I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
48
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
Pesantren On Digital Era: Tantangan Dan Peluang
Pondok Pesantren Asadiyah Sengkang-Sulawesi
Selatan
Abd. Haris
a,1
, Nurfaika
b,2
a
Universitas PTIQ Jakarta, Ciputat Timur, Jakarta Selatan, Indonesia.
b
Universitas Islam Asadiyah Sengkang, Jl. Veteran No. 46, Sengkang Wajo, Sulawesi Selatan, Indonesia.
Email: *
1
abdharis@unisad.ac.id;
2
nurfaika@unisad.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 2 September 2024
Direvisi: 23 September 2024
Disetujui: 27 Oktober 2024
Tersedia Daring: 1 November 2024
Artikel ini berusaha mengungkap peluang dan tantangan yang
tengah dihadapi pesantren-pesantren di era digitalisasi ini,
khususnya pondok pesantren As’adiyah Sengkang di Sulawesi
Selatan. Keragaman paham keagamaan yang tengah dialami
masyarakat majemuk mengakibatkan terjadinya kontestasi di
ruang-ruang digital demi mempertahankan komunitas yang
dianggapnya paling benar, dan cenderung memojokkan
kelompok lain. Di satu sisi terjadi degradasi moral, akhlak bagi
generasi-generasi milenial. Adapun persoalan yang akan dikaji di
dalam artikel ini, pertama, bagaimana peran pondok pesantren
As’adiyah di ruang digital. Kedua, bagaimana strategi pondok
pesantren As’adiyah dalam menghadapi tantangan di ruang
media. Ketiga, bagaimana bentuk-bentuk peluang pondok
pesantren As’adiyah di ruang digital. Penelitian ini merupakan
penelitian kepustakaan (library research). Pengumpulan data
memanfaatkan dokumen tertulis dan pengalaman penulis sebagai
alumni. Penelitian ini menemukan bahwa peran pondok
pesantren As’adiyah dapat dilihat dari visi-misi transmisi
dakwah dari radio suara as’adiyah (RSA) ke As’adiyah Channel.
Khasanah keilmuan klasik (turats) dan transformasi
pendidikannya. Adapun strategi pesantren As’adiyah, yaitu,
membangun relasi dengan komunitas melenial, membangun
komunikasi dan memiliki karakteristik future. Dan selanjutnya,
sebagai peluang pesantren As’adiyah adalah pesantren yang
kompetitif, melihat orientasi intern dan ekstern pesantren,
menampilkan distingsi lokal pesantren Bugis baik kultur sosial,
budaya, dan adat-istiadat. Membangun relasi dengan cabang-
cabang As’adiyah di dalam dan di luar Sulawesi Selatan. Dan
terakhir adalah pesantren As’adiyah harus mendigitalisasikan
karya, manuskrip, naskah-naskah pesantren sebagai bentuk
preservasi lokal.
Kata Kunci:
Pesantren
Digital Era
Tantangan dan Peluang
Asadiyah
Sulawesi Selatan
ABSTRACT
Keywords:
Pesantren
Digital Era
Challenges and Opportunities
Asadiyah
South Sulawesi
This article seeks to reveal the opportunities and challenges that
are being faced by islamic boarding schools in this digitalization
era, especially the As'adiyah Sengkang Islamic boarding school
in South Sulawesi. The diversity of religious understandings that
are being experienced by a plural society has resulted in
contestation in digital spaces in order to maintain the community
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
49
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
it considers the most correct, and tends to corner other groups.
On the one hand, there is a moral, moral degradation for
millennials. The issues that will be studied in this article, first,
how the role of the As'adiyah Islamic boarding school in the
digital space. Second, how is the strategy of the As'adiyah
Islamic boarding school in facing challenges in the media space.
Third, what are the forms of opportunities for As'adiyah islamic
boarding schools in the digital space. This research is a library
research. Data collection utilizes written documents and the
author's experience as an alumnus. This study found that the role
of As'adiyah islamic boarding schools can be seen from the
vision and mission of proselytizing transmission from as'adiyah
voice radio (RSA) to as'adiyah Channel. Classical scientific
characteristics (turats) and their educational transformation. As
for the strategy of the As'adiyah islamic boarding school, for
example, relations with the melenial community, building
communication and having future characteristics. And
furthermore, as an opportunity for Pesantren As'adiyah is a
competitive pesantren, looking at the internal and external
orientation of pesantren, displaying the local distingtions of
Bugis pesantren both social culture, culture, and customs. Build
relationships with As'adiyah branches inside and outside South
Sulawesi. And the last is that the As'adiyah pesantren must
digitize manuscripts, manuscripts of pesantren that have not
been published.
©2024, Abd. Haris, Nurfaika
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pesantren di Indonesia mengalami transformasi dan digitalisasi yang cukup urgen dalam
konteks ke-Indonesia-an hari ini. Melihat berbagai isu-isu dan problematika yang dihadapi
umat (civil society) teknologi mampu mempengaruhi pengguna aktif di media sosial mencapai
63 juta orang dan 95% menggunakan internet sebagai akses jejaring sosial. Media tidak hanya
mempengaruhi pola pikir terhadap pemahaman, tetapi juga diskursus keagamaan, keberagaman
secara global. Lokomotif utama munculnya komunitas global ataupun lokal disebabkan adanya
jargon life in our hand.Jessica Reyman and Erika M. Sparby, Digital Ethics: Rhetoric and
Responsibility in Online Aggression, ed. Jessica Reyman and Erika M. Sparby, Digital Ethics:
Rhetoric and Responsibility in Online Aggression (New York and London: Routledge &
Francis Group, 2020), https://doi.org/10.4324/9780429266140. Kemelekatan manusia di era
modern dengan media sosial memiliki dua karakter yang mengakar, yaitu digitalization and
interaction. Digitalisasi mengantarkan seseorang untuk mengakses informasi yang serba
instant, sementara interaksi dapat melahirkan suatu ide baru, inovasi dan konsumsi ilmu
pengetahuan secara terbuka.
Bukti ril yang ditemukan di ruang-ruang media, pesantren cukup massif dan terus
mengalami perkembangan yang dinamis dalam mengambil peran untuk mengedukasi publik di
era disrupsi.(Eriyanto, 2018) Para alumni pesantren pun ikut meramaikan dengan berbagai
kajian keislaman di facebook, youtube, Instagram dan media lainnya. Misalnya ngaji Ihya
yang diprakarsai oleh kyai Ulil Abshar Abdallah, pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang,
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
50
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
kajian NU online, kajian tafsir Bayt Qur’an hingga kajian tafsir online lainnya yang diramaikan
pesantren-pesantren di era ini. Selain itu, banyak dijumpai pegiat literasi-literasi keagamaan
yang cukup otoritatif dan bisa dijadikan sebagai titik sentral dalam mengembangkan
pemahaman keagamaan (Syamsul Ma’arif, Achmad Dardiri, 2015).
