Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 1-7
E-ISSN: 3026-4014
- 1 -
Artikel Penelitian – Naskah dikirim: 2/02/2023 – Selesai revisi: 19/03/2023 – Disetujui: 24/05/2023 – Diterbitkan:1/06/2023
Peran Guru dalam implementasi sistem among pada pembelajaran PPKn
Kelas IV SD Negeri Kanggotan Pleret Bantul
Thomas Leo Orbiyanto
1
, Chairiyah
2
, Irfan Adi Nugroho
3
1,2,3
Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa,
Yogyakarta, Indonesia
1
Email: thomasorbiyanto@gmail.com
2
Email: chairiyah@ustjogja.ac.id
3
Email: irfan.adi@ustjogja.ac.id
Abstrak: Peran Guru Dalam Implementasi Sistem Among Pada Pembelajaran PPKn Kelas IV SD Negeri
Kanggotan Pleret Bantul. Skripsi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mendeskripsikan tentang peran guru dalam implementasi sistem among pada pembelajran PPKn kelas IV
SD Negeri Kanggotan Pleret Bantul. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat peran guru
dalam implementasi sistem among pada pembelajaran PPKn kelas IV SD Negeri Kanggotan Pleret
Bantul. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan dari peran guru dalam implementasi sistem among
pada pembelajaran PPKn kelas IV SD Negeri Kanggotan Pleret Bantul. Penelitian ini dilaksanakan di SD
Negeri Kanggotan Pleret Bantul. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari 2023. Subjek dalam
penelitian ini adalah kepala sekolah, guru kelas IV dan siswa kelas IV. Teknik pengumpulan data ini
menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumenatsi. Instrument penelitian ini adalah dengan
pedoman observasi, pedoman wawancara dan pedoman dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan
teknik. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis Miles dan Huberman yang terdiri
dari pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan data. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa (1) peran guru dalam implementasi sistem among pada pembelajaran PPKn sangatlah penting
yaitu guru sebagai pengajar atau pendidik, guru sebagai pembimbing, guru sebagai mediator dan
fasilitator, guru sebagai evaluator, guru sebagai contoh dan teladan yang baik, serta dapat mengayomi,
memberikan arahan, dorongan atau motivasi dan mewujudkan jiwa merdeka siswa dalam belajar yang
sesuai dengan minat dan bakat siswa. (2) Faktor pendukung peran guru dalam implementasi sistem
among yaitu kompetensi atau kemampuan guru dalam mengajar, pemahaman guru akan sistem among,
kepribadian atau tingkat kepedulian guru terhadap siswa, kepercayaan pihak orang tua siswa terhadap
guru dan adanya dukungan dari kepala sekolah. (3) Faktor penghambatnya mencangkup tingkat
kepedulian dan kesabaran dalam mendidik siswa, keterbatasan waktu yang digunakan dan kemauan anak
dalam belajar. (4) Dampaknya yaitu tujuan pembelajaran akan dapat berhasil dicapai dengan baik,
karakter siswa dapat berkembang secara optimal, siswa dapat merasa nyaman dalam kegiatan
pembelajaran di lingkungan sekolah, siswa akan merasa lebih semangat dalam belajar dan merasa senang
dalam mengikuti kegitan pembelajaran sehingga Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) dapat tercapai
dengan baik.
Kata Kunci: Peran Guru, Implementasi Sistem among, Pembelajaran PPKn.
