru”, yang diyakini para alumniyang mengabdi di cabang-cabang As’adiyah sebagai
wasilah dalam menjalankan amanah. Beliau menambahkan bahwa dalam persoalan pengabdian
sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Anregurutta Haji Muhammad As’ad al-
bugisy“tettengiwi agamana puang allahu ta’ala, naissengmuatu aga muakkattaiyye”. Secara
khusus alumni-alumni memahami bahwa dengan memegang teguh agama Allah swt. dengan
penuh keikhlasan, Allah mengetahui segalanya apa yang menjadi tujuan kita. Tetapi
mengutamakan keikhlasan.
Melihat metodologi pondok pesantren As’adiyah yang telah dipraktekkan oleh anregurutta
Haji Muhammad As’ad sangat melekat dengan metodologi yang diajarkan hari ini. Perubahan
dan perkembangan di pondok pesantren As’adiyah sekarang ini, tidak menghilangkan atau
menghapus substansinya. Progress, dinamis, berperadaban boleh terjadi tanpa harus menghapus
metodologi sebelumnnya. Secara garis besar ada empat level pembaharuan pendidikan Islam di
Indonesia: Pertama, level kelembagaan, yaitu pembaharuan atau perubahan lembaga pendidikan
Islam, baik dalam bentuk transformasi diri lembaga yang sudah ada maupun mendirikan
lembaga pendidikan Islam yang baru; kedua, Substansi isi (conten) kurikulumnya, yaitu dari
pengajaran ilmu-ilmu umum ke dalam lembaga pendidikan Islam; ketiga, Aspek metodologis
yaitu perubahan metodologi pengajaran yang selama ini diterapkan dalam lembaga pendidikan
Islam yang dianggap kurang relevan; keempat, Dari segi fungsi. Secara tradisional, fungsi
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
7
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
lembaga pendidikan Islam meliputi transfer ilmu-ilmu keislaman (transfer or Islamic
knowledge), memelihara tradisi Islam (mantainance of Islamic tradition), dan melahirkan ulama
(reproduction of Ulama), diubah mejadi lebih komplek seperti lembaga pendidikan Islam
berfungsi sebagai agent of social transformation.(A. Mujib, 2006).
Pendidikan yang diterapkan alumni Ma’had Aly yang ada di cabang-cabang As’adiyah tetap
mengarusutamakan metodologi yang dikembangkan oleh As’adiyah. Cabang As’adiyah
Sulawesi Barat yang ada di Wonomulyo dan Tanamoni Kabupaten Pasang Kayu. Sistem dan
pola pendidikan tidak jauh berbeda dengan sistem pendidikan cabang As’adiyah yang ada di
Provinsi lain. Baik dalam persoalan kurikulum As’adiyah juga persis sama yang diterapkan di
cabang-cabang As’adiyah.
Sistem pendidikan yang menarik, kegiatan ekstra, tahfidz atau metode-metode baru hasil
kreativitas alumni-alumni Ma’had Aly ternyata mampu bersaing dengan sekkolah-sekolah
umum, bahkan beberapa murid pindah sekolah dari sekolah umum ke cabang As’adiyah. K.H.
Nurdin Maratang dalam kunjungannya di cabang As’adiyah di Kabupaten Bantaeng dan
Kabupaten Luwu mengatakan bahwa, kiprah Ma’had Aly sangat kuat dalam pendidikan,
ditandai dengan animo masyarakat yang sangat antusias. Bukan hanya itu, tetapi juga bisa dilihat
dengan alumni-alumni yang telah selesai pengabdiannya, masyarakat justru meminta santri
untuk tetap mengabdi dan tinggal di Luwu, bahkan tidak jarang juga alumni yang mengabdi
mendapatkan jodoh dan menetap di cabang As’adiyah. Itu semua tidak lepas dari antusiasme
masayarakat yang memang suka santri ma’had aly. Baik dari aspek pendidikan, keteladanan dan
keilmuan.
Secara umum, eksistensi pondok pesantren As’adiyah masih menjadi panutan. Selali itu,
tetap memiliki fungsi-fungsi berikut: pertama, lembaga pendidikan yang melakukan transfer
ilmu-ilmu pengetahuan agama (tafaqquh fi al-din) dan nilai-nilai Islam (Islamic values). Kedua,
lembaga keagamaan yang melakukan kontrol sosial (social engineering).(Fathudin, n.d.) Output
pesantren santri mendapatkan banyak hal positif bagi pembentukan jati dirinya (caracter
building) menjadi nilai yang wajib dipertahankan, sehingga berkembang, berdaya guna serta
menjadi agen perubahan bagi diri, keluarga dan masyarakat. Dengan terciptanya silsilah atau
sanad keilmuan dari ulama-ulama akan menciptakan jejaring dan sinergi antar pondok pesantren
yang ada. Hal ini sangat urgen karena tantangan, rintangan zaman terus menuntut pendalaman
ilmu yang spesifik.
