Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 100 -
Artikel Penelitian
Naskah dikirim: 12/02/2026 Selesai revisi: 24/03/2026Disetujui: 18/05/2026Diterbitkan:01/06/2026
Manajemen Kompetensi Digital Guru dalam Administrasi Pendidikan di SDN Sukarukun
01 Bekasi
Astri Ardila Susanti
1*
, Suwandi
2
1,2
Magister Manajemen Pendidikan, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, Indonesia
e-mail:
1
astriardila@gmail.com,
2
wandy.idoy@gmail.com
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen kompetensi digital guru dalam
administrasi pendidikan di SDN Sukarukun 01 Kabupaten Bekasi. Penelitian menggunakan pendekatan
kualitatif dengan desain studi lapangan melalui teknik wawancara mendalam terhadap kepala sekolah dan
guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen kompetensi digital guru telah dilaksanakan melalui
fungsi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan, namun belum berjalan secara
optimal dan sistematis. Pada aspek perencanaan, kebijakan peningkatan kompetensi digital masih bersifat
informal dan belum terdokumentasi secara tertulis. Pada aspek pengorganisasian, terdapat pola kolaborasi
antar guru sebagai strategi adaptif, di mana guru yang lebih kompeten secara digital membantu guru
lainnya. Pada aspek pelaksanaan, implementasi administrasi berbasis digital telah dilakukan, namun masih
menghadapi kendala berupa keterbatasan literasi digital, rendahnya kepercayaan diri, serta kesenjangan
generasional. Sementara itu, pengawasan dilakukan melalui evaluasi hasil kerja, tetapi belum didukung
oleh indikator yang terukur. Kebaruan penelitian ini terletak pada temuan mengenai peran kolaborasi
informal dan kesenjangan generasional sebagai faktor kunci dalam manajemen kompetensi digital guru.
Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya penguatan kebijakan, pelatihan berkelanjutan, dan sistem
pendampingan berbasis kebutuhan untuk meningkatkan kompetensi digital guru secara efektif.
Kata kunci: kompetensi digital; manajemen pendidikan; administrasi pendidikan; kolaborasi guru;
kesenjangan generasional.
Teacher Digital Competency Management in Educational Administration at SDN Sukarukun 01 Bekasi
Abstract: This study aims to analyze the management of teachers’ digital competence in educational
administration at SDN Sukarukun 01 Bekasi. The study employed a qualitative approach with a field
research design using in-depth interviews with the principal and teachers. The findings reveal that the
management of teachers’ digital competence has been implemented through planning, organizing,
actuating, and controlling functions; however, it has not been conducted optimally and systematically. In
the planning aspect, policies related to digital competence development remain informal and
undocumented. In organizing, an informal peer collaboration pattern emerges as an adaptive strategy,
where digitally competent teachers assist others. In actuating, the implementation of digital-based
administration has been carried out but still faces challenges, including limited digital literacy, low self-
confidence, and generational digital gaps. Meanwhile, controlling is conducted through work evaluation
but lacks measurable performance indicators. The novelty of this study lies in identifying informal
collaboration and generational gaps as key factors influencing the management of teachers digital
competence. The study implies the need for strengthening formal policies, continuous training programs,
and needs-based mentoring systems to enhance teachers’ digital competence effectively.
Keywords: digital competence; educational management; educational administration; teacher
collaboration; generational gap.
Hak Cipta©2026 Astri Ardila Susanti, Suwandi
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 101 -
1. Pendahuluan
Transformasi digital dalam pendidikan merupakan fenomena global yang mendorong
perubahan signifikan dalam sistem pembelajaran dan administrasi pendidikan. Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah praktik administrasi dari manual menjadi
berbasis digital, seperti penggunaan e-rapor, sistem manajemen sekolah, dan perangkat ajar digital.
Dalam konteks ini, guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pengelola
administrasi berbasis teknologi yang dituntut untuk adaptif terhadap perubahan. Transformasi ini
menuntut adanya peningkatan kompetensi digital sebagai bagian dari kompetensi profesional guru.
Tanpa penguasaan kompetensi digital yang memadai, implementasi digitalisasi pendidikan akan
mengalami hambatan yang serius. Oleh karena itu, kompetensi digital menjadi elemen kunci dalam
mendukung efektivitas administrasi pendidikan di era digital (Feng & Xue, 2023).
Secara konseptual, kompetensi digital guru merupakan konstruk multidimensional yang
mencakup kemampuan teknis, pedagogis, dan sosial dalam memanfaatkan teknologi. Kerangka
DigCompEdu menjelaskan bahwa kompetensi digital guru meliputi enam area utama, yaitu
keterlibatan profesional, sumber daya digital, pembelajaran dan pengajaran, penilaian, pemberdayaan
peserta didik, serta fasilitasi kompetensi digital siswa. Kerangka ini menegaskan bahwa kompetensi
digital tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga integrasinya dalam praktik
pendidikan secara holistik. Dengan demikian, pengembangan kompetensi digital guru harus
dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Pendekatan ini menempatkan guru sebagai aktor
utama dalam transformasi digital pendidikan (Cabero-Almenara et al., 2023).
Urgensi kompetensi digital guru semakin diperkuat oleh berbagai studi yang menunjukkan
bahwa kemampuan digital berkontribusi langsung terhadap kualitas pembelajaran dan efektivitas
administrasi pendidikan (Purwani, 2025; Wattanapanit, 2025; Wattanapanit et al., 2024). Guru yang
memiliki kompetensi digital tinggi cenderung lebih mampu mengelola data pendidikan,
mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran, serta meningkatkan efisiensi kerja administratif.
Sebaliknya, keterbatasan kompetensi digital dapat menghambat proses administrasi dan menurunkan
kualitas layanan pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa kompetensi digital bukan lagi kompetensi
tambahan, melainkan kompetensi inti yang harus dimiliki oleh guru di era digital. Dengan demikian,
peningkatan kompetensi digital menjadi agenda strategis dalam pengembangan kualitas pendidikan
(Santos et al., 2025).
Namun demikian, implementasi kompetensi digital guru masih menghadapi berbagai
tantangan, terutama terkait dengan kesenjangan antara tuntutan teknologi dan kesiapan guru.
Penelitian menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan kompetensi digital antara guru yang
memiliki pengalaman teknologi dengan yang tidak, terutama antara guru senior dan guru muda
(Anggraini et al., 2024; Aznar-Díaz et al., 2025). Kesenjangan ini menyebabkan ketimpangan dalam
kemampuan mengelola administrasi digital di sekolah. Selain itu, kurangnya pelatihan yang efektif
juga menjadi faktor penghambat dalam peningkatan kompetensi digital. Kondisi ini menunjukkan
bahwa transformasi digital pendidikan belum sepenuhnya diimbangi dengan kesiapan sumber daya
manusia. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang lebih sistematis dalam mengatasi kesenjangan
kompetensi digital guru (Momdjian et al., 2025).
