Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154
Journal of Economics, Business, Accounting and Management
(JEBAM)
Journal homepage:https://kurniajurnal.com/index.php/jebam
E-ISSN:3032-274X
Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan Karyawan PT. BUM
Pabrik Perikanan Samudera Kendari
Reski Dwi Oktaviana
Universitas Islam Indonesia, Sleman, DIY, Indonesia
Article History
Received : 14-Juli-2023
Revised : 1-Agustus-2023
Accepted : 1-September-2023
Published : 1-Oktober-2023
Keywords:
Attitise (rationalization); Pressure;
Opportunity; Capability; Fraud
Corresponding author:
rieskio@gmail.com
DOI:-
A B S T R A C T
The purpose of this study is to provide empirical evidence of the influence of
employee attitudes toward fraud on PT. BUM Kendari ocean fisheries,
provide empirical evidence of the effect of pressure on the employee to fraud
PT. BUM Kendari ocean fisheries, provide empirical evidence influence
employees the opportunity to fraud at PT. BUM Kendari ocean fisheries,
provide empirical evidence of the influence of employee capability to fraud at
PT. BUM Kendari ocean fisheries, provide empirical evidence influence
attitudes, the pressure occasion, and employee capability simultaneously to
fraud on PT. BUM Kendari ocean fisheries. The population in this study
were employees of PT. BUM Kendari ocean fisheries as many as 42
employees. The sampling technique using census method. Census method is
sampling technique when all members of the population used as a sample.
The analysis tool used is the Multiple Linear Regression Analysis. The
results showed that There is a significant influence on the attitude
(Rationalization) against fraud with a significance value of 0.045. There is a
significant influence of pressure against fraud with a significance value of
0.008. There is a significant influence of opportunities against fraud with a
significance value of 0.027. There is a significant influence on the capability
of the fraud with a significance value of 0.002. There is a significant
influence on the attitude (Rationalization), Pressure, opportunity and
capability against fraud with a significance value of 0.009.
A B S T R A K
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan bukti empiris pengaruh
sikap karyawan terhadap kecurangan pada PT. BUM Perikanan samudera
Kendari, memberikan bukti empiris pengaruh tekanan karyawan terhadap
kecurangan pada PT. BUM Perikanan samudera Kendari, memberikan bukti
empiris pengaruh kesempatan karyawan terhadap kecurangan pada PT.
BUM Perikanan samudera Kendari, memberikan bukti empiris pengaruh
kapabilitas karyawan terhadap kecurangan pada PT. BUM Perikanan
samudera Kendari, memberikan bukti empiris pengaruh sikap, tekanan
kesempatan, dan kapabilitas karyawan secara simultan terhadap kecurangan
pada PT. BUM Perikanan samudera Kendari. Populasi dalam penelitian ini
adalah karyawan PT. BUM Perikanan samudera Kendari sebanyak 42
karyawan. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode sensus.
Metode sensus adalah teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi
digunakan sebagai sampel. Alat analisis yang digunakan adalah Analisis
Regresi Linier Berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Terdapat
pengaruh yang signifikan dari Sikap (Rasionalisasi) terhadap Kecurangan
dengan nilai signifikansi sebesar 0.045. Terdapat pengaruh yang signifikan
dari Tekanan terhadap Kecurangan dengan nilai signifikansi sebesar 0.008.
Terdapat pengaruh yang signifikan dari Kesempatan terhadap Kecurangan
dengan nilai signifikansi sebesar 0.027. Terdapat pengaruh yang signifikan
dari Kapabilitas terhadap Kecurangan dengan nilai signifikansi sebesar
0.002. Terdapat pengaruh yang signifikan dari Sikap (Rasionalisasi),
131 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
Tekanan, Kesempatan dan Kapabilitas terhadap Kecurangan dengan nilai
signifikansi sebesar 0.009.
©2023, Rieski Dwi Oktaviana
This is an open access article under CC BY-SA license
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pengembangan perekonomian di Indonesia yang ada saat ini merupakan hasil
dari pengembangan yang terus-menerus dilakukan sehingga membuat dunia
keuangan, bisnis dan perbankan di Indonesia semakin bervariasi dan dinamis. Kondisi
tersebut menyebabkan persaingan antar perusahaan juga semakin meningkat. Masing-
masing perusahaan berupaya semaksimal mungkin untuk menjadi yang terbaik
diantara para pesaing, dengan mengeluarkan semua potensi yang ada dalam
perusahaan tersebut (Karyono, 2013). Seiring dengan perkembangan tersebut dalam
setiap pencapaian bidang ekonomi agar kinerja perusahaan terlihat maksimal,
cenderung pula diiringi munculnya bentuk-bentuk kejahatan, dengan cara dan metode
yang beragam, dan yang paling sering ditemui adalah bentuk-bentuk kecurangan.
Banyak pakar yang mengemukakan mengenai konsep penyebab kecurangan,
salah satu konsep penyebab kecurangan yang saat ini sudah digunakan secara luas
dalam praktik Akuntan Publik yaitu Konsep Fraud triangle. Sedangkan berdasarkan
teori Fraud triangle merupakan teori yang harus dimasukkan ke dalam rencana audit
kecurangan. Teori ini menyatakan bahwa kecurangan terjadi karena adanya tiga
elemen seperti tekanan, kesempatan, dan pembenaran. Tiga elemen kecurangan hidup
bersama pada tingkat yang berbeda di dalam organisasi dan mempengaruhi setiap
individu secara berbeda (Karyono, 2013).
Salah satu elemen penting terjadinya fraud yaitu rasionalisasi, di mana pelaku
mencari pembenaran atas perbuatannya. Rasionalisasi merupakan bagian dari fraud
triangle yang paling sulit diukur (Skousen et al., 2009 dalam Sukirman dan Sari 2013).
Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya fraud, di mana pelaku mencari
pembenaran atas perbuatannya. Sikap atau karakter adalah apa yang menyebabkan
satu atau lebih individu untuk secara rasional melakukan kecurangan.
Integritas manajemen (sikap) merupakan penentu utama dari kualitas
manajerialnya. Ketika integritas manajer dipertanyakan, kehandalan manajerialnya
diragukan. Bagi mereka yang umumnya tidak jujur, mungkin lebih mudah
untukmerasionalisasi penipuan. Bagi mereka dengan standar moral yang lebih tinggi,
itu mungkin tidak begitu mudah. Pelaku fraud selalu mencari pembenaran secara
rasional untuk membenarkan perbuatannya (Karyono, 2013).
Selain sikap dan kesempatan, tekanan juga menjadi salah satu faktor terjadi nya
kecurangan, salah satu kondisi yang selalu hadir saat terjadi kecurangan adalah
tekanan (Cressey, 1953. Dalam Kassem and Higson). Tekanan/motif yaitu insentif yang
mendorong orang melakukan kecurangan karena tuntutan gaya hidup,
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 132
ketidakberdayaan dalam soal keuangan, perilaku gambling, mencoba-coba untuk
mengalahkan sistem dan ketidakpuasan kerja (Diany dan Ratmono, 2014). Skousen et
al., (2009), dalam Sukirman dan Sari (2013), mengatakan tekanan/motif ini
sesungguhnya mempunyai dua bentuk yaitu nyata (direct) dan bentuk persepsi
(indirect).
Selain fraud triange, Sihombing (2014) menjelaskan bahwa fraud diamond
merupakan sebuah pandangan dan konsep baru tentang fenomena kecurangan yang
dikemukakan oleh Wolfe dan Hermanson (2004). Teori fraud diamond merupakan
bentuk penyempurnaan dari teori fraud triangle yang dikemukakan oleh Cressey (1953)
dalam Murphy (2011). Jika dalam fraud triangle terdapat tiga elemen, maka dalam fraud
diamond ditambah satu elemen yang signifikan untuk memengaruhi seseorang untuk
melakukan kecurangan, yaitu kapabilitas atau capability. Menurut Wolfe dan
Hermanson (2004), selain menangani insentif, kesempatan, dan rasionalisasi, juga
mempertimbangkan kemampuan individu.