The role of teachers in implementing the among system in PPKn learning Class IV of
Pleret Bantul Member State Elementary School
Abstract: The Teacher's Role in the Implementation of the Among System in Class IV PPKn Learning at
SD Negeri Kmember Pleret Bantul. Thesis of the Elementary School Teacher Education Study Program,
Faculty of Teacher Training and Education, Tamansiswa University, Yogyakarta.The purpose of this
study was to describe the teacher's role in the implementation of the among system in the fourth grade
PPKn SD Negeri Pleret Bantul. To find out the supporting and inhibiting factors of the teacher's role in
the implementation of the among system in class IV PPKn SD Negeri Pleret Bantul. To find out the
impact of the teacher's role in the implementation of the among system in class IV PPKn learning at SD
Negeri Kmember Pleret Bantul. This research was conducted at Kmember Pleret Public Elementary
School, Bantul. This research was conducted in February 2023. The subjects in this study were school
principals, grade IV teachers and grade IV students. This data collection technique uses observation
techniques, interviews and documentation. The research instrument is an observation guide, interview
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 1-7
E-ISSN: 3026-4014
- 2 -
guide and documentation guide. Test the validity of the data using source triangulation and technical
triangulation and using reference materials. Data analysis techniques in this study used Miles and
Huberman's analysis which consisted of data collection, data reduction, data presentation and data
withdrawal. The results of the study show that (1) the role of the teacher in implementing the among
system in Civics learning is very important, namely the teacher as a teacher or educator, the teacher as a
guide, the teacher as a mediator and facilitator, the teacher as an evaluator, the teacher as an example
and a good role model, and being able to protect , provide direction, encouragement or motivation and
realize the independent spirit of students in learning according to the interests and talents of students. (2)
Factors supporting the teacher's role in implementing the among system are the competence or ability of
the teacher in teaching, the teacher's understanding of the among system, the teacher's personality or
level of concern for students, the parents' trust in the teacher and the support from the school principal.
(3) The inhibiting factors include the level of care and patience in educating students, the limited time
used and the child's willingness to learn. (4) The impact is that learning objectives will be successfully
achieved, student character can develop optimally, students can feel comfortable in learning activities in
the school environment, students will feel more enthusiastic about learning and feel happy in
participating in learning activities so that the School Movement is Fun (GSM) can be achieved well.
Keywords: Teacher Role, Among System Implementation, PPKn Learning
Hak Cipta ©2023 Thomas Leo Orbiyanto, Chairiyah, Irfan Adi Nugroho
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
1. Pendahuluan
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia melalui pendidikan
seseorang akan memperoleh ilmu pengetahuan. Menurut Ki Hadjar Dewantara (2013:20) pendidikan
secara umum yaitu tuntutan dalam hidup tumbuhnya siswa, maksudnya adalah pendidikan menuntun
segala kekuatan kodrat yang ada pada siswa agar sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat
mencapai keselamatan serta kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan dan pengajaran merupakan dua
hal yang sering dipautkan. Pengajaran merupakan pendidikan dengan cara memberi ilmu atau
pengetahuan, serta juga memberi kecakapan kepada siswa. Pendidikan dan pengajaran dapat bermanfaat
dalam hidup siswa baik secara lahir maupaun batin. Pendidikan merupakan suatu proses pembelajaran
pengetahuan, ketrampilan dan kebiasaan setiap orang yang dapat diturunkan dari generasi satu kegenerasi
berikutnya melalui pengajaran, pelatihan atau penelitian. Menurut Boentarsono (2018: 33) pendidikan
adalah usaha kebudayaan yang bermaksud memberikan bimbingan dalam hidup dan tumbuh kembangnya
jiwa rasa anak didik, agar dalam menjalani garis kodrat pribadinya serta dalam menghadapi pengaruh
lingkungannya mendapat kemajuan hidup lahir batin.untuk itu pendidikan harus dapat terpenuhi untuk
kebutuhan masyarakat melalui sistem pendidikan yang berkualitas.
Sistem pendidikan yang digunakan di Indonesia telah mengalami banyak perubahan yang berdampak
pada mutu pendidikan. Di Indonesia juga sebenarnya telah banyak dilakukan pembaharuan dalam
pendidikan. Tujuan dari pembaharuan tersebut ialah untuk menjaga agar produk pendidikan kita tetap
relevan dengan zaman yang semakin berkembang. Namum pada kenyataanya pendidikan yang ada belum
sesuai dengan tuntunan masyarakat dan zaman. Khususnya di indonesia yang menggagas perubahan dan
pembaharuan pada awalnnya adalah diperkenalkan oleh kolonial belanda dengan mengimpor sekolah-
sekolah yang mengintroduksi pendidikan barat. Meskipun usaha pembaharuan-pembaharuan itu hingga
sekarang, namun belum mencapai hasil yang maksimal.
