Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 17 -
Artikel Penelitian
Naskah dikirim: 12/02/2026 Selesai revisi: 24/03/2026Disetujui: 18/05/2026Diterbitkan:01/06/2026
Implementasi Metode Bernyanyi dalam Meningkatkan Minat Belajar
Anak Usia 56 Tahun di PAUD Baqiyatus Shalihat Indonesia
Anisa Fitri
1
, Jayatin Harun
2
, Marya Ulva
3
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT), Otto Iskandar Dinata Banten, Indonesia
e-mail: anisandra997@gmail.com
Abstrak: Pendidikan anak usia dini berperan penting dalam menumbuhkan minat belajar anak sebagai
fondasi kesiapan belajar pada jenjang pendidikan selanjutnya. Anak usia 56 tahun membutuhkan
pendekatan pembelajaran yang menyenangkan, bermakna, dan sesuai dengan karakteristik
perkembangannya. Metode bernyanyi merupakan salah satu strategi pembelajaran yang relevan karena
mengintegrasikan unsur bahasa, irama, gerak, dan emosi dalam proses belajar. Penelitian ini bertujuan
untuk menganalisis dan mendeskripsikan implementasi metode bernyanyi dalam meningkatkan minat
belajar anak usia 56 tahun di PAUD Baqiyatus Shalihat Indonesia, mengidentifikasi faktor pendukung
dan penghambat penerapannya, serta mengkaji persepsi dan pengalaman guru terhadap efektivitas metode
tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain fenomenologis. Data
dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi kegiatan pembelajaran, dan dokumentasi. Analisis
data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa metode bernyanyi diimplementasikan secara terencana sesuai dengan tema
pembelajaran dan mampu meningkatkan antusiasme, keaktifan, serta ketertarikan anak dalam mengikuti
kegiatan belajar. Faktor pendukung meliputi kompetensi guru, dukungan lembaga, dan ketersediaan
sarana, sedangkan faktor penghambat meliputi keterbatasan variasi lagu dan perbedaan karakteristik anak.
Guru memandang metode bernyanyi sebagai strategi pembelajaran yang efektif, menyenangkan, dan
bermakna dalam meningkatkan minat belajar anak usia dini.
Kata kunci: Metode bernyanyi; Minat belajar; Anak usia dini; PAUD; Pembelajaran kreatif.
Implementing the Singing Method to Increase Learning Interest Children Aged 56 at Baqiyatus
Shalihat Indonesia Preschool
Abstract: Early childhood education plays an important role in fostering children's interest in learning as
a foundation for readiness for further education. Children aged 56 years need a learning approach that
is fun, meaningful, and appropriate to their developmental characteristics. The singing method is one
relevant learning strategy because it integrates language, rhythm, movement, and emotion into the
learning process. This study aims to analyze and describe the implementation of the singing method in
increasing the learning interest of 5-6 year old children at Baqiyatus Shalihat Indonesia Early Childhood
Education Center, identify the supporting and inhibiting factors of its implementation, and examine
teachers' perceptions and experiences regarding the effectiveness of this method. This study uses a
qualitative approach with a phenomenological design. Data were collected through in-depth interviews,
observation of learning activities, and documentation. Data analysis was conducted through data
reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that the singing method was
implemented in a planned manner in accordance with the learning theme and was able to increase
children's enthusiasm, activity, and interest in participating in learning activities. Supporting factors
include teacher competence, institutional support, and availability of facilities, while inhibiting factors
include limited song variety and differences in children's characteristics. Teachers view the singing
method as an effective, enjoyable, and meaningful learning strategy in increasing the learning interest of
early childhood.
Keywords: Singing method; Learning interest; Early childhood; PAUD; Creative learning.
Hak Cipta©2026 Anisa Fitri, Jayatin Harun, Marya Ulva
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 18 -
1. Pendahuluan
Pendidikan anak usia dini merupakan fase paling fundamental dalam keseluruhan proses
pendidikan manusia karena menjadi dasar pembentukan kemampuan kognitif, bahasa, sosial-
emosional, serta sikap belajar anak di masa selanjutnya. Pada rentang usia 56 tahun, anak berada
pada periode emas (golden age) yang ditandai dengan pesatnya perkembangan fungsi otak dan
tingginya kepekaan terhadap berbagai stimulasi lingkungan (Amperawati et al., 2022; Phillipson et
al., 2025; Safira & Hidayah, 2022; Sausan et al., 2022; Wardhani, 2023). Montessori menyebut fase
ini sebagai sensitive period, yaitu masa ketika anak memiliki kesiapan alami untuk menerima
pengalaman belajar tertentu secara optimal apabila difasilitasi dengan pendekatan yang tepat
(Ogbemudia et al., 2024; Phillips, 2022). Oleh karena itu, proses pembelajaran pada jenjang PAUD
tidak dapat disamakan dengan pendidikan formal pada tingkat selanjutnya, melainkan harus
dirancang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak. Pembelajaran yang tidak selaras dengan
kebutuhan perkembangan anak berpotensi menghambat tumbuhnya minat belajar dan menurunkan
motivasi intrinsik sejak dini. Dalam konteks ini, PAUD memegang peranan strategis dalam
menanamkan fondasi kecintaan anak terhadap proses belajar sepanjang hayat.
Peran strategis pendidikan anak usia dini juga ditegaskan dalam kebijakan nasional melalui
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan
bahwa PAUD merupakan upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir hingga usia
enam tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan agar anak siap memasuki jenjang pendidikan
selanjutnya. Regulasi ini menegaskan bahwa PAUD tidak hanya berorientasi pada penguasaan
pengetahuan awal, tetapi juga pada pengembangan potensi, sikap, dan minat belajar anak secara
menyeluruh (Amperawati et al., 2022; Engkar, 2024; Nurachadijat & Selvia, 2023; Utaminingsih,
2018). Minat belajar menjadi aspek penting karena berfungsi sebagai penggerak utama keterlibatan
anak dalam kegiatan pembelajaran. Anak yang memiliki minat belajar tinggi cenderung lebih fokus,
antusias, dan mampu bertahan dalam aktivitas belajar yang dilakukan. Sebaliknya, rendahnya minat
belajar pada usia dini dapat berdampak pada munculnya sikap apatis terhadap pembelajaran di
jenjang pendidikan berikutnya (Budiasningrum et al., 2025; Rawanti et al., 2023). Oleh sebab itu,
strategi pembelajaran di PAUD harus diarahkan untuk menumbuhkan minat belajar melalui
pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.
Dalam perspektif pendidikan Islam, proses pembelajaran sejak usia dini memiliki dimensi
spiritual dan moral yang sangat penting. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai proses transfer
pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan insan yang beriman, berakhlak, dan berilmu
(Akmal et al., 2024; Chabib et al., 2025). Al-Qur’an menegaskan kemuliaan orang-orang yang
berilmu sebagaimana tercantum dalam Q.S. Al-Mujādalah ayat 11 yang menyatakan bahwa Allah
akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Nilai ini mengisyaratkan bahwa
pendidikan, termasuk pada anak usia dini, harus diarahkan pada pengembangan potensi intelektual
sekaligus pembentukan karakter (Aini, 2025; Haryono et al., 2024; Sari & Retnaningsih, 2023).
Dalam konteks PAUD berbasis nilai keislaman, pembelajaran idealnya mengintegrasikan aspek
kognitif, afektif, dan spiritual secara harmonis. Oleh karena itu, metode pembelajaran yang
digunakan perlu mempertimbangkan tidak hanya efektivitas akademik, tetapi juga kesesuaiannya
dengan nilai-nilai religius dan karakter anak. Pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan
humanis menjadi kunci agar anak memaknai belajar sebagai aktivitas positif dan bernilai ibadah.
