Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Juni 2024, page: 11-18
E-ISSN: 3026-4014
- 11 -
Artikel Penelitian
Naskah dikirim: 10/3/2024Selesai revisi: 4/4/2024 Disetujui: 12/5/2024 Diterbitkan:1/6/2024
Peningkatan Perkembangan Bahasa melalui Pembiasaan Berbahasa Jawa Krama pada
Anak Usia Dini di RA Masyithoh 1 Parakan
Anindita Regina Puti
1
, Husna Nasihin
2
, Asih Puji Hastuti
3
1,2,3
INISNU Temanggung, Jawa Tengah, Indonesia
e-mail: putianindita124@gmail.com
Abstrak: Penggunaan bahasa Jawa Krama menjunjung tinggi perilaku sopan santun di masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi serta hasil peningkatan perkembangan bahasa pada
anak usia dini di RA Masyithoh 1 Parakan. Latar belakang penelitin ini yaitu adanya anak yang selalu
menggunakan bahasa ngoko, ketika berbicara kepada kepada orang yang lebih tua, guru maupun orang
tua. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan jenis penelitian yang digunakan yaitu field
research (penelitian lapangan). Subyek dalam penelitian ini lima siswa yang bersekolah di RA Masyithoh
1 Parakan yang selalu menggunakan penuturan bahasa ngoko kepada orang yang lebih tua. Penentuan
sampel pada penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Penelitian di RA Masyithoh 1
Parakan menunjukkan bahwa strategi peningkatan perkembangan bahasa anak usia dini melalui
pembiasaan berbahasa Jawa Krama sebagai bahasa pengantar pendidikan efektif. Faktor pendukung
utama adalah peran guru yang rutin menggunakan bahasa Jawa Krama, fasilitas sekolah yang memadai,
dan dukungan orang tua yang menggunakan bahasa Jawa Krama di rumah. Hambatan utama adalah
penggunaan bahasa Ngoko di kalangan teman sebaya dan lingkungan keluarga. Hasilnya, satu anak
menunjukkan peningkatan dalam memahami bahasa Jawa Krama, namun belum bisa mengutarakannya,
sementara empat siswa lainnya sudah mampu menuturkan bahasa Jawa Krama.
Kata kunci: Perkembangan bahasa, Pembiasaan, Bahasa Jawa Krama
Abstract: The use of the Javanese language Krama upholds polite behavior in society. This research aims
to determine the strategies and results of progress in language development in early childhood at RA
Masyithoh 1 Parakan. The background to this research is that there are children who always use Ngoko
language when talking to older people, teachers and parents. This research uses a qualitative approach
and the type of research used is field research. The subjects in this research were five students attending
RA Masyithoh 1 Parakan who always used ngoko language to speak to their elders. Determining the
sample in this study used a purposive sampling technique. Research at RA Masyithoh 1 Parakan shows
that the strategy of increasing early childhood language development through familiarization with
Javanese Krama as the language of education is effective. The main supporting factors are the role of
teachers who regularly use Javanese Krama, adequate school facilities, and support from parents who
use Javanese Krama at home. The main obstacle is the use of the Ngoko language among peers and the
family environment. As a result, one child showed improvement in understanding Javanese Krama, but
could not yet speak it, while the other four students were able to speak Javanese Krama.
Keywords: Language development, habituation, Javanese language manners
Hak Cipta©2024 Anindita Regina Puti, Husna Nasihin, Asih Puji Hastuti
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Juni 2024, page: 11-18
E-ISSN: 3026-4014
- 12 -
1. Pendahuluan
Bahasa daerah di Indonesia berperan penting sebagai sarana komunikasi dan pelestari warisan
budaya dalam masyarakat. Keanekaragaman bahasa daerah ini tidak menghambat persatuan
nasional, melainkan menjadi aset berharga yang perlu dijaga (Diana & Khotimah, 2021). Undang-
Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003, Bab VII, pasal 33 menyebutkan bahwa Bahasa
Indonesia harus digunakan sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan nasional. Bahasa daerah
juga dapat dipakai pada tahap awal pendidikan dan untuk mengajarkan pengetahuan atau
keterampilan tertentu. Penggunaan bahasa, baik bahasa daerah maupun bahasa nasional, pada
tingkat PAUD sangat penting untuk pembentukan karakter dan kebudayaan bangsa. Makin baik
pemakaian dan pelestarian bahasa lokal, makin baik pula karakter dan budaya yang terbangun
(Hamidulloh Ibda, 2017).
Bahasa Jawa merupakan bahasa ibu bagi masyarakat Jawa, dan juga menjadi alat komunikasi
utama mereka dalam kehidupan bermasyarakat (Hary Purwanto et al., 2021). Bahasa ini digunakan
untuk berinteraksi dan berhubungan satu sama lain, baik dalam keluarga, pertemanan, maupun
aktivitas sosial lainnya. Bahasa Jawa memiliki tingkatan yang digunakan oleh penutur untuk
menunjukkan kedekatan, rasa hormat, dan hierarki dalam interaksi sosial. Tingkatan bahasa ini
biasanya disesuaikan dengan usia atau status orang yang diajak bicara (Putrihapsari & Dimyati,
2021).