Penelitian ini mengambil obyek penelitian pada PT. BUM Pelabuhan Perikanan
Samudera Kendari. Dari landasan tersebut, kemudian dibangun sebuah asumsi yang
muncul berkaitan dengan Kecurangan dari organisasi dan berkembangnya perusahaan
si ini. Dalam hal ini yang menjadi kajian untuk dibahas dan diteliti adalah Pengaruh
Sikap, Tekanan, Kesempatan, dan Kapabilitas Karyawan terhadap Kecurangan PT.
BUM Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari. Pemilihan kajian ini berdasarkan
ketertarikan peneliti terhadap perkembangan perusahaan ini.
Maka hasil yang ingin diperoleh dari penelitian ini adalah memberikan bukti
empiris pengaruh sikap karyawan terhadap kecurangan pada PT. BUM Perikanan
samudera Kendari, memberikan bukti empiris pengaruh tekanan karyawan terhadap
kecurangan pada PT. BUM Perikanan samudera Kendari, memberikan bukti empiris
pengaruhkesempatan karyawan terhadap kecurangan pada PT. BUM Perikanan
samudera Kendari, memberikan bukti empiris pengaruh kapabilitas karyawan
terhadap kecurangan pada PT. BUM Perikanan samudera Kendari, memberikan bukti
empiris pengaruh sikap, tekanan kesempatan, dan kapabilitas karyawan secara
simultan terhadap kecurangan pada PT. BUM Perikanan samudera Kendari.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan diteliti dapat penulis
adalah Apakah sikap (rasionalisasi) karyawan berpengaruh terhadap kecurangan pada
PT. BUM Perikanan samudera Kendari, apakah tekanan karyawan berpengaruh
terhadap kecurangan pada PT. BUM Perikanan samudera Kendari, apakah kesempatan
karyawan berpengaruh terhadap kecurangan pada PT. BUM Perikanan samudera
Kendari, apakah kapabilitas karyawan berpengaruh terhadap kecurangan pada PT.
BUM Perikanan samudera Kendari, apakah sikap, tekanan kesempatan, dan kapabilitas
karyawan berpengaruh secara simultan terhadap kecurangan pada PT. BUM Perikanan
samudera Kendari.
133 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
LANDASAN TEORI
Banyak pakar yang mengemukakan mengenai konsep penyebab kecurangan,
salah satu konsep penyebab kecurangan yang saat ini sudah digunakan secara luas
dalam praktik Akuntan Publik yaitu Konsep Fraud triangle. Sedangkan berdasarkan
teori Fraud triangle merupakan teori yang harus dimasukkan ke dalam rencana audit
kecurangan. Teori ini menyatakan bahwa kecurangan terjadi karena adanya tiga
elemen seperti tekanan, kesempatan, dan pembenaran. Tiga elemen kecurangan hidup
bersama pada tingkat yang berbeda di dalam organisasi dan mempengaruhi setiap
individu secara berbeda (Karyono, 2013). Teori ini kemudian dikembangkan secara
skematis oleh Association of Certified Fraud Examiners (ACFE). ACFE menggambarkan
fraud dalam bentuk fraud tree. Fraud tree ini biasanya disajikan dalam bentuk bagan.
Fraud tree mempunyai tiga cabang utama, yaitu corruption, asset misappropriation, dan
fraudulent statements (Tuanokotta, 2007). Adapun Skema segitiga kecurangan milik
Cressey (1953) dalam Murphy (2011). Fraud Triangle sendiri terdiri atas tekanan
(pressure), kesempatan (perceived opportunity), dan juga pembenaran (rationalization)
gambaran dari teori Fraud Triangle dapat dilihat pada gambar berikut:
PERCEIVED
OPPORTUNITY
PRESSURE RATIONALIZATION
Gambar Teori Fraud Triangle
(Cressey, 1953) dalam Murphy (2011)
Sudut pertama dari segitiga itu diberi judul pressure yang merupakan perceived
non-shareable financial need. Sudut keduanya perceived opportunity. Sudut ketiga,
rationalization.
1. Elemen Tekanan (Pressure/incentive)
Pressure adalah tekanan atau dorongan orang untuk melakukan kecurangan.
Tekanan dapat mencangkup hampir semua hal termasuk gaya hidup, tuntutan
ekonomi dan lain-lain termasuk hal keuangan dan non-keuangan (Murphy, 2011).
Dalam hal keuangan contohnya adalah dorongan untuk memiliki barang-barang
bersifat materi.Tekanan dalam hal non keuangan juga dapat mendorong seseorang
untuk melakukan fraud, misalnya tindakan untuk menutupi kinerja yang buruk
karena tuntutan pekerjaan untuk mendapatkan hasil yang baik (Murphy, 2011).
2. Elemen Kesempatan (Opportunity)
Opportunity adalah peluang yang memungkinkan terjadinya kecurangan. Para
pelaku kecurangan percaya bahwa aktivitas mereka tidak akan terditeksi. Peluang
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 134
dapat terjadi karena pengendalian internal yang lemah, manajemen pengawasan
yang kurang baik dan atau melalui pengunaan posisi. Kegagalan untuk
menetapkan prosedur yang memadai untuk menditeksi aktivitas kecurangan
(Karyono,2013). Dari tiga elemen dalam fraud triangle, kesempatan memiliki kontrol
yang posisinya paling atas. Organisasi perlu membangun sebuah proses, prosedur
dan kontrol yang membuat karyawan tidak dapat melakukan kecurangan dan yang
efektif mendeteksi aktivitas kecurangan jika hal itu terjadi (Zimbelmanet al.,2014).
3. Elemen Pembenaran (Rationalization)
Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya kecurangan, dimana
pelaku mencari pembenaran atas perbuatannya. Rasionalisasi merupakan bagian
dari fraud triangle yang paling sulit diukur (Zimbelman et al..,2014). Bagi mereka
yang umumnya tidak jujur, mungkin lebih mudah untuk merasionalisasi penipuan,
dibandingkan dengan orang-orang yang memiliki standar moral yang tinggi itu
adalah hal yang tidak begitu mudah. Pelaku kecurangan selalu mencari
pembenaran secara rasional untuk membenarkan perbuatanya (Karyono,2013).
Hampir semua kecurangan melibatkan elemen rasionalisasi. Sebagian besar pelaku
kecurangan merupakan pelaku yang pertama kali melakukan kecurangan yang
tidak akan melakukan kejahatan lain. Di satu sisi, mereka harus merasionalisasi
ketidakjujuran tindakan mereka. Rasionalisasi umum yang digunakan oleh pelaku
kecurangan (Zimbelman et al., 2014).
Pengembangan Hipotesis
Pengaruh Sikap (Rasionalisasi) Terhadap Kecurangan
Rasionalisasi lebih sering dihubungkan dengan sikap dan karakter seseorang yang
membenarkan nilai-nilai etis yang sebenarnya tidak baik (Rustendi, 2009). Rendahnya
integritas yang dimiliki seseorang menimbulkan pola pikir di mana orang tersebut
merasa dirinya benar saat melakukan kecurangan, sebagai contoh manajemen
membenarkan untuk melakukan praktik manajemen laba. Penyimpangan yang
dilakukan manajemen juga disebut dengan moral hazard problem.
Rustendi (2009) menyatakan bahwa banyaknya praktik kecurangan yang banyak
terjadi menjadi salah satu pemicu manajemen atau karyawan untuk melakukan hal
yang sama seperti orang lain sehingga manajemen atau karyawan menganggap bahwa
kecurangan adalah suatu hal yang biasa dilakukan.