Di Sulawesi Selatan dalam tahap perkembangannya, pesantren dan kajian turats juga
bertransformasi di media sosial facebook dan chanel youtube. Misalnya “Barakka’na Gurutta
Channel”yang ditayangkan secara live di masjid al-Markaz al-Islami Makassar. Selain itu, ada
kajian turats kitab kuning pondok pesantren As’adiyah Sengkang yang ditayangkan secara live
oleh “As’adiyah Channel” dan lain sebagainya.
Laju perkembangan digitalisasi, setiap individu pasti akan mengalami metamorfosa dan
konsumtif dari berbagai tayangan-tayangan di internet. Di satu sisi, terbukanya ruang-ruang
media yang tidak dapat dihindari oleh ragam tantangan, halangan atau rintangan yang menjadi
akar terjadinya kontestasi sekarang ini (Astuti, 2014). Baik dalam ranah akidah, degradasi
moral, doktrin-doktrin yang mengatasnamakan sebagai pemegang sunnah, labeling, sehingga
muncul takfiri, cyber bullying dan menjadi digital culture, living virtual yang benar-benar baru
dan mempengaruhi publik (Jamaludin, 2012). Tidak terkecuali paham keagamaan yang kering
membuat oknum tertentu menjadi viral lantas menyampaikan satu ayat.
Di antara bentuk-bentuk ekspresi keberagamaan di era ini, yaitu, pertama, krisis
keagamaan yang toleran di ruang digital. Kedua, krisis kesadaran dan kesungguhan mengkaji
agama dari sumber otoritatif. Ketiga, konstruk pemikiran yang sudah mengakar terhadap
pemuka agama yang telah diyakini dan diidolakan (Prosiding Kementerian Agama, 2018).
Tentu, dibalik keadaan tersebut ada juga peluang-peluang digital dalam konteks transmisi ilmu
pengetahuan yang diwariskan ulama-ulama pesantren di Indonesia untuk bergerang maju
mengisi kajian di ruang virtual. Termasuk pondok pesantren As’adiyah Sengkang sebagai salah
satu sumber yang otoritatif di Sulawesi Selatan (Darlis, 2016).
Tulisan ini akan melihat dan menganalisis tantangan dan peluang di pondok pesantren
As’adiyah Sengkang di era digitalisasi ini, dengan rumusan permasalahan: Bagaimana peran
pondok pesantren As’adiyah di ruang digital. Bagaimana strategi pondok pesantren As’adiyah
dalam menghadapi tantangan di ruang media. Bagaimana bentuk-bentuk peluang pondok
pesantren As’adiyah di ruang digital.
2. Metode
Kajian yang digunakan dalam tulisan ini adalah kajian analisis-deskriptif dengan sumber
data dan temuan penulis dari sejumlah referensi tulisan seperti buku, penelitian, ataupun artikel
terkait dengan objek kajian. Selain itu, penulis juga akan menguraikan sampel wawancara
alumni, tokoh yang melihat pesantren sebagai wadah keilmuan yang bergerak pada
pengembangan sumber daya manusia yang kokoh dalam beradaptasi dan berdialektika dengan
digitalisasi, serta diskusi para tokoh yang membahas pesantren on digital era melihat tantangan
dan peluang-peluang bagi pesantren di Indonesia dan khususnya di pondok pesantren
As’adiyah Sengkang. Begitu halnya dengan pengalaman pribadi yang menjadi data tambahan.
3. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil temuan disajikan dalam tabel berikut:
Tabel 1. Hasil Temuan Peneliti
Peran pesantren
As’adiyah
1. Transmisi dakwah dari radio suara As’adiyah (RSA) ke
As’adiyah Channel.
2. Khasanah intelektual klasik (kajian turats). Baik secara
intern dan ektern
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
51
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
3. Transformasi pendidikan
Strategi pesantren
As’adiyah di ruang
digital
1. Menjalin relasi dengan komunitas milenial
2. Membangun komunikasi dengan literasi digital
3. Formulasi dakwah on civil society
4. Karakteristik futur terhadap kehati-hatian dalam duni
digitalisasi
Peluang pesantren
As’adiyah di era
digitalisasi
1. Memiliki peluang dayasaing/kompetitif
2. Melihat orientasi intern dan ekstern yang perlu
dikembangkan
3. Menampilkan kekhasan/distingsi lokal pesantren Bugis,
seperti kultur sosial pesantren, budaya, adat-istiadat dan
sosial
4. Membangun relasi dengan cabang-cabang As’adiyah
yang menjadi tonggak jejaring nasional dan global.
Seperti, kajian turats (kajian Tafsir, fiqih dan tasawuf
dll) bagi kalangan awam, menengah, dan kalangan
milenial.
5. Peluang untuk mendigitalisasikan manuskrip, naskah-
naskah pendiri pondok pesantren As’adiyah dan ulama-
ulama As’adiyah termasuk murid-murid dari AG. K.H.
Muhammad As’ad al-Bugisy yang masih belum dipublis
secara global.
A. Sekelumit tentang Historisitas Pesantren Asadiyah
Pondok pesantren As’adiyah adalah lembaga yang menjadi cikal bakal lahirnya
pesantren-pesantren di Indonesia Timur sekaligus menjadi pesantren tertua. As’adiyah
merupakan penisbahan dari nama pendirinya sendiri yaitu, Anregurutta al-‘Alim al-‘Allamah
K.H. Muhammad As’ad al-Bugisy. Seorang ulama Bugis dari tanah Wajo Sulawesi Selatan.
Anregurutta umumnya disingkat menjadi AG. Selain itu, ada istilah Puang yang sering
digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada Arung (Raja) pada masyarakat Bugis Wajo.
Dan istilah ulama juga populer dalam istilah masyarakat Bugis adalah Topanrita.
AG. K.H. Muhammad As’ad bernama lengkap as-Syaikh al-Allamah Muhammad As’ad
bin Muhammad Abdul Rasyid Al-Bugisy. Lahir di Mekkah pada tanggal 12 Rabiultsani 1326
H (1907 M). Pesantren As’adiyah awalnya bernama Madrasatul Arabiatul Islamiyah (MAI).
Pengajian pada mulanya dilakukan AG. K.H. Muhammad As’ad di kediamannya 1928
kemudian resmi menjadi lembaga pendidikan Islam pada tahun1930. Sejak awal berdirinya
pesantren As’adiyah masih eksis hingga sekarang ini. dalam konteks sekarang ini, pesantren
As’adiyah tidak hanya sekedar lembaga pendidikan Islam formal, tetapi juga memiliki jaringan
dan kekerabatan ulama yang kuat. Di mana unsur-unsur tersebut, pimpinan, tokoh, guru, santri
dan para alumni yang tidak terpisahkan (Husain, 2020).