Perkembangan teknologi digital dewasa ini membawa tantangan tersendiri bagi dunia
pendidikan anak usia dini. Anak-anak usia 56 tahun tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat
dengan gawai, televisi, dan berbagai bentuk hiburan digital yang bersifat instan. Paparan media
digital yang berlebihan tanpa pendampingan dapat menyebabkan menurunnya kemampuan fokus,
meningkatnya kejenuhan, serta berkurangnya interaksi sosial anak (Huda & Fahira, 2025; Saputri &
Wulandari, 2024; Susi et al., 2025). Fenomena tersebut juga berdampak pada proses pembelajaran
di lembaga PAUD, di mana anak cenderung cepat bosan terhadap kegiatan belajar yang bersifat
monoton dan kurang melibatkan aktivitas fisik maupun emosional. Hasil observasi awal di PAUD
Baqiyatus Shalihat Indonesia menunjukkan bahwa sebagian anak kurang antusias ketika mengikuti
pembelajaran yang berfokus pada pengenalan huruf dan angka secara konvensional. Kondisi ini
mengindikasikan adanya kebutuhan akan strategi pembelajaran alternatif yang lebih menarik,
kontekstual, dan sesuai dengan dunia anak.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 19 -
Minat belajar pada anak usia dini merupakan dorongan internal yang muncul ketika anak
merasa senang, tertarik, dan terlibat secara emosional dalam kegiatan belajar. Minat belajar tidak
dapat dipaksakan melalui instruksi atau tuntutan akademik, melainkan tumbuh secara alami melalui
pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna (Chesworth & Hedges, 2023; Wahyuni et
al., 2024). Teori humanistik menegaskan bahwa pembelajaran yang efektif terjadi ketika kebutuhan
emosional anak terpenuhi dan anak merasa aman serta dihargai dalam proses belajar (Kalsum et al.,
2025; Setiadi et al., 2023; Ursula, 2024). Dalam konteks PAUD, pendekatan bermain sambil belajar
menjadi prinsip utama untuk menumbuhkan minat belajar anak. Salah satu metode pembelajaran
yang sejalan dengan prinsip tersebut adalah metode bernyanyi, karena mampu menghadirkan
suasana belajar yang gembira, melibatkan berbagai indera, serta memberikan ruang bagi anak untuk
berekspresi secara bebas. Dengan demikian, metode bernyanyi dipandang sebagai strategi
pedagogis yang potensial untuk meningkatkan minat belajar anak usia dini di tengah tantangan
pembelajaran modern.
Metode bernyanyi dalam pembelajaran anak usia dini memiliki dasar teoretis yang kuat dalam
kajian psikologi perkembangan dan pendidikan. Bernyanyi merupakan aktivitas yang memadukan
unsur bahasa, irama, emosi, dan gerak tubuh sehingga mampu merangsang berbagai aspek
perkembangan anak secara simultan (Nofiafitranasari & Yeni, 2021; Zhang & Hussain, 2024).
Musik dan lagu memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan kognitif dan afektif anak
karena melibatkan kerja otak kanan dan kiri secara seimbang. Lagu yang disajikan dalam
pembelajaran juga berfungsi sebagai media simbolik yang membantu anak memahami konsep
secara konkret dan mudah diingat (Araújo et al., 2024; Octavyanti et al., 2024; Rosero et al., 2024).
Dalam konteks PAUD, bernyanyi bukan sekadar aktivitas hiburan, tetapi merupakan sarana
pedagogis yang memungkinkan anak belajar tanpa tekanan akademik. Hal ini sejalan dengan prinsip
developmentally appropriate practice (DAP) yang menekankan bahwa pembelajaran harus
disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kebutuhan anak (Cade et al., 2022; Diamond &
McCartney, 2022). Dengan demikian, metode bernyanyi menjadi salah satu pendekatan yang
relevan dan aplikatif untuk meningkatkan minat belajar anak usia dini.
Sejumlah penelitian terdahulu menunjukkan bahwa metode bernyanyi efektif dalam
meningkatkan minat dan keterlibatan anak dalam pembelajaran. Hasil penelitian Destiana (2025)
mengungkapkan bahwa penggunaan lagu tematik dalam pembelajaran PAUD mampu
meningkatkan perhatian dan partisipasi aktif anak secara signifikan. Penelitian lain oleh Rosila et
al., (2024) dan Rianti et al., (2022) juga menemukan bahwa anak-anak yang terlibat dalam kegiatan
bernyanyi menunjukkan tingkat antusiasme dan interaksi sosial yang lebih tinggi dibandingkan
dengan pembelajaran konvensional. Selain itu, metode bernyanyi terbukti membantu anak dalam
penguasaan kosakata, pengembangan bahasa, serta penguatan memori jangka panjang. Temuan-
temuan tersebut memperkuat argumen bahwa bernyanyi merupakan metode yang sesuai dengan
karakteristik belajar anak usia dini yang bersifat aktif, imajinatif, dan emosional. Namun demikian,
sebagian besar penelitian tersebut masih berfokus pada aspek hasil belajar atau peningkatan
kemampuan tertentu, sementara kajian mendalam mengenai proses implementasi dan pengalaman
guru masih relatif terbatas.
Di sisi lain, implementasi metode bernyanyi di lembaga PAUD tidak selalu berjalan secara
optimal. Perbedaan kompetensi guru, keterbatasan variasi lagu, serta kurangnya media pendukung
sering kali menjadi kendala dalam pelaksanaannya. Beberapa penelitian mencatat bahwa metode
bernyanyi cenderung digunakan secara repetitif tanpa pengembangan kreativitas sehingga
berpotensi menurunkan efektivitasnya (Dyramoti & Wahyuningsih, 2022; Hutagalung & Tangkin,
2023). Selain itu, karakteristik anak yang beragam, baik dari segi kemampuan bahasa, kepercayaan
diri, maupun latar belakang keluarga, menuntut guru untuk memiliki strategi adaptif dalam
mengelola kegiatan bernyanyi. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan metode bernyanyi
tidak hanya ditentukan oleh metode itu sendiri, tetapi juga oleh cara guru mengimplementasikannya
dalam konteks pembelajaran nyata. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang tidak hanya menilai
efektivitas metode bernyanyi, tetapi juga menggali faktor pendukung dan penghambat dalam
penerapannya di lapangan.
Pendekatan kualitatif fenomenologis menjadi relevan untuk mengkaji metode bernyanyi karena
mampu menggali makna pengalaman subjektif guru dan anak dalam proses pembelajaran.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 20 -
Fenomenologi berfokus pada bagaimana suatu fenomena dialami, dimaknai, dan dipersepsikan oleh
subjek yang terlibat langsung di dalamnya (Creswell & Poth, 2017). Dalam konteks pembelajaran
PAUD, pengalaman guru dalam menerapkan metode bernyanyi serta respons anak selama kegiatan
berlangsung merupakan sumber data yang kaya dan bermakna. Melalui pendekatan ini, peneliti
dapat memahami bagaimana guru merancang, melaksanakan, dan merefleksikan penggunaan
metode bernyanyi sebagai strategi pembelajaran. Selain itu, pendekatan fenomenologis
memungkinkan peneliti menangkap dinamika emosional, interaksi sosial, dan suasana belajar yang
tidak dapat diukur secara kuantitatif. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi
metodologis dengan menghadirkan perspektif pengalaman nyata dalam implementasi metode
bernyanyi.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa meskipun metode bernyanyi telah
banyak digunakan dalam pembelajaran anak usia dini, masih terdapat celah penelitian yang perlu
dikaji lebih mendalam, khususnya terkait proses implementasi, faktor pendukung dan penghambat,
serta persepsi guru terhadap efektivitas metode tersebut. Penelitian ini mengambil konteks PAUD
Baqiyatus Shalihat Indonesia sebagai lokasi penelitian karena lembaga ini secara aktif menerapkan
metode bernyanyi dalam kegiatan pembelajaran anak usia 56 tahun. Dengan menggunakan
pendekatan kualitatif fenomenologis, penelitian ini diharapkan mampu memberikan gambaran
komprehensif mengenai praktik pembelajaran bernyanyi secara kontekstual dan bermakna. Kajian
ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan teori pembelajaran anak usia dini, tetapi juga
memberikan implikasi praktis bagi guru PAUD dalam merancang pembelajaran yang
menyenangkan dan efektif. Oleh karena itu, penelitian ini memiliki relevansi akademik dan praktis
dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran dan minat belajar anak usia dini.