Selain faktor kemampuan, pengembangan kompetensi digital guru juga dipengaruhi oleh
kualitas program pelatihan yang diberikan. Banyak program pelatihan yang masih bersifat umum,
tidak kontekstual, dan tidak berkelanjutan, sehingga kurang efektif dalam meningkatkan kompetensi
digital guru. Dalam perspektif teori pengembangan profesional, pelatihan yang efektif harus berbasis
kebutuhan, berorientasi praktik, dan dilengkapi dengan pendampingan berkelanjutan. Tanpa adanya
sistem pelatihan yang terstruktur, peningkatan kompetensi digital akan sulit dicapai secara optimal.
Oleh karena itu, diperlukan desain pelatihan yang lebih adaptif dan sesuai dengan karakteristik guru
(Kanso et al., 2025).
Dalam perspektif manajemen pendidikan, pengembangan kompetensi digital guru tidak dapat
dilepaskan dari fungsi manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan
pengawasan (POAC). Teori manajemen klasik menekankan bahwa keberhasilan suatu program
sangat ditentukan oleh efektivitas implementasi keempat fungsi tersebut (Nurhikmah, 2024; Sunarya,
2025). Dalam konteks pendidikan, manajemen kompetensi digital harus dirancang secara sistematis
melalui perencanaan strategis, pengorganisasian sumber daya, pelaksanaan program, dan evaluasi
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 102 -
berkelanjutan. Namun, dalam praktiknya, banyak sekolah yang belum mengelola kompetensi digital
secara terstruktur. Hal ini menyebabkan program yang dijalankan cenderung parsial dan tidak
berkelanjutan, sehingga kurang efektif dalam meningkatkan kompetensi guru secara menyeluruh
(Horváth et al., 2025).
Selain aspek manajerial, faktor psikologis seperti self-efficacy dan kepercayaan diri juga
mempengaruhi kemampuan guru dalam mengadopsi teknologi. Guru yang memiliki kepercayaan diri
rendah cenderung mengalami kecemasan dalam menggunakan teknologi, sehingga menghambat
proses administrasi digital. Sebaliknya, guru dengan self-efficacy tinggi akan lebih mudah beradaptasi
dan cenderung lebih inovatif dalam memanfaatkan teknologi (Mulyoto et al., 2024; Prihatin &
Ridhani, 2025; Ya Meng, 2025). Oleh karena itu, pengembangan kompetensi digital tidak hanya
berfokus pada aspek teknis, tetapi juga pada aspek psikologis yang mendukung kesiapan guru dalam
menghadapi perubahan teknologi (Zhang et al., 2026).
Lebih lanjut, dinamika sosial dalam lingkungan sekolah juga berperan penting dalam
pengembangan kompetensi digital guru. Kolaborasi antar guru menjadi salah satu strategi adaptif
yang efektif dalam meningkatkan kompetensi digital secara kolektif. Guru yang memiliki
kemampuan digital lebih tinggi dapat membantu guru lain melalui interaksi informal, sehingga terjadi
transfer pengetahuan secara alami (Astuti & Setiawan, 2023; Ye, 2025). Dalam teori pembelajaran
sosial, interaksi antar individu merupakan faktor penting dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu,
kolaborasi antar guru dapat menjadi pendekatan strategis dalam meningkatkan kompetensi digital di
lingkungan sekolah (Meyerhofer-Parra & González-Martínez, 2024).
Meskipun demikian, penelitian terkait kompetensi digital guru selama ini masih didominasi
oleh pendekatan individual dan belum banyak mengkaji aspek manajerial secara komprehensif. Selain
itu, penelitian yang mengintegrasikan aspek manajemen, psikologis, dan sosial dalam satu kerangka
analisis masih terbatas. Padahal, ketiga aspek tersebut saling berkaitan dalam menentukan
keberhasilan implementasi kompetensi digital. Oleh karena itu, diperlukan penelitian yang mampu
mengkaji kompetensi digital guru secara multidimensional agar memberikan gambaran yang lebih
utuh (López-Nuñez et al., 2024).
Kesenjangan generasional juga menjadi isu penting dalam pengembangan kompetensi digital
guru. Perbedaan usia dan pengalaman mempengaruhi kemampuan guru dalam mengadopsi teknologi.
Guru senior cenderung mengalami kesulitan dalam beradaptasi dibandingkan dengan guru muda yang
lebih familiar dengan teknologi digital. Kondisi ini menciptakan ketimpangan dalam implementasi
administrasi berbasis digital di sekolah. Oleh karena itu, strategi pengembangan kompetensi digital
harus mempertimbangkan faktor generasional sebagai salah satu variabel penting (Momdjian et al.,
2025).
Berdasarkan uraian tersebut, terdapat kesenjangan penelitian yang menunjukkan bahwa
manajemen kompetensi digital guru belum banyak dikaji secara komprehensif dengan
mengintegrasikan aspek manajerial, sosial, dan generasional. Selain itu, penelitian yang mengkaji
peran kolaborasi informal sebagai strategi adaptif dalam meningkatkan kompetensi digital juga masih
terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi penting untuk mengisi kekosongan tersebut dan
memberikan kontribusi baru dalam kajian manajemen pendidikan berbasis digital.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen kompetensi digital guru dalam
administrasi pendidikan di SDN Sukarukun 01 Bekasi dengan menggunakan perspektif fungsi
manajemen (POAC). Selain itu, penelitian ini juga mengkaji peran kolaborasi antar guru serta
kesenjangan generasional dalam pengembangan kompetensi digital. Hasil penelitian ini diharapkan
dapat memberikan kontribusi teoretis dalam pengembangan ilmu manajemen pendidikan serta
kontribusi praktis bagi sekolah dalam merancang strategi peningkatan kompetensi digital yang lebih
efektif, sistematis, dan berkelanjutan.
2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field
research) yang bertujuan untuk memahami secara mendalam manajemen kompetensi digital guru
dalam administrasi pendidikan. Pendekatan kualitatif dipilih karena mampu mengkaji fenomena
sosial secara kontekstual, holistik, dan interpretatif, serta menempatkan peneliti sebagai instrumen
utama dalam pengumpulan data. Penelitian kualitatif menekankan pada makna, pengalaman, dan
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 103 -
realitas sosial yang kompleks, sehingga sangat relevan digunakan dalam kajian manajemen
pendidikan berbasis digital (Gunawan, 2022).
