Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 124 -
Artikel Penelitian
Naskah dikirim: 25/09/2025Selesai revisi: 21/10/2025Disetujui: 23/11/2025Diterbitkan:01/12/2025
Penerapan Media Augmented Reality Berbasis LKPD dengan Model Problem-Based
Learning untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Struktur Mata Manusia
Siswa Kelas V SD Negeri 2 Kembangbahu
Najwa Salsyabilah
1
, Ulhaq Zuhdi
2
1,2
Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
E-mail: najwasalsyabilah.23539@mhs.unesa.ac.id
1
; ulhaqzuhdi@unesa.ac.id
2
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan dan efektivitas media Augmented
Reality (AR) berbasis Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan model Problem-Based Learning (PBL)
dalam meningkatkan pemahaman konsep struktur mata manusia pada siswa kelas V SD Negeri 2
Kembangbahu. Permasalahan penelitian dilatarbelakangi oleh rendahnya pemahaman konsep siswa
terhadap materi struktur mata manusia yang bersifat abstrak. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus, meliputi tahap
perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi, dengan subjek penelitian sebanyak sembilan siswa. Data
dikumpulkan melalui tes, observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara deskriptif
kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan media AR berbasis LKPD dengan
model PBL dilaksanakan melalui lima fase pembelajaran, yaitu orientasi masalah, pengorganisasian siswa,
penyelidikan, penyajian hasil, dan evaluasi. Pemahaman konsep siswa mengalami peningkatan yang
signifikan, ditunjukkan oleh kenaikan nilai rata-rata dari 55,55 pada prasiklus menjadi 75,55 pada siklus I
dan 97,77 pada siklus II, dengan ketuntasan klasikal mencapai 100%. Selain itu, sikap dan keterampilan
siswa berada pada kategori sangat baik. Dengan demikian, integrasi media AR berbasis LKPD dengan
model PBL efektif dalam mengonkretkan konsep abstrak serta meningkatkan pemahaman konsep struktur
mata manusia secara komprehensif.
Kata kunci: augmented reality; problem-based learning; LKPD; pemahaman konsep; struktur mata
manusia
Abstract: This study aimed to describe the implementation and effectiveness of Augmented Reality (AR)
media based on Student Worksheets (LKPD) using the Problem-Based Learning (PBL) model in improving
students’ understanding of human eye structure concepts among fifth-grade students at SD Negeri 2
Kembangbahu. The research problem was based on students’ low conceptual understanding of human eye
structure material, which is abstract in nature. This study employed Classroom Action Research using the
Kemmis and McTaggart model conducted in two cycles, consisting of planning, implementation,
observation, and reflection stages, with nine students as research subjects. Data were collected through
tests, observations, interviews, and documentation and were analyzed using descriptive quantitative and
qualitative techniques. The results showed that the implementation of LKPD-based AR media with the PBL
model was carried out through five learning phases, namely problem orientation, student organization,
investigation, presentation of results, and evaluation. Students’ conceptual understanding showed a
significant improvement, as indicated by an increase in the average score from 55.55 in the pre-cycle to
75.55 in Cycle I and 97.77 in Cycle II, with classical mastery reaching 100%. In addition, students’
attitudes and skills were categorized as very good. Therefore, the integration of LKPD-based AR media
with the PBL model was effective in concretizing abstract concepts and comprehensively improving
students’ understanding of human eye structure.
Keywords: augmented reality; problem-based learning; student worksheets; conceptual understanding;
human eye structure
Hak Cipta©2025 Najwa Salsyabilah, Ulhaq Zuhdi
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 125 -
1. Pendahuluan
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di sekolah dasar memiliki peran
strategis dalam membangun fondasi literasi sains siswa sebagai bekal menghadapi tantangan abad ke-
21. Kurikulum Merdeka menekankan pembelajaran yang bermakna, aktif, dan kontekstual, sehingga
siswa tidak hanya menghafal fakta, tetapi mampu memahami konsep secara mendalam serta
mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari (Learning et al., 2025). Namun demikian, implementasi
pembelajaran bermakna masih menghadapi kendala ketika materi yang dipelajari bersifat abstrak dan
kompleks, khususnya konsep struktur internal organ tubuh manusia yang tidak dapat diamati secara
langsung. Salah satu materi yang menghadapi tantangan tersebut adalah struktur mata manusia pada
pembelajaran IPAS kelas V, yang mencakup anatomi tiga dimensi dengan hubungan spasial
antarbagian serta proses penglihatan yang melibatkan transformasi cahaya menjadi sinyal visual di
otak. Keterbatasan media pembelajaran konvensional berupa gambar dua dimensi dalam buku teks
menyebabkan siswa kesulitan membangun representasi mental yang utuh, sehingga pemahaman
konsep cenderung bersifat parsial dan berorientasi pada hafalan (Rozi, 2024).
Hasil observasi awal di SD Negeri 2 Kembangbahu menunjukkan bahwa pembelajaran IPAS
masih didominasi oleh penggunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) konvensional dengan variasi media
yang terbatas dan metode pembelajaran yang kurang interaktif. Kondisi tersebut berdampak pada
rendahnya keterlibatan peserta didik serta lemahnya pemahaman konseptual. Wawancara dengan
guru kelas V mengungkapkan bahwa keterbatasan kompetensi dalam pemanfaatan media
pembelajaran berbasis teknologi menjadi salah satu faktor penyebab minimnya inovasi pembelajaran.
Temuan tersebut diperkuat oleh hasil tes awal yang menunjukkan seluruh peserta didik belum
mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), dengan nilai rata-rata 55,55 dari target KKM 76.
Peserta didik cenderung hanya menghafal nama bagian mata tanpa memahami fungsi, hubungan
antarstruktur, maupun alur proses penglihatan secara runtut. Kondisi ini sejalan dengan temuan Sri
(2024) yang menyatakan bahwa pembelajaran organ internal memerlukan media visual tiga dimensi
agar peserta didik mampu membangun pemahaman konseptual yang utuh.