Keterampilan berbahasa merupakan modal berharga bagi anak untuk menjelajahi dunia di
sekitarnya. Dengan kemampuan ini, anak dapat mengomunikasikan kebutuhan, perasaan, dan
pemikirannya secara efektif kepada orang lain (Markus et al., 2018). Selain itu, keterampilan
berbahasa membantu anak memahami instruksi, cerita, dan informasi yang mereka terima, sehingga
memperluas wawasan dan pengetahuan mereka. Interaksi sosial yang baik juga sangat bergantung
pada kemampuan berbahasa, memungkinkan anak untuk membentuk hubungan yang positif dan
bermakna dengan teman sebaya serta orang dewasa. Melalui bahasa, anak juga dapat
mengekspresikan kreativitas dan imajinasi mereka, yang penting untuk perkembangan kognitif dan
emosional (Sururin et al., 2023).
Tujuh tahun pertama kehidupan menjadi periode sangat penting karena merupakan masa
perkembangan pesat, yang sering disebut sebagai masa emas anak. Selama periode ini, kemampuan
berbahasa anak berkembang dengan cepat, membuka berbagai peluang untuk belajar dan
berkembang. Anak-anak mulai memahami dan menggunakan kata-kata, kalimat, dan konsep bahasa
yang lebih kompleks, yang memungkinkan mereka untuk berkomunikasi lebih efektif dengan
orang-orang di sekitar mereka (Parapat et al., 2023). Perkembangan bahasa yang pesat ini juga
memfasilitasi pembelajaran dalam berbagai bidang, termasuk sains, dan keterampilan sosial.
Interaksi dengan orang tua, pengasuh, dan lingkungan sekitar menjadi sangat penting dalam
memperkaya kosakata dan pemahaman bahasa anak. Dengan dukungan dan stimulasi yang tepat,
anak-anak dapat memaksimalkan potensi mereka, menjadikan masa emas ini sebagai fondasi yang
kuat untuk keberhasilan di masa depan (Faizah, 2022).
Kemampuan berbahasa merupakan faktor penting dalam pertumbuhan anak, sejajar dengan
aspek perkembangan lainnya. Bahasa berperan sebagai penghubung komunikasi antara individu,
membolehkan anak untuk membangun koneksi dengan orang lain dan menyebarkan informasi
(Lubna et al., 2024). Melalui bahasa, anak dapat mengekspresikan perasaan, kebutuhan, dan ide-
idenya, yang penting untuk perkembangan sosial dan emosional mereka. Selain itu, kemampuan
berbahasa yang baik juga mendukung perkembangan kognitif, membantu anak memahami konsep-
konsep baru dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar. Oleh karena itu, bahasa menjadi elemen
utama dalam memperbaiki segala aspek pertumbuhan anak secara keseluruhan (Nafiah, 2021).
Teori Behaviorisme dari Skinner mengenai pemerolehan bahasa pertama dipicu oleh
rangsangan dari lingkungan eksternal. Teori ini mengedepankan hubungan antara rangsangan dan
respons (Muradi, 2018). Pemaparan yang konsisten terhadap Krama Jawa menjadi rangsangan yang
kuat dalam memperkuat kemampuan berbahasa anak-anak. Perkembangan bahasa dipahami sebagai
peralihan dari ekspresi verbal yang acak ke kemampuan komunikasi yang autentik, yang didukung
oleh prinsip S-R (stimulus-response) dan proses peniruan. Pembelajaran dipengaruhi oleh perilaku.
Perkembangan bahasa dibentuk oleh lingkungan eksternal, yang menyiratkan bahwa pengetahuan
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Juni 2024, page: 11-18
E-ISSN: 3026-4014
- 13 -
diperoleh melalui interaksi dengan guru. Proses ini melibatkan pengondisian rangsangan berupa
paparan bahasa Jawa Krama sehingga menimbulkan respon dari siswa (Khasanah et al., 2023).
Pada usia dini, anak-anak diharapkan mampu menggunakan bahasa secara efektif dalam
berkomunikasi (Ismaya et al., 2022). Kemampuan bahasa menjadi modal berharga bagi mereka
untuk berinteraksi dengan orang lain, menyatakan kebutuhan, dan menjalin hubungan sosial
(Azzahroh, Sari, dan Lubis, 2021). Survei BPS baru-baru ini mengungkap wawasan menarik
tentang bahasa Jawa. Meskipun terdapat sekitar 80 juta penutur di negara ini, yang jumlahnya
signifikan, survei juga menunjukkan penurunan sebesar 0,8 persen. Penurunan ini tampaknya terkait
dengan pergeseran preferensi bahasa di kalangan keluarga Jawa (Fauziyah, 2023).