Penelitian mengenai metode bernyanyi dalam pendidikan anak usia dini pada dasarnya telah
berkembang cukup luas, namun sebagian besar kajian masih menempatkan bernyanyi sebagai
variabel teknis atau alat bantu pembelajaran semata. Banyak penelitian berfokus pada peningkatan
hasil belajar, kemampuan bahasa, atau aspek kognitif tertentu, tanpa mengulas secara mendalam
pengalaman guru dalam mengimplementasikan metode tersebut di kelas. Padahal, guru memegang
peran sentral dalam menentukan keberhasilan metode bernyanyi, mulai dari tahap perencanaan,
pemilihan lagu, pengelolaan kelas, hingga evaluasi respons anak. Perspektif guru sebagai pelaku
utama pembelajaran sering kali tereduksi dalam laporan penelitian yang bersifat kuantitatif. Oleh
karena itu, diperlukan kajian yang memosisikan guru sebagai subjek yang memiliki pengalaman,
refleksi, dan pemaknaan terhadap metode bernyanyi yang mereka terapkan dalam konteks nyata
pembelajaran PAUD.
Selain perspektif guru, kajian tentang minat belajar anak usia dini juga membutuhkan
pendekatan yang lebih kontekstual dan holistik. Minat belajar pada anak usia dini tidak dapat
dipahami semata-mata sebagai sikap kognitif, melainkan sebagai keterpaduan antara emosi,
perhatian, keterlibatan fisik, dan interaksi sosial (Wahyudi et al., 2024). Anak usia 56 tahun
menunjukkan minat belajar melalui ekspresi nonverbal seperti antusiasme, keaktifan mengikuti
kegiatan, serta respons spontan terhadap stimulasi pembelajaran. Metode bernyanyi, yang
menggabungkan unsur suara, irama, dan gerak, memiliki potensi besar untuk menstimulasi seluruh
aspek tersebut secara bersamaan. Namun demikian, belum banyak penelitian yang secara eksplisit
mengkaji bagaimana minat belajar anak dimaknai dan diamati melalui respons nyata anak selama
kegiatan bernyanyi berlangsung. Kekosongan kajian ini menunjukkan perlunya penelitian yang
mendeskripsikan fenomena minat belajar secara empiris dan kontekstual.
Penelitian ini juga menempatkan faktor pendukung dan penghambat sebagai bagian integral
dari kajian implementasi metode bernyanyi. Dalam praktiknya, keberhasilan suatu metode
pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh kesesuaian metode dengan karakteristik anak, tetapi juga
oleh kondisi lingkungan belajar, kebijakan lembaga, serta kesiapan profesional guru. Faktor-faktor
seperti ketersediaan media, dukungan manajemen sekolah, alokasi waktu pembelajaran, serta variasi
kemampuan anak menjadi elemen penting yang memengaruhi efektivitas metode bernyanyi.
Beberapa penelitian terdahulu memang telah mengidentifikasi kendala dalam pembelajaran kreatif
di PAUD, namun pembahasan tersebut sering kali bersifat umum dan belum dikaitkan secara
spesifik dengan metode bernyanyi. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya mengisi celah tersebut
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 21 -
dengan menghadirkan analisis mendalam mengenai faktor pendukung dan penghambat berdasarkan
pengalaman nyata guru di lapangan.
Keunikan penelitian ini terletak pada penggunaan pendekatan fenomenologis untuk mengkaji
implementasi metode bernyanyi secara komprehensif dari sudut pandang guru dan respons anak.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menangkap makna subjektif, refleksi profesional,
serta dinamika emosional yang menyertai proses pembelajaran bernyanyi. Dengan menggali
pengalaman guru secara mendalam, penelitian ini tidak hanya menjawab pertanyaan tentang “apa
yang dilakukan”, tetapi juga “bagaimana” dan “mengapa” metode bernyanyi dipersepsikan efektif
atau menghadapi kendala tertentu. Selain itu, pengamatan terhadap respons anak memberikan
gambaran konkret mengenai bagaimana metode bernyanyi berkontribusi terhadap peningkatan
minat belajar secara nyata di kelas. Pendekatan ini memperkuat validitas temuan karena data
diperoleh langsung dari praktik pembelajaran yang berlangsung secara alami.
Berdasarkan landasan teoretis, temuan penelitian terdahulu, serta celah penelitian yang telah
diidentifikasi, penelitian ini diarahkan untuk mendeskripsikan secara mendalam implementasi
metode bernyanyi dalam meningkatkan minat belajar anak usia 56 tahun di PAUD Baqiyatus
Shalihat Indonesia. Fokus penelitian mencakup proses pelaksanaan metode bernyanyi, faktor
pendukung dan penghambat penerapannya, serta persepsi dan pengalaman guru terhadap efektivitas
metode tersebut sebagai strategi pembelajaran yang bermakna. Dengan demikian, penelitian ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi teoretis bagi pengembangan kajian pembelajaran anak
usia dini, sekaligus kontribusi praktis bagi guru dan lembaga PAUD dalam merancang
pembelajaran yang kreatif, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik perkembangan anak.
Artikel ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan empiris bagi penelitian selanjutnya yang
mengkaji metode pembelajaran berbasis seni dan musik dalam konteks pendidikan anak usia dini.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif.
Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam
proses implementasi metode bernyanyi, faktor pendukung dan penghambat penerapannya, serta
persepsi dan pengalaman guru terhadap efektivitas metode tersebut dalam meningkatkan minat
belajar anak usia dini. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali makna, pengalaman,
serta dinamika pembelajaran secara kontekstual berdasarkan kondisi nyata di lapangan (Creswell &
Poth, 2017). Penelitian dilaksanakan di PAUD Baqiyatus Shalihat Indonesia yang berlokasi di
Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian
didasarkan pada pertimbangan bahwa lembaga tersebut secara konsisten menerapkan metode
bernyanyi sebagai bagian dari strategi pembelajaran pada kelompok kelas B (usia 56 tahun).
Kondisi ini menjadikan PAUD Baqiyatus Shalihat Indonesia relevan sebagai lokus penelitian yang
sesuai dengan fokus kajian implementasi metode bernyanyi dalam pembelajaran anak usia dini.
Subjek penelitian terdiri atas tiga orang guru kelas B yang secara langsung melaksanakan
pembelajaran menggunakan metode bernyanyi, serta satu orang wakil kepala PAUD sebagai
informan pendukung. Selain itu, anak-anak usia 56 tahun dijadikan sebagai subjek observasi untuk
melihat respons, partisipasi, dan minat belajar selama kegiatan bernyanyi berlangsung. Penentuan
subjek penelitian dilakukan secara purposive, dengan mempertimbangkan keterlibatan langsung
informan dalam pelaksanaan metode bernyanyi dan relevansinya terhadap tujuan penelitian. Teknik
pengumpulan data dilakukan melalui observasi nonpartisipan, wawancara mendalam, dan
dokumentasi. Observasi nonpartisipan digunakan untuk mengamati secara langsung proses
pembelajaran yang melibatkan metode bernyanyi, peran guru dalam memimpin kegiatan,
penggunaan media pembelajaran, serta respons dan keterlibatan anak selama kegiatan berlangsung.
