Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 16-20
E-ISSN: 3026-4014
- 16 -
Artikel Penelitian –Naskah dikirim: 4/02/2023 –Selesai revisi: 23/03/2023 –Disetujui: 27/05/2023 –Diterbitkan:1/06/2023
Upaya meningkatkan hasil belajar IPS melalui strategi peer lessons
pada Siswa Kelas IV di SDN 2 Kalangsari
Mochammad Delfianova Kirana
1
, Yus Darusman
2
, Febri Fajar Pratama
3
1,2,3
Universitas Perjuangan Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat, Indonesia
Email: mochammaddelfi@gmail.com
Abstrak. Berdasarkan observasi awal yang menunjukkan rendahnya hasil belajar siswa, maka dilakukan
penelitian tindakan kelas pada siswa kelas IV SDN 2 Kalangsari. Nilai rata-rata hasil tes siswa pada
pembelajaran IPS masih dibawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah yaitu 75.
Pada tahun ajaran 2022–2023, tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan pembelajaran IPS. hasil
belajar siswa kelas IV SD Negeri 2 Kalangsari Kota Tasikmalaya dengan menerapkan strategi
pembelajaran Peer Lessons. Penelitian tindakan kelas adalah jenis penelitian ini. Subjek penelitian adalah
12 siswa laki-laki dan 6 siswa perempuan kelas IV SD Negeri 2 Kalangsari Kota Tasikmalaya pada
semester genap tahun ajaran 2022–2023. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus, dengan 2 pertemuan
pada setiap siklusnya. Tes dan observasi merupakan metode yang digunakan dalam pengumpulan data.
Sebanyak 75% siswa yang mengikuti proses pembelajaran memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal
(KKM) yaitu 75. Peningkatan hasil belajar IPS ini menjadi tanda keberhasilan penelitian. Temuan
penelitian menunjukkan bahwa penerapan strategi pembelajaran peer lessons meningkatkan hasil belajar
IPS. Setelah tindakan siklus I, 7 siswa (38,89%) tidak tuntas, sedangkan 11 siswa (61,11%) mencapai
ketuntasan. Setelah kegiatan siklus II, terdapat 3 siswa (16,67%) dan 15 siswa (83,33%) yang belum
tuntas belajarnya. Berdasarkan temuan penelitian, dapat dikatakan bahwa peneliti memiliki pemahaman
yang jelas tentang lingkungan kelas. Oleh karena itu, peneliti dan guru kelas bekerja sama untuk
menyusun rencana tindakan yang dapat meningkatkan hasil belajar IPS siswa kelas IV.
Kata Kunci: hasil belajar, pembelajaran IPS, strategi pembelajaran Peer Lessons.
Efforts to improve social studies learning outcomes through peer lessons strategies for Grade IV
Students at SDN 2 Kalangsari
Abstract. Based on initial observations showing low student learning outcomes, classroom action
research was conducted on class IV students at SDN 2 Kalangsari. The average score on student test
results in social studies learning is still below the minimum completeness criteria (KKM) set by the
school, namely 75. In the 2022–2023 school year, the aim of this research is to improve social studies
learning. learning outcomes of class IV students at SD Negeri 2 Kalangsari, Tasikmalaya City by
implementing the Peer Lessons learning strategy. Classroom action research is this type of research. The
research subjects were 12 male and 6 female students in class IV of SD Negeri 2 Kalangsari, Tasikmalaya
City in the even semester of the 2022–2023 academic year. This research was carried out in 2 cycles, with
2 meetings in each cycle. Tests and observations are the methods used in data collection. As many as 75%
of students who took part in the learning process met the Minimum Completeness Criteria (KKM),
namely 75. This increase in social studies learning outcomes is a sign of research success. Research
findings show that implementing peer lessons learning strategies improves social studies learning
outcomes. After the first cycle of action, 7 students (38.89%) did not complete, while 11 students
(61.11%) achieved completion. After cycle II activities, there were 3 students (16.67%) and 15 students
(83.33%) who had not completed their studies. Based on the research findings, it can be said that the
researcher has a clear understanding of the classroom environment. Therefore, researchers and class
teachers work together to develop action plans that can improve social studies learning outcomes for class
IV students.
