I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 1, May 2025, page: 41-48
E-ISSN: 3064-0180
41
Ika Septi Hidayati (Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and.)
Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) Terhadap Motivasi Belajar Siswa
MTs Darul Ulum Muhammadiyah Galur
Ika Septi Hidayati
a,1
, Evitri Setiyaningsih
b,2
a
Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, Umbulharjo, Daerah istimewa Yogyakarta, Indonesia
b
Universitas Cokroaminoto Yogyakarta, Umbulharjo, Daerah istimewa Yogyakarta, Indonesia
1
septiika0909@gmail.com;
2
ehvitrisetiya31@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 20 Februari 2025
Direvisi: 22 Maret 2025
Disetujui: 30 April 2025
Tersedia Daring: 30 Mei 2025
Penelitian yang berjudul Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and
Learning (CTL) Terhadap Motivasi Belajar Siswa MTs Darul Ulum
Muhammadiyah Galur dilatar belakangi oleh rendahnya motivasi belajar
siswa saat pembelajaran. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh
CTL terhadap motivasi belajar siswa kelas IX MTs Darul Ulum
Muhammadiyah Galur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif
dengan metode quasi experimental design. Adapun populasi dari penelitian
ini adalah siswa kelas IX MTs Darul Ulum Muhammadiyah Galur dan yang
dijadikan sampel adalah dua kelas dengan pengambilan sampel
menggunakan metode purposive sampling. Teknik pengumpulan data
melalui dokumentasi dan angket. Analisis data menggunakan analisis
statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan penggunaan
pendekatan CTL terhadap motivasi belajar siswa MTs Darul Ulum
Muhammadiyah Galur dibuktikan dengan nilai nilai Sig. (2-tailed) yang
dicapai kelas eksperimen dan kelas kontrol 0,00<0,05.
Kata Kunci:
Contextual Teaching and
Learning (CTL)
Motivasi belajar
ABSTRACT
Keywords:
Contextual Teaching and
Learning (CTL)
Learning motivation
The study entitled “The Effect of Contextual Teaching and Learning (CTL)
Approach on Student Learning Motivation at MTs Darul Ulum Muhammadiyah
Galur” was motivated by low student learning motivation during lessons. The
purpose of this study was to determine the effect of CTL on the learning
motivation of ninth-grade students at MTs Darul Ulum Muhammadiyah Galur.
This study used a quantitative approach with a quasi-experimental design. The
population of this study was ninth-grade students at MTs Darul Ulum
Muhammadiyah Galur, and the sample consisted of two classes selected using
purposive sampling. Data collection techniques included documentation and
questionnaires. Data analysis used descriptive statistical analysis and
inferential statistical analysis. The results of the study indicate that there is a
significant effect of the CTL approach on the learning motivation of students at
MTs Darul Ulum Muhammadiyah Galur, as evidenced by the Sig. (2-tailed)
values achieved by the experimental class and the control class, which were
0.00 < 0.05.
©2025, Ika Septi Hidayati, Evitri Setiyaningsih
This is an open access article under CC BY-SA license
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 1, May 2025, page: 41-48
E-ISSN: 3064-0180
42
Ika Septi Hidayati (Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and.)
1. Pendahuluan
Pendidikan memegang peranan penting dalam kemajuan suatu bangsa. Dengan pendidikan
yang berkualitas, seseorang dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru yang dapat
digunakan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga dapat
membentuk kepribadian dan menggali potensi dalam dirinya. Pendidikan yang berkualitas harus
mampu mencapai tujuan pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang RI, (2003) tentang
sistem pendidikan nasional, yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab.
Pembelajaran yaitu proses interaksi antara siswa dengan pendidik dan sumber belajar dalam
sebuah lingkungan belajar (Nidaur Rohmah, 2017). Melalui proses pembelajaran yang efektif,
siswa dapat aktif mengembangkan potensi dirinya, memperoleh pengetahuan dan keterampilan
yang diperlukan, serta membentuk karakter yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Interaksi antara siswa, pendidik, dan sumber belajar dalam lingkungan belajarmenjadi landasan
utama dalam proses pembelajaran yang berhasil. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya
berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepribadian
yang sesuai dengan cita-cita pendidikan nasional.
