Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 116-123
E-ISSN: 3026-4014
- 118 -
pengingat nilai-nilai budaya dalam menafsirkan sejarah. Museum 13 juga bisa disebut dengan Museum 1
(Satu) 3 (Tiga) yang mana angka satu melambangkan keesaan Tuhan sebagai sumber dari seluruh
kehidupan, sementara angka tiga merepresentasikan tiga tahapan kehidupan makhluk hidup, yaitu
kelahiran, kehidupan, dan kematian (Fitria Intan, 2022). Menurut salah satu pendiri Museum 13, Nardi,
angka “13” juga mencerminkan satu gagasan yang lahir dari pemikiran tiga orang pendiri museum.
Ketiga tokoh tersebut memiliki visi yang sama dalam upaya pelestarian warisan sejarah Bojonegoro.
Walaupun angka 13 kerap diasosiasikan dengan makna negatif dalam budaya tertentu, para pendiri
meyakini bahwa keberadaan museum ini akan memberikan manfaat bagi masyarakat di masa mendatang.
Museum 13 memiliki beragam koleksi sejarah yang mencakup bidang paleontologi, arkeologi, dan
geologi. Hingga saat ini, sebanyak 164 koleksi telah terinventarisasi, lebih dari 500 koleksi telah terdata,
serta masih terdapat sejumlah koleksi lain yang belum terdata dan jumlahnya belum dapat dipastikan.
Koleksi arkeologi merupakan benda-benda peninggalan sejarah yang merekam kehidupan masa lampau.
Di Museum 13, koleksi arkeologi meliputi artefak candi Kerajaan Majapahit, serpihan perahu kayu kuno
dari abad ke-17, arca Siwa, keramik Dinasti Tang, uang koin peninggalan kolonial Belanda dan
Tiongkok, batu bata dan guci dari masa Majapahit, koper dan botol kaca VOC, Al-Qur’an kuno, serta
berbagai koleksi bersejarah lainnya. Selain itu, Museum 13 juga menyimpan koleksi paleontologi, yaitu
sisa-sisa atau jejak organisme purba yang terawetkan dalam batuan atau material lain yang berfungsi
untuk merekonstruksi kehidupan masa lalu, proses evolusi organisme, interaksi dengan lingkungannya,
serta perubahan Bumi dari waktu ke waktu. Koleksi paleontologi tersebut meliputi fosil daun, fosil kayu,
fosil hewan, termasuk fosil gajah purba (Stegodon trigonocephalus), fosil kerbau purba (Bubalus
palaeokerabau), fosil moluska, dan fosil udang. Adapun koleksi geologi terdiri atas berbagai jenis batuan,
seperti stalaktit, batuan berlapis emas, batuan meteor, batu kalsit, batu stalagmite, batu gampingan
terumbu, serta koleksi geologi lainnya. Keaslian benda-benda koleksi museum ini telah dikonfirmasi oleh
para ahli dari berbagai institusi ternama, salah satunya Universitas Gadjah Mada (UGM). Museum 13
tidak ditujukan untuk mencari keuntungan, melainkan berfungsi sebagai sarana edukasi. Oleh karena itu,
museum ini tidak hanya menjadi pusat pembelajaran bagi masyarakat lokal, tetapi banyak juga
masyarakat luar seperti pelajar, mahasiswa, guru sejarah di seluruh Jawa Timur, profesor, hingga
wisatawan mancanegara seperti Italia, Jepang, Korea yang datang ke Museum 13 untuk Belajar.
SDN Panjunan II Kalitidu memiliki ekstrakurikuler Kepurbakalaan, yaitu kegiatan yang bertujuan
mengenalkan ilmu kepurbakalaan. Ekstrakurikuler kepurbakalaan tersebut diikuti oleh siswa dari SDN
Panjunan yang minat belajar tentang kepurbakalaan dan dilaksanakan secara rutin satu kali dalam
seminggu, yaitu setiap hari Senin. Salah satu kegiatan utama dalam ekstrakurikuler tersebut adalah
“Nggladak”, yaitu kegiatan pencarian fosil yang bertujuan untuk menambah koleksi Museum 13.
Kegiatan Nggladak dilaksanakan oleh The Bone Hunter Team Museum 13 di wilayah Bojonegoro dengan
melibatkan siswa peserta ekstrakurikuler, guru pendamping, serta relawan yang berminat untuk
berpartisipasi. Pelaksanaan Nggladak dijadwalkan setiap dua bulan sekali pada musim kemarau, namun
dalam pelaksanannya tetap mempertimbangkan kondisi lingkungan dan aspek keselamatan karena
kegiatan ini melibatkan peserta didik dan dilakukan langsung di lokasi pencarian fosil.
Implementasi Pembelajaran Berbasis Geopark di SDN Panjunan II
Pembelajaran berbasis geopark di SDN Panjunan II tidak hanya terbatas pada pengenalan koleksi
museum sebagai objek pajang, tetapi diintegrasikan secara sistematis dalam proses pembelajaran.
Integrasi tersebut diterapkan mulai dari perencanaan pembelajaran, di mana guru memasukkan konsep
geopark dan pemanfaatan Museum 13 ke dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja
peserta didik (LKPD), maupun lembar evaluasi sehingga kegiatan belajar lebih kontekstual, berbasis
lingkungan, dan sesuai dengan karakteristik peserta didik. Museum 13 tidak hanya difungsikan sebagai
media pembelajaran tambahan, tetapi menjadi bagian integral dalam perencanaan pembelajaran,
pengembangan perangkat ajar, pelaksanaan asesmen, serta kegiatan ekstrakurikuler siswa. Langkah ini
bertujuan mewujudkan pembelajaran yang kontekstual, autentik, dan bermakna sesuai prinsip deep
learning dan teori konstruktivisme.
Pengintegrasian geopark ke dalam pembelajaran ini selaras dengan gagasan pembelajaran deep
learning, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal fakta, namun menuntut
pemahaman konsep yang kuat, kemampuan mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan nyata, serta
pengembangan kesadaran berpikir siswa (Wafa et al., 2025) , selain itu teori kontekstualisasi
Pembelajaran pada Anak Usia Dini (Vygotsky, 1978) juga menawarkan landasan yang kuat untuk