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2026 di SDN Sukarukun, Kabupaten
Bekasi, Jawa Barat. Pemilihan lokasi didasarkan pada pertimbangan bahwa sekolah tersebut telah
mengimplementasikan administrasi pendidikan berbasis digital, namun masih menghadapi kendala
dalam pengelolaan kompetensi digital guru. Subjek penelitian terdiri dari kepala sekolah dan guru
kelas yang terlibat langsung dalam administrasi pendidikan berbasis digital. Teknik pengambilan
sampel menggunakan purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan kriteria tertentu
yang relevan dengan tujuan penelitian, seperti pengalaman, keterlibatan, dan kemampuan dalam
penggunaan teknologi.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi wawancara mendalam, observasi, dan
dokumentasi. Wawancara digunakan untuk menggali pengalaman dan persepsi informan terkait
penggunaan teknologi dalam administrasi pendidikan. Observasi dilakukan untuk melihat praktik
langsung penggunaan teknologi di sekolah, sedangkan dokumentasi digunakan untuk melengkapi
data berupa arsip administrasi digital. Kombinasi teknik ini memungkinkan peneliti memperoleh data
yang komprehensif dan mendalam sesuai karakteristik penelitian kualitatif (Gunawan, 2022).
Keabsahan data dalam penelitian ini diuji melalui teknik triangulasi sumber, metode, dan
waktu. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai informan, teknik, dan waktu
untuk memastikan konsistensi dan kredibilitas data. Triangulasi merupakan strategi penting dalam
penelitian kualitatif untuk meningkatkan validitas dan mengurangi bias, karena memungkinkan
peneliti melihat fenomena dari berbagai perspektif (Luthfiyani & Murhayati, 2024). Selain itu,
penelitian ini juga menggunakan teknik member checking untuk memastikan kesesuaian data dengan
informasi yang diberikan oleh informan.
Teknik analisis data menggunakan model analisis interaktif yang meliputi reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dilakukan dengan memilih dan
memfokuskan data yang relevan, penyajian data dilakukan dalam bentuk narasi sistematis, sedangkan
penarikan kesimpulan dilakukan melalui interpretasi mendalam terhadap data. Proses ini dilakukan
secara berkelanjutan sejak pengumpulan data hingga tahap akhir penelitian untuk menghasilkan
temuan yang valid dan komprehensif (Gunawan, 2022).
Gambar 1. Alur Penelitian
3. Hasil dan Pembahasan
Tabel 1. Kutipan Wawancara Kunci dalam Manajemen Kompetensi Digital Guru
No
Informan
Aspek
Kutipan Wawancara
Makna/Interpretasi
1
Kepala
Sekolah
Perencanaan
“Kami sudah mengarahkan guru
menggunakan teknologi, tapi
belum ada kebijakan tertulis.”
(Wawancara, 2026)
Perencanaan masih
informal dan belum
sistematis
Penentuan Masalah
Penentuan Lokasi &
Subjek (Purposive
Sampling)
Pengumpulan Data
(Wawancara
Observasi
Dokumentasi)
Triangulasi Data
(Sumber Metode
Waktu)
Analisis Data
(Reduksi Penyajian
Kesimpulan)
Temuan Penelitian &
Interpretasi
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 104 -
2
Kepala
Sekolah
Pelatihan
“Pelatihan pernah ada, tapi
belum rutin dan tidak terjadwal.”
(Wawancara, 2026)
Pengembangan
kompetensi belum
berkelanjutan
3
Kepala
Sekolah
Pelaksanaan
“Administrasi digital sudah
berjalan, tapi belum maksimal.”
(Wawancara, 2026)
Implementasi masih tahap
transisi
4
Kepala
Sekolah
Pengawasan
“Kami cek hasil administrasi,
kalau ada masalah kami beri
arahan.” (Wawancara, 2026)
Pengawasan masih
berbasis hasil
5
Guru
Kompetensi
Digital
“Kalau aplikasinya agak rumit,
saya masih sering bingung.”
(Wawancara, 2026)
Kemampuan digital masih
rendah
6
Guru
Kendala
“Sering kesulitan apalagi kalau
ada perubahan sistem atau menu
baru.” (Wawancara, 2026)
Adaptasi teknologi masih
lemah
7
Guru
Psikologis
“Kadang takut salah tekan.”
(Wawancara, 2026)
Rendahnya self-efficacy
8
Guru
Kolaborasi
“Saya sering minta bantuan ke
guru yang lebih muda.”
(Wawancara, 2026)
Ketergantungan pada
guru lain
9
Guru
Kesenjangan
“Saya harus belajar dari awal
lagi karena dulu belum seperti
sekarang.” (Wawancara, 2026)
Terjadi gap generasional
10
Guru
Strategi
belajar
“Saya biasanya tanya ke teman
atau operator.” (Wawancara,
2026)
Pembelajaran berbasis
informal
11
Guru
Pelatihan
“Pelatihannya terlalu cepat, jadi
susah mengikuti.” (Wawancara,
2026)
Pelatihan tidak adaptif
12
Guru
Harapan
“Harapannya ada pelatihan yang
pelan-pelan supaya bisa
memahami.” (Wawancara, 2026)
Kebutuhan pelatihan
kontekstual
Tabel 1 menunjukkan kutipan wawancara kunci yang merepresentasikan kondisi empiris
manajemen kompetensi digital guru di SDN Sukarukun 01 Kabupaten Bekasi. Kutipan tersebut
menegaskan bahwa permasalahan utama terletak pada aspek perencanaan yang belum sistematis,
pelaksanaan yang belum optimal, serta adanya kendala teknis dan psikologis dalam penggunaan
teknologi. Selain itu, temuan juga menunjukkan adanya kesenjangan generasional dan
ketergantungan pada kolaborasi informal antar guru sebagai strategi adaptif dalam menghadapi
keterbatasan kompetensi digital.
