Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 35 - 53
Journal of Economics, Business, Accounting and Management
(JEBAM)
Journal homepage:https://kurniajurnal.com/index.php/jebam
E-ISSN: 3032-274X
Optimalisasi Perawatan Mesin untuk Meningkatkan Efisiensi Biaya dan
Waktu Operasional pada Usaha Penggilingan Padi Sabar Sakdremo
Prayogo Widagdo
1
, Reza Widhar Pahlevi
2
1,2,
Prodi Kewirausahaan, Fakultas Ekonomi dan Sosial, Universitas Amikom Yogyakarta
Article History
Received : 15-May-2026
Revised : 8-June-2026
Accepted : 23-July-2026
Published : 6-Auguts-2026
Keywords:
Autonomous Maintenance, Total
Productive Maintenance, Lean
Production, Downtime, Cost Efficiency.
Corresponding author:
prayogowidag22.92@students.amikom.ac.id
DOI: https://doi.org/10.61476/qgbw3w96
A B S T R A C T
Sabar Sakdremo Rice Milling business in Demangan Village, Klaten,
faced operational challenges due to high mechanical breakdowns on its
main diesel engine, driven by the absence of a structured preventive
maintenance system and dependency on external technicians. This
condition led to inflated financial expenditures, prolonged unplanned
downtime, raw paddy accumulation, and reduced service quality due to
order fulfillment delays. To resolve this inefficiency, this study
implemented an autonomous maintenance strategy adopted from Total
Productive Maintenance (TPM) and Lean Production concepts. This
qualitative research employed a case study approach, gathering data
through observation, in-depth interviews with the owner and operators,
and business documentation, which were then analyzed using a
descriptive-comparative method. The results demonstrated that the
application of autonomous maintenance significantly improved
operational efficiency. The total machine maintenance cost decreased
from IDR 1,932,000 to IDR 999,000 (48.29% cost efficiency), and the
total downtime duration was substantially cut from 18 hours 15
minutes to 5 hours 40 minutes (68.95%time efficiency). Based on the
Lean approach, the new system successfully eliminated the waste of
waiting and optimized time allocation through work-window
management, serving as a practical reference to enhance asset utilization
efficiency in small-scale rural agribusinesses.
A B S T R A K
Usaha penggilingan padi Sabar Sakdremo di desa Demangan,
Klaten, menghadapi permasalahan tingginya frekuensi
kerusakan mesin diesel penggerak utama akibat ketiadaan sistem
perawatan preventif terstruktur dan ketergantungan pada teknisi
panggilan luar. Kondisi ini memicu pembengkakan biaya,
lamanya waktu henti produksi (unplanned downtime),
penumpukan bahan baku gabah, serta keterlambatan pelayanan
pelanggan. Guna mengatasi inefisiensi tersebut, penelitian ini
menerapkan strategi perawatan mandiri (autonomous
maintenance) yang diadopsi dari konsep Total Productive
Maintenance (TPM) dan Lean Production. Penelitian kualitatif
dengan pendekatan studi kasus ini mengumpulkan data melalui
teknik observasi, wawancara mendalam bersama pemilik usaha
serta operator, dan dokumentasi usaha, yang kemudian
dianalisis secara deskriptif-komparatif. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa penerapan perawatan mandiri memberikan
efisiensi yang signifikan pada operasional usaha. Akumulasi
biaya perawatan mesin menurun dari Rp1.932.000 menjadi
Rp999.000 (efisiensi 48,29%), sedangkan total durasi downtime
berhasil dipangkas dari 18 jam 15 menit menjadi 5 jam 40 menit
36 Optimalisasi Perawatan Mesin untuk Meningkatkan …. (Prayogo Widagdo, Reza Widhar Pahlevi)
(efisiensi 68,95%). Berdasarkan pendekatan Lean, sistem baru ini
sukses mengeliminasi waste of waiting dan mengoptimalkan
waktu melalui manajemen jendela kerja, sehingga dapat menjadi
acuan praktis dalam meningkatkan efisiensi pemanfaatan aset
pada skala usaha kecil pedesaan.