Pembelajaran di sekolah didasari dengan motivasi belajar siswa yang merupakan elemen
penting dalam membangun pemahaman yang kokoh terhadap konsep-konsep. Motivasi belajar
yang tinggi akan mendorong siswa untuk lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran
(Srimuliyani, 2023), sehingga proses pembelajaran tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga
menjadi pengalaman yang bermakna dan memotivasi siswa untuk mengeksplorasi lebih dalam
konsep-konsep tersebut. Siswa akan lebih bersedia untuk melakukan upaya ekstra, seperti
mencari sumber belajar tambahan atau berdiskusi dengan teman sekelas, demi mencapai
pemahaman yang lebih mendalam.
Pemahaman konsep merupakan aspek yang sangat penting dalam prinsip pembelajaran
(Mundy, 2000). Dengan memahami konsep-konsep secara mendalam, siswa dapat membangun
fondasi yang kokoh untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah sehingga dapat
menyelesaikan persoalan yang diberikan. Jika siswa tidak memahami konsep yang diajarkan
dalam pembelajaran, maka siswa akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan
sehingga pemahaman konsep sangatlah penting dalam proses pembelajaran.
Hasil observasi di kelas VIII MTs Darul Ulum Muhammadiyah Galur menunjukkan adanya
indikasi bahwa motivasi siswa cenderung rendah. Ketika diberikan kesempatan untuk
mengaitkan materi pelajaran dengan contoh atau masalah dikehidupan nyata siswa terlihat
bingung. Siswa sering menyatakan bahwa siswa tidak menyukai pelajaran dan menganggapnya
sebagai mata pelajaran yang sulit karena tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Siswa
tampak kurang fokus dan mudah terganggu perhatiannya. Saat guru memberikan pertanyaan,
hanya sedikit siswa yang aktif menjawab sedangkan siswa lain mengabaikan penjelasan dari
guru dan memilih mengobrol dengan teman-temannya atau melihat keluar jendela. Hal ini
mengakibatkan hasil belajar yang tidak memuaskan dan kurangnya keinginan untuk
meningkatkan kemampuan siswa.
Berdasarkan uraian permasalahan yang ditemui di lapangan, peneliti tertarik melakukan
penelitian dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL
menekankan pembelajaran kontekstual, yang memungkinkan siswa untuk melihat keterkaitan
antara konsep dengan dunia nyata (Astri et al., 2022). Pendekatan CTL memberikan peluang
bagi guru untuk mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman hidup sehari-hari siswa.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 1, May 2025, page: 41-48
E-ISSN: 3064-0180
43
Ika Septi Hidayati (Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and.)
Melalui penerapan dalam kehidupan nyata, siswa dapat memahami lebih dalam tenyang
keterkaitan dan kegunaan dalam kehidupan sehari-hari (Fatimah et al., 2023).
Dalam pembelajaran CTL, siswa diharapkan aktif terlibat dalam proses pembelajaran,
sehingga siswa dapat membangun pemahaman konsep yang lebih baik dan lebih dalam.
Kelebihan CTL dalam pembelajaran adalah pendekatan ini mengintegrasikan konten dengan
konteks kehidupan nyata dan memfasilitasi siswa untuk menemukan relevansi serta aplikasi
praktis dari konsep-konsep tersebut. Kelas membutuhkan peningkatan keterlibatan aktif siswa,
motivasi belajar yang lebih tinggi, keterampilan membaca soal dan menerapkan konsep dalam
situasi nyata. Dengan demikian, CTL menjadi pendekatan yang sesuai untuk meningkatkan
pembelajaran dengan memperhatikan kebutuhan kelas. Judul yang diangkat dalam penelitian ini
yaitu: “Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Terhadap Motivasi
Belajar Siswa MTs Darul Ulum Muhammadiyah Galur.