Wawancara mendalam dilakukan secara semi-terstruktur kepada guru dan wakil kepala PAUD
untuk menggali informasi terkait pengalaman, persepsi, serta faktor pendukung dan penghambat
dalam penerapan metode bernyanyi. Dokumentasi digunakan sebagai data pendukung berupa
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH), foto kegiatan pembelajaran, serta daftar lagu
yang digunakan dalam proses pembelajaran.
Analisis data dilakukan secara interaktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan sebagaimana dikemukakan oleh Miles et al., (2018). Pada tahap reduksi data,
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 22 -
peneliti menyeleksi dan memfokuskan data yang relevan dengan tujuan penelitian. Selanjutnya, data
disajikan dalam bentuk narasi deskriptif yang sistematis untuk memudahkan pemahaman terhadap
temuan penelitian. Tahap akhir dilakukan dengan penarikan kesimpulan berdasarkan pola, tema,
dan hubungan antar data yang ditemukan selama proses penelitian. Keabsahan data dalam penelitian
ini dijaga melalui teknik triangulasi sumber dan teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan
membandingkan data yang diperoleh dari guru, wakil kepala PAUD, dan hasil observasi terhadap
anak. Sementara itu, triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan hasil observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kredibilitas dan
keandalan temuan penelitian, sehingga hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
3. Hasil dan Pembahasan
A. Implementasi Metode Bernyanyi dalam Pembelajaran Anak Usia 56 Tahun
Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode bernyanyi telah menjadi bagian integral dari
praktik pembelajaran di PAUD Baqiyatus Shalihat Indonesia, khususnya pada kelompok usia 56
tahun. Guru tidak memosisikan bernyanyi sebagai aktivitas tambahan, melainkan sebagai strategi
pembelajaran yang diterapkan secara konsisten sejak awal proses mengajar. Hal ini tercermin dari
pernyataan informan G1 yang menyampaikan bahwa metode bernyanyi telah digunakan sejak
awal mengajar karena dianggap dekat dengan dunia anak dan efektif menarik perhatian mereka
dalam pembelajaran (“metode ini saya terapkan secara konsisten karena bernyanyi merupakan
kegiatan yang dekat dengan dunia anak” Wawancara G1). Temuan ini menegaskan bahwa
penggunaan metode bernyanyi berangkat dari kesadaran pedagogis guru terhadap karakteristik
perkembangan anak usia dini.
Tahap perencanaan kegiatan bernyanyi dilakukan dengan mengacu pada tema dan tujuan
pembelajaran yang tercantum dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH). Guru
secara sadar menyeleksi lagu yang relevan dengan materi agar kegiatan bernyanyi tidak
kehilangan makna edukatif. Informan G1 menjelaskan bahwa pemilihan lagu selalu disesuaikan
dengan tema pembelajaran, sedangkan G3 menyatakan bahwa referensi lagu diperoleh dari media
digital seperti YouTube dengan mempertimbangkan kemudahan anak dalam mengikuti lirik dan
irama. Pernyataan ini menunjukkan bahwa guru menjalankan prinsip developmentally appropriate
practice dengan menyesuaikan materi pembelajaran pada kebutuhan dan kemampuan anak (Cade
et al., 2022; Diamond & McCartney, 2022).
Dalam pelaksanaannya, kegiatan bernyanyi diawali dengan pengondisian kelas agar anak siap
secara emosional dan perhatian. Guru menggunakan strategi seperti circle time dan ice breaking
untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif. Informan G1 menyatakan bahwa posisi
melingkar membuat anak lebih fokus dan terlibat aktif, sementara informan G2 menambahkan
bahwa kegiatan pemanasan sebelum bernyanyi membantu anak menjadi lebih rileks dan siap
mengikuti pembelajaran. Hasil observasi menunjukkan bahwa ketika anak berada dalam kondisi
siap dan nyaman, tingkat partisipasi mereka dalam kegiatan bernyanyi meningkat secara
signifikan. Temuan ini sejalan dengan pandangan humanistik yang menekankan pentingnya rasa
aman dan kenyamanan emosional dalam proses belajar anak (Ursula, 2024; Kalsum et al., 2025).
Strategi guru dalam meningkatkan antusiasme anak juga terlihat dari penggunaan variasi
lagu, gerakan tubuh, serta ekspresi yang ceria. Informan G1 dan G3 menekankan pentingnya
penambahan gerakan tangan dan tubuh agar anak tidak hanya bernyanyi secara verbal, tetapi juga
terlibat secara fisik. Sementara itu, informan G2 menyoroti bahwa sikap guru yang bersemangat
dan ekspresif sangat memengaruhi respons anak. Hasil observasi menguatkan temuan ini, di mana
anak terlihat lebih aktif mengikuti kegiatan ketika guru menunjukkan ekspresi ceria dan penuh
energi. Kondisi tersebut mendukung pandangan bahwa musik dan gerakan dapat menstimulasi
keterlibatan multisensorik anak dalam pembelajaran (Araújo et al., 2024; Rosero et al., 2024).
Respons anak terhadap metode bernyanyi secara umum menunjukkan tingkat antusiasme
yang tinggi. Ketiga guru kelas menyatakan bahwa anak terlihat senang, bersemangat, dan aktif
mengikuti kegiatan bernyanyi, baik dalam menyanyi maupun melakukan gerakan. Observasi
lapangan juga mencatat bahwa anak-anak lebih fokus dan jarang menunjukkan perilaku pasif
ketika pembelajaran dikemas melalui lagu. Respons positif ini mengindikasikan bahwa metode
bernyanyi mampu menumbuhkan minat belajar anak secara alami, sebagaimana dijelaskan oleh
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 23 -
Chesworth dan Hedges (2023) bahwa minat belajar anak tumbuh melalui pengalaman belajar yang
menyenangkan dan bermakna.
Selain berdampak pada minat belajar, metode bernyanyi juga mempermudah anak dalam
memahami materi pembelajaran. Informan G1 menyampaikan bahwa anak lebih cepat mengingat
dan memahami materi ketika disampaikan melalui lagu, sedangkan informan G4 menegaskan
bahwa bernyanyi membantu anak memahami pembelajaran dengan cara yang lebih sederhana dan
menarik. Temuan ini mendukung hasil penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa lagu
berfungsi sebagai media simbolik yang membantu anak mengingat konsep dan kosakata secara
lebih efektif (Octavyanti et al., 2024; Zhang & Hussain, 2024).
Berdasarkan temuan tersebut, dapat dipahami bahwa implementasi metode bernyanyi di
PAUD Baqiyatus Shalihat Indonesia tidak hanya berjalan secara teknis, tetapi juga dimaknai
sebagai strategi pembelajaran yang kontekstual dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini.