Banyak anak dan bahkan orang dewasa saat ini mengalami kesulitan menggunakan tata krama
Bahasa Jawa dengan baik dan benar (Astuti, 2022). Ini menunjukkan bahwa di era modern ini,
banyak masyarakat kurang fasih dalam menggunakan bahasa daerah mereka sendiri, terutama
bahasa Jawa Krama, terutama pada kalangan anak-anak (Maghfirotun, 2021). Observasi yang
dilakukan peneliti di RA Masyithoh I parakan adalah adanya anak kurang sopan santun dalam
berbicara terhadap guru dan orang tua. di RA Masyithoh I Parakan terdapat anak yang selalu
menggunakan bahasa ngoko kepada orang yang lebih tua, ketika berbicara kepada guru maupun
orang tua. Selain itu, terdapat juga orang tua yang tidak memberikan contoh penggunaan bahasa
jawa krama dalam penuturan sehari-hari. Tentunya hal tersebut tidak sesuai dengan tata krama yang
baik, dan akan berdampak buruk pada adab kesopanan anak.
Studi sebelumnya dari Nurti Maret pada tahun 2020. Penelitian ini bertujuan mengetahui peran
guru dalam menamamkan berbahasa Jawa santun terhadap anak. Hasil penelitian adalah Peran Guru
dalam menanamkan berbahasa Jawa santun anak meliputi: pertama peran guru sebagai pendidik
dengan memberikan pemahaman kepada anak mengenai cara sopan santun dalam berbahasa kepada
guru orang lain, peran guru sebagai teladan dengan guru selalu menunjukkan sopan santun dalam
berbicara. Penelitian Nurti maret dengan peneliti sama-sama menggunakan kualitatif. Perbedaannya
dengan penelitian ini yaitu jika dalam penelitian Nurti Maret meneliti peran guru dalam
menamamkan berbahasa Jawa santun terhadap anak, sedangkan pada penelitian ini meneliti tentang
peningkatan perkembangan bahasa melalui pembiasaan berbahasa jawa krama pada anak (Maret,
2020). Studi kedua, Anggelia Putri Hapsari tahun 2015 bertujuan mengetahui alasan anak muda
tidak menggunakan bahasa Jawa Krama dalam komunikasi sosial. Penelitian ini menggunakan
metode fenomenologi lapangan. Hasilnya menunjukkan bahwa anak muda lebih terbiasa
menggunakan bahasa Jawa Ngoko atau bahasa Indonesia sehari-hari. Lingkungan sosial memiliki
pengaruh kuat terhadap sikap dan penggunaan bahasa mereka. Persamaan dengan penelitian ini
adalah fokus pada bahasa Jawa Krama. Perbedaannya, penelitian Hapsari meneliti penggunaan
bahasa Jawa Krama pada remaja, sedangkan penelitian ini meneliti peningkatan perkembangan
bahasa melalui pembiasaan berbahasa Jawa Krama pada anak usia dini (Hapsari, 2015).
Studi Ketiga, Risa Adi Setiani tahun 2019 bertujuan mengetahui cara pembiasaan berbahasa
Jawa Krama pada anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembiasaan ini dilakukan setiap hari
Kamis, terutama saat apel pagi. Penelitian Setiani dan penelitian ini sama-sama meneliti
pembiasaan bahasa Jawa Krama. Perbedaannya, Setiani fokus pada cara pembiasaan berbahasa
Jawa Krama, sedangkan penelitian ini meneliti peningkatan perkembangan bahasa melalui
pembiasaan berbahasa Jawa Krama pada anak (Setiani, 2019). Studi keempat, Fatimatuz Zahro
tahun 2022 berfokus pada pengaruh pembiasaan berbahasa Jawa Krama terhadap pembentukan
karakter sopan santun. Penelitian kuantitatif ini menggunakan teknik analisis korelasi dan
menyimpulkan bahwa pembiasaan berbahasa Jawa Krama berpengaruh positif terhadap
pembentukan karakter sopan santun siswa. Penelitian Zahro dan penelitian ini sama-sama meneliti
pembiasaan berbahasa Jawa Krama, namun perbedaannya terletak pada pendekatan dan fokus
penelitian. Zahro menggunakan pendekatan kuantitatif dan membahas pengaruh pembiasaan bahasa
terhadap karakter sopan santun siswa MI, sedangkan penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dan meneliti peningkatan perkembangan bahasa melalui pembiasaan bahasa Jawa Krama
pada siswa RA (Zahro, 2022). Studi kelima, Titin Parliana tahun 2023 bertujuan mendeskripsikan
penggunaan bahasa Jawa Krama untuk membentuk karakter sopan santun anak usia dini. Penelitian
kualitatif ini menemukan bahwa di TK Pertiwi Karangjati, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten
Banyumas, bahasa Jawa Krama digunakan melalui metode lagu, permainan, keteladanan, tanya
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Juni 2024, page: 11-18
E-ISSN: 3026-4014
- 14 -
jawab, pembiasaan, dan cerita untuk membentuk karakter sopan santun. Penelitian Parliana dan
penelitian ini sama-sama meneliti penggunaan bahasa Jawa Krama, namun perbedaannya adalah
Parliana fokus pada pembentukan karakter sopan santun, sementara penelitian ini meneliti
peningkatan perkembangan bahasa melalui pembiasaan berbahasa Jawa Krama pada anak (Parliana,
2023).
