Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Mounth 2024, page: 19-24
E-ISSN: 3026-4014
- 20 -
1. Pendahuluan
Di era digital yang semakin pesat dan berkembang ini, penerapan teknologi pada pemerintahan
menjadi sebuah keharusan untuk meningkatkan keefektivitasan pelayanan publik. GovTech
Indonesia diluncurkan Presiden Joko Widodo dengan nama INA Digital yang bertujuan sebagai
penyedia solusi terpadu berbagai macam layanan digitalnpemerintahan, termasuk juga portal
nasional dan layanan yang terkait dengan insfrastruktur, dianggap sangan penting karena dapat
meningkatkan daya saing Indonesia secara global. Kehadiran Birokrasi di negara ini seharusnya
dapat untuk melayani masyarakat, bukan malah untuk memperlambat dan juga mempersulit
masyarakatnya (Assyuza & Miftahulkhairah, 2021).
Peran bahasa sangat strategis yaitu sebagai komponen penting suatu komunikasi. Dalam
sambutan Presiden Joko Widodo pada peluncuran GovTech Indonesia , teks yang terdapat pada
sambutan tersebut merupakan suatu teks yang sangat menarik untuk dibahas dan dianalisis dengan
menggunakan pisau bedah Linguistik Fungsional Sistemik (LFS). Linguistik Fungsional Sistemik
memiliki tiga fungsi, pertama sebagai pemaparan (ideational function), fungsi pertukaran
(interpersonal functuion), dan sebagai perangkai pengalaman (textual function) (Faradi, 2019).
Dalam dunia komunikasi politik, sambutan dan pidato presiden memainkan peran penting
dalam menyampaikan pesan kepada publik dan mempengaruhi opini serta perilaku masyarakat.
Kemampuan seorang presiden untuk menyampaikan pesan dengan efektif dapat memperkuat
kewenangan kepemimpinannya, membangun kepercayaan publik, serta dapat mengarahkan agenda
nasional. Penelitian mengenai kekuatan pesan dalam sambutan presiden Joko Widodo menjadi
sangat relevan mengingat posisi strategisnya sebagai kepala negara Indonesia (Faradi, 2015).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan pesan dalam sambutan Presiden Joko
Widodo melalui pengukuran modalitas. Dengan menggunakan pendekatan ini, penelitian
diharapkan mampu mengidentifikasi elemen-elemen kunci utama yang membuat pesan dalam
sambutan Presiden Jokowi menjadi kuat dan berpengaruh. Melalui analisis modalitas, penelitian ini
akan mengeksplorasi bagaimana Presiden Jokowi menggunakan berbagai teknik komunikasi untuk
menyampaikan pesan dengan efektif. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
wawasan yang mendalam mengenai strategi komunikasi politik yang efektif, serta menjadi referensi
bagi pemimpin lainnya dalam menyampaikan pesan kepada publik. Kesimpulan yang dihasilkan
dari penelitian ini akan memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana modalitas
dalam sambutan Presiden Jokowi dapat mempengaruhi persepsi dan respons publik.
(Fairclough, 2003) mengemukakan bahwa modalitas adalah cara merepresentasikan pendirian
(stance) serta keterkaitan dan ketertarikan (affinity) pembicara atau penulis kepada seseorang atau
sesuatu yang terungkap pada klausa, kata dan kalimat pada suatu wacana. Selanjutnya, Fairclough
menambahkan bahwa modalitas sebagai pembentuk hubungan sosial yang mampu menafsirkan
sikap dan kuasa sehingga terlihat dengan penanda modalitas yang digunakan di antaranya, formal,
berjarak, akrab, sederhana, dll. Sementara itu, (Djajasudarma, 1993) dalam (Damayanti, 2012)
mempertegas bahwa modalitas merupakan istilah dari ilmu linguistik untuk mengklasifikasikan
penyataan menggunakan logika, yang menyuguhkan, mengingkari, kemungkinan, keharusan dan
lainnya.
(Halliday & Matthiessen, 2004) mengungkapkan bahwa modalitas berfokus kepada makna
yang terletak di antara polaritas positif dan negatif. Modalitas terbagi menjadi dua kategori atau
klasifikasi yaitu modalisasi (probability and frequency) dan modulasi (must and tendency). Selain
itu, Halliday dan Matthiessen mengklasifikasikan tiga nilai dasar sebagai modal penilaian, yaitu:
tinggi (high), tengah (median), dan rendah (low). Kemudian, untuk memodernisasikan pesan,
seseorang dapat mengkomunikasikannya dengan memilih orientasi modalitas bersifat subjektif atau
objektif dan pesan tersebut dapat terwujud menjadi eksplisit dan implisit.
Penelitian mengenai modalitas sudah banyak dilakukan oleh peneliti, contohnya (I Kadek Adhi
Dwipayana, Syaiful Bahri, Desak Made Yoniartini, I Nengah Suandi, 2023) yang meneliti tentang
modalitas yang digunakan dalam pidato Gibran saat Deklarasi Capres-Cawapres 2024 (Wiratno,
2018). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wacana digunakan untuk mengkomunikasikan
ideologi, visi politik, dan pemikiran Gibran sebagai Cawapres terkait tentang keberlanjutan masa
depan negara Indonesia (Fitri et al., 2021).