Guru memanfaatkan bernyanyi sebagai sarana untuk membangun suasana belajar yang
menyenangkan, meningkatkan keterlibatan anak, serta menumbuhkan minat belajar secara
berkelanjutan. Temuan ini memperkuat penelitian Destiana (2025) dan Rosila et al. (2024),
sekaligus memberikan gambaran empiris mengenai bagaimana metode bernyanyi
diimplementasikan dan dirasakan efektivitasnya oleh guru dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
B. Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Metode Bernyanyi dalam
Pembelajaran Anak Usia 56 Tahun
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan penerapan metode bernyanyi di PAUD
Baqiyatus Shalihat Indonesia tidak terlepas dari sejumlah faktor pendukung yang bersifat
pedagogis, institusional, dan personal guru. Salah satu faktor pendukung utama adalah kompetensi
dan kreativitas guru dalam mengelola pembelajaran. Informan G1 menegaskan bahwa
keberhasilan metode bernyanyi sangat dipengaruhi oleh kesiapan guru dalam memilih lagu,
mengatur alur kegiatan, serta membangun suasana kelas yang menyenangkan (“kalau gurunya
siap dan kreatif, anak-anak pasti ikut antusias” Wawancara G1). Pernyataan ini menunjukkan
bahwa peran guru sebagai fasilitator pembelajaran memiliki posisi strategis dalam menentukan
efektivitas metode bernyanyi.
Faktor pendukung lainnya adalah kesesuaian metode bernyanyi dengan karakteristik
perkembangan anak usia dini. Informan G2 dan G3 menyampaikan bahwa anak usia 56 tahun
pada dasarnya menyukai aktivitas yang melibatkan musik, gerakan, dan ekspresi. Kondisi ini
membuat metode bernyanyi relatif mudah diterapkan tanpa paksaan, karena selaras dengan dunia
bermain anak. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa pembelajaran anak usia dini harus
berorientasi pada aktivitas yang menyenangkan dan bermakna, sehingga anak terlibat secara alami
dalam proses belajar (Chesworth & Hedges, 2023; Kalsum et al., 2025).
Dukungan sarana dan prasarana juga menjadi faktor penting dalam menunjang pelaksanaan
metode bernyanyi. Informan G3 menjelaskan bahwa ketersediaan media seperti speaker, akses
internet, serta referensi lagu anak dari platform digital sangat membantu guru dalam
mengembangkan variasi pembelajaran. Selain itu, informan WK menyatakan bahwa pihak sekolah
memberikan keleluasaan kepada guru untuk berinovasi dalam pembelajaran, termasuk
penggunaan media audio-visual sederhana. Dukungan institusional ini menciptakan iklim sekolah
yang kondusif bagi penerapan metode pembelajaran kreatif dan inovatif.
Faktor pendukung berikutnya adalah respon positif anak terhadap kegiatan bernyanyi.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, anak menunjukkan antusiasme tinggi, keterlibatan
aktif, serta fokus yang lebih baik ketika pembelajaran dilakukan melalui lagu. Informan G2
menyebutkan bahwa anak cenderung lebih mudah diarahkan dan jarang menunjukkan perilaku
pasif atau bosan saat bernyanyi. Respons positif ini berperan sebagai reinforcement alami yang
mendorong guru untuk terus menggunakan dan mengembangkan metode bernyanyi dalam
pembelajaran sehari-hari.
Meskipun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya faktor-faktor penghambat dalam
penerapan metode bernyanyi. Salah satu hambatan utama adalah perbedaan karakter dan kondisi
emosional anak. Informan G1 dan G2 mengungkapkan bahwa tidak semua anak selalu berada
dalam kondisi siap mengikuti kegiatan bernyanyi, terutama ketika anak datang ke sekolah dengan
suasana hati yang kurang baik atau kelelahan. Kondisi ini menyebabkan sebagian anak kurang
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 24 -
responsif atau enggan terlibat aktif dalam kegiatan. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas
metode bernyanyi tetap dipengaruhi oleh faktor internal anak yang bersifat situasional.
Hambatan lainnya berkaitan dengan keterbatasan waktu pembelajaran. Informan G3
menyampaikan bahwa jadwal pembelajaran yang padat sering kali membuat guru harus membagi
waktu antara kegiatan bernyanyi dengan aktivitas pembelajaran lainnya. Akibatnya, kegiatan
bernyanyi terkadang tidak dapat dilakukan secara optimal atau mendalam. Kondisi ini menuntut
guru untuk memiliki kemampuan manajemen waktu yang baik agar metode bernyanyi tetap dapat
diintegrasikan secara efektif ke dalam pembelajaran tematik.
Selain itu, keterbatasan variasi lagu yang sesuai dengan tema pembelajaran juga menjadi
tantangan tersendiri bagi guru. Informan G1 menyatakan bahwa tidak semua tema pembelajaran
memiliki lagu anak yang relevan dan mudah dipahami. Hal ini mengharuskan guru untuk
memodifikasi lirik lagu atau menciptakan lagu sederhana sendiri, yang pada praktiknya
membutuhkan waktu dan kreativitas ekstra. Hambatan ini menunjukkan bahwa penerapan metode
bernyanyi menuntut kesiapan profesional guru yang tidak hanya mengandalkan materi yang
tersedia, tetapi juga kemampuan berinovasi.
Faktor penghambat lain yang muncul adalah perbedaan kemampuan guru dalam bernyanyi
dan berekspresi. Informan WK menyampaikan bahwa tidak semua guru memiliki tingkat
kepercayaan diri yang sama dalam bernyanyi di depan kelas. Kondisi ini berpotensi memengaruhi
kualitas penyampaian pembelajaran, karena ekspresi dan antusiasme guru sangat berpengaruh
terhadap respons anak. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menekankan
bahwa sikap dan performa guru merupakan faktor kunci dalam keberhasilan metode pembelajaran
berbasis seni dan musik (Araújo et al., 2024; Rosero et al., 2024).
Secara keseluruhan, temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode bernyanyi di
PAUD Baqiyatus Shalihat Indonesia didukung oleh kesesuaian metode dengan karakter anak,
kreativitas guru, dukungan sarana, serta respon positif peserta didik. Namun demikian,
implementasi metode ini juga menghadapi hambatan berupa perbedaan kondisi anak, keterbatasan
waktu, variasi lagu, dan kesiapan personal guru. Oleh karena itu, optimalisasi metode bernyanyi
memerlukan dukungan berkelanjutan dari sekolah serta penguatan kompetensi guru agar faktor
penghambat dapat diminimalkan dan faktor pendukung dapat dimaksimalkan secara
berkelanjutan.
C. Persepsi dan Pengalaman Guru terhadap Efektivitas Metode Bernyanyi dalam
Pembelajaran Anak Usia Dini
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru di PAUD Baqiyatus Shalihat Indonesia memiliki
persepsi yang sangat positif terhadap metode bernyanyi sebagai strategi pembelajaran yang efektif
dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini. Para guru memandang metode bernyanyi bukan
sekadar aktivitas hiburan, melainkan sebagai pendekatan pedagogis yang mampu menjembatani
kebutuhan perkembangan kognitif, afektif, dan sosial anak. Informan G1 menyampaikan bahwa
melalui kegiatan bernyanyi, anak lebih mudah diarahkan dan menunjukkan keterlibatan yang lebih
aktif dibandingkan dengan metode ceramah atau penugasan konvensional (“kalau pakai lagu,
anak-anak lebih fokus dan tidak cepat bosan” Wawancara G1). Persepsi ini menunjukkan
bahwa guru memaknai metode bernyanyi sebagai sarana untuk menciptakan pembelajaran yang
bermakna dan ramah anak.
Dari aspek pengalaman praktis, guru menilai bahwa metode bernyanyi mampu meningkatkan
minat belajar anak secara signifikan. Informan G2 menjelaskan bahwa anak-anak tampak lebih
antusias mengikuti pembelajaran, berani mengekspresikan diri, dan lebih aktif berinteraksi dengan
teman sebaya saat kegiatan bernyanyi berlangsung. Guru juga mengamati bahwa anak yang
sebelumnya pasif cenderung mulai terlibat ketika pembelajaran disampaikan melalui lagu dan
gerakan. Temuan ini menunjukkan bahwa metode bernyanyi berfungsi sebagai stimulus emosional
yang mendorong keterlibatan anak secara alami dalam proses belajar (Chesworth & Hedges,
2023).
