Journal of Contemporary Issues in Primary Education (JCIPE)
Vol. 4, No. 1, Junni 2026, page: 136-141
E-ISSN: 3026-4014
- 139 -
menunjukkan bahwa kualitas pendidikan juga dipengaruhi oleh faktor kualitas guru, sistem
pengembangan profesional, kepemimpinan sekolah, budaya organisasi, serta efektivitas implementasi
kebijakan.
Oleh karena itu, pendekatan problem structuring mengharuskan pembuat kebijakan melakukan
diagnosis secara lebih mendalam terhadap persoalan pendidikan. Misalnya, kebijakan peningkatan
kompetensi guru tidak cukup hanya dilakukan melalui program pelatihan secara massal, tetapi harus
diawali dengan analisis kebutuhan kompetensi berdasarkan kondisi aktual guru. Dengan demikian,
kebijakan yang dihasilkan tidak bersifat umum, tetapi lebih kontekstual dan mampu menjawab kebutuhan
nyata di lapangan. Pendekatan ini memperkuat argumentasi bahwa kebijakan pendidikan harus dibangun
berdasarkan pemahaman terhadap akar masalah (root causes), bukan hanya berdasarkan gejala yang
tampak. Kesalahan dalam mendefinisikan masalah akan menyebabkan kebijakan menjadi kurang efektif
karena intervensi yang dilakukan tidak menyentuh faktor penyebab utama.
Forecasting: Membangun Kebijakan Pendidikan Berorientasi Masa Depan
Tahap kedua dalam model Dunn adalah forecasting, yaitu proses memperkirakan kemungkinan
dampak yang muncul dari berbagai alternatif kebijakan. Dalam kebijakan pendidikan, forecasting
memiliki peran penting karena keputusan pendidikan biasanya menghasilkan dampak jangka panjang
terhadap kualitas sumber daya manusia. Kebijakan peningkatan kualitas guru, misalnya, tidak dapat
hanya dievaluasi berdasarkan jumlah guru yang mengikuti pelatihan, tetapi harus dianalisis berdasarkan
kemungkinan perubahan kompetensi, peningkatan kualitas pembelajaran, serta dampaknya terhadap hasil
belajar peserta didik. Dengan demikian, forecasting membantu pemerintah memilih kebijakan yang
memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kebijakan pendidikan membutuhkan orientasi preventif dan
strategis. Pemerintah tidak hanya merespons permasalahan yang sudah terjadi, tetapi juga mampu
memprediksi tantangan pendidikan masa depan seperti digitalisasi pembelajaran, perubahan kebutuhan
kompetensi abad ke-21, dan transformasi profesi guru. Dalam perspektif tata kelola pendidikan modern,
forecasting juga memperkuat penggunaan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Kebijakan
pendidikan yang tidak didukung oleh prediksi berbasis data berpotensi menghasilkan program yang tidak
sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Prescription: Merumuskan Alternatif Kebijakan yang Efektif dan Kontekstual
Tahap prescription dalam model Dunn berkaitan dengan penyusunan rekomendasi atau alternatif
kebijakan berdasarkan hasil analisis masalah dan prediksi dampak. Tahap ini menegaskan bahwa pembuat
kebijakan tidak hanya bertugas mengidentifikasi masalah, tetapi juga harus mampu menghasilkan pilihan
solusi yang efektif. Dalam kebijakan pendidikan, proses perumusan alternatif harus mempertimbangkan
berbagai dimensi, seperti efektivitas, efisiensi, keadilan, keberlanjutan, dan kesiapan implementasi.
Sebagai contoh, kebijakan peningkatan profesionalisme guru tidak dapat hanya berfokus pada
peningkatan jumlah pelatihan, tetapi perlu mempertimbangkan model pengembangan profesional yang
berkelanjutan, berbasis kebutuhan, dan terintegrasi dengan sistem evaluasi kinerja.
Menurut Weimer dan Vining (2017), analisis kebijakan yang baik harus mampu menghubungkan
antara alternatif kebijakan dengan konsekuensi yang mungkin ditimbulkan. Oleh sebab itu, prescription
dalam model Dunn memberikan ruang bagi pemerintah untuk memilih kebijakan yang tidak hanya ideal
secara teoritis, tetapi juga realistis dalam implementasi. Dalam konteks pendidikan Indonesia, pendekatan
ini menunjukkan bahwa kebijakan harus memperhatikan keberagaman kondisi daerah. Kebijakan
pendidikan nasional perlu memiliki standar umum, tetapi tetap memberikan ruang adaptasi sesuai
karakteristik lokal.
Monitoring dan Evaluation: Mengukur Efektivitas Implementasi Kebijakan Pendidikan
Tahapan monitoring dan evaluasi merupakan bagian penting dalam menentukan keberhasilan suatu
kebijakan. Dunn (2018) menjelaskan bahwa monitoring menghasilkan informasi mengenai pelaksanaan
kebijakan, sedangkan evaluasi digunakan untuk menilai sejauh mana kebijakan mencapai tujuan yang
telah ditetapkan. Dalam implementasi kebijakan pendidikan, monitoring berfungsi untuk memastikan
bahwa program berjalan sesuai dengan desain awal. Namun, evaluasi memiliki peran yang lebih luas
karena tidak hanya melihat keberlangsungan program, tetapi juga mengukur dampak yang dihasilkan.
Salah satu kelemahan dalam implementasi kebijakan pendidikan adalah kecenderungan evaluasi
yang lebih berfokus pada aspek administratif dibandingkan perubahan substantif. Misalnya, keberhasilan
program peningkatan kompetensi guru sering diukur berdasarkan jumlah peserta pelatihan, bukan