©2026, Prayogo Widagdo, Reza Widhar Pahlevi
This is an open access article under CC BY-SA
license
PENDAHULUAN
Usaha penggilingan padi merupakan salah satu kegiatan penting dalam mendukung
rantai produksi dan penyediaan beras bagi masyarakat. Keberlangsungan usaha
penggilingan padi tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan bahan baku dan permintaan
pasar, tetapi juga oleh kemampuan usaha dalam mengelola biaya dan waktu operasional
secara efisien (Wänström et al., 2026). Mesin penggilingan menjadi aset utama karena
sebagian besar proses produksi, mulai dari pemecahan gabah, pemisahan sekam,
penyosohan hingga pengolahan beras, sangat bergantung pada kondisi dan kinerja
mesin (Guanghua et al., 2026). Gangguan pada mesin dapat menyebabkan proses
produksi terhenti, meningkatkan biaya perbaikan, menambah waktu tunggu, serta
menurunkan produktivitas usaha (Guedes et al., 2026).
Usaha Penggilingan Padi Sabar Sakdremo di Desa Demangan, Klaten, sebagai
salah satu usaha penggilingan padi, menghadapi kebutuhan untuk menjaga mesin agar
tetap dapat beroperasi secara optimal. Dalam kegiatan operasional sehari-hari,
penggunaan mesin secara terus-menerus menyebabkan komponen mengalami keausan,
penumpukan kotoran, penurunan performa, dan potensi kerusakan. Apabila perawatan
hanya dilakukan ketika mesin mengalami kerusakan, biaya yang dikeluarkan cenderung
lebih besar karena selain membutuhkan biaya penggantian atau perbaikan komponen,
usaha juga berpotensi kehilangan waktu produksi. Kondisi tersebut menunjukkan
pentingnya strategi perawatan yang tidak hanya berorientasi pada perbaikan setelah
terjadi kerusakan, tetapi juga melalui tindakan pencegahan secara rutin (Yang et al.,
2026).
Salah satu alternatif yang dapat diterapkan adalah perawatan mandiri mesin.
Perawatan mandiri merupakan kegiatan pemeliharaan yang dilakukan secara rutin oleh
operator atau pemilik usaha melalui aktivitas sederhana seperti membersihkan mesin,
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 35 - 53 37
melakukan pemeriksaan komponen, memberikan pelumasan, mengencangkan bagian
yang longgar, serta mengenali gejala awal kerusakan. Penerapan perawatan mandiri
memungkinkan kondisi mesin dipantau secara lebih intensif karena operator
berinteraksi langsung dengan mesin selama proses produksi. Dengan demikian, potensi
gangguan dapat diketahui lebih awal sebelum berkembang menjadi kerusakan yang
lebih serius (Márquez & Fernández, 2026).
Perawatan mandiri juga memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi biaya dan
waktu operasional. Mesin yang dirawat secara rutin dapat memiliki kondisi kerja yang
lebih stabil, mengurangi frekuensi kerusakan mendadak, dan memperpanjang umur
komponen. Dari sisi waktu, tindakan pencegahan dapat mengurangi waktu henti mesin
(downtime) sehingga proses penggilingan dapat berlangsung lebih lancar. Bagi usaha
skala kecil dan menengah, efisiensi tersebut menjadi penting karena keterbatasan modal
membuat pengeluaran untuk perbaikan mesin dan kehilangan waktu produksi dapat
memberikan dampak signifikan terhadap keuntungan usaha (Wang et al., 2026).
Penerapan perawatan mandiri pada Usaha Penggilingan Padi Sabar Sakdremo
berpotensi memberikan manfaat berupa pengurangan frekuensi kerusakan mesin,
penghematan biaya pemeliharaan, dan pengurangan waktu berhenti produksi atau
downtime. Selain itu, operator dapat memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap
kondisi mesin sehingga gangguan kecil dapat diketahui dan ditangani sebelum
berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar (Aeddula et al., 2024). Dengan
demikian, aktivitas perawatan tidak hanya menjadi tanggung jawab teknisi atau pihak
eksternal, tetapi menjadi bagian dari rutinitas operasional sehari-hari. Efisiensi biaya dan
waktu operasional menjadi aspek yang semakin penting bagi usaha penggilingan padi
dalam menghadapi persaingan dan tuntutan pelayanan yang cepat. Biaya bahan bakar
atau energi, suku cadang, tenaga kerja, dan perbaikan mesin harus dikelola secara efektif
agar margin usaha tetap terjaga. Di sisi lain, waktu operasional yang efisien
memungkinkan usaha meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi kebutuhan
pelanggan secara tepat waktu (Rajab & Wang, 2024).
