tulis, media pembelajaran digital, hingga alat peraga. Sedangkan prasarana meliputi fasilitas
fisik yang digunakan untuk mendukung proses belajar, seperti gedung sekolah, ruang kelas,
laboratorium, perpustakaan, ruang olahraga, dan lainnya. Meskipun keberadaan sarana dan
prasarana sangat penting, pengelolaannya kerap dihadapkan pada sejumlah permasalahan yang
kompleks (Parid & Alif, 2020).
Salah satu permasalahan utama dalam pengelolaan sarana dan prasarana adalah
keterbatasan anggaran. Banyak institusi pendidikan, terutama yang berada di daerah terpencil
atau yang memiliki sumber dana terbatas, tidak mampu menyediakan sarana dan prasarana
yang memadai. Anggaran yang minim menyebabkan sekolah-sekolah kesulitan untuk
melakukan perawatan rutin atau pembaruan terhadap fasilitas yang ada. Sebagai contoh,
peralatan laboratorium yang rusak sering kali tidak segera diperbaiki atau diganti, sehingga
menghambat kegiatan pembelajaran praktikum. Demikian pula, buku-buku pelajaran sering
kali sudah usang dan tidak sesuai dengan perkembangan kurikulum terbaru, namun belum
dapat diganti karena keterbatasan dana.
Permasalahan lain yang sering muncul adalah kurangnya pemeliharaan terhadap sarana
dan prasarana yang sudah ada. Banyak sekolah atau institusi pendidikan yang memiliki
fasilitas yang baik pada awalnya, namun karena tidak ada sistem pemeliharaan yang teratur,
fasilitas tersebut mengalami kerusakan dan penurunan kualitas dari waktu ke waktu. Hal ini
dapat disebabkan oleh kurangnya sumber daya manusia yang kompeten dalam melakukan
perawatan, ataupun minimnya kesadaran akan pentingnya pemeliharaan berkala. Akibatnya,
banyak sarana dan prasarana yang seharusnya masih bisa digunakan dalam jangka waktu lama,
menjadi cepat rusak dan tidak dapat digunakan (Sari, 2021).
Di samping itu, masalah pengelolaan yang tidak efisien juga turut berkontribusi pada
rendahnya pemanfaatan sarana dan prasarana. Dalam beberapa kasus, meskipun suatu sekolah
telah memiliki sarana pembelajaran yang memadai, sering kali sarana tersebut tidak digunakan
secara optimal karena pengelolaannya yang kurang baik. Misalnya, laboratorium komputer
yang hanya digunakan dalam waktu-waktu tertentu saja, padahal dapat dimanfaatkan lebih
maksimal untuk kegiatan ekstrakurikuler atau program pelatihan. Penggunaan teknologi dalam
pembelajaran juga sering kali masih terbatas, di mana perangkat-perangkat modern seperti
proyektor atau komputer interaktif hanya digunakan oleh segelintir guru yang sudah terbiasa,
sementara guru-guru lain mungkin merasa kurang percaya diri atau tidak memiliki
keterampilan yang cukup untuk memanfaatkannya.
Faktor lain yang turut mempengaruhi pengelolaan sarana dan prasarana adalah kurangnya
perencanaan yang matang dan koordinasi antara pihak-pihak terkait. Dalam beberapa kasus,
pengadaan sarana dan prasarana dilakukan tanpa mempertimbangkan kebutuhan nyata di
lapangan, sehingga terjadi ketidaksesuaian antara apa yang disediakan dengan apa yang benar-
benar dibutuhkan (Suranto et al., 2022). Misalnya, pengadaan alat peraga yang tidak sesuai
dengan kurikulum yang diterapkan, atau pembangunan ruang kelas tambahan yang tidak
mempertimbangkan pertumbuhan jumlah siswa. Selain itu, kurangnya koordinasi antara pihak
sekolah, pemerintah, dan masyarakat dalam hal pendanaan dan pemeliharaan sarana prasarana
juga menjadi hambatan. Seharusnya, dengan adanya kerja sama yang baik, pengelolaan
fasilitas pendidikan dapat dilakukan secara lebih efektif dan efisien.
Dampak dari permasalahan ini sangat signifikan terhadap kualitas pembelajaran. Ketika
sarana dan prasarana tidak dikelola dengan baik, siswa tidak mendapatkan lingkungan belajar
yang mendukung, dan ini dapat berakibat pada rendahnya hasil belajar. Fasilitas yang kurang
memadai juga dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa dan kemampuan guru dalam
menyampaikan materi dengan optimal (Sopian, 2019). Dalam jangka panjang, hal ini
berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan antara sekolah-sekolah di perkotaan
dan pedesaan, serta antara sekolah yang memiliki akses dana lebih baik dengan yang tidak.