Selama ini pendidikan terutama disekolah juga telah banyak yang menerapkan berbagai sistem dan
metode pendidikan dan pembelajaran yang berasal dari negara-negara barat. Memang ada sebagaian yang
berhasil, namun tidak sedikit pula yang tidak sesuai dengan nilai dan budaya indonesia atau bahkan
bertentangan maka sistem tersebut tidak dapat memberikan hasil yang diharapkan. Dengan demikian
praktik teori dan filsafat pendidikan tersebut masih kurang memuaskan baik dari luar negeri, seperti
Amerika Serikat maupun insonesia. Dari perspektif ini maka perlu dicari model pelaksanakan teori
pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kebudayaan indonesia dengan kata lain yang bersifat
konstektual. Sementara itu, masyarakat indonesia masih banyak yang lupa bahwa bangsa indonesia
mempunyai sistem dan metode pendidikan asli indonesia, ciptaan putra indonesia sendiri yang disebut
dengan sistem among yang merupakan teori atau gagasan dari Ki Hadjar Dewantara, yang telah
diterapkan melalui pendidikan taman siswa. Sistem among merupakan gagasan autentik putra indonesia,
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 1-7
E-ISSN: 3026-4014
- 3 -
yang digali dari kearifan lokal. Sistem among Ki Hadjar Dewantara merupakan metode yang sesuai untuk
pendidikan karena merupakan metode pengajaran dan pendidikan yang berdasarkan asih, asah dan asuh.
Pendidikan sistem among bersendikan pada dua hal yaitu: kodrat alam sebagai syarat untuk
menghidupkan dan menggerakkan kekuatan lahir dan batin anak hingga dapat hidup mandiri. Sistem
among sering dikaitkan dengan asas yang berbunyi: Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa,
Tutwuri handayani. Ing ngarso sung tuladha artinya memberikan contoh atau teladan yang baik terhadap
siswa dan siswinya baik pola pikir maupun tingkah laku. Dalam hal ini seorang pendidik harus
memberikan arahan atau motivasi kepada siswa untuk menghargai kejujuran, tanggung jawab, disiplin,
sopan santun, dan percaya diri. Dengan memberikan teladan yang baik dan benar kepada siswa, maka
tindakan atau perilaku siswa akan baik juga dan seorang guru adalah panutan bagi siswa siswinya. Ing
madyo mangun karsa artinya ditengah membangun semangat yang artinya seorang guru harus bisa
memberikan semangat belajar siswa karena guru bisa juga menjadi teman bagi siswa siswinya sehingga
dapat membimbing siswanya dengan leluasa dan terciptlah suasana belajar yang menyenangkan dan
nyaman bagi siswa dan siswinya. Tut wuri handayani artinya mengikuti dari belakang dan memberi
pengaruh terhadap siswa-siswinya untuk mendorong atau memberi motivasi dalam pembelajaran karena
dengan hal tersebut mereka selalu merasa diperhatikan sehingga muncul pikiran yang positif dari
gurunya, sehingga selalu memandang kedepan dan tidak terpaku dalam situasi atau keadaan sekarang ini.
Asas ini telah banyak dikenal daripada sistem among sendiri karena banyak dari anggota masyarakat yang
belum memahaminya, hal ini terbukti dengan penelitian Fatah Arifudin, pendidikan disekolah masih ada
yang menggunakan perintah dan hukum untuk mencapai ketertiban dikarenakan pendidikan disekolah
hanya berfokus untuk mentransfer ilmu pengetahuan saja padahal dalam pendidikan, proses pembelajaran
sebenarnya belum sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Sistem among sangat dibutuhkan oleh setiap guru dalam mendidik dan mengarahkan anak pada
pendidikan yang sebenarnya, sebab guru merupakan orang yang melakukan kontak secara langsung
dengan anak setiap harinya. Terlebih guru sekolah dasar dimana mereka harus mendidik dan
membimbing anak diusia yang karakternya dapat berubah ubah sesuai dengan apa yang dilihat dan
didengar setiap harinya, oleh karena itu dapat dilihat bahwa disini peran guru sangat berpengruh
didalamnya.
