Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 86-93
E-ISSN: 3026-4014
- 86 -
Artikel Penelitian
Naskah dikirim: 12/02/2026 Selesai revisi: 24/03/2026Disetujui: 18/05/2026Diterbitkan:01/06/2026
Kepraktisan LKPD Aku Bisa Membaca dan Menulis untuk Mengukur Literasi Dasar
Siswa Slow Learner
Syifa Kifayatus Sa’diyah
1
, Nurul Istiq’faroh
2
, Dhini Dwi Permatasari
3
1,2,3
Universitas Negeri Surabaya, Kota Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
e-mail:
1
24010644155@mhs.unesa.ac.id,
2
nurulistiqfaroh@unesa.ac.id,
3
24010644206@mhs.unesa.ac.id
Abstrak: Literasi dasar merupakan kompetensi esensial yang harus dikuasai siswa sekolah dasar. Namun,
pengembangannya masih menjadi tantangan, terutama pada siswa slow learner yang memiliki keterbatasan
dalam memproses informasi. Salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan pembelajaran adalah
ketersediaan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik siswa. Penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan tingkat kepraktisan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) “Aku Bisa Membaca dan
Menulis”. LKPD ini digunakan sebagai instrumen untuk mengidentifikasi literasi dasar siswa slow learner
di sekolah dasar inklusi. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D)
dengan model ADDIE. Subjek penelitian terdiri dari guru kelas I SDN Ketintang II sebagai penilai
kepraktisan dan satu siswa slow learner sebagai responden wawancara. Data dikumpulkan melalui angket
kepraktisan dan wawancara. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa LKPD memperoleh persentase kepraktisan sebesar 88% dengan kategori
sangat praktis. LKPD dinilai mudah digunakan, sesuai dengan kebutuhan siswa, dan mampu meningkatkan
keterlibatan belajar. Dengan demikian, LKPD ini berpotensi menjadi bahan ajar adaptif sekaligus alat
identifikasi literasi dasar yang efektif.
Kata kunci: LKPD, Literasi Dasar, Slow Learner, Sekolah Inklusi.
The Practicality of the "I Can Read and Write" Student Worksheet for Measuring
the Basic Literacy of Slow Learners
Abstract: Basic literacy is an essential competency that must be mastered by elementary school students.
However, its development remains a challenge, especially for slow learners who have limitations in
processing information. One factor that influences learning success is the availability of teaching materials
that are appropriate to student characteristics. This study aims to describe the practicality level of the
Student Worksheet (LKPD) "I Can Read and Write". This LKPD is used as an instrument to identify the
basic literacy of slow learner students in inclusive elementary schools. This study uses a Research and
Development (R&D) approach with the ADDIE model. The research subjects consisted of a first-grade
teacher at SDN Ketintang II as the practicality assessor and one slow learner student as the interview
respondent. Data were collected through a practicality questionnaire and interviews. Data analysis was
conducted using descriptive quantitative and qualitative methods. The results showed that the LKPD
obtained a practicality percentage of 88%, categorized as very practical. LKPD is considered easy to use,
appropriate to student needs, and able to increase learning engagement. Thus, this LKPD has the potential
to be an adaptive teaching material as well as an effective basic literacy identification tool.
Keywords: LKPD, Basic Literacy, Slow Learners, Inclusive Schools.
Hak Cipta©2026 Syifa Kifayatus Sa’diyah, Nurul Istiq’faroh, Dhini Dwi Permatasari
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 86-93
E-ISSN: 3026-4014
- 87 -
1. Pendahuluan
Literasi dasar merupakan kompetensi esensial yang harus dikuasai oleh setiap peserta didik
sebagai prasyarat utama dalam menunjang keberhasilan proses pendidikan (Anggraini & Rahmawati,
2023). Literasi mencakup kemampuan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara yang terintegrasi
dalam pembelajaran Bahasa Indonesia SD, memfasilitasi interaksi siswa dengan sumber belajar untuk
mencapai pengetahuan yang bermakna (Setiawan et al, 2023). Kondisi ini menjadi semakin krusial
ketika dikaitkan dengan keberagaman karakteristik belajar peserta didik di sekolah, khususnya
keberadaan siswa slow learner atau lamban belajar yang membutuhkan perhatian dan pendekatan
yang jauh lebih khusus. Siswa slow learner merupakan peserta didik dengan kemampuan belajar di
bawah rata-rata, yang ditandai dengan lambatnya dalam memproses informasi, mudah melupakan
materi yang telah dipelajari, serta membutuhkan waktu dan pengulangan yang lebih intens
dibandingkan siswa pada umumnya (Saragih et al, 2024). Kondisi tersebut menyebabkan siswa slow
learner kerap mengalami kesulitan dalam memahami penjelasan guru dan kurang aktif dalam proses
pembelajaran. Meskipun demikian, siswa slow learner tidak termasuk dalam kategori tunagrahita,
karena kemampuan kognitifnya masih berada pada batas bawah kategori normal (IQ 7090), sehingga
tetap memiliki potensi untuk berkembang apabila memperoleh intervensi serta dukungan bahan ajar
yang sesuai (Sa’diyah & Arifin, 2025).