Tabel 2. Temuan Manajemen Kompetensi Digital Guru di SDN Sukarukun 01 Bekasi
No
Aspek
Manajemen
Temuan Hasil
Wawancara
Interpretasi
1
Perencanaan
Belum ada kebijakan
tertulis, hanya arahan
penggunaan teknologi
Perencanaan masih
informal dan belum
strategis
2
Perencanaan
Pelatihan pernah
dilakukan, tetapi tidak
rutin dan tidak terjadwal
Pengembangan
kompetensi bersifat
reaktif
3
Perencanaan
Mengikuti kebijakan
dinas seperti e-rapor
Perencanaan eksternal,
bukan berbasis
kebutuhan sekolah
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 105 -
4
Pengorganisasian
Guru yang mahir
membantu guru lain
Pengorganisasian
berbasis kemampuan
individu
5
Pengorganisasian
Guru senior bergantung
pada guru muda
Terjadi gap generasional
6
Pengorganisasian
Guru saling membantu
dalam administrasi
digital
Kolaborasi menjadi
strategi adaptif
7
Pelaksanaan
Sudah berjalan, tetapi
belum maksimal
Implementasi masih
tahap transisi
8
Pelaksanaan
Kesulitan menggunakan
aplikasi, takut salah,
kurang terbiasa
Hambatan teknis dan
psikologis
9
Pelaksanaan
Bertanya ke rekan atau
operator sekolah
Ketergantungan tinggi
pada bantuan
10
Pengawasan
Kepala sekolah
mengecek hasil
administrasi
Pengawasan masih
berbasis output
11
Pengawasan
Memberikan arahan jika
ada kesalahan
Belum ada sistem
evaluasi terstruktur
12
Pengembangan
Rencana pelatihan rutin
dan pendampingan
Ada upaya perbaikan
namun belum sistematis
Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui bahwa manajemen kompetensi digital guru di SDN
Sukarukun 01 Kabupaten Bekasi belum berjalan secara optimal pada seluruh fungsi manajemen
(POAC). Temuan menunjukkan bahwa aspek perencanaan masih bersifat informal, pengorganisasian
berbasis kolaborasi, pelaksanaan belum maksimal, serta pengawasan masih berorientasi pada hasil
administratif.
Perencanaan Kompetensi Digital Guru dalam Administrasi Pendidikan
Perencanaan merupakan tahap awal yang sangat menentukan dalam manajemen kompetensi
digital guru, karena menjadi dasar dalam merancang arah kebijakan, strategi, serta program
pengembangan yang akan dilaksanakan. Dalam konteks penelitian ini, perencanaan kompetensi
digital guru dianalisis pada satuan pendidikan dasar, yaitu SD Negeri Sukarukun 01 yang berlokasi
di Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Sekolah ini merupakan sekolah dasar negeri yang telah
berdiri sejak tahun 1963 dan memiliki status akreditasi A, yang menunjukkan bahwa secara
kelembagaan memiliki standar mutu yang baik dalam pengelolaan pendidikan (Sekolahloka, 2022).
Namun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas kelembagaan tersebut belum
sepenuhnya diikuti dengan perencanaan yang optimal dalam pengembangan kompetensi digital guru.
Berdasarkan hasil wawancara, kepala sekolah menyatakan bahwa “kami sudah mengarahkan
guru supaya mulai menggunakan teknologi, terutama untuk administrasi seperti e-rapor, tetapi
memang belum ada kebijakan tertulis yang khusus” (Wawancara Kepala Sekolah, 2026). Pernyataan
ini menunjukkan bahwa perencanaan masih bersifat informal dan belum terdokumentasi dalam
bentuk kebijakan strategis sekolah. Kondisi ini mengindikasikan bahwa fungsi perencanaan belum
dijalankan secara optimal, karena belum memiliki landasan kebijakan yang jelas sebagai pedoman
dalam implementasi program pengembangan kompetensi digital guru.
Selain itu, program pelatihan yang dilaksanakan juga belum terencana secara sistematis dan
berkelanjutan. Kepala sekolah mengungkapkan bahwa “pelatihan pernah ada, tetapi belum rutin dan
biasanya hanya ketika ada kebutuhan tertentu”. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan perencanaan
yang digunakan masih bersifat reaktif, yaitu menyesuaikan dengan tuntutan eksternal, seperti
kebijakan dinas pendidikan atau perubahan sistem administrasi digital. Padahal, dalam teori
manajemen pendidikan yang telah dijelaskan pada bagian pendahuluan, perencanaan yang efektif
harus berbasis kebutuhan, berorientasi jangka panjang, serta dilakukan secara sistematis dan
berkelanjutan (Nurhikmah, 2024; Sunarya, 2025).
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 106 -
Temuan ini juga menunjukkan ketidaksesuaian dengan kerangka kompetensi digital guru
seperti DigCompEdu yang menekankan bahwa pengembangan kompetensi digital harus dilakukan
secara komprehensif dan terintegrasi dalam praktik pendidikan (Cabero-Almenara et al., 2023).
Tanpa adanya perencanaan yang matang, pengembangan kompetensi digital hanya akan bersifat
parsial dan tidak mampu menjangkau seluruh dimensi kompetensi, seperti keterampilan teknis,
pedagogis, dan profesional. Hal ini berdampak pada rendahnya kesiapan guru dalam mengelola
administrasi pendidikan berbasis digital secara efektif.
Lebih lanjut, hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang menunjukkan bahwa
lemahnya perencanaan dan tidak adanya program pelatihan berkelanjutan menjadi salah satu
penyebab utama rendahnya kompetensi digital guru. Studi menunjukkan bahwa pengembangan
kompetensi digital guru sangat bergantung pada adanya program pelatihan yang terstruktur dan
berkelanjutan sebagai bagian dari pengembangan profesional guru di era digital (Wati &
Nurhasannah, 2024). Tanpa adanya roadmap yang jelas, program pengembangan kompetensi digital
cenderung tidak terarah dan sulit dievaluasi secara sistematis. Selain itu, penelitian lain juga
menegaskan bahwa keterbatasan pelatihan dan dukungan institusional menjadi faktor penghambat
utama dalam peningkatan kompetensi digital guru (Maulana et al., 2025). Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa aspek perencanaan dalam manajemen kompetensi digital guru di SDN Sukarukun
01 Kabupaten Bekasi masih belum optimal dan memerlukan penguatan melalui penyusunan
kebijakan tertulis, perencanaan strategis berbasis kebutuhan, serta program pelatihan yang
berkelanjutan agar pengembangan kompetensi digital dapat berjalan secara efektif dan sistematis.
Pengorganisasian Kompetensi Digital Guru Berbasis Kolaborasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengorganisasian kompetensi digital guru di SDN
Sukarukun 01 Kabupaten Bekasi cenderung dilakukan secara fleksibel dan berbasis kemampuan
individu, bukan melalui sistem yang terstruktur. Kepala sekolah menyatakan bahwa “biasanya kami
lihat kemampuan masing-masing, guru yang lebih bisa teknologi membantu yang lain” (Wawancara
Kepala Sekolah, 2026). Hal ini menunjukkan bahwa pembagian tugas administrasi digital tidak
didasarkan pada struktur formal, melainkan pada praktik adaptif yang berkembang secara alami di
lingkungan sekolah. Kondisi ini mencerminkan bahwa fungsi pengorganisasian belum sepenuhnya
dijalankan secara sistematis sesuai prinsip manajemen pendidikan.