Fungsi pondok pesantren sebagai lembaga dakwah Islam dapat tercapai dengan sukses
apabila ia dapat dipetakan menjadi dua hal: yaitu internal dan eksternal. Peran internal adalah
mengelola pesantren berupa pembelajaran agama kepada santri. Sedangkan peran eksternal
adalah berinteraksi dengan masyarakat termasuk pemberdayaan dan
pengembangannya.(Muhammad Jamaluddin, 2012).
B. Dakwah Moderasi Ma’had Aly
Awal mula keberadaan pesantren di Indonesia sebagai lembaga pendidikan Islam yang
tertua tentu saja tidak dapat dipisahkan dari sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Pada
mulanya, para tokoh-tokoh yang menyebarkan agama Islam mendirikan masjid sebagai tempat
mengerjakan salat jumat dan pusat dakwah islamiah, dan juga pada tiap-tiap kampung mereka
mendirikan surau dan langgar. Di tempat tersebut mereka belajar salat dan mengaji dalam
jumlah besar ataupun kecil. Mereka duduk di lantai menghadap sang guru. Hal seperti ini lebih
dikenal dengan istilah halaqah.(Hasbullah, 2001).
Halaqah pada awalnya kelompok pengajian dan pengkajian Islam serta pusat penyebaran
dakwah, selanjutnya berkembang menjadi lembaga yang dinamakan pesantren, sehingga
keberadaan pesantren sebagai lembaga pengajian atau dakwah dan sudah menjadi satu kesatuan
yang tidak dapat dipisahkan. Pesantren merupakan pendidikan Islam tradisional mempunyai
kekhasan yang berbeda dengan lembaga lainnya. Ciri khas yang menonjol adalah adanya Kyai
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
8
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
yang mengajar dan mendidik serta menjadi panutan, santri yang belajar pada Kyai-nya, masjid
sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan dan salat jamaah, asrama tempat tinggal para santri,
dan kitab kuning sebagai sumber ilmu dalam tradisi keilmuan pesantren.
Dalam lingkup pesantren, kyai merupakan elemen yang paling esensial.(Bashori, 2017)
Kyai merupakan sosok sentralistik, otoritatif, dan pusat seluruh kebijakan. Keberadaan kyai
dalam lingkungan pesantren laksana jantung bagi kehidupan manusia.(Mastuhu, 1997) Intensitas
kyai memperlihatkan peran yang sifatnya sentralistik, dan otoriter disebabkan karena kyailah
perintis, pengolah, pengasuh, pemimpin dan bahkan pemilik tunggal sebuah pesantren.(Yasmadi,
2002).
Tradisi keilmuan yang ada di Ma’had Aly menjadi kekhasan di setiap cabang-cabang
As’adiyah. Dalam ranah dakwah juga menjadi kekhasan, dan alumni yang mengabdi, juga
menjadi kepuasan tersendiri bagi masayarakt setempat. Santang Tengah, Kalimantan Timur
misalnya dalam proses pengembangan dakwah Ma’had Aly mendapat dukungan masyarakat
setempat dalam berdakwah, terbukti ketika ada undangan-undangan nasehat pernikahan, hajatan,
akikahan, tasyakuran dan lain-lainnya, alumni Ma’had Aly menjadi unsur penting dalam
kegiatan kemasyarakatan. Bahkan paling urgen, masyarakat Santang tengah meminta sendiri
untuk dibuatkan komunitas dakwah seperti majlis ta’lim, pengajian dasar khusus masyarakat
yang buta huruf al-Qur’an, hingga pengkajian kitab klasik dalam konteks fiqh kemasyarakatan.
Segala bentuk sektor keagamaan alumni Ma’had Aly cukup memperlihatkan kiprahnya di
tengah-tengah masyarakat. Dengan tujuan adalah dapat membimbing masyarakat yang memang
kabur dalam persoalan agama, apalagi dalam persoalan mu’amalah. secara garis besarnya dalam
dunia dakwah kiprahnya cukup berkontribusi dalam mewujudkan perubahan di tengah-tengah
masyarakat. Karena sebelum keberadaan alumni Ma’had Aly di Santang Tengah, masih
memperihatinkan dalam persoalan keagamaan.
Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang adalah salah satu pesantren tertua dan terbesar di
Sulawesi Selatan yang awal mula didirikannya juga berupa pengajian dengan cara melingkar
duduk bersila atau halaqah. Adapun istilah halaqah di Pondok Pesantren As’adiyah lebih
dikenal dengan istilah mappasantereng atau mangaji tudang yang diperuntukkan bagi semua
kalangan santri dari tingkatan pendidikan sanawiah sampai tingkatan pendidikan tinggi dan
dilaksanakan di luar jam pelajaran, yaitu setelah salat magrib dan setelah salat subuh. Sistem
halaqah adalah kegiatan mappasantereng atau mangaji-tudang yang melibatkan unsur-unsur
seperti, anregurutta/gurutta, santri, materi dari kitab kuning, dan metode-metode yang digunakan
sebagai suatu komponen yang satu sama lainnya saling berkaitan.