AG. K.H. Muhammad As’ad merupakan pribadi yang ulet, tekun dan bersahaja. Modal
tersebut mengantarkannya menjadi imam di Mekkah saat itu. Keilmuan yang dimilikinya pun
beragam, seperti Usul Fiqh, Fiqh, Ulum al-Qur’an, Tafsi, Bahasa Arab dan Ilmu Hadis dan
Hadis. Kecintaannya terhadap ilmu pun menjadi bukti ketika berada di Mekkah saat itu,
ketekunannya mengikuti halaqah dalam istilah masyarakat Bugis (mangaji kitta’ atau mangaji
tudang) di Masjid Haram bersama ulama-ulama dari berbagai Negara, seperti Umar bin
Hamdan, Sa’id al-Yamani, Hasyim Nazirin, Jamal al-Makki, Hasan al-Yamani, ‘Abbas ‘Abd
al-Jabbar dan Ambo Wellang al-Bugisy. AG. K.H. Muhammad As’ad juga melakukan rihlah
ilmu dari Mekkah ke Madinah dan berguru langsung ke salah satu ulama yang dianggap
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
52
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
otoritatif dalam Hadis waktu itu, yaitu Sayyid Ahmad al-Syarif al-Sanuni (1873-1933). Dia
salah satu ulama senior yang bermazhab Syafiiyyah dan pemimpin tarekat Sanusiyyah (Darlis,
2017).
Setelah keilmuan yang diperolehnya kala itu, bertepatan pada tahun 1920-an, banyak
masyarakat Bugis yang menunaikan ibadah ke tanah suci atau ibadah haji sekaligsu menuntut
ilmu. Maka terjalinlah komunikasi-komunikasi secara intens dengan masyarakat Bugis yang
melaksanakan ibadah haji, sekaligus mendapat informasi seputar kampung halamannya yang
marak penyimpangan dan penyembahan berhala. Sehingga waktu itu AG. K.H. Muhammad
As’ad merasa terpanggil untuk segera kembali dengan niat membebaskan masyarakat Wajo
dari kesyirikan tersebut.
Alhasil, dari perjalanan kembalinya ke kampungnya di tanah Wajo, beliau melakukan
prioritas utama kedatangannya, yaitu pendidikan dan dakwah. Dan pesantren As’adiyah saat ini
terus berkembangan dengan basis pendidikan dan dakwah. Dalam tahap perkembangannya,
pondok pesantren As’adiyah mengalami transformasi di bidang pendidikan dan dakwah,
hingga memiliki cabang-cabang As’adiyah yang tersebar di Indonesia, cabangnya lebih kurang
tiga ratus cabang. Pesantren As’adiyah juga memiliki tingkatan pendidikan mulai dari
Raudhatul athfal/TK hingga perguruan tinggi, Ma’had Aly dan lembaga tahfiz. KH.
Muhammad As’ad wafat pada tanggal 29 Desember 1952 M, bertepatan dengan 12 Rabiul
Akhir 1372 H. (As’ad, 2018).
Adapun karya tulis AG. K.H. Muhammad As’ad al-Bugisy adalah: idha>rul Haqiqa, al-
Si>rah al-Nabawiyah, kita>b al-‘aqaid, al-Kaukab al-muni>r, (nadzm), ‘ilm usu>l al-fiqh,
tuhfat al-faqi>r syarh al-kaukab al-muni>r, irsya> al-ammah, al-ibra>him al-jaliyah, al-
ajwiba>t al-mardhiyah (bahasa Bugis/Indonesia dan Arab), tafsi>r su>rah an-naba’, nibratun
nasik (bahasa bugis), sabil al-sawa, Majallah al-mau>’idzatul hasanah. Menurut Prof. Dr. H.
Rahman Rahim, mantan coordinator Kopertai Wilayah IX, karya AG. K.H. Muhammad As’ad
al-Bugisy yaitu: idzharul haqiqah (bahasa Bugis),kitab al-‘aqa>id (bahasa Bugis), an-nukhbah
al-Bugisiyah (bahasa Indonesia, kitab az-zaka>h (bahasa Indonesia), al-kaukab al-muni>r,
nayl al-ma’mu>l ‘ala nuzhum sullam al-ushu>l (syair Arab), tuh}fatu al-faqi>r, irsya>d al-
ammah, al-burha>n al-jaliyah fi wuju>b kawn khutbah al-jumu’ah ‘arabiyyah (Bugis dan
Indonesia), al-ajwibah al-mardhiyyah (Bugis dan Indonesia), tafsir surah an-naba’ (Arab &
Bugis), Majallah al-mau’idzah al-hasanah, mursyid as-shawwam ‘ila ba’dh ah}ka>m al-
shiya>m, al-qaul al-maqbu>l fi shihhah al-istidla>l, ‘ala wuju>b ittiba’ al-salafi khutbah ‘ala
nah}w al-mansu, al-qau>l al-haq (Bugis), al-iba>nah al-bugisiyyah ‘an Sullam al-diya>nah
(Arab& Bugis), hajjah al-‘aql ila al-di, washiyyah qayyimah fi al-haq, al-akhla>q li al-
Mada>ris} al-ibtidaiyyah. Menurut Rahman Rahim, masih ada dua karyanya yang belum
diketahui publik yaitu; al-bara>hain/al-bara>hi dan al-qabu>l al-maqbu>l.
B. Peran Pesantren Asadiyah di Ruang Digital
1. Membangun relasi dengan komunitas milenial
Perubahan moral-akhlak generasi kontemporer banyak memicu dampak perubahan-
perubahan sosial yang tidak lagi terhindarkan, seperti tawuran antarpelajar, komunitas atau
gen-gen yang berkecamuk dan saling memicu amarah yang tidak terkendali. Berawal dari
postingan di media sosial, kemudian muncul komentar-komentar yang mulanya komentar biasa
dan bahkan ada komentar yang sengaja memprovokasi kelompok lain sehingga timbul masalah
baru berkepanjangan. Selain kasus tersebut, ada masalah mendasar yang harus menjadi
perhatian bersama dan harus diselesaikan bersama-sama oleh semua umat manusia. Nadirsyah
Hosen, dalam seminarnya menyampaikan permasalahan tersebut di ruang-ruang media sosial.
Yaitu, pertama, kedunguan. Tingkat pemahaman dan tingkat literasi sangat rendah. Kedua,
sosial gap. Ketiga, eksploitasi alam yang merusak keseimbangan alam semesta.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
53
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
Kamaruddin Amin, dalam seminar Pra Muktamar Transformasi Nilai-nilai Wasatiyah
As’adiyah Menuju Indonesia Tangguh dan Bermartabat”. Beliau menyampaikan bahwa
pesantren As’adiyah harus melihat tantangan global menjadi suatu peluang yang memberikan
kontribusi terhadap gencarnya isu-isu kontemporer yang tidak bisa dihindari. Katakanlah tokoh
agama tengah semangatnya membahas isu-isu pemahaman agama dalam konteks moderasi,
konteks sosial masyarakat sekarang ini, justru ada kelompok-kelompok sentimental yang suka,
atau hobi dalam membentur-benturkan tema tersebut.
