Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 38-47
E-ISSN: 3026-4014
- 38 -
Artikel Penelitian
Naskah dikirim: 12/02/2026 Selesai revisi: 24/03/2026Disetujui: 18/05/2026Diterbitkan:01/06/2026
Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Religius Anak Usia Dini di TKQ Daarul
Mu’minin Buaran Serpong
Atika Fitria Sani
1
, Miftahul Abshor
2
, Husnul
3
Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini,
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Otto Iskandar Dinata Banten
E-mail: atikafitria77@gmail.com
1
, mieftahdata@gmail.com
2
,
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran orang tua dalam pembentukan karakter religius
anak usia dini di TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang
memengaruhi dan kendala yang dihadapi dalam proses tersebut. Pembentukan karakter religius pada anak
usia dini menjadi aspek penting dalam pendidikan karena pada tahap perkembangan ini anak sangat mudah
menerima pembiasaan nilai, sikap, dan perilaku yang akan membentuk kepribadiannya di masa depan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data
dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan melibatkan kepala sekolah,
guru, serta orang tua peserta didik sebagai informan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang
tua memiliki peran penting dalam membentuk karakter religius anak melalui pembiasaan ibadah, pemberian
keteladanan perilaku religius, serta pendampingan dalam aktivitas keagamaan sehari-hari. Faktor yang
mendukung peran tersebut antara lain kesadaran orang tua terhadap pentingnya pendidikan agama,
lingkungan keluarga yang religius, serta kerja sama antara orang tua dan sekolah. Adapun kendala yang
dihadapi meliputi keterbatasan waktu orang tua dan pengaruh lingkungan digital. Penelitian ini menegaskan
pentingnya sinergi antara keluarga dan sekolah dalam mendukung pembentukan karakter religius anak
sejak usia dini.
Kata kunci: peran orang tua; karakter religius; anak usia dini; pendidikan keluarga; pendidikan karakter.
The Role of Parents in the Formation of Religious Character in Early Childhood at TKQ Daarul
Mu'minin Buaran Serpong
Abstract: This study aims to analyze the role of parents in shaping the religious character of early
childhood at TKQ Daarul Mu'minin Buaran Serpong, as well as to identify the factors that influence and
the obstacles encountered in the process. The formation of religious character in early childhood is an
important aspect of education because at this stage of development, children are very receptive to the
values, attitudes, and behaviors that will shape their personalities in the future. This study uses a qualitative
approach with a descriptive method. Data collection techniques were carried out through observation, in-
depth interviews, and documentation involving the principal, teachers, and parents of students as research
informants. The results show that parents play an important role in shaping children's religious character
through the habit of worship, providing examples of religious behavior, and assisting in daily religious
activities. Factors that support this role include parents' awareness of the importance of religious
education, a religious family environment, and cooperation between parents and schools. The obstacles
faced include parents' limited time and the influence of the digital environment. This study emphasizes the
importance of synergy between families and schools in supporting the formation of children's religious
character from an early age.
Keywords: the role of parents; religious character; early childhood; family education; character
education.
Hak Cipta©2026 Atika Fitria Sani, Miftahul Abshor, Husnul
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 38-47
E-ISSN: 3026-4014
- 39 -
1. Pendahuluan
Pendidikan karakter religius pada anak usia dini merupakan salah satu aspek penting dalam proses
pembentukan kepribadian dan moral anak. Pada fase perkembangan awal, anak berada pada masa yang
sangat peka terhadap proses internalisasi nilai, sehingga pengalaman yang diperoleh pada tahap ini akan
mempengaruhi pola pikir, sikap, dan perilaku mereka di masa depan. Oleh karena itu, pendidikan religius
tidak hanya dipahami sebagai proses transfer pengetahuan agama, tetapi juga sebagai proses pembentukan
nilai, sikap, dan kebiasaan yang berlandaskan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks
ini, pendidikan religius pada anak usia dini menjadi fondasi penting dalam membangun karakter individu
yang beriman, berakhlak mulia, serta memiliki kesadaran moral yang kuat (Hidayat et al., 2024; Putri et
al., 2023; Susi et al., 2025).
Dalam perspektif pendidikan Islam, keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam proses
pendidikan anak. Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang memperkenalkan anak pada
nilai-nilai agama, norma sosial, serta perilaku moral yang akan menjadi dasar dalam pembentukan karakter
mereka. Melalui interaksi yang terjadi dalam keluarga, anak belajar mengenal konsep keimanan, ibadah,
serta nilai-nilai akhlak yang membentuk identitas religius mereka. Oleh karena itu, orang tua memiliki
tanggung jawab besar dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan kepada anak sejak usia dini melalui
bimbingan, pengasuhan, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari (Kamali & Nawawi, 2023;
Lismayanti et al., 2023).
Secara teoritis, pendidikan karakter religius pada anak idealnya dilakukan melalui peran aktif orang
tua dalam memberikan pendidikan agama, pembiasaan ibadah, serta keteladanan moral dalam lingkungan
keluarga. Pendidikan dalam keluarga dipandang sebagai proses pembinaan yang berlangsung secara
berkelanjutan melalui interaksi antara orang tua dan anak. Melalui proses tersebut, anak tidak hanya
memperoleh pengetahuan mengenai ajaran agama, tetapi juga belajar menginternalisasi nilai-nilai moral
dan spiritual yang menjadi landasan dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu, keterlibatan orang tua dalam
pendidikan anak menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembentukan karakter religius (Fitri et al.,
2023; Salpina et al., 2024).