Materinya khusus pengetahuan agama dan diberikan di salah satu ruangan di rumah
Anregurutta Haji Muhammad As’ad dan mendapat perhatian besar dari masyarakat Wajo. Hal
itu ditandai dengan semakin bertambahnya santri. Mengingat jumlah santri semakin bertambah,
maka pengajian dipindahkan ke Masjid Jami Sengkang.(Rama, 2003).
Melihat kondisi masyarakat wajo saat itu, Anregurutta Haji Muhammad As’ad menempuh
strategi-strategi dakwah dalam mendekati masyarakat tersebut (Rama, 2000). Pertama, Beliau
berusaha mengamati dan memahami situasi sosial keagamaan masyarakat ini secara mendalam.
Dari pengamatan itu K.H. Muhammad As’ad mengakui bahwa pelanggaran agama yang terjadi
di tengah-tengah masyarakat adalah akibat ketidaktahuan mereka terhadap ajaran Islam yang
sebenarnya.Kedua, melakukan pembaharuan dan penyesuaian diri. Pada tahap ini beliau
melakukan sosialisasi ajaran Islam kepada masyarakat. Beliau memberikan contoh yang baik
dalam beribadah dan berhubungan sosial. Ia juga banyak melakukan perjalanan dari kampung ke
kampung lainnya untuk diri sebagai “da’i kelana”, setelah merasa yakin bahwa masyarakat
mengenal dan menaruh simpati kepadanya, maka ia pun melakukan strategi selanjutnya. Ketiga,
yaitu tahap pembinaan dan pengajaran Islam kepada masyarakat Wajo dan berdakwah melalui
pengajian di pondok pesantren.(A. Mujib, 2006).
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
9
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
Strategi-strategi ini kemudian dikembangkan hingga saat ini, bahkan santri-santri As’adiyah
melakukan ekspansi dakwah dalam skala lokal maupun nasional. Ma’had Aly misalnya secara
khusus cukup berkembang dan diminati dakwahnya yang sifatnya bi al-mau’idzati al-hasanah.
Dalam konteks lokal maupun skala luar daerah, dakwah Ma’had Aly mampu mentransfer
ilmunya dengan bahasa sopan dan lugas khususnya bahasa bugis, menurut masyarakat setempat
merasa sangat pas penyampaiannya. Dalam bahasa bugis “mattemme-temme”. Apalagi
masyarakat yang mengundang itu memang kesehariannya bahasa bugis. Selain itu secara rutin
dakwah Ma’had Aly As’adiyah banyak di kirim ke luar Sulawesi Selatan pada bulan ramadhan
sesuai permintaan masyarakat di luar. Misalnya zona Sulawesi, kalimantan, Papua, Sumatra
bahkan ada yang sampai ke negeri tetangga Malaysia.
Retorika dakwah pun menjadi kekhasan bagi alumni yang berkiprah dalam berdakwah.
misalnya, ada yang dikontrak oleh masyarakat untuk berdakwah 2-4 tahun, salah satu yang
membuat masyarakat merasa tertarik bukan hanya dakwahnya yang tegas, lugas, sopan saja,
tetapi juga karena santrinya menghafal quran memiliki kekhasan suara yang menggoda dan
membuat masyarakat menikmati bacaannya. Dalam bulan ramadhan santri Ma’had Aly
As’adiyah banyak melakukan aktivitas ramadhan bersama masyarakat setempat dengan
membuka kajian kitab fiqh, belajar qur’an, majlis ta’lim, hingga zikir-zikir yang memang
berbaur dan beradaptasi dengan masyarakat setempat. Dalam skala nasional juga sesekali tampil
di layar kaca misalnya ANTV.
Dakwah Ma’had Aly tidak pernah menghilangkan substansinya, misalnya berdakwah
tafaqquh fi al-din dan pengembangan dalam membentuk masyarakat berakhlak, arah dan
tujuannya adalah menjaga iman dan ketaqwaan dalam aktivitasnya. karena dakwah Islamiyah
merupakan upaya penyiaran ajaran dan pengetahuan Islam yang dilakukan secara Islami, baik
berupa ajakan atau seruan untuk menigkatkan keimanan dan ketaqwaan ataupun teladan yang
baik (uswatun hasanah). Dan, ini tentunya menjadi bagian dari tugas pesantren. Tugas dakwah
sejatinya merupakan manifestasi dari pemahaman paripurna dalam tafaqquh fi al-din. Sebab
dakwah Islamiyah pada dasarnya merupakan perintah agama. Akan menjadi lebih signifikan lagi
manakala tugas ini dijadikan sebagai pengejawantahan dari pengetahuan ajaran Islam dan jiwa
keagamaan.