Berdasarkan penjelasan diatas, peneliti tertarik untuk melakukan telaah mengenai pembiasaan
berbahasa jawa krama di RA Masyithoh I parakan, sehingga terdapat peningkatan perkembangan
bahasa pada anak. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan perkembangan bahasa
anak usia dini di RA Masyithoh 1 Parakan seperti tenaga pendidik maupun orang tua murid
sehingga dapat mendukung pembiasaan bahasa jawa krama pada anak.
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah penelitian ini dapat dirumuskan. Penelitian ini
akan mengkaji strategi peningkatan perkembangan bahasa pada anak usia dini di RA Masyithoh 1
Parakan, untuk memahami pendekatan yang efektif dalam mengembangkan kemampuan bahasa
pada usia kritis. Selain itu, penelitian ini juga akan meneliti faktor pendukung dan penghambat yang
mempengaruhi peningkatan perkembangan bahasa melalui pembiasaan berbahasa Jawa Krama.
Identifikasi faktor-faktor tersebut diharapkan membantu merancang strategi yang lebih baik dan
mengatasi hambatan yang ada. Selanjutnya, penelitian ini akan mengevaluasi hasil peningkatan
perkembangan bahasa melalui pembiasaan berbahasa Jawa Krama pada anak usia dini di RA
Masyithoh 1 Parakan. Evaluasi ini akan memberikan gambaran mengenai efektivitas metode yang
digunakan serta dampaknya terhadap kemampuan berbahasa anak-anak. Dengan demikian,
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan strategi
pembelajaran bahasa yang efektif dan berbasis budaya lokal. Berdasarkan rumusan masalah, tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi peningkatan perkembangan bahasa anak usia dini di
RA Masyithoh 1 Parakan, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam peningkatan
perkembangan bahasa melalui pembiasaan berbahasa Jawa Krama di RA Masyithoh 1 Parakan,
serta mengetahui hasil peningkatan perkembangan bahasa melalui pembiasaan berbahasa Jawa
Krama di RA Masyithoh 1 Parakan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat teoritis
dan praktis. Secara teoritis, penelitian ini menjadi bahan kajian pentingnya memahami peningkatan
perkembangan bahasa melalui pembiasaan berbahasa Jawa Krama pada anak usia dini. Secara
praktis, bagi guru, penelitian ini menambah wawasan tentang strategi peningkatan perkembangan
bahasa. Bagi orang tua, penelitian ini menjadi pertimbangan dalam menggunakan bahasa Jawa
Krama dengan anak. Bagi peneliti, penelitian ini memperkaya pengetahuan tentang perkembangan
bahasa. Bagi sekolah, penelitian ini menjadi rujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan
berbasis budaya lokal.
2. Metode Penelitian
Peneliti mengunakan pendekatan kualitatif deskriptif (Karmanis, 2020). Jenis penelitian adalah
penelitian lapangan. Peneliti secara langsung datang ke RA Masyithoh 1 Parakan pada bulan
Januari 2024 untuk mengadakan penelitian. Populasi pada penelitian ini yaitu seluruh siswa RA
Masyithoh 1 Parakan (Purwanto, 2022). Metode pengambilan sampel pada penelitian ini adalah
purposive sampling (Carsel, 2018). Sampelnya yakni 5 orang siswa RA Masyithoh 1 Parakan yang
sering menggunakan bahasa ngoko dalam tutur kata kepada orang yang lebih tua.
Prosedur pengumpulan informasi dalam riset ini mencakup tiga metode: observasi, wawancara,
dan dokumentasi (Prasetyo, 2015). Observasi dilakukan dengan mengamati langsung perkembangan
bahasa siswa di RA Masyithoh 1 Parakan. Wawancara melibatkan dua guru untuk mendapatkan
data tentang peningkatan perkembangan bahasa anak. Dokumentasi mencakup pengumpulan foto
kegiatan, rapor siswa, dan kurikulum pendidikan untuk mendukung keabsahan data penelitian.
Penelitian ini menggunakan analisis Mile Huberman dimana setiap tahapan data diperiksa.
Analisis data sangat penting dalam sebuah penelitian untuk memastikan validitas data tersebut.
Teknik yang digunakan peneliti untuk menelaah data meliputi pereduksian informasi, penyajian
informasi, dan penarikan kesimpulan (Sugiyono, 2017).