H
1
: Terdapat pengaruh yang signifikan dari Sikap (Rasionalisasi) Terhadap
Kecurangan
Pengaruh Tekanan Terhadap Kecurangan
Salah satu kondisi yang selalu hadir saat terjadi kecurangan adalah tekanan
(Cressey, 1953) dalam Murphy (2011). Tekanan dapat terjadi saat karyawan sedang
membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan pribadinya misalnya tekanan untuk
biaya pengobatan, tekanan dari keluarga yang menuntut keberhasilan secara ekonomi,
serta pola hidup mewah (Rustendi, 2009). Bonus akhir tahun akan menjadi sumber
135 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
penghasilan yang besar sehingga karyawan akan sengaja untuk melakukan kecurangan
demi mendapatkan pendapatan. Tekanan juga bisa timbul saat kinerja perusahaan
berada pada titik di bawah rata-rata kinerja industri (Skousen et al., 2009).
Tekanan dapat diakibatkan oleh berbagai hal termasuk tekanan yang bersifat
finansial dan non finansial. Faktor finansial mumcul karena keinginan untuk memiliki
gaya hidup yang berkecukupan secara materi. Sedangkan faktor non financial bisa
mendorong seseorang melakukan fraud, yaitu tindakan untuk menutupi kinerja yang
buruk. Selain itu sifat dasar manusia yang serakah bisa jadi memberikan tekanan secara
internal sehingga mendorong seseorang melakukan tindakan kecurangan (Sukirman
dan Sari, 2013).
H
2
: Terdapat pengaruh yang signifikan dari Tekanan Terhadap Kecurangan
Pengaruh Kesempatan Terhadap Kecurangan
Kesempatan adalah peluang yang memungkinkan terjadinya kecurangan. Para
pelaku kecurangan percaya bahwa aktivitas mereka tidak akan terdeteksi. Peluang
dapat terjadi karena pengendalian internal yang lemah, manajemen pengawasan yang
kurang baik dan atau melalui pengunaan posisi. Kegagalan untuk menetapkan
prosedur yang memadai untuk menditeksi aktivitas kecurangan (Karyono,2013).
Kesempatan akan timbul saat sistem pengendalian internal perusahaan lemah
(Gagola, 2011). Perusahaan dengan pengendalian internal yang lemah akan memiliki
banyak celah yangmenjadikan kesempatan bagi karyawan untuk memanipulasi kinerja
mereka. Konsep Good Corporate Governance (GCG) semakin banyak dikemukakan oleh
para praktisi bisnis sebagai salah satu alat untuk mencegahterjadinya kasus
kecurangan. Terbukanya kesempatan ini dikarenakan si pelaku percaya bahwa
aktivitas mereka tidak akan terdeteksi. Bahkan andaikan aksi seseorang itu diketahui,
maka tidak ada tindakan yang serius yang akan diambil. Peluang ini terjadi biasanya
terkait dengan lingkungan dimana kecurangan memungkinkan untuk dilakukan.
Sistem pengendalian internal yang lemah, manajemen pengawasan yang kurang
memadai serta prosedur yang tidak jelas ikut andil dalam membuka peluang terjadinya
kecurangan (Diany dan Ratmono, 2014).
H
3
: Terdapat pengaruh yang signifikan dari Kesempatan Terhadap
Kecurangan
Pengaruh Kapabilitas Terhadap kecurangan
Capability adalah suatu faktor kualitatif yang menurut Wolfe dan Hermanson
merupakan salah satu pelengkap dari model Fraud triangle dari Cressey. Capability
artinya seberapa besar daya dan kapasitas dari seseorang itumelakukan Fraud di
lingkungan perusahaan. Wolfe dan Hermanson (2004) berpendapat bahwa banyak
fraud tidak akan terjadi jika seseorang tidak mempunyai kemampuan (capability)
tentang fraud tersebut. Oleh karena itu, faktor kemampuan (capability) menjadi
penyempurnaan dari fraud model yang dikemukakan oleh Cressey.
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 136
Wolfe dan Hermanson (2004) juga menjelaskan mengenai sifat-sifat terkait elemen
kemampuan yang sangat penting dalam diri pelaku kecurangan seperti pelaku
kecurangan memiliki kemampuan dalam memahami dan memanfaatkan kelemahan
internal kontrol untuk melakukan tindakan kecurangan, pelaku kecurangan memiliki
ego dan kepercayaan diri yang tinggi bahwa perbuatannya tidak akan terdeteksi,
pelaku kecurangan dapat memengaruhi orang lain untuk turut serta dalam tindakan
kecurangan, dan pelaku kecurangan dapat mengontrol stress dengan baik.
H
4
: Terdapat pengaruh yang signifikan dariKapabilitas Terhadap Kecurangan
Pegawai
Pengaruh Sikap (Rasionalisasi), Tekanan, Kesempatan, Kesempatan dan Kapabilitas
Terhadap Kecurangan
Salah satu penjelasan teoritismengenai tindakan kecurangan disampaikanoleh
Cressey (1953) dalam Murphy (2011). Menurutnya, seseorang bisa melakukan tindakan
kecurangan apabiladilandasi oleh tiga hal yaitu kesempatan(opportunity), tekanan atau
insentif (pressure orincentive) dan rasionalisasi (rationalization). Ketiganya saling
mendukung sama lain danmembentuk pilar kecurangan yang disebutsebagai segitiga
kecurangan (fraud triangle). Skousen et al. (2009) menyatakan bahwa terdapat tiga
kondisiyang selalu hadir saat terjadi kecurangan.Ketiga kondisi tersebut adalah
tekanan(pressure), kesempatan (opportunity), dan rasionalisasi (rationalization) yang
kemudian dikenaldengan istilah fraud triangle.
Tekanan adalah dorongan yang menyebabkan seseorang melakukankecurangan.
Pada umumnya yang mendorong terjadinya kecurangan adalah kebutuhan financial
tapi banyak juga yang hanya terdorong oleh keserakahan. Rustendi, (2009)
mengemukakan bahwa tekanan situasional berpotensi muncul karena adanya
kewajiban keuanganyang melebihi batas kemampuan yang harus diselesaikan
manajemen. Kesempatan adalah peluangyang memungkinkan kecurangan terjadi.
Biasanya disebabkan karena pengendalian internal suatu organisasi yang lemah,
kurangnya pengawasan, atau penyalahgunaan wewenang (Gagola, 2011).
Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya kecurangan karena pelaku
mencari pembenaran atas tindakannya. Pembenaran ini bisa terjadi saat pelaku ingin
membahagiakankeluarga dan orang-orang yang dicintainya, pelaku merasa berhak
mendapatkan sesuatu yang lebih (posisi, gaji, promosi) karena telah lama mengabdi
pada perusahaan, atau pelaku mengambilsebagian keuntungan karena perusahaan
telah menghasilkan keuntungan yang besar.
Kecurangan atau ketidakjujuran umumnya terjadi karena adanya tekanan
(pressure) dan kebutuhan untuk memanfaatkan sebuah kesempatan (opportunity) dalam
sebuah kondisi tertentu dan adanya rasionalisasi (rationalization) dari seorang pelaku.
Akan tetapi dalam kesempatan yang diperoleh oleh seseorang harus disertai oleh
kemampuan (capability) untuk melakukan sebuat tindakan kecurangan tersebut.
Keempat faktor tersebut merupakan fenomena fraud dan merupakan suatu bentuk
137 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
penyempurnaan dari fraud triangle yang dilakukan oleh Wolfe dan Hermanson (2004).
H
5
: Terdapat pengaruh yang signifikan dari Sikap (Rasionalisasi), Tekanan,
Kesempatan dan Kapabilitas Terhadap Kecurangan.
Kerangka Pikir Penelitian
H1 (+)
H1 (+)
H5 (+)
H2 (+)
H3 (+)
H4 (+)
Gambar 2.4 Kerangka Pemikiran
METODE PENELITIAN
Pendekatan Penelitian
Ditinjau dari bagaimana data dikumpulkan, maka penelitian ini dapat
dikategorikan sebagai penelitian survey. Penelitian survei adalah penelitian yang
dilakukan secara langsung terhadap obyek/subyek penelitian tanpa adanya perlakuan.