Cabang As’adiyah di Papua agak sedikit berbeda dalam konten ceramah yang disampaikan,
Karena di Papua khususnya di distrik Asgon, ada non muslim. Tentu harus ada strategi-strategi
khusus yang harus dimiliki. Biasanya dalam menyampaikan ceramah tidak terlalu banyak
menyentuh masalah-masalah perbedaan agama, bahkan menyinggung agama lain, tetapi lebih
banyak menyampaikan masalah-masalah moderasi beragama atau kerukunan antar umat
beragama. Bukti adanya moderasi beragama, tidak jarang penduduk asli di Asgon terkadang
turut meramaikan hari-hari besar keagamaan umat Islam, misalnya malam takbiran. Mereka
turut ikut keliling kampung dan meramaikan malam takbiran. Meskipun mereka tidak ikut
bertakbir, tapi tidak jarang juga penduduk asli banyak yang masuk Islam, karena melihat
indahnya Islam di Papua khususnya Asgon. Sebenarnya dalam berdakwah itu sifatnya
kondisional, kalau berdakwah di minoritas Islam, tentu penyampaiannya harus hati-hati dan
lebih menekankan ke arah perdamaian antar umat beragama, misalnya dakwah bi al-hal
menampakkan kedamaian di mata mereka, saling mengundang satu sama lain sebagai wujud
menghormati pejabat non-muslim dan lain sebagainya. Dengan transformasi bi al-hal tersebut
adalah dakwah yang sangat efektif untuk mendemostrasikan nilai-nilai perdamaian di Papua.
K.H. Muhyiddin Tahir menambahkan bahwa basic As’adiyah dalam berdakwah adalah
wasathiy, posisinya tengah-tengah, tidak posisi kanan juga tidak berada pada posisi kiri. Toleran
atau moderat. Tetapi ketika ada hal-hal yang diminta dan dinyatakan masyarakat tidak serta
merta harus menerima, tetapi harus dengan penuh pertimbangan. Dakwah Islamiyah merupakan
kegiatan yang membutuhkan berbagai pra kondisi, terutama yang terkait dengan sumber daya
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
10
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
manusia (SDM) harus banyak memahami ajaran agama Islam. Penyediaan tenaga-tenaga
dengan kualifikasi demikian juga merupakan bagian penting dari pondok pesantren.
Pondok pesantren As’adiyah sendiri secara umum mulai dari tingkatan MTs. Hingga
perguruan tinggi tidak terkecuali Ma’had Aly As’adiyah Sengkang selalu mengadakan training
dakwah pra ramadhan sebagai bekal ketika terjun dan berkiprah di bulan suci ramadhan.
Beberapa tahun terahkhir Ma’had Aly As’adiyah juga mengembangkan training dakwah menjadi
dialog seputar ramadhan, di dalamnya bukan hanya seputar ramadhan tetapi juga membahas
masalah-masalah aqidah, mu’amalah, akhlak hingga persoalan kontemporer. Dan semua itu
harus ditempuh dengan penggemblengan dan pemahaman fiqh. Karena ketika santri terjun ke
masyarakat, mereka dihadapkan banyak masalah fiqh terkhusus fiqh perempuan. Kiprah
Ma’had Aly dalam ranah dakwah tidak sampai di situ. Melihat fenomena sosial di bulan suci
ramadhan, terkadang masyarakat merasa malu bertanya tentang fiqh kewanitaan. Dan pada
akhirnya ada juga permintaan khusus masyarakat kepada santriwati untuk terjun dalam ranah
dakwah di bulan suci ramadhan.
Dakwah bagi pondok pesantren sejatinya lebih banyak membimbing masyarakat agar lebih
faham tentang persoalan-persoalan ‘ubudiyah yang banyak mengajak kepada kedamaian,
ketenangan, bukan justru sebaliknya banyak membingungkan apalagi persoalan khilafiyah. Salah
satu penyebab terjadinya perbedaan ekstrem adalah karena unsur dalam berdakwah lebih banyak
ke khilafiyah dan pada akhirnya masyarakat berselisih. Padahal dasar-dasar agama saja masih
banyak yang belum paham. Oleh karena itu, peran dan kontribusi pondok pesantren As’adiyah
masih eksis, meskipun pada awalnya dakwah melalui media radio suara As’adiyah (RSA), dan
pada akhirnya dikenal hingga ke plosok-plosok dan dikenal sebagai organisasi yang bergelut
dalam bidang pendidikan dan dakwah, citra inilah yang banyak dikenal oleh masyarakat yang
ada di luar Kabupaten Wajo.