Temuan ini diperkuat oleh hasil wawancara guru yang menunjukkan adanya ketergantungan
tinggi terhadap guru yang lebih kompeten dalam teknologi. Salah satu guru menyatakan bahwa “saya
sering minta bantuan ke guru yang lebih muda atau operator sekolah”, bahkan guru lain
menyebutkan “hampir setiap ada pekerjaan digital saya pasti tanya” (Wawancara Guru, 2026). Hal
ini menunjukkan bahwa dalam praktiknya, pengorganisasian lebih bersifat informal melalui
mekanisme bantuan antar guru, bukan melalui pembagian peran yang terstruktur dan terencana.
Secara teoritis, kondisi ini selaras dengan konsep pembelajaran sosial yang telah dijelaskan
pada bagian pendahuluan, di mana interaksi antar individu menjadi sarana penting dalam transfer
pengetahuan dan peningkatan kompetensi. Kolaborasi antar guru memungkinkan terjadinya
pembelajaran informal yang efektif, terutama dalam konteks adaptasi teknologi. Penelitian
menunjukkan bahwa kemampuan kolaborasi memiliki pengaruh positif terhadap peningkatan
kompetensi digital guru, karena memungkinkan terjadinya pertukaran pengetahuan dan pengalaman
secara langsung (Ririnni et al., 2025). Dengan demikian, praktik kolaborasi yang terjadi di sekolah
menjadi salah satu kekuatan dalam pengorganisasian kompetensi digital.
Selain itu, penelitian lain juga menegaskan bahwa kolaborasi antar guru, baik dengan sesama
guru maupun dengan dukungan teknologi, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kompetensi
digital guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi memiliki pengaruh positif dan
signifikan terhadap kompetensi digital guru, sehingga semakin tinggi tingkat kolaborasi, maka
semakin tinggi pula kompetensi digital yang dimiliki (Ririnni et al., 2025). Hal ini memperkuat
temuan penelitian bahwa praktik kolaboratif di SDN Sukarukun memiliki peran penting dalam
membantu guru yang mengalami kesulitan dalam penggunaan teknologi.
Namun demikian, pengorganisasian yang bersifat informal ini juga memiliki keterbatasan,
terutama dalam hal keberlanjutan dan pemerataan kompetensi. Ketergantungan terhadap guru tertentu
berpotensi menimbulkan ketimpangan beban kerja serta menghambat kemandirian guru lain dalam
mengembangkan kompetensi digitalnya. Selain itu, tidak adanya sistem pengorganisasian yang jelas
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 107 -
menyebabkan proses pengembangan kompetensi digital tidak dapat dikontrol dan dievaluasi secara
sistematis. Oleh karena itu, meskipun kolaborasi menjadi strategi adaptif yang efektif, diperlukan
pengorganisasian yang lebih terstruktur agar pengembangan kompetensi digital dapat berjalan secara
merata, sistematis, dan berkelanjutan sesuai dengan prinsip manajemen pendidikan.
Pelaksanaan Administrasi Digital dan Kendala Kompetensi Guru
Pelaksanaan merupakan tahap implementasi dari perencanaan dan pengorganisasian yang telah
dilakukan, yang dalam konteks penelitian ini berkaitan dengan penerapan administrasi pendidikan
berbasis digital di SDN Sukarukun 01 Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa administrasi digital seperti penggunaan e-rapor dan perangkat ajar digital telah diterapkan,
namun belum berjalan secara optimal. Kepala sekolah menyatakan bahwa “administrasi digital sudah
berjalan, tetapi memang belum maksimal, masih ada yang perlu dibantu” (Wawancara Kepala
Sekolah, 2026). Pernyataan ini menunjukkan bahwa implementasi sudah dilakukan, tetapi belum
mencapai tingkat efektivitas yang diharapkan.
Kondisi tersebut diperkuat oleh hasil wawancara guru yang menunjukkan adanya berbagai
kendala dalam pelaksanaan administrasi digital. Salah satu guru menyatakan bahwa “kalau
aplikasinya agak rumit, saya masih sering bingung”, sementara guru lain mengungkapkan “sering
kesulitan apalagi kalau ada perubahan sistem atau menu baru” (Wawancara Guru, 2026). Bahkan
terdapat rasa takut dalam menggunakan teknologi, seperti “kadang takut salah tekan”. Temuan ini
menunjukkan bahwa kendala tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga berkaitan dengan aspek
psikologis guru dalam menghadapi teknologi digital.
Temuan ini selaras dengan teori self-efficacy yang telah dibahas dalam pendahuluan, bahwa
kepercayaan diri memiliki pengaruh signifikan terhadap kemampuan individu dalam menggunakan
teknologi. Guru dengan tingkat self-efficacy rendah cenderung mengalami kecemasan dan
ketidakpastian dalam penggunaan teknologi, sehingga menghambat efektivitas pelaksanaan
administrasi digital. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian yang menyatakan bahwa kompetensi digital
guru tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kesiapan mental dan
kemampuan adaptasi terhadap perubahan teknologi (Zhang et al., 2026).
Selain itu, hasil penelitian ini juga sejalan dengan temuan penelitian terbaru yang menunjukkan
bahwa rendahnya kompetensi digital guru menjadi hambatan utama dalam transformasi administrasi
pendidikan berbasis digital. Studi menunjukkan bahwa banyak guru masih mengalami kesulitan
dalam pengelolaan administrasi digital dan masih bergantung pada sistem manual, sehingga
menghambat efisiensi kerja dan kesiapan menghadapi transformasi digital (Amalia et al., 2026).
Kondisi ini menunjukkan bahwa implementasi teknologi tanpa diimbangi dengan peningkatan
kompetensi digital akan menghasilkan ketimpangan antara sistem dan kemampuan pengguna.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan administrasi digital di SDN
Sukarukun 01 Kabupaten Bekasi masih berada pada tahap transisi dan belum optimal. Meskipun
teknologi telah diimplementasikan, keterbatasan kompetensi digital, rendahnya kepercayaan diri,
serta kurangnya pelatihan berkelanjutan menjadi faktor penghambat utama. Oleh karena itu,
diperlukan strategi yang lebih komprehensif dalam meningkatkan kompetensi digital guru, tidak
hanya melalui pelatihan teknis, tetapi juga melalui pendekatan psikologis dan pendampingan
berkelanjutan agar pelaksanaan administrasi digital dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.