Keywords: learning outcomes, social studies learning, Peer Lessons learning strategies.
Hak Cipta©2023Yus Darusman, Febri Fajar Pratama, Mochammad Delfianova Kirana
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 16-20
E-ISSN: 3026-4014
- 17 -
1. Pendahuluan
Strategi Pembelajaran Peer Lessons menekankan betapa pentingnya bagi guru untuk mengawasi
lingkungan pembelajaran yang memiliki tujuan untuk memastikan bahwa siswa terlibat dan bersemangat
dalam belajar. Dengan penggunaan contoh dan bahan ajar yang tepat, siswa dapat menguasai suatu mata
pelajaran dengan menerapkan keterampilan berpikir kritis dan mengkomunikasikannya pada temannya.
Kurangnya pembelajaran IPS siswa kelas IV SDN 2 Kalangsari menjadi salah satu permasalahan
utama dalam kurikulum ini. Secara signifikan, beberapa siswa menganggap IPS sulit untuk dipahami,
yang membuat mereka menjadi pembelajar yang lambat dan kurang bersemangat untuk belajar.
Dengan kurang efektifnya pembelajaran IPS Hasil belajar yang masih jauh dari KKM 75
menunjukkan adanya kemajuan dalam pembelajaran. 10% ilmu yang diajarkan kepada manusia
dipertahankan, menurut penelitian Magnesen (dalam Ani, 2007: 125). membaca, 20% mendengar, 30%
melihat, 50% mendengar dan melihat, dan 70% mendengar dan melihat, 70% indra kita didasarkan pada
pendengaran kita. Kami sedang belajar. dan 90% tindakan dan perkataan kita Pembelajaran yang efektif
memerlukan penggunaan indera pendengaran, visual, dan motorik secara bersamaan, menurut penelitian.
Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa hanya 20% ketika instruktur memberikan banyak
pekerjaan rumah. Sebaliknya, ketika siswa dituntut untuk bekerja sambil mendemonstrasikan,
pemahaman mereka bisa mencapai kurang lebih 90%. Akibatnya, hasil belajar siswa akan meningkat
sebagai akibat dari peningkatan kualitas pembelajaran.
Strategi peer lessons adalah strategi pembelajaran kooperatif dimana sebagian siswa berperan
sebagai guru dan sebagian siswa lainnya berperan sebagai pembelajar. Tujuan dari pendekatan ini adalah
untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan karena penjelasan yang diberikan
dalam bahasa yang berbeda lebih mengenal.
Guru merupakan peran inti dalam proses pembelajaran. Peran seorang guru bukan untuk
menyajikan informasi yang ingin dipelajari siswa, tetapi untuk mengajar siswa bagaimana cara belajar
yang efektif. Guru perlu menguasai pemahaman tentang konsep belajar, dan cara melibatkan siswa
dengan pembelajaran sehingga dapat merancang dan menyampaikan suatu materi belajar kepada siswa
yang melibatkan siswa untuk aktif dalam proses belajar.
Alasan dilakukan penelitian di SDN 2 Kalangsari karena dalam pembelajaran IPS siswa masih
kurang terdorong untuk belajar, mereka juga kurang memperhatikan guru saat menyajikan informasi.
Meskipun mereka sedang asik beraktivitas dan bermain-main, beberapa siswa masih berbincang dengan
teman sekelasnya. Ada siswa yang terus kebingungan ketika guru menjelaskan materi, dan masih kurang
memahami materi yang disampaikan oleh guru.
2. Kajian Teoretis
Untuk menjamin kompetensi sebagai tujuan pembelajaran dapat dicapai seefektif mungkin,
Sanjaya (2005:34) mengartikan kompetensi dalam konteks strategi pembelajaran sebagai suatu model
umum yang memuat sejumlah kegiatan yang dapat dijadikan pedoman umum.
Dengan memilih strategi pembelajaran peer lessons, mendorong siswa untuk belajar aktif dapat
dilakukan dengan memilih strategi. Siswa mempunyai kecenderungan cepat melupakan apa yang telah
diajarkan jika masih pasif atau hanya mengikuti pelajaran dari guru. Menerapkan strategi pembelajaran
peer lessons adalah salah satu cara untuk terlibat dalam pembelajaran aktif.