Dalam hal ini peneliti tidak mengatur kondisi responden, sehingga lebih pada apa
adanya saja. Penelitian ini memodifikasi penelitian yang dilakukan oleh Murphy (2011),
Zimbelman et al, (2014) serta Wolfe dan Hermanson (2004).
Kecurangan (Fraud) (Y)
-Conflict of Interest
-Penyuapan (Bribery)
-Pemberian Ilegal (Illegal
Gratuities).
-Pemerasan Secara Ekonomi
(Economic Extortion).
-Penyimpangan Asset
(Murphy, 2011)
Sikap (X1)
-Mengatakan kepada orang lain
-Disalahkan perusahaan
-Berdebat bahwa orang lain melakukan hal yang
sama,
-Belum menyadari sebagai konsekuensi
-Memiliki catatan perilaku yang tidak etis,
(Murphy, 2011)
Kesempatan (X3)
-Kurangnya pengendalian
-Ketidakmampuan untuk menilai kualitas kinerja
- Kegagalan untuk memberikan sanksi tegas
-Kurangnya akses terhadap informasi
-Kurangnya upaya untuk melakukan jejak audit
(Zimbelman.et al., 2014)
Kapabilitas (X4)
Positioning, Intelligence dan creativity,
Convidence dan Ego. Coercion, Coercion,
Deceit, Stress
Wolfe dan Hermanson (2004)
Tekanan (X2)
-Lingkungan kerja yang buruk
-Ketidakadilan manajemen
-Perintah dari atasan
-Motif keserakahan secara umum
(Murphy, 2011)
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 138
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. BUM Perikanan samudera Kendari
Obyek Penelitian
Obyek dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT. BUM Perikanan samudera
Kendari sebanyak 42 karyawan.
Variabel Penelitian
Variabel dependen adalah variabel yang dijelaskan atau dipengaruhi oleh variabel
independen. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah Kecurangan (Fraud) (Y).
Variabel independen adalah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi
variabel yang lain. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Sikap (Rasionalisasi) (X
1
),
Tekanan (Pressure/incentive) (X
2
), Kesempatan (X
3
), serta Kapabilitas (X
4
) Adapun
definisi operasional dalam penelitian ini yaitu:
1. Sikap (Rasionalisasi)(X
1
)
Salah satu elemen penting terjadinya fraud yaitu rasionalisasi, di mana pelaku
mencari pembenaran atas perbuatannya. Rasionalisasi merupakan bagian dari fraud
triangle yang paling sulit diukur. Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam
terjadinya fraud, di mana pelaku mencari pembenaran atas perbuatannya. (Murphy,
2011). Indikator yang dapat digunakan untuk mengukur Sikap (Rasionalisasi)
(Murphy, 2011):
a. Seseorang mengatakan kepada individu untuk melakukan kecurangan tersebut
b. Disalahkan perusahaan akibat perlakuan buruk yang dilakukan
c. Berdebat bahwa orang lain melakukan hal yang sama
d. Belum menyadari sebagai tindakan atau konsekuensi dari tindakannya
e. Memiliki catatan perilaku yang tidak etis atau pidana
f. Perolehan hak yang berbelit-belit, di mana individu menggunakan asumsinya
untuk menggambarkan bahwa dia tidak melakukan kecurangan dan merasa
berhak
g. Tindakannya tidak memiliki konsekuensi
2. Tekanan (Pressure/incentive) (X
2
)
Pressure adalah tekanan atau dorongan orang untuk melakukan kecurangan.
Tekanan dapat mencangkup hampir semua hal termasuk gaya hidup, tuntutan
ekonomi dan lain-lain termasuk hal keuangan dan non-keuangan (Murphy, 2011).
Indikator yang digunakan untuk mengukur Tekanan ini adalah (Murphy, 2011) :
a. Lingkungan kerja yang buruk di perusahaan
b. Ketidakadilan manajemen
c. Keputusan yang hanya didominasi satu orang saja
139 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
d. Untuk mendapatkan reputasi dan menyenangkan atasan perlu melakukan
suatu tindakan kecurangan
e. Kecurangan ini merupakan perintah dari atasan
f. Kecurangan berdasarkan motif keserakahan secara umum
3. Kesempatan (X
3
)
Kesempatan merupakan suatu situasi dimana seseorang merasa memiliki
kombinasi situasi dan kondisi yang memungkinkan dalam melakukan kecurangan
dan tidak terdeteksi (Zimbelman et al.,2014). Variabel kesempatan ini adalah
(Zimbelman et al.,2014):
a. Kurangnya pengendalian yang mencegah dan atau mendeteksi perilaku
kecurangan
b. Ketidakmampuan untuk menilai kualitas kinerja
c. Kegagalan untuk memberikan sanksi tegas terhadap perilaku kecuranan
d. Kurangnya akses terhadap informasi
e. Pengabaian, sikap apatis, dan tidak adanya kapasitas yang sesuai
f. Kurangnya upaya untuk melakukan jejak audit
4. Kapabilitas (X
4
)
Wolfe dan Hermanson (2004) juga menjelaskan mengenai sifat-sifat terkait
elemen kemampuan yang sangat penting dalam diri pelaku kecurangan seperti
pelaku kecurangan memiliki kemampuan dalam memahami dan memanfaatkan
kelemahan internal kontrol untuk melakukan tindakan kecurangan, pelaku
kecurangan memiliki ego dan kepercayaan diri yang tinggi bahwa perbuatannya
tidak akan terdeteksi, pelaku kecurangan dapat memengaruhi orang lain untuk
turut serta dalam tindakan kecurangan, dan pelaku kecurangan dapat mengontrol
stress dengan baik. Indikator-indikator variabel ini menurut Wolfe dan Hermanson
(2004) juga menjelaskan sifat-sifat terkait kapabilitas dalam pribadi pelaku
kecurangan, antara lain:
a. Positioning. Posisi seseorang dalam organisasi dapat memberikan kemampuan
untuk memanfaatkan kesempatan untuk melakukan fraud.
b. Intelligence dan creativity. Pelaku dapat memahami dan mengeksploitasi
kelemahan pengendalian internal dan menggunakan posisi dan fungsinya
untuk melakukan fraud.
c. Convidence dan Ego. Seseorang yang memiliki keyakinan dan ego yang besar
cenderung tidak mudah untuk terdeteksi dalam melakukan fraud.
d. Coercion. Pelaku bisa mempengaruhi orang lain untuk melakukan atau
meyembunyikan tindakan fraud.
e. Deceit. Pelaku kecurangan harus mampu berbohong secara meyakinkan agar
tidak mudah untuk terdeteksi.
f. Stress. Pelaku harus mampu mengontrol diri dan stres setelah melakukan
tindakan kecurangan.
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 140
5. Kecurangan (Y)
Perilaku Kecurangan yaitu berbagai perilaku tidak jujur yang terpaksa
dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan tujuan mereka dengan cara-cara
yang melanggar aturan baik aturan tersirat maupun tersurat karena seseorang
tersebut berada pada situasi yang penuh dengan persaingan (Murphy, 2011).
Indikator kecurangan meliputi Association of Certified Fraud Eximiners (2014) yaitu:
a. Korupsi
Indikator korupsi diukur dengan pernyataan sebagai berikut:
1) Benturan Kepentingan (Conflict of Interest). Konflik kepentingan terjadi
ketika seorang karyawan, manajer, atau eksekutif memiliki kepentingan
ekonomi atau pribadi yang tidak diungkapkan dalam transaksi yang
berdampak negatif terhadap perusahaan.
2) Penyuapan (Bribery). Penyuapan merupakan sebuah upaya untuk
memberikan suatu penawaran, pemberian, penerimaan, atau permohonan
sesuatu dengan tujuan untuk mempengaruhi pembuat keputusan dalam
memutuskan keputusan bisnis.
3) Pemberian Ilegal (Illegal Gratuities). Mirip dengan suap, tetapi dengan
pemberian ilegal tidak ada maksud untuk mempengaruhi keputusan
bisnis.