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pengembangan literasi dasar pada siswa
slow learner sangat dipengaruhi oleh ketersediaan bahan ajar yang dirancang sesuai dengan
kebutuhan mereka. Bahan ajar yang tidak sesuai cenderung membuat proses pembelajaran kurang
optimal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan menulis siswa slow learner
sebelum diberikan intervensi hanya mencapai 32%. Setelah mendapatkan program pembelajaran
yang disesuaikan, kemampuan tersebut meningkat menjadi 61% (Haryati et al, 2022). Penelitian lain
juga mengungkapkan bahwa penggunaan bahan ajar berupa LKPD yang disesuaikan dengan tingkat
kemampuan siswa slow learner dapat membantu mereka memahami materi dengan lebih baik. Selain
itu, LKPD tersebut juga mampu meningkatkan keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran
(Sa’diyah & Arifin, 2025). Di sisi lain, Literasi budaya menulis dan pengembangan kompetensi guru
dalam menghasilkan bahan ajar berkualitas juga menjadi prasyarat penting agar bahan ajar yang
dikembangkan benar-benar fungsional di lapangan (Istiqfaroh et al, 2023). Temuan-temuan tersebut
menegaskan bahwa bahan ajar yang disesuaikan dengan karakteristik belajar siswa memiliki peran
penting dalam meningkatkan literasi dasar. Hal ini menjadi semakin krusial terutama bagi siswa slow
learner.
Terdapat sejumlah penelitian yang relevan terkait pengembangan bahan ajar bagi siswa slow
learner. Penelitian Hidayanti (2017) menunjukkan bahwa LKPD berbasis inkuiri terbimbing dapat
mendukung proses pembelajaran. Sementara itu, penelitian Haryati et al. (2022) mengungkapkan
bahwa program pembelajaran individual mampu meningkatkan kemampuan literasi siswa slow
learner, namun belum dikemas dalam bentuk LKPD serta belum mengkaji aspek kepraktisannya
secara terukur. Selain itu, bahan ajar membaca permulaan pada umumnya masih ditujukan bagi siswa
reguler, sehingga kurang sesuai dengan karakteristik siswa slow learner (Sari et al, 2020). Kepraktisan
bahan ajar merupakan salah satu indikator penting dalam penelitian Research and Development
(R&D), yang mencakup kemudahan penggunaan, kesesuaian dengan kondisi lapangan, serta efisiensi
dalam implementasi (Indryani et al, 2023). Namun demikian, penelitian yang secara khusus
mengembangkan sekaligus menguji kepraktisan LKPD sebagai instrumen untuk mengidentifikasi
literasi dasar siswa slow learner masih terbatas.
Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini menawarkan solusi berupa pengembangan
LKPD “Aku Bisa Membaca dan Menulis” yang dirancang secara adaptif sesuai karakteristik siswa
slow learner. Kebaruan penelitian ini terletak pada penggunaan LKPD tidak hanya sebagai bahan ajar,
tetapi juga sebagai instrumen untuk menggali profil literasi dasar siswa, serta pengujian
kepraktisannya dari perspektif guru dan siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan tingkat kepraktisan LKPD sebagai alat untuk mengetahui literasi dasar siswa slow
learner di sekolah dasar inklusi, khususnya di SDN Ketintang II Surabaya. Penelitian ini diharapkan
memberikan manfaat teoritis dalam pengembangan bahan ajar adaptif pada pendidikan inklusif, serta
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 86-93
E-ISSN: 3026-4014
- 88 -
manfaat praktis berupa penyediaan LKPD yang mudah digunakan dan membantu guru dalam
menggali kemampuan literasi dasar siswa secara lebih terarah.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan dengan pendekatan Research and
Development (R&D) yang bertujuan untuk menghasilkan produk berupa Lembar Kerja Peserta Didik
(LKPD) berjudul "Aku Bisa Membaca dan Menulis" yang dirancang khusus untuk siswa slow learner
kelas I Sekolah Dasar Inklusi. Model pengembangan yang digunakan adalah model ADDIE
(Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation) yang dipilih karena sistematis dan
sesuai untuk pengembangan bahan ajar yang membutuhkan tahapan evaluasi formatif dan sumatif
secara terstruktur (Hendratno et al, 2023). Penelitian pengembangan dengan model ADDIE dinilai
efektif karena setiap tahapannya saling berkaitan dan mendukung perbaikan produk secara
berkelanjutan. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Ketintang II Surabaya, Jawa Timur. Pelaksanaan
uji kepraktisan dilakukan pada hari Jumat, 10 April 2026 oleh guru kelas I. Wawancara dengan siswa
dan guru dilaksanakan dihari yang sama. Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas I sebagai
penilai kepraktisan LKPD dan seorang siswa slow learner kelas I sebagai responden wawancara.
Pemilihan subjek dilakukan secara purposif berdasarkan kriteria bahwa siswa tersebut telah
teridentifikasi sebagai slow learner oleh guru kelas dan pihak sekolah.
Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas dua jenis, yaitu
angket kepraktisan dan pedoman wawancara. Angket kepraktisan disusun berdasarkan tiga aspek
penilaian, yakni aspek tampilan LKPD, aspek isi LKPD, dan aspek kebermanfaatan LKPD, dengan
total 20 butir pernyataan berskala Likert 15. Instrumen ini dikembangkan dengan mengacu pada
prinsip-prinsip pengembangan bahan ajar untuk siswa berkebutuhan khusus yang menekankan
kemudahan penggunaan, kesesuaian konten, dan relevansi pedagogis. Pedoman wawancara disusun
secara semi-terstruktur untuk menggali persepsi guru mengenai keterlaksanaan LKPD di kelas inklusi
serta pengalaman belajar siswa slow learner saat menggunakan LKPD. Pengembangan media
pembelajaran yang valid dan praktis untuk siswa sekolah dasar memerlukan instrumen penilaian yang
komprehensif agar produk yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Silvi
et al, 2024).
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dan
kualitatif. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap data angket kepraktisan dengan menghitung
persentase skor menggunakan rumus Persentase (%) = (Skor yang Diperoleh / Skor Maksimal) ×
100%. Hasil persentase kemudian diinterpretasikan berdasarkan kriteria penilaian: 020% (sangat
tidak praktis), 2140% (tidak praktis), 4160% (cukup praktis), 6180% (praktis), dan 81100%
(sangat praktis). Sementara itu, analisis kualitatif diterapkan pada data wawancara dengan guru dan
siswa melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Perpaduan kedua
pendekatan analisis ini bertujuan untuk memperoleh gambaran yang komprehensif mengenai
kepraktisan LKPD, sekaligus menangkap nuansa respons guru dan siswa yang tidak dapat ditangkap
hanya melalui data numerik semata. Pengembangan buku digital bergambar yang dilakukan oleh
Herlina & Istiq'faroh (2025) menunjukkan bahwa penggunaan instrumen validasi multi-aspek mampu
menghasilkan produk yang sangat valid dan sangat praktis di kelas sekolah dasar, yang memperkuat
relevansi pendekatan penilaian komprehensif dalam penelitian ini.
3. Hasil dan Pembahasan
Uji kepraktisan produk dilaksanakan pada hari Jumat, 10 April 2026, di SDN Ketintang II/410
Surabaya oleh guru kelas I. Data kepraktisan dikumpulkan melalui angket yang diisi oleh guru serta
wawancara dengan guru kelas dan siswa slow learner. LKPD yang dihasilkan terdiri atas beberapa
kegiatan belajar yang disusun secara bertahap dan kontekstual sesuai kemampuan siswa slow learner.
