Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Mounth 2024, page: 19-24
E-ISSN: 3026-4014
- 19 -
Artikel Penelitian
Naskah dikirim: 20/03/2024Selesai revisi: 15/04/2024 Disetujui: 20/05/2024 Diterbitkan:10/07/2024
Modalitas dalam sambutan Presiden Joko Widodo dalam peluncuran govtech Indonesia
linguistik fungsional sistemik
Bima K
1
, Dyah Puspitasari
2
, Nasywa Qatrunada F
3
, Wahyu Tirtoaji
4
, Dwieke Viviana
5
1,2,3,4,5
Universitas Trunojoyo Madura, Bangkalan, Jawa Timur, Indonesia
E-mail: dyahpuspitasari662@gmail.com
2
, nasywaqf830@gmail.com
3
, wahyutirtoaji15@gmail.com
4
,
vivianadwiee@gmail.com
5
Abstrak: Penelitian ini mengkaji Sambutan Presiden Joko Widodo dalam peluncuran GovTech Indonesia
dengan menggunakan teori Linguistik Fungsional Sistemik (LFS). Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui penggunaan modalitas dari sambutan presiden tersebut. Teori yang digunakan dalam
penelitian ini menggunakan teori Halliday dan Matthiessen (2004), Metode yang digunakan adalah
metode kualitatif dengan pemaparan secara deskriptif. Hasil temuan pada penelitian ini menunjukkan teks
sambutan Presiden Joko Widodo dalam peluncuran GovTech Indonesia menggunakan modalitas
menengah ke atas, dengan modalitas ingin, harus, dan juga akan. Secara keseluruhan, pilihan modalitas di
dalam teks sambutan Presiden Joko Widodo mencerminkan strategi komunikasi yang terukur yang
merupakan kunci utama untuk membuat pesan dalam sambutan Presiden menjadi lebih kuat dan
berpengaruh. Hal tersebut bertujuan mewakilkan kesanggupan Presiden Joko Widodo untuk menjalankan
visi, rencana, dan perbaikan kedepan untuk kesejahteraan negara Indonesia yang lebih baik lagi.
Kata kunci: Modalitas, Presiden Joko Widodo, LFS
Abstract: This research examines President Joko Widodo's speech at the launch of GovTech Indonesia
using the theory of Systemic Functional Linguistics (SFL). This research aims to determine the use of
modalities in the president's speech. The theory used in this research uses the theory of Halliday and
Matthiessen (2004). The method used is a qualitative method with descriptive presentation. The findings
in this research show that President Joko Widodo's welcoming text at the launch of GovTech Indonesia
uses medium to high modalities, with the modalities of want, must, and also will. Overall, the choice of
modality in President Joko Widodo's speech text reflects a measurable communication strategy which is
the main key to making the message in the President's speech stronger and more influential. This aims to
represent President Joko Widodo's ability to carry out his vision, plans and future improvements for the
better welfare of the Indonesian state.
Keywords: Modality, President Joko Widodo, SFL
Hak Cipta©2024 Bima K, Dyah Puspitasari, Nasywa Qatrunada F, Wahyu Tirtoaji, Dwieke Viviana
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Mounth 2024, page: 19-24
E-ISSN: 3026-4014
- 20 -
1. Pendahuluan
Di era digital yang semakin pesat dan berkembang ini, penerapan teknologi pada pemerintahan
menjadi sebuah keharusan untuk meningkatkan keefektivitasan pelayanan publik. GovTech
Indonesia diluncurkan Presiden Joko Widodo dengan nama INA Digital yang bertujuan sebagai
penyedia solusi terpadu berbagai macam layanan digitalnpemerintahan, termasuk juga portal
nasional dan layanan yang terkait dengan insfrastruktur, dianggap sangan penting karena dapat
meningkatkan daya saing Indonesia secara global. Kehadiran Birokrasi di negara ini seharusnya
dapat untuk melayani masyarakat, bukan malah untuk memperlambat dan juga mempersulit
masyarakatnya (Assyuza & Miftahulkhairah, 2021).