Perkembangan teknologi digital menawarkan alternatif solusi melalui pemanfaatan Augmented
Reality (AR), yaitu teknologi yang mengintegrasikan objek virtual ke dalam lingkungan nyata secara
real time sehingga memberikan pengalaman visual interaktif tiga dimensi (Yeremia et al., 2025).
Teknologi AR memungkinkan siswa mengeksplorasi objek secara mendalam dengan memutar,
memperbesar, dan mengamati dari berbagai sudut pandang, sehingga membantu mengonkretkan
konsep abstrak. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan AR dalam pembelajaran sains efektif
meningkatkan pemahaman konsep, motivasi belajar, dan keterlibatan aktif siswa karena mampu
memvisualisasikan objek yang tidak dapat diamati secara langsung (Tarigan, 2025). Selain itu, AR
terbukti meningkatkan retensi memori peserta didik secara signifikan dibandingkan dengan media
dua dimensi (Lahfah, 2025). Dalam konteks pembelajaran struktur mata manusia, AR berpotensi
membantu peserta didik memahami anatomi mata secara spasial dan proses penglihatan secara visual
yang sulit dijelaskan melalui media konvensional.
Meskipun demikian, pemanfaatan teknologi AR dalam pembelajaran perlu diintegrasikan
dengan model pedagogis yang tepat agar tidak hanya berfungsi sebagai daya tarik visual, tetapi juga
berdampak pada peningkatan pemahaman konseptual. Problem-based learning (PBL) merupakan
model pembelajaran konstruktivis yang berpusat pada siswa dengan memanfaatkan masalah autentik
sebagai konteks pembelajaran untuk mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemahaman
konsep (Husna et al., 2025). Melalui tahapan orientasi masalah, pengorganisasian peserta didik,
penyelidikan, penyajian hasil, serta evaluasi, PBL mendorong siswa untuk aktif membangun
pengetahuannya melalui proses investigasi, diskusi, dan refleksi. Penelitian menunjukkan bahwa PBL
efektif meningkatkan pemahaman konsep karena siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi
terlibat langsung dalam proses pemecahan masalah (Lestari, 2025).
Agar integrasi AR dan PBL berjalan optimal, diperlukan media pendukung yang mampu
mengarahkan aktivitas belajar siswa secara sistematis. Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) berperan
sebagai panduan pembelajaran yang menjembatani visualisasi AR dengan alur berpikir ilmiah dalam
PBL. LKPD berbasis AR tidak hanya memuat tugas atau pertanyaan, tetapi juga petunjuk eksplorasi
teknologi, pertanyaan pemandu investigasi, ruang diskusi, serta scaffolding yang membantu siswa
menarik kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan. Integrasi LKPD dengan AR dan PBL
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 126 -
menciptakan pembelajaran yang koheren, dengan teknologi sebagai alat eksplorasi, PBL sebagai
kerangka pedagogis, dan LKPD sebagai pengarah proses pembelajaran agar tetap terfokus pada
tujuan pembelajaran.
Beberapa penelitian terdahulu telah mengkaji penggunaan AR maupun penerapan PBL dalam
pembelajaran sains. Penelitian Putra et al. (2023) menunjukkan bahwa AR mampu meningkatkan
motivasi dan hasil belajar siswa sekolah dasar, namun belum diintegrasikan dengan model
pembelajaran terstruktur sehingga dampaknya terhadap pemahaman konsep mendalam masih
terbatas. Penelitian Alfidyah (2025) menunjukkan efektivitas PBL dalam meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa, tetapi tidak memanfaatkan teknologi AR sehingga visualisasi konsep abstrak
masih menjadi kendala. Sementara itu, penelitian Islamiyati et al. (2025) berhasil mengembangkan
LKPD berbasis AR untuk meningkatkan keterampilan proses sains, namun belum
mengintegrasikannya secara sistematis dengan model PBL pada materi struktur organ tubuh manusia.
Penelitian Hadi et al. (2025) melalui Penelitian Tindakan Kelas berhasil meningkatkan hasil belajar
menggunakan media interaktif, tetapi belum secara spesifik mengkaji integrasi AR berbasis LKPD
dengan model PBL pada materi struktur mata manusia di sekolah dasar.
Berdasarkan kajian tersebut, terdapat celah penelitian yang menunjukkan perlunya integrasi
sistematis antara media Augmented Reality berbasis LKPD dengan model Problem-Based Learning
untuk mengatasi kesulitan pembelajaran konsep abstrak, khususnya struktur mata manusia. Kebaruan
penelitian ini terletak pada penggabungan tiga komponen utama, yaitu AR sebagai media visualisasi
tiga dimensi, LKPD sebagai panduan pembelajaran terstruktur, dan PBL sebagai kerangka pedagogis
konstruktivis yang saling terintegrasi. Integrasi ini tidak hanya menghadirkan pembelajaran yang
menarik secara visual, tetapi juga dirancang untuk mendorong proses berpikir ilmiah, kolaborasi, dan
refleksi siswa secara berkelanjutan melalui Penelitian Tindakan Kelas.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penerapan
media Augmented Reality berbasis LKPD dengan model Problem-Based Learning dalam
pembelajaran struktur mata manusia serta menganalisis efektivitasnya dalam meningkatkan
pemahaman konsep peserta didik kelas V SD Negeri 2 Kembangbahu. Penelitian ini diharapkan
memberikan manfaat teoretis berupa kontribusi terhadap pengembangan kajian integrasi teknologi
AR dengan model pembelajaran konstruktivis dalam pembelajaran sains di sekolah dasar. Secara
praktis, penelitian ini diharapkan menjadi alternatif solusi bagi guru dalam mengajarkan materi IPAS
yang bersifat abstrak dan kompleks melalui pemanfaatan teknologi yang mudah diakses dan
diimplementasikan, serta meningkatkan pengalaman belajar peserta didik agar lebih interaktif,
bermakna, dan berorientasi pada pemahaman konsep yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan
McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Model ini dipilih karena bersifat spiral dan reflektif
sehingga memungkinkan perbaikan pembelajaran secara berkelanjutan (Rahayu et al., 2025).