Kegiatan pertama adalah mengenal huruf alfabet AZ, yang disajikan bersama ilustrasi karakter huruf
bergambar lucu dan berwarna-warni agar menarik perhatian siswa. Kegiatan kedua adalah
mencocokkan huruf kapital dengan huruf kecil, di mana siswa diminta melingkari pasangan huruf
yang tepat. Kegiatan ketiga adalah melafalkan dan menulis ejaan kata, misalnya kata sapi dieja
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 86-93
E-ISSN: 3026-4014
- 89 -
sebagai S-A-P-I, kemudian siswa menuliskan kembali dengan cara menebalkan huruf-huruf yang
telah tersedia. Kegiatan keempat adalah mengubah huruf kecil menjadi huruf kapital sesuai kaidah
EYD, seperti mengubah sawah menjadi Sawah. Kegiatan kelima adalah menyusun huruf acak
menjadi kata yang benar, misalnya huruf g-a-m-n-a-g disusun menjadi mangga. Seluruh kegiatan
dalam LKPD ini didukung dengan gambar-gambar menarik dan ilustrasi pendukung yang berfungsi
membantu siswa slow learner dalam memahami instruksi dan materi secara lebih konkret.
Gambar 1. Sampul LKPD
Gambar 2. Isi LKPD
Uji kepraktisan LKPD menggunakan angket kepraktisan yang mencakup 20 butir pernyataan
yang dibagi ke dalam tiga aspek, yaitu tampilan LKPD, isi LKPD, dan kebermanfaatan LKPD. Skala
penilaian menggunakan rentang 15. Hasil rekapitulasi angket kepraktisan disajikan pada Tabel 1
berikut.
Tabel 1. Hasil Penilaian Kepraktisan LKPD oleh Guru
No.
Aspek
Pertanyaan
Sangat
Setuju
Setuju
Netral
Tidak
Setuju
1.
Tampilan
Petunjuk penggunaan
LKPD ditulis dengan
jelas dan mudah
dipahami oleh siswa
2.
Tampilan
Tampilan LKPD
menarik dan tidak
membingungkan siswa
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 86-93
E-ISSN: 3026-4014
- 90 -
3.
Tampilan
Huruf dan gambar
dalam LKPD terlihat
jelas dan terbaca
4.
Tampilan
Bahasa yang digunakan
sederhana dan sesuai
usia siswa SD kelas
awal
5.
Tampilan
Ilustrasi/gambar dalam
LKPD sesuai dan
mendukung pemahaman
materi
6.
Tampilan
Ukuran teks pada LKPD
sesuai dan nyaman
dibaca oleh siswa
7.
Tampilan
Layout/tata letak LKPD
rapi dan terstruktur
dengan baik
8.
Isi
LKPD menyediakan
ruang yang cukup bagi
siswa untuk menulis
jawaban
9.
Isi
Mencocokkan huruf
besar dan huruf kecil
disajikan sederhana dan
mudah dipahami
10.
Isi
Mengenal dan
melafalkan huruf alfabet
sesuai tujuan
pembelajaran membaca
11.
Isi
Menulis ulang ejaan
kata sesuai tujuan
pembelajaran menulis
12.
Isi
Menulis kata dengan
huruf kapital sesuai
kaidah EYD
13.
Isi
Menyusun huruf acak
membantu siswa
memahami struktur kata
14.
Kebermanfaatan
Kegiatan dalam LKPD
dapat dilaksanakan
sesuai kondisi siswa
15.
Kebermanfaatan
LKPD dapat digunakan
sebagai sarana evaluasi
pembelajaran membaca
dan menulis
16.
Kebermanfaatan
LKPD mendorong
keaktifan dan
keterlibatan siswa dalam
pembelajaran
17.
Kebermanfaatan
Rubrik penilaian pada
LKPD jelas dan mudah
digunakan guru
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 86-93
E-ISSN: 3026-4014
- 91 -
18.
Kebermanfaatan
Kolom penilaian
(bintang) memotivasi
siswa untuk
mengerjakan dengan
baik
19.
Kebermanfaatan
LKPD dapat digunakan
untuk mengidentifikasi
kesulitan belajar siswa
20.