Berdasarkan kondisi tersebut, penerapan perawatan mandiri mesin pada Usaha
Penggilingan Padi Sabar Sakdremo menjadi penting untuk dikaji. Penelitian ini
diarahkan untuk menganalisis bagaimana perawatan mandiri dapat mendukung
efisiensi biaya dan waktu operasional, sekaligus mengidentifikasi aktivitas perawatan
38 Optimalisasi Perawatan Mesin untuk Meningkatkan …. (Prayogo Widagdo, Reza Widhar Pahlevi)
yang dapat diterapkan secara sederhana dan berkelanjutan. Hasil penelitian diharapkan
dapat memberikan rekomendasi praktis bagi pengelola usaha dalam meningkatkan
keandalan mesin, mengurangi biaya perawatan, meminimalkan waktu henti, dan
mendukung keberlanjutan operasional usaha penggilingan padi
LANDASAN TEORI
Manajemen Operasional
Manajemen operasional merupakan serangkaian aktivitas sistematis yang mencakup
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian sumber daya untuk
merubah input menjadi output yang bernilai tambah secara efektif dan efisien. Proses
pengelolaan sistematis seluruh sumber daya guna mencapai tujuan strategis Perusahaan
(Li et al., 2025). Penerapannya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan melalui
pengelolaan biaya, kualitas, kecepatan, keandalan, dan fleksibilitas (Guedes et al., 2026).
Manajemen operasional diarahkan untuk meminimalkan biaya produksi, menjaga
kontinuitas proses kerja, meminimalkan pemborosan, dan mengurangi risiko kerusakan
fasilitas. Fungsi manajemen operasional meliputi planning, organizing, directing, dan
controlling. Pengawasan proses, pengendalian kualitas, hingga pengelolaan
pemeliharaan fasilitas produksi. Mencakup perancangan sistem hingga perbaikan
berkelanjutan (continuous improvement), ruang lingkup manajemen operasional pada
penelitian penggilingan padi ini difokuskan pada pengelolaan pemeliharaan mesin
diesel sebagai fasilitas utama guna menekan downtime, mengendalikan biaya perawatan,
dan menjamin kelangsungan operasional usaha (Wänström et al., 2026).
Efisiensi Biaya Operasional
Efisiensi biaya merupakan upaya perusahaan dalam menggunakan sumber daya
secara hemat, tepat, dan sesuai kebutuhan tanpa pemborosan. Eisiensi menekankan
pemanfaatan sumber daya secara optimal untuk meminimalkan pemborosan tanpa
mengurangi kualitas hasil (Yang et al., 2026). Biaya operasional mencakup pengeluaran
pemeliharaan fasilitas produksi yang menyatakan mencakup bahan bakar, tenaga kerja,
pemeliharaan, dan perbaikan mesin. Biaya operasional dikelompokkan menjadi biaya
tetap, biaya variabel, biaya pemeliharaan, serta biaya lain, di mana pada penggilingan
padi mencakup biaya tetap (penyusutan, sewa, pajak, upah tetap), biaya variabel (bahan
bakar, pelumas), biaya perawatan/perbaikan (suku cadang, jasa teknisi luar), dan biaya
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 35 - 53 39
downtime akibat terhentinya produksi. Selain itu, efisiensi biaya dipengaruhi oleh kondisi
mesin, sistem pemeliharaan, serta keterampilan operator dalam mengenali gejala awal
kerusakan (Hos et al., 2026). Pengukuran efisiensi biaya operasional dapat dilihat dari
pengelolaan biaya yang semakin baik serta berkurangnya pemborosan dan biaya
perbaikan. Untuk menganalisis perubahan kondisi biaya perawatan mesin diesel
sebelum dan sesudah penerapan perawatan mandiri di usaha penggilingan padi Sabar
Sakdremo.
Downtime Mesin
Downtime merupakan kondisi ketika mesin tidak dapat digunakan untuk kegiatan
operasional karena mengalami gangguan, kerusakan, atau sedang menjalani
pemeliharaann periode berhentinya mesin yang menyebabkan hilangnya waktu
operasional akibat berbagai faktor seperti kegagalan komponen hingga pemeliharaan
tidak terencana (Cannas et al., 2025). Downtime dibedakan menjadi planned downtime yang
mencakup perawatan berkala, penggantian oli, kalibrasi, serta pelatihan operator dan
unplanned downtime akibat kerusakan mendadak yang dibedakan lagi menjadi kerusakan
ringan dan berat. Faktor penyebab downtime meliputi keausan komponen, kegagalan
pelumasan, hingga keterlambatan perbaikan serta dipicu oleh kurangnya pemeriksaan
rutin maupun pemeliharaan yang memadai. Dampak downtime mencakup tertundanya
proses produksi, pemanfaatan sumber daya yang tidak optimal, dan terganggunya
pelayanan pelanggan (Zhang et al., 2024). Secara rinci, pengukuran downtime dilakukan
melalui pencatatan durasi sejak mesin berhenti hingga siap beroperasi Kembali untuk
menganalisis perubahan lamanya penghentian mesin diesel sebelum dan sesudah
penerapan perawatan mandiri di usaha penggilingan padi Sabar Sakdremo.