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri 2 Kembangbahu, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten
Lamongan, Jawa Timur, pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026. Subjek penelitian adalah
seluruh peserta didik kelas V yang berjumlah 9 siswa, terdiri atas 5 siswa laki-laki dan 4 siswa
perempuan dengan kemampuan akademik yang heterogen. Teknik pengambilan subjek menggunakan
teknik sensus, yaitu seluruh anggota populasi dijadikan subjek penelitian karena jumlah peserta didik
relatif terbatas. Lokasi penelitian dipilih karena peneliti melaksanakan kegiatan asistensi mengajar di
sekolah tersebut serta ditemukan permasalahan rendahnya pemahaman konsep peserta didik pada
materi struktur mata manusia.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 127 -
Prosedur penelitian mengikuti alur Penelitian Tindakan Kelas model Kemmis dan McTaggart,
sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1.
Gambar 1 Model Penelitian Tindakan Kelas Kemmis dan McTaggart (2014)
Setiap siklus terdiri dari empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi,
dan refleksi. Pada tahap perencanaan, peneliti mengidentifikasi permasalahan pembelajaran dan
menyusun perangkat pembelajaran. Perangkat tersebut meliputi modul ajar dengan model Problem-
Based Learning, media Augmented Reality menggunakan aplikasi Assemblr EDU, LKPD berbasis
AR, media presentasi interaktif, bahan ajar, serta instrumen penelitian berupa soal tes dan lembar
observasi. Pada tahap pelaksanaan tindakan, pembelajaran dilaksanakan sesuai sintaks PBL yang
meliputi orientasi masalah, pengorganisasian peserta didik, penyelidikan, penyajian hasil, dan
evaluasi. Media Augmented Reality digunakan sebagai sarana visualisasi tiga dimensi struktur mata
manusia. Tahap observasi dilakukan untuk mengamati keterlaksanaan pembelajaran, sikap, dan
keterampilan peserta didik selama proses pembelajaran. Selanjutnya, tahap refleksi dilakukan untuk
mengevaluasi hasil tindakan dan menentukan perbaikan pembelajaran pada siklus berikutnya.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi tes, observasi, wawancara, dan
dokumentasi. Tes digunakan untuk mengukur pemahaman konsep peserta didik melalui pretest dan
posttest pada setiap siklus. Observasi dilakukan menggunakan lembar observasi untuk menilai
keterlaksanaan pembelajaran, sikap, dan keterampilan peserta didik. Wawancara dilakukan dengan
guru kelas V sebagai kolaborator untuk memperoleh data pendukung terkait pelaksanaan
pembelajaran. Dokumentasi digunakan untuk merekam proses dan hasil pelaksanaan tindakan berupa
foto kegiatan, perangkat pembelajaran, dan hasil kerja peserta didik. Analisis data dilakukan
menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Analisis deskriptif kuantitatif
digunakan untuk mengolah data hasil tes pemahaman konsep peserta didik. Nilai hasil belajar
dihitung menggunakan rumus berikut:
Nilai =
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙
x 100
Peserta didik dinyatakan tuntas apabila memperoleh nilai 76 sesuai dengan Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yang ditetapkan sekolah. Persentase ketuntasan belajar klasikal dihitung
menggunakan rumus:
P =
𝐹
𝑁
x 100%
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 128 -
Keterangan:
P = persentase ketuntasan belajar
F = jumlah peserta didik yang mencapai nilai tuntas
N = jumlah seluruh peserta didik
Penelitian dinyatakan berhasil apabila persentase ketuntasan belajar klasikal mencapai minimal
80% serta terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas minimal 10 poin antarsiklus.
Data keterlaksanaan pembelajaran dianalisis berdasarkan persentase ketercapaian indikator
kegiatan pembelajaran yang diamati selama proses tindakan. Persentase keterlaksanaan pembelajaran
dihitung menggunakan rumus:
P =
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑘𝑎𝑡𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑙𝑎𝑘𝑠𝑎𝑛𝑎
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑘𝑎𝑡𝑜𝑟
x 100%
Hasil persentase keterlaksanaan pembelajaran kemudian diklasifikasikan berdasarkan kriteria pada
Tabel 1.
Tabel 1 Kriteria Keterlaksanaan Pembelajaran
Persentase Keterlaksanaan Pembelajaran
Kategori
≥ 90%
Sangat Baik
80% 89%
Baik
70% 79%
Cukup
< 70%
Kurang
Pembelajaran dinyatakan berhasil apabila keterlaksanaan pembelajaran mencapai minimal 80%
dengan kategori baik.
Data sikap dan keterampilan peserta didik diperoleh melalui lembar observasi selama proses
pembelajaran pada setiap siklus. Penilaian dilakukan menggunakan skala 14 pada setiap indikator.
Skor yang diperoleh dihitung menjadi nilai rata-rata menggunakan rumus:
N =
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑃𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ𝑎𝑛
𝑆𝑘𝑜𝑟 𝑀𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙
Nilai rata-rata sikap dan keterampilan peserta didik dikategorikan berdasarkan kriteria pada Tabel 2.
Tabel 2 Kriteria Penilaian Sikap dan Keterampilan
Nilai Rata-rata
Kategori
> 3,25
Sangat Baik
> 2,50 3,25
Baik
> 1,75 2,50
Cukup
≤ 1,75
Kurang
Pembelajaran dinyatakan berhasil apabila nilai rata-rata sikap dan keterampilan peserta didik
berada pada kategori minimal baik (nilai > 2,50). Analisis deskriptif kualitatif dilakukan terhadap
data hasil observasi, catatan lapangan, dan dokumentasi melalui tahapan reduksi data, penyajian data,
dan penarikan kesimpulan untuk menggambarkan perubahan proses pembelajaran dan keterlibatan
peserta didik pada setiap siklus. Indikator keberhasilan penelitian ini meliputi: (1) minimal 80%
peserta didik mencapai nilai posttest sesuai KKM, (2) terjadi peningkatan nilai rata-rata kelas minimal
10 poin antar siklus, (3) keterlaksanaan pembelajaran mencapai minimal 80%, serta (4) sikap dan
keterampilan peserta didik berada pada kategori baik
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil Pra Siklus
Sebelum pelaksanaan tindakan, peserta didik diberikan tes awal (pra siklus) untuk mengetahui
kemampuan awal dalam memahami materi struktur mata manusia. Hasil pra siklus menunjukkan
bahwa pemahaman konsep peserta didik masih sangat rendah.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 129 -
Tabel 3 Hasil Belajar Pra Siklus
Keterangan
Jumlah
Jumlah Siswa
9
KKM
76
Nilai Teringgi
60
Nilai Terendah
10
Jumlah Tuntas
0 Siswa
Jumlah Tidak Tuntas
9 Siswa
Ketuntasan (%)
0 %
Ketidaktuntasan (%)
100 %
Rata-Rata
55.55
Berdasarkan Tabel 3, tidak ada peserta didik yang mencapai KKM dengan nilai rata-rata kelas
sebesar 55,55. Rendahnya hasil belajar ini menunjukkan bahwa pembelajaran konvensional dengan
media dua dimensi belum mampu membantu peserta didik memahami konsep struktur mata manusia
yang bersifat abstrak. Peserta didik cenderung menghafal nama bagian mata tanpa memahami fungsi,
hubungan antarbagiannya, maupun proses penglihatan secara utuh.