Menurut Tutuk Ningsih (2015: 230-232) Guru berperan penting dalam mentransfer ilmu
pengetahuan, sikap, dan perilaku terhadap siswa. Ki Hajar Dewantara telah menuliskan peran guru dalam
proses pendidikan yaitu Ing Ngarso Sung Tulodho yaitu di depan memberikan teladan, Ing Madya
Mangun Karso yang berarti di tengah memberikan peluang untuk berkarya, dan Tut Wuri Handayani
berarti di belakang memberikan dorongan. Guru dalam proses pembelajaran harus didasarkan pada
metode sistem among yakni asih, asah, dan asuh. Pembelajaran di dalam kelas, seorang guru harus dapat
menyampaikan Pendidikan pesan moral jujur, peka terhadap lingkungan, dan mampu menanamkan nilai
karakter pada siswa. Perkembangan baru terhadap pandangan belajar mengajar bahwa konsekuensi
kepada guru untuk meningkatkan peranan dan kompetensinya karena proses belajar mengajar dan hasil
belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru karena proses belajar mengajar
dan hasil belajar siswa sebagian besar ditentukan oleh peranan dan kompetensi guru dalam mengajar.
Peran seorang guru sangat signifikan dalam proses belajar mengajar dimana guru yang kompeten
akan lebih mampu dalam mengelola kelasnya sehingga hasil belajar siswa berada pada tingkat optimal.
Guru sangat berperan penting dalam proses pembelajaran dimana peran guru dalam proses belajar
mengajar meliputi banyak hal seperti sebagai pengajar, manajer kelas, motivator, supervisor, konsuler,
eksplorator dan sebagainya.
Oleh karena itu guru memiliki peranan penting dalam implementasi sistem pembelajaran yang
digunakan dalam dunia pendidikan. Berdasarkan hasil observasi awal pada saat kegiatan magang III atau
Pengenalan Lapangan Persekolahan pada tanggal 25 Juli - 25 Agustus 2022 di SD Negeri Kanggotan
sudah terdapat falidasi bahwa peran guru dalam mengajar pada muatan PPKn kelas IV SD Negeri
Kanggotan guru sudah menerapkan sistem among berdasarkan Tut Wuri Handayani. Tetapi terlihat
bahwa peran guru dalam mengajar masih belum terlaksana dengan optimal dan belum dapat
mengimplementasikan sistem among dengan benar yang sesuai dengan ajaran Ki Hadjar Dewantara. Hal
ini terlihat ketika guru mengajar pada muatan PPKn di kelas IV guru hanya sekedar menjelaskan dan
kemudian memberikan soal kepada siswa, guru hanya memberikan kesempatan bertanya siswa 1 kali
setelah guru selesai menjelaskan semua materi yang diajarkan pada siswa sehingga hal ini membuat siswa
merasa bingung apa yang harus ditanyakan kepada guru. Kemudian pada saat pengerjaan soal yang
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 1-7
E-ISSN: 3026-4014
- 4 -
diberikan guru terlihat telah membatasi kreativitas siswa dengan menyebutkan jumlah jawaban yang
diperlukan. Guru belum mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman, hal ini terlihat bahwa ada
beberapa siswa yang merasa tegang saat mengikuti kegiatan pembelajaran sehingga hal ini menimbulkan
siswa enggan untuk bertanya dan tidak berani mengungkapkan pendapatnya karena takut dimarahi oleh
gurunya. guru juga masih menggunakan sitem mengajar dengan metode ceramah sehingga siswa
cenderung merasa bosan saat belajar dikelas.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Menurut Sugiyono
(2016: 9) Penelitian kualitataif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme,
yang digunakan untuk meneliti suatu keadaan atau kondisi objek secara alamiah. Penelitian ini lebih
menekankan pada pengumpulan data utuk menjelaskan situasi atau keadaan yang terjadi dilapangan.
Peneliti dalam hal ini adalah sebagai intrumen kunci dan teknik pengumpulan data yang dilakukan secara
triangulasi atau gabungan, analisis data bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian kualitatif lebih
menekankan makna daripada generalisasi.
