Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 21-31
E-ISSN: 3026-4014
- 21 -
Artikel Penelitian Naskah dikirim: 2/02/2023 Selesai revisi: 19/03/2023 Disetujui: 24/05/2023 Diterbitkan:1/06/2023
Penerapan nilai karakter tanggungjawab siswa Sekolah Dasar di lingkungan keluarga
Irfan Adi Nugroho
1
, C. Indah Nartani
2
, Eka Ridha Nofrida
3
, Sholihati Amalia
4
1,2,3
Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Indonesia
4
Universitas Terbuka, Indonesia
Email: irfan.adi@ustjogja.ac.id
Abstrak: Penelitian ini bertujuan: 1) mendeskripsikan nilai karakter tanggung jawab dalam lingkungan
keluarga; 2) mendeskripsikan Strategi penyajian nilai karakter tanggung jawab dalam lingkungan
keluarga. Luaran yang diharapkan dari penelitian ini adalah laporan penelitian yang berkaitan dengan
nilai-nilai karakter dalam pembelajaran tematik di sekolah dasar kelas rendah dan publikasi dalam jurnal
ilmiah. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan peneliti sebagai
instrumen kunci. Pengambilan data dilakukan dengan metode simak-catat. Analisis data bersifat deskriptif
kualitatif. Objek penelitian adalah siswa dan orang tua tingkat Sekolah Dasar di kota Yogyakarta. Analisis
data meliputi reduksi data, penyajian data, verifikasi data, dan triangulasi. Adapun hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa pendidikan karakter, terutaman karakter tanggungjawab telah dilaksanakan didalam
keluarga. Hal yang dilakukan lebih banyak mengarahkan dibandingkan memerintah bahkan memarahi.
Kata Kunci: nilai-nilai karakter, Pendidikan Keluarga, sekolah dasar kelas rendah
Application of character values of responsibility of elementary school students
in the family environment
Abstract: This study aims to: 1) describe the character value of responsibility in the family environment;
2) describe the strategy of presenting the character value of responsibility in the family environment. The
expected output of this study is a research report related to character values in thematic learning in low-
grade elementary schools and publications in scientific journals. The research method used is a qualitative
descriptive method with the researcher as the key instrument. Data collection is carried out by the note-
taking method. Data analysis is qualitative descriptive. The object of research is students and parents at
the elementary school level in the city of Yogyakarta. Data analysis includes data reduction, data
presentation, data verification, and triangulation. The results of this study show that character education,
especially character responsibility has been implemented in the family. What is done is more directing
than commanding and even scolding.
Keywords: character values, Family Education, low grade elementary school
Hak Cipta©2023 Irfan Adi Nugroho, C. Indah Nartani, Eka Ridha Nofrida, Sholihati Amalia
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
1. Pendahuluan
Keluarga menjadi salah satu Pendidikan yang menjadi pusat perhatian dari Ki Hajar
Dewantara, yaitu Tri Pusat Pendidikan. Adapun Tri Pusat Pendidikan adalah Keluarga, Sekolah
dan Masyarakat. Pendidikan keluarga atau Pendidikan informal adalah Pendidikan keluarga yang
telah dilalui seseorang sejak lahir dan bahkan menjadi Pendidikan pertama yang diterima oleh
anak. Pendidikan informal adalah suatu proses pembelajaran yang terjadi di kehidupan sehari-
hari di dalam keluarga terdekat. Sebagai orang tua atau orang dekat lainnya di dalam keluarga itu
mengenalkan nama benda-benda dan cara mengucapkan yang benar, cara makan minum yang
benar, dan cara menghormati orang, cara menulis, cara menggambar, cara beribadah dan juga
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 21-31
E-ISSN: 3026-4014
- 22 -
Pendidikan karakter sebagai dasar anak memasuki dunia formal (Sekolah dan masyarakat)
nantinya.
Keluarga adalah tempat dimana seorang anak mendapatkan bimbingan, arahan dan
pelajaran hidup untuk pertamakalinya. Sehingga Pendidikan dalam keluarga akan membawa
pengaruh yang sangat besar bagi perkembangan anaak di kemudian hari. Ki Hajar Dewantara
berpendapat bahawa “Alam keluarga itu buat tiap-tiap orang adlah alam Pendidikan yang
permulaan. Pendidikan disitu pertamakalinya bersifat Pendidikan dari orang tua yang
berkedudukan sebagai guru (penuntun), sebagai pengajar dan sebagai pemimpin pekerjaan
(pemberi contoh). Tiga bagian itu di dalam hidup keluarga belum terpisah atau gediffereftieerd,
akan tetapi masih bersifat global atau total menurut kata Psychologi modern.