Pengawasan Kompetensi Digital Guru dalam Administrasi Pendidikan
Pengawasan (controlling) merupakan tahap akhir dalam fungsi manajemen yang bertujuan
untuk memastikan bahwa seluruh program yang telah direncanakan dan dilaksanakan berjalan sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan. Dalam konteks manajemen pendidikan, pengawasan tidak hanya
berfungsi sebagai kontrol, tetapi juga sebagai sarana evaluasi dan perbaikan berkelanjutan terhadap
kinerja guru. Hal ini sejalan dengan teori manajemen pendidikan yang menyatakan bahwa fungsi
pengawasan dilakukan melalui proses evaluasi, supervisi, dan pengendalian untuk meningkatkan
mutu pendidikan secara keseluruhan (Nurmiati, 2021). Dengan demikian, pengawasan memiliki
peran strategis dalam memastikan efektivitas implementasi kompetensi digital guru di sekolah.
Berdasarkan hasil penelitian di SDN Sukarukun 01 Kabupaten Bekasi, pengawasan terhadap
kompetensi digital guru telah dilakukan, namun masih bersifat sederhana dan administratif. Kepala
sekolah menyatakan bahwa “kami cek hasil administrasinya, kalau ada masalah kami beri arahan”
(Wawancara Kepala Sekolah, 2026). Pernyataan ini menunjukkan bahwa pengawasan lebih
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 108 -
difokuskan pada hasil akhir berupa kelengkapan administrasi, bukan pada proses peningkatan
kompetensi digital guru secara menyeluruh. Hal ini mengindikasikan bahwa fungsi pengawasan
belum sepenuhnya dijalankan secara komprehensif.
Temuan ini diperkuat oleh pernyataan guru yang mengungkapkan bahwa “kepala sekolah
mendukung dan sering mengingatkan, tetapi mungkin perlu lebih banyak pendampingan”
(Wawancara Guru, 2026). Hal ini menunjukkan bahwa pengawasan yang dilakukan masih bersifat
umum dan belum menyentuh aspek pembinaan yang lebih mendalam, seperti pelatihan lanjutan atau
mentoring individual. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengawasan belum berfungsi sebagai alat
pengembangan kompetensi, melainkan masih terbatas pada fungsi kontrol administratif.
Secara teoritis, pengawasan yang efektif seharusnya tidak hanya berfokus pada hasil, tetapi
juga pada proses dan umpan balik yang berkelanjutan. Penelitian menunjukkan bahwa manajemen
pengawasan yang baik dapat meningkatkan kualitas pendidikan melalui pemberian umpan balik yang
terstruktur dan berkesinambungan (Putri et al., 2024). Selain itu, pengawasan juga berperan dalam
meningkatkan efektivitas guru dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih berkualitas (Elmanisar
et al., 2024). Dengan demikian, pengawasan yang optimal seharusnya mencakup monitoring,
evaluasi, serta tindak lanjut dalam bentuk pembinaan dan pengembangan kompetensi.
Namun demikian, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengawasan kompetensi digital guru di
SDN Sukarukun 01 Kabupaten Bekasi masih belum optimal karena belum dilakukan secara sistematis
dan berkelanjutan. Pengawasan masih berorientasi pada hasil administratif, belum berbasis indikator
kompetensi digital yang jelas, serta belum didukung oleh sistem evaluasi yang terstruktur. Oleh
karena itu, diperlukan penguatan fungsi pengawasan melalui pengembangan sistem evaluasi
kompetensi digital, peningkatan peran supervisi kepala sekolah, serta penyediaan program
pendampingan berkelanjutan agar pengawasan tidak hanya bersifat kontrol, tetapi juga menjadi
instrumen strategis dalam peningkatan kompetensi digital guru secara berkelanjutan.
Kesenjangan Generasional dan Sintesis Manajemen Kompetensi Digital Guru
Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu temuan utama dalam manajemen kompetensi
digital guru di SDN Sukarukun 01 Kabupaten Bekasi adalah adanya kesenjangan generasional yang
cukup signifikan. Guru dengan usia lebih senior cenderung memiliki keterbatasan dalam penguasaan
teknologi dibandingkan dengan guru yang lebih muda. Hal ini terlihat dari pernyataan guru seperti
“saya masih belajar dari awal lagi karena dulu belum seperti sekarang”, serta “kemampuan saya
masih terbatas, apalagi kalau aplikasi baru” (Wawancara Guru, 2026). Sebaliknya, guru muda justru
menjadi sumber bantuan utama dalam penggunaan teknologi. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor
usia dan pengalaman memiliki pengaruh signifikan terhadap kompetensi digital guru.
Kesenjangan generasional ini berdampak langsung pada pola manajemen kompetensi digital
yang terbentuk di sekolah, khususnya dalam fungsi pengorganisasian dan pelaksanaan. Guru senior
cenderung bergantung pada guru muda dalam menyelesaikan administrasi digital, sebagaimana
terlihat dari pernyataan “saya hampir selalu minta bantuan” dan “biasanya guru muda yang
membantu” (Wawancara Guru, 2026). Hal ini menciptakan ketimpangan dalam distribusi kompetensi
digital serta ketergantungan yang tinggi terhadap individu tertentu. Dalam jangka panjang, kondisi
ini berpotensi menghambat kemandirian guru dalam mengembangkan kompetensinya secara optimal.
Secara teoritis, fenomena ini selaras dengan kajian dalam pendahuluan yang menekankan
bahwa kesenjangan kompetensi digital sering terjadi akibat perbedaan latar belakang pengalaman
teknologi dan kesiapan individu dalam menghadapi transformasi digital. Penelitian oleh Afdal, (2025)
dan Kies & Kies, (2024) menunjukkan bahwa transformasi digital pendidikan seringkali menghadapi
hambatan pada kelompok guru yang tidak terbiasa dengan teknologi, sehingga memerlukan
pendekatan adaptif dan berkelanjutan dalam pengembangannya. Selain itu, studi lain juga
menegaskan bahwa keberhasilan peningkatan kompetensi digital guru sangat dipengaruhi oleh
adanya pelatihan berkelanjutan, kolaborasi, serta dukungan sistemik dari institusi pendidikan (Wati
& Nurhasannah, 2024).
Menariknya, hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kesenjangan generasional tersebut
diimbangi oleh munculnya praktik kolaborasi informal antar guru sebagai strategi adaptif. Guru yang
lebih kompeten secara digital secara sukarela membantu guru lain, sehingga terjadi transfer
pengetahuan secara alami. Temuan ini memperkuat teori pembelajaran sosial yang telah dibahas pada
pendahuluan, serta didukung oleh penelitian yang menyatakan bahwa kolaborasi antar guru menjadi
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 109 -
faktor kunci dalam meningkatkan kompetensi digital secara kolektif (Yuniarthe et al., 2025). Dengan
demikian, meskipun terdapat kesenjangan generasional, lingkungan sosial sekolah mampu
menciptakan mekanisme adaptif melalui kolaborasi.