Perkembangan dakwah yang dilakukan oleh Anregurutta yunus dimulai tahun 1968
didirikan sebuah studio radio amatir yang di bernama Radio Suara As’adiyah (RSA). Radio ini
didirikan agar lebih memudahkan untuk melakukan dakwa kepada masyarakat, meskipun
peralatan yang di gunakan pada saat itu masih sangant terbatas, namun sebahagian kalangan
menganggap bahwa ini adalah suatu gebrakan yang besar di masa priode kedua
kepemimpinannya karena aktifnya Radio suara As’adiyah dalam memberikan dakwah dan
informasi melalui program yang di jalankan setiap harinya.(Kaharuddin, 2015).
RSA kemudian berkembang dan mengikuti perkembangan arus global, RSA bisa live
streaming kapan dan dimana pun bisa di dengar. RSA juga banyak dimanfaatkan alumni-alumni
yang memang berkompeten di bidang dakwah, dikenal dengan da’i kondang bisa hadir di studio
live. Bukan hanya itu RSA juga sarana dialog seputar fiqh berbasis kitab kuning senin malam
dan dihadiri santri dan santriwati Ma’had Aly As’adiyah, dan masyarakat wajo yang mengikuti
dapat bertanya melalui via handphone. Itulah rutinitas Ma’had Aly sebagai sarana dakwah.
C. Transformasi sosial
Selain tafaqquh fi al-din dan dakwah, pesantren juga menjadi agen pembaharu atau
pengembangan masyarakat. Peran serta kontribusi pesantren dalam bidang yang satu ini tidak
diragukan lagi. Terbukti dengan banyaknya tokoh masyarakat, baik lokal maupun internasional,
yang notabene-nya adalah lulusan pesantren. Pengembangan seutuhnya terlihat pada kenyataan
adanya ikatan warga masyarakat terhadap eksistensi pondok pesantren, terutama yang terkait
dengan peranannya sebagai lembaga pendidikan, keagamaan sekaligus pengembangan
masyarakat. Pengaruh pesantren telah terbukti mampu memberikan kontribusi yang signifikan
dalam memberdayakan masyarakat, baik di sekitar pondok maupun masyarakat luas.(Mahmud,
2006:54) Bahkan kenyataan itu menjadikan pondok pesantren sangat kondusif memainkan
peranan pemberdayaan (enpowerment) dan transformasi masyarakat secara efektif.(Mahmud,
2006: 55).
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
11
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
Pondok pesantren As’adiyah lahir untuk memberikan respon terhadap kondisi dan
problematika sosial suatu masyarakat yang tengah dihadapkan pada runtuhnya sendi-sendi
moral, perilaku-perilaku sosial menyimpang. Kiprah pesantren As’adiyah juga banyak
melakukan transformasi nilai. Dalam konteks ini, kehadiran Ma’had Aly As’adiyah bisa disebut
sebagai agen perubahan sosial (as agent of social), juga sebagai agen pembaharu (as agent of
change) salah satunya menjauhkan masyarakat dari segala keburukan moral, kekurangan ilmu
pengetahun dan bahkan pemberantasan buta huruf.
Semenjak keberadaan alumni Ma’had di Santang Tengah misalnya masyarakat sangat
antusiasme dan sangat mendukung anak-anak mereka menempuh pendidikan di sana, bahkan
semenjak adanya pembelajaran al-Qur’an, meskipun pada awalnya hanya berupa pengajian-
pengajian dasar di pondok, serta melihat perkembangan anak-anak di sana, masyarakat pun turut
andil dalam pembangunan pondok tahfidz di Santang Tengah.
Figur kyai muda gurutta maloloe” di tengah-tengah masyarakat Santang, sangat
berpengaruh dalam hal bi al-lisan, dan bi al-hal, karena kenyataannya mampu membentuk
masyarakat yang dulunya kabur dalam persoalan agama, mu’amalah dan kaitannya dengan
pemahaman fiqh ibadah. Kini sudah mulai paham terhadap persoalan keagamaan. Selain itu juga
tampak dalam mentransformasi masyarakat dalam dakwah aksi atau pemberian contoh.
Pendekatan ini cukup efektif dan efisien dalam mengajak umat dan masyarakat untuk berbuat
kebaikan dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan (Amar Ma’ruf Nahi Mungkar).
Dalam konteks pendidikan Islam, pendidikan mempunyai tiga karateristik yang dapat
menunjang partisipasi perubahan masyarakat (transformasi) yaitu: pertama, penekanan pada
pencarian ilmu pengetahuan dan pengembangan atas dasar ibadah; kedua, pengakuan akan
potensi dan kemampuan seseorang untuk berkembang dalam kepribadian, atau berakhlakul
karimah; ketiga, pengamalan ilmu pengetahuan atas dasar tanggung jawab kepada Tuhan,
masyarakat manusia. (The Founding Father; K.H. A. Wahid Hasyim).