Misalnya agama dengan Pancasila dalam konteks keindonesiaan. Sehingga dari dua
komunitas tersebut saling bersikukuh dan masing-masing mengklaim kebenarannya dalam
mempertahankan pendapatnya. Dan paling parahnya di tengah pergolakan yang terus terjadi,
baik dalam bingkai pertarungan kekuasaan, politik dan seolah menjadi panggung teater yang
menjadi wacana perebutan kekuasaan, hingga persolan keagamaan yang berujung sentimental,
emosi terutama politisasi agama (Pinilih, 2018).
Di tengah maraknya konstestasi sosial, pesantren-pesantren tidak ada salahnya
mengambil ruang untuk merespon apa sesungguhnya yang masyarakat inginkan dan bagaimana
agama mampu menjadi pelita bagi bangsa, negara, bukan justru menggembor-gemborkan
perdebatan tersebut (Nikmah, 2020). Salah satu orientasi Pesantren As’adiyah di ruang media
adalah membuat kajian-kajian secara live yang dapat disaksikan oleh semua kalangan dalam
mengkaji kitab turtats.
Meskipun As’adiyah Channel termasuk baru, yang launching pada tanggal 23 April
2020 oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang, Dr.
K.H. Muhyiddin Tahir, M. Th. I, setidaknya ada dua orientasinya yang melatarbelakangi hadir
di ruang publik. Pertama, sebagai bentuk media resmi pesantren As’adiyah menjadi media
dakwah dan informasi dengan basis moderat dan toleran. Kedua, perlunya formulasi dakwah,
pengemasan dakwah pesantren berbasis virtual/online sebagai bentuk alternatif dakwah akibat
Covid-19.
2. Membangun komunikasi dengan literasi digital.
Kontribusi pesantren beberapa tahun yang lalu hingga hari ini, sudah banyak merambah
di ruang digital, tidak hanya fokus pada kajian turats secara virtual, tetapi kajian-kajian
keislaman semakin berkembang, hal tersebut sangat positif secara global. Isu-isu kontemporer
memberi ruang para kiyai, ulama, tokoh agama, kaum cendikiawan dan para sarjana untuk
saling berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk membahas peradaban ilmu pengetahuan
(Haris, 2022). Keberadaan ulama tentunya membuka cakrawala pengetahuan kepada para
sarjana-sarjana barat dan timur, untuk melihat transformasi dan perkembangan pengetahuan
dengan melihat teks dan konteks negara yang berbeda (Hidayat, 2020).
Hanya saja, di ruang digital tidak sepenuhnya harus ditelan bulat-bulat dari apa yang
dikaji dan dibahas oleh para keynote speaker (narasumber), baik barat dan timur sekalipun,
karena ilmu pengetahuan itu sifatnya relatif dan kondisional. Istilah Nadirsyah Hosen,
mengibaratkan secangkir kopi panas, sebaiknya tidak meminumnya langsung, tetapi nikmati
dulu aromanya secara perlahan-lahan, agar lebih terasa nikmat ketika meminumnya. Artinya
dalam belajar ilmu agama tidak boleh terburu-buru, harus berproses untuk mendapatkan
mendapatkan disiplin ilmu (Rohman, 2020).
Hal tersebut di atas, menjadi gambaran geanologi pemikiran tidak lahir semalam, tetapi
butuh proses dan waktu yang cukup lama, dan tidak bisa dikonsumsi begitu saja. Karena
adakalanya ilmu dari barat atau dari timur, ternyata di cocok diterapkan di Indonesia. Melihat
di ruang-ruang digital banyak ditemukan sehari atau dua hari belajar agama, langsung
mendadak ulama, kyai dan viral. Sehingga kepopulerannya langsung mendapat respon dari
publik, baik respon positif hingga respon negatif. Sebagai cendikia, santri dan alumni pesantren
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
54
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
harus percaya bahwa informasi yang valid harus diberikan kepada otoritas keilmuan dan
ahlinya, bukan menafikannya (HS et al., 2022).
Jadi, segala bentuk-bentuk tantangan dan rintangan, sepatutnya kembali ke khittah, atau
visi dan misi pesantren kembali ke jati dirinya yang menjadi sumber otoritatif. Para ulama, kyai
harus tampil di ruang digital dengan referensi klasiknya yang menjadi khas keilmuan dan
kepakarannya, kemudian melihat dari persfektif ulama klasik dan ulama kontemporer, tentunya
tidak kalah dalam memahami Islam yang sesungguhnya dengan membandingkan berbagai
macam qutb at-turats. Seperti halnya ngaji ihya”, ternyata apa yang dibahas di dalam kitab
tersebut dengan konteks sekarang, banyak membuka cakrawala dan pengetahuan para sarjana
yang tidak hanya sebatas teks, tetapi merambah ke konteks dan tidak mengurangi kualitas
pengetahuan ulama-ulama dahulu.
Berdialektika dengan digitalisasi, harus ada metode khusus, sehingga tidak hanya
menarik di kalangan tertentu, tetapi dapat menarik semua kalangan. Misalnya komunikasi
digital, pemilihan diksinya dan penyampaiannya pun harus menyentuh di semua kalangan.
Karena tipologi publik di ruang media beragam. Ada kalangan awam, menengah, dan bahkan
boleh dikatakan bahwa ruang-ruang digital hampir didominasi kalangan milenial. Kaum
terpelajar, cendikia, dan para sarjana yang memiliki keilmuan yang mumpuni, harus mengisi
ruang-ruang media dengan komunikasi dakwah dan literasi-literasi yang banyak merangkul
generasi-generasi muda (Barmawi, 2017).
Misalnya, mahasantri Ma’had Aly As’adiyah tidak hanya melakukan kajian setiap hari,
tetapi juga memanfaatkan media dan masyarakat setempat untuk bekerjasama dalam mengkaji
kajian kitab fiqih yang dilakukan secara bergilir di daerah tertentu. Tentu kebermanfaatannya
tidak hanya disaksikan civil society di daerah tersebut, tetapi menjalin relasi dengan generasi
muda setempat dan masyarakat setempat untuk membangun semangat keberagamaan melalui
kajian kitab. Selain itu, bentuk ini menjadi salah satu cara untuk meningkatkan sumber daya
manusia (SDM) yang lebih berintelektual muda dengan bekal spiritual dan material (Haris,
2022).
3. Formulasi dakwah on Civil Society
Dakwah dan narasi-narasi keagamaan banyak mendominasi ruang digital, seperti
youtube, facebook, video-video pendek yang dapat dilihat di tiktok, Instagram, baik dalam
bentuk vokal atau oral, narasi-narasi teks dan literasi keagamaan hingga pesan-pesan
keagamaan. Hal tersebut salah satu bentuk kreativitas, inovatif dan dinamis. Tidak jarang juga,
ditemukan oknum yang sengaja membentur-benturkan konten ceramah para kyai, ustaz, dan
bahkan meng-cut, video dengan durasi yang cukup singkat, akhirnya memancing amarah
publik sebagai bentuk provokasi di tengah-tengah masyarakat (Hidayat, 2020).