Lean Production
Lean Production merupakan pendekatan manajemen yang berfokus pada penciptaan
nilai (value) bagi pelanggan dengan mengeliminasi aktivitas tanpa nilai tambah (waste)
melalui perbaikan proses secara berkelanjutan sebagai pendekatan manajemen
operasional untuk mengurangi pemborosan serta mengoptimalkan pemanfaatan sumber
daya seperti tenaga kerja, mesin, material, dan waktu. Konsep ini didasarkan pada lima
prinsip utama yaitu menentukan nilai, mengidentifikasi aliran nilai, menciptakan aliran
proses, menerapkan sistem tarik, dan melakukan perbaikan berkelanjutan, serta
mendefinisikan waste sebagai setiap aktivitas yang mengonsumsi sumber daya tanpa
40 Optimalisasi Perawatan Mesin untuk Meningkatkan …. (Prayogo Widagdo, Reza Widhar Pahlevi)
memberikan nilai tambah (Zhao et al., 2026). Dalam konteks pemeliharaan mesin diesel
penggilingan padi, analisis waste difokuskan pada empat jenis pemborosan: waste of
waiting (waktu tunggu akibat ketergantungan pada teknisi luar), waste of defect (beras
patah atau kebutuhan rework akibat mesin kurang terawat), waste of motion (gerakan
tidak efisien akibat ketiadaan standardisasi penempatan perkakas), serta waste of
transportation (perpindahan fisik material atau peralatan yang tidak diperlukan). Dengan
demikian, penerapan Lean Production pada industri penggilingan padi menjadi dasar
untuk mengeliminasi pemborosan operasional, menjaga kesiapan mesin diesel, serta
meningkatkan efisiensi dan efektivitas kegiatan usaha secara menyeluruh (Xue et al.,
2025).
Total Productive Maintenance (TPM)
Total Productive Maintenance (TPM) merupakan sistem pemeliharaan yang bertujuan
meningkatkan efektivitas peralatan melalui keterlibatan seluruh anggota organisasi,
termasuk operator, secara berkelanjutan demi mencegah kerusakan. TPM menekankan
keterlibatan seluruh elemen organisasi secara rutin untuk meningkatkan keandalan
mesin dan kelancaran operasional (Panigrahi & Singh, 2026). Tujuan utama TPM adalah
meningkatkan efektivitas peralatan melalui pencegahan kerusakan, pengurangan waktu
henti, peningkatan kualitas, serta penciptaan lingkungan kerja yang aman, implementasi
TPM diarahkan untuk mencapai kondisi zero breakdown, zero defect, dan zero accident secara
bertahap (Kapelko et al., 2026). Sistem TPM dibangun atas delapan pilar utama meliputi
Autonomous Maintenance, Focused Improvement, Planned Maintenance, Quality Maintenance,
Education and Training, Early Equipment Management, Safety, Health and Environment, serta
Office TPM yang di mana pilar Autonomous Maintenance (perawatan mandiri)
memberikan tanggung jawab pemeliharaan dasar kepada operator demi mendeteksi
kerusakan secara dini. Penerapan TPM memberikan berbagai manfaat seperti
meningkatkan keandalan mesin, memperpanjang umur peralatan, serta membangun
budaya kerja yang peduli terhadap fasilitas produksi yang menyatakan bahwa
keterlibatan operator dalam pemeliharaan rutin mampu memperbaiki koordinasi
internal dan mendukung keberlangsungan operasional usaha secara terpadu (Xue et al.,
2025).