Siswa diajak untuk berpartisipasi dalam pembelajaran aktif, yaitu pembelajaran itu sendiri. Dalam
kegiatan pembelajaran, siswa yang aktif terlibat menunjukkan dominasi dalam pembelajaran. Dengan
melakukan hal ini, siswa secara aktif menerapkan apa yang telah dipelajarinya pada permasalahan dunia
nyata atau memecahkan masalah dengan menggunakan otaknya atau gagasan pokok materi.
Kurikulum 2013 menguraikan tujuan pembelajaran IPS di sekolah dasar. Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 68 Tahun 2013 menyatakan bahwa tujuan pembelajaran IPS adalah
untuk meningkatkan rasa cinta tanah air, pemahaman terhadap tanah air, dan kegiatan masyarakat yang
berkaitan dengan sektor perekonomian di wilayah atau wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurut (Preston dalam Hidayati, 2006:28) Pengajaran IPS mampu berjalan sesuai rencana jika
guru mengetahui dan memahami karakteristik siswa SD. Siswa sekolah dasar masih dalam tahap operasi
khusus dengan ciri-ciri sebagai berikut: perhatian mudah berubah dan terfokus dengan lingkungan
terdekatnya, memiliki kebutuhan untuk mempelajari sesuatu yang diinginkan, menyukai objek bergerak
dan imajinatif.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 16-20
E-ISSN: 3026-4014
- 18 -
Hasil belajar merupakan produk akhir dari suatu proses dimana guru sebagai pembelajar pasif dan
siswa sebagai pembelajar aktif, menurut Rianti (2007:12). Belajar bertujuan agar memberikan kesan
bahwa apa yang dipelajari merupakan konsekuensi interaksi dengan lingkungan, menurut Arikunto
(2002:2). Kepribadian seseorang dapat dikembangkan secara holistik melalui serangkaian aktivitas
mental, fisik, dan psikofisiologis yang mencakup komponen kreatif, emosional, dan psikomotorik.
Kegiatan-kegiatan tersebut disebut dengan kegiatan.
Untuk menciptakan cara belajar yang menarik dan kreatif, diperlukan berbagai keterampilan,
termasuk keterampilan mengajar. Uzer Usman (2010): 74) Kemampuan bertanya, menjelaskan,
menguatkan, membuka dan menutup pelajaran, memandu diskusi, diskusi kelompok kecil, pengelolaan
kelas, pengajaran individual, dan pengajaran kelompok kecil merupakan keterampilan mengajar penting
yang menentukan kualitas pembelajaran.
3. Metode Penelitian
Karena tujuan penelitian ini untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas IV SDN 2 Kalangsari maka
tergolong penelitian tindakan kelas. Berdasarkan temuan pada siklus refleksi pertama, penelitian ini
dilaksanakan dalam 2 siklus, dengan siklus pertama melibatkan tindakan.
Siklus I terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tugas, observasi, dan refleksi. Apabila belum terjadi
peningkatan hasil belajar, siklus II diharapkan melakukan tindakan sebagai berikut berdasarkan refleksi
siklus I dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Perencanaan
a. Identifikasi masalah
b. Rencana tindakan
Tindakan yang direncanakan adalah melelui pemberian tes pengerjaan soal sebagai upaya
meningkatkan hasil belejar siswa.
2. Pelaksanaan
a. Mengembangkan rencana pembelajaran
b. Mengevaluasi hasil belajar siswa melalui tes siklus II
3. Pengamatan
a. Evaluasi hasil observasi siklus I
4. Refleksi
Setelah diadakan penelitian siklus I dan siklus II diperoleh analisis tentang data-data yang akurat,
Berdasarkan hasil penelitian, siswa kelas IV SDN 2 Kalangsari mengalami peningkatan hasil belajar
IPS ketika menggunakan strategi peer lessons.