Kebermanfaatan
LKPD mendukung
pemberian umpan balik
dari guru kepada siswa
TOTAL SKOR
88
Berdasarkan Tabel 1, total skor yang diperoleh guru adalah 88 dari skor maksimal 100 (20 soal
× 5), sehingga persentase kepraktisan LKPD mencapai 88%. Nilai ini berada pada kategori sangat
praktis dengan rata-rata skor 4.4. Guru juga memberikan satu saran perbaikan, yaitu agar warna
LKPD dapat dibuat lebih beragam dengan konsep pelangi (rainbow) untuk menambah daya tarik
visual bagi siswa. Adapula hasil wawancara yang dilakukan kepada seorang siswa slow learner kelas
I. Ia mengungkapkan bahwa ia merasa kesulitan pada kata-kata tertentu dan menganggap beberapa
bagian dalam LKPD membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami. Ketika ditanya tentang huruf
yang sulit ditulis, ia menyebutkan huruf E sebagai salah satu yang ia anggap susah. Namun demikian,
ketika ditanya apakah ia menyukai LKPD yang diberikan, siswa tersebut menjawab dengan antusias
bahwa ia suka, dan mengakui bahwa LKPD tersebut terasa susah namun tetap ia sukai. Respon positif
ini menunjukkan bahwa desain LKPD yang dilengkapi gambar-gambar menarik berhasil menciptakan
pengalaman belajar yang menyenangkan meskipun materinya menantang bagi siswa slow learner.
Hal ini selaras dengan temuan Nurfadhillah et al. (2022) yang menyatakan bahwa siswa slow learner
di sekolah dasar umumnya mengalami kesulitan belajar yang signifikan, namun tetap dapat
termotivasi apabila pendekatan dan media yang digunakan sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik
mereka. Lebih lanjut, Atika & Andriati (2023) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa intervensi
yang tepat dapat meningkatkan minat belajar pada siswa slow learner di sekolah dasar, yang
menegaskan bahwa desain LKPD yang menyenangkan dan sesuai karakteristik siswa merupakan
salah satu bentuk intervensi yang efektif dalam mendorong keterlibatan belajar siswa slow learner
secara berkelanjutan.
Sejalan dengan hal tersebut, wawancara dengan guru kelas juga menghasilkan sejumlah
temuan penting. Guru mengungkapkan bahwa siswa berkebutuhan khusus di kelasnya memiliki
karakteristik yang beragam, mulai dari autis hingga siswa dengan hiperaktivitas, sehingga
pengelolaan kelas menjadi tantangan tersendiri. Guru menyatakan bahwa LKPD ini levelnya sudah
sesuai karena masih berfokus pada kemampuan dasar membaca dan menulis yang memang belum
dikuasai oleh siswa slow learner. Secara khusus, guru mengapresiasi kehadiran gambar dalam LKPD
dan menyebutkan bahwa keberadaan ilustrasi sangat menolong, namun apabila tidak ada gambar
pendukung, siswa cenderung tidak bisa menyelesaikannya karena tingkat kompleksitasnya yang
tinggi. Temuan ini sejalan dengan Hidayah & Utami (2024) yang menunjukkan bahwa pelaksanaan
program membaca untuk siswa slow learner kelas rendah di sekolah dasar inklusi sangat terbantu oleh
kehadiran media visual dan gambar konkret dalam proses pembelajaran. Guru juga menyoroti bahwa
kegiatan penggunaan huruf kapital merupakan tantangan tersendiri bagi siswa berkebutuhan khusus,
karena konsistensi antara huruf kecil dan huruf kapital kerap membingungkan siswa, mengingat
kebiasaan yang sudah terbentuk sejak awal. Terkait implementasi LKPD yang berbeda antara
kelompok reguler dan kelompok B (siswa berkebutuhan khusus), guru menyatakan hal tersebut
merupakan keharusan sesuai kondisi lapangan, di mana LKPD untuk kelompok B sudah mulai
disesuaikan tersendiri sejak semester sebelumnya.
Temuan dari kedua wawancara tersebut diperkuat oleh hasil angket kepraktisan yang
menunjukkan persentase sebesar 88%, sehingga LKPD "Aku Bisa Membaca dan Menulis" berada
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 86-93
E-ISSN: 3026-4014
- 92 -
pada kategori sangat praktis. Dari tujuh butir pernyataan pada aspek tampilan, empat butir
mendapatkan skor sempurna (5), yang mengindikasikan bahwa desain visual LKPD sudah sangat
sesuai untuk siswa slow learner kelas awal. Rofiah & Rofiana (2017) dalam penelitiannya di SD
Inklusi Wirosaban Yogyakarta juga menemukan bahwa metode pembelajaran yang disertai media
visual terbukti lebih efektif bagi siswa slow learner dibandingkan metode ceramah, mengingat
karakteristik siswa slow learner yang memiliki daya ingat lemah dan waktu reaksi yang lebih lambat
dibandingkan siswa reguler. Pada aspek isi, beberapa indikator seperti kegiatan melafalkan huruf
alfabet, menulis ulang ejaan, penulisan huruf kapital sesuai EYD, dan penyusunan huruf acak
mendapatkan skor 4 (setuju). Hal ini selaras dengan temuan wawancara guru yang menyebutkan
bahwa kegiatan menyusun huruf acak dan penggunaan huruf kapital masih tergolong kompleks bagi
siswa slow learner, sehingga perlu disertai gambar pendukung yang lebih eksplisit. Triastuti et al.