Berdasarkan keseluruhan temuan penelitian, dapat disintesis bahwa manajemen kompetensi
digital guru di SDN Sukarukun 01 Kabupaten Bekasi belum sepenuhnya berjalan secara sistematis
berdasarkan fungsi manajemen (POAC), namun berkembang melalui mekanisme adaptif berbasis
kolaborasi dan pengalaman praktis. Novelty penelitian ini terletak pada temuan bahwa kolaborasi
informal antar guru menjadi strategi utama dalam menutupi kelemahan manajerial formal, khususnya
dalam konteks kesenjangan generasional. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi
digital tidak hanya ditentukan oleh sistem manajemen formal, tetapi juga oleh dinamika sosial dan
budaya organisasi di lingkungan sekolah. Oleh karena itu, diperlukan integrasi antara pendekatan
manajerial yang sistematis dengan penguatan budaya kolaboratif agar pengembangan kompetensi
digital guru dapat berjalan secara optimal, berkelanjutan, dan merata.
4. Simpulan dan Saran
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa manajemen kompetensi digital guru
dalam administrasi pendidikan di SDN Sukarukun 01 Kabupaten Bekasi belum berjalan secara
optimal jika ditinjau dari fungsi manajemen POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling),
yang secara konseptual merupakan proses sistematis dalam mengelola sumber daya pendidikan untuk
mencapai tujuan secara efektif dan efisien . Kelemahan utama terletak pada aspek perencanaan yang
belum memiliki kebijakan tertulis dan program pelatihan berkelanjutan, pengorganisasian yang masih
berbasis kemampuan individu sehingga menimbulkan ketergantungan, pelaksanaan yang belum
maksimal akibat kendala teknis dan psikologis guru, serta pengawasan yang masih berorientasi pada
hasil administratif dan belum berbasis evaluasi kompetensi secara sistematis. Secara umum, temuan
ini menunjukkan bahwa kompetensi digital guru belum berkembang secara merata dan masih berada
pada tahap adaptasi. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa kolaborasi informal
antar guru menjadi mekanisme adaptif yang mampu mengurangi kesenjangan kompetensi, khususnya
dalam konteks perbedaan generasi antara guru senior dan guru muda. Implikasi dari temuan ini
menunjukkan bahwa pengembangan kompetensi digital guru memerlukan integrasi antara
manajemen formal berbasis POAC dengan penguatan budaya kolaboratif, pelatihan berkelanjutan
yang kontekstual, serta pendekatan yang adaptif terhadap karakteristik guru. Oleh karena itu,
disarankan secara praktis agar sekolah menyusun kebijakan dan roadmap pengembangan kompetensi
digital, mengembangkan program pelatihan yang berkelanjutan dan berbasis kebutuhan, serta
memperkuat sistem pendampingan berbasis komunitas belajar; secara teoretis, penelitian ini
memberikan kontribusi pada pengembangan model manajemen kompetensi digital berbasis integrasi
POAC dan kolaborasi sosial; dan secara akademik, penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji
model ini pada konteks yang lebih luas dengan pendekatan kuantitatif atau mixed methods guna
menguji efektivitasnya secara empiris.
5. Daftar Pustaka
Afdal, M. (2025). Implementing Digital Technology in Learning in the Digital Era: Challenges and
Opportunities for Teachers. ETIC (EDUCATION AND SOCIAL SCIENCE JOURNAL), 2(5),
488496. https://doi.org/10.64924/cwz8e155
Amalia, R. D., Nurul Afifah Arifuddin, & Radinal Setyadinsa. (2026). Peningkatan Kompetensi
Digital Pendidik untuk Mendukung Implementasi Kurikulum 2025 di TK Islam At-Tin. Jurnal
Pengabdian Masyarakat Kesosi, 9(1), 215226. https://doi.org/10.57213/abdimas.v9i1.410
Anggraini, T., Ahmad, M., & Hanafi, I. (2024). Digital Literacy and Teaching Experience as
Predictors of Pedagogical Competence in the Digital Era. Tarbawi: Jurnal Keilmuan
Manajemen Pendidikan, 10(02), 295306. https://doi.org/10.32678/tarbawi.v10i02.10795
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 110 -
Astuti, K. L., & Setiawan, A. I. (2023). Fostering Teacher’s Digital Competencies And Innovative
Work Behavior In Facing Merdeka Belajar Policy: Digital Informal Learning As A Mediator.
International Journal of Educational Research & Social Sciences, 4(2), 288295.
https://doi.org/10.51601/ijersc.v4i2.619
Aznar-Díaz, I., Alonso-García, S., Lorenzo-Martín, M.-E., & Gámez-Guil, A. (2025). Teachers and
technology: A systematic review of their level of digital competence. In Review.
https://doi.org/10.21203/rs.3.rs-6351911/v1
Cabero-Almenara, J., Gutiérrez-Castillo, J.-J., Barroso-Osuna, J., & Rodríguez-Palacios, A. (2023).
Digital Teaching Competence According to the DigCompEdu Framework. Comparative Study
in Different Latin American Universities. Journal of New Approaches in Educational
Research, 12(2), 276291. https://doi.org/10.7821/naer.2023.7.1452
Elmanisar, V., Rifma, R., & Marsidin, S. (2024). Peran Supervisi dan Pengawasan dalam Pendidikan.
Journal of Education Research, 5(3), 26372642. https://doi.org/10.37985/jer.v5i3.1191
Feng, L., & Xue, S. (2023). Using the DigCompEdu Framework to Conceptualize Teachers’ Digital
Literacy. Education Journal, 12(3), 103108. https://doi.org/10.11648/j.edu.20231203.14
Gunawan, I. G. (2022). Metode Penelitian Kualitatif: Teori dan Praktik. Bumi Aksara.
Horváth, L., M. Pintér, T., Misley, H., & Dringó-Horváth, I. (2025). Validity evidence regarding the
use of DigCompEdu as a self-reflection tool: The case of Hungarian teacher educators.
Education and Information Technologies, 30(1), 134. https://doi.org/10.1007/s10639-024-
12914-6
Kanso, H., Gueye, M. L., & Roig, P. J. (2025). Enhancing digital learning through Open-Source
computer tools: An alignment with the DigComp framework. Frontiers in Computer Science,
7, 1552695. https://doi.org/10.3389/fcomp.2025.1552695
Kies, M., & Kies, N. (2024). Adapting to the Transformation of Education: New Challenges for
Teachers. Journal of Languages and Translation, 4(1), 8088.
https://doi.org/10.70204/jlt.v4i1.310
López-Nuñez, J.-A., Alonso-García, S., Berral-Ortiz, B., & Victoria-Maldonado, J.-J. (2024). A
Systematic Review of Digital Competence Evaluation in Higher Education. Education
Sciences, 14(11), 1181. https://doi.org/10.3390/educsci14111181
Luthfiyani, P. W., & Murhayati, S. (2024). Strategi Memastikan Keabsahan Data Dalam Penelitian
Kualitatif. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(3), 4531545328.