Alumni-alumni Ma’had Aly As’adiyah mampu mentransformasikan menjadi masyarakat
yang tidak lagi kabur dalam memahami agama, karena alumni Ma’had Aly banyak berkontribusi
dalam pengembangan masyarakat, baik dalam keagamaan maupun sosial dan bahkan
meminimalisir perilaku negatif sosial kemasyarakatan dengan berbagai pendidikan dan dakwah.
Hal yang serupa cabang As’adiyah Sebatik, mengatakan bahwa dalam transformasi masyarakat
tidak perlu diragukan lagi dalam berbaur dan menjadi contoh di tengah-tengah masyarakat
Sebatik.
Karena mereka bukan hanya sebagai sosok pendidik saja, melainkan sebagai publik figur
dalam tataran sosial kemasyarakatan. Tidak berlebihan bahwa Ma’had Aly merupakan generasi
kader ulama yang mengedepankan nilai-nilai pendidikan dan dakwah, baik bi al-lisan, bi al-hal
karena, kadar keilmuannya memang banyak mengarahkan ke ranah itu.
Dalam transformasi sosial di minoritas Islam seperti di Asgon Papua, tentu lebih banyak bi
al-hal, bukan hanya Islam secara umum tetapi non-muslim secara khusus. Karena dengan upaya
seperti itu akan mereka ketahui dan memahami bahwa Islam adalah agama yang damai dan
mencintai kedamaian. Oleh karena itu, pesantren dipersamakan dalam tiga fungsi kegiatan yang
dikenal dengan Tri Darma Pondok Pesantren yaitu, pertama, peningkatan keimanan dan
ketaqwaan terhadap Allah swt.; kedua, pengembangan keilmuan yang bermanfaat, dan ketiga,
pengabdian terhadap agama, masyarakat, dan negara.(Mahmud, 2006: 3).
Pesantren merupakan lembaga yang lebih mengarahkan, membina, mendidikan generasi-
generasi masa depan bangsa untuk menuntut ilmu, kemudian mengamalkan ilmunya pada
masayarakat. Di tangan mereka ada kekuatan yang akan mampu merubah mind set masyarakat
agar lebih maju, berkeadilan serta berperadaban. Mereka adalah simbol kekuatan kultural yang
akan melesat ke masa depan. Mereka bukanlah “bara api yang siap memangga siapa pun,
melainkan “mata air” yang siap menghidupi dunia.(Hasbi Indra, 2003).
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
12
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
Dari sini, sosok Anregurutta Haji Muhammad As’ad sebagai tokoh sentral yang kiprahnya
sudah tidak diragukan lagi. Apalagi Ma’had Aly notabene-nya adalah kader-kader ulama. Kini,
puluhan tahun pasca kematian ulama muktabar ini, yang terkubur bersama ilmunya, kaderisasi
ulama di tempat pengabdiannya pada lembaga pendidikan yang ia dirikan tetap berjalan.
Lembaga kaderisasi dimaksud adalah al-Ma’had al-Aly li al-Dirasat al-Islamiyah al-
As’adiyah yang dikenal dengan “Ma’had Aly As’adiyah Sengkang merupakan model
pendidikan tinggi dal;am lingkungan pesantren yang menjadi basis pengkaderan ulama di
pesantren.(Ilham, 2018).
Jelasnya bahwa regenerasi ulama Bugis di As’adiyah terus berjalan, sebagaimana
diungkapkan oleh Bahaking Rama bahwa di As’adiyah untuk menjadi seorang ulama atau kiai.
Seorang santri dituntut untuk menguasai berbagai disiplin ilmu keagamaan. Dan, untuk sampai
pada gelar kiai muda, tidak semua santri dapat mencapainya. Seorang calon ulama terlebih
dahulu menempuh ujian hafalan dari kiai. Hasil ujian inilah menentukan apakah sang anreguru
mengakui atau belum. Kalau sudah diakui maka yang bersangkutan sudah pantas mendapat gelar
kiai muda.(Ilham, 2018).
D. Abbreviation and Acronyms (Singkatan dan Akronim)
Dalam tulisan ini ada beberapa istilah yang perlu dipahami dalam masyarakat Bugis di
Sulawesi Selatan yaitu akronim yang selalu dipakai, digunakan dalam kehidupan sehari-hari
khususnya di pondok pesantren Asadiyah Sengkang dan masyarakat Bugis pada umumnya:
yaitu istilah:
Anregurutta yang biasa disingkat menjadi AG atau Ag, AGH (Anregurutta Haji) ini
merupakan gelar penghormatan kepada ulama-ulama Bugis yang memiliki keilmuan yang luas
dan mendalam. Bisa juga diistilahkan gurunya para guru (Maha Guru), ada juga yang
mengatakan selevel Professor. Gelar ini tidak begitu mudah didapatkan karena semua itu akan
dinilai oleh masyarakat dan masyarakat sendiri yang memberikan gelar-gelar itu, dengan
melihat keilmuan dan keulamaannya. Ada yang menggunakan Anregurutta (tanpa pemisahan
kata). Ada juga yang memisahkan dan menggunakan dengan Anre Gurutta. Substansialnya
dan yang sering dipergunakan dan resmi dan sah dalam keputusan Kementerian Agama Pusat,
Jakarta, digunakan dengan Anregurutta. Kini sudah menasional.