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: 1) Peran guru dalam implementasi sistem among pada
pembelajaran PPKn kelas IV, guru memiliki peranan yang sangat penting dimana dalam menjalankan
perannya guru harus dapat berlandaskan pada asah, asih dan asuh serta dapat mebangun jiwa
kekeluargaan terhadap peserta didik disekolah, peran guru dalam pengimplementasian sistem among
adalah guru sebagai pengajar atau pendidik, guru sebagai pembimbing, guru sebagai mediator dan
fasilitator, guru sebagai evaluator, guru sebagai contoh dan teladan yang baik, serta dapat mengayomi,
memberikan arahan, dorongan atau motivasi dan mewujudkan jiwa merdeka siswa dalam belajar yang
sesuai dengan minat dan bakat siswa. 2) Faktor pendukung peran guru dalam implementasi sistem among
pada pembelajaran PPKn adalah kompetensi atau kemampuan guru dalam mengajar, pemahaman guru
akan sistem among serta cara pengimplementasiannya, kepribadian atau tingkat kepedulian guru terhadap
siswa, kepercayaan pihak orang tua siswa terhadap guru dan adanya dukungan dari kepala sekolah. 3)
Faktor penghambat peran guru dalam implementasi sistem among pada pembelajaran PPKn adalah
karakter dari pribadi guru yang mencangkup tingkat kepedulian dan kesabaran dalam mendidik siswa,
keterbatasan waktu yang digunakan dan kemauan anak dalam belajar dapat menjadi suatu hambatan
dalam keberhasilan dari pengimplementasian sistem among tersebut. 4) Dampak yang dihasilkan dari
implementasi sistem among pada pembelajaran PPKn yaitu memiliki dampak positif yang besar terhadap
keberhasilan peserta didik dalam belajar, diantaranya tujuan pembelajaran akan dapat berhasil dicapai
dengan baik, karakter siswa dapat berkembang secara optimal, siswa dapat merasa nyaman dalam
kegiatan pembelajaran di lingkungan sekolah, siswa akan merasa lebih semangat dalam belajar dan
merasa senang dalam mengikuti kegitan pembelajaran sehingga Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM)
dapat tercapai dengan baik. Sebaliknya jika sistem among tidak dapat diimplementasikan dengan baik
maka semua itu tidak akan dapat tercapai.
Pembahasan
Peran guru dalam implementasi sistem among pada pembelajaran PPKn sudah dapat berjalan dengan
baik. Berdasarkan hasil wawancara, observasi dan dokumentasi mengenai peran guru dalam implementasi
sistem among pada pembelajran PPKn menunjukkan bahwa guru sebeagai pendidik yang setiap harinya
mengajar dan memberikan materi kepada peserta didik harus dapat mendidik berdasarkan asih, asah dan
asuh, dimana peran guru disini sebagai pengajar atau pendidik dapat memberikan kasih sayang yang besar
terhadap peserta didik seperti layaknya keluarga dan dapat mengasuh atau membina dengan penuh rasa
sabar, ikhlas dan cinta kasih agar nantinya hubungan kedekatan antara guru dan siswa dapat terjaga dan
kenyamanan siswa dalam belajar dapat terwujud dengan baik. Selain mendidik siswa berdasarkan asih,
asah dan asuh, peran guru dalam implementasi sistem among yang telah diterapkan yaitu sebagai contoh
dan teladan yang baik bagi siswanya. sebagai seorang guru juga harus dapat mengayomi, membimbing,
memberikan arahan serta motivasi kepada siswa dalam belajar. Guru juga berperan sebagai mediator dan
fasilitator, dimana sebagai seorang guru tentunya harus dapat memberikan media pembelajaran yang
menarik dan memberikan fasilitas belajar kepada siswa agar dapat mempermudah siswa dalam mengikuti
kegiatan pembelajran.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 1-7
E-ISSN: 3026-4014
- 5 -
Guru juga berperan sebagai evaluator dimana sebagai seorang guru harus dapat mengevaluasi dan
kemudian memberikan arahan jika siswa sudah melewati batas kewajaran. Selaras dengan yang
diungkapkan oleh Jamil Suprihatiningrum (2013:24) guru adalah pendidik professional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, menilai dan mengevaluasi siswa pada Pendidikan anak usia dini jalur
Pendidikan formal, Pendidikan dasar dan menengah. Disini peran guru dalam implementasi sistem among
sudah berjalan dengan baik dimana sebegai pengajar guru sudah dapat memberikan kasih sayang yang
besar terhadap siswanya sehingga jiwa kekeluargaan antara siswa dan guru dapat terwujud hal ini yang
dapat memberikan kenyamanan siswa dalam belajar dan membangun siswa menjadi lebih berkarakter
sehingga siswa dapat berkembang sesuai dengan kodrat pribadinya masing-masing. Selaras dengan yang
diungkapkan Tim Dosen Ketamansiswaan, (2016:34) menyatakan pendidikan di Tamansiswa
dilaksanakan menurut sistem among, ialah suatu sistem yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan dua
asas yaitu kodrat alam dan kemerdekaan. Dalam pengimplementasian sistem among disini guru telah
menjalin kedekatan dengan siswa layaknya keluarga, sehingga dalam sebuah pembelajaran jiwa
kekeluargaan antara guru dan siswa dapat terwujud dengan baik dan siswa dapat merasa nyaman dalam
belajar, guru juga tidak menghukum siswa akan tetapi memberikan arahan dan menuntuntun siswa agar
dapat berkembang dengan baik sesuai dengan kodrat yang dimilikinya.
