1. Pendahuluan
Pendidikan memegang peranan penting dalam kemajuan suatu bangsa. Dengan pendidikan
yang berkualitas, seseorang dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru yang dapat
digunakan untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas sehingga dapat
membentuk kepribadian dan menggali potensi dalam dirinya. Pendidikan yang berkualitas harus
mampu mencapai tujuan pendidikan yang tercantum dalam Undang-Undang RI, (2003) tentang
sistem pendidikan nasional, yang berbunyi: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung
jawab”.
Pembelajaran yaitu proses interaksi antara siswa dengan pendidik dan sumber belajar dalam
sebuah lingkungan belajar (Nidaur Rohmah, 2017). Melalui proses pembelajaran yang efektif,
siswa dapat aktif mengembangkan potensi dirinya, memperoleh pengetahuan dan keterampilan
yang diperlukan, serta membentuk karakter yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa.
Interaksi antara siswa, pendidik, dan sumber belajar dalam lingkungan belajarmenjadi landasan
utama dalam proses pembelajaran yang berhasil. Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya
berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepribadian
yang sesuai dengan cita-cita pendidikan nasional.
Pembelajaran di sekolah didasari dengan motivasi belajar siswa yang merupakan elemen
penting dalam membangun pemahaman yang kokoh terhadap konsep-konsep. Motivasi belajar
yang tinggi akan mendorong siswa untuk lebih aktif dan antusias dalam mengikuti pembelajaran
(Srimuliyani, 2023), sehingga proses pembelajaran tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga
menjadi pengalaman yang bermakna dan memotivasi siswa untuk mengeksplorasi lebih dalam
konsep-konsep tersebut. Siswa akan lebih bersedia untuk melakukan upaya ekstra, seperti
mencari sumber belajar tambahan atau berdiskusi dengan teman sekelas, demi mencapai
pemahaman yang lebih mendalam.
Pemahaman konsep merupakan aspek yang sangat penting dalam prinsip pembelajaran
(Mundy, 2000). Dengan memahami konsep-konsep secara mendalam, siswa dapat membangun
fondasi yang kokoh untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah sehingga dapat
menyelesaikan persoalan yang diberikan. Jika siswa tidak memahami konsep yang diajarkan
dalam pembelajaran, maka siswa akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan
sehingga pemahaman konsep sangatlah penting dalam proses pembelajaran.
Hasil observasi di kelas VIII MTs Darul Ulum Muhammadiyah Galur menunjukkan adanya
indikasi bahwa motivasi siswa cenderung rendah. Ketika diberikan kesempatan untuk
mengaitkan materi pelajaran dengan contoh atau masalah dikehidupan nyata siswa terlihat
bingung. Siswa sering menyatakan bahwa siswa tidak menyukai pelajaran dan menganggapnya
sebagai mata pelajaran yang sulit karena tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Siswa
tampak kurang fokus dan mudah terganggu perhatiannya. Saat guru memberikan pertanyaan,
hanya sedikit siswa yang aktif menjawab sedangkan siswa lain mengabaikan penjelasan dari
guru dan memilih mengobrol dengan teman-temannya atau melihat keluar jendela. Hal ini
mengakibatkan hasil belajar yang tidak memuaskan dan kurangnya keinginan untuk
meningkatkan kemampuan siswa.
Berdasarkan uraian permasalahan yang ditemui di lapangan, peneliti tertarik melakukan
penelitian dengan menerapkan pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL). CTL
menekankan pembelajaran kontekstual, yang memungkinkan siswa untuk melihat keterkaitan
antara konsep dengan dunia nyata (Astri et al., 2022). Pendekatan CTL memberikan peluang
bagi guru untuk mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman hidup sehari-hari siswa.