Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 88-93
E-ISSN: 3026-4014
- 90 -
konsep, tetapi juga pada proses berpikir dan penalaran yang terjadi selama kegiatan belajar berlangsung.
Dalam konteks pendidikan dasar, model Discovery Learning memiliki relevansi yang tinggi karena sesuai
dengan karakteristik perkembangan kognitif siswa usia sekolah dasar yang berada pada tahap operasional
konkret. Pada tahap ini, siswa belajar lebih efektif melalui kegiatan yang melibatkan pengalaman langsung
dan eksplorasi lingkungan sekitarnya (Sari, 2023). Melalui kegiatan seperti mengamati, mengajukan
pertanyaan, mencoba, menalar, dan menarik kesimpulan, siswa belajar untuk menghubungkan antara fakta
dan konsep sehingga terbentuk pemahaman yang lebih bermakna terhadap materi pelajaran, termasuk
dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).
Model Discovery Learning dalam pembelajaran PPKn memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan sendiri makna nilai-nilai demokrasi melalui proses berpikir ilmiah dan reflektif. Misalnya,
ketika guru mengangkat topik tentang “pengambilan keputusan bersama di lingkungan sekolah”, siswa
dapat diajak untuk melakukan simulasi musyawarah kelas. Dalam proses tersebut, mereka akan mengalami
secara langsung bagaimana mendengarkan pendapat orang lain, menghormati perbedaan, serta mengambil
keputusan berdasarkan kesepakatan bersama. Melalui pengalaman konkret semacam ini, nilai-nilai
demokrasi tidak hanya dipahami sebagai konsep teoretis, tetapi juga dihayati dan dipraktikkan dalam situasi
nyata (Rahmawati, 2022). Tahapan utama dalam Discovery Learning menurut Hosnan (2014) meliputi
enam langkah penting yang saling berkesinambungan, yaitu: (1) stimulasi (stimulation), di mana guru
memberikan rangsangan awal berupa permasalahan atau fenomena yang menimbulkan rasa ingin tahu
siswa; (2) identifikasi masalah (problem statement), siswa diajak untuk merumuskan pertanyaan atau
hipotesis yang relevan dengan fenomena yang diamati; (3) pengumpulan data (data collection), siswa
mencari dan mengumpulkan informasi melalui observasi, diskusi, atau sumber belajar lain untuk menjawab
pertanyaan yang telah dirumuskan; (4) pengolahan data (data processing), siswa mengorganisasikan
informasi yang diperoleh untuk menemukan pola dan hubungan logis; (5) pembuktian (verification), yaitu
tahap di mana siswa menguji kebenaran hipotesis yang telah dibuat melalui bukti atau hasil analisis; dan
(6) menarik kesimpulan (generalization), siswa menyusun kesimpulan umum yang dapat dijadikan dasar
untuk memahami konsep atau prinsip baru (Hosnan, 2014).
Keenam tahapan ini mencerminkan proses pembelajaran yang sistematis dan menekankan pada
pengembangan kemampuan berpikir kritis, analitis, serta reflektif. Dalam implementasinya pada
pembelajaran PPKn, model ini membantu siswa untuk menumbuhkan kesadaran terhadap nilai-nilai
demokrasi seperti keadilan, tanggung jawab, toleransi, dan kebersamaan. Proses pembelajaran yang
berbasis penemuan juga memberikan ruang bagi siswa untuk membangun pemahamannya sendiri mengenai
makna demokrasi sesuai dengan pengalaman dan konteks kehidupan sehari-hari mereka (Rahmawati,
2022). Selain itu, prinsip utama Discovery Learning adalah keterlibatan aktif peserta didik dan peran guru
sebagai fasilitator. Guru tidak lagi berfungsi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai
pembimbing yang menciptakan kondisi belajar yang menantang dan memotivasi siswa untuk berpikir kritis
serta menemukan jawaban secara mandiri. Dengan demikian, kegiatan belajar menjadi lebih berpusat pada
siswa (student-centered learning) dan memupuk rasa percaya diri serta tanggung jawab terhadap proses
belajar mereka sendiri (Sari, 2023).
Secara keseluruhan, penerapan model Discovery Learning tidak hanya berfokus pada pencapaian
aspek kognitif, tetapi juga menyentuh ranah afektif dan psikomotor. Melalui eksplorasi, refleksi, dan
interaksi sosial yang intens, siswa belajar mengembangkan empati, menghargai pendapat orang lain, serta
memahami pentingnya partisipasi dalam pengambilan keputusan bersama. Hal inilah yang menjadi fondasi
dalam pembentukan karakter dan pemahaman nilai-nilai demokrasi di sekolah dasar yang menjadi tujuan
utama dari pembelajaran PPKn (Rahmawati, 2022).
Implementasi dalam Pembelajaran PPKn
Implementasi model Discovery Learning dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan (PPKn) di sekolah dasar berperan penting dalam mengubah paradigma pembelajaran
dari yang berorientasi pada guru menjadi berpusat pada siswa. Dalam praktiknya, model ini menuntut guru
untuk menciptakan lingkungan belajar yang interaktif, kontekstual, dan berbasis pada pengalaman nyata
siswa. Melalui pendekatan ini, siswa tidak hanya dituntut untuk menghafal konsep nilai demokrasi, tetapi
juga diajak untuk menemukan, memahami, dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut melalui kegiatan
eksploratif dan reflektif (Lestari, 2022).
Penerapan Discovery Learning dalam pembelajaran PPKn dapat diwujudkan melalui berbagai
bentuk aktivitas pembelajaran yang menekankan partisipasi aktif siswa. Salah satu contoh konkret adalah