Pendidikan dalam keluarga lebih mengutamakan bagaimana belajar menjadi diri sendiri,
dimana orang tua akan lebih berbicara dan bergabung dalam kegiatan dengan orang lain di
Sekitar anak, dan ini berlangsung secara tidak sadar dalam waktu selama pergaulan itu terjadi.
Langeveld (1980) menyatakan, tiap-tiap pergaulan antara orang dewasa (orang tua) dengan anak
merupakan lapangan atau suatu tempat di mana pekerjaan mendidik itu berlangsung. Pendidikan
itu merupakan suatu gejala yang terjadi di dalam pergaulan antara orang dewasa dengan orang
yang belum dewasa.
Menurut Friedman (1998) ada 5 fungsi keluarga, yaitu fungsi afektif (affective function),
fungsi sosialisasi dan penempatan sosial (socialization and social placement function), fungsi
reproduksi (reproductive function), fungsi ekonomi (economic function), fungsi perawatan dan
pemeliharaan kesehatan (health care function).
Sebagai salah satu pusat pendidikan, keluarga mempunyai tugas yang sangat fundamental
dalam upaya mempersiapkan anak bagi peranannya pada masa yang akan datang. Dalam
lingkungan keluarga sudah mulai ditanamkan dasar-dasar perilaku, sikap hidup dan kebiasaan
lainnya. Dengan demikian perlu diciptakan lingkungan keluarga yang kondusif bagi
terbentuknya kepribadian anak. Di sini lah terlihat begitu banyak fungsi keluarga untuk
membentuk perkembangan kepribadian anak baik jasmani maupun rohani. Fungsi edukatif atau
fungsi pendidikan keluarga merupakan salah satu tanggung jawab yang paling penting yang
dipikul oleh orang tua.
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan yang pertama bagi anak. Yang berperan
melaksanakan pendidikan tersebut adalah ayah dan ibunya. Kehidupan keluarga sehari-hari pada
saat-saat tertentu beralih menjadi situasi pendidikan yang dihayati oleh anak-anaknya.
Dalam lingkungan keluarga anak-anak dididik mulai dari belajar, berjalan, sikapnya,
perilaku keagamaannya, dan pengetahuan serta kemampuan lainnya. Memang karena sekarang
berbagai kemampuan yang harus dikuasai anak begitu kompleksnya, maka tidak semua hal dapat
diajarkan atau dididik dari orang tua, sehingga anak-anak meski dikirim ke sekolah. Namun
demikian pendidikan di keluarga tetap merupakan dasar atau landasan utama bagi anak
(khususnya dalam pembinaan kepribadian) untuk mengembangkan pendidikan selanjutnya.
Dengan demikian pendidikan dalam keluaga akan membimbing anak dalam kecerdasan
intelektual, emosional dan spiritual. Karena dalam keluarga anak dididik untuk berpikir kritis
dengan cara selalu berdialog kepada anak untuk memecahkan masalah dan dalam keluarga anak
pun dididik untuk dapat menghargai dan menghormati orang lain seperti ketika sedang berbicara
anak dilarang untuk memotong pembicaraannya dan ketika libur sekolah anak membantu
pekerjaan nya di rumah.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 21-31
E-ISSN: 3026-4014
- 23 -
Berdasarkan berbagai permasalahan yang ada pada latar belakang masalah, maka
penelitian ini dibatasi pada penerapan Pendidikan karakter siswa Sekolah dasar di Lingkungan
Keluarga.
Berdasarkan latar belakang di atas, permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut
1) Mendeskripsikan penerapan nilai karakter tanggung jawab dalam lingkungan keluarga;
2) Mendeskripsikan Strategi penyajian nilai karakter tanggung jawab dalam lingkungan keluarga
Atas dasar rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut
1) Untuk mendeskripsikan nilai karakter tanggung jawab di lingkungan keluarga
2) Untuk mendeskripsikan penerapan nilai karakter dilingkungan keluarga,
Manfaat penelitian ini sebagai berikut:
1) Manfaat teoretis
Secara teoretis penelitian ini menambah wawasan tentang penanaman nilai karakter
dilingkungan keluarga
2) Manfaat praktis
Manfaat praktis penelitian ini bagi guru dan calon guru sekolah dasar serta orang tua menjadi
bahan masukan atau wawasan penanaman dalam Pendidikan di keluarga.
2. Kajian Pustaka
A. Hakikat Pendidikan
pengajaran dan pelatihan. Secara bahasa definisi, pendidikan yaitu proses pengubahan
sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia
melalaui proses pengajaran dan pelatihan. Kata pendidikan dalam bahasa arab biasa disebut
dengan“tarbiyah” yang mengutamakan pada proses persiapan dan pengasuhan manusia pada fase
perkembangannnya dari masa prenatal sampai dengan masa akhir kehidupannya (Purnomo,
2019: 33).