4) Pemerasan Secara Ekonomi (Economic Extortion). Pada dasarnya,
pemerasan ekonomi adalah kebalikan dari suap. Karyawan menuntut
pembayaran dari vendor karena beranggapan bahwa atas jasanya, vendor
dapat secara mulus masuk di perusahaan.
b. Penyimpangan asset
Indikator penympangan asset diukur dengan pernyataan sebagai berikut:
1) Pencurian yang terjadi pada saat uang diterima tetapi uang tersebut
disimpan sendiri dan tidak dimasukkan ke dalam perusahaan;
2) Pencurian uang dengan cara membuat suatu transaksi yang fiktif terkait
penjualan atau lainnya;
3) Pencurian barang pada saat transaksi seperti penjualan dan pengiriman
dengan kuantitas yang salah;
4) Penyalahgunaan cenderung pada penggunaan asset perusahaan untuk
keperluan pribadi;
5) Penyaluran dana dari rekening perusahaan untuk tujuan kecurangan
tetapi terlihat seperti cara yang normal
Populasi dan Sampel Penelitian
Dalam penelitian ini populasinya adalah seluruh karyawan PT. BUM Perikanan
samudera Kendarisebanyak 42 karyawan. Sampel merupakan bagian dari jumlah dan
karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut (Arikunto, 2002). Dalam penelitian ini
peneliti menggunakan populasi sebagai sampel. Teknik pengambilan sampel
menggunakan metode sensus. Metode sensus adalah teknik penentuan sampel bila
141 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
semua anggota populasi digunakan sebagai sampel.
Uji Instrumen
Uji Validitas
Pengujian validitas dilakukan berdasarkan analisis item yaitu mengkorelasikan
skor setiap item dengan skor variabel (hasil penjumlahan seluruh skor item
pertanyaan). Teknik korelasinya memakai Pearson Correlation, dihitung dengan
menggunakan bantuan komputer program SPSS versi 20.0.Pengujian validitas di dalam
penelitian ini dilakukan pada 42 responden dengan taraf nyata sebesar 0,05 atau 5%.
Item pertanyaan dinyatakan valid apabila memiliki nilai r
hitung
> r
tabel
atau sig 0,05.
Hasil uji validitas berdasarkan perhitungan dengan menggunakan SPSS for Windows
20.0 dapat dilihat pada tabel:
Tabel Hasil Uji Validitas
Variabel
Indikator
r
hitung
Sig
r
tabel
Keterangan
Sikap (X
1
)
X
1.1
0.521
0
0.2573
Valid
X
1.2
0.682
0
0.2573
Valid
X
1.3
0.959
0.008
0.2573
Valid
X
1.4
0.842
0.009
0.2573
Valid
X
1.5
0.756
0
0.2573
Valid
X
1.6
0.786
0.003
0.2573
Valid
X
1.7
0.458
0.002
0.2573
Valid
X
1.8
0.763
0
0.2573
Valid
Lanjutan Tabel Hasil Uji Validitas
X
1.9
0.521
0
0.2573
Valid
X
1.10
0.682
0.001
0.2573
Valid
Tekanan (X
2
)
X
2.1
0.745
0
0.2573
Valid
X
2.2
0.781
0
0.2573
Valid
X
2.3
0.782
0
0.2573
Valid
X
2.4
0.75
0
0.2573
Valid
X
2.5
0.389
0.011
0.2573
Valid
X
2.6
0.704
0.005
0.2573
Valid
Kesempatan (X
3
)
X
3.1
0.711
0
0.2573
Valid
X
3.2
0.761
0
0.2573
Valid
X
3.3
0.69
0
0.2573
Valid
X
3.4
0.691
0
0.2573
Valid
X
3.5
0.453
0.003
0.2573
Valid
X
3.6
0.447
0.005
0.2573
Valid
X
3.7
0.307
0.048
0.2573
Valid
Kapabilitas (X
4
)
X
4.1
0.766
0
0.2573
Valid
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 142
X
4.2
0.828
0
0.2573
Valid
X
4.3
0.82
0.001
0.2573
Valid
X
4.4
0.788
0
0.2573
Valid
X
4.5
0.31
0.046
0.2573
Valid
X
4.6
0.666
0.009
0.2573
Valid
Kecurangan (Y)
Y
.1
0.404
0.008
0.2573
Valid
Y
.2
0.535
0
0.2573
Valid
Y
.3
0.535
0
0.2573
Valid
Y
.4
0.602
0
0.2573
Valid
Y
.5
0.606
0
0.2573
Valid
Y
.6
0.616
0
0.2573
Valid
Y
.7
0.52
0
0.2573
Valid
Y
.8
0.609
0.003
0.2573
Valid
Y
.9
0.615
0.005
0.2573
Valid
Y
.10
0.657
0
0.2573
Valid
Y
.11
0.622
0.008
0.2573
Valid
Y
.12
0.335
0.03
0.2573
Valid
Y
.13
0.606
0
0.2573
Valid
Lanjutan Tabel Hasil Uji Validitas
Y
.14
0.616
0
0.2573
Valid
Uji Reliabilitas
Reliabilitas berarti jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten
atau stabil dari waktu ke waktu. Semakin tinggi koefisien reliabilitas semakin reliabel
jawaban yang diperoleh dari responden. Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini
dilakukan dengan menghitung besarnya nilai Cronbach’s Alpha instrumen dari masing-
masing variabel yang diuji. Apabila nilai Cronbach
'
s CoefficientAlpha lebih besar dari 0,6,
maka jawaban dari para responden pada kuesioner sebagai alat pengukur dinilai
dinyatakan reliabel. Jika nilai Cronbachs CoefficientAlpha lebih kecil 0,6, maka jawaban
dari para responden pada kuesioner sebagai alat pengukur dinilai dinyatakan tidak
reliable. Hasil uji reliabilitas dapat dilihat pada tabel:
Tabel Hasil Uji Reliabilitas
Variabel
AlphaCronbach
Keterangan
Sikap (X
1
)
0.741
Reliabel
Tekanan (X
2
)
0.696
Reliabel
Kesempatan (X
3
)
0.749
Reliabel
Kapabilitas (X
4
)
0.736
Reliabel
Kecurangan (Y)
0.740
Reliabel
143 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
Teknik Analisis Data
1) Analisis Regresi Berganda
Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui pengaruh Sikap
(Rasionalisasi), Tekanan, Kesempatan dan Kapabilitas Terhadap Kecurangan.
Adapun bentuk persamaannya sebagai berikut (Algifari, 2000):
Y1 = a + b
1
X
1
+ b
2
X
2
+ b
3
X
3
+ b
4
X
4
+ e
Keterangan :
Y = Kecurangan
X
1
= Sikap (Rasionalisasi)
X
2
= Tekanan
X
3
= Kesempatan
X
4
= Kapabilitas
a = Konstanta
b
1
, b
2,
b
3,
= Koefisien regresi X
1
, X
2
, dan X
3
Dengan melihat nilai koefisien regresi pada persamaan di atas, maka dapat
diketahui besarnya pengaruh variabel-variabel independen terhadap variabel
dependen.
2) Koefisien Determinasi (R
2
)
Koefesien determinasi merupakan proporsi hubungan antara Y dan X. Koefisien
determinasi (R
2
) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan suatu model
dalam menerangkan variasi variabel terikat. Nilai (R
2
) adalah antara 0 (nol) dan 1
(satu). Nilai (R
2
) yang kecil (mendekati nol) berarti kemampuan satu variabel
dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati 1 (satu)
berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang
dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.
3) Uji F
Uji F bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap
variabel dependen. Langkah-langkah dalam uji F adalah sebagai berikut:
a. Merumuskan Hipotesis
H
0
: Sikap (Rasionalisasi), Tekanan dan Kesempatan secara simultan tidak
mempunyai pengaruh terhadap Kecurangan.
Ha: Sikap (Rasionalisasi), Tekanan dan Kesempatan secara simultan
mempunyai pengaruh terhadap Kecurangan.
b. Menentukan tingkat signifikansi (α ) yaitu sebesar 0.05
c. Kriteria Pengujian
Jika P value > α = H0 diterima. Berarti tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara variabelvariabel Sikap (Rasionalisasi), Tekanan dan
Kesempatan terhadapKecurangan secara simultan.