Peran bahasa sangat strategis yaitu sebagai komponen penting suatu komunikasi. Dalam
sambutan Presiden Joko Widodo pada peluncuran GovTech Indonesia , teks yang terdapat pada
sambutan tersebut merupakan suatu teks yang sangat menarik untuk dibahas dan dianalisis dengan
menggunakan pisau bedah Linguistik Fungsional Sistemik (LFS). Linguistik Fungsional Sistemik
memiliki tiga fungsi, pertama sebagai pemaparan (ideational function), fungsi pertukaran
(interpersonal functuion), dan sebagai perangkai pengalaman (textual function) (Faradi, 2019).
Dalam dunia komunikasi politik, sambutan dan pidato presiden memainkan peran penting
dalam menyampaikan pesan kepada publik dan mempengaruhi opini serta perilaku masyarakat.
Kemampuan seorang presiden untuk menyampaikan pesan dengan efektif dapat memperkuat
kewenangan kepemimpinannya, membangun kepercayaan publik, serta dapat mengarahkan agenda
nasional. Penelitian mengenai kekuatan pesan dalam sambutan presiden Joko Widodo menjadi
sangat relevan mengingat posisi strategisnya sebagai kepala negara Indonesia (Faradi, 2015).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekuatan pesan dalam sambutan Presiden Joko
Widodo melalui pengukuran modalitas. Dengan menggunakan pendekatan ini, penelitian
diharapkan mampu mengidentifikasi elemen-elemen kunci utama yang membuat pesan dalam
sambutan Presiden Jokowi menjadi kuat dan berpengaruh. Melalui analisis modalitas, penelitian ini
akan mengeksplorasi bagaimana Presiden Jokowi menggunakan berbagai teknik komunikasi untuk
menyampaikan pesan dengan efektif. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
wawasan yang mendalam mengenai strategi komunikasi politik yang efektif, serta menjadi referensi
bagi pemimpin lainnya dalam menyampaikan pesan kepada publik. Kesimpulan yang dihasilkan
dari penelitian ini akan memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana modalitas
dalam sambutan Presiden Jokowi dapat mempengaruhi persepsi dan respons publik.
(Fairclough, 2003) mengemukakan bahwa modalitas adalah cara merepresentasikan pendirian
(stance) serta keterkaitan dan ketertarikan (affinity) pembicara atau penulis kepada seseorang atau
sesuatu yang terungkap pada klausa, kata dan kalimat pada suatu wacana. Selanjutnya, Fairclough
menambahkan bahwa modalitas sebagai pembentuk hubungan sosial yang mampu menafsirkan
sikap dan kuasa sehingga terlihat dengan penanda modalitas yang digunakan di antaranya, formal,
berjarak, akrab, sederhana, dll. Sementara itu, (Djajasudarma, 1993) dalam (Damayanti, 2012)
mempertegas bahwa modalitas merupakan istilah dari ilmu linguistik untuk mengklasifikasikan
penyataan menggunakan logika, yang menyuguhkan, mengingkari, kemungkinan, keharusan dan
lainnya.
(Halliday & Matthiessen, 2004) mengungkapkan bahwa modalitas berfokus kepada makna
yang terletak di antara polaritas positif dan negatif. Modalitas terbagi menjadi dua kategori atau
klasifikasi yaitu modalisasi (probability and frequency) dan modulasi (must and tendency). Selain
itu, Halliday dan Matthiessen mengklasifikasikan tiga nilai dasar sebagai modal penilaian, yaitu:
tinggi (high), tengah (median), dan rendah (low). Kemudian, untuk memodernisasikan pesan,
seseorang dapat mengkomunikasikannya dengan memilih orientasi modalitas bersifat subjektif atau
objektif dan pesan tersebut dapat terwujud menjadi eksplisit dan implisit.