Dalam kondisi ideal atau das sollen, orang tua diharapkan mampu menjalankan perannya sebagai
pendidik utama bagi anak dengan memberikan keteladanan dalam menjalankan nilai-nilai agama serta
membiasakan anak untuk melaksanakan berbagai praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari.
Keteladanan orang tua dalam menjalankan ibadah, bersikap jujur, serta menunjukkan akhlak yang baik
akan menjadi model bagi anak dalam membentuk perilaku religius mereka. Anak pada usia dini cenderung
belajar melalui proses imitasi, sehingga perilaku yang ditunjukkan oleh orang tua akan menjadi contoh
yang diikuti oleh anak dalam kehidupan sehari-hari (Antoni, 2025; Susanti et al., 2025).
Selain keteladanan, pembiasaan kegiatan religius juga menjadi metode yang efektif dalam
pembentukan karakter anak. Pembiasaan seperti berdoa sebelum melakukan aktivitas, membaca Al-Qur’an,
serta melaksanakan ibadah secara rutin dapat membantu anak memahami nilai-nilai agama secara lebih
mendalam. Melalui proses pembiasaan tersebut, anak tidak hanya mempelajari ajaran agama secara teoritis,
tetapi juga mengembangkan sikap religius yang tercermin dalam perilaku sehari-hari. Dengan demikian,
pendidikan religius dalam keluarga menjadi proses penting dalam membangun karakter anak yang
berlandaskan nilai-nilai spiritual (Harefa et al., 2023; Harfitsyah et al., 2025).
Namun demikian, dalam praktiknya tidak semua orang tua mampu menjalankan peran tersebut secara
optimal. Berbagai faktor seperti kesibukan pekerjaan, keterbatasan pengetahuan tentang pendidikan anak,
serta pengaruh lingkungan sosial seringkali menjadi kendala dalam proses pendidikan religius dalam
keluarga. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kondisi ideal pendidikan keluarga dengan
realitas yang terjadi dalam masyarakat. Dalam kajian empiris, kondisi nyata tersebut disebut sebagai das
sein, yaitu situasi faktual yang menunjukkan bahwa implementasi pendidikan religius dalam keluarga
belum sepenuhnya berjalan sesuai dengan konsep ideal yang diharapkan (Jura & Naray, 2023; Solichin et
al., 2025).
Perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan teknologi informasi dan perubahan pola
kehidupan masyarakat juga memberikan tantangan tersendiri bagi orang tua dalam mendidik anak. Anak-
anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dipengaruhi oleh media digital dan berbagai arus
informasi yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai religius. Dalam situasi tersebut, orang tua dituntut
untuk memiliki peran yang lebih aktif dalam membimbing dan mengarahkan anak agar tetap memiliki
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 38-47
E-ISSN: 3026-4014
- 40 -
landasan moral dan spiritual yang kuat dalam menghadapi berbagai pengaruh eksternal yang semakin
kompleks (Thaib, 2025; Triputra, 2020).
Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan agama
anak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan karakter dan identitas religius anak.
Pendidikan agama yang diberikan dalam lingkungan keluarga mampu membentuk kesadaran spiritual serta
perilaku moral yang menjadi pedoman dalam kehidupan anak. Namun sebagian besar penelitian tersebut
masih bersifat umum dan belum secara spesifik mengkaji bagaimana praktik peran orang tua dalam
pembentukan karakter religius anak usia dini dalam konteks lembaga pendidikan tertentu (Qailani et al.,
2024; Sidik et al., 2025).
Dalam konteks ini, TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong sebagai lembaga pendidikan anak usia
dini berbasis Al-Qur’an memiliki peran penting dalam mendukung proses pembentukan karakter religius
anak. Lembaga ini tidak hanya menekankan pada pembelajaran akademik, tetapi juga pada pembiasaan
nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Namun demikian, keberhasilan
pembentukan karakter religius anak di lembaga pendidikan tersebut tidak terlepas dari keterlibatan orang
tua dalam proses pendidikan anak di lingkungan keluarga.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat diidentifikasi adanya research gap, yaitu keterbatasan kajian yang
secara mendalam meneliti bagaimana peran orang tua dalam pembentukan karakter religius anak usia dini
dalam konteks keluarga yang terhubung dengan lembaga pendidikan berbasis keagamaan. Oleh karena itu,
penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran orang tua dalam pembentukan karakter religius anak usia
dini di TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi
pelaksanaan peran tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi akademik dalam
pengembangan kajian pendidikan keluarga serta memberikan gambaran empiris mengenai praktik
pembentukan karakter religius anak usia dini dalam konteks pendidikan Islam.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pendekatan kualitatif
dipilih karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena sosial yang berkaitan
dengan peran orang tua dalam pembentukan karakter religius anak usia dini. Pendekatan ini memungkinkan
peneliti untuk menggali makna, pengalaman, serta perspektif para informan mengenai praktik pendidikan
religius dalam lingkungan keluarga. Penelitian kualitatif juga memberikan ruang bagi peneliti untuk
memahami konteks sosial dan interaksi yang terjadi secara alami dalam lingkungan penelitian (Creswell &
Creswell, 2017; Meleong, 2019). Dengan pendekatan ini, peneliti berupaya memperoleh gambaran yang
komprehensif mengenai bentuk keterlibatan orang tua, faktor-faktor yang memengaruhi peran tersebut,
serta berbagai kendala yang dihadapi dalam proses pembentukan karakter religius anak.