(2021) dalam penelitian pengembangan buku berjenjang untuk siswa slow learner kelas 1 SD juga
menemukan bahwa materi membaca permulaan yang disusun secara bertahap dan disertai ilustrasi
terbukti dapat meningkatkan kemampuan membaca siswa secara signifikan, yang memperkuat
pentingnya penyusunan konten LKPD yang terstruktur dan berjenjang. Pada aspek kebermanfaatan,
mendapatkan skor rata antara skor 4 dan 5. Hal ini mengindikasikan bahwa LKPD ini efektif sebagai
alat bantu evaluasi dan dapat mendorong motivasi siswa melalui kolom penilaian berbentuk bintang.
4. Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil uji kepraktisan oleh guru kelas I SDN Ketintang II Surabaya, LKPD "Aku
Bisa Membaca dan Menulis" memperoleh total skor 88 dari skor maksimal 100 dengan persentase
88%, sehingga berada pada kategori sangat praktis. Aspek tampilan mendapat respons sangat positif
karena desain visual LKPD ilustrasi berwarna, ukuran teks, dan tata letak dinilai adaptif untuk siswa
slow learner kelas awal. Aspek isi menunjukkan bahwa kegiatan membaca dan menulis dalam LKPD
sesuai tujuan pembelajaran, meskipun kegiatan yang lebih kompleks seperti menyusun huruf acak
dan penulisan huruf kapital masih memerlukan gambar pendukung yang lebih eksplisit. Aspek
kebermanfaatan mendapat skor tinggi, mengindikasikan bahwa LKPD efektif sebagai alat evaluasi
sekaligus mampu memotivasi siswa melalui kolom penilaian berbentuk bintang. Hasil wawancara
dengan siswa dan guru memperkuat temuan tersebut, sehingga LKPD ini dinyatakan layak digunakan
sebagai bahan ajar adaptif sekaligus instrumen untuk menggali profil literasi dasar siswa slow learner
di sekolah dasar inklusi. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar LKPD diperkaya variasi
warnanya dengan konsep pelangi (rainbow) sesuai masukan guru, serta dilengkapi gambar pendukung
yang lebih eksplisit pada kegiatan yang kompleks. Sekolah inklusi juga disarankan memanfaatkan
LKPD ini sebagai instrumen asesmen awal untuk memetakan profil literasi dasar siswa slow learner
secara individual. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk mengkaji aspek validitas dan
efektivitas LKPD secara komprehensif, serta memperluas subjek penelitian ke berbagai sekolah
inklusi agar temuan dapat digeneralisasikan secara lebih luas.
5. Daftar Pustaka
Anggraini, L. W., & Rahmawati, L. E. (2023). Peningkatan literasi membaca dan menulis bagi siswa
sekolah dasar melalui kegiatan lakusi (latihan khusus literasi). Jurnal Ilmiah Kampus Mengajar,
6070. https://doi.org/10.56972/jikm.v3i1.57
Atika, A., & Andriati, N. (2023). Konseling kelompok dengan teknik behavioral untuk meningkatkan
minat belajar pada siswa slow learner di sekolah dasar. Edukasi: Jurnal Pendidikan dan
Pembelajaran, 4(2), 19611968. https://doi.org/10.62775/edukasia.v4i2.529
Haryati, T., Winata, W., & Suryadi, A. (2022). Pengembangan program pembelajaran individual bagi
siswa slow learner di SD Lab School FIP UMJ. Jurnal Instruksional, 4(1).
https://doi.org/10.24853/instruksional.4.1.%25p
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 86-93
E-ISSN: 3026-4014
- 93 -
Hendratno, Yasin, F. N., Istiq’faroh, N., & Suprayitno. (2023). Development of textbook based on
character using multimedia to improve critical thinking skills for elementary school students.