2. Metode
Penelitian ini dilaksanakan di MTs Darul Ulum Muhammadiyah Galur Tahun Ajaran
2024/2025. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang menggunakan metode
eksperimen. Penelitian ini menggunakan desain kelompok Quasi experimental design. Quasi
experimental design merupakan jenis desain penelitian yang memiliki kelompok kontrol dan
kelompok eksperimen tidak dipilih secara random. Adapun bentuk desain kelompok Quasi
Experimental Design terdapat pada tabel 1.
Tabel 1. Desain Kelompok Quasi Experimental
O
1
X
O
2
O
3
-
O
4
Keterangan:
O
1
: Pretest kelas eksperimen sebelum diberikan perlakuan
O
2
: Posttest kelas eksperimen setelah diberikan perlakuan
X : Perlakuan yang diberikan
- : Tidak diberi perlakuan
O
3
: Pretest kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan
O
4
: Posttest kelas kontrol yang tidak diberikan perlakuan
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX MTs Darul Ulum Muhammadiyah Galur
tahun ajaran 2024/2025. Populasi terdiri dari 80 siswa yang terbagi menjadi 5 kelas.
Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling, yaitu pengambilan
sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2011). Purposive Sampling
digunakan dalam penelitian ini karena tidak semua sampel memenuhi kriteria yang relevan
dengan fenomena yang diteliti. Pemilihan sampel purposive sampling dilakukan dengan memilih
dan menunjuk populasi tertentu. Guru memberikan pertimbangan untuk mengambil kelas IX C
sebagai kelas eksperimen dan IX B sebagai kelas kontrol, alasannya kemampuan kedua kelas
tersebut tidak berbeda secara signifikan.
Peneliti menggunakan beberapa teknik untuk mengumpulkan data, antara lain dokumentasi
dan angket. Dokumentasi adalah proses pengumpulan data dari berbagai sumber tertulis seperti
dokumen, arsip, atau bahan lainnya yang relevan dengan fenomena penelitian (Ardiansyah et al.,
2023). Dalam penelitian ini dokumentasi dilakukan dengan pengambilan foto pada setiap
kegiatan penelitian. Angket merupakan alat ukur atau suatu instrumen. Instrumen adalah alat
yang digunakan untuk mengukur suatu objek atau mengumpulkan data terkait variabel tertentu
(Handayani et al., 2021). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket motivasi
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 1, May 2025, page: 41-48
E-ISSN: 3064-0180
44
Ika Septi Hidayati (Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and.)
untuk mengukur tingkat motivasi belajar siswa. Angket ini menggunakan skala Likert dengan 4
pilihan jawaban untuk menilai jawaban responden. Menurut Nugroho & Mawardi, (2021) skala
likert merupakan metode penilaian yang digunakan untuk mengukur tingkat persetujuan atau
ketidaksetujuan seseorang terhadap suatu pernyataan.