Selain meningkatkan minat belajar, guru juga memersepsikan metode bernyanyi sebagai
strategi yang mempermudah penyampaian materi pembelajaran. Informan G3 menyatakan bahwa
anak lebih cepat mengingat materi ketika disampaikan melalui lagu, terutama untuk konsep-
konsep dasar seperti nilai agama, kebiasaan baik, bahasa, dan tema-tema keseharian (“anak cepat
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 25 -
hafal kalau lewat lagu” Wawancara G3). Persepsi ini memperkuat pandangan bahwa musik dan
ritme berperan penting dalam membantu proses memori dan pemahaman anak usia dini,
sebagaimana ditegaskan dalam penelitian terdahulu terkait pembelajaran berbasis seni (Araújo et
al., 2024).
Guru juga memandang metode bernyanyi sebagai pendekatan yang mendukung pembelajaran
holistik, karena tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada perkembangan sosial-
emosional anak. Informan WK menyampaikan bahwa kegiatan bernyanyi mendorong anak untuk
bekerja sama, menunggu giliran, serta mengekspresikan perasaan secara positif. Dalam
praktiknya, anak belajar bersosialisasi dan mengendalikan emosi melalui interaksi yang terjadi
selama kegiatan bernyanyi. Hal ini menunjukkan bahwa metode bernyanyi berkontribusi terhadap
pembentukan sikap dan karakter anak secara tidak langsung, sejalan dengan prinsip pendidikan
anak usia dini yang menekankan keseimbangan aspek perkembangan (Kalsum et al., 2025).
Meskipun memiliki persepsi yang positif, guru juga menunjukkan kesadaran reflektif
terhadap keterbatasan metode bernyanyi. Informan G1 dan G2 menyampaikan bahwa efektivitas
metode ini sangat bergantung pada kesiapan guru dalam mengelola kelas dan menyesuaikan
kegiatan dengan kondisi anak. Guru menyadari bahwa metode bernyanyi tidak dapat diterapkan
secara monoton dan membutuhkan variasi serta kreativitas agar tetap relevan dan menarik.
Kesadaran reflektif ini menunjukkan bahwa guru tidak memandang metode bernyanyi sebagai
solusi tunggal, melainkan sebagai salah satu strategi yang perlu dikombinasikan dengan
pendekatan pembelajaran lain.
Pengalaman guru juga menunjukkan bahwa metode bernyanyi memberikan kepuasan
profesional dalam praktik pembelajaran. Informan G3 menyatakan bahwa suasana kelas yang
lebih hidup dan respons positif anak membuat guru merasa lebih termotivasi dan percaya diri
dalam mengajar. Kondisi ini berkontribusi pada terbentuknya relasi positif antara guru dan peserta
didik, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas pembelajaran secara keseluruhan. Temuan ini
sejalan dengan penelitian Rosero et al. (2024) yang menegaskan bahwa metode pembelajaran
kreatif dapat meningkatkan kesejahteraan emosional guru sekaligus efektivitas pembelajaran.
Secara keseluruhan, persepsi dan pengalaman guru menunjukkan bahwa metode bernyanyi
dipandang sebagai strategi pembelajaran yang efektif, menyenangkan, dan kontekstual bagi anak
usia dini. Guru menilai metode ini mampu meningkatkan minat belajar, mempermudah
pemahaman materi, serta mendukung perkembangan sosial-emosional anak. Meskipun
menghadapi sejumlah tantangan dalam implementasinya, guru tetap melihat metode bernyanyi
sebagai pendekatan yang relevan dan layak dipertahankan dalam praktik pembelajaran PAUD.
Dengan demikian, persepsi dan pengalaman guru menjadi bukti empiris bahwa metode bernyanyi
memiliki nilai pedagogis yang kuat dalam pembelajaran anak usia dini.
D. Sintesis Temuan Penelitian
Sintesis temuan penelitian ini menunjukkan bahwa metode bernyanyi memiliki peran yang
signifikan dan multidimensional dalam meningkatkan minat belajar anak usia 56 tahun di PAUD
Baqiyatus Shalihat Indonesia. Integrasi antara hasil rumusan masalah pertama, kedua, dan ketiga
memperlihatkan bahwa efektivitas metode bernyanyi tidak hanya ditentukan oleh aktivitas
bernyanyi itu sendiri, tetapi oleh keterpaduan antara perencanaan guru, dukungan kelembagaan,
serta persepsi dan pengalaman profesional guru dalam mengelola pembelajaran anak usia dini.
Berdasarkan hasil RM 1, implementasi metode bernyanyi terbukti dilakukan secara terencana
dan kontekstual, dengan menyesuaikan lagu terhadap tema pembelajaran dan karakteristik
perkembangan anak. Guru mempersiapkan lagu sebelum pembelajaran, mengatur posisi anak
dalam circle time, serta mengombinasikan nyanyian dengan gerakan tubuh yang aktif. Praktik ini
menunjukkan bahwa metode bernyanyi digunakan sebagai strategi pedagogis yang disengaja
(intentional teaching), bukan sebagai aktivitas spontan tanpa tujuan pembelajaran. Hal ini
menegaskan bahwa kualitas implementasi metode bernyanyi sangat bergantung pada kompetensi
pedagogik guru dalam merancang pembelajaran yang bermakna.
Temuan dari RM 2 melengkapi pemahaman tersebut dengan menunjukkan bahwa
keberhasilan metode bernyanyi dipengaruhi oleh faktor pendukung dan penghambat yang bersifat
struktural dan individual. Faktor pendukung utama meliputi antusiasme anak, kesiapan guru,
ketersediaan sarana pendukung seperti speaker dan alat musik sederhana, serta dukungan
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 26 -
kebijakan dari lembaga. Sebaliknya, keterbatasan literasi lagu anak, variasi kompetensi guru, dan
keterbatasan fasilitas masih menjadi kendala dalam optimalisasi metode bernyanyi. Sintesis ini
menunjukkan bahwa efektivitas metode bernyanyi tidak dapat dilepaskan dari ekosistem
pembelajaran PAUD secara keseluruhan.
Lebih lanjut, hasil RM 3 memperkuat temuan sebelumnya melalui perspektif reflektif guru
mengenai efektivitas metode bernyanyi. Guru memersepsikan metode ini sebagai pendekatan yang
mampu meningkatkan minat belajar, mempermudah pemahaman materi, serta menciptakan
suasana pembelajaran yang menyenangkan dan tidak menekan anak. Pengalaman guru
menunjukkan bahwa anak menjadi lebih aktif, berani berekspresi, dan lebih fokus selama
pembelajaran berlangsung. Persepsi positif ini tidak hanya berkontribusi pada keberhasilan
pembelajaran, tetapi juga meningkatkan motivasi dan kepuasan profesional guru dalam
menjalankan tugas pedagogiknya.
Sintesis lintas rumusan masalah juga menunjukkan adanya hubungan kausal yang saling
menguatkan antara implementasi metode bernyanyi, faktor pendukung, dan persepsi guru.
Implementasi yang baik mendorong respon positif anak, yang pada gilirannya memperkuat
persepsi guru terhadap efektivitas metode bernyanyi. Persepsi positif tersebut kemudian
memotivasi guru untuk terus mengembangkan kreativitas dan variasi pembelajaran, meskipun
menghadapi keterbatasan sarana. Dengan demikian, metode bernyanyi berfungsi tidak hanya
sebagai strategi pembelajaran, tetapi juga sebagai pemicu siklus positif dalam praktik pedagogik
PAUD.