Studies in Learning and Teaching, 4(1), 5267. https://doi.org/10.46627/silet.v4i1.193
Herlina, N., & Istiq’faroh, N. (2025). Pengembangan media buku digital cerita fabel bergambar
menggunakan aplikasi PicsArt untuk keterampilan membaca pemahaman pada siswa sekolah dasar
kelas IV. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 13(12), 31453157.
Hidayah, R., & Utami, R. D. (2024). The implementation of inclusive education programs in reading
practice for low-grade slow learners in elementary schools. Jurnal Elementaria Edukasia, 7(3),
31443157. https://doi.org/10.31949/jee.v7i3.9755
Hidayanti, R. (2017). Pengembangan lembar kegiatan peserta didik berbasis inkuiri terbimbing untuk anak
berkebutuhan khusus di kelas V SD Negeri 7 Metro Pusat (Skripsi, Universitas
Lampung).http://digilib.unila.ac.id/id/eprint/27197
Indryani, Rusdi, Fitri, H., & Rahmat, T. (2023). Pengembangan lembar kerja peserta didik (LKPD)
berbasis model pembelajaran student facilitator and explaining (SFAE) pada pembelajaran
matematika kelas VIII SMPN 2 Ampek Angkek. Journal on Education, 5(3), 59445961.
https://doi.org/10.31004/joe.v5i2.1050
Istiqfaroh, N., Hendratno, H., Rukmi, A. S., Damayanti, M. I., Kristanti, A. L. F., & Syaharani, N. F.
(2023). Budaya literasi: Pelatihan menulis artikel dan publikasi ilmiah bagi guru di sekolah dasar.
Kontribusi: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, 4(1), 1223.
https://doi.org/10.53624/kontribusi.v4i1.263
Nurfadhillah, S., Septiarini, A. A., Mitami, M., & Pratiwi, D. I. (2022). Analisis kesulitan belajar siswa
berkebutuhan khusus slow learner di sekolah dasar negeri Cipete 4. Alsys, 2(6), 646660.
https://doi.org/10.58578/alsys.v2i6.623
Rofiah, N. H., & Rofiana, I. (2017). Penerapan metode pembelajaran peserta didik slow learner (studi
kasus di sekolah dasar inklusi Wirosaban Yogyakarta). Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan
Pembelajaran, 2(1), 94107. https://doi.org/10.35568/naturalistic.v2i1.108
Sa'diyah, H., & Arifin, M. B. U. B. (2025). Learner worksheets as a learning evaluation for students: An
analysis of a study of slow learner students in primary school. Educate: Jurnal Teknologi
Pendidikan, 10(1). https://doi.org/10.34005/educate.v10i1.18159
Saragih, D. E., Fitriani, Y., & Rochyadi, E. (2024). Asesmen pendidikan pada anak dengan slow learner.
Jurnal Inovasi, Evaluasi dan Pengembangan Pembelajaran (JIEPP), 4(3), 363370.
https://doi.org/10.54371/jiepp.v4i3.528
Sari, R. P., Arief, D., Sabandi, A., & F. (2020). Pengembangan bahan ajar membaca permulaan
menggunakan media pop up book di sekolah dasar. Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran
Sekolah Dasar, 6(1). https://doi.org/10.24036/jippsd.v6i1.114708
Setiawan, R., Muhimmah, H. A., Subrata, H., Istiq’faroh, N., Abidin, Z., & Noerdiana, A. F. (2023).
Metode pembelajaran bahasa Indonesia yang inovatif tingkat sekolah dasar dengan teori belajar
sibernetika. Jurnal Review Pendidikan Dasar: Jurnal Kajian Pendidikan dan Hasil Penelitian, 9(2),
117122. https://doi.org/10.26740/jrpd.v9n2.p117-122
Silvi, R., Suprapto, N., & Istiq’faroh, N. (2024). Analisis kebutuhan awal pengembangan media pop up
book berbasis budaya lokal terhadap literasi sains di sekolah dasar. Pendas: Jurnal Ilmiah
Pendidikan Dasar, 9(4), 332346. https://doi.org/10.23969/jp.v9i04.19890
Triastuti, I. R. R., Laksono, K., & Indarti, T. (2021). Pengembangan buku berjenjang level B untuk
meningkatkan kemampuan membaca siswa slow learner kelas 1 sekolah dasar. Jurnal Education
and Development, 9(1), 304304.