Teknik analisis data yang digunakan yaitu analisis statistik deskriptif dan analisis statistik
inferensial. Analisis deskriptif adalah proses penggambaran data dan perhitungan yang
membantu peneliti memperoleh gambaran menyeluruh tentang data yang dihasilkan. Data
tersebut berupa pretest dan posttest kelas eksperimen dan kelas kontrol. Analisis statistik
deskriptif meliputi rata-rata (mean), median, modus, varian, dan standar deviasi. Analisis
statistik inferensial bertujuan untuk menguji hipotesis. Analisis statistik inferensial meliputi uji
normalitas, uji homogenitas, dan uji hipotesis. Uji normalitas dilakukan untuk menilai apakah
data penelitian berdistribusi normal. Uji normalitas yang dipilih dalam penelitian ini adalah uji
Shapiro-Wilk. Uji Shapiro-Wilk dipilih sebagai uji normalitas karena jumlah sampel dalam
penelitian ini kurang dari 50 responden. Selanjutnya yaitu uji homogenitas. Uji homogenitas
dilakukan untuk menentukan apakah varian data pada dua kelompok sama atau tidak. Teknik
untuk menguji homogenitas dengan bantuan spss statistics 25 uji menggunakan rumus levene
test. Pengujian hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan uji t. Uji t adalah
metode statistik yang digunakan untuk menguji apakah terdapat perbedaan rata-rata yang
signifikan antara dua kelompok. Untuk menguji perbedaan rata-rata dua kelompok dalam uji t
terdapat beberapa rumus diantaranya polled varians dan separated varians. Jika jumlah anggota
sampel 𝑛1 = 𝑛2 dan varians homogen maka dapat menggunakan polled varians maupun
separated varians. Berdasarkan jumlah siswa dalam penelitian ini dimana kelas eksperimen
terdiri dari 20 siswa dan kelas kontrol terdiri dari 20 siswa maka dapat menggunakan rumus
polled varians maupun separated varians.
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan mengetahui pengaruh pendekatan Contextual
Teaching and Learning (CTL) terhadap motivasi belajar siswa di Madrasah Tsanawiyah (MTs)
Darul Ulum Muhammadiyah Galur. Sampel dalam penelitian ini yaitu 40 siswa yang terbagi
menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, masing-masing
berjumlah 20 siswa. Sebelum penelitian, peneliti melaksanakan uji coba instrumen angket yang
telah melalui proses validasi oleh ahli. Selanjutnya, hasil uji coba dianalisis untuk mengukur
reliabilitas, daya beda, dan tingkat kesukarannya. Tahap selanjutnya adalah pengumpulan data
penelitian yang dilakukan dengan menggunakan instrumen angket yang memenuhi persyaratan.
Pembelajaran dilaksanakan mulai tanggal 4-25 Februari 2025 dengan alokasi waktu
masing-masing kelas 3 pertemuan (8 x 40 menit). Pertemuan pertama untuk pelaksanaan pretest
dan pembelajaran. Pertemuan kedua melanjutkan pembelajaran. Pertemuan ketiga pembelajaran
dan pelaksanaan posttest. Pelaksanaan pembelajaran di kelas eksperimen dirancang sesuai
dengan karakteristik pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). Pendekatan ini
bertujuan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa melalui materi yang relevan dan
kontekstual. Komponen CTL yang digunakan dalam penelitian ini yaitu konstruktivisme,
inquiry, questioning, learning community, modelling, dan reflection. Setiap komponen tersebut
diimplementasikan dalam pembelajaran guna memfasilitasi pemahaman materi yang mendalam
melalui pengalaman dan aktivitas yang bermakna.
Langkah-langkah pembelajaran pada pertemuan pertama yaitu mengarahkan pada
konstruktivisme. Guru membangun pengetahuan siswa dengan menghubungkan materi yang
dipelajari dengan kehidupan nyata siswa, lalu mengajukan pertanyaan. Langkah yang kedua
yaitu menciptakan pembelajaran yang inquiry. Guru menginstruksikan siswa untuk
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 1, May 2025, page: 41-48
E-ISSN: 3064-0180
45
Ika Septi Hidayati (Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and.)
menyelesaikan permasalahan. Langkah yang ketiga mengarahkan pada pengajuan pertanyaan
yang dilakukan oleh siswa. Selanjutnya guru menginstruksikan siswa untuk berbagi pengetahuan
melalui diskusi dan tanya jawab guna mengemukakan pemikiran siswa tentang masalah luas
permukaan tabung sehingga siswa yang pintar dapat membantu siswa yang belum mampu.