Autonomus Maintenance
Autonomous maintenance atau perawatan mandiri merupakan pilar utama dalam Total
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 35 - 53 41
Productive Maintenance (TPM) yang memberikan tanggung jawab kepada operator untuk
melakukan pemeliharaan dasar (pembersihan, pelumasan, inspeksi sederhana,
pengencangan komponen) demi menjaga keandalan peralatan. Pendekatan ini bertujuan
meningkatkan keterlibatan operator dalam mengenali gejala awal kerusakan serta
mengurangi ketergantungan pada teknisi eksternal (Guruge et al., 2026). Tujuan utama
perawatan mandiri adalah membangun kepedulian operator melalui rutinitas
pemeliharaan dasar, yang menyatakan bahwa keterlibatan ini meningkatkan
kemampuan penanganan awal gangguan ringan sebelum menjadi kerusakan besar.
Pelaksanaannya dilakukan secara bertahap mulai dari pembersihan awal, eliminasi
sumber kotoran, penentuan standar rutin, hingga inspeksi mandiri yang pada penelitian
ini diwujudkan lewat pembersihan mesin diesel, pelumasan, pengencangan baut, dan
perbaikan ringan harian (Daniels, 2026).
Penerapan ini memberikan manfaat berupa meningkatnya kepedulian operator,
keandalan mesin, dan deteksi dini kerusakan, serta terbukti mengurangi gangguan
operasional dan waktu henti produksi. Meskipun demikian, keberhasilannya memiliki
kendala berupa perlunya komitmen manajemen, kesiapan operator, serta pelatihan yang
memadai yang pada UMKM berupa terbatasnya pengalaman dan peralatan
pemeliharaan (Bezerra et al., 2026). Pada akhirnya, perawatan mandiri memiliki
hubungan erat dengan efisiensi operasional karena menjaga kesiapan fasilitas secara
berkelanjutan yang dalam penelitian ini dikaji untuk membuktikan kontribusinya
terhadap efisiensi biaya perawatan dan penurunan downtime mesin diesel pada usaha
penggilingan padi Sabar Sakdremo.
METODE PENELITIAN
Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Pendekatan kualitatif dipilih untuk memahami secara mendalam penerapan
perawatan mandiri (Autonomous Maintenance) pada mesin diesel di Usaha Penggilingan
Padi Sabar Sakdremo serta mengungkap proses, pengalaman, dan strategi yang
diterapkan dalam kegiatan pemeliharaan mesin. Pendekatan studi kasus digunakan
karena penelitian berfokus pada satu objek penelitian secara mendalam sehingga dapat
memberikan pemahaman yang komprehensif mengenai penerapan perawatan mandiri
42 Optimalisasi Perawatan Mesin untuk Meningkatkan …. (Prayogo Widagdo, Reza Widhar Pahlevi)
dalam kondisi nyata.
Data utama diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Selain data
kualitatif, penelitian ini didukung oleh data kuantitatif berupa biaya perawatan dan
downtime sebelum dan sesudah penerapan perawatan mandiri. Data kuantitatif
digunakan sebagai pendukung untuk memperkuat analisis kualitatif, bukan untuk
pengujian hipotesis secara statistik.
Jenis dan Sumber Data
Penelitian menggunakan dua jenis data, yaitu data kuantitatif dan data kualitatif.
Data kuantitatif meliputi biaya perawatan mesin, durasi downtime, serta hasil
perhitungan efisiensi biaya dan waktu operasional sebelum dan sesudah penerapan
perawatan mandiri. Data kualitatif berupa informasi mengenai kondisi operasional
usaha, penyebab kerusakan mesin, penerapan perawatan mandiri, keterlibatan operator,
serta dampaknya terhadap kegiatan operasional.
Sumber data terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh
melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap pemilik usaha serta operator
mesin. Data sekunder diperoleh dari dokumentasi penelitian dan berbagai literatur yang
berkaitan dengan manajemen operasional, Lean Production, Total Productive Maintenance
(TPM), dan Autonomous Maintenance.
Fokus Penelitian
Penelitian difokuskan pada analisis efisiensi biaya dan waktu operasional melalui
penerapan perawatan mandiri pada mesin diesel. Fokus penelitian meliputi:
1. Kondisi biaya perawatan sebelum dan sesudah penerapan perawatan mandiri,
2. Kondisi downtime sebelum dan sesudah penerapan perawatan mandiri,
3. Pelaksanaan perawatan mandiri oleh operator, dan
4. Dampak penerapan perawatan mandiri terhadap efisiensi operasional usaha.
Definisi Operasional
Definisi operasional digunakan untuk memberikan batasan terhadap konsep yang
diteliti sehingga memudahkan proses pengumpulan dan analisis data.