Penelitian ini dilaksanakan di TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong, yang beralamat di Jalan Raya
Kodiklat TNI No. 71, Buaran, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten. Pemilihan lokasi
penelitian didasarkan pada pertimbangan bahwa lembaga pendidikan tersebut merupakan lembaga
pendidikan anak usia dini berbasis Al-Qur’an yang menekankan pada pembentukan karakter religius
peserta didik melalui kegiatan pembelajaran serta pembiasaan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan demikian, lokasi ini dinilai relevan untuk mengkaji secara mendalam bagaimana peran
orang tua dalam mendukung pembentukan karakter religius anak usia dini yang juga dipengaruhi oleh
lingkungan pendidikan formal (Yin, 2017).
Subjek penelitian terdiri dari kepala sekolah, guru, dan orang tua peserta didik di TKQ Daarul
Mu’minin Buaran Serpong. Penentuan informan dilakukan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu
teknik pemilihan informan berdasarkan pertimbangan tertentu yang dinilai memiliki informasi yang relevan
dengan fokus penelitian (Sugiyono, 2022). Informan dalam penelitian ini meliputi kepala sekolah sebagai
informan kunci, dua orang guru kelas sebagai informan utama, serta tujuh orang tua peserta didik sebagai
informan pendukung. Pemilihan informan tersebut dimaksudkan untuk memperoleh data yang
komprehensif mengenai proses pembentukan karakter religius anak baik dari perspektif lembaga
pendidikan maupun dari lingkungan keluarga.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam,
dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengamati secara langsung kegiatan pembelajaran serta
berbagai bentuk pembiasaan religius yang diterapkan di lingkungan sekolah. Wawancara mendalam
dilakukan kepada kepala sekolah, guru, dan orang tua peserta didik guna memperoleh informasi mengenai
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 38-47
E-ISSN: 3026-4014
- 41 -
praktik pendidikan religius dalam keluarga, bentuk keterlibatan orang tua dalam pembentukan karakter
anak, serta faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan peran tersebut. Selain itu, teknik dokumentasi
digunakan untuk melengkapi data penelitian melalui pengumpulan berbagai dokumen yang berkaitan
dengan kegiatan pendidikan religius di sekolah, seperti program pembelajaran, kegiatan keagamaan, serta
dokumentasi aktivitas peserta didik.
Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai human instrument, yang berperan
dalam mengumpulkan, menginterpretasikan, serta menganalisis data penelitian. Dalam penelitian kualitatif,
peneliti menjadi instrumen utama karena memiliki peran langsung dalam memahami makna data yang
diperoleh di lapangan (Meleong, 2019). Untuk mendukung proses pengumpulan data, peneliti juga
menggunakan beberapa instrumen tambahan berupa pedoman wawancara, pedoman observasi, serta lembar
dokumentasi. Pedoman wawancara digunakan sebagai panduan dalam proses wawancara agar tetap sesuai
dengan fokus penelitian, sedangkan pedoman observasi digunakan untuk mencatat berbagai aktivitas yang
berkaitan dengan pembiasaan nilai-nilai religius dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan model analisis interaktif yang dikemukakan
oleh Miles dan Huberman, yang meliputi tiga tahapan utama, yaitu reduksi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan (Miles et al., 2018). Reduksi data dilakukan dengan cara menyeleksi, memfokuskan,
serta menyederhanakan data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi sehingga
hanya data yang relevan dengan fokus penelitian yang digunakan dalam analisis. Selanjutnya, data yang
telah direduksi disajikan dalam bentuk narasi deskriptif untuk memudahkan peneliti dalam memahami pola
hubungan antar data. Tahap terakhir adalah penarikan kesimpulan yang dilakukan secara bertahap selama
proses penelitian berlangsung dengan mempertimbangkan berbagai temuan yang diperoleh dari lapangan.
Untuk menjamin keabsahan data penelitian, digunakan teknik triangulasi sumber dan triangulasi
teknik. Triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan informasi yang diperoleh dari berbagai
informan, yaitu kepala sekolah, guru, dan orang tua peserta didik. Sementara itu, triangulasi teknik
dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Melalui proses triangulasi tersebut, diharapkan data yang diperoleh memiliki tingkat validitas dan
kredibilitas yang tinggi sehingga mampu memberikan gambaran yang akurat mengenai peran orang tua
dalam pembentukan karakter religius anak usia dini di TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong.