Temuan penelitian ini juga menegaskan bahwa metode bernyanyi memiliki kontribusi
penting dalam menciptakan pembelajaran yang holistik dan ramah anak. Melalui bernyanyi, anak
tidak hanya memperoleh pengalaman belajar kognitif, tetapi juga mengembangkan aspek sosial-
emosional seperti kerja sama, keberanian, dan ekspresi diri. Hal ini menunjukkan bahwa metode
bernyanyi selaras dengan prinsip pembelajaran anak usia dini yang menekankan keseimbangan
antara aspek akademik dan perkembangan kepribadian anak.
Secara keseluruhan, sintesis temuan penelitian memperlihatkan bahwa metode bernyanyi
merupakan pendekatan pembelajaran yang efektif, adaptif, dan berkelanjutan dalam meningkatkan
minat belajar anak usia dini, selama didukung oleh perencanaan yang matang, kompetensi guru,
serta kebijakan lembaga yang kondusif. Temuan ini memberikan landasan empiris yang kuat bagi
pengembangan praktik pembelajaran kreatif di PAUD dan memperkuat posisi metode bernyanyi
sebagai strategi pedagogis yang relevan dan layak dipertahankan.
4. Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa implementasi metode bernyanyi di PAUD
Baqiyatus Shalihat Indonesia dilaksanakan secara terencana dan terintegrasi dalam kegiatan pembelajaran
sesuai dengan tema serta karakteristik perkembangan anak usia 56 tahun, sehingga mampu menciptakan
suasana belajar yang menyenangkan, meningkatkan keterlibatan aktif anak, dan menumbuhkan minat
belajar secara alami. Keberhasilan penerapan metode bernyanyi didukung oleh kreativitas dan kompetensi
guru, antusiasme anak, dukungan kebijakan lembaga, serta ketersediaan sarana pembelajaran, meskipun
masih dijumpai beberapa hambatan seperti keterbatasan variasi lagu, perbedaan kemampuan anak, dan
kesiapan sebagian guru dalam mengelola kegiatan secara optimal. Persepsi dan pengalaman guru
menunjukkan bahwa metode bernyanyi dipandang sebagai strategi pembelajaran yang efektif, bermakna,
dan sesuai dengan dunia anak usia dini karena mampu meningkatkan fokus, motivasi, dan respon positif
anak terhadap pembelajaran. Oleh karena itu, disarankan agar guru PAUD terus mengembangkan variasi
dan kualitas pelaksanaan metode bernyanyi, lembaga pendidikan memperkuat dukungan fasilitas dan
peningkatan kompetensi pendidik melalui pelatihan berkelanjutan, serta peneliti selanjutnya mengkaji
metode bernyanyi dengan pendekatan dan cakupan yang lebih luas guna memperkaya pengembangan
teori dan praktik pembelajaran anak usia dini.
5. Daftar Pustaka
Aini, P. A. N. (2025). Implikasi Pendidikan dari Al-Qur’an Surat Al Mujadalah Ayat 11 tentang Derajat
Orang yang Beriman dan Berilmu Pengetahuan terhadap Kewajiban Menuntut Ilmu. Bandung
Conference Series: Islamic Education, 5(2). https://doi.org/10.29313/bcsied.v5i2.21408
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 27 -
Akmal, M. J., Arya Rahardja, M. N., Syahidin, S., & Fakhruddin, A. (2024). Membangun Potensi Melalui
Pendidikan Anak: Perspektif Ibnu Sina dalam Islam. Al-Hikmah: Jurnal Agama Dan Ilmu
Pengetahuan, 21(2), 250263. https://doi.org/10.25299/al-hikmah:jaip.2024.vol21(2).19291
Amperawati, L., Muniroh, D., & Susanti, D. (2022). Usulan STPPA pendidikan anak usia dini 56 tahun.
Al Hanin, 2(2), 4355. https://doi.org/10.38153/alhanin.v2i2.27
Araújo, M. C. M. A. D., Freitas, S. H. C. D., Lima, L. M. R. D., Caio Victor Barros Gonçalves Da Silva,
Lopes, I. M. S. D. S., Coutinho, M. M., Silva, I. T. S. A. D., & Baracho, E. F. D. S. S. (2024). A
Influência da Educação Musical no Desenvolvimento Cognitivo Infantil. Inova Saúde, 14(5), 159
172. https://doi.org/10.18616/inova.v14i5.8566
Budiasningrum, R. S., Setiawan, J., & Efendi, A. S. (2025). Pentingnya pemilihan metode pembelajaran
dalam meningkatkan minat belajar peserta didik. EDUCATIONAL: Jurnal Inovasi Pendidikan &
Pengajaran, 5(2), 295304. https://doi.org/10.51878/educational.v5i2.5017
Cade, J., Wardle, F., & Otter, J. (2022). Toddler and preschool teachers’ beliefs and perceptions about the
use of developmentally appropriate practice. Cogent Education, 9(1), 2018908.
https://doi.org/10.1080/2331186X.2021.2018908
Chabib, M., Luthfi, M., & Rohimah, S. (2025). Proses Belajar Perspektif Psikologi Pendidikan Islam.
TSAQOFAH, 5(5), 42574267. https://doi.org/10.58578/tsaqofah.v5i5.6755
Chesworth, L., & Hedges, H. (2023). Children’s interests and curriculum making in early childhood
education. In International Encyclopedia of Education (Fourth Edition) (pp. 173180). Elsevier.
https://doi.org/10.1016/B978-0-12-818630-5.03027-X
Creswell, J. W., & Poth, C. N. (2017). Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five
Approaches. SAGE Publications.
Destiana, E. (2025). Pemanfaatan Lagu Anak Dengan Tema Lokal Dalam Pembelajaran PAUD: Studi
Kualitatif Penerimaan Dan Dampaknya Terhadap Pembelajaran. Jurnal Pelita PAUD, 9(2), 558
567. https://doi.org/10.33222/pelitapaud.v9i2.4834
Diamond, L. L., & McCartney, C. M. (2022). Developmentally Appropriate Practice. In Developmentally
Appropriate Practice. Routledge. https://doi.org/10.4324/9780367198459-REPRW144-1
Dyramoti, M., & Wahyuningsih, R. (2022). Pengaruh Aktivitas Bernyanyi Terhadap Daya Ingat, Motivasi
Belajar, dan Kreativitas Anak di TK Methodist Jakarta Utara. Jurnal PAUD Agapedia, 6(2), 197
208. https://doi.org/10.17509/jpa.v6i2.52012
Engkar, S. R. (2024). Meningkatkan Kemampuan Bertanya Anak Usia Dini melalui Eksperimen Sains di
Kober Nurul Huda. AS-SABIQUN, 6(3), 529542. https://doi.org/10.36088/assabiqun.v6i3.4749
Haryono, B., Pramana, A., Muslihah, S., Syaifulah, S., & Maulidin, S. (2024). Konsep pendidikan Islam
dan relevansi Surah Al-Mujadalah ayat 11 dalam pembentukan karakter peserta didik. TEACHER:
Jurnal Inovasi Karya Ilmiah Guru, 4(3), 116127. https://doi.org/10.51878/teacher.v4i3.4230
Huda, K., & Fahira, D. (2025). Analisis Dampak Intensitas Penggunaan Gadget Terhadap Perilaku Sosial
Anak Usia Dini Di Masa Mendatang Kelompok B TK Al Anwar Tahun 2024/2025: Gadgets, Early
childhood, Parents. Journal Transformation of Mandalika, e-ISSN: 2745-5882, p-ISSN: 2962-2956,
6(6), 173177. https://doi.org/10.36312/jtm.v6i5.5031
Hutagalung, D. G. A., & Tangkin, W. P. (2023). Penerapan Metode Bernyanyi Sebagai Upaya
Mengembangkan Konsentrasi Belajar Anak Usia Dini. Indonesian Journal of Early Childhood:
Jurnal Dunia Anak Usia Dini, 5(1), 111119. https://doi.org/10.35473/ijec.v5i1.2035
Kalsum, U., Cholwatiah, C., Tanjung, C., & Ferdiansyah, F. (2025). The Influence of Humanistic
Learning Theory on Students’ Learning Motivation in Elementary School. PKM-P, 9(1), 207211.
https://doi.org/10.32832/jurma.v9i1.2721
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2018). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook.