Pendidikan merupakan berkembangnya potensi peserta didik, sehingga menjadi manusia
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki kepribadian luhur, wawasan
yang luas, sehat jasamani dan rohani, dan terampil sebagaimana dibutuhkan dirinya, masyarakat,
bangsa dan negara. Demikianlah sehingga, pendidikan itu tidak hanya kepentingan peserta didik
melainkan juga masyarakat, bangsa, dan negara (Abbas, 2014: 117). Hal ini sejalan dengan
pendapat Muslich (Halim Purnomo, 2019:34) yang menyatakan bahwa pedidikan merupakan
proses internalisasi budaya ke dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan
masyarakat jadi beradab. Pendidikan tidak hanya sebagai sarana transfer ilmu pengetahuan saja,
namun lebih luas lagi, yaitu sebagai sarana pembudayaan dan penyaluran nilai.
B. Pendidikan karakter
Menurut Zubaedi (2015: 12) karakter secara etimologi berasal dari Bahasa Yunani, yang
berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasi nilai kebaikan
dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang berperilaku jelek dikatakan orang
berkarakter negatif. Sebaliknya, jika orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut
dengan berkarakter mulia. Kementrian Pendidikan Nasional (2010:3) mengartikan karakter
sebagai watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi
berbagai kebijakan seperti nilai, moral, dan norma yang diyakini dan digunakan sebagai landasan
untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Damiayati Zuchdi (2011: 2018) karakter
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 21-31
E-ISSN: 3026-4014
- 24 -
adalah ciri khas seseorang dalam cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menjadi kebiasaan
untuk ditampilkan dalam kehidupan sehari-hari ketika bermasyarakat. Karakter juga
diungkapkan oleh Samani & Hariyanto (2013: 41) sebagai sesuatu yang khas dari seseorang
sebagai cara berfikir dan perilaku untuk hidup dan bekerjasama dalam hubungannya dengan
sesama yang dapat membuat keputusan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sedangkan menurut Agus (2013: 12), karakter merupakan sifat yang alami dari jiwa manusia
yang menjadi ciri khas seseorang dalam bertindak dan berinteraksi dikeluarga dan dimasyarakat.
Kemudian menurut Suyanto (Barnawi & Arifin, 2012) karakter adalah cara berpikir dan
berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama baik dalam
lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara. Sedangkan menurut pendapat G. W
Allport (Sutama, 2018: 2) bawasannya karakter adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem
psiko-fisik indivisu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran individu secara khas dan
mengarahkan pada tingkah laku manusia. Dalam hal ini umtuk mewujudkan manusia yang
berkarakter baik maka harus dibiasakan sejak kecil agar pada saat dewasa karakter tersebut
sudah melekat dalam dirinya
C. Karakter Tanggung jawab
Tanggung jawab merupakan salah satu karakter yang semakin penting dengan adanya
berbagai permasalahan yang berdasarkan tanggung jawab sebagai alasan dasarnya. Mustari
(2011) berpendapat bahwa tanggung jawab adalah sikap dan perilaku siswa untuk melaksanakan
tugas dan kewajiban yang seharusnya siswa lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat,
lingkungan (alam, sosial dan budaya), negara dan tuhan. Apriani & Wangid (2015), menjelaskan
tanggung jawab adalah berani, siap, dan mempunyai hati yang teguh ketika menerima putusan
dan tindakan yang dilakukan secara sengaja atau tidak. Siswa dapat dikatakan tanggung jawab
jika secara sadar dalam mengambil keputusan dan menghadapi semua akibat yang terjadi.
Tanggung jawab adalah sikap dan perilaku siswa dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang
dilakukan untuk diri sendiri, masyarakat, lingkungkan (alam, sosial, dan budaya), negara, dan
Tuhan Yang Maha Esa (Poerwati & Amri, 2013). Menurut Rochmah (2016), tanggung jawab
adalah kesadaran manusia terhadap tingkah laku maupun perbuatan baik yang disengaja atau
tidak. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tanggung jawab
adalah kesadaran sikap dan tingkah laku siswa dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sesuai
dengan pilihan yang diambil baik yang disengaja atau tidak.