Penelitian mengenai modalitas sudah banyak dilakukan oleh peneliti, contohnya (I Kadek Adhi
Dwipayana, Syaiful Bahri, Desak Made Yoniartini, I Nengah Suandi, 2023) yang meneliti tentang
modalitas yang digunakan dalam pidato Gibran saat Deklarasi Capres-Cawapres 2024 (Wiratno,
2018). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa wacana digunakan untuk mengkomunikasikan
ideologi, visi politik, dan pemikiran Gibran sebagai Cawapres terkait tentang keberlanjutan masa
depan negara Indonesia (Fitri et al., 2021).
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Mounth 2024, page: 19-24
E-ISSN: 3026-4014
- 21 -
Analisis Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) dalam pidato Gibran membantu membedah cara
bahasa digunakan untuk membangun representasi ideologi dan arah politik Gibran melalui analisis
transitivitas, modalitas, dan konteks situasional. Pidato Gibran menunjukkan “keyakinan” atau
“kepastian” yang dibuktikan dengan dominasi penggunaan modalitas epistemik. Pidato Gibran
mencerminkan strategi retorika yang digunakan untuk memengaruhi opini publik, memperkuat
dukungan politik, dan merespons tantangan politik dalam rangka bersaing dalam pemilu 2024.
Penelitian tentang Modalitas dalam Pidato Kenegaraan Joko Widodo: Analisis Wacana
Berbasis Korpus yang dilakukan oleh (Syartanti, 2022).Pidato kenegaraan digunakan dalam
penelitian ini didasari oleh hasil analisis yang dilakukan oleh Surahmat (2020) bahwa pilihan kata
dalam pidato tersebut cenderung menunjukkan sikap pesimis dan mengandung nuansa muram.
Penelitian ini menyelidiki apakah pidato kenegaraan tahun 2021 masih menunjukkan sikap pesimis
dan mengandung nuansa muram atau tidak melalui penggunaan modalitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata kunci yang muncul secara konsisten adalah kata
kunci ‘HARUS’sebagai penanda modalitas epistemik, dan kata kunci ‘BISA’sebagai penanda
modalitas dinamik yang mengandung makna kemampuan. Keharusan dan kebisaan yang
ditunjukkan oleh pemerintah melalui pidato kenegaraan Presiden Jokowi, menunjukkan sikap
optimis pemerintah dan Presiden Joko Widodo dalam penanganan pencegahan virus corona, meski
saat penyampaian pidato kenegaraan tersebut, kasus positif COVID-19 meningkat. Keoptimisan
tersebut dapat terlihat dengan dimulainya program vaksinasi COVID-19 yang dilaksanakan mulai
Januari 2021, atau tujuh bulan sebelum pidato kenegaraan tersebut disampaikan oleh Presiden Joko
Widodo.
2. Metode Penelitian
Metode dan teknik merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam penelitian, meskipun
berbeda, metode dan teknik saling berhubungan satu sama lain. Menurut Sugiyono (2019 : 2),
metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan
tertentu. Metode Penelitian berhubungan erat dengan procedure, teknik, alat serta desain penelitian
yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih.
Sedangkan menurut Ridwan (Area, 2023), Ridwan menyatakan pengertian dari teknik
pengumpulan data sebagai teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk
mengumpulkan data. Metode pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pemaparan
deskriptif melalui data yang terkait analisis modalitas pada sambutan Presiden Joko Widodo
(Martono, 2010). Adapun prosedur yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain metode
penyediaan data, metode analisis data, dan metode penyajian hasil. Sumber data sambutan Presiden
Joko Widodo diakses melalui internet yang selanjutnya akan dianalisis, sambutan Presiden Joko
Widodo diakses melalui situs: https://setkab.go.id/sistem-pemerintahan-berbasis-elektronik-spbe-
summit-2024-dan-peluncuran-govtech-indonesia-di-istana-negara-jakarta-27-mei-2024/.
Teknik yang digunakan pada penelitian ini menggunakan teknik simak dan teknik analisa.