Siklus I
Pelaksanaan tindakan Siklus I dilaksanakan pada tanggal 27 November 2025 selama 2 × 35
menit dengan menerapkan model Problem-Based Learning yang terintegrasi media Augmented
Reality berbasis LKPD. Pada tahap perencanaan, peneliti menyusun perangkat pembelajaran meliputi
modul ajar berbasis Problem-Based Learning (PBL), media Augmented Reality (AR) menggunakan
aplikasi Assemblr EDU yang menyajikan materi struktur mata manusia dalam bentuk objek 3D,
media pendukung berupa PPT interaktif, LKPD berbasis pemecahan masalah yang terintegrasi
dengan QR marker, bahan ajar, dan instrumen penelitian berupa soal pretest dan posttest, serta lembar
observasi keterlaksanaan pembelajaran, sikap, dan keterampilan siswa.
Pelaksanaan pembelajaran diawali dengan kegiatan pendahuluan yaitu salam, doa, absensi,
menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta ice breaking untuk meningkatkan kesiapan belajar peserta
didik. Apersepsi dilakukan dengan menyajikan permasalahan kontekstual melalui gambar kebiasaan
menonton gawai dari jarak dekat untuk memantik diskusi awal tentang kesehatan mata. Selanjutnya,
guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Pada kegiatan inti, pembelajaran
dilaksanakan sesuai sintaks Problem-Based Learning (PBL). Pada fase orientasi masalah, siswa
diajak mengamati mata teman sebangku dan menonton video animasi proses penglihatan sebagai
stimulus awal. Pada fase pengorganisasian siswa, siswa dibagi ke dalam kelompok heterogen dan
diberikan LKPD yang dilengkapi marker AR Pada fase membimbing penyelidikan, siswa
mengeksplorasi model 3D struktur mata menggunakan aplikasi AR secara bergiliran,
mengidentifikasi bagian dan fungsi mata, mengurutkan proses penglihatan, serta merumuskan cara
menjaga kesehatan mata. Guru berperan sebagai fasilitator dengan memberikan bimbingan dan
penguatan selama proses eksplorasi. Pada fase pengembangan dan penyajian hasil, siswa
mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan menanggapi presentasi kelompok lain. Kegiatan
dilanjutkan dengan fase analisis dan evaluasi melalui kuis interaktif dan posttest untuk mengukur
pemahaman konsep siswa. Kegiatan penutup dilakukan dengan tanya jawab, penarikan kesimpulan
bersama, refleksi pembelajaran, penguatan pentingnya menjaga kesehatan mata, menyanyikan lagu
daerah dan doa penutup.
Hasil observasi menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran pada Siklus I mencapai
persentase 80% dengan kategori baik. Sebagian besar indikator pembelajaran telah terlaksana dengan
baik, meliputi penyajian masalah kontekstual, penggunaan LKPD berbasis Augmented Reality,
eksplorasi model tiga dimensi, diskusi kelompok, presentasi hasil, serta evaluasi pembelajaran.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 130 -
Meskipun demikian, masih ditemukan beberapa kendala, terutama terkait efisiensi waktu dalam
eksplorasi media Augmented Reality, keterlibatan aktif seluruh anggota kelompok yang belum
merata, serta kendala teknis dalam penggunaan aplikasi.
Gambar 2. Kegiatan Pembelajaran Siklus I Gambar 3. Penggunaan AR pada Siklus I
Observasi sikap peserta didik menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,85 dengan kategori sangat
baik. Peserta didik menunjukkan kemampuan penalaran kritis dalam menganalisis fungsi bagian mata
dan hubungan sebab-akibat dalam proses penglihatan. Kreativitas peserta didik tampak dari
kemampuan merumuskan solusi praktis untuk menjaga kesehatan mata. Selain itu, kemampuan
kolaborasi dan komunikasi peserta didik berkembang melalui kegiatan diskusi dan presentasi
kelompok, serta ditunjukkan oleh meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya menjaga kesehatan
mata.
Pada aspek keterampilan, hasil observasi menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,78 dengan
kategori sangat baik. Peserta didik mampu mengoperasikan media Augmented Reality secara
bertahap setelah memperoleh pendampingan awal, bekerja sama secara efektif dalam kelompok, serta
menyampaikan hasil eksplorasi dengan bahasa yang jelas dan runtut. Hal ini menunjukkan bahwa
penerapan model Problem-Based Learning berbantuan media Augmented Reality tidak hanya
mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga aspek psikomotor dan sosial peserta didik.