Gurutta maloloe merupakan gelar bagi Kyai Muda selevel mahasantri/mahasantriwati
yang telah menyelesaikan pendidikannya pada tingkat Mahad Aly Asadiyah Sengkang.
Keunikannya Kyai Muda ini berlaku bagi mahasantri dan mahasantriwati. Kyai Muda ini
sudah menjadi gelar akademik lokal pada pondok pesantren Asadiyah khususnya di Mahad
Aly Asadiyah Sengkang, namun gelarnya juga didapatkan dan telah disahkan oleh
Kementeraian Agama sebagai (S.AG) yaitu gelar formal.
Mappesantereng merupakan istilah lokal yang digunakan masyarakat Bugis khususnya
di pondok pesantren Asadiyah bagi santri/mahasantri/mahasantriwati yang sedangk mengaji
(ngaji) istilah orang Jawa, di mana mappesantereng ini pada umumnya dilakukan di masjid-
masjid kawasan dan lingkup pesantren. Sekarang sudah jamak kajian/ceramah atau dakwah di
masjid-masjid dan dibawakan oleh Anregurutta dengan mengkaji kitab turats. Masyhur
dikatakan sebagai mappesantren gurutta atau guru kita lagi ada pengajian.
Mengaji tudang, juga istilah lokal bagi halaqah bagi santri yang mukim maupun yang
tidak mukim yang sedang dalam duduk mengaji di depan Anregurutta yang sedang
membawakan pengajian kitab.
Barakka Anreguru, yaitu istilah lokal khas bagi pondok pesantren Asadiyah yang
telah menimbah ilmu, mengaji tudang dan seterusnya dengan harapan ada berkah yang
didapatkan dari Anregurutta. Baik keberkahan saat/setelah mengaji, mappesantren, atau
belajar dari pondok. Istilah ini selalu lekat bagi masyarakat Bugis. karena meyakini akan
keberkahan yang diperoleh baik sedang/setelah menimba ilmu di pondok pesantren.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
13
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
Khususnya di Asadiya. Maka yang masyshur disebut santri atau masyarakat adalah istilah
barakka atau berkah.
Ana mangaji merujuk kepada santri itu sendiri umumnya santri di luar pesantren
disebut siswa, murid. Namun dalam khas pesantren Asadiyah menyebutnya anak mangaji.
Werekkadana anregurutta merupakan ungkapan-ungkapan berharga dari
Anregurutta/Kyai sebagai pegangan, pedoman, nasehat dll. Sekarang mungkin bisa
diistilahkan sebagai Quote. Dan itulah yang selalu menjadi pegangan santri untuk
mendapatkan berkah dari Anregurutta. salah satu bentuk ungkapan yang pernah dilontarkan
oleh Anregurutta pendiri pondok pesantren Asadiyah Sengkang yaitu Al-Alim Al-Allamah
Anregurutta Kyai Haji Muhammad Asad Al-Bugisiy melalui santri-santrinya dan hingga
sekarang ini menjadi acuan, pedoman dalam belajar agama yaitu tettengiwi agamana puang
allahu ta’ala, naissengmuatu aga muakkattaiyye. Kira-kira artinya Berpegang tegulah pada
agama Allah Swt, Allah Swt, Maha Tahu apa yang menjadi tujuanmu (keinginanmu dalam
urusan dunia).
RSA merupakan singkatan dari Radio Suara Asadiyah yang saat ini masih aktif.
4. Kesimpulan
Dalam penelitian ini, dari sisi teoretis menekankan tentang persoalan intelektualisme
pesantren As’adiyah menuju perubahan yang mensinergikan dengan pendidikan dan dakwah
sehingga mampu bertransformasi sosial. Sebagaimana yang pernah diaktualisasikan oleh tokoh
sosial-intelek Anregurutta” ulama bugis Haji Muhammad As’ad al-bugisy. Kemudian
dikembangkan di era milenial ini. Berangkat dari penelitian ini, dapat dikemukakan hal berikut :
pertama bahwa peran Ma’had Aly As’adiyah Sengkang dalam pendidikan, tetap eksis dan
berusaha untuk meciptakan inovasi-inovasi baru, agar menarik minat masyarakat untuk
memasukkan anak-anaknya di pesantren As’adiyah utamanya di luar Sulawesi-Selatan Tanpa
harus meninggalkan sistem pendidikan pesantren As’adiyah. Kedua, upaya menciptakan
masyarakat paham terhadap agagma, sadar dalam berperilaku sosial. Ma’had Aly As’adiyah
Sengkang akan menciptakan terobosan baru dan dengan segala usaha serta strategi-strategi
dakwah dalam mewujudkan masyarakat yang damai, bersaudara dan menciptakan moderasi
beragama. Karena dakwah sifatnya kondisional. Ketiga, Ma’had Aly As’adiyah Sengkang
melakukan transformasi sosial kemasyarakatan dengan metode pendekatan dan keteladanan atau
bi al-hal hingga persoalan pengembangan masyarakat dengan pengembangan agama seperti
pengajian, kajian kitab klasik khususnya fiqh kontemporer sebagai kesadaran dalam
bermuamalah atau berperilaku sosial.
5. Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih kepada gurutta dan anregurutta (istilah suku bugis, dan panggilan
kepada guru dan kyai) atas waktu dan kesempatannya untuk memberikan gambaran
perkembangan cabang-cabang pondok pesantren As’adiyah yang tersebar di berbagai daerah di
Indonesia. Sebagaimana cabang-cabang yang tercantum dalam pembahasan. Seperti cabang
As’adiyah yang ada di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur
dan Papua. Ucapan terima kasih juga kepada para alumni Asadiyah, Mahad Aly Asadiyah
serta masyarakat yang terlibat dalam penyusunan karya ini, seperti wawancara baik secara
langsung maupun tidak langsung.
6. Daftar Pustaka
A. Mujib. (2006). Intelektualisme Pesntren; Potret Tokoh dan Cakrawala Pemikiran di Era
Perkembangan Pesantren (3rd ed.). Diva Pustaka.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 1, May 2024, page: 01-14
E-ISSN: 3064-0180
14
Abd. Haris et.al (Progresivitas Alumni Ma’had Aly As’adiyah….)
Ala, A. (2006). Pembaruan Pesantren. LkiS.
Bashori, B. (2017). Modernisasi Lembaga Pendidikan Pesantren Perspektif Azyumardi Azra.
Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam, 11(2), 269296.
https://doi.org/10.21580/nw.2017.11.2.1881
Faiqoh. (2003). Nyai Agen Perubahan di Pesantren.
Fathudin. (n.d.). Meretas Kaderisasi Ulama, Studi inovasi Mahad Aly) Refleksi Pemikiran
Keagamaan & Kebudayaan. Jurnal Tashwirul Afka, 33, 53.
Hasbi Indra. (2003). Pesantren dan Transformasi Sosial (1st ed.). Permadani.
Hasbullah. (2001). Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia (IV). Raja Grafindo Persada.
Ilham. (2018). Penelitian Agama dan Masyarakat. Jurnal, Penamas, 31(2), 341.
Kaharuddin. (2015). Pesantren Asadiyah Sengkang Pada Masa Kepemimpinan K.H
Muhammad Yunus Martan (1961-1986). Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri
Makassar.
Mahmud. (2006). Model-model Kegiatan di Pesantren. Media Nusantara.
Mastuhu. (1997). Kyai Tanpa Pesantren: KH. Ali Yafie dalam Peta Kekuasaan Sosial Islam
Indonesia,dalam Jamal D. Rahman et al. (eds.), Wacana Baru Fiqh Sosial 70 Tahun KH.
Ali Yafie. Mizan Bekerjasama dengan Bank Muamalat Indonesia.
Muhammad Jamaluddin. (2012). Metamorfosis Pesantren Di Era Globalisasi, Karsa 20. KARSA:
Journal of Social and Islamic Culture, 20(1), 134.
Pasanreseng, M. Y. (1992). Sejarah Lahir dan Pertumbuhan Pondok Pesantren Asadiyah
Sengkang. PB. Asadiyah.
Rama, B. (2003). Jejak Pembaharuan Pendidikan Pesantren: Kajian Pesantren Asadiyah
Sengkang Sulawesi Selatan. Parodatama Wiragemilang.
Ruchman Basori. (2006). The Founding Father,Pesantren Modern Indonesia; jejak langkah
K.H. A. Wahid Hasyim (1st ed.).
Sila, M. A. (2017). AsAdiyah Pencetak Ulama Dan Pesantren Di Sulawesi Selatan. In
EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan Agama dan Keagamaan (Vol. 3, Issue 3).
https://doi.org/10.32729/edukasi.v3i3.221
Takbir, M. (2016). Pendidikan Pesantren Dalam Persfektif Postkolonialisme (studi terhadap
pesantren Asadiyah Sengkang Sulawesi-Selatan) (Tesis). Pascasarjana UIN Sunan
Kalijaga.
Yasmadi. (2002). Modernisasi Pesantren: Kritik Nurcholis Madjid Terhadap Pendidikan Islam
Tradisional. Ciputat Press.