Metode penyimakan dilakukan pada teks sambutan Presiden Joko Widodo yang untuk selanjutnya
dicatat dan diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi modalitas (Abdillah et al., 2021). Dalam
pengumpulan data yang lebih akurat, (1) penulis menyimak teks sambutan Presiden Joko Widodo,
(2) menganalisa bagian - bagian dalam teks sambutan, (3) mencatat penggunaan-penggunaan
modalitas yang digunakan pada teks sambutan, dan (4) pengklasifikasian berbagai jenis modalitas
yang digunakan pada sambutan tersebut untuk disajikan dalam pembahasan. Metode dan teknik
analisis pada penelitian ini digunakan untuk menjawab permasalahan yang ada, yang memuat jenis
modalitas berdasarkan teori (Halliday & Matthiessen, 2004).
3. Hasil dan Pembahasan
Penelitian ini membahas analisis modalitas pada teks sambutan Presiden Joko Widodo.
Analisis modalitas dilakukan dengan menjaring modalitas yang terdapat pada teks tersebut, menurut
teori (Halliday & Matthiessen, 2004) yang membagi modalitas menjadi dua, yaitu modalitas dalam
bentuk modalisasi (modalization) yang dibagi menjadi dua bagian Probability (certain, possible,
perhaps, etc) dan Frequency (Always, Usual, Soemetimes, etc) ataupun modalitas modulasi
(modulation) dibagi menjadi dua yaitu, Must (Required, Expected, Permissible, etc) dan Tendency
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Mounth 2024, page: 19-24
E-ISSN: 3026-4014
- 22 -
(Defined, wish, wanted, etc). Teks sambutan Joko Widodo yang diselenggarakan di Istana Negara,
Jakarta, 27 Mei 2024. Penggunaan modalitas yang terkandung dalam teks tersebut, sebagai berikut:
Modalitas Modalisasi akan muncul sebanyak 11 kali, di bawah ini hanya memunculkan 3
contoh kalimat dengan modalitas ingin.
1. ”Saya ingin menggaris bawahi,” (inclination)
2. ingin menekankan kembali bahwa kehadiran birokrasi itu harusnya melayani, bukan
mempersulit, dan bukan malah memperlambat“ (inclination)
3. “Itu saja saya ingin saya sampaikan” (inclination)
Modalitas Modalisasi akan muncul sebanyak 11 kali, di bawah ini hanya memunculkan 6
contoh kalimat dengan modalitas harus.
1. ”Saya ingin menggarisbawahi, ingin menekankan kembali bahwa kehadiran birokrasi itu
harusnya melayani, bukan mempersulit, dan bukan malah memperlambat“ (inclination)
2. “Dan, untuk meningkatkan daya saing Indonesia, tadi sudah disampaikan oleh Menteri
PAN-RB, kita harus memperkuat digital public infrastructure kita, semacam jalan tol untuk
digitalisasi pelayanan publik di negara kita” (probability)
3. “Kita juga harus memperkuat transformasi govtech kita, satu portal terintegrasi yang kita
namakan INA Digital, yang di situ ada layanan pendidikan, layanan kesehatan, ada layanan
izin usaha, ada perpajakan dan lain-lainnya” (probability)
4. “Memang ini adalah tahap awal kita memulai, tapi enggak apa, saya kira migrasinya
memang harus bertahap” (probability)
5. “Terakhir saya titip, setiap kementerian/lembaga dan pemerintah daerah harus bersama-
sama melakukan integrasi dan interoperabilitas aplikasi dan data, tidak boleh ada lagi alasan
ini dan itu karena merasa datanya milik saya, datanya punya saya, datanya milik
kementerian saya, datanya milik lembaga saya, datanya milik pemda saya” (probability)
6. ”Sehingga, seharusnya yang menjadi tolok ukur adalah kepuasan masyarakat, adalah
manfaat yang diterima masyarakat, adalah kemudahan urusan masyarakat” (usuality)
Modalitas Modalisasi akan muncul sebanyak 11 kali, di bawah ini hanya memunculkan 2
contoh kalimat dengan modalitas akan.