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Juni 2024, page: 11-18
E-ISSN: 3026-4014
- 15 -
3. Hasil dan Pembahasan
a. Strategi Peningkatan Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini di RA Masyithoh 1 Parakan
Bahasa Jawa krama masih cukup sulit untuk dipelajari anak, sementara bahasa ngoko lebih
sederhana dipahami (Wiranti dkk, 2018). Hal tersebut juga terjadi di RA Masyithoh 1 Parakan.
Oleh karena itu, strategi peningkatan kemampuan bahasa pada anak usia dini di RA Masyithoh
1 Parakan diperlukan. Strategi peningkatan perkembangan bahasa anak usia dini di RA
Masyithoh 1 Parakan melalui 2 metode, yaitu tembang jawa dan pembiasaan komunikasi
dengan anak memakai bahasa jawa krama.
Penggunaan tembang jawa sebagai strategi untuk meningkatkan perkembangan bahasa anak
usia dini di RA Masyithoh 1 Parakan adalah potensi besar. Tembang Jawa tidak hanya
memperkaya pengalaman linguistik anak-anak, tetapi juga mengandung nilai-nilai tradisional
dan kearifan lokal yang dapat disampaikan melalui lirik dan melodi yang sederhana. Dengan
melibatkan anak-anak dalam bernyanyi dan mendengarkan tembang Jawa, mereka dapat
belajar kosakata baru dan memahami makna setiap kata yang mereka nyanyikan. Ini
merupakan strategi menarik dan efektif untuk memperkaya perkembangan bahasa anak usia
dini sambil memperkuat identitas budaya mereka di RA Masyithoh 1 Parakan.
Strategi penggunaan tembang Jawa pada anak usia dini di RA Masyithoh 1 Parakan sesuai
dengan teori Vygotsky. Menurut Vygotsky yang dikutip Fuady, bahasa adalah kunci dalam
pembelajaran dan pertumbuhan kognitif anak. Dalam teorinya, Vygotsky menekankan
pentingnya interaksi sosial dan kerjasama dengan lingkungan dalam pembelajaran. Dengan
menggunakan tembang Jawa, anak-anak diajak untuk berpartisipasi dalam aktivitas musikal
yang melibatkan komunikasi dan kerjasama dengan teman sebaya serta guru. Ini
memungkinkan mereka belajar bahasa Jawa sambil memperdalam pemahaman budaya lokal
mereka, sesuai dengan tahapan perkembangan kognitif yang didorong oleh interaksi sosial
seperti yang dijelaskan dalam teori Vygotsky (Fuady, 2022).
Strategi kedua untuk meningkatkan perkembangan bahasa pada anak di RA Masyithoh 1
Parakan adalah dengan membiasakan penggunaan bahasa Jawa Krama dalam komunikasi.
Selain Bahasa Indonesia, bahasa Jawa Krama digunakan sebagai bahasa pengantar.
Pembelajaran di sekolah ini lebih sering menggunakan bahasa Jawa Krama dalam komunikasi
dengan siswa, baik di dalam maupun di luar kelas, untuk membiasakan mereka menggunakan
bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Guru memberikan contoh penggunaan bahasa
Jawa Krama yang kemudian ditiru oleh siswa. Sinkronisasi antara pendidik dan wali murid
sangat penting untuk mendukung proses pembiasaan ini. Dengan melibatkan partisipasi aktif
siswa dan bimbingan dari wali murid serta pendidik, proses pembiasaan akan berlangsung
dengan lancar, membentuk kebiasaan yang sulit untuk diubah.
Strategi peningkatan perkembangan bahasa anak usia dini di RA Masyithoh 1 Parakan
sesuai dengan Teori Behaviorisme dari Skinner. Teori ini menekankan peran lingkungan
eksternal dalam pemerolehan bahasa pertama anak. Paparan yang konsisten terhadap bahasa
Jawa Krama menjadi penting dalam memperkuat kemampuan berbahasa anak-anak. Proses
pembelajaran dipengaruhi oleh rangsangan dari lingkungan, yang menyiratkan bahwa
pengetahuan diperoleh melalui interaksi dengan guru. Dalam penelitian ini, anak-anak belajar
bahasa melalui pembiasaan komunikasi menggunakan bahasa Jawa Krama, sesuai dengan
prinsip Behaviorisme yang menekankan pentingnya paparan bahasa dalam pembelajaran
(Khasanah dkk., 2023).
b. Faktor Pendukung dan Penghambat Peningkatan Perkembangan Bahasa melalui
Pembiasaan Berbahasa Jawa Krama
Dalam implementasi pembiasaan berbahasa Jawa untuk meningkatkan perkembangan
bahasa di RA Masyithoh 1 Parakan, terdapat faktor pendukung dan penghambat. Faktor
pendukung adalah yang menunjang kegiatan pembiasaan berbahasa Jawa Krama anak usia
dini. Pertama, penggunaan tembang Jawa oleh guru dan komunikasi aktif dalam bahasa Jawa
Krama di dalam dan di luar kelas. Ini memberikan contoh yang jelas kepada siswa untuk
meniru bahasa tersebut. Kedua, sarana dan prasarana sekolah yang memadai, seperti ruang
kelas dan peralatan, mendukung kelancaran pembelajaran. Ketiga, peran orang tua dalam
pembiasaan bahasa Jawa Krama di rumah, dengan sinkronisasi antara guru dan wali murid
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Juni 2024, page: 11-18
E-ISSN: 3026-4014
- 16 -
untuk mendukung proses pembelajaran bahasa. Ini melibatkan peniruan dan pembiasaan
bahasa Jawa Krama oleh anak, dengan bimbingan dari wali murid dan guru, sehingga
perkembangan bahasa siswa dapat berlangsung baik.