Jika P value α = H0 ditolak. Berarti terdapat pengaruh yang signifikan
antara variabelvariabel Sikap (Rasionalisasi), Tekanan dan Kesempatan
terhadapKecurangan secara simultan.
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 144
4) Uji-t
Uji t (pengujian signifikansi secara parsial). Pengujian secara parsial ini
dimaksudkan untuk melihat apakah pengaruh variabel independen secara
individual terhadap variabel dependen signifikan atau tidak. Langkah-langkah
dalam uji t adalah sebagai berikut:
a. Merumuskan Hipotesis
H
0
: Sikap (Rasionalisasi), Tekanan dan Kesempatan secara parsial tidak
mempunyai pengaruh terhadap Kecurangan.
Ha: Sikap (Rasionalisasi), Tekanan dan Kesempatan secara parsial
mempunyai pengaruh terhadap Kecurangan.
b. Menentukan tingkat signifikansi (α ) yaitu sebesar 0.05
c. Kriteria Pengujian
Jika P value > α = H0 diterima. Berarti tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara variabelvariabel Sikap (Rasionalisasi), Tekanan dan
Kesempatan terhadapKecurangan secara parsial.
Jika P value α = H0 ditolak. Berarti terdapat pengaruh yang signifikan
antara variabelvariabel Sikap (Rasionalisasi), Tekanan dan Kesempatan
terhadapKecurangan secara parsial.
Uji Asumsi Klasik
Pengujian normalitas data
Uji normalitas adalah analisis untuk mengetahui dalam suatu regresi, variabel
dependen dan independen atau keduanya mempunyai distribusi normal. Model regresi
yang baik adalah apabila distribusi data normal atau mendekati normal. Uji normalitas
bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau
residual memiliki distribusi normal. Dalam penelitian ini menggunakan Uji One-Sample
Kolmogorov-Smirnov Test, dimana pengambilan keputusan adalah dengan melihat angka
probabilitas signifikansinya. Hasil uji normalitas dengan One-Sample Kolmogorov-
Smirnov Test dapat dilihat pada tabel sebagai berikut.
Tabel Hasil Uji Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Sikap_Rasionali
sasi
Tekanan
Kesempatan
Kapabilitas
Kecurangan
N
42
42
42
42
42
Normal
Parameters
a
,b
Mean
2.6000
2.3849
2.3571
2.3175
2.9779
Std.
Deviation
.39509
.53911
.48188
.56766
.33073
Most
Extreme
Differences
Absolute
.106
.154
.128
.141
.097
Positive
.106
.110
.128
.141
.097
Negative
-.098
-.154
-.128
-.112
-.096
Kolmogorov-Smirnov Z
.688
1.000
.829
.911
.627
Asymp. Sig. (2-tailed)
.730
.270
.499
.378
.826
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
145 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan linear
yang sempurna diantara variabel-variabel bebas dalam regresi. Untuk mengetahui ada
tidaknya gejala multikolinearitas dapat dilihat dari besarnya nilai tolerance dan VIF
(Varians Inflation Factor) melalui program SPSS. Kriteria yang dipakai adalah apabila
nilai tolerance> 0,1 atau nilai VIF < 10 maka tidak terjadi multikolinearitas. Hasil uji
multikolinearitas disajikan pada Tabel berikut:
Tabel Hasil Uji Multikolinearitas
Variabel
Tolerance
VIF
(Varians Inflation
Factor)
Keterangan
Sikap (X
1
)
0.402
2.486
Tidak Terjadi
Multikolinieritas
Tekanan
(X
2
)
0.461
2.517
Tidak Terjadi
Multikolinieritas
Kesempata
n (X
3
)
0.460
2.670
Tidak Terjadi
Multikolinieritas
Kapabilitas
(X
4
)
0.415
2.654
Tidak Terjadi
Multikolinieritas
Uji Heteroskedastisitas
Heteroskedastisitas muncul ketika varian dari distribusi probabilitas gangguan
tidak konstan untuk seluruh pengamatan atas variabel penelitian. Metode yang
digunakan untuk menguji heteroskedastisitas dalam penelitian ini memakai diagram
scatterplot.
Gambar Uji Heteroskedastisitas Diagram Scatterplot
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 146
HASIL DAN PEMBAHASAN
a) Analisis Deskriptif
1) Variabel Sikap (Rasionalisasi) (X
1
)
Rata-rata Penilaian Responden Tentang Sikap (X
1
)
No
item
Item Pernyataan
Rerata
%
Kategori
1
Saya akan berbuat curang jika atasan
saya menyuruh melakukan kecurangan
2.60
43.33
Rendah
2
Saya akan berbuat curang jika rekan
kerja saya menyuruh melakukan
kecurangan
2.43
40.50
Rendah
3
Saya pernah berbuat curang karena saya
diperlakukan tidak adil oleh atasan saya
2.90
48.33
Sedang
4
Saya akan berbuat curang jika atasan
saya juga melakukan kecurangan
2.86
47.66
Sedang
5
Saya akan berbuat curang jika rekan
kerja saya juga melakukan kecurangan
2.19
36.50
Rendah
6
Saya pernah berbuat curang agar kinerja
saya dinilai baik
2.69
44.83
Sedang
7
Saya pernah melakukan perilaku curang
karena adanya sanksi yang tegas dari
perusahaan
2.76
46.00
Sedang
8
Saya pernah berbuat curang karena saya
tidak memahami konsekuensi dari
tindakan berbuat curang
2.55
42.50
Rendah
9
Saya pernah berbuat curang karena
menurut saya, berperilaku curang tidak
melanggar etika.