Pesantren harus tampil dengan desain menarik, realistis dan memformulasikannya
hingga menemukan jati diri yang sesungguhnya. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan usaha
kolektif sedapat mungkin meredam dan meningkatkan budaya literasi yang sejuk, damai cukup
mengena di semua kalangan, baik kalangan awam, menengah dan kalangan milenial.
Mendekatinya dengan cara mengartikulasikan sesuai komunitasnya akan jauh lebih
berpengaruh. Apabila hal tersebut sulit dilakukan, setidaknya mencari cara dan metode yang
tepat dalam menyentuh ranah dan kalangan milenial. Setidaknya memberikan teladan, akhlak
mulia menyalurkan jiwa umat ke hal positif berupa pemberdayaan ekonomi dan sosial.
Pengaruh digitalisasi tidak hanya besar pengaruhnya bagi kalangan milenial, tetapi juga
di kalangan elit yang tidak lepas dari politisasi agama. Maksudnya adalah ayat-ayat yang
dimaknai dan tafsirkan secara bebas, sesuai kecendrungannya masing-masing karena dibubuhi
dengan syahwat politik. Keduanya bisa saja dilakukan oleh pihak oposisi dan baik politisi dan
bahkan pemerintah. Kemudian, agama dipelintir dan diarahkan untuk mendukung atau
menolak pihak tertentu (Arif, 2016).
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
55
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
Kehidupan semakin kompleks, ragam paham keagamaan yang banyak membingugkan
banyak masyarakat. Komunitas tertentu yang masih konservatif menyalahkan dan menyerang
orang lain dengan bid’ah. Akhirnya, mimbar dakwah seolah-olah hilang kesakralannya. Karena
konten yang dikaji bukan lagi tentang kebenaran, tetapi yang banyak dipenuhi pembenaran
yang dipaksakan, demi kepentingan komunitas, baik hal politik dan bahkan demi mendapat
rating yang banyak dari publik di media sosial. Manalagi oknum tertentu sengaja
membenturkan pendapat para ulama agar lebih menarik. Bukankah hal tersebut dianggap
sesuatu yang salah? Iya! Oleh karena itu, pesantren harus berbenah, berkarya, dan berinovasi
yang positif, dan menghindari hal-hal yang sifatnya provokatif (Kamal, 2018).
Pesantren As’adiyah misalnya dalam mengantisipasi tantangan global, pesantren
As’adiyah mengarusutamakan dari prinsip yang dari awal berdirinya pesantren tersebut untuk
menyatukan, membantu dan mendamaikan umat melalui dakwah, tidak memprovokasi
antarsatu kelompok dengan kelompok yang lain. Prinsip yang dipegang teguh adalah
wata’awanu ‘ala al-birri wa at-taqwa, wala ta’awanu ‘ala al-istmi wa al-‘udwan.
Hal tersebut dapat dilihat dari tujuan dakwah As’adiyah, metode dakwah yang
digunakan, serta praktiknya di masyarakat yang banyak memberikan pemahaman-pemahaman
yang memberikan hikmah dan kesejukan kepada masyarakat (Muhyiddin Thahir, 2022).
Misalnya melihat alumni Ma’had Aly As’adiyah dalam beberapa tahun terakhir, banyak
menarik minat dari berbagai cabang-cabang As’adiyah yang berada di dalam dan di luar
provinsi Sulawesi Selatan seperti Tawau Malaysia.
Prioritas utama yang menjadi basis dalam berkontribusi dan berinovasi di tengah-
tengah masyarakat, harus menanamkan nilai akhlak, mampu beradaptasi dengan masyarakat
dan menanamkan slogan yang menjadi kekhasan pesantren As’adiyah adalah sami’na wa
atha’na. Artinya, tetapi memegang teguh prinsip dan visi-misi pesantren ketika berada di luar,
khususnya alumni yang mengabdikan diri di masyarakat setempat di mana ia mengabdi (As’ad,
2018).
Adapun bentuk-bentuk dari kajian keagamaan pesantren As’adiyah di antaranya adalah:
pertama, halaqah kitab kuning, mangaji tudang/mappesantren (istilah Bugis), halaqah kitab
kuning tersebut dilakukan di Masjid Jami’ Sengkang, Masjid Raya Ummul Qura’, Masjid Al-
Ikhlas Zul-Jama’atil As’adiyah Kampus 2 Lapongkoda Sengkang, Masjid Kampus 3 Macanang
dan tempat lain yang menjadi obyek. kedua, program tanya gurutta dalam bentuk podcast
dengan isu-isu kontemporer dan aktual lainnya, program ini dilaksanakan di dalam bulan suci
ramadhan maupun di luar ramadhan. ketiga, sosialisasi dalam moderasi melalui poster, meme,
dan quotes anregurutta sebagai bentuk inovasi dan kreativitas krue oleh santri dalam mengisi
ruang-ruang media. keempat, inovasi dan kreatif krue As’adiyah Channel terhadap video-video
pendek dari hasil dakwah gurutta dan anregurutta, baik pesan, kesan keagamaan, moderasi dan
lainya yang kemudian di publis di ruang digital, dan dapat dikonsumsi oleh semua kalangan
(Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren & Siaga Jiwa Raga, 2022).
C. Peluang Pesantren Asadiyah di Ruang Digital
Pondok pesantren As’adiyah tidak hanya melihat tantangan global sebagai suatu hal
negatif, tetapi juga melihat sedikit banyaknya positif yang dapat memberikan kerja inovatif,
kreatif dan optimis dalam membangun karakter yang tetap pada prinsip dan khittah, visi-misi
pondok pesantren As’adiyah, terutama pemenuhan standar pendidikan nasional. Selain itu,
pesantren As’adiyah banyak memberikan edukasi kepada mahasantri yang akan keluar
mengabdi untuk memenuhi kuota permintaan masyarakat. Inovatif secara intern yang menjadi
prioritas utama sebelum terjun dan mengabdi di tengah-tengah masyarakat (Kamal, 2018).
Peluang yang harus dicermati adalah: pertama, peluang dayasaing/kompetitif yang
progresif dan berkemajuan. Kedua. Melihat orientasi intern dan ekstern pesantren sebagai dasar
untuk melihat potensi yang penting dan perlu dikembangkan. Ketiga, pesantren As’adiyah
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
56
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
harus menampilkan kekhasan, distingsi lokal, kultur sosial, dan budaya pesantren semenarik
mungkin sebagai bentuk keberagaman pesantren di Indonesia, khususnya di Indonesia Timur.