3. Hasil dan Pembahasan
Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Religius Anak Usia Dini
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong, diketahui
bahwa orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembentukan karakter religius anak usia
dini. Peran tersebut terlihat dalam berbagai bentuk kegiatan pembiasaan nilai-nilai religius yang dilakukan
dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga. Orang tua tidak hanya berperan dalam memenuhi
kebutuhan fisik anak, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menanamkan nilai-nilai keimanan,
akhlak, serta kebiasaan beribadah sejak dini. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua menjadi dasar awal
bagi anak dalam memahami ajaran agama serta membentuk sikap religius dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan anak memiliki pengaruh yang besar
terhadap pembentukan karakter religius anak sejak usia dini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pembentukan karakter religius anak
dilakukan melalui berbagai bentuk pembiasaan kegiatan keagamaan di rumah. Orang tua membiasakan
anak untuk melaksanakan kegiatan ibadah sederhana seperti berdoa sebelum dan sesudah melakukan
aktivitas, membaca Al-Qur’an, serta melaksanakan salat bersama. Kebiasaan tersebut secara tidak langsung
membentuk pola perilaku religius dalam diri anak. Melalui kegiatan pembiasaan tersebut, anak secara
bertahap belajar memahami nilai-nilai agama dan menginternalisasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Proses pembiasaan yang dilakukan secara konsisten oleh orang tua menjadi faktor penting dalam
membentuk karakter religius anak.
Hal tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan kepala sekolah TKQ Daarul Mu’minin Buaran
Serpong yang menyatakan bahwa keberhasilan pendidikan karakter religius anak sangat dipengaruhi oleh
peran orang tua di rumah. Menurutnya, pembelajaran agama yang dilakukan di sekolah perlu didukung oleh
pembiasaan yang dilakukan dalam lingkungan keluarga agar nilai-nilai religius dapat tertanam secara lebih
kuat dalam diri anak. Sebagaimana disampaikan dalam wawancara berikut:
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 38-47
E-ISSN: 3026-4014
- 42 -
“Pembentukan karakter religius anak tidak hanya dilakukan di sekolah, tetapi harus dimulai dari
rumah. Jika orang tua terbiasa mengajak anak berdoa, membaca Al-Qur’an, dan melakukan ibadah
bersama, maka anak akan lebih mudah memahami dan membiasakan nilai-nilai religius tersebut dalam
kehidupan sehari-hari (SF, personal communication, February 9, 2026).
Temuan tersebut juga diperkuat oleh hasil wawancara dengan guru kelas yang menjelaskan bahwa
anak-anak yang memperoleh pembiasaan kegiatan religius di rumah cenderung lebih aktif dalam mengikuti
kegiatan keagamaan di sekolah. Anak-anak yang telah terbiasa melakukan kegiatan ibadah bersama orang
tua di rumah biasanya lebih mudah mengikuti kegiatan pembelajaran agama di kelas. Guru tersebut
menyampaikan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan religius anak memberikan dampak yang
signifikan terhadap sikap dan perilaku anak di lingkungan sekolah. Sebagaimana disampaikan dalam
wawancara berikut:
“Anak-anak yang di rumah sudah dibiasakan berdoa atau membaca Al-Qur’an biasanya lebih mudah
mengikuti kegiatan di sekolah. Mereka lebih percaya diri ketika diminta memimpin doa atau membaca
surat pendek di kelas” (FS, personal communication, February 9, 2026).
Selain melalui kegiatan pembiasaan ibadah, peran orang tua dalam pembentukan karakter religius anak
juga terlihat melalui pemberian teladan dalam kehidupan sehari-hari. Orang tua yang menunjukkan perilaku
religius seperti melaksanakan ibadah secara rutin, berbicara dengan sopan, serta menunjukkan sikap saling
menghormati akan menjadi contoh bagi anak dalam membentuk perilaku yang serupa. Anak usia dini
memiliki kecenderungan untuk meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya, sehingga sikap religius yang
ditunjukkan oleh orang tua akan berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak.
Hal tersebut juga diungkapkan oleh salah satu orang tua peserta didik yang menyatakan bahwa mereka
berusaha memberikan contoh perilaku religius kepada anak melalui berbagai kegiatan ibadah yang
dilakukan bersama di rumah. Orang tua tersebut menjelaskan bahwa pembiasaan tersebut dilakukan agar
anak dapat memahami pentingnya menjalankan ajaran agama sejak usia dini. Sebagaimana disampaikan
dalam wawancara berikut:
“Saya biasanya mengajak anak untuk salat bersama di rumah dan mengajarkan doa-doa sederhana
sebelum tidur atau sebelum makan. Dengan begitu anak jadi terbiasa melakukan kegiatan tersebut setiap
hari” (NF, personal communication, February 9, 2026).
Selain data wawancara, hasil observasi yang dilakukan selama proses pembelajaran di TKQ Daarul
Mu’minin Buaran Serpong juga menunjukkan bahwa sebagian besar anak telah terbiasa melakukan
berbagai kegiatan religius seperti membaca doa sebelum dan sesudah belajar, mengucapkan salam kepada
guru, serta mengikuti kegiatan membaca Al-Qur’an secara bersama-sama. Anak-anak yang telah
mendapatkan pembiasaan kegiatan religius di rumah terlihat lebih mudah mengikuti kegiatan pembelajaran
keagamaan di sekolah. Hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara pendidikan religius dalam
keluarga dengan pembentukan karakter religius anak di lingkungan sekolah.
Temuan penelitian ini sejalan dengan teori pendidikan keluarga yang menyatakan bahwa keluarga
merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak dalam proses pembentukan karakter.