Faktor yang menjadi pendukung dari implementasi sistem among adalah kompetensi atau
kemampuan guru dalam mengajar, tingginya kemampuan guru dalam mengajar tentunya menjadi faktor
pendukung dalam pengimplementasian sistem among ini dimana guru yang lebih berkompeten akan dapat
mengimplementasikan sistem among tersebut dengan baik dan benar pada suatu pembelajaran disekolah
khususnya pada muatan PPKn, kemudian pemahaman guru akan sistem among serta cara
pengimplementasiannya, guru yang paham akan konsep dari sistem among tersebut dan mengetahui akan
cara dalam pengimplementasiannya tentunya dapat menjadi faktor pendukung dalam implementasi sistem
among dengan baik dan benar. Kepribadian atau tingkat kepedulian guru terhadap siswa, dengan guru
yang memiliki kepribadian yang baik, sabar dan peduli akan peserta didik akan dapat memberikan
pembelajaran yang baik pula, dimana guru akan dapat memberikan perhatian kepada siswa dan dapat
memberikan kasing sayang terhadap siswa dalam suatu pembelajran yang sesuai dengan asah, asih dan
asuh maka siswa akan dapat merasa nyaman dalam belajar dan keberhasilan siswa dapat terwujud
sehingga hal ini menjadikan salah satu faktor pendukung dari peran guru dalam pengimplementasian
sistem among itu sendiri, faktor pendukung selanjutnya adalah kepercayaan pihak orang tua siswa
terhadap guru sehingga dalam pengimplementasian sistem among tersebut kedekatan siswa dan guru
disekolah tidak dibatasi oleh orang tua. Adanya dukungan dari pihak sekolah terutama dari kepala
sekolah. Dengan adanya dukungan dari kepala sekolah tentunya akan sangat membantu guru dalam
pengimplementasian sistem among pada kegiatan pembelajaran, dukungan yang diberikan dari kepala
sekolah disini yaitu dengan mewajibkan seluruh guru untuk dapat mengimplementasikan sistem among
pada pembelajran di sekolah dan selalu memberikan arahan akan bagaimana cara agar sistem among
tersebut dapat diimplementasikan dalam suatu pembelajran dengan menyampaikannya melalui rapat rutin
yang dilakukan oleh pihak sekolah. Faktor pendukung dari peran guru dalam implementasi sistem among
pada pembelajran PPKN kelas IV SD Negeri Kanggotan Pleret Bantul adalah kompetensi atau
kemampuan guru dalam mengajar, pemahaman guru akan sistem among serta cara
pengimplementasiannya, kepribadian atau tingkat kepedulian guru terhadap siswa, kepercayaan pihak
orang tua siswa terhadap guru dan adanya dukungan dari kepala sekolah. Selaras dengan Zein (2017:278)
keberhasilan guru dalam mengajar terletak pada beberapa faktor yang berpengaruh, antara lain tujuan
karakteristik siswa, situasi dan kondisi, kemampuan dan pribadi guru, serta sarana dan prasarana yang
digunakan dalam mengajar. Selain itu dukungan dari pihak sekolah juga dapat menjadi faktor pendukung
dalam pengimplementasian sistem among dalam pembelajaran.
