Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 78-87
E-ISSN: 3026-4014
- 79 -
1. Pendahuluan
Pendidikan merupakan suatu prosedur yang bersifat dinamis dan harus menyesuaikan dengan
kebutuhan zaman. Di era teknologi 4.0 yang canggih ini, teknologi harus banyak bekerja sama untuk
memaksimalkan pembelajaran di dalam dan diluar kelas. Teknologi saat ini banyak mengalami kemajuan,
salah satunya teknologi telah mencapai tahap digital yang semakin kompleks (Salim et al., 2023).
Kecanggihan teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) berperan penting untuk mendukung
pembelajaran yang berkualitas (Meisa Priantika, 2024). Semua mata pelajaran di sekolah dasar dapat
mengoptimalkan kemajuan teknologi, terutama pada mata pelajaran yang memerlukan contoh kontekstual.
Teknologi dapat memfasilitasi hal tersebut dengan memberikan contoh konkret yang terdapat dalam
kehidupan sehari-hari. Salah satunya contoh mata pelajaran yang memerlukan pengimplementasian
kontekstual yakni adalah Bahasa Indonesia.
Pembelajaran bahasa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam
berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta
menumbuhkan apresiasi terhadap karya kesastraan Indonesia (Prawiyogi et al., 2022). Tarigan (1985)
mengatakan bahwa ada empat aspek yang harus dikuasai dalam berbahasa Indonesia, yaitu: (1)
keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan
menulis. Dari empat aspek tersebut, keterampilan berbicara merupakan salah satu yang sangat penting
dalam kehidupan sehari-hari karena merupakan alat komunikasi verbal yang efektif (Izzati, Kurnianti, &
Hasanah, 2024). Keterampilan berbicara merupakan kegiatan berbahasa yang penting dalam kehidupan
sehari-hari (Rahmawati & Yusuf, 2021). Keterampilan berbicara mengacu pada kemampuan mengucapkan
bunyi-bunyi atau kata-kata untuk menyampaikan pikiran, ide, pendapat, serta perasaan seseorang (Lestari
& Hidayat, 2022).
Berbicara bukan hanya sekedar mengucapkan kata-kata yang tidak bermakna, tetapi lebih kepada
berkomunikasi dengan orang lain melalui ucapan dan kata-kata yang disampaikan (Siregar, 2023). Dari
sudut pandang tersebut dapat disimpulkan bahwa keterampilan berbicara merupakan keterampilan
berbahasa yang kaya, yaitu mampu menyampaikan gagasan, pikiran, dan pendapat secara verbal kepada
orang yang sedang diajak berbicara. Menurut Rohana & Intiana (2023), ada beberapa faktor yang
mendorong keterampilan berbicara, yaitu: (1) siswa yang percaya diri akan lebih tenang dan percaya diri
saat diminta berbicara untuk menyampaikan ide, pendapat, atau melakukan presentasi di depan kelas atau
orang banyak; (2) lingkungan rumah dan keluarga; serta (3) pergaulan sehari-hari dengan teman sebaya
dapat mempengaruhi siswa agar lebih aktif dan tanggap dalam berbicara dan berkomunikasi.
Damayanti et al. (2023) mengatakan bahwa kemampuan berbicara bisa dinilai melalui beberapa
indikator, yaitu: (1) Kelancaran dalam berbicara, orang yang mendengar akan lebih mudah memahami apa
yang diungkapkan pembicara apabila berbicara lancar. Lancar berarti tidak terputus-putus atau terbata-bata,
tetapi jika pembicara terlalu cepat, pendengar akan kesulitan mengikuti. (2) Ketepatan memilih kata,
pendengar akan lebih mudah mengerti jika kata-kata yang dipakai sudah tidak asing didengar sebelumnya.
Pembicara yang menggunakan bahasa yang jelas dan terdengar akan membuat audiens lebih tertarik untuk
mendengarkan. (3) Struktur kalimat, pembicara perlu memperhatikan bagian-bagian utama dalam setiap
kalimat, misalnya subjek dan juga predikat yang jelas. (4) Intonasi saat melafalkan teks, intonasi yang tepat
bisa membuat berbicara lebih menarik dan dalam beberapa situasi bisa menjadi faktor penting, seperti nada,
berat ringannya suku kata, panjang suara, dan lainnya. (5) Ekspresi, ekspresi bisa menunjang keefektifan
berbicara dan membuat pembicaraan lebih menarik.
Akan tetapi, berbagai penelitian terbaru menyatakan bahwasanya kemampuan berbicara siswa SD
masih tergolong rendah. Hasil dari meta-analisis yang dilakukan oleh Wicaksono dan Putri pada tahun 2023
menunjukkan bahwa lebih dari 60% siswa SD di Indonesia mengalami kesulitan dalam menyusun ide,
memilih kata yang tepat, dan mengatur kalimat secara lisan dengan jelas. Kesulitan ini biasanya terjadi
karena kurangnya kesempatan bagi siswa untuk berlatih berbicara dalam situasi nyata, serta metode