Melalui interaksi yang terjadi dalam keluarga, anak belajar mengenal nilai-nilai agama serta norma moral
yang menjadi dasar dalam pembentukan perilaku mereka. Oleh karena itu, peran orang tua sebagai pendidik
utama dalam keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk karakter religius anak
(Kamali & Nawawi, 2023; Lismayanti et al., 2023; Susi et al., 2025).
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa
keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan
karakter religius anak. Orang tua yang aktif memberikan bimbingan keagamaan serta membiasakan anak
untuk melaksanakan berbagai kegiatan ibadah cenderung mampu membentuk sikap religius yang lebih kuat
dalam diri anak. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan religius yang diberikan dalam lingkungan keluarga
menjadi fondasi penting dalam membangun karakter moral dan spiritual anak (Fitri et al., 2023; Qailani et
al., 2024).
Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran orang tua dalam pembentukan
karakter religius anak usia dini di TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong sangat penting dalam mendukung
proses pendidikan anak. Keterlibatan orang tua melalui pembiasaan kegiatan religius, pemberian teladan,
serta bimbingan dalam kehidupan sehari-hari dapat membantu anak menginternalisasi nilai-nilai
keagamaan secara lebih mendalam. Oleh karena itu, sinergi antara pendidikan keluarga dan pendidikan di
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 38-47
E-ISSN: 3026-4014
- 43 -
lembaga pendidikan anak usia dini menjadi faktor penting dalam membentuk karakter religius anak secara
optimal.
Faktor Pendukung dalam Pembentukan Karakter Religius Anak Usia Dini
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong, diketahui bahwa
terdapat beberapa faktor yang mendukung keberhasilan proses pembentukan karakter religius anak usia dini.
Faktor-faktor tersebut berasal dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, serta lingkungan sosial yang
memberikan pengaruh terhadap perkembangan sikap religius anak. Dukungan dari berbagai pihak tersebut
menjadi bagian penting dalam membentuk kebiasaan religius pada anak sejak usia dini. Apabila lingkungan
keluarga dan sekolah mampu memberikan stimulasi yang positif terhadap pendidikan keagamaan anak, maka
proses internalisasi nilai-nilai religius akan berlangsung secara lebih efektif.
Salah satu faktor pendukung utama dalam pembentukan karakter religius anak adalah keterlibatan orang
tua dalam proses pendidikan anak di rumah. Orang tua yang aktif membimbing anak dalam melaksanakan
kegiatan ibadah serta memberikan pemahaman mengenai nilai-nilai agama akan membantu anak dalam
memahami makna dari setiap kegiatan keagamaan yang dilakukan. Melalui pembiasaan yang dilakukan secara
konsisten, anak akan terbiasa menjalankan berbagai kegiatan religius sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Oleh karena itu, peran keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama memiliki pengaruh yang sangat besar
dalam membentuk karakter religius anak.
Hal tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan kepala sekolah TKQ Daarul Mu’minin Buaran
Serpong yang menyatakan bahwa dukungan dari orang tua merupakan faktor penting dalam keberhasilan
pendidikan religius anak di sekolah. Menurutnya, ketika orang tua memiliki kesadaran untuk mendukung
kegiatan keagamaan anak di rumah, maka proses pembelajaran agama di sekolah akan menjadi lebih efektif.
Sebagaimana disampaikan dalam wawancara berikut:
Jika orang tua mendukung kegiatan keagamaan anak di rumah, maka pembelajaran yang dilakukan di
sekolah akan lebih mudah diterima oleh anak. Anak-anak yang mendapatkan dukungan dari orang tua biasanya
lebih terbiasa melakukan kegiatan religius seperti berdoa, mengaji, dan mengikuti kegiatan ibadah lainnya
(SF, personal communication, February 9, 2026).
Selain dukungan dari keluarga, faktor pendukung lainnya dalam pembentukan karakter religius anak adalah
lingkungan sekolah yang kondusif. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memiliki peran penting dalam
memberikan pembelajaran mengenai nilai-nilai agama kepada anak. Melalui berbagai kegiatan pembelajaran
keagamaan yang dilakukan secara terstruktur, sekolah dapat membantu anak dalam memahami dan
mempraktikkan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari.
Guru sebagai pendidik juga memiliki peran penting dalam mendukung pembentukan karakter religius anak.
Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga berperan sebagai teladan bagi anak
dalam menunjukkan perilaku religius. Guru yang mampu memberikan contoh perilaku yang baik akan
membantu anak dalam memahami nilai-nilai moral dan keagamaan secara lebih nyata. Sebagaimana
disampaikan oleh salah satu guru TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong dalam wawancara berikut:
Guru di sekolah berusaha memberikan contoh yang baik kepada anak-anak, seperti mengucapkan salam,
berdoa sebelum belajar, dan membiasakan anak membaca Al-Qur’an. Dengan melihat contoh tersebut, anak-
anak akan lebih mudah meniru dan membiasakan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari (SRK,
personal communication, February 9, 2026).
Selain peran guru, program pembelajaran yang diterapkan di TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong juga
menjadi faktor pendukung dalam pembentukan karakter religius anak. Sekolah secara rutin melaksanakan
berbagai kegiatan keagamaan seperti membaca doa bersama, menghafal surat-surat pendek, serta kegiatan
membaca Al-Qur’an. Kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
keagamaan anak, tetapi juga untuk membentuk kebiasaan religius yang dapat diterapkan dalam kehidupan
sehari-hari.