Hasil pemahaman konsep Siklus I disajikan pada Tabel 4
Tabel 4 Hasil Belajar Siklus I
Keterangan
Jumlah
Jumlah Siswa
9
KKM
76
Nilai Teringgi
100
Nilai Terendah
40
Jumlah Tuntas
4
Jumlah Tidak Tuntas
5
Ketuntasan (%)
44,44%
Ketidaktuntasan (%)
55,55%
Rata-Rata
75,55
Berdasarkan Tabel 4, terjadi peningkatan pemahaman konsep struktur mata manusia dari tahap
pra siklus ke Siklus I. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 55,55 menjadi 75,55 dengan peningkatan
sebesar 20 poin. Nilai tertinggi juga meningkat dari 60 menjadi 100, yang menunjukkan bahwa
sebagian peserta didik telah mampu menguasai materi dengan baik. Selain itu, jumlah peserta didik
yang mencapai ketuntasan belajar meningkat dari 0 menjadi 4 siswa (44,44%). Namun demikian,
persentase ketuntasan klasikal pada Siklus I belum mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan,
yaitu 80%. Oleh karena itu, masih terdapat 5 peserta didik (55,55%) yang belum mencapai Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM).
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 131 -
Berdasarkan analisis hasil pekerjaan siswa, observasi pembelajaran, serta wawancara dengan
guru kolaborator, ketidaktuntasan belajar pada Siklus I disebabkan oleh beberapa faktor. Sebagian
peserta didik masih mengalami kesulitan dalam memahami hubungan fungsional antarbagian mata
dan alur proses penglihatan secara runtut. Selain itu, keterbatasan literasi digital menyebabkan
beberapa peserta didik belum optimal dalam mengoperasikan media Augmented Reality sehingga
keterlibatan dalam diskusi kelompok belum merata. Pembagian peran dalam kelompok juga belum
berjalan secara efektif, yaitu peserta didik yang kurang aktif cenderung bersikap pasif dan bergantung
pada anggota kelompok yang lebih dominan.
Berdasarkan temuan tersebut, perbaikan pada Siklus II difokuskan pada optimalisasi
penggunaan media Augmented Reality melalui demonstrasi dan panduan yang lebih terstruktur,
penerapan rotasi peran dalam kelompok untuk meningkatkan partisipasi aktif peserta didik,
pemberian pendampingan intensif kepada siswa yang mengalami kesulitan, serta penyempurnaan
LKPD dengan scaffolding yang lebih rinci. Dengan perbaikan tersebut, diharapkan pemahaman
konsep peserta didik dan ketuntasan belajar klasikal dapat meningkat sesuai dengan indikator
keberhasilan yang telah ditetapkan.
Siklus II
Pelaksanaan Siklus II dilaksanakan pada Selasa, 2 Desember 2025 selama 2 × 35 menit dengan
tetap menerapkan model Problem-Based Learning (PBL) berbantuan media Augmented Reality (AR)
berbasis LKPD, dengan penyempurnaan pembelajaran berdasarkan hasil refleksi pada Siklus I.
Perbaikan pembelajaran difokuskan pada optimalisasi penggunaan media AR, pemerataan peran
anggota kelompok, serta pengelolaan waktu pembelajaran agar lebih efektif. Sebelum pembelajaran
dilaksanakan, peneliti melakukan penyesuaian perangkat pembelajaran, meliputi penyempurnaan
modul ajar dengan penambahan alokasi waktu demonstrasi penggunaan media AR, serta revisi LKPD
dengan petunjuk penggunaan AR yang lebih rinci dan visual. Selain itu, diterapkan sistem rotasi tugas
yang terstruktur dalam kelompok untuk meningkatkan keaktifan seluruh peserta didik. Peneliti juga
menyiapkan strategi antisipatif terhadap kendala teknis serta memberikan perhatian khusus kepada
peserta didik yang belum mencapai ketuntasan pada Siklus I.
Pembelajaran diawali dengan kegiatan pembukaan berupa salam, doa, absensi, menyanyikan
lagu Indonesia Raya, dan ice breaking. Apersepsi dilakukan dengan mengulas kembali materi pada
Siklus I melalui pertanyaan reflektif guna mengaktifkan pengetahuan awal peserta didik. Guru
kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran dengan penekanan pada pendalaman pemahaman
konsep struktur mata manusia. Kegiatan inti dilaksanakan sesuai sintaks PBL dengan perbaikan
pelaksanaan. Pada fase orientasi masalah, guru menyajikan permasalahan kontekstual yang lebih
menantang sebagai pemantik berpikir kritis peserta didik. Pada fase pengorganisasian siswa, peserta
didik bekerja dalam kelompok dengan pembagian tugas yang jelas sebagaimana tercantum dalam
LKPD. Pada fase penyelidikan, guru mendemonstrasikan penggunaan media AR secara lebih rinci
sebelum peserta didik melakukan eksplorasi. Peserta didik secara bergiliran mengamati model tiga
dimensi struktur mata manusia menggunakan aplikasi AR, sementara anggota kelompok lain aktif
mencatat, berdiskusi, dan menganalisis informasi yang diperoleh. Guru memberikan pendampingan
intensif, khususnya kepada peserta didik yang sebelumnya belum mencapai ketuntasan. Pada fase
pengembangan dan penyajian hasil, siswa mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan menanggapi
presentasi kelompok lain. Kegiatan dilanjutkan dengan fase analisis dan evaluasi melalui kuis
interaktif dan posttest untuk mengukur pemahaman konsep siswa. Kegiatan penutup dilaksanakan
secara lebih terstruktur melalui sesi tanya jawab, penarikan kesimpulan bersama, refleksi
pembelajaran, penguatan pentingnya menjaga kesehatan mata, menyanyikan lagu daerah dan doa
penutup.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 132 -
Gambar 4. Kegiatan Pembelajaran Siklus II Gambar 5. Penggunaan AR pada Siklus II
Hasil observasi menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran pada Siklus II mengalami
peningkatan signifikan dengan persentase sebesar 93,3% dan kategori sangat baik. Aspek yang
sebelumnya belum optimal pada Siklus I, seperti efisiensi waktu eksplorasi media AR, keterlibatan
aktif seluruh anggota kelompok, serta pengelolaan kelas, telah mengalami perbaikan dan berjalan
dengan baik tanpa kendala teknis yang berarti. Observasi sikap peserta didik menunjukkan skor rata-
rata sebesar 3,93 dengan kategori sangat baik, meningkat dibandingkan Siklus I. Peningkatan terjadi
pada seluruh aspek yang diamati, meliputi penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi.