Faktor penghambat peran guru dalam implementasi sistem among adalah karakter dari pribadi guru
yang mencangkup tingkat kepedulian dan kesabaran dalam mendidik siswa, disini karakter dari pribadi
guru dengan tingkat emosi yang tidak stabil dapat menyebabkan kesulitan dalam mengendalikan emosi
pada saat mendidik siswa hal ini dapat memberikan rasa taku kepada siswa sehingga siswa tidak akan
dapat merasa nyaman pada saat mengikuti kegiatan pembelajaran dan kepedulian guru juga akan menurun
karena guru hanya akan memberikan suatu penjelasan mengenai materi yang akan dipelajari dan tidak
peduli akan paham dan tidaknya siswa akan materi yang telah dijelaskan sehingga peran guru sebagai
pengajar tidak dapat tercapai dengan baik. Keterbatasan waktu yang digunakan dan kemauan anak dalam
belajar dapat menjadi suatu hambatan paran guru dalam mengajar dikarenakan guru hanya bertemu disaat
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 1-7
E-ISSN: 3026-4014
- 6 -
jam pembelajaran disekolah dan jika siswa tidak memiliki keingingan dalam belajar yang dapat membuat
siswa menjadi malas dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan tidak dapat mengikuti kegiatan
pembelajran dengan baik maka peran guru disini juga tidak akan dapat tercapai dengan baik dalam
pengimplementasian sistem among tersebut. Faktor penghambat peran guru dalam implementasi sistem
among pada pembelajran PPKn kelas IV SD Negeri Kanggotan Pleret Bantul adalah karakter dari pribadi
guru yang mencangkup tingkat kepedulian dan kesabaran dalam mendidik siswa, keterbatasan waktu
yang digunakan dan kemauan anak dalam belajar. Selaras dengan Zein (2017:278) keberhasilan guru
dalam mengajar terletak pada beberapa faktor yang berpengaruh, antara lain tujuan karakteristik siswa,
situasi dan kondisi, kemampuan dan pribadi guru, serta sarana dan prasarana yang digunakan dalam
mengajar. Dampak dari implementasi sistem among pada pembelajaran PPKn memiliki dampak positif
yang besar terhadap keberhasilan peserta didik dalam belajar, diantaranya tujuan pembelajaran pada
muatan PPKn dapat berhasil dicapai dengan baik, karakter siswa akan dapat berkembang secara optimal,
siswa dapat merasa nyaman dalam kegiatan pembelajaran, siswa akan merasa lebih semangat dalam
belajar dan merasa senang dalam mengikuti kegitan pembelajaran sehingga Gerakan Sekolah
Menyenangkan (GSM) akan dapat tercapai dengan baik.Selaras dengan Ayu Rahayu (2015:73)
berpendapat sistem among merupakan sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan
kodrat alam dan kemerdekaan. Berjiwa kekeluargaan yaitu pendidikan dilaksanakan dengan dasar kasih
sayang sesama manusia, saling menghormati dan menghargai perbedaan, tolong menolong, gotong
royong, serta menjunjung tinggi persatuan. Bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan berarti pendidikan
memeberikan kebebasan bagi siswa. Siswa diberikan kebebasan dengan batasan tanggung jawab sehingga
siswa dapat berkembang sesuai kodrat sebagai makhluk individu dan makhluk sosial. Dengan adanya rasa
kasih sayang dan jiwa kekeluargaan antara guru dan siswa maka siswa akan dapat merasa nyaman dalam
belajar, sehingga karakter siswa akan berkembang secara optimal dan pembelajran akan berjalan dengan
menyenangkan.
4. Simpulan
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam pengimplementasian sistem among pada suatu
pembelajaran, kemampuan guru dalam mengajar, dukungan dari kepala sekolah dan pemahaman guru
akan sistem among tersebut menjadi faktor pendukung dalam keberhasilan guru dalam
pengimplementasian sistem among secara baik dan benar, implementasi sistem among akan dapat
dilaksanakan dengan baik apabila guru memahami konsep dari pendidikan sistem among itu sendiri.
Keberhasilan guru dalam pengimplementasian sistem among akan memberikan dampak positif yang besar
pada suatu pembelajaran diantaranya tujuan pembelajaran dapat berhasil dicapai dengan baik, karakter
siswa akan dapat berkembang secara optimal, siswa dapat merasa nyaman dalam kegiatan pembelajaran,
siswa akan merasa lebih semangat dalam belajar dan merasa senang dalam mengikuti kegitan
pembelajaran sehingga Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) akan dapat tercapai dengan baik.
