otoritatif dalam Hadis waktu itu, yaitu Sayyid Ahmad al-Syarif al-Sanuni (1873-1933). Dia
salah satu ulama senior yang bermazhab Syafiiyyah dan pemimpin tarekat Sanusiyyah (Darlis,
2017).
Setelah keilmuan yang diperolehnya kala itu, bertepatan pada tahun 1920-an, banyak
masyarakat Bugis yang menunaikan ibadah ke tanah suci atau ibadah haji sekaligsu menuntut
ilmu. Maka terjalinlah komunikasi-komunikasi secara intens dengan masyarakat Bugis yang
melaksanakan ibadah haji, sekaligus mendapat informasi seputar kampung halamannya yang
marak penyimpangan dan penyembahan berhala. Sehingga waktu itu AG. K.H. Muhammad
As’ad merasa terpanggil untuk segera kembali dengan niat membebaskan masyarakat Wajo
dari kesyirikan tersebut.
Alhasil, dari perjalanan kembalinya ke kampungnya di tanah Wajo, beliau melakukan
prioritas utama kedatangannya, yaitu pendidikan dan dakwah. Dan pesantren As’adiyah saat ini
terus berkembangan dengan basis pendidikan dan dakwah. Dalam tahap perkembangannya,
pondok pesantren As’adiyah mengalami transformasi di bidang pendidikan dan dakwah,
hingga memiliki cabang-cabang As’adiyah yang tersebar di Indonesia, cabangnya lebih kurang
tiga ratus cabang. Pesantren As’adiyah juga memiliki tingkatan pendidikan mulai dari
Raudhatul athfal/TK hingga perguruan tinggi, Ma’had Aly dan lembaga tahfiz. KH.
Muhammad As’ad wafat pada tanggal 29 Desember 1952 M, bertepatan dengan 12 Rabiul
Akhir 1372 H. (As’ad, 2018).
Adapun karya tulis AG. K.H. Muhammad As’ad al-Bugisy adalah: idha>rul Haqiqa, al-
Si>rah al-Nabawiyah, kita>b al-‘aqaid, al-Kaukab al-muni>r, (nadzm), ‘ilm usu>l al-fiqh,
tuhfat al-faqi>r syarh al-kaukab al-muni>r, irsya> al-ammah, al-ibra>him al-jaliyah, al-
ajwiba>t al-mardhiyah (bahasa Bugis/Indonesia dan Arab), tafsi>r su>rah an-naba’, nibratun
nasik (bahasa bugis), sabil al-sawa, Majallah al-mau>’idzatul hasanah. Menurut Prof. Dr. H.
Rahman Rahim, mantan coordinator Kopertai Wilayah IX, karya AG. K.H. Muhammad As’ad
al-Bugisy yaitu: idzharul haqiqah (bahasa Bugis),kitab al-‘aqa>id (bahasa Bugis), an-nukhbah
al-Bugisiyah (bahasa Indonesia, kitab az-zaka>h (bahasa Indonesia), al-kaukab al-muni>r,
nayl al-ma’mu>l ‘ala nuzhum sullam al-ushu>l (syair Arab), tuh}fatu al-faqi>r, irsya>d al-
ammah, al-burha>n al-jaliyah fi wuju>b kawn khutbah al-jumu’ah ‘arabiyyah (Bugis dan
Indonesia), al-ajwibah al-mardhiyyah (Bugis dan Indonesia), tafsir surah an-naba’ (Arab &
Bugis), Majallah al-mau’idzah al-hasanah, mursyid as-shawwam ‘ila ba’dh ah}ka>m al-
shiya>m, al-qaul al-maqbu>l fi shihhah al-istidla>l, ‘ala wuju>b ittiba’ al-salafi khutbah ‘ala
nah}w al-mansu, al-qau>l al-haq (Bugis), al-iba>nah al-bugisiyyah ‘an Sullam al-diya>nah
(Arab& Bugis), hajjah al-‘aql ila al-di, washiyyah qayyimah fi al-haq, al-akhla>q li al-
Mada>ris} al-ibtidaiyyah. Menurut Rahman Rahim, masih ada dua karyanya yang belum
diketahui publik yaitu; al-bara>hain/al-bara>hi dan al-qabu>l al-maqbu>l.
B. Peran Pesantren As’adiyah di Ruang Digital
1. Membangun relasi dengan komunitas milenial
Perubahan moral-akhlak generasi kontemporer banyak memicu dampak perubahan-
perubahan sosial yang tidak lagi terhindarkan, seperti tawuran antarpelajar, komunitas atau
gen-gen yang berkecamuk dan saling memicu amarah yang tidak terkendali. Berawal dari
postingan di media sosial, kemudian muncul komentar-komentar yang mulanya komentar biasa
dan bahkan ada komentar yang sengaja memprovokasi kelompok lain sehingga timbul masalah
baru berkepanjangan. Selain kasus tersebut, ada masalah mendasar yang harus menjadi
perhatian bersama dan harus diselesaikan bersama-sama oleh semua umat manusia. Nadirsyah
Hosen, dalam seminarnya menyampaikan permasalahan tersebut di ruang-ruang media sosial.
Yaitu, pertama, kedunguan. Tingkat pemahaman dan tingkat literasi sangat rendah. Kedua,
sosial gap. Ketiga, eksploitasi alam yang merusak keseimbangan alam semesta.