Selama diskusi banyak siswa yang tidak ikut serta dalam diskusi, terlihat malu dan takut
menyampaikan pendapatnya. Langkah yang keempat yaitu mengorganisasikan siswa dalam
kelompok masyarakat belajar. Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari
4 siswa. Masing-masing kelompok diberikan lembar kerja siswa. Ketika membagi kelompok,
kelas menjadi sedikit ramai sehingga guru harus menenangkan siswa agar kelas kembali
kondusif. Kemudian banyak siswa yang masih bingung tentang cara menjawab pertanyaan.
Siswa lebih sering bertanya daripada membaca petunjuk di lembar kerja siswa. Guru berusaha
untuk membantu setiap kelompok dengan baik. Siswa mulai memahami prosesnya setelah guru
meminta siswa untuk membaca kembali. Langkah yang kelima guru menghadirkan model dalam
pembelajaran. Setelah siswa menemukan konsep materi, guru memberikan contoh penyelesaian
masalah yang berkaitan dengan materi yang dipelajari. Langkah yang keenam yaitu melakukan
refleksi pembelajaran. Refleksi dilakukan berdasarkan hasil lembar kerja siswa yang dikerjakan
setiap kelompok melalui sesi tanya jawab.
Pada pertemuan yang kedua pembelajaran diawali dengan mengarahkan pada
konstruktivisme. Guru memberikan contoh kontekstual kemudian menggali informasi dan
menghubungkannya dengan pengalaman siswa. Siswa menjadi antusias ketika guru mereview
konsep-konsep yang telah dipelajari, terutama ketika dikaitkan dengan dunia nyata. Langkah
yang kedua yaitu menciptakan pembelajaran yang inquiry. Guru memberikan soal yang
dikerjakan masing-masing siswa. Guru membimbing siswa untuk menyelidiki menggunakan
uang koin. Langkah yang ketiga yaitu mengarahkan pada pengajuan pertanyaan yang dilakukan
oleh siswa. Guru melakukan tanya jawab mengenai masalah yang berkaitan dengan kehidupan
sehari-hari. Pada pertemuan ini banyak siswa yang menjawab pertanyaan dengan baik, walaupun
masih ada beberapa penjelasan yang kurang. Langkah yang keempat yaitu mengorganisasikan
siswa dalam kelompok masyarakat belajar. Pada pertemuan ke-2 lembar kerja siswa berbentuk
petunjuk dan pertanyaan yang membimbing dan mengarahkan siswa untuk menemukan
pemahaman materi yang dipelajari. Hambatan dalam membagi susunan tempat duduk menjadi
kelompok-kelompok pada pertemuan pertama berhasil diatasi pada pertemuan ini. Langkah yang
kelima guru menghadirkan model dalam pembelajaran. Guru meminta salah satu kelompok
mempresentasikan hasil pekerjaan kelompoknya, dan untuk menghemat waktu guru meminta
siswa menuliskan jawabannya dipapan tulis. Dari jawaban kelompok siswa terlihat telah
memahami masalahmasalah yang terdapat dalam lembar kerja pada materi volume tabung.
Langkah yang keenam yaitu melakukan refleksi pembelajaran. Guru meminta salah satu siswa
merangkum materi yang telah dipelajari. Siswa tersebut menyimpulkan bahwa materi yang
dipelajari.
Pada pertemuan yang ketiga pembelajaran diawali dengan langkah CTL yang pertama
yaitu mengarahkan pada konstruktivisme. Guru meminta siswa untuk mengkonstruksi masalah
yang berkaitan dengan materi yang akan dipelajari. Langkah yang kedua yaitu menciptakan
pembelajaran yang inquiry. Guru menginstruksikan siswa untuk melakukan percobaan dengan
alat peraga. Langkah yang ketiga yaitu mengarahkan pada pengajuan pertanyaan yang
dilakukan oleh siswa. Terdapat siswa mengajukan pertanyaan tentang bagaimana cara membuka
model alat peraga. Sebagian besar siswa membantu menjawab pertanyaan yang diajukan
temannya untuk membantu pemahaman siswa tentang konsep yang dipelajari. Langkah yang
keempat yaitu mengorganisasikan siswa dalam kelompok masyarakat belajar. Saat mengerjakan
lembar kerja secara berkelompok guru selalu membimbing siswa walaupun sebagian besar sudah
memahami permasalahannya. Selama berdiskusi siswa saling berbagi ide untuk menemukan
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 1, May 2025, page: 41-48
E-ISSN: 3064-0180
46
Ika Septi Hidayati (Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and.)