Aspek komunikasi menunjukkan peningkatan paling menonjol, yang ditandai dengan meningkatnya
kepercayaan diri peserta didik dalam menyampaikan ide dan hasil diskusi.
Pada aspek keterampilan, hasil observasi menunjukkan skor rata-rata sebesar 3,91 dengan
kategori sangat baik, meningkat dari Siklus I. Peserta didik semakin terampil dalam mengoperasikan
media AR, bekerja sama secara efektif dalam kelompok, serta menyajikan hasil diskusi secara
sistematis dan runtut. Hal ini menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran pada Siklus II berdampak
positif terhadap keterampilan psikomotor dan sosial peserta didik. Hasil pemahaman konsep peserta
didik pada Siklus II disajikan pada Tabel 5, berikut ini:
Tabel 5 Hasil Belajar Siklus II
Siklus II
9
76
100
90
9
0
100%
0%
97,77
Berdasarkan Tabel 5, pemahaman konsep struktur mata manusia pada Siklus II mengalami
peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan Siklus I. Rata-rata nilai kelas meningkat dari 75,55
menjadi 97,77, dengan peningkatan sebesar 22,22 poin. Nilai terendah juga meningkat dari 40
menjadi 90, menunjukkan bahwa peserta didik yang sebelumnya mengalami kesulitan telah mencapai
pemahaman yang optimal. Seluruh peserta didik (100%) mencapai KKM, sehingga ketuntasan
klasikal telah melampaui target yang ditetapkan sebesar 80%. Hasil refleksi menunjukkan bahwa
seluruh indikator keberhasilan penelitian telah tercapai secara optimal. Peningkatan ketuntasan
belajar, keterlaksanaan pembelajaran, sikap, dan keterampilan peserta didik menunjukkan bahwa
penerapan model Problem-Based Learning berbantuan media Augmented Reality berbasis LKPD
efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep struktur mata manusia siswa kelas V SD Negeri 2
Kembangbahu. Oleh karena itu, penelitian tindakan kelas dihentikan pada Siklus II.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 133 -
Perbandingan Hasil Antarsiklus
Perbandingan hasil belajar pada prasiklus, Siklus I, dan Siklus II menunjukkan adanya
peningkatan yang konsisten dan signifikan. Data perbandingan hasil belajar disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6 Perbandingan Hasil Belajar Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II
Berdasarkan Tabel 6. terjadi peningkatan pemahaman konsep struktur mata manusia secara
signifikan pada setiap siklus. Rata-rata nilai meningkat dari 55,55 pada prasiklus menjadi 75,55 pada
Siklus I dengan peningkatan 20 poin, kemudian meningkat kembali menjadi 97,77 pada Siklus II
dengan peningkatan 22,22 poin. Persentase ketuntasan belajar juga mengalami peningkatan bertahap
dari 0% pada prasiklus, 44,44% pada Siklus I, hingga mencapai 100% pada Siklus II. Visualisasi data
perbandingan hasil belajar disajikan pada Gambar 1.
Gambar 6. Perbandingan rata-rata hasil belajar prasiklus, Siklus I, dan Siklus II
Perbandingan hasil observasi pada Siklus I dan Siklus II menunjukkan adanya peningkatan
pada seluruh aspek yang diamati. Data perbandingan hasil observasi disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Perbandingan Hasil Observasi Siklus I dan II
Berdasarkan Tabel 7, keterlaksanaan pembelajaran meningkat dari 80% dengan kategori baik
pada Siklus I menjadi 93,33% dengan kategori sangat baik pada Siklus II. Sikap siswa meningkat dari
3,85 menjadi 3,93, dan keterampilan siswa meningkat dari 3,78 menjadi 3,91. Peningkatan pada
seluruh aspek observasi menunjukkan bahwa perbaikan pembelajaran yang dilakukan pada Siklus II
efektif meningkatkan kualitas proses pembelajaran dan keterlibatan siswa yang lebih optimal.
Pencapaian indikator keberhasilan penelitian disajikan pada Tabel 8.
0
20
40
60
80
100
120
Prasiklus Siklus I Siklus II
Pra Siklus
Siklus I
Siklus II
9
9
9
76
76
76
60
100
100
10
40
90
0
4
9
100
5
0
0%
44,4%
100%
100%
55,5%
0%
55,55
75,55
97,77
Aspek Observasi
Siklus I
Siklus II
Peningkatan
Keterlaksanaan
Pembelajaran
80%
93%
+13,3%
Sikap Siswa
3,85
3,93
+0,08%
Keterampilan Siswa
3,78
3,91
+0,13%
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 134 -
Tabel 8 Pencapaian Indikator Keberhasilan
No
Indikator Keberhasilan
Target
Siklus I
Siklus II
Keterangan
1
Persentase ketuntasan ≥
80%
80%
44,44%
100%
Tercapai di Siklus II
2
Peningkatan rata-rata ≥ 10
poin
10
poin
20 poin
13,34
poin
Tercapai di Siklus I dan II
3
Keterlaksanaan
pembelajaran ≥ 80%
80%
80%
93,3%
Tercapai di Siklus I dan II
4
Sikap siswa kategori baik
> 2,5
3,85
3,93
Tercapai di Siklus I dan II
5
Keterampilan siswa
kategori baik
> 2,5
3,78
3,91
Tercapai di Siklus I dan II
Berdasarkan Tabel 8, seluruh indikator keberhasilan penelitian telah tercapai pada Siklus II.