Data kualitatif dan kuantitatif dikumpulkan, dan mencakup hal-hal berikut:
1. Hasil dari pemberian soal tes mandiri.
2. Peningkatan hasil belajar siswa ditentukan dengan menganalisis hasil tes siklus I dan siklus II.
3. Temuan-temuan dari observasi tentang bagaimana proses belajar mengajar dilaksanakan.
Adapun tekhnik pengumpulan data dengan observasi untuk memperoleh data berkaitan dengan
proses pembelajaran yang dilakukan di SDN 2 Kalangsari. Tekhnik pengumpulan data dengan pemberian
soal untuk memperoleh data dari hasil belajar siswa. Tekhnik pengumpulan data dengan dengan
dokumentasi untuk memperoleh data mengenai visi dan misi SDN 2 Kalangsari, struktur dan letak
bangunan SDN 2 Kalangsari.
4. Hasil dan Pembahasan
Dengan penggunaan Strategi Peer Lessons, penelitian ini berupaya untuk meningkatkan hasil
belajar IPS di kelas IV SD Negeri 2 Kalangsari Kota Tasikmalaya. Pada pembelajaran siklus I kelas IV
SD Negeri 2 Kalangsari dengan menggunakan strategi peer lessons dirasa sudah cukup. Dalam hal ini,
rendahnya motivasi belajar siswa ditunjukkan dengan menurunnya rentang perhatian mereka saat guru
menjelaskan materi. Meskipun mereka sedang asik beraktivitas dan bermain-main, beberapa siswa masih
berbincang dengan teman sekelasnya. Ada siswa yang terus kebingungan ketika guru menjelaskan materi,
dan kurang memahami materi yang disampaikan guru. Hal ini ditunjukkan ketika soal-soal pada siklus I
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 16-20
E-ISSN: 3026-4014
- 19 -
diberikan kepada masing-masing siswa yang berjumlah 18 orang secara individu. Hanya 11 siswa atau
61,11% dari total yang menyelesaikan soal.
Langkah yang diambil untuk menentukan tindakan perbaikan pada siklus berikutnya berdasarkan
refleksi dari siklus I, agar tujuan penelitian dapat tercapai sesuai dengan indikator keberhasilan yang telah
ditentukan. Pada siklus II, peneliti mengambil inisiatif untuk mengambil tindakan dengan memusatkan
perhatian pada materi yang akan dipelajari, menjadikannya semenarik mungkin, dan membagi kelas
menjadi beberapa kelompok untuk mendorong pembelajaran. Untuk melakukan hal ini, strategi
pembelajaran dari pembelajaran strategi peer lessons sebelumnya diterapkan untuk mengidentifikasi
kesenjangan dalam hasil pembelajaran. Untuk membantu siswa lebih memahami materi yang diajarkan
guru, berikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi ide, pendapat, dan pemikiran dengan
kelompoknya.
Ketika pembelajaran berlangsung, siswa sangat terlibat dan bersemangat. Ketika siswa berani
bertanya kepada peneliti tentang sesuatu yang belum dipahaminya, itu merupakan tanda adanya aktivitas
mereka. Ketika peneliti sedang menyampaikan materi, siswa juga memperhatikan. Melalui penggunaan
strategi peer lesson, pemahaman siswa terhadap IPS mengalami peningkatan.
Selain dapat bekerja sama dengan teman kelompoknya, siswa juga sangat antusias dengan
pembelajaran yang diberikan guru. Siswa kemudian dapat menyelesaikan tugas yang diberikan peneliti
secara berkelompok dan membagikannya kepada sesama anggota kelompok. Berdasarkan hasil tes siklus
II yang menunjukkan adanya peningkatan jumlah siswa yang mengerjakan tes yaitu sebanyak 15 siswa
tuntas atau 83,33% dan 3 siswa tidak tuntas atau 16,67%, siswa juga tidak segan-segan menjelaskan.
mereka tidak mengerti dengan sebuah pertanyaan. Keberhasilan peneliti dapat ditentukan berdasarkan
hasil setiap siklusnya, yaitu siswa mampu mencapai nilai yang diinginkan yaitu 75.