Faktor penghambat dalam pembiasaan bahasa Jawa Krama pada anak usia dini di RA
Masyithoh 1 Parakan adalah kehadiran orang tua yang tidak mampu menggunakan bahasa
Jawa Krama. Beberapa orang tua cenderung menggunakan bahasa Indonesia atau Jawa ngoko
dalam komunikasi dengan anak-anak mereka, menghambat pembiasaan bahasa Jawa.
Meskipun faktor pendukung seperti penguatan positif dari guru dan konsistensi penggunaan
bahasa Jawa Krama di sekolah ada, tetapi terdapat hambatan signifikan. Lingkungan di luar
sekolah lebih sering menggunakan bahasa Indonesia atau Jawa ngoko, membatasi kesempatan
anak-anak untuk berlatih bahasa Jawa Krama secara konsisten. Hambatan individual, seperti
preferensi anak untuk bahasa Indonesia atau kurangnya penguatan positif dari lingkungan, juga
dapat menghambat pembiasaan bahasa Jawa Krama di RA Masyithoh 1 Parakan.
c. Hasil Perkembangan Bahasa Melalui Pembiasaan Berbahasa Jawa Krama Anak Usia
Dini di RA Masyithoh I Parakan
Peneliti melakukan penelitian kepada 5 anak di RA Masyithoh Parakan. Hasil
perkembangan bahasa dari AG. AG adalah siswa di RA Masyithoh Parakan. Dari hasil
observasi AG sudah bagus dalam kemampuan melafalkan kalimat dengan bahasa ngoko dan
mengungkapkan keinginan atau gagasan dengan bahasa ngoko. Akan tetapi, AG belum mampu
melafalkan kalimat dan mengungkapkan keinginan atau gagasan dengan bahasa jawa krama.
Ketika berbicara dengan teman sebaya ataupun kepada guru, AG selalu menggunakan bahasa
ngoko. AG mulai paham jika ditanya dengan bahasa jawa krama, hanya saja ketika AG selalu
menjawab dengan bahasa ngoko. Sudah ada peningkatan perkembangan bahasa dari AG.
Hasil perkembangan bahasa dari AV. Dari hasil observasi AV ketika berbicara dengan
teman sebaya mampu melafalkan kalimat ngoko dan mengungkapkan keinginan atau gagasan
dengan bahasa ngoko dengan baik. AV sudah mulai bisa menggunakan bahasa jawa krama.
Sudah ada peningkatan perkembangan bahasa dari AV. Hasil perkembangan bahasa dari RD.
Dari hasil observasi RD ketika berbicara dengan teman sebaya mampu melafalkan kalimat
ngoko dan mengungkapkan keinginan atau gagasan dengan bahasa ngoko dengan baik. RD
sudah mulai bisa menggunakan bahasa jawa krama. Sudah ada peningkatan perkembangan
bahasa dari RD. Hasil perkembangan bahasa dari AI. Dari hasil observasi AI ketika berbicara
dengan teman sebaya mampu melafalkan kalimat ngoko dan mengungkapkan keinginan atau
gagasan dengan bahasa ngoko dengan baik. AI sudah mulai bisa menggunakan bahasa jawa
krama. Sudah ada peningkatan perkembangan bahasa dari AI. Hasil perkembangan bahasa dari
AT. Dari hasil observasi AT ketika berbicara dengan teman sebaya mampu melafalkan kalimat
ngoko dan mengungkapkan keinginan atau gagasan dengan bahasa ngoko dengan baik. AT
sudah mulai bisa menggunakan bahasa jawa krama. Sudah ada peningkatan perkembangan
bahasa dari AT.