Misalnya melihat sisi tradisi, transformasi dan kolaborasi pesantren As’adiyah. Tidak
hanya untuk survival, tetapi untuk mendapatkan yang terbaik. Dari sisi disparitas yang dimiliki
pesantren As’adiyah dapat menjadi suatu kekuatan yang dapat dilirik oleh pemerintah dan
masyarakat Indonesia pada umumnya. Semua adat-istiadat, dan semua bidang kehidupan, serta
kearifan pun diperlukan agar dominasi dan hegemoni nilai terelakkan, sehingga kemajemukan
dan heterogenitas dapat ditumbuhkan menjadi satu kesatuan, terutama bagian dari
keberagaman Indonesia (Malik, 2018).
Tradisi di pesantren sudah ada sejak keberadaan pesantren, bahkan dari ulama, atau
kyai di pesantren. Harus dipelajari sebagai motivasi ilmiah dalam berinovasi terhadap
tantangan global hari ini. Misalna tradisi rihlah ilmiah mencari ilmu, tradisi menulis buku, baca
kitab, meneliti, mengamalkan tarekat. Dunia literasi misalnya mampu melirik ulama-ulama
klasik yang memiliki banyak karya dan semangatnya dalam mengembangkan pengetahuannya
serta analisis kritisnya terhadap isu-isu yang berkembang. Sehingga ada dari kitab-kitab klasik
yang ditemukan hari ini, dan jauh lebih dinamis. Itu artinya, para ulama-ulama klasik dari segi
keilmuannya, luar biasa mendalam terhadap satu kajian, disiplin ilmu tertentu, dan bahkan
menguasai ragam ilmu-ilmu keagamaan tertentu yang dapat dihitung jari atau sulit ditemui hari
ini (Husniah, 2017).
Keempat. Membangun generasi dan relasi di cabang-cabang As’adiyah di skala lokal,
nasional hingga overseas. Pesantren As’adiyah sangat dinantikan oleh masyarakat Indonesia,
utamanya dalam mengedukasi masyarakat yang beragam. Misalnya membuat kajian khusus
bagi kalangan awam, menengah hingga mampu mempengaruhi kalangan milenial. Secara
subtansial, di satu sisi pesantren As’adiyah mengarusutamakan pendidikan dan pembentukan
karakter keulamaan di Ma’had Aly, mempersiapkan kemandirian dan kematangan berfikir dan
berilmu.
Hal itu dilakukan dalam rangka menyiapkan alumni dalam mengabdikan diri di tengah-
tengah masyarakat. Ilmu yang diperoleh di ruang-ruang kelas tentu tidak cukukp, tetapi juga
melalui pembentukan karakter keas’adiyah-an, misalnya taujihat keulamaan Ma’had Aly,
workshop dan pelatihan guru, pembekalan Kader Ulama Mengabdi (KUM) bagi Ma’had Aly
secara khusus sebelum terjun ke tempat pengabdian.
Pendidikan karakter personal, karakter keulamaan dapat diyakini ketika akan ke luar
berkontribusi di tengah masyarakat, tentu dapat melakukan reformasi dan transformasi yang
lebih mendamaikan, baik dari dimensi perbaikan akidah, syari’ah, terutama akhlak terhadap
masyarakat untuk membangun moralitas, mewujudkan kehidupan masyarakat yang jauh dari
asumsi-asumsi negatif yang diakibatkan adanya konten media yang diperoleh dari internet
(Halim, 2017) Peluang lain yang harus di kembangkan lebih jauh lagi, adalah penelitian-
penelitian manuskrip yang masih banyak belum dibahas (Agama et al., 2021).
Pesantren As’adiyah tentu memiliki ragam manuskrip yang penting untuk dikaji apa
yang pernah ditulis oleh pendirinya AG. H. Muhammad As’ad, begitupula murid-murid beliau.
Apalagi saat ini, banyak naskah-naskah atau manuskrip banyak diminati oleh kalangan
orientalis, dan tentunya kalangan cendikia dan alumni pesantren ramai dalam melacak teks-teks
serta geneologi sanad keilmuan pesantren. Sehingga naskah pesantren dapat menjadi anak
panah peradaban Islam Nusantara (El-Mawa, 2014).
Naskah-naskah ulama pesantren As’adiyah belum sepenuhnya dikaji. Sehingga menjadi
catatan penting bagi kalangan akademisi, peneliti dari alumni-alumni pesantren As’adiyah
untuk tetap memunculkan teks-teks tersebut, lalu dikaji sebagai bentuk pelestarian naskah-
naskah keulamaan yang ada di pondok pesantren As’adiyah Sengkang, Sulawesi Selatan.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
57
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
Abbreviation and Acronyms (Singkatan dan Akronim)
Dalam tulisan ini ada beberapa istilah yang perlu dipahami dalam masyarakat Bugis
di Sulawesi Selatan yaitu akronim yang selalu dipakai, digunakan dalam kehidupan sehari-
hari khususnya di pondok pesantren Asadiyah Sengkang dan masyarakat Bugis pada
umumnya: yaitu istilah:
Anregurutta yang biasa disingkat menjadi AG atau Ag, AGH (Anregurutta Haji)
ini merupakan gelar penghormatan kepada ulama-ulama Bugis yang memiliki keilmuan yang
luas dan mendalam. Bisa juga diistilahkan gurunya para guru (Maha Guru), ada juga yang
mengatakan selevel Professor. Gelar ini tidak begitu mudah didapatkan karena semua itu akan
dinilai oleh masyarakat dan masyarakat sendiri yang memberikan gelar-gelar itu, dengan
melihat keilmuan dan keulamaannya. Ada yang menggunakan Anregurutta (tanpa pemisahan
kata). Ada juga yang memisahkan dan menggunakan dengan Anre Gurutta. Substansialnya
dan yang sering dipergunakan dan resmi dan sah dalam keputusan Kementerian Agama Pusat,
Jakarta, digunakan dengan Anregurutta. Kini sudah menasional (Haris, 2024).
Gurutta maloloe merupakan gelar bagi Kyai Muda selevel
mahasantri/mahasantriwati yang telah menyelesaikan pendidikannya pada tingkat Mahad Aly
Asadiyah Sengkang. Keunikannya Kyai Muda ini berlaku bagi mahasantri dan
mahasantriwati. Kyai Muda ini sudah menjadi gelar akademik lokal pada pondok pesantren
Asadiyah khususnya di Mahad Aly Asadiyah Sengkang, namun gelarnya juga didapatkan
dan telah disahkan oleh Kementeraian Agama sebagai (S.AG) yaitu gelar formal.
Mappesantereng merupakan istilah lokal yang digunakan masyarakat Bugis
khususnya di pondok pesantren Asadiyah bagi santri/mahasantri/mahasantriwati yang
sedangk mengaji (ngaji) istilah orang Jawa, di mana mappesantereng ini pada umumnya
dilakukan di masjid-masjid kawasan dan lingkup pesantren. Sekarang sudah jamak
kajian/ceramah atau dakwah di masjid-masjid dan dibawakan oleh Anregurutta dengan
mengkaji kitab turats. Masyhur dikatakan sebagai mappesantren gurutta atau guru kita lagi
ada pengajian.