1. “Tidak boleh lagi, tidak akan maju kita kalau kita masih egosentris itu kita pelihara”
(probability)
2. “Enggak akan mungkin tadi yang saya sampaikan, mempermudah, mempercepat, enggak.
Tidak terintegrasi dan bahkan banyak yang justru tumpang tindih” (probability)
Modalitas yang paling banyak muncul pada teks sambutan Presiden Joko Widodo yaitu (ingin,
harus, dan akan). Tabel dibawah ini merupakan beberapa contoh analisis penggunaan modalitas
berdasarkan Teori Halliday & Matthiessen (2004).
Tabel 1. Modalitas teks sambutan Presiden Joko Widodo berdasarkan Teori Halliday &
Matthiessen
No.
Modalitas
Contoh Kalimat
Modalitas menurut Halliday &
Matthiessen (2004)
Orientation
Value
1.
Ingin
saya ingin menekankan
kembali bahwa kehadiran
birokrasi itu harusnya
melayani, bukan mempersulit,
dan bukan malah
memperlambat
Subjective/
Impicit
Median
2.
Harus
“Kita juga harus memperkuat
transformasi govtech kita, satu
portal terintegrasi yang kita
Objective/
Explicit
High
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Mounth 2024, page: 19-24
E-ISSN: 3026-4014
- 23 -
namakan INA Digital, yang di
situ ada layanan pendidikan,
layanan kesehatan, ada
layanan izin usaha, ada
perpajakan dan lain-lainnya”
3.
Akan
“Tidak boleh lagi, tidak akan
maju kita kalau kita masih
egosentris itu kita pelihara”
Objective/
Explicit
Median
Pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa penggunaan modalitas dalam teks sambutan Presiden
Joko Widodo pada peluncuran GovTech Indonesia yang paling banyak muncul yaitu (ingin, harus,
dan akan). Modalitas “ingin” termasuk kepada tipe Modulation (Tendency) dengan orientasi
(Subjective,Impicit) dan nilai menengah (median).Pada data selanjutnya , modalitas “harus”
menempati posisi kedua modalitas yang terbanyak digunakan dengan tipe Modulation(Must),
dengan orientasi (Objective,Explicit) dan nilai tinggi (High). Terakhir dari contoh kalimat diatas
yaitu modalitas “akan” termasuk kepada tipe Modalization (Probability) dengan orientasi
(Objective,Explicit) dan nilai menengah (median).
Dari analisis modalitas teks sambutan Presiden Joko Widodo dalam peluncuran Govtech
Indonesia, dapat disimpulkan bahwa pilihan kata yang digunakan oleh Presiden Joko Widodo
mencerminkan maksud tertentu yang ingin disampaikan oleh Presiden. Penggunaan modalitas
“ingin” menunjukkan bahwa adanya keinginan atau niat yang cukup kuat dari Presiden untuk
mencapai sesuatu hal. Hal ini mencerminkan sebuah aspirasi maupun harapan yang masih sampai
pada tahap rencana atau niat yang belum diharuskan secara tegas. Modalitas kedua yaitu “harus”
digunakan untuk menunjukkan keharusan atau kewajiban yang sangat jelas dan juga sangat tegas.
Penggunaan ini mencerminkan suatu tuntutan atau mandat yang tidak bisa untuk ditawar,
menunjukkan komitmen yang sangat tinggi dan urgensi dalam pelaksanaan kebijakan dan tindakan
yang diharapkan. Modalitas terakhir yaitu “akan” digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang
direncanakan yang akan terjadi di masa depan. Penggunaan ini memberikan kepastian namun juga
berada pada tingkat kepastian yang tidak sepenuhnya pasti. Hal ini mencerminkan suatu rencana
yang cukup pasti tetapi masih mungkin untuk berubah.