Hasil peningkatan perkembangan bahasa melalui pembiasaan berbahasa jawa krama anak usia
dini di RA Masyithoh I Parakan sudah baik. AG mengalami peningkatan perkembangan bahasa
dalam memahami penuturan kalimat bahasa jawa krama dari guru, tetapi belum dapat mengutarakan
kalimat dengan bahasa jawa krama. Sedangkan 4 siswa lainnya AV, RD, AI, dan AT sudah baik
dalam peningkatan perkembangan bahasa melalui pembiasaan berbahasa jawa krama. Keempat
anak tersebut sudah bisa menuturkan bahasa jawa krama. Upaya guru dalam meningkatkan
kemampuan berbahasa siswa yaitu melalui penggunaan tembang jawa dan kegiatan pembiasaan,
dimana seorang guru selalu menggunakan berbahasa jawa krama yang dapat diterapkan oleh
peserta didik, sebagai upaya meningkatkan kemampuan berbahasa peserta didik. Penggunaan
tembang jawa dan pembiasaan berbahasa jawa krama ini efekif untuk meningkatkan perkembangan
bahasa pada anak usia dini di RA Masyithoh 1 Parakan.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Juni 2024, page: 11-18
E-ISSN: 3026-4014
- 17 -
4. Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil analisis penelitian tentang peningkatan perkembangan bahasa melalui pembiasaan
berbahasa Jawa Krama pada anak usia dini di RA Masyithoh I Parakan, dapat disimpulkan bahwa strategi
peningkatan tersebut dilakukan dengan menggunakan tembang jawa dan pembiasaan bahasa Jawa
Krama. Faktor pendukung mencakup penggunaan tembang Jawa, peran guru yang konsisten
menggunakan bahasa Jawa Krama, serta peran orang tua dalam pembiasaan bahasa Jawa Krama di
rumah, sementara faktor penghambat termasuk penggunaan bahasa ngoko di lingkungan sekitar anak dan
kurangnya kontrol orang tua terhadap penggunaan bahasa Jawa Krama. Secara keseluruhan, hasil
peningkatan perkembangan bahasa melalui pembiasaan berbahasa Jawa Krama pada anak usia dini di RA
Masyithoh I Parakan menunjukkan pencapaian yang baik. Meskipun beberapa anak masih memerlukan
peningkatan dalam kemampuan mengutarakan kalimat dengan bahasa Jawa Krama, mereka semua
mengalami kemajuan dalam memahami penuturan kalimat bahasa Jawa Krama dari guru. Hal ini
mengindikasikan bahwa strategi pembiasaan berbahasa Jawa Krama di RA Masyithoh I Parakan efektif
dalam meningkatkan kemampuan berbahasa anak usia dini secara umum.
Peneliti menyarankan bagi guru di RA Masyithoh 1 Parakan, penting untuk meningkatkan kegiatan
pembelajaran bahasa Jawa krama untuk memperkaya keterampilan bahasa siswa dan memperkuat
identitas budaya lokal. Orang tua perlu lebih aktif memberikan bimbingan kepada anak dengan
menggunakan bahasa Jawa krama dalam komunikasi sehari-hari, sehingga anak dapat menguasai bahasa
tersebut secara alami. Sementara itu, penelitian selanjutnya harus fokus pada pembiasaan bahasa Jawa
krama dengan memperhatikan adab sopan santun anak, untuk memberikan kontribusi dalam memperkuat
penggunaan bahasa Jawa krama dalam kehidupan sehari-hari.
5. Daftar Pustaka
Astuti, E. (2022). Dampak Pemerolehan Bahasa Anak dalam Berbicara Terhadap Peran Lingkungan.
Educatif Journal of Education Research, 4(1), Hlm.88.
Azzahroh, P., Sari, R. J., & Lubis, R. (2021). Analisis perkembangan bahasa pada anak usia dini di
wilayah Puskesmas Kunciran Kota Tangerang tahun 2020. Journal for Quality in Women’s Health,
4(1), 47.
Carsel, S. (2018). Metodologi Penelitian Kesehatan dan Pendidikan. Penebar Media Pustaka.
Diana, E., & Khotimah, N. (2021). Pengaruh Pembiasaan Orangtua Dalam Menanamkan Bahasa Jawa
Krama Terhadap Nilai Moral Anak Usia 5-6 Tahun Di Desa Mirigambar Tulungagung. Jurnal
Pendidikan AURA (Anak Usia Raudhatul Atfhal), 2(2), 84.
Faizah, Rachman, Y. A., & Azizah, F. N. (2022). Literasi Budaya Berbasis Kearifan Lokal sebagai
Aktivitas untuk Menurunkan Screen Time pada Anak Usia Dini. The 6thAnnual Conference on
Islamic Early Childhood Education, Hlm.67.
Fauziyah, T. A., & Utomo, A. P. (2023). Saat Bahasa Jawa Alami Krisis, Pakar Sebut Pasangan Muda
Jarang Mengajarkan ke Anak karena Kurang Populer.
https://regional.kompas.com/read/2023/08/02/185013978/saat-bahasa-jawa-alami-krisis-pakar-
sebut-pasangan-muda-jarang-mengajarkan?page=all
Fuady, A. (2022). Perkembangan Psikologis Anak: Panduan Praktis Pengasuhan dan Pendidikan Anak
dari Sudut Pandang Psikologi. Human Persona Indonesia.
Hamidulloh Ibda. (2017). Urgensi Pemertahanan Bahasa Ibu di Sekolah Dasar. Shahih, 2(2), 195.