SAGE Publications.
Nofiafitranasari, N., & Yeni, I. Y. (2021). Analisis metode bernyanyi terhadap perkembangan emosional
pada anak usia dini. Early Childhood: Jurnal Pendidikan, 5(2), 1423.
https://doi.org/10.35568/earlychildhood.v5i2.1244
Nurachadijat, K., & Selvia, M. (2023). Peran Lembaga Pendidikan Anak Usia Dini dalam Implementasi
Kurikulum dan Metode Belajar pada Anak Usia Dini. Jurnal Inovasi, Evaluasi Dan Pengembangan
Pembelajaran (JIEPP), 3(2), 5766. https://doi.org/10.54371/jiepp.v3i2.284
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 28 -
Octavyanti, N. P. L., Suarni, N. K., & Margunayasa, I. G. (2024). Peningkatan Perkembangan Kognitif
Siswa melalui Musik dan Lagu dalam Pembelajaran. Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, 9(2),
472478. https://doi.org/10.51169/ideguru.v9i2.859
Ogbemudia, I. M., Alasa, V. M., & Ikenyiri, J. C. (2024). The Montessori Pedagogy: A Multi-Sensory
Approach to Childhood Education. Jurnal Pendidikan Abad Ke-21, 2(2), 5365.
https://doi.org/10.53889/jpak.v2i2.505
Phillips, B. (2022). Montessori Method, and the Neurosequential Model in Education (NME): A
Comparative Study. Journal of Montessori Research, 8(2), 3343.
https://doi.org/10.17161/jomr.v8i2.18419
Phillipson, S., Goff, W., Richards, G., & Garvis, S. (2025). Early Childhood Education and Care. In S.
Phillipson, W. Goff, G. Richards, & S. Garvis, Childhood Studies. Oxford University Press.
https://doi.org/10.1093/obo/9780199791231-0294
Rawanti, S., Juniarti, Y., Puspa Ardini, P., Mardian Arif, R., & Eti Hardianti, W. (2023). Pengaruh Alat
Permainan Edukatif Berbasis Bahan Lingkungan Sesuai Karakteristik Daerah Terhadap Minat
Belajar Anak. Jurnal Pelita PAUD, 8(1), 273285. https://doi.org/10.33222/pelitapaud.v8i1.3530
Rianti, Hayani, S., Hidayati, I. N., Kurniati, R., & Mufidah, S. (2022). Implementasi Metode Bernyanyi
dalam Mengembangkan Sosial Emosional Anak Usia Dini. Journal Ashil: Jurnal Pendidikan Anak
Usia Dini, 2(2), 4860. https://doi.org/10.33367/piaud.v2i2.2963
Rosero, M. A. M., Tapia, E. L. T., Haro, V. J. V., & Carrillo, J. A. M. (2024). La música como
herramienta efectiva para potenciar el desarrollo cognitivo en los niños. Revista de Investigación
Educativa Niveles, 1(2), 3141. https://doi.org/10.61347/rien.v1i2.62
Rosila, R., Mukhlis, M., & Harahap, S. D. (2024). Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia Dini
Melalui Metode Bernyanyi di Raudhatul Athfal Roihanul Jannah. Ta’rim: Jurnal Pendidikan Dan
Anak Usia Dini, 6(1), 189196. https://doi.org/10.59059/tarim.v6i1.1990
Safira, N., & Hidayah, A. (2022). Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill) Untuk Anak Usia Dini.
Jurnal Indonesia Sosial Teknologi, 3(09), 10021009. https://doi.org/10.59141/jist.v3i09.489
Saputri, N. A., & Wulandari, H. (2024). Parental problems in early children’s education in the digital era.
Inovasi Kurikulum, 21(1), 287302. https://doi.org/10.17509/jik.v21i1.64115
Sari, D. F. P. A., & Retnaningsih, D. A. (2023). Keutamaan orang berilmu dalam Al-Qur’an Surat Al-
Mujadalah ayat 11. Tarbiya Islamica, 10(2), 118129. https://doi.org/10.37567/ti.v10i2.2252
Sausan, A. N., Cantika, B., Nuralif, E., & Haqi, Y. M. (2022). Pengaruh Stimulasi Alat Permainan
Edukatif Terhadap Perkembangan Kognitif pada Anak Usia 5-6 Tahun. Asghar: Journal of
Children Studies, 2(2), 153158. https://doi.org/10.28918/asghar.v2i2.6306
Setiadi, W. A., Aryani, D., & Fu’adin, A. (2023). Teori Belajar Humanistik Terhadap Motivasi Siswa
Meningkatkan Prestasi Belajar. Jurnal Ilmu Sosial, Humaniora Dan Seni, 1(6), 632635.
https://doi.org/10.62379/jishs.v1i6.887
Susi, Rahayu, Y. M., & Suwandi. (2025). Mendidik Anak dalam Keluarga: Panduan Praktis Bagi Orang
Tua di Era Modern. Deepublish.
Ursula, P. A. (2024). Application of Humanistic Learning Theory in Increasing Student Learning
Motivation. International Journal of Sustainable Social Science (IJSSS), 2(5), 323334.
https://doi.org/10.59890/ijsss.v2i5.2625
Utaminingsih, S. (2018). Kebijakan Penyelenggaraan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Berdasarkan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dalam Perspektif
Negara Hukum Kesejahteraan (Studi Kasus di Kota Tangerang Selatan). Proceedings Universitas
Pamulang, 1(1). https://openjournal.unpam.ac.id/index.php/Proceedings/article/view/2168
Wahyudi, M., Arisanti, F., & Muttaqin, M. ‘Azam. (2024). Pendekatan Holistik Dalam Pendidikan Anak
Usia Dini: Menyelaraskan Aspek Kognitif, Emosional dan Sosial. Journal of Early Childhood
Education Studies, 4(1), 3372. https://doi.org/10.54180/joeces.2024.4.1.33-72
Wahyuni, S., Handayani, A., & Rakhmawati, D. (2024). Meningkatkan Minat Belajar Anak Taman
Kanak-kanak melalui Pembelajaran di Luar Kelas. Pedagogika: Jurnal Ilmu-Ilmu Kependidikan,
4(1), 2833. https://doi.org/10.57251/ped.v4i1.1409
Wardhani, R. D. K. (2023). Dasar pendidikan anak usia dini menuju pendidikan sekolah dasar. Journal of
Early Childhood Education (JECE), 4(2), 8999. https://doi.org/10.15408/jece.v4i2.31039
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 17-29
E-ISSN: 3026-4014
- 29 -
Zhang, L., & Hussain, P. D. D. Y. B. (2024). Effect of Singing on the Psychological Development of
Preschool Children Aged 4 5 Years. International Journal of Education, Humanities and Social
Sciences, 1(1), 148156. https://doi.org/10.70088/9x0kjq90