Menurut (Pasani & Basil, 2014), beberapa indikator sikap tanggung jawab siswa yaitu: 1)
Semua tugas dan latihan yang menjadi tanggung jawabnya diselesaikan dengan baik. 2) Instruksi
selama proses belajar mengajar dijalankan dengan sebaik-baiknya. 3) Mempunyai sikap
kooperatif. Berarti siswa dapat berdiskusi dengan teman atau guru dengan baik untuk
menyelesaikan permasalahan. 4) Pekerjaan diselesaikan sesuai dengan waktu yang ditetapkan
atau disebut dengan time management yang berhubungan dengan tanggung jawab. 5) Serius
dalam mengerjakan sesuatu termasuk dengan tujuan-tujuan yang ingin diraih. 6) Rajin dan tekun
selama proses belajar mengajar berlangsung. 7) Membantu teman yang mengalami kesulitan saat
belajar. 8) Mengajukan atau memberikan usul untuk memecahkan suatu masalah.
Berikut merupakan strategi Lickona (2012) untuk menerapkan disiplin berbasis karakter di
kelas: 1) Program Berbagi. 2) Untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab siswa. 3)
Mengajarkan prinsip tanggung jawab siswa. 4) Libatkan siswa dalam menetapkan aturan. 5)
Mengajarkan Aturan Emas. 6) Berbagi rencana dengan orang tua. 7) Gunakan prosedur. 8)
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 21-31
E-ISSN: 3026-4014
- 25 -
Gunakan bahasa yang baik. 9)Membantu siswa belajar dari kesalahan. 10) Bantu siswa membuat
rencana perubahan perilaku. 11) Diskusikan mengapa perilaku itu salah. 12) Gunakan waktu
istirahat secara efektif. 3) Penangkapan desain karakteristik. 14) Ajarkan kompensasi. 15) Ajak
siswa untuk saling membantu. 16) Bersiaplah untuk menerima pengajar berkunjung. 17) Berikan
tanggung jawab siswa yang sulit diatur. 18) Menyediakan program cinta yang solid untuk siswa
yang sulit diatur.
Karakter seorang individu tidak diberikan oleh orang tua, guru, ataupun masyarakat, akan
tetapi dibangun sendiri oleh idividu yang bersangkutan. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran
tanggung jawab seorang individu dalam mengembangkan karakter yang dikehendaki.
Kenyataannya sebagian besar individu kurang memiliki kesadaran tanggung jawab
pengembangan karakter ini.
D. Pendidikan Keluarga
Keluarga merupakan sekelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih mempunyai
hubungan pertalian darah, pernikahan, atau adopsi. Sebuah keluarga adalah institusi yang
terbentuk karena ikatan perkawinan dengan suatu tekad kuat serta cita-cita untuk membentuk
keluarga bahagia, sejahtera lahir maupun batin. Pendidikan dan keluarga tidak dapat dipisahkan
karena dalam suatu keluarga di dalamnya terdapat kegiatan pendidikan.
Pendidikan dalam keluarga memberikan penanaman nilai keagamaan, sosial budaya, cukup
kasih sayang, pemenuhan segi ekonomis dan kepedulian lingkungan sekitar. Deskripsi ideal
pelaksanan pendidikan dalam keluarga, menurut (Geertz, 1983: 7), didasarkan pada kajian dalam
keluarga Jawa menjelaskan bahwa setiap orang Jawa, keluarga yang terdiri dari orang tua, anak-
anak, dan biasanya suami atau istri sebagai orang terpenting. Mereka memberikan kesejahteraan
emosional, memberikan titik keseimbangan orientasi sosial, memberi bimbingan moral dan
membantunya dari masa kanak-kanak, remaja hingga dewasa dengan mempelajari nilai-nilai
budaya jawa. Pendidikan keluarga memberikan basis nilai-nilai pada kehidupan masyarakat yang
lebih luas. Segala hal yang terjadi dalam kehidupan masyarakat dan berbangsa dimulai dari
keluarga walaupun realitasnya pengaruh lingkungan melampaui nilai-nilai yang dianut
keluarga.Pentingnya pendidikan keluarga dalam membetuk karakter anak-anak, pandangan
Dewantara (1977: 375), bahwa alam keluarga merupakan alam pendidikan permulaan. Peran
utama keluarga dalam pendidikan dimaknai, sebagai berikut: a) pertama kalinya bersifat
pendidikan dari orang tua yang berkedudukan sebagai guru (penuntun), sebagai pengajar dan
pemuka pekerjaan (pemberi contoh), b) dalam asuhan keluarga anak-anak saling mendidik, c)
anak-anak berkesempatan mendidik diri sendiri karena kedudukan mereka dalam kehidupan
keluarga sama dengan kehidupan bermasyarakat.