Hasil observasi yang dilakukan selama penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pembelajaran keagamaan
di sekolah dilaksanakan secara rutin dan terstruktur. Anak-anak terbiasa membaca doa sebelum dan sesudah
belajar, mengucapkan salam kepada guru, serta mengikuti kegiatan membaca Al-Qur’an secara bersama-sama.
Kebiasaan tersebut menunjukkan bahwa lingkungan sekolah memiliki peran yang signifikan dalam mendukung
pembentukan karakter religius anak.
Temuan penelitian ini sejalan dengan teori pendidikan karakter yang menyatakan bahwa pembentukan
karakter anak dipengaruhi oleh lingkungan pendidikan yang meliputi keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga
lingkungan tersebut memiliki peran yang saling melengkapi dalam proses pembentukan karakter anak. Apabila
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 38-47
E-ISSN: 3026-4014
- 44 -
ketiga lingkungan tersebut mampu memberikan pengaruh yang positif, maka proses pembentukan karakter
religius anak dapat berlangsung secara lebih optimal (Kamali & Nawawi, 2023; Lickona, 2019).
Selain itu, penelitian ini juga sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa
lingkungan pendidikan yang kondusif serta keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak merupakan faktor
penting dalam pembentukan karakter religius anak. Dukungan dari keluarga serta lingkungan sekolah yang
religius akan membantu anak dalam memahami dan mempraktikkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-
hari (Fitri et al., 2023; Susanti et al., 2025).
Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius anak usia dini di
TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong didukung oleh berbagai faktor yang berasal dari lingkungan keluarga,
sekolah, serta lingkungan sosial. Dukungan dari orang tua, peran guru sebagai teladan, serta lingkungan sekolah
yang religius menjadi faktor penting dalam membantu anak menginternalisasi nilai-nilai agama sejak usia dini.
Sinergi antara keluarga dan sekolah menjadi kunci utama dalam keberhasilan proses pembentukan karakter
religius anak.
Faktor Penghambat dalam Pembentukan Karakter Religius Anak Usia Dini
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong, selain terdapat
faktor pendukung dalam pembentukan karakter religius anak usia dini, ditemukan pula beberapa faktor yang
menjadi penghambat dalam proses tersebut. Faktor-faktor penghambat ini umumnya berkaitan dengan kondisi
lingkungan keluarga, keterbatasan waktu orang tua dalam mendampingi anak, serta pengaruh lingkungan sosial
yang kurang mendukung pembentukan karakter religius. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi proses
internalisasi nilai-nilai keagamaan yang seharusnya ditanamkan kepada anak sejak usia dini.
Salah satu faktor penghambat yang cukup sering ditemukan adalah keterbatasan waktu orang tua dalam
mendampingi anak dalam kegiatan keagamaan di rumah. Sebagian orang tua memiliki kesibukan pekerjaan
yang cukup tinggi sehingga tidak dapat secara optimal membimbing anak dalam melaksanakan kegiatan ibadah
sehari-hari. Kondisi tersebut menyebabkan pembiasaan kegiatan religius di rumah tidak dilakukan secara
konsisten. Akibatnya, anak tidak memperoleh penguatan yang cukup terhadap nilai-nilai religius yang telah
dipelajari di sekolah.
Hal tersebut diperkuat oleh hasil wawancara dengan kepala sekolah TKQ Daarul Mu’minin Buaran
Serpong yang menyampaikan bahwa tidak semua orang tua dapat secara aktif mendampingi anak dalam
kegiatan keagamaan di rumah. Menurutnya, kesibukan pekerjaan sering menjadi alasan utama yang
menyebabkan kurangnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan religius anak. Sebagaimana disampaikan
dalam wawancara berikut:
Sebagian orang tua memiliki kesibukan pekerjaan sehingga tidak selalu dapat mendampingi anak dalam
kegiatan keagamaan di rumah. Padahal pembiasaan tersebut sangat penting agar anak dapat memahami dan
menerapkan nilai-nilai religius dalam kehidupan sehari-hari (SF, personal communication, February 9,
2026).
Selain keterbatasan waktu orang tua, faktor penghambat lainnya adalah kurangnya pemahaman sebagian
orang tua mengenai pentingnya pendidikan karakter religius bagi anak sejak usia dini. Beberapa orang tua masih
menganggap bahwa pendidikan agama sepenuhnya merupakan tanggung jawab sekolah, sehingga mereka
kurang memberikan perhatian terhadap pembiasaan kegiatan religius di lingkungan keluarga. Padahal
pembentukan karakter religius anak memerlukan kerja sama antara keluarga dan sekolah agar nilai-nilai yang
diajarkan dapat tertanam secara lebih kuat dalam diri anak.
Hasil wawancara dengan salah satu guru TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong juga menunjukkan bahwa
terdapat beberapa anak yang kurang mendapatkan pembiasaan kegiatan religius di rumah. Guru tersebut
menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak terbiasa melakukan kegiatan keagamaan di rumah biasanya
membutuhkan waktu lebih lama untuk menyesuaikan diri dengan kegiatan pembelajaran agama di sekolah.