Maulana, M., Wijaya, C., & Algifari, R. (2025). Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Program
Pengembangan Profesional Berkelanjutan Berbasis Teknologi. Jurnal Ilmu Pendidikan, 1(2),
9097. https://doi.org/10.65094/esvgcw78
Meyerhofer-Parra, R., & González-Martínez, J. (2024). Percepciones docentes sobre las
competencias digitales y su uso para el bienestar digital: Un análisis mixto sobre la ampliación
del marco DigCompEdu. Edutec. Revista Electrónica de Tecnología Educativa, (87), 115133.
https://doi.org/10.21556/edutec.2024.87.2967
Momdjian, L., Manegre, M., & Gutiérrez-Colón, M. (2025). Bridging the Digital Competence Gap:
A Comparative Study of Preservice and In-Service Teachers in Lebanon Using the
DigCompEdu Framework. Technology, Knowledge and Learning, 30(2), 655683.
https://doi.org/10.1007/s10758-024-09794-7
Mulyoto, M., Rugaiyah, R., & Susanto, T. T. D. (2024). Innovative educators in the digital age:
Analyzing the impact of school support, self-efficacy, and technology anxiety on teaching
creativity. Edelweiss Applied Science and Technology, 8(6), 85548567.
https://doi.org/10.55214/25768484.v8i6.3845
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 111 -
Nurhikmah, N. (2024). Educational management functions: Planning, organizing, actuating,
controlling. INTIHA: Islamic Education Journal, 1(2), 8291.
https://doi.org/10.58988/intiha.v1i2.293
Nurmiati, N. (2021). Analisis Fungsi Manajemen Pendidikan Pada Lingkup Madrasah Ibtidaiyah.
Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah, 3(2), 195205.
https://doi.org/10.24252/jipmi.v3i2.41163
Prihatin, R., & Ridhani, J. (2025). Efikasi Diri Guru Bahasa Inggris dalam Integrasi Teknologi: Studi
Kasus Implementasi TPACK di Sekolah Indonesia. FASHLUNA, 6(2), 7588.
https://doi.org/10.47625/fashluna.v6i2.1095
Purwani, A. T. (2025). The Benefits of Learning Management Systems (LMS) in the Effectiveness
of Administrative Planning and Learning Implementation. Global Education Journal, 2(3),
277284. https://doi.org/10.59525/gej.v3i2.894
Putri, A. A., Qolby, M. N., Nurholiza, S., Rizqa, M., & Fitraini, D. (2024). Pengaruh Manajemen
Supervisi Pendidikan dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan. Indonesian Journal of
Teaching and Learning (INTEL), 191201. https://doi.org/10.56855/intel.v3i4.1079
Ririnni, A., Putri, D. A. E., & Ikhwan, I. (2025). Pengaruh Kolaboratif Antara Guru dan Artificial
Intelligence (AI) terhadap Peningkatan Kompetensi Digital Guru di SMPN 4 Kubung. Jurnal
Pendidikan Tambusai, 9(2), 1271112717. https://doi.org/10.31004/jptam.v9i2.26824
Santos, C., Pedro, N., & Cabero-Almenara, J. (2025). e-DigCompEdu: Validation of a Framework
for Online Higher Education Through a Delphi Panel. Electronic Journal of E-Learning, 23(4),
81101. https://doi.org/10.34190/ejel.23.4.4156
Sekolahloka. (2022, October 8). Profil SD Negeri Sukarukun 01, Kabupaten Bekasi (PPDB, Biaya
Masuk, Pendaftaran)Sekolahloka. https://sekolahloka.com/data/sd-negeri-sukarukun-01/
Sunarya, F. R. (2025). POAC Approach in Madrasa’s Principal Academic Supervision: Managerial
Strategic to Enhance MAS Al-Zaytun Indonesia Teacher’s Competencies. Proceeding
International Collaborative Conference on Multidisciplinary Science, 2(1), 450460.
https://doi.org/10.70062/iccms.v2i1.130
Wati, S., & Nurhasannah, N. (2024). Penguatan Kompetensi Guru Dalam Menghadapi Era Digital.
Jurnal Review Pendidikan Dasar : Jurnal Kajian Pendidikan Dan Hasil Penelitian, 10(2),
149155. https://doi.org/10.26740/jrpd.v10n2.p149-155
Wattanapanit, N. (2025). Leveraging Digital Learning Technologies to Drive Educational
Administration Policies and Enhance Learning Quality in the Digital Age. International
Journal of Sociologies and Anthropologies Science Reviews, 5(3), 905920.
https://doi.org/10.60027/ijsasr.2025.7696
Wattanapanit, N., Tanchaisak, K., Niyomves, B., & Kenaphoom, S. (2024). An Educational
Administration Innovation in the Digital Age and Sustainable Development: In K.
Jermsittiparsert, N. Phongkraphan, & N. Lekhavichit (Eds.), Advances in Business Strategy
and Competitive Advantage (pp. 211236). IGI Global. https://doi.org/10.4018/979-8-3693-
6720-9.ch008
Ya Meng, S. (2025). Teachers’ Digital Learning Technology Utilization, Self-Efficacy, and
Effectiveness in Chinese Primary Schools. Asia Pacific Journal of Management and
Sustainable Development, 13(1), 8699. https://doi.org/10.70979/HURE1719
Ye, X. (2025). The Impact of Teachers’ Digital Competence on Teaching: Current Status, Influences
and Future Recommendations. Lecture Notes in Education Psychology and Public Media,
107(1), 201205. https://doi.org/10.54254/2753-7048/2025.LD28052
Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 100-112
E-ISSN: 3026-4014
- 112 -
Yuniarthe, Y., Hendro, D., Putra, A., Hendri, R., Hairudin, & Ikhwan, A. (2025). Transformasi
Kompetensi Guru melalui Kolaborasi Pengabdian Masyarakat Berbasis Kecerdasan Buatan di
Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung. Journal of Community Development, 6(2), 1228
1238. https://doi.org/10.47134/comdev.v6i2.1860
Zhang, L., Yang, C., & Zheng, Y. (2026). Digital competence for sustainable education of pre-service
teachers: A systematic literature review (20142024). Frontiers in Psychology, 16, 1710983.
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1710983