Perkembangan pendidikan dewasa ini, seolah-olah memposisikan dunia persekolahan telah
mengambil alih peran orang tua terhadap anak. Pada kenyataan sekolah tidak mampu mengambil
alih seluruh peran orang tua dalam mendidik anak. Peranan keluarga sebagai lembaga
pendidikan pertama bagi anak-anak perlu difungsikan sebagai benteng yang mampu menciptakan
kekebalan (imunisasi) bukan sebagai pemisah (sterilisasi). Pendekatan ini bermakna bahwa anak
tetap berperan aktif dalam kehidupan modern tetapi pendidikan dalam keluarga harus
memberinya kekebalan terhadap pengaruh-pengaruh negatip modernisasi. Anak-anak diarahkan
secara optimal meraih manfaat nilai-nilai positif dari kehidupan modern. Idealnya pendidikan
keluarga dapat mengarahkan anak-anak berperan aktif dalam kehidupan modern.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 21-31
E-ISSN: 3026-4014
- 26 -
E. Tamansiswa dan ajarannya
Pendidikan menurut KHD merupakan segala pemeliharaan lahir dan batin terhadap anak untuk
dapat memajukan hidupnya lahir atau jasmani dan batin atau rohani. Pendidikan juga diartikan
sebagai tuntunan di dalam hidupnya anak. Tuntunan tersebut merupakan segala kekuatan yang ada
pada hidup anak dengan maksud agar anak tersebut baik untuk dirinya sendiri, maupun sebagai
anggota dari masyarakat, mendapat kepuasan atau ketenteraman batin yang mungkin didapat olehnya
masing-masing (Dewantara, 2013a: 438).
Kurikulum atau tatalaksana pendidikan tamansiswa memperhatikan faktor-faktor: (1) bahan
pendidikan yang diberikan kepada siswa; (2) situasi siswa yang berkembang; (3) nilai-nilai dalam
masyarakat dan keperluan masyarakat yang menentukan isi bahan pendidikan dan arah perkembangan
siswa, yang selaras dengan cita-cita pendidikan (Soeratman, 1983:19).
F. Kajian Penelitian yang Relevan
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah sebagai berikut
1) Penelitian yang dilakukan oleh Rivan Gestiardi & Suyitno (2021) dengan judul Penguatan
Pendidikan Karakter Tanggung Jawab Sekolah Dasar di Era Pandemi”. Hasil penelitian
tersebut menunjukkan (1) sekolah mengintegrasikan nilai karakter tanggung jawab ke
dalam pembelajaran, dan juga dengan cara sekolah menerapkan protokol Kesehatan; (2)
SD Muhammadiyah Ngabean 1 memfokuskan program penguatan pendidikan karakter
pada nilai tanggung jawab dalam mengerjakan tugas masing-masing yang diberikan oleh
guru; dan (3) sekolah berkerja sama dengan orang tua untuk melaksanakan pendidikan
karakter tanggung jawab kepada siswa dalam pendampingan pembelajaran selama di
rumah.
Penelitian Riesta Ramadian, dkk. (2022) yang berjudul Pendidikan Anak dalam Keluarga.
Dari penelitian ini diperoleh aspek pendidikan yang sangat penting untuk diberikan dan
diperhatikan orang tua, di antaranya: Pendidikan ibadah, Pendidikan Akhlakul Karimah,
Pendidikan Akidah. Sebagai orang tua mempunyai tugas dan kewajiban untuk mendidik,
memberikan pelajaran, didikan dan bimbingan tentang ilmu-ilmu yang meliputi bekal untuk
hidup didunia dan akhirat, dengan kedua ilmu itu akan dapat diraih kehidupan dunia yang
makmur dan kebahagiaan di akhirat. Dan dari orangtualah anak pertama kali mengenal dunia.
Melalui mereka anak mengembangkan seluruh aspek pribadinya. Dalam hal itu orangtua tidak
hanya melahirkan anak, melainkan juga orangtua yang mengasuh, melindungi dan memberikan
kasih sayang kepada anak.
Istilah karakter identik dengan istilah budi pekerti. Istilah budi pekerti didefinisikan oleh
Nurchasanah dan Lestari (2008 :9) yang berarti perangai untuk dapat menimbang baik atau buruk serta
benar atau tidak benar terhadap sesuatu. Perangai manusia membedakan diri seseorang dengan orang atau
bangsa lain. Selain itu, Ditjen Kementerian Pendidikan Nasioanal (dalam Dani, 2013) menjelaskan bahwa
karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan
bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik
adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari
keputusan yang dibuat. Karakter juga sering diistilahkan dengan kata moral dalam pengertian umum.
Solomon (dalam Nurchasanah dan Lestari, 2008:9) mengatakn bahwa moral menekankan pada karakter
individu yang bersifat khusus, bukan pada aturan aturan dan ketaatan. Nilai moral atau moralitas adalah
nilai yang mengatur manusia, bak sebagai pribadi yang bermartabat maupun dalam rangka mengatur
keharmonisan dalam hidup bermasyarakat (Nurchasanah dan Lestari 2008:10).