Sebagaimana disampaikan dalam wawancara berikut:
Ada beberapa anak yang di rumah belum terbiasa melakukan kegiatan seperti berdoa atau membaca Al-
Qur’an, sehingga ketika di sekolah mereka masih perlu dibimbing lebih intensif agar terbiasa mengikuti
kegiatan keagamaan bersama teman-temannya (FS, personal communication, February 9, 2026).
Faktor penghambat lainnya yang ditemukan dalam penelitian ini adalah pengaruh lingkungan sosial yang
kurang mendukung pembentukan karakter religius anak. Lingkungan sosial yang tidak memberikan contoh
perilaku religius dapat mempengaruhi sikap dan perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari. Anak yang sering
berinteraksi dengan lingkungan yang kurang memperhatikan nilai-nilai keagamaan cenderung memiliki tingkat
kesadaran religius yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang berada dalam lingkungan religius.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 38-47
E-ISSN: 3026-4014
- 45 -
Selain itu, perkembangan teknologi dan penggunaan media digital juga dapat menjadi faktor penghambat
dalam pembentukan karakter religius anak apabila tidak diawasi dengan baik oleh orang tua. Anak yang terlalu
sering menggunakan perangkat digital tanpa pengawasan dapat terpapar berbagai konten yang tidak sesuai
dengan nilai-nilai moral dan keagamaan. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi perilaku anak serta mengurangi
minat mereka dalam mengikuti kegiatan keagamaan.
Temuan penelitian ini sejalan dengan teori pendidikan karakter yang menyatakan bahwa pembentukan
karakter anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang melingkupi kehidupan mereka. Lingkungan
keluarga, sekolah, serta masyarakat memiliki peran yang saling berkaitan dalam membentuk perilaku dan sikap
anak. Apabila salah satu lingkungan tersebut tidak memberikan pengaruh yang positif, maka proses
pembentukan karakter anak dapat mengalami hambatan (Lickona, 2019).
Hasil penelitian ini juga sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa
kurangnya keterlibatan orang tua serta pengaruh lingkungan sosial yang kurang mendukung dapat menjadi
faktor penghambat dalam pembentukan karakter religius anak. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama yang baik
antara keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan
karakter religius anak (Fitri et al., 2023; Susanti et al., 2025).
Dengan demikian, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter religius anak usia dini di
TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong tidak terlepas dari berbagai tantangan yang berasal dari lingkungan
keluarga maupun lingkungan sosial. Keterbatasan waktu orang tua, kurangnya pemahaman mengenai
pentingnya pendidikan religius, serta pengaruh lingkungan sosial dan perkembangan teknologi menjadi
beberapa faktor yang dapat menghambat proses pembentukan karakter religius anak. Oleh karena itu, diperlukan
sinergi yang kuat antara keluarga dan sekolah agar proses pendidikan karakter religius anak dapat berlangsung
secara lebih efektif.
4. Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di TKQ Daarul Mu’minin Buaran Serpong, dapat
disimpulkan bahwa orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan karakter religius
anak usia dini melalui berbagai bentuk pembiasaan kegiatan keagamaan, pemberian teladan dalam perilaku
sehari-hari, serta pendampingan dalam menjalankan aktivitas religius di lingkungan keluarga. Peran
tersebut menjadi fondasi utama dalam membantu anak memahami serta menginternalisasi nilai-nilai
keagamaan sejak dini sehingga dapat membentuk sikap dan perilaku religius dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, keberhasilan pembentukan karakter religius anak juga dipengaruhi oleh adanya faktor
pendukung seperti keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak, lingkungan sekolah yang kondusif, serta
peran guru sebagai teladan dalam menanamkan nilai-nilai religius kepada anak melalui berbagai kegiatan
pembelajaran keagamaan yang terstruktur. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan adanya
beberapa faktor penghambat dalam proses pembentukan karakter religius anak, antara lain keterbatasan
waktu orang tua dalam mendampingi anak, kurangnya pemahaman sebagian orang tua mengenai
pentingnya pendidikan religius sejak usia dini, serta pengaruh lingkungan sosial dan perkembangan
teknologi yang kurang mendukung internalisasi nilai-nilai keagamaan pada anak. Oleh karena itu,
pembentukan karakter religius anak usia dini memerlukan sinergi yang kuat antara keluarga dan lembaga
pendidikan agar proses pendidikan karakter dapat berlangsung secara optimal dan berkelanjutan.
Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar orang tua dapat meningkatkan keterlibatan dalam
memberikan pembiasaan kegiatan religius serta menjadi teladan bagi anak dalam kehidupan sehari-hari,
sementara pihak sekolah diharapkan terus mengembangkan program pembelajaran yang mendukung
pendidikan karakter religius serta memperkuat kerja sama dengan orang tua melalui berbagai kegiatan yang
melibatkan keluarga dalam proses pendidikan anak. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat
memberikan kontribusi terhadap pengembangan kajian mengenai pendidikan karakter religius anak usia
dini, sedangkan bagi penelitian selanjutnya disarankan untuk mengembangkan penelitian dengan cakupan
yang lebih luas, melibatkan subjek penelitian yang lebih beragam, serta menggunakan pendekatan
metodologis yang berbeda agar dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai
berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter religius anak usia dini.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 38-47
E-ISSN: 3026-4014
- 46 -
5. Daftar Pustaka
Antoni, A. (2025). Exemplary and Habituation of Parents’ Religious Behavior for Early Childhood Moral
and Religious Development. Bulletin of Early Childhood, 4(1), 1017.
https://doi.org/10.51278/bec.v4i1.1017
Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2017). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods
Approaches. SAGE Publications.