Persentase ketuntasan belajar mencapai 100%, melampaui target yang ditetapkan sebesar 80%. Indikator
peningkatan nilai rata-rata juga tercapai, dengan kenaikan sebesar 20 poin pada Siklus I dan meningkat
kembali sebesar 22,22 poin pada Siklus II. Selain itu, indikator keterlaksanaan pembelajaran, sikap, dan
keterampilan peserta didik telah tercapai sejak Siklus I dan menunjukkan peningkatan yang lebih optimal
pada Siklus II. Peningkatan yang konsisten pada setiap siklus menunjukkan bahwa integrasi media
Augmented Reality, LKPD, dan model Problem-Based Learning membentuk pembelajaran yang
kontekstual, interaktif, dan bermakna. LKPD berbasis Augmented Reality (AR) berfungsi sebagai panduan
terstruktur yang mengarahkan peserta didik dalam mengeksplorasi media, berdiskusi, dan menyimpulkan
hasil pembelajaran secara sistematis. Integrasi ketiga komponen tersebut menciptakan pembelajaran yang
koheren, yaitu teknologi berperan sebagai sarana eksplorasi, model Problem-Based Learning sebagai
kerangka berpikir ilmiah, dan LKPD sebagai pengarah alur pembelajaran agar tetap terfokus pada tujuan
konseptual. Temuan ini sejalan dengan penelitian Islamiyati et al. (2025) yang menyatakan bahwa LKPD
terintegrasi Augmented Reality (AR) efektif dalam meningkatkan keterampilan proses sains dan
kemampuan berpikir kreatif peserta didik.
Efektivitas pembelajaran dapat dijelaskan melalui beberapa perspektif teoretis. Berdasarkan teori
beban kognitif, media Augmented Reality membantu mengurangi beban kognitif ekstrinsik dengan
menyajikan visualisasi tiga dimensi yang konkret sehingga peserta didik tidak perlu membangun
representasi mental dari gambar dua dimensi. Kondisi tersebut memungkinkan kapasitas memori kerja
difokuskan pada pemahaman fungsi dan hubungan antarbagian mata (Kerres, 2022). Selanjutnya, teori
pembelajaran multimedia Mayer (2021) mendukung temuan ini melalui prinsip modalitas dan kontiguitas
spasial, yaitu penyajian informasi visual dan verbal secara simultan dalam konteks yang sama sehingga
memperkuat pembentukan representasi mental (Ge & Lai, 2021). Interaktivitas media Augmented Reality
juga mendorong pembelajaran aktif melalui manipulasi objek tiga dimensi secara langsung. Dari perspektif
konstruktivisme sosial, integrasi model Problem-Based Learning dan LKPD menciptakan zona
perkembangan proksimal yang optimal (Wibowo et al, 2024). LKPD berfungsi sebagai scaffolding melalui
pertanyaan pemandu dan aktivitas bertahap, sedangkan pembelajaran kolaboratif dalam kelompok
memfasilitasi proses ko-konstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial. Peran guru sebagai fasilitator
mendukung proses internalisasi pengetahuan dengan memberikan bimbingan yang secara bertahap
dikurangi seiring meningkatnya pemahaman peserta didik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tidak hanya terjadi pada aspek kognitif, tetapi juga
pada aspek afektif dan psikomotor. Penalaran kritis berkembang melalui analisis hubungan sebab-akibat,
kreativitas melalui perumusan solusi kontekstual, serta kolaborasi dan komunikasi melalui diskusi
kelompok yang terstruktur. Keterampilan digital peserta didik juga meningkat seiring dengan penggunaan
media Augmented Reality secara berulang. Temuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis
Augmented Reality (AR) dan Problem-Based Learning (PBL) mampu mengembangkan kompetensi abad
ke-21 secara holistik. Hal ini memperkuat temuan Alfidyah (2025) yang menyatakan bahwa model
Problem-Based Learning efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar.
Dengan demikian, penerapan media Augmented Reality berbasis LKPD dengan model Problem-Based
Learning terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep struktur mata manusia serta
menciptakan pembelajaran yang aktif, kolaboratif, dan bermakna. Model pembelajaran ini layak
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 135 -
direkomendasikan untuk diterapkan pada materi IPAS lain yang bersifat abstrak di sekolah dasar. Penelitian
ini memberikan kontribusi praktis berupa model pembelajaran yang dapat direplikasi oleh guru serta
kontribusi teoretis dalam pengembangan kajian integrasi teknologi Augmented Reality (AR) dengan
pendekatan pembelajaran konstruktivis dalam pembelajaran sains di sekolah dasar.
4. Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa penerapan media
Augmented Reality (AR) berbasis Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan model Problem-Based
Learning (PBL) pada pembelajaran struktur mata manusia di kelas V SD Negeri 2 Kembangbahu terlaksana
secara sistematis dan efektif sesuai dengan sintaks PBL. Keterlaksanaan pembelajaran menunjukkan
peningkatan dari kategori baik pada Siklus I menjadi sangat baik pada Siklus II. Penerapan media AR
berbasis LKPD dengan model PBL terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep struktur mata
manusia peserta didik, yang ditunjukkan oleh peningkatan nilai rata-rata hasil belajar dari prasiklus ke
Siklus I dan Siklus II hingga mencapai ketuntasan belajar klasikal sebesar 100%. Selain aspek kognitif,
pembelajaran ini juga berdampak positif terhadap aspek sikap dan keterampilan peserta didik yang berada
pada kategori sangat baik, mencerminkan berkembangnya kemampuan berpikir kritis, kolaborasi,
komunikasi, dan keterampilan psikomotor. Temuan penelitian ini mengindikasikan bahwa integrasi
teknologi AR dengan model Problem-Based Learning mampu mengonkretkan konsep yang bersifat
abstrak, meningkatkan keterlibatan aktif peserta didik, serta menciptakan pembelajaran IPAS yang
bermakna dan holistik di sekolah dasar. Oleh karena itu, guru disarankan untuk mengimplementasikan
media AR berbasis LKPD dengan model PBL pada materi IPAS lain yang memiliki tingkat abstraksi tinggi
dengan memperhatikan manajemen waktu, sistem rotasi penggunaan media, dan pemberian pendampingan
individual. Sekolah diharapkan dapat mendukung pelaksanaan pembelajaran berbasis teknologi melalui
penyediaan infrastruktur dan pelatihan guru. Sementara itu, peneliti selanjutnya disarankan untuk
mengembangkan penelitian pada materi dan subjek yang lebih luas, mengombinasikan AR dengan model
pembelajaran lain, serta mengkaji dampak jangka panjang penggunaan media AR terhadap pemahaman
konsep, literasi digital, dan keterampilan abad ke-21.