4. Simpulan dan Saran
Secara keseluruhan, pilihan modalitas di dalam teks sambutan Presiden Joko Widodo
mencerminkan strategi komunikasi yang terukur yang merupakan kunci utama untuk membuat
pesan dalam sambutan Presiden menjadi lebih kuat dan sangat berpengaruh. Presiden menggunakan
modalitas “ingin” untuk menyampaikan aspirasi yang belum menjadi suatu keharusan. Modalitas
“harus” digunakan untuk menekankan kewajiban yang harus dipenuhi. Modalitas “akan” untuk
memberikan suatu prediksi atau rencana yang akan dilaksanakan. Penggunaan modalitas ini secara
bersama-sama menunjukkan kombinasi dan aspirasi, keharusan, dan juga perencanaan yang tepat
sasaran. Modalitas (ingin, harus, dan akan) memiliki nilai modalitas menengah keatas, hal tersebut
mewakilkan kesanggupan Presiden Joko Widodo untuk menjalankan visi, rencana, dan perbaikan
kedepan untuk kesejahteraan masyarakat dan juga kemajuan negara Indonesia yang lebih baik lagi.
5. Daftar Pustaka
Abdillah, L. A., Sufyati, H. S., Muniarty, P., Nanda, I., & ... (2021). Metode penelitian dan analisis
data comprehensive. books.google.com.
https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=dSY5EAAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=m
etode+penelitian+analisis&ots=LMbwTYIOkR&sig=ROUKIklUoL7d7RBgnEGiNDddHCo
Assyuza, M. F., & Miftahulkhairah, A. (2021). Kajian linguistik fungsional sistemik: Analisis
hubungan sistem transitivitas dan konteks situasi dalam pidato presiden Jokowi soal
penanganan virus corona. Jurnal CULTURE (Culture, Language .
https://unaki.ac.id/ejournal/index.php/jurnal-culture/article/view/237
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 2, No. 1, Mounth 2024, page: 19-24
E-ISSN: 3026-4014
- 24 -
Faradi, A. A. (2015). Kajian modalitas linguistik fungsional sistemik pada teks debat Capres-
Cawapres pada Pilpres 2014-2019 dan relevansinya dengan pembelajaran wacana di ….
RETORIKA: Jurnal Ilmu Bahasa.
https://www.ejournal.warmadewa.ac.id/index.php/jret/article/view/31
Fitri, N., Artawa, K., Satyawati, M. S., & ... (2021). Transitivitas dalam Teks Peradilan Indonesia:
Kajian Linguistik Fungsional Sistemik. Diglosia: Jurnal Kajian .
https://www.diglosiaunmul.com/index.php/diglosia/article/view/116
Martono, N. (2010). Metode penelitian kuantitatif: Analisis Isi dan Analisis Data Sekunder (sampel
halaman gratis). books.google.com.
https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=tUl1BgAAQBAJ&oi=fnd&pg=PR7&dq=met
ode+penelitian+analisis&ots=Ffn6IuUY58&sig=DXx4bon5B6FzHnxkxVp0Po_nTqw
Wiratno, T. (2018). Pengantar ringkas linguistik sistemik fungsional. digilib.uns.ac.id.
https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/58234/
Area, Medan. U. (2023). Teknik pengumpulan data. https://agribisnis.uma.ac.id/2023/01/13/teknik-
pengumpulan-data/
Damayanti, T. (2012). Adverbia Penanda Mo- dalitas dalam Novel Karya Andrea Hirata: Suatu
Kajian Stuktur dan Makna. Students E-Journal, 1(1), 5.
Faradi, A. A. (2019). Kajian Modalitas Linguis- tik Fungsional Sistemik Pada Relevansin- ya
Dengan Pembelajaran Wacana Di Se- kolah. 1(2), 233-249
Fairclough, N. (2003). Menganalisis Wacana: Analisis Tekstual untuk Penelitian Sosial. London &
New York: Routledge.
Halliday, MAK, & Matthiessen, CMIM (2004). Pengantar Fungsional
Syartanti, N. I. (2022). Modalitas Dalam Pidato Kenegaraan Joko Widodo: Analisis Wacana
Berbasis Korpus.