Hapsari, A. P. (2015). Komunikasi Intrapersonal Anak Muda dalam Penggunaan Bahasa Jawa Krama
Pada Kelompok Sosial. Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Hary Purwanto, Edi Sujoko, & Somya Ruth Nindyo Kirono. (2021). Penggunaan Bahasa Jawa Dalam
Percakapan Sehari-Hari Masyarakat Kelurahan Susukan Ungaran Timur. Media Informasi
Penelitian Kabupaten Semarang, 4(2), Hlm.56.
Ismaya, I., Elihami, E., & Galib, A. A. C. (2022). Pendidikan Literasi Komunikasi: Membangun Karakter
Anak Usia Dini Melalui Komunikasi yang Efektif. Edumaspul: Jurnal Pendidikan, 6(1), 1149.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Juni 2024, page: 11-18
E-ISSN: 3026-4014
- 18 -
Karmanis, & Karjono. (2020). Metode Penelitian. Pilar Nusantara.
Khasanah, Wondal, R., Syaripuddin, R., Nurdiansyah, E., Dhita, A. N., Meirisa, S., Saksono, H.,
Hasmirati, & Dr. Kartini Marzuki, M. S. (2023). Memahami Pertumbuhan dan Perkembangan
Peserta Didik. Cendikia Mulia Mandiri.
Lubna, A., Hanafiah, P., Nurrohmah, A. N., Ramdani, F. A., Rahmi, L. H., Khairunnisa, R. N., &
Rizkyanfi, M. W. (2024). Membangun Koneksi Individu : Strategi Berbahasa Indonesia Sebagai
Alat Penting Komunikasi Interpersonal di Tempat Kerja. Indo-MathEdu Intellectuals Journal, 5(2),
2407.
Maghfirotun, K., & Robik, M. (2021). Upaya guru dalam meningkatkan kemampuan berbahasa jawa
Siswa kelas v melalui pembiasaan berbahasa. Ibtida’: Media Komunikasi Hasil Penelitian
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 2(1), Hlm.67.
Maret, N. (2020). Peran Guru dalam Menanamkan Berbahasa Jawa Santun Anak Kelompok B TK
Pertiwi Tegalmulyo Kemalang Klaten. Skripsi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Markus, N., Kusmiyati, K., & Sucipto, S. (2018). Penguasaan Kosakata Bahasa Indonesia Anak Usia 4-5
Tahun. Jurnal Ilmiah Fonema, 4(2), 103.
Muradi, A. (2018). Pemerolehan Bahasa dalam Perspektif Psikolinguistik Dan Alquran. Jurnal Tarbiyah :
Jurnal Ilmiah Kependidikan, 7(2), Hlm.150.
Nafiah, Q. N., & Maemonah, M. (2021). Analisis Pembiasaan Berbahasa Terhadap Perkembangan
Bahasa Anak Usia Dini. Paudia : Jurnal Penelitian Dalam Bidang Pendidikan Anak Usia Dini,
10(2), 279.
Parapat, A., Munisa, Nofianti, R., & Pratiwi, E. (2023). Meningkatkan Kemampuan Bahasa Anak Melalui
Kegiatan Mendongeng di TK Negeri Pembina I Medan. Journal Of Human And …, 3(2), 76.
Parliana, T. (2023). Penggunaan Bahasa Jawa Krama Untuk Membentuk Karakter Sopan Santun Anak
Usia Dini Di TK Pertiwi Karangjati. Skripsi, UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto.
Prasetyo, E. (2015). Ternyata Penelitian Itu Mudah: Panduan Melaksanakan Penelitian Bidang
Pendidikan. eduNomi.
Purwanto, A. (2022). Konsep Dasar Penelitian Kualitatif: Teori dan Contoh Praktis. Penerbit P4I.
Putrihapsari, R., & Dimyati, D. (2021). Penanaman Sikap Sopan Santun dalam Budaya Jawa pada Anak
Usia Dini. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(2), 2061.
Setiani, R. A. (2019). Pembentukan Karakter Sopan Santun melalui Pembiasaan Berbahasa Jawa Krama
di MI Nashrul Fajar Meteseh Tembalang. Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Walisongo Semarang 2019.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D). Alfabeta.
Sururin, A., Umkabu, T., & Faisal. (2023). Implementasi Metode Cerita dalam Meningkatkan
Kemampuan Berbahasa Anak Usia Dini. Indonesian Journal of Teaching and Teacher Education, 2,
49.
Wiranti, D. A., Afrianingsih, A., & Mawarti, D. A. (2018). Penggunaan Bahasa Jawa Krama sebagai
Fondasi Utama Perkembangan Moral Anak Usia Dini. Thufula, 6(1), 3.
Zahro, F. (2022). Pengaruh Pembiasaan Berbahasa Jawa Krama Terhadap Pembentukan Karakter
Sopan Santun Siswa Kelas IV di MI Miftahul Falah Pati Tahun 2022/2023. Skripsi, UIN Walisongo
Semarang.