2.60
43.33
Rendah
Lanjutan Rata-rata Penilaian Responden Tentang Sikap
10
Saya pernah berbuat curang karena
menurut saya berperilaku curang tidak
akan merugikan orang lain
2.43
40.50
Rendah
Rerata
2.60
43.33
Rendah
147 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
2) Variabel Tekanan (Pressure/incentive) (X
2
)
Rata-rata Penilaian Responden Tentang Tekanan(X
2
)
No
item
Item Pernyataan
Rerata
%
Kategori
1
Saya pernah berbuat curang karena
lingkungan kerja di perusahaan
tempat saya bekerja buruk
2.67
44.50
Sedang
2
Saya pernah berbuat curang karena
adanya ketidakadilan pada
manajemen diperusahaan tempat
saya bekerja
2.43
40.50
Rendah
3
Pengambil keputusan pada
perusahaan saya didominasi satu
orang saja
2.48
41.33
Rendah
4
Saya pernah berbuat curang untuk
mendapatkan reputasi yang baik
2.19
36.50
Rendah
5
Saya pernah berbuat curang karena
perintah dari atasan
2.38
39.66
Rendah
6
Saya pernah berbuat curang untuk
memenuhi kepentingan pribadi saya
2.17
36.16
Rendah
Rerata
2.38
39.66
Rendah
3) Variabel Kesempatan (X
3
)
Rata-rata Penilaian Responden Tentang Kesempatan(X
3
)
No item
Item Pernyataan
Rerata
%
Kategori
1
Saya akan berbuat curang jika
pengendalian perusahaan untuk
mendeteksi perilaku kecurangan tidak
memadahi
2.67
44.50
Sedang
2
Saya pernah berbuat curang karena
atasan saya tidak mampu menilai
kualitas kinerja karyawan secara baik
2.43
40.50
Rendah
3
Saya pernah berbuat curang karena
lemahnya sanksi tegas terhadap
karyawan yang melakukan
kecurangan
2.48
41.33
Rendah
4
Saya pernah berbuat curang karena
lemahnya peraturan terhadap
karyawan yang melakukan
2.19
36.50
Rendah
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 148
kecurangan
5
Saya pernah berbuat curang karena
adanya keterbatasan akses terhadap
informasi
2.36
39.33
Rendah
Lanjutan Rata-rata Penilaian Responden Tentang Kesempatan
6
Menurutsaya, berbuat curang
diperbolehkan asal kan tidak
ketahuan
2.17
36.16
Rendah
7
Saya pernah berbuat curang karena
kurangnya upaya yang dilakukan
perusahaan untuk melakukan jejak
audit
2.21
36.83
Rendah
Rerata
2.35
39.16
Rendah
4) Variabel Kapabilitas (X
4
)
Rata-rata Penilaian Responden Tentang Kapabilitas(X
4
)
No item
Item Pernyataan
Rerata
%
Kategori
1
Saya pernah berbuat curang karena
posisi sayadalam perusahaan
memungkinkan saya memanfaatkan
kesempatan untuk melakukan
kecurangan
2.40
40.00
Rendah
2
Saya pernah berbuat curang karena
kelemahan pengendalian internal
memungkinkan saya memanfaatkan
kesempatan untuk melakukan
kecurangan
2.33
38.83
Rendah
3
Keyakinan saya yang besar membuat
saya tidak akan mudah terdeteksi
dalam melakukan kecurangan
2.21
36.83
Rendah
4
Saya adalah orang yang bisa
mempengaruhi orang lain untuk
melakukan juga menyembunyikan
tindakan kecurangan
2.55
42.50
Rendah
5
Saya pernah berbuat curang karena
saya mampu berbohong secara
meyakinkan agar tidak mudah
terdeteksi dalam melakukan
kecurangan
2.29
38.16
Rendah
149 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
6
Saya pernah berbuat curang karena
saya mampu mengontrol diri setelah
melakukan tindakan kecurangan agar
tidak mudah terdeteksi
2.12
35.33
Rendah
Rerata
2.31
38.50
Rendah
5) Variabel Perilaku Kecurangan (Y)
Rata-rata Penilaian Responden Tentang Perilaku Kecurangan(Y)
No item
Item Pernyataan
Rerata
%
Kategori
1
Saya merasa terdapat konflik
kepentingan yang terjadi di internal
perusahaan tempat saya bekerja
3.02
50.33
Sedang
2
Saya pernah mengetahui adanya
penyuapan di perusahaan tempat saya
bekerja
3.17
52.83
Sedang
3
Saya pernah menerima suap di
perusahaan tempat saya bekerja
2.81
46.83
Sedang
4
Saya pernah menerima hadiah tanpa
mengetahui tujuan diberikannya
hadiah tersebut
2.83
47.16
Sedang
5
Saya pernah mendapat tekanan
pemerasan di perusahaan tempat saya
bekerja
3.48
58.00
Tinggi
6
Saya pernah mengetahui adanya
kejadian pemerasan di perusahaan
tempat saya bekerja
2.45
40.83
Rendah
7
Saya pernah mengetahui adanya
pencurian uang dalam perusahaan
tempat saya bekerja
3.17
52.83
Sedang
8
Saya pernah mengetahui adanya
pencurian uang yang dilakukan
dengan cara membuat suatu transaksi
yang fiktif terkait penjualan atau
lainnya.
3.31
55.16
Sedang
9
Saya pernah melakukan pencurian
barang pada saat transaksi seperti
penjualan dengan kuantitas yang
salah
2.95
49.16
Sedang
10
Saya pernah mengetahui adanya
pencurian barang pada saat transaksi
seperti penjualan dengan kuantitas
2.69
44.83
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 150
yang salah
Sedang
11
Saya pernah melakukan
penyalahgunaan asset perusahaan
untuk keperluan pribadi.
3.36
56.00
Sedang
12
Saya pernah mengetahui adanya
penyalahgunaan asset perusahaan
untuk keperluan pribadi.
2.52
42.00
Rendah
13
Saya pernah melakukan penyaluran
dana dari rekening perusahaan untuk
tujuan kecurangan tetapi terlihat
seperti cara yang normal
3.48
58.00
Tinggi
14
Saya pernah mengetahui adanya
penyaluran dana dari rekening
perusahaan untuk tujuan kecurangan
tetapi terlihat seperti cara yang
normal
2.45
40.83
Rendah
Rerata
2.97
49.50
Sedang
b) Analisis Regresi Berganda
Uji t
a. Pengaruh Sikap (Rasionalisasi) terhadap Perilaku Kecurangan
1) Hipotesis
H0 : b1 = 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Sikap
(Rasionalisasi) terhadap Kecurangan
H1 : b1 ≠ 0 Terdapat pengaruh yang signifikan antara Sikap
(Rasionalisasi) terhadap Kecurangan
2) Kriteria
a) Jika P
value
> α = H
0
diterima, berarti Tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara Sikap (Rasionalisasi) terhadap Kecurangan secara
parsial
b) Jika P
value
α = H
0
ditolak, berarti Terdapat pengaruh yang signifikan
antara Sikap (Rasionalisasi) terhadap Kecurangan secara parsial.
3) Hasil
Berpedoman pada t
tabel
yaitu sebesar 1.6820, dan diperoleh t
hitung
sebesar
2.072. Hal ini menunjukkan bahwa t
hitung
> t
tabel
atau 2.072> 1.6820.
Bedasarkan dari hasil perhitungan yang ditunjukkan pada Tabel di atas,
diperoleh nilai p-value hasil uji-t dari variabel Sikap (Rasionalisasi)
sebesar 0.045. Dikarenakan nilai p value lebih kecil dari tingkat signifikan
151 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
α=5% atau (0.045<0.05), maka H0 ditolak; yang berarti Terdapat pengaruh
yang signifikan antara Sikap (Rasionalisasi) terhadap Kecurangan secara
parsial
b. Pengaruh Tekanan terhadap Perilaku Kecurangan
1) Hipotesis
H0: b2 = 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Tekanan
terhadap Kecurangan
H2: b2 ≠ 0 Terdapat pengaruh yang signifikan antara Tekanan terhadap
Kecurangan
2) Kriteria
a) Jika P
value
> α = H
0
diterima, berarti Tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara Tekanan terhadap Kecurangan secara parsial
b) Jika P
value
α = H
0
ditolak, berarti Terdapat pengaruh yang signifikan
antara Tekanan terhadap Kecurangan secara parsial
3) Hasil
Berpedoman pada t
tabel
yaitu sebesar 1.6820, dan diperoleh t
hitung
sebesar
2.701. Hal ini menunjukkan bahwa t
hitung
> t
tabel
atau 2.701> 1.6820.
Bedasarkan dari hasil perhitungan yang ditunjukkan pada Tabel di atas,
diperoleh nilai p-value hasil uji-t dari variabel Tekanan sebesar 0.008.
Dikarenakan nilai p value lebih kecil dari tingkat signifikan α=5% atau
(0.008<0.05), maka H0 ditolak; yang berarti Terdapat pengaruh yang
signifikan antara Tekanan terhadap Kecurangan secara parsial.
c. Pengaruh Kesempatan terhadap Perilaku Kecurangan
1) Hipotesis
H0 : b3 = 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara
Kesempatan terhadap Kecurangan
H3 : b3 ≠ 0 Terdapat pengaruh yang signifikan antara Kesempatan
terhadap Kecurangan
2) Kriteria
a) Jika P
value
> α = H
0
diterima, berarti Tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara Kesempatan terhadap Kecurangan secara parsial
b) Jika P
value
α = H
0
ditolak, berarti Terdapat pengaruh yang signifikan
antara Kesempatan terhadap Kecurangan secara parsial
3) Hasil
Berpedoman pada t
tabel
yaitu sebesar 1.6820, dan diperoleh t
hitung
sebesar
2.227. Hal ini menunjukkan bahwa t
hitung
> t
tabel
atau 2.227> 1.6820.
Bedasarkan dari hasil perhitungan yang ditunjukkan pada Tabel di atas,
diperoleh nilai p-value hasil uji-t dari variabel Kesempatan sebesar 0.027.
