Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 70-77
E-ISSN: 3026-4014
- 71 -
1. Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu aset paling berharga bagi bangsa dan negara. Pelaksanaannya
perlu mendapat pengawasan dan perhatian yang serius, terutama bagi anak-anak yang kelak menjadi
generasi penerus. Melalui pendidikan yang baik, anak dapat berkembang secara optimal, baik dari aspek
pengetahuan, sikap, maupun keterampilan, sehingga mampu berkontribusi bagi kemajuan bangsa di masa
mendatang (Rizky Asrul Ananda et al., 2022). Dalam Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 dijelaskan
bahwa proses pembelajaran mencakup pemahaman terhadap pengetahuan faktual melalui kegiatan
mengamati seperti mendengar, melihat, membaca, sserta mengajukan pertanyaan berdasarkan rasa ingin
tahu siswa tentang dirinya, makhluk ciptaan Tuhan beserta aktivitasnya, serta berbagai objek yang
ditemui di lingkungan rumah maupun sekolah.
Pembelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar memiliki peran penting karena membantu
peserta didik memahami dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Melalui
pendidikan ini, siswa dapat membangun kesadaran moral, menumbuhkan tanggung jawab sebagai warga
negara, serta membentuk karakter yang berintegritas (Wibowo et al., 2024). Khususnya pada siswa
sekolah dasar yang berada di fase A, karena lebih baik penanaman karakter dilakukan sedini mungkin.
Peran guru sebagai tenaga pendidik profesional memegang posisi yang sangat strategis dalam
penyelenggaraan pendidikan. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi figur teladan di lingkungan
sekolah, terutama dalam perilaku sehari-hari. Kontribusi guru berpengaruh besar terhadap pemilihan
pendekatan maupun strategi pembelajaran yang diterapkan (Lisnawati et al., 2023).
Namun, hasil wawancara dengan wali kelas menunjukkan bahwa proses pembelajaran di sekolah
masih didominasi oleh metode ceramah. Pola pembelajaran satu arah seperti ini menyebabkan siswa
kurang terlibat secara aktif, sehingga berdampak pada menurunnya motivasi dan timbulnya kejenuhan
belajar. Hal ini sejalan dengan penelitian Nahdi et al. (2018) yang menyatakan bahwa penggunaan
metode ceramah secara terus-menerus dapat membuat siswa pasif, cepat bosan, dan kurang mampu
membangun pemahaman konsep secara mendalam.
Pada masa perkembangan digital seperti sekarang, teknologi informasi dan komunikasi (TIK)
mengalami kemajuan yang sangat cepat dan memberikan pengaruh besar di berbagai bidang, termasuk
pendidikan. Perubahan digital ini telah mengubah pola belajar mengajar serta membuka ruang yang luas
bagi munculnya berbagai inovasi pembelajaran. Beragam media pembelajaran berbasis digital mulai dari
aplikasi edukasi, video interaktif, hingga platform pembelajaran daring kini semakin banyak
dimanfaatkan untuk meningkatkan mutu pendidikan, termasuk pada jenjang sekolah dasar (Alfina
Diniyati et al., 2025). Sedangkan, hasil wawancara dengan wali kelas menyatakan bahwa pembelajaran di
kelas juga masih minim memanfaatkan media digital dan permainan edukatif. Media digital dan
permainan edukatif membantu siswa memahami konsep abstrak melalui pengalaman belajar yang
konkret, menarik, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia sekolah dasar. Dalam konteks
pembelajaran Pendidikan Pancasila, media yang menarik dan interaktif sangat diperlukan agar siswa tidak
hanya memahami nilai-nilai Pancasila secara kognitif, tetapi juga menginternalisasikannya dalam perilaku
nyata (Wibowo et al., 2024).
Oleh karena itu, diperlukan media pembelajaran yang lebih inovatif untuk menjawab permasalahan
tersebut dan mampu menciptakan proses belajar yang menarik sekaligus efektif. Keberhasilan
pembelajaran sendiri merupakan tujuan utama yang ingin dicapai dalam penyelenggaraan pendidikan di
sekolah (Arianti et al., 2019). Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat,
pemanfaatan media digital dalam kegiatan belajar mengajar semakin meluas dan menjadi kebutuhan
penting bagi guru. Salah satu media yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan efektivitas proses
pembelajaran adalah PowerPoint (PPT) interaktif. Media ini memungkinkan penyajian materi yang lebih
hidup melalui kombinasi gambar, animasi, suara, serta teks yang disusun secara terstruktur sehingga
membantu siswa memahami isi pelajaran dengan lebih mudah. Tidak hanya itu, fitur interaktif seperti
kuis, tombol navigasi, latihan soal, dan tugas berbasis klik membuat siswa dapat terlibat secara langsung,
sehingga mendorong keaktifan, rasa ingin tahu, dan motivasi belajar yang lebih tinggi.
Selain itu media konkret juga tetap diperlukan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembelajaran
aktif dan berbasis pengalaman nyata yang sangat sesuai diterapkan pada jenjang sekolah dasar, terutama
kelas rendah. Pada tahap ini, kemampuan kognitif siswa masih berkembang sehingga mereka
membutuhkan kegiatan belajar yang melibatkan pengalaman langsung agar konsep-konsep abstrak dapat
dipahami dengan lebih mudah (Ulfah Islamiah et al., 2025). Meskipun media digital dan interaktif mampu