Fitri, A. S., Widiana, W., & Atikah, C. (2023). Peran Orang Tua dalam Pendidikan Karakter Anak Usia
Dini. Zuriah: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 4(2), 111.
https://doi.org/10.29240/zuriah.v4i2.8506
Harefa, D., Sinaga, E., Hia, A. M. R., & Naibaho, A. P. M. (2023). Peran Orang Tua dalam Menanamkan
Pendidikan Agama dan Moral bagi Anak Usia Dini. Real Kiddos: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini,
1(2), 112123. https://doi.org/10.53547/realkiddos.v1i2.370
Harfitsyah, G., Astuti, W. P., & Maruti, E. S. (2025). Peran orangtua dalam membentuk karakter religius
anak usia SD melalui pembiasaan ibadah di rumah. Prosiding Konferensi Ilmiah Dasar, 6(0), 496
505.
Hidayat, H. S., Rahmi, N., & Mauludin, H. (2024). Pendidikan Agama Islam bagi Anak dalam Keluarga.
TSAQOFAH, 4(4), 30713082. https://doi.org/10.58578/tsaqofah.v4i4.3162
Jura, D., & Naray, C. L. N. (2023). Maximizing the Role of Parents Through Religious Education in the
Family in the Scope of Early Childhood Education. AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan, 15(4), 5328
5336. https://doi.org/10.35445/alishlah.v15i4.4508
Kamali, M., & Nawawi, N. (2023). Pendidikan keluarga dalam perspektif Islam. JISIP (Jurnal Ilmu Sosial
Dan Pendidikan), 7(1). https://doi.org/10.58258/jisip.v7i1.4303
Lickona, T. (2019). Pendidikan Karakter: Panduan Lengkap Mendidik Siswa Menjadi Pintar & Baik.
Nusamedia.
Lismayanti, I., Gunawan, Y. A., Budiarti, L. S., Sukatin, S., & Yusup, M. (2023). Teori Pendidikan
Keluarga dan Tanggung Jawab Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini. Hijaz: Jurnal Ilmu-
Ilmu Keislaman, 2(1), 2026. https://doi.org/10.57251/hij.v2i1.864
Meleong, L. J. (2019). Metologi penelitian kualitatif (Revisi). PT Remaja Rosdakarya.
Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldana, J. (2018). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook.
SAGE Publications.
Putri, D. A. J., Salpina, S., & Maisura, M. (2023). The Importance of Instilling Aqidah Education From An
Early Age. Early Childhood Research Journal (ECRJ), 6(1), 3238.
https://doi.org/10.23917/ecrj.v6i1.22979
Qailani, F., Nurfadilah, K., & Syarifah, Z. (2024). The Role of Parents in the Moral Development of Early
Childhood. Beginner: Journal of Teaching and Education Management, 2(1), 2639.
https://doi.org/10.61166/bgn.v2i1.41
Salpina, S., Maisura, M., & Aminah, A. (2024). Tanggung Jawab Orang Tua Terhadap Pendidikan Anak
dan Kaitannya dengan Tugas Manusia sebagai Khalifah. Community Development Journal: Jurnal
Pengabdian Masyarakat, 5(1), 148155. https://doi.org/10.31004/cdj.v5i1.23743
Sidik, A. R., Hamdan, H., & Cahyadi, A. (2025). Telaah literatur, kajian teks dan konteks peran keluarga
dalam pendidikan islam. FIKRUNA: Jurnal Ilmiah Kependidikan Dan Kemasyarakatan, 7(3), 954
968. https://doi.org/10.56489/fik.v7i3.363
Solichin, M. M., Hasan, N., & Hasan, M. (2025). The Role of the Family in Forming Children’s Religious
Identity: A Case Study of Urban Muslim Families in Pamekasan. Journal of Gemilang, 2(2), 818.
https://doi.org/10.62872/egct0p47
Sugiyono. (2022). Metode Penelitian: Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Cet. 27). Alfabeta.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 38-47
E-ISSN: 3026-4014
- 47 -
Susanti, Y. P., Rambe, K. F., Rahmi, E., & Hilmi, H. (2025). Parental Role Modeling in Shaping Children’s
Religious Character: A Qualitative Study on Religious Education Practices in the Family
Environment. Al-Kayyis: Journal of Islamic Education, 3(2), 8996.
Susi, Rahayu, Y. M., & Suwandi. (2025). Buku Mendidik Anak dalam Keluarga: Panduan Praktis Bagi
Orang Tua di Era Modern. Deepublish.
Thaib, M. I. (2025). Parental Role Models in Children’s Character Education in the Society 5.0 Era. Bulletin
of Islamic Research, 3(3), 555570. https://doi.org/10.69526/bir.v3i3.367
Triputra, D. R. (2020). Early childhood parenting in the review of Islamic religious perspectives in
Songgom Brebes. International Journal of Emerging Issues in Early Childhood Education, 2(1), 30
44. https://doi.org/10.31098/ijeiece.v2i1.207
Yin, R. K. (2017). Case Study Research and Applications: Design and Methods. SAGE Publications.