Dikarenakan nilai p value lebih kecil dari tingkat signifikan α=5% atau
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 152
(0.027<0.05), maka H0 ditolak; yang berarti Terdapat pengaruh yang
signifikan antara Kesempatan terhadap Kecurangan secara parsial.
d. Pengaruh Kapabilitas terhadap Perilaku Kecurangan
1) Hipotesis
H0 : b4 = 0 Tidak terdapat pengaruh yang signifikan antara Kapabilitas
terhadap Kecurangan
H4 : b4 ≠ 0 Terdapat pengaruh yang signifikan antara Kapabilitas
terhadap Kecurangan
2) Kriteria
a) Jika P
value
> α = H
0
diterima, berarti Tidak terdapat pengaruh yang
signifikan antara Kapabilitas terhadap Kecurangan secara parsial
b) Jika P
value
α = H
0
ditolak, berarti Terdapat pengaruh yang signifikan
antara Kapabilitas terhadap Kecurangan secara parsial.
3) Hasil
Berpedoman pada t
tabel
yaitu sebesar 1.6820, dan diperoleh t
hitung
sebesar
3.299. Hal ini menunjukkan bahwa t
hitung
> t
tabel
atau 3.399> 1.6820.
Bedasarkan dari hasil perhitungan yang ditunjukkan pada Tabel di atas,
diperoleh nilai p-value hasil uji-t dari variabel Kapabilitas sebesar 0.002.
Dikarenakan nilai p value lebih kecil dari tingkat signifikan α=5% atau
(0.002<0.05), maka H0 ditolak; yang berarti Terdapat pengaruh yang
signifikan antara Kapabilitas terhadap Kecurangan secara parsial.
Uji F dan Koefisien Determinasi (R
2
)
Untuk membuktikan bahwa variabel independen secara simultan
berpengaruh terhadap variabel dependen digunakan uji F statistik. Uji F
dilakukan untuk mengetahui apakah semua variabel independen secara bersama-
sama (serempak) mempengaruhi variabel dependen dan berdasarkan dari hasil
perhitungan yang ditunjukkan pada Tabel di atas, diperoleh nilai p value dari
hasil uji F sebesar 0.009. Dikarenakan nilai p value lebih kecil dari tingkat
signifikan α=5% atau (0.009<0,05), maka H0 ditolak; yang berarti Sikap
(Rasionalisasi), Tekanan, Kesempatan dan Kapabilitas secara simultan
mempunyai pengaruh terhadap Kecurangan. Untuk mengetahui besarnya
pengaruh variabel Sikap (Rasionalisasi), Tekanan, Kesempatan dan Kapabilitas
terhadap perilaku kecurangan karyawan pada PT BUM Pabrik Perikanan
Samudera Kendari digunakan koefisien determinasi berganda (Adjusted
RSquare). Berdasarkan hasil pengujian dapat diketahui besarnya koefisien
determinasi berganda (Adjusted R²) sebesar 0.226. Hasil tersebut dapat diartikan
bahwa 22.6% besarnya perilaku kecurangan karyawan pada PT BUM Pabrik
Perikanan Samudera Kendari dipengaruhi oleh keempat variabel bebas yang
terdiri dari Sikap (Rasionalisasi), Tekanan, Kesempatan dan Kapabilitas.
Sedangkan sisanya sebesar 77.4% dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak
dimasukkan dalam model penelitian.
153 Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecurangan….(Rieski Dwi Oktaviana)
Dari keseluruhan pengujian hipotesis tersebut di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa dari kelima hipotesis terbukti. Secara keseluruhan hasil
tersebut dapat diperiksa pada tabel ringkasan hasil pengujian hipotesis berikut
ini:
Tabel Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis
Hipotesis
Hasil Uji
H1
Terdapat pengaruh yang signifikan dari Sikap
(Rasionalisasi) terhadap Kecurangan
Diterima
H2
Terdapat pengaruh yang signifikan dari Tekanan
terhadap Kecurangan
Diterima
H3
Terdapat pengaruh yang signifikan dari
Kesempatan terhadap Kecurangan
Diterima
H4
Terdapat pengaruh yang signifikan dari Kapabilitas
terhadap Kecurangan
Diterima
H5
Terdapat pengaruh yang signifikan dari Sikap
(Rasionalisasi), Tekanan, Kesempatan dan
Kapabilitas terhadap Kecurangan
Diterima
SIMPULAN DAN SARAN
Bagian Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang “Pengaruh Sikap, Tekanan,
Kesempatan, dan Kapabilitas Karyawan terhadap Kecurangan PT. BUM Pelabuhan
Perikanan Samudera Kendari” dapat ditarik kesimpulan Terdapat pengaruh yang
signifikan dari Sikap (Rasionalisasi) terhadap Kecurangandengan nilai signifikansi
sebesar 0.045. Terdapat pengaruh yang signifikan dari Tekanan terhadap Kecurangan
dengan nilai signifikansi sebesar 0.008. Terdapat pengaruh yang signifikan dari
Kesempatan terhadap Kecurangan dengan nilai signifikansi sebesar 0.027 Terdapat
pengaruh yang signifikan dari Kapabilitas terhadap Kecurangan dengan nilai
signifikansi sebesar 0.002. Terdapat pengaruh yang signifikan dari Sikap (Rasionalisasi),
Tekanan, Kesempatan dan Kapabilitas terhadap Kecurangan dengan nilai signifikansi
sebesar 0.009.
DAFTAR PUSTAKA
Cressey, D. (1953). Other people’s money; a study in the social psychology of embezzlement.
Glencoe, IL: FreePress.
Gagola, Kristo. (2011). Analisis Faktor Risiko Yang Mempengaruhi Kecenderungan
Kecurangan-Kecurangan Pelaporan Keuangan Perusahaan Publik Di Indonesia. Tesis
Tidak Dipublikasikan, Fakultas Ekonomika Dan Bisnis, Universitas Diponegoro.
Karyono. (2013). Forensic Fraud.Andi. Yogyakarta
Kassem and Higson. (2012). The New Fraud Triangle Model. Journal of Emerging Trends in
Economics and Management Sciences (JETEMS) 3(3): 191 195, Scholarlink
Research Institute Journals, 2012 (ISSN: 2141 - 7024). British University. UK.
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 1 No. 2 Oktober 2023, Page 130 - 154 154
Murphy, Pamela R and M Tina Dacin. (2011). Psychological Pathways to Fraud: Understanding
and Preventing Fraud. Journal of Business Ethics (2011) 101:601-618
Ratmono, Avrie dan Purwanto. (2014). Dapatkah Teori Fraud Triangle Menjelaskan Kecurangan
dalam Laporan Keuangan? SNA 17 Mataram, Lombok Universitas Mataram 24 - 27
Sept 2014. www.multiparadigma.lecture.ub.ac.id.
Rustendi, Tedi. (2009). Analisis Terhadap Faktor Pemicu Terjadinya Fraud : Suatu Kajian
Teoritis Bagi Kepentingan Audit Internal. Jurnal Akuntansi Vol.4 No.2. Jakarta.
Sihombing, Kennedy Samuel. (2014). Analisis Fraud Diamond Dalam Mendeteksi Financial
Statement Fraud: Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI). Skripsi. Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas
Diponegoro. Tidak Dipublikasikan
Skousen, C. J, and v Wright, C. (2008) Contemporaneous risk factors and the prediction of
financial statement fraud. Journal of Forensic Accounting, IX, 3762.
Skousen, C.J., Smith, K.R, and Wright, C.J. (2009). Detecting and Predicting Financial
Statement Fraud: the Effectiveness of the Fraud Triangle and SAS No.99; in
Advances in FinancialEonomics: Corporate Governanceand Performance1st edition,
JAI Publishing, Emerald Group. Vol. 13
Sukirman dan M.P. Sari. (2013). Model Deteksi Kecurangan Berbasis Fraud Triangle.
Wolfe, David T. and Hermanson, Dana R. (2004). The Fraud Diamond: Considering the Four
Elements of Fraud. CPA Journal; Dec2004, Vol. 74 Issue 12, p38.