konsep. Siswa antusias dan bekerja sama selama berdiskusi serta memilih jawaban yang benar
sesuai dengan kelompoknya berdasarkan permasalahan yang diberikan. Langkah yang kelima
guru menghadirkan model dalam pembelajaran. Setelah diskusi selesai, guru memberikan
kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan hasil diskusinya bukan dengan memilih
siswa secara acak tetapi berdasarkan kesadaran dan keberanian siswa sendiri. Langkah yang
keenam melakukan refleksi pembelajaran. Melalui diskusi dan presentasi guru meminta siswa
untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. Kemudian pada akhir pembelajaran siswa
diberikan posttest.
Selama pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan CTL, terlihat perubahan positif
dalam respons dan semangat belajar siswa. Sebagai contoh pada pembelajaran siswa terlihat
berani dalam mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan yang diberikan serta saling
berdiskusi dengan kelompoknya untuk menyelesaikan masalah yang diberikan. Siswa terlibat
aktif dan antusias dalam mengkonstruksi pengetahuan baru, berdiskusi dalam kelompok kecil
untuk menyelesaikan tugas, serta berani bertanya kepada guru dan teman. Siswa juga
menunjukkan inisiatif dalam mencari informasi menggunakan buku teks atau berdiskusi.
Peningkatan motivasi belajar juga didukung dengan hasil angket motivasi belajar yang
menunjukkan kenaikan setelah penggunaan pendekatan CTL.
Setelah mendapatkan hasil angket siswa di kelas eksperimen dan kelas kontrol, langkah
selanjutnya yaitu menganalisis data. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis statistik
deskriptif dan analisis statistik inferensial. Analisis statistik deskriptif meliputi rata-rata, median,
modus, varian, dan standar deviasi. Analisis statistik inferensial meliputi uji normalitas,
homogenitas, dam uji t. Sebelum melakukan uji t, terlebih dahulu melakukan uji prasyarat, yaitu
uji normalitas dan uji homogenitas dengan bantuan spss statistics 25. Berdasarkan uji normalitas,
data motivasi belajar siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol berdistribusi normal. Selanjutnya
hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa varians data motivasi belajar siswa adalah sama atau
homogen. Dari hasil tersebut, maka persyaratan untuk melakukan uji t terpenuhi.
Tabel 2, Tabel Hasil Uji t
Levene's Test
for Equality of
Variances
t-test for Equality of Means
F
Sig.
t
df
Sig. (2-
tailed)
Mean
Difference
Std. Error
Difference
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower
Upper
POST
TEST
Equal
variances
assumed
.660
.422
4.971
38
.000
10.050
2.022
5.958
14.142
Equal
variances
not
assumed
4.971
35.044
.000
10.050
2.022
5.946
14.154
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 1, May 2025, page: 41-48
E-ISSN: 3064-0180
47
Ika Septi Hidayati (Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and.)
Uji hipotesis dengan uji t diperoleh nilai sehingga
ditolak dan diterima. Kondisi ini semakin diperkuat dengan adanya perbedan nilai
rata-rata posttest yang signifikan antara kelas kontrol (73,95) dan kelas eksperimen (84,00).
Dengan demikian, terdapat perbedaan rata-rata siswa yang menggunakan pendekatan CTL
dengan siswa yang menggunakan pendekatan saintifik.
Tabel 3, Tabel Hasil Paired Sample t-test
Paired Samples Test
Paired Differences
t
df
Sig. (2-
tailed)
Mean
Std.