Dari Gambar di atas menunjukkan bahwa ketuntasan hasil belajar siswa meningkat sebesar 8,66%,
yaitu dari persentase perolehan sebesar 73,56% pada siklus I menjadi 82,22% pada siklus II. Hasilnya,
ketuntasan belajar siswa pada siklus II telah berhasil memenuhi metrik keberhasilan yang telah
ditetapkan.
5. Kesimpulan dan Saran
Berdasarkan temuan penelitian mengenai upaya peningkatan hasil belajar IPS siswa kelas IV SDN
2 Kalangsari melalui penggunaan strategi peer lessons, kesimpulan yang diambil adalah peneliti
mendapatkan gambaran yang jelas tentang lingkungan kelas dan bekerjasama dengan guru untuk
mengembangkannya. tindakan yang tepat untuk dipraktikkan guna meningkatkan hasil pelajaran IPS
untuk siswa kelas IV SDN 2 Kalangsari.
Terlihat dari hasil pembelajaran yang belum mencapai KKM 75. Kurangnya fokus guru pada saat
pelaksanaan siklus I, serta kurangnya motivasi siswa dalam menyelesaikan pembelajaran. Bahkan ketika
mereka sibuk dengan kegiatan dan permainannya sendiri, beberapa siswa masih terus berbincang dengan
teman sekelasnya. Hal ini terlihat dari cara guru memberikan soal-soal tes dan hasil yang diperoleh 18
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 16-20
E-ISSN: 3026-4014
- 20 -
siswa, 7 orang diantaranya belum tuntas dan 11 orang sudah tuntas. Ada siswa yang belum mampu
memahami materi yang disampaikan guru, dan juga siswa yang kebingungan ketika guru mencoba
menjelaskan materi kepada mereka.
Dan untuk mendorong siswa terus belajar, guru juga membentuk kelompok dan membuat
pembelajaran semenarik mungkin. Selain itu, siswa mempunyai kesempatan untuk menyuarakan
pendapatnya, sehingga membantu mereka memahami materi yang diajarkan guru melalui kegiatan ini.
Sehingga belajar siswa meningkat ketika mengikuti pembelajaran kelompok. Siswa lebih fokus pada
informasi yang disampaikan guru, banyak bertanya, dan dapat menjelaskan kepada temannya apa yang
dibicarakan di kelas. Mereka juga sudah mulai mendengarkan peneliti ketika menjelaskan materi yang
disampaikan. Selain itu, melalui penggunaan strategi pembelajaran peer lessons pemahaman siswa
terhadap IPS meningkat.
6. Ucapan terima kasih
Terima kasih kepada SDN 2 Kalangsari atas izin melakukan penelitian, penulis mengucapkan
terimakasih atas pemberian kepercayaan untuk melakukan penelitian dan pihak sekolah yang telah
membantu baik dalam bentuk fasilitas ataupun peralatan bagi keberhasilan dan kelancaran penelitian ini.
7. Daftar Pustaka
Etin Solihin. (2007). Cooperative Learning Analisa Model Pembelajaran IPS. Jakarta: Bumi Aksara.
Hidayati, dkk. (2006). Pengembangan pendidikan IPS SD. Jakarta: Depdiknas.
Hisyam Zaini, dkk. (2009). Strategi Pembelajaran Aktif. Yogyakarta: CTSD
Kasihani Kasbolah. (1999). Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Jakarta: Depdikbud.
Mel Silberman. (2009). Active Learning. Yogyakarta: YAPPENDIS
Oemar Hamalik. (2001). Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi aksara
Rochiati Wiriaatmadja. (2006). Metode Penelitian Tindakan Kelas untuk Meningkatkan Kinerja Guru dan
Dosen. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sadirman. (2005). Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Soemantri, dkk. (2001). Konsep Dasar IPS. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
Sudjana. (2004). Media Pengajaran. Jakarta: Algensindo.
Suharsimi Arikunto. (2006). Penelitiam Tindakan Kelas. Jakarta: PT. Bumi Karsa
Suprayekti. (2003). Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdiknas.
Syaiful Bahri. (1999). Perkembangan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.
Uzer Usman. (2010). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Warni Rasyidin. (2009). Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Wina Sanjaya. (2005). Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi. Jakarta: PT
Kencana Prenada Media Group.
Zainal Aqib. (2010). Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Krama Widya