Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Juni 2024, page: 11-18
E-ISSN: 3026-4014
- 13 -
diperoleh melalui interaksi dengan guru. Proses ini melibatkan pengondisian rangsangan berupa
paparan bahasa Jawa Krama sehingga menimbulkan respon dari siswa (Khasanah et al., 2023).
Pada usia dini, anak-anak diharapkan mampu menggunakan bahasa secara efektif dalam
berkomunikasi (Ismaya et al., 2022). Kemampuan bahasa menjadi modal berharga bagi mereka
untuk berinteraksi dengan orang lain, menyatakan kebutuhan, dan menjalin hubungan sosial
(Azzahroh, Sari, dan Lubis, 2021). Survei BPS baru-baru ini mengungkap wawasan menarik
tentang bahasa Jawa. Meskipun terdapat sekitar 80 juta penutur di negara ini, yang jumlahnya
signifikan, survei juga menunjukkan penurunan sebesar 0,8 persen. Penurunan ini tampaknya terkait
dengan pergeseran preferensi bahasa di kalangan keluarga Jawa (Fauziyah, 2023).
Banyak anak dan bahkan orang dewasa saat ini mengalami kesulitan menggunakan tata krama
Bahasa Jawa dengan baik dan benar (Astuti, 2022). Ini menunjukkan bahwa di era modern ini,
banyak masyarakat kurang fasih dalam menggunakan bahasa daerah mereka sendiri, terutama
bahasa Jawa Krama, terutama pada kalangan anak-anak (Maghfirotun, 2021). Observasi yang
dilakukan peneliti di RA Masyithoh I parakan adalah adanya anak kurang sopan santun dalam
berbicara terhadap guru dan orang tua. di RA Masyithoh I Parakan terdapat anak yang selalu
menggunakan bahasa ngoko kepada orang yang lebih tua, ketika berbicara kepada guru maupun
orang tua. Selain itu, terdapat juga orang tua yang tidak memberikan contoh penggunaan bahasa
jawa krama dalam penuturan sehari-hari. Tentunya hal tersebut tidak sesuai dengan tata krama yang
baik, dan akan berdampak buruk pada adab kesopanan anak.
Studi sebelumnya dari Nurti Maret pada tahun 2020. Penelitian ini bertujuan mengetahui peran
guru dalam menamamkan berbahasa Jawa santun terhadap anak. Hasil penelitian adalah Peran Guru
dalam menanamkan berbahasa Jawa santun anak meliputi: pertama peran guru sebagai pendidik
dengan memberikan pemahaman kepada anak mengenai cara sopan santun dalam berbahasa kepada
guru orang lain, peran guru sebagai teladan dengan guru selalu menunjukkan sopan santun dalam
berbicara. Penelitian Nurti maret dengan peneliti sama-sama menggunakan kualitatif. Perbedaannya
dengan penelitian ini yaitu jika dalam penelitian Nurti Maret meneliti peran guru dalam
menamamkan berbahasa Jawa santun terhadap anak, sedangkan pada penelitian ini meneliti tentang
peningkatan perkembangan bahasa melalui pembiasaan berbahasa jawa krama pada anak (Maret,
2020). Studi kedua, Anggelia Putri Hapsari tahun 2015 bertujuan mengetahui alasan anak muda
tidak menggunakan bahasa Jawa Krama dalam komunikasi sosial. Penelitian ini menggunakan
metode fenomenologi lapangan. Hasilnya menunjukkan bahwa anak muda lebih terbiasa
menggunakan bahasa Jawa Ngoko atau bahasa Indonesia sehari-hari. Lingkungan sosial memiliki
pengaruh kuat terhadap sikap dan penggunaan bahasa mereka. Persamaan dengan penelitian ini
adalah fokus pada bahasa Jawa Krama. Perbedaannya, penelitian Hapsari meneliti penggunaan
bahasa Jawa Krama pada remaja, sedangkan penelitian ini meneliti peningkatan perkembangan
bahasa melalui pembiasaan berbahasa Jawa Krama pada anak usia dini (Hapsari, 2015).
Studi Ketiga, Risa Adi Setiani tahun 2019 bertujuan mengetahui cara pembiasaan berbahasa
Jawa Krama pada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan ini dilakukan setiap hari
Kamis, terutama saat apel pagi. Penelitian Setiani dan penelitian ini sama-sama meneliti
pembiasaan bahasa Jawa Krama. Perbedaannya, Setiani fokus pada cara pembiasaan berbahasa
Jawa Krama, sedangkan penelitian ini meneliti peningkatan perkembangan bahasa melalui
pembiasaan berbahasa Jawa Krama pada anak (Setiani, 2019). Studi keempat, Fatimatuz Zahro
tahun 2022 berfokus pada pengaruh pembiasaan berbahasa Jawa Krama terhadap pembentukan
karakter sopan santun. Penelitian kuantitatif ini menggunakan teknik analisis korelasi dan
menyimpulkan bahwa pembiasaan berbahasa Jawa Krama berpengaruh positif terhadap
pembentukan karakter sopan santun siswa. Penelitian Zahro dan penelitian ini sama-sama meneliti
pembiasaan berbahasa Jawa Krama, namun perbedaannya terletak pada pendekatan dan fokus
penelitian. Zahro menggunakan pendekatan kuantitatif dan membahas pengaruh pembiasaan bahasa
terhadap karakter sopan santun siswa MI, sedangkan penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dan meneliti peningkatan perkembangan bahasa melalui pembiasaan bahasa Jawa Krama
pada siswa RA (Zahro, 2022). Studi kelima, Titin Parliana tahun 2023 bertujuan mendeskripsikan
penggunaan bahasa Jawa Krama untuk membentuk karakter sopan santun anak usia dini. Penelitian
kualitatif ini menemukan bahwa di TK Pertiwi Karangjati, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten
Banyumas, bahasa Jawa Krama digunakan melalui metode lagu, permainan, keteladanan, tanya