5. Daftar Pustaka
Akyuna, Q., Wahyuni, A. D., & Mintasih, D. (2025). Peran Media Pembelajaran Interaktif Dalam
Meningkatkan Partisipasi Peserta Didik. 5, 121132. https://doi.org/10.47200/awtjhpsa.v5i1.3112
Alfidyah, M. (2025). Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Sekolah Dasar. 1(1), 19. http://pustakajurnal.web.id/index.php/jpgsdi
Aprilia, S. (2025). Studi Literatur : Penerapan Model Problem Based Learning ( PBL ) dalam
Meningkatkan Pemahaman Konsep IPA pada materi Zat dan Wujud Zat. 2(4), 867875.
https://doi.org/10.61722/jinu.v2i4.5777
Damanik, M. R., Manik, R. L., & Khadafi, M. (2025). METODE PENELITIAN KUANTITATIF:KONSEP,
JENIS, TAHAPAN DAN KELEBIHAN. 2, 1347913496. https://jicnusantara.com/index.php/jiic
Ge, S., & Lai, X. (2021). Strategies for Information Design and Processing of Multimedia Instructional
Software Based on Richard E . Mayer s Multimedia Instructional Design Principles 2 . Dual
Coding and Information Visualization Methods in Multimedia Instructional Software. 10(1), 4046.
https://doi.org/10.20448/2003.101.40.46
Hadi, W., Sari, Y., & Pasha, N. M. (2024). Analisis Penggunaan Media Interaktif Wordwallterhadap
Peningkatan Hasil Belajar IPA di Sekolah Dasar. 14. https://doi.org/10.37630/jpm.v14i2.1570
Hudiyana, H. (2025). Efektivitas Model Problem Based Learning Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa Kelas Iv Pada Mata Pelajaran IPAS di SDN 01 Bandok. 4(4), 20102019.
https://doi.org/10.56916/ejip.v4i4.2302
Husna, A., Ilmi, N., & Gusmaneli, G. (2025). Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah dalam
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik. 2.
https://doi.org/10.62383/katalis.v2i2.1532
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 124-136
E-ISSN: 3026-4014
- 136 -
Islamiyati, D., Rokhmat, J., Arian, Y., Anwar, S., & Mahmudah, H. (2025). Pengembangan LKPD
Terintegrasi Kearifan Lokal Berbasis Augmented Reality Berbantuan Aplikasi Assemblr Edu Untuk
Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Dan Berpikir Kreatif Peserta Didik. 7(1).
https://doi.org/10.29303/jcar.v7i1.10306
Kerres, M. (2022). The impact of augmented reality on cognitive load and performance : A systematic
review. March 2021, 285303. https://doi.org/10.1111/jcal.12617
Lahfah, N. F. (2025). Pengembangan Media Augmented Reality(Ar) Berbasis Model Pembelajaran
Metatips Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Ipa Kelas V Di SD. 1(2).
https://publikasi.ahlalkamal.com/index.php/sinergi
Learning, D., In, A., Curriculum, I., Rosiyati, D., Erviana, R., & Sholihah, U. (2025). PENDEKATAN
DEEP LEARNING DALAM KURIKULUM Deep Learning Approach In Independent Curriculum. 4,
131143. https://doi.org/10.58917/ijme.v4i2.270
Lestari, S. S. (2025). UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPA MATERI STRUKTUR BUMI KITA
DENGAN METODE PROBLEM BASED LEARNING (PBL) DI KELAS V SD NEGERI
TLOGOSONO. 11(September), 368376. https://doi.org/10.36989/didaktik.v11i03.7087
Maziyah, H. N., & Zumrotun, E. (2025). Pengembangan Media Pembelajaran Kartu Ajaib Berbasis
Augmented Reality pada Materi Ekosistem Kelas 5 Sekolah Dasar. 5, 2538.
https://doi.org/10.53299/jagomipa.v5i1.1079
Nurrisa, F., & Hermina, D. (2025). Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian : Strategi , Tahapan , dan
Analisis Data Jurnal Teknologi Pendidikan Dan Pembelajaran ( JTPP ). 02(03), 793800.
https://jurnal.kopusindo.com/index.php/jtpp/article/view/581
Putra, L. D., Zhinta, S., Pratama, A., Dahlan, U. A., & Digital, T. (2023). Pemanfaatan Media dan
Teknologi Digital Dalam Mengatasi Masalah Pembelajaran. 4(8), 310317.
https://doi.org/10.36312/jtm.v4i8.2005
Putra, R. (2025). Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk Meningkatkan Hasil
Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran IPAS Kelas 6. https://doi.org/10.63980/eduvasi.v1i1.17
Rahayu, A., Saskia, A., Guru, P., Ibtidaiyah, M., Sarolangun, A. S., Artikel, I., & Process, L. (2025). Metode
Penelitian Tindakan Kelas : Konsep , Tahapan dan Keunggulan dalam Praktik Pembelajaran. 4(4),
828836. https://doi.org/10.54259/diajar.v4i4.5792
Restalillah, R. R., & Jambi, U. (2025). Strategi Mengatasi Tantangan Mengimplementasikan Proses Uji
Coba Terbatas dalam Penelitian Tindakan Kelas. 6(1), 113125.
https://doi.org/10.53624/ptk.v6i1.660
Rozi, F. (2024). Analisis Fenomena Peralihan Metode Pembelajaran Konvensional Menuju Pembelajaran
Berbasis Digital. November, 139148.
https://ejournal.merivamedia.com/index.php/meriva/article/view/19
Sri, M. (2024). ANALISIS PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN FISIKA
PADA PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PBL MENGGUNAKAN SOAL HOTS. 4(1), 100
105. https://doi.org/10.52562/biochephy.v4i1.993
Tarigan, R. B. (2025). Pemanfaatan Augmented Reality ( AR ) Dalam Pembelajaran Ipa Untuk
Menumbuhkan Pemahaman Konsep Sistem Tata Surya. 1, 112.
https://doi.org/10.64690/intelektual.v1i1.69
Yeremia, D. A., Christian, J., & Chang, T. (2025). Analisis Implementasi Augmented Reality Pada Bidang
Pendidikan : Systematic Literature Review. 2(May), 343348.
https://doi.org/10.5281/zenodo.115463789