Deviatio
n
Std.
Error
Mean
95% Confidence
Interval of the
Difference
Lower
Upper
Pair
1
pretesteks -
posttesteks
-24.700
10.678
2.388
-29.697
-19.703
-10.345
19
.000
Pair
2
pretestkon -
posttestkon
-15.250
5.812
1.300
-17.970
-12.530
-11.735
19
.000
Berdasarkan output uji paired sample t-test diperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar pada kelas
ekperimen serta kelas kontrol, maka dapat disimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan
penggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) terhadap motivasi belajar.
4. Kesimpulan
Berdasarkan deskripsi dan pembahasan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan terdapat
pengaruh yang signifikan penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL)
terhadap motivasi belajar siswa kelas IX MTs Darul Ulum Muhammadiyah Galur Tahun Ajaran
2024/2025. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji hipotesis yang menunjukkan nilai Sig. (2-tailed)
yang dicapai kelas eksperimen dan kelas kontrol sehingga ditolak dan
diterima. Artinya, terdapat perbedaan pada rata-rata hasil angket motivasi belajar siswa antara
kelas kontrol dengan kelas eksperimen setelah pembelajaran menggunakan pendekatan CTL.
Motivasi belajar kelas eksperimen lebih baik dari kelas kontrol. Saran peneliti untuk penelitian
selanjutnya yaitu pendekatan contextual teaching and learning (CTL) layak dipertimbangkan
untuk digunakan dalam pembelajaran di kelas. Penggunaan semua langkah CTL diperlukan
untuk memaksimalkan peran CTL dalam pembelajaran.
5. Daftar Pustaka
Ardiansyah, Risnita, & Jailani, M. S. (2023). Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumen
Penelitian Ilmiah Pendidikan Pada Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif. IHSAN: Jurnal
Pendidikan Islam, 1(2), 19.
Astri, N., Wiarta, I., & Wulandari, I. (2022). Pengembangan Multimedia Interaktif Berbasis
Pendekatan Kontekstual Pada Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasan Bangun Datar.
Jurnal Pendidikan Dan Konseling, 4(3), 575585.
I M E J
Innovations in Multidisciplinary Education Journal
Vol. 2, No. 1, May 2025, page: 41-48
E-ISSN: 3064-0180
48
Ika Septi Hidayati (Pengaruh Pendekatan Contextual Teaching and.)
Fatimah, Fitria, Y., & Erita, Y. (2023). Pengaruh pembelajaran tematik terpadu connected
terhadap pembelajaran matematika siswa sekolah dasar. Jurnal Perseda, 4(2), 110120.
Handayani, F., Hendriana, H., & Yuliani, W. (2021). Validitas Dan Reliabilitas Angket
Keterampilan Sosial Anak Usia Dini. FOKUS (Kajian Bimbingan & Konseling Dalam
Pendidikan), 4(4), 250.
Mundy, J. F. (2000). Principles and Standards for School Mathematics: A Guide for
Mathematicians. Notices of the American Mathematical Society, 47(8), 868876.
Nidaur Rohmah, A. (2017). Belajar Dan Pembelajaran(Pendidikan Dasar). Journal.Stitaf.Ac.Id,
09(02), 193210.
Nugroho, A. S., & Mawardi, M. (2021). Pengembangan Instrumen Penilaian Sikap
Tanggungjawab dalam Pembelajaran Tematik di Sekolah Dasar. Jurnal Basicedu, 5(2),
808817.
Srimuliyani. (2023). Menggunakan teknik gamifikasi untuk meningkatkan pembelajaran dan
keterlibatan siswa di kelas. EDUCARE: Jurnal Pendidikan Dan Kesehatan, 1(2), 2935.
Sugiyono. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D.
Undang-Undang RI. (2003). Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem
Pendidikan Nasional. In Departemen Pendidikan Nasional (pp. 142).