5. Daftar Pustaka
Apride Pane, M. D. (2017). Belajar dan Pembelajaran. Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Keislaman, 03, 313-332.
Arianti. (2018). Peran Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Kependidikan, 12,
117-134.
Buchari, A. (2018). Peran Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran. Jurnal Ilmiah Iqra, 12, 106-124.
Godeliva Umbu Nono, dkk. (2018). Hubungan Mata Pelajaran PPKn Terhadap Peningkatan Karakter
Siswa. Jurnal Moral Kemasyarakatan, 3, 52-56.
Ihsan. (2017). Kecenderungan Global dalam Proses Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan Disekolah. Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan, 2, 49-58.
Ina Magdalena, d. (2021). Implementasi Model Pembelajaran Daring Pada Pandemi Covid-19 Dikelas III
SDN Sindangsari III. Jurnal Pendidikan dan Dakwah, 3, 1-10.
Ketamansiswaan, T. D. (2016). Materi Kuliah Ketamansiswaan. Yogyakarta.
Kirom, A. (2017). Peran Guru dan Peserta Didik dalam Proses Pembelajaran Berbasis Multikultural.
Jurnal Pendidikan Agama Islam, 3, 69-80.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 1-7
E-ISSN: 3026-4014
- 7 -
Magdalena. (2020). Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Disekolah Dasar Negeri Bonjong 3
Pinang. Jurnal Pendidikan dan Sains, 2, 419-430.
Meita Sekar Sari, M. Z. (2019). Pengaruh Akuntabilitas, Pengetahuan dan Pengalaman Pegawai
Negeri Sipil Beserta Kelompok Masyarakat Terhadap Kualitas Pengelola Dana Kelurahan
Dilingkungan Kecamatan Langkapura. Jurnal Ekonomi, 21, 308-315.
Muhamad Fikri Zulfikar, D. A. (2021). Pentingnya Pendidikan Kewarganegaraan Untuk Membangun
Karakter Bangsa. Jurnal PEKAN, 6, 104-115.
Mutiaramses, N. I. (2021). Peran Guru dalam Pengelolaan Kelas Terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah
Dasar. Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 06, 43-48.
Nasional, D. P. (2003). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003,Tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta: Depdiknas.
Parawangsa. (2021). Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan Disekolah Dasar (SD). Jurnal Pendidikan
Tanbusai, 5, 850-854.
Purwandari, N. R. (2016). Implementasi Sistem Among dalam Penanaman Karakter di Kelas IV SD
Taman Muda Ibu Pawiyatan Tamansiswa Yogyakarta.Yogyakarta :UNY : Skripsi, Tidak
diterbitkan.
Putri, S. M. (2019). Implementasi Sistem Among untuk Menumbuhkan Karakter Mandiri pada
Pembelajaran Tematik Peserta Didik Kelas IV SD Tamansiswa Jetis Yogyakarta. Skripsi, Tidak
diterbitkan: Yogyakarta: FKIP UST.
Sari, C. R. (2019). Penerapan Sistem Among di Sekolah Dasar. Prosding Seminar Nasional PGSD, 97-
101.
SISDIKNAS, U.-U. (2008). Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional RI No.20 Tahun 2003.
Jakarta: Sinar Grafika.
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Susanto, A. (2013). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana.
Tauchid, M. (2011). Perjuangan dan Ajaran Hidup Ki Hadjar Dewantara. Yogyakarta: Majelis Luhur
Persatuan Tamansiswa.
Telaubanua, F. (2019). Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Berbasis E-Learning.
Jurnal Warta Edisi: 62, 14-23.
Wangit, M. N. (2008). Masih Bertahankah Sistem Among Pada Masa Kini? Kajian Konsep dan Praktik
Pendidikan. Yogyakarta: UNY.
Wangit, M. N. (2009). Sistem Among Pada Masa Kini: Kajian Konsep dan Praktik Pendidikan. Jurnal
Kependidikan, 39, 129-140.
Yenita Heri Susanto, A. J. (2017). Pemahaman dan Penerapan Sistem Among Kihadjar Dewantara pada
Usia Wiraga. Jurnal Ilmiah Pisikologi, 2, 119-127.
Zein, M. (2016). Peran Guru dalam Pengembangan Pembelajaran. Jurnal Pendidikan, 5, 274-285.