Mengaji tudang, juga istilah lokal bagi halaqah bagi santri yang mukim maupun
yang tidak mukim yang sedang dalam duduk mengaji di depan Anregurutta yang sedang
membawakan pengajian kitab.
Barakka Anreguru, yaitu istilah lokal khas bagi pondok pesantren Asadiyah
yang telah menimbah ilmu, mengaji tudang dan seterusnya dengan harapan ada berkah yang
didapatkan dari Anregurutta. Baik keberkahan saat/setelah mengaji, mappesantren, atau
belajar dari pondok. Istilah ini selalu lekat bagi masyarakat Bugis. karena meyakini akan
keberkahan yang diperoleh baik sedang/setelah menimba ilmu di pondok pesantren.
Khususnya di Asadiya. Maka yang masyshur disebut santri atau masyarakat adalah istilah
barakka atau berkah.
Ana mangaji merujuk kepada santri itu sendiri umumnya santri di luar
pesantren disebut siswa, murid. Namun dalam khas pesantren Asadiyah menyebutnya anak
mangaji.
Werekkadana anregurutta merupakan ungkapan-ungkapan berharga dari
Anregurutta/Kyai sebagai pegangan, pedoman, nasehat dll. Sekarang mungkin bisa
diistilahkan sebagai Quote. Dan itulah yang selalu menjadi pegangan santri untuk
mendapatkan berkah dari Anregurutta. salah satu bentuk ungkapan yang pernah dilontarkan
oleh Anregurutta pendiri pondok pesantren Asadiyah Sengkang yaitu Al-Alim Al-Allamah
Anregurutta Kyai Haji Muhammad Asad Al-Bugisiy melalui santri-santrinya dan hingga
sekarang ini menjadi acuan, pedoman dalam belajar agama yaitu tettengiwi agamana puang
allahu ta’ala, naissengmuatu aga muakkattaiyye. Kira-kira artinya Berpegang tegulah pada
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
58
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
agama Allah Swt, Allah Swt, Maha Tahu apa yang menjadi tujuanmu (keinginanmu dalam
urusan dunia).
KUM Kader Ulama Mengabdi adalah salah satu rangkaian penyelesaian akhir bagi
mahasantri Mahad Aly Asadiyah Sengkang yang dikirim dari pondok untuk mengabdikan
diri selama satu bulan di berbagai cabang Asadiyah, dan juga permintaan masyarakat untuk
mengabdikan diri atas ilmu yang diperolehnya selama pendidikan di Mahad Aly Asadiyah
Sengkang. Dalam istilah lain bisa disamakan dengan KKN (kuliah kerja nyata) atau PPL
(praktik pengalaman lapangan).
TAUJIHAT merupakan kegiatan pengarahan dan pengenalan kampus atau pondok
yang di dalamnya mencakup ragam dan aktivitas bagi mahasantri baru, termasuk pengenalan
aqidah, adab-adab, prinsip-prinsip dan lain-lain. Taujihat bisa disamakan dengan kegiatan
orientasi mahasiswa baru yang sekarang lebih dikenal dengan istilah Pengenalan Budaya
Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK).
TOPANRITA dalam masyarakat Bugis topanrita merupakan bahasa lokal masyarakat
Bugis yang berarti ulama, topanrita artinya seorang ulama kharismatik yang disegani akan
keilmuan yang
RSA merupakan singkatan dari Radio Suara Asadiyah yang saat ini masih aktif.
4. Kesimpulan
Dari hasil penelitian terkait peluang dan tangan pesantren As’adiyah dapat disimpulkan.
Pertama, peran pesantren As’adiyah dapat dilihat dari visi-misinya yang membawa transmisi
dakwah dari Radio Suara As’adiyah ke As’adiyah Channel yang memberikan pengaruh besar
di dalam dan di luar Sulawesi Selatan, khasanah keilmuan klasik (kajian turats) masih terus
berjalan secara efektif dan dapat dilihat di As’adiyah Channel, transformasi pendidikan yang
terus berkembang pesat dan banyak di minati, khususnya di kawasan Indonesia Timur.
Kedua, sebagai bentuk strategi pesantren As’adiyah di ruang digital, setidaknya dapat
menjalin relasi dengan komunitas milenial, membangun komunikasi melalui literasi digital,
formulasi dakwah on civil society dan pesantren As’adiyah memiliki karakteristik future
terhadap kehati-hatian dalam dunia digitalisasi.
Ketiga. Melihat peluang-peluang digitalisasi, setidaknya pesantren As’adiyah memiliki
peluang dayasaing/kompetitif. Melihat orientasi intern dan ekstern yang perlu dikembangkan di
As’adiyah. Menampilkan kekhasan/distingsi lokal pesantren Bugis, seperti kultur sosial
pesantren, budaya, adat-istiadat dan sosial. Membangun relasi dengan cabang-cabang
As’adiyah yang menjadi tonggak jejaring nasional dan global. Seperti, kajian turats (kajian
Tafsir, fiqih dan tasawuf dan lain-lain) bagi kalangan awam, menengah, dan kalangan milenial.
Peluang selanjutnya adalah untuk mendigitalisasikan manuskrip, naskah-naskah pendiri
pondok pesantren As’adiyah dan ulama-ulama As’adiyah termasuk murid-murid dari AG. K.H.
Muhammad As’ad al-Bugisy yang masih belum dipublis secara global.
5. Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih kami haturkan kepada para narasumber yang telah memberikan
materi tentang kepesantrenan dan tantangannya. Sehingga dalam catatan hasil seminar yang
kami peroleh dapat dijadikan artikel. Dalam seminar kesepesantrenan, para narasumber
memberikan bekal terkait tantangan dan peluang pondok pesantren Asadiyah dalam
menghadapi era teknologi yang tidak harus dihindari dan dielakkan, tetapi bagaimana mampu
menghadapinya dengan berusaha untuk beradaptasi serta menguasai teknologi agar pesantren
Asadiyah tetap eksis di era yang serba teknologi.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
59
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca untuk melihat bagaimana tantangan
dan peluang yang harus diperhatikan. Adanya teknologi, dapat memberikan hal-hal positif
untuk mengembangkan pesantren dengan daya inovasi dan juga transformasi. Termasuk
pondok pesantren Asadiyah di Sulawesi Selatan yang telah lama berkipra dalam
mengembangkan sayap-sayapnya, pengetahuan, pendidikan dan juga dakwah yang berbasis
kutb turats di berbagai cabang-cabang di Indonesia. Sehingga kedepannya pondok pesantren
Asadiyah tetap istiqamah dalam menyebarkan Islam wasatiyah, rahmatan lil alamin.