Nurgiyantoro (2010: 436) menyatakan bahwa karakter adalah tabiat, kepribadian, identitas diri, jati
diri, kepribadian, dan watak yang melekat pada diri seseorang yang berkaitan dengan dimensi psikis dan
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 21-31
E-ISSN: 3026-4014
- 27 -
fisik. Pembentukan karakter suatu bangsa berproses secara dinamis sebagai sebuah fenomena sosio -
ekologis. Karakter bangsa merupakan akumulasi dari karakter-karakter warga masyarakat bangsa itu.
Karakter merupakan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan tata nilai interaksi antarmanusia, yang when
character is lost then everything is lost. Anak usia sekolah dasar merupakan usia ideal pembentukan
karakter. Penciptaan karakter pada anak usia dini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara salah satu
cara yang dapat digunakan adalah melalui media buku dongeng teks. Gufron (2010: 14-15) mengatakan
secara universal karakter dirumuskan sebagai nilai hidup bersama berdasarkan pilar: kedamaian (peace),
menghargai (respect), kerjasama (cooperatif), kebebasan (freedom), kebahagiaan (happiness), kejujuran
(honesty), kerendah-hatian (humility), kasih sayang (love), tanggungjawab (responsibility), ksederhanaan
(simplicity), toleransi (tolerance), dan persatuan (unity). Kemendiknas (2010: 7) Karakter merupakan ciri
khas seseorang atau sekelompok orang yang mengandung nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan
ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Mendidik merupakan berdaya-upaya dengan
sengaja untuk memajukan hidup tumbuhnya budi pekerti (rasa-fikiran-rokh) dan jiwa anak dengan jalan
pengajaran, teladan dan pembiasaan tidak disertai perintah dan paksaan (Dewantara, 2013a: 399).
Sedangkan pendidikan budi pekerti merupakan pendidikan yang mengajarkan keharusan manusia yang
cerdas dan berbudi untuk dapat memerintah diri sendiri, menahan hawa nafsunya, serta menetapkan garis
tata-tertib untuk dirinya sendiri (selfdisiplin) (Dewantara, 2013a: 454). Pendidikan budi pekerti juga
diartikan sebagai upaya menyokong perkembangan hidup anak lahir dan batin, dari sifat kodratinya
menuju kearah peradaban yang umum. Menganjurkan atau jika perlu memerintahkan anak untuk duduk
yang baik, tidak berteriak-teriak agar tidak mengganggu anak lain, bersih badan dan pakaiannya, hormat
terhadap ibu-bapak dan orang tua lainnya, menolong teman-teman yang perlu ditolong, dan lain-lain
(Dewantara, 2013: 485). KHD memiliki tiga tahapan dalam pendidikan budi pekerti disesuaikan dengan
usia siswa. Pertama adalah tahap syariat (umur 5-8 tahun). Pada tahap ini segala pengajaran berupa
pembiasaan semata-mata yang bersifat global dan spontan, belum berupa teori kebaikan dan keburukan.
Belum pula diberikan rencana atau waktu tertentu dan tersendiri. Hendaknya pamong memperhatikan
tingkah laku dan peristiwa yang menarik perhatian anak. Perintah atau anjuran seperti cara duduk yang
baik, tidak ramai, mendengarkan penjelasan guru, membersihkan tempat atau ruang bermain anak, tidak
mengganggu teman dan lain sebagainya perlu diberikan pada saat-saat yang diperlukan (Dewantara,
2013: 487-488). Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa nilai karakter merupakan ciri
khas dari seseorang yang berkaitan dengan psikis maupun fisik seseorang. Karakter juga merupakan ciri
khas dari seseorang atau kelompok yang memiliki nilai positif dalam kehidupan sehari hari di
masyarakat.
3. Metode Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, penelitian ini dilakukan untuk mendiskripsikan
dan menganalisis sebuah kejadian/ fenomena, sikap sosial, dan kepercayaan baik secara individu maupun
dalam kelompok (Nana, 2013). Jenis penelitian ini digunakan untuk mendiskripsikan peran oran tua
peserta didik dalam penerapan Pendidikan karakter di dalam keluarga, Penggalian data dilakukan dengan
cara metode wawancara, observasi, serta dokumentasi. Dalam penggunaan analisis data
4. Hasil dan Pembahasan
Peran orang tua dalam penanaman nilai Pendidikan karakter pada siswa sekolah dasar se-
kota Yogyakarta diperoleh berdasarkan angket dengan 4 skala likert. Angker yang diberikan
kepada orang tua siswa tersebut diharapkan dapat memperoleh jawaban valid dari orang tua
terkait pelaksanaan penanaman Pendidikan karakter tanggungjawab di lingkungan keluarga.