Daftar Pustaka
Agama, B., Masyarakat, D. A. N., & Massoweang, A. K. (2021). Moderasi Beragama Dalam
Lektur Keagamaan Islam di Kawasan Timur Indonesia (Issue November).
Arif, M. (2016). Perkembangan Pesantren Di Era Teknologi. Jurnal Pendidikan Islam, 28(2),
307. https://doi.org/10.15575/jpi.v28i2.550
Asad, M. (2018). Pondok Pesantren AsAdiyah. Al-Qalam, 15(2), 335.
https://doi.org/10.31969/alq.v15i2.498
Astuti, S. A. (2014). Pesantren dan Globalisasi. EDUKASI: Jurnal Penelitian Pendidikan
Agama Dan Keagamaan, 11(1). https://doi.org/10.32729/edukasi.v4i3.413
Barmawi, M. (2017). AKTUALISASI DAKWAH ISLAM (Kajian Analisis Formulasi Dakwah
Rasulullah). Religia, 19(2), 12. https://doi.org/10.28918/religia.v19i2.747
Darlis. (2016). Peran Pesantren Asadiyah Sengkang dalam Membangun Moderasi Islam di
Tanah Bugis (Sebuah Penelitian Awal). Al-Misbah, 12(1), 111140.
Darlis, D. (2017). Peran Pesantren AsAdiyah Sengkang Dalam Membangun Moderasi Islam
Di Tanah Bugis. Al-Mishbah | Jurnal Ilmu Dakwah Dan Komunikasi, 12(1), 111.
https://doi.org/10.24239/al-mishbah.vol12.iss1.68
El-Mawa, M. (2014). Filologi Nusantara. Tashwirul Afkar: Jurnal Refleksi Pemikiran
Keagamaan & Kebudayaan, 34, 51.
Eriyanto, E. (2018). Disrupsi. Jurnal Komunikasi Indonesia, 7(1).
https://doi.org/10.7454/jki.v7i1.9945
Halim, W. (2017). Peran Pesantren Dalam Wacana Dan Pemberdayaan Masyarakat Madani.
AKADEMIKA: Jurnal Pemikiran Islam, 22(2), 191.
https://doi.org/10.32332/akademika.v22i2.976
Haris, A. (2022). Stabilitas Sumber Daya Manusia (SDM) Pesantren; Dan Konsep
Epistimologi Pesantren ala Imam al-Gazali. Jurnal Ilmiah Edukatif, 8(2), 147163.
Haris, A. (2024). Progresivitas Alumni Mahad Aly As adiyah Sengkang dalam Menguatkan
Pendidikan Moderasi Islam. Innovations in Multidisciplinary Education Journal, 1(1), 1
14.
Hidayat, M. (2020). Berdakwah Di Media Sosial. Jurnal Osf, 2(1), 19. https://osf.io/sp25v/
HS, M. A., Parninsih, I., & Alwi, N. F. (2022). Moderasi Beragama Pesantren: Jaringan dan
Paham Keagamaan As Adiyah, Darul DaWah Wal Irsyad, dan Nahdlatul Ulum
Sulawesi Selatan. Dialog, 45(1), 4156.
https://jurnaldialog.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/view/581%0Ahttps://jurnaldia
log.kemenag.go.id/index.php/dialog/article/download/581/242
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 48-60
E-ISSN: 3064-0180
60
Abd. Haris et.al (Pesantren On Digital Era: Tantangan.)
Husain, S. (2020). Nilai-nilai Moderasi Islam di Pesantren ( Studi Kasus pada Ma had Aly As
adiyah Sengkang Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan ). Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta, 151.
https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/54381/1/SADDAM HUSAIN
- SPs.pdf
Husniah, F. (2017). Representasi Tradisi Pesantren Dan Tantangannya Di Era Global Dalam
Novel Indonesia. FKIP E-PROCEEDING, 493504.
https://jurnal.unej.ac.id/index.php/fkip-epro/article/view/4919
Jamaludin, M. (2012). Metamorfosis Pesantern Di Era Globalisai. Journal of Social and
Islamic Culture, 20(1), 127139.
Kamal, A. (2018). Pelaksanaan Pengajian Halaqah dalam Pemahaman Keagamaan pada
Mahad Aly Pondok Pesantren Asadiyah Sengkang Kabupaten Wajo. Al-Qadri: Jurnal
Pendidikan, Sosial Dan Keagamaan, 17(2).
Malik, A. (2018). EDUCATION MANAGEMENT MA HAD ALY IN ULAMA
DEVELOPMENT AT AS ADIYAH SENGKANG SOUTH SULAWESI. International
Journal of Social Sciences, 67(1).
Muhyiddin Thahir, T. T. (2022). The Role of Asadiyah Islamic Boarding School in The
Implementation of The Understanding of Religious Moderation in Religious Education
and Preaching Muhyiddin Tahir, Tarmizi Tahir (Institut Agama Islam Asadiyah,
Sengkang). 22(1), 196220.
Nikmah, F. (2020). Digitalisasi Dan Tantangan Dakwah Di Era Milenial. Muẚṣarah: Jurnal
Kajian Islam Kontemporer, 2(1), 45. https://doi.org/10.18592/msr.v2i1.3666
Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, D., & Siaga Jiwa Raga, S. (2022). Prosiding
MuTamad 2021 Santri Siaga Jiwa Raga.
https://ditpdpontren.kemenag.go.id/artikel/prosiding-mu-tamad-tahun-2021
Pinilih, S. A. G. (2018). Aktualisasi Nilai-Nilai Pancasila Terhadap Hak Atas Kebebasan
Beragama Dan Beribadah Di Indonesia. Masalah-Masalah Hukum, 47(1), 40.
https://doi.org/10.14710/mmh.47.1.2018.40-46
Prosiding Kementerian Agama. (2018). Muktamar Pemikiran Santri Nusantara; Islam,
Kearifan Lokal dan Tantangan Kontemporer (M. S. M. Dkk (ed.)). Direktorat
Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam,
Kementerian Pendidikan Agama Republik Indonesia.
Reyman, J., & Sparby, E. M. (2020). Digital ethics: Rhetoric and responsibility in online
aggression. In J. R. and E. M. Sparby (Ed.), Digital Ethics: Rhetoric and Responsibility
in Online Aggression. Routledge & Franscis Group.
https://doi.org/10.4324/9780429266140
Rohman, D. A. (2020). Komunikasi Dakwah Melalui Media Sosial. Tatar Pasundan: Jurnal
Diklat Keagamaan, 13(2), 121133. https://doi.org/10.38075/tp.v13i2.19
Syamsul Maarif, Achmad Dardiri, D. S. (2015). Inklusivitas Pesantren Tebuirng: Menatap
Globalisasi Dengan Wajah Tradisionalisme. Pembangunan Pendidikan: Fondasi Dan
Aplikasi, 13(3).