Diperoleh data terkait usia responden dalam rentang usia 30-40 sebanyak 10 responden, dan usia
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 21-31
E-ISSN: 3026-4014
- 28 -
diatas 40 terdapat 10 respondent. Terkait data responden terkait jenis kelamin adalah Laki-laki
sebanyak 10 respondent dan perempuan adalah 10 respondent.
Laki-laki
Perempuan
Diagram 1
Diagram terkait gender respondent
Dilihat dari pertanyaan pertama yaitu; Apakah Bapak/ Ibu merasa telah menanamkan
Karakter Tanggungjawab? Responden menjawab dengan selalu, sesuai dengan diagram dibawah
ini.
Ya, Selaluu
Ya, Kadang-
kadang
Ya, Jarang
Tidak
Pernah
Diagram 2
Hasil pelaksanaan Pendidikan karakter tanggungjawab
Pada pertanyaan kedua, Menurut Bapak/ Ibu, siapa yang bertanggung jawab lebih banyak
dalam menanamkan karakter tanggungjawab pada anak? Dari pertanyaan tersebut diperolehlah
jawaban bahwa penanaman karakter tanggungjawa dilakukan oleh ayah dan ibu. Jadi disini
terjadi korelasi/ Kerjasama yang baik antara ayah dan ibu
Ayah
Ibu
Ayah dan
Ibu
4th Qtr
Diagram 3
Terkait peran orang tua dalam penanaman Pendidikan karakter
Pada pertanyaan ketiga Mana yang paling sering Bapak/ Ibu lakukan untuk menanamkan
karakter tanggungjawab dalam diri anak? Dari pertanyaan tersebut diperolehlah jawaban bahwa
orang tua yang menggunakan contoh sebanyak 45% dan menggunakan nasehat sebanya 40 dan
yang memberi pujian ataupun hadia sebanyak 15%. Berikut data diagramnya.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 21-31
E-ISSN: 3026-4014
- 29 -
Memberi
contoh/
tauladan
Memberi
Nasehat
Memberi
Pujian/
Hadiah
Diagram 4
Terkait cara penanaman Pendidikan karakter
Sedangkan dalam pertanyaan ke empat: Dalam satu hari berapa lama Bapak/ Ibu
berkomunikasi dengan anak? Dari pertanyaan tersebut diperoleh jawaban bahwa 100% orang tua
menjawab bahwa waktu yang dipergunakan dalam berinteraksi dengan anak adalah 15-30 menit
setiap hari. Tergambar pada diagram berikut.
< 15 Menit
15-30 Menit
> 30 Menit
Diagram 5
Terkait waktu interaksi antara orang tua dan siswa
Sedangkan dalam pertanyaan ke-lima adalah perihal apa yang paling sering bapak/ibu
tanyakan kepada anak. Dari pertanya tersebut diperoleh data bahwa ada 40% wali murid yang
menanyakan terkait tugas sekolah dan kegiatan di sekolah, 45% terkait aktivitas diluar sekolah
dan 15% terkait teman bergaul.
sekolah dan
tugas
sekolah
Aktivitas di
Luar Sekolah
Teman
Bergaul
Diagram 6
Terkait hal yang ditanyakan orang tua
Sedangkan pada pertanyaan terahir adalah Mana yang pernah Bapak/ Ibu lakukan pada
anak dalam penanaman karakter tanggung jawab. Dari pertanyaan tersebut diperoleh jawaban
dari orang tua siswa bahwa 5% memarahi/ membentak dan 95% mengarahkan siswa.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 21-31
E-ISSN: 3026-4014
- 30 -
Memarahi/
membentak
memaksa
kehendak
memberi
hadiah
mengarahka
n
Diagram 7
Terkait proses penanaman karakter
5. Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini bahwa karakter tanggung jawab telah diajarkan di lingkungan
keluarga dan kegiatan yang sering dilakukan oleh orang tua adalah mengarahkan, karena mengarahkan
lebih mengena/ lebih diterima anak-anak daripada membentak. Memaksa.
Saran untuk peneliti selanjutnya dapat menyelesaikan/ melaksanakan penelitian yang lebih mendalam
terkait keluarga. Bahkan bagaimana seorang anak ditanamkan pendidikan.
6. Daftar Pustaka
Dewantara, K. H. (2013a). Pemikiran, konsepsi, keteladanan, sikap merdeka (I) pendidikan.
Marwanti. E., Nugroho. I. A. (2021). Implementasi Pendidikan karakter Pendidikan lingkungan
sekolah di era pandemic covid-19 pada siswa sekolah dasar. Vol 7 (2).
Nartani, C. I., Nugroho, I. A. (2022). Nilai-nilai karakter buku teks sekolah dasar kelas rendah.
Trihayu: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an. Vol 8 (2) p. 1373-1382
Nugroho, I. A. Nartani, C. I., (2023). Penanaman Nilai Karakter Tamansiswa di SD Pada Abad
21. Prosiding Seminar Nasional PGSD UST. Vol 1 (1). P. 182-187
Nugroho. I. A., Marwanti. E., Setyawan. A. D. Implementasi Pendidikan Karakter Kedisiplinan
siswa di SD Negeri Kliteran Yogyakarta. Sosiohumanora: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan
Humaniora. Vol, 6 (1). P. 60-66.
Abbas AK, Lichtman AH, and P. J. (2014). Imunologi Dasar Abbas Fungsi dan Kelainan Sistem
Imun. In Elsevier publishing book (Vol. IV, pp. 420)
Agus, Cahyo. (2013). Panduan Aplikasi Teori Belajar. Jakarta. PT. Diva Press.
Amri, S. Loeloek Endah Poerwati. (2013). Panduan Memahami Kurikulum 2013. Jakarta:
Prestasi Pustakarya
Apriani, Wangid. (2015). Pengaruh SSP Tematik-Integratif Terhadap Karakter Disiplin dan
Tanggung Jawab Siswa Kelas III SD. Jurnal Prima Edukasia Vol.3 No.1
Barnawi & M. Arifin. (2012) Manajemen Sarana dan Prasarana sekolah.Jogyakarta: Ar-Ruzz
Media.
Clifford, Geertz. (1983). Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, cet.2, (Jakarta: PT
Djaya Pirusa.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 1, No. 1, Juni 2023, page: 21-31
E-ISSN: 3026-4014
- 31 -
Dewantara, K. H. (1977). Karya Ki Hajar Dewantara. Yogyakarta: Majelis Luhur Taman Siswa.
Dewantara, K. H. (2013a). Pemikiran, konsepsi, keteladanan, sikap merdeka (I) pendidikan.
Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa.
Friedman, M. Marilyn. (1998). Keperawatan Keluarga : Teori dan Praktik.Jakarta : EGC.
Gestiardi, rivan., Suyitno. (2021). Penguatan Pendidikan Karakter Tanggung Jawab Sekolah
Dasar di Era Pandemi. Jurnal Pendidikan Karakter. XI (1), 1-11.
Kemendiknas. 2010. Desain Induk Pendidikan Karakter. Jakarta
Langeveld, M. J. (1980). BeknopteTheoritischePaedagogiek, (terj. Simanjuntak). Bandung:
JEmmars.
Lickona, Thomas. (2012). Mendidik Untuk Membentuk Karakter: Bagaimana Sekolah dapat
Memberikan Pendidikan Sikap Hormat dan Bertanggung Jawab. (Penerjemah: Juma Abdu
Wamaungo. Jakarta: Bumi Aksara)
Mohamad Mustari. (2011). Nilai Karakter. Yogyakarta: LaksBang PRESSindo.
Mundilarto. (2012). Penilaian Hasil Belajar Fisika. Yogyakarta: UNY Press
Pasani, c, f., Basil, Muhammad. (2014). Mengembangkan karakter tanggung jawab melalui
pembelajaran matematika dengan model kooperatif tipe TAI di kelas VIII SMPN. Vol 2
No. 3 Hlm. 2019-229
Purnomo, Halim. (2019). Psikologi Pendidikan. Yogyakarta: Lembaga LP3M Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta.
Rahmadian, riesta., dkk. (2022). Pendidikan Anak dalam Keluarga. Jurnal Bunga Rampai Usia
Emas (BRUE). Vol. 8 (1). 53-63.
Rochmah, E. (2016). Mengembangkan Karakter Tanggungjawab pada Pembelajar. Ponorogo:
STAIN Po Press.
Samani, M., & Hariyanto. (2013). Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Soeratman. (1983). Pola pendidikan tamansiswa. Yogyakarta: Majelis Luhur Tamansiswa.
Sutama, s. Anggitasari, binta. (2018). Gaya dan hasil Belajar Matematika pada Siswa SMK
Wibowo, Agus. (2012). Pendidikan Karakter: Strategi Membangun Karakter Bangsa
Berperadaban. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Zubaedi. (2011). Desain Pendidikan karakter (Konsepsi dan Aplikasinya dalam Lembaga
Pendidikan. Jakarta: Prenadamedia Group
Zuchdi, Darmiyati. (2011). Pendidikan Karakter dalam perpektif Teori dan Praktik. Yogyakarta:
UNY Press