Tabel 1. Definisi Operasional Variabel
Definisi Operasional
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 35 - 53 43
Perawatan Mandiri
(Autonomous
Maintenance)
Aktivitas pemeliharaan dasar yang dilakukan operator,
meliputi pembersihan, pelumasan, pemeriksaan, dan
penyetelan mesin untuk mencegah kerusakan (Kitada et al.,
2026)
Biaya Perawatan
Seluruh biaya yang dikeluarkan untuk penanganan kerusakan
mesin, meliputi biaya suku cadang dan jasa perbaikan
(Márquez & Gómez, 2026)
Downtime
Waktu ketika mesin tidak dapat beroperasi akibat kerusakan
sehingga proses produksi terhenti (Aeddula et al., 2024)
Efisiensi Operasional
Tingkat keberhasilan usaha dalam mengurangi biaya
perawatan dan downtime setelah penerapan perawatan
mandiri (Hos et al., 2026)
Efisiensi biaya dan efisiensi downtime dihitung dengan membandingkan kondisi sebelum
dan sesudah penerapan perawatan mandiri menggunakan rumus:
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 =
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑆𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚
× 100%
𝐸𝑓𝑖𝑠𝑖𝑒𝑛𝑠𝑖 𝐷𝑜𝑤𝑛𝑡𝑖𝑚𝑒 =
𝐷𝑜𝑤𝑛𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚 𝐷𝑜𝑤𝑛𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑆𝑒𝑠𝑢𝑑𝑎ℎ
𝐷𝑜𝑤𝑛𝑡𝑖𝑚𝑒 𝑆𝑒𝑏𝑒𝑙𝑢𝑚
× 100%
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Observasi dilakukan untuk mengamati kondisi mesin dan pelaksanaan perawatan
mandiri. Wawancara dilakukan secara mendalam kepada pemilik usaha dan operator
mesin menggunakan pedoman wawancara yang disusun berdasarkan fokus penelitian.
Dokumentasi dilakukan dengan mengumpulkan foto kegiatan operasional, kondisi
mesin, dan dokumen lain yang mendukung penelitian.
Protokol Wawancara
Protokol wawancara disusun sebagai pedoman agar proses pengumpulan data
berlangsung secara sistematis dan sesuai dengan tujuan penelitian. Informan dipilih
menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilik usaha dan operator mesin yang
terlibat langsung dalam operasional serta pelaksanaan perawatan mandiri. Pedoman
44 Optimalisasi Perawatan Mesin untuk Meningkatkan …. (Prayogo Widagdo, Reza Widhar Pahlevi)
wawancara mencakup empat aspek utama, yaitu gambaran umum usaha, kondisi biaya
perawatan dan downtime sebelum penerapan perawatan mandiri, pelaksanaan
perawatan mandiri, serta dampaknya terhadap efisiensi biaya dan waktu operasional.
Daftar pertanyaan wawancara secara lengkap disajikan pada lampiran.
Teknik Analisis Data
Analisis data meliputi pengumpulan data, kondensasi data, penyajian data, dan
penarikan kesimpulan. Analisis dilakukan secara berkelanjutan sejak proses
pengumpulan data hingga diperoleh kesimpulan yang mampu menjawab rumusan
masalah. Selanjutnya, data biaya perawatan dan downtime sebelum serta sesudah
penerapan perawatan mandiri dibandingkan untuk menggambarkan tingkat efisiensi
biaya dan waktu operasional.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Usaha
Usaha Penggilingan Padi Sabar Sakdremo yang beroperasi sejak tahun 2004 di Desa
Demangan, Karangdowo, Klaten, bergerak di bidang jasa pascapanen terpadu
(pengeringan, pengupasan gabah pecah kulit, penyosohan beras, dan pembelian gabah
pecah kulit) dengan dukungan satu pemilik serta tiga operator yang bekerja setiap hari
pukul 08.0016.00 WIB (efektif 6,5 jam per hari). Kelancaran seluruh aktivitas pengolahan
sangat bergantung pada satu unit mesin diesel penggerak utama transmisi v-belt tanpa
adanya mesin cadangan, sehingga kerusakan pada komponen krusial (seperti piston,
ring piston, liner, metal jalan, rocker arm, pompa oli, dan nozzle) langsung
menghentikan total operasional pabrik. Sebelum diterapkannya perawatan mandiri
(autonomous maintenance), usaha ini menerapkan sistem pemeliharaan reaktif (breakdown
maintenance) yang bergantung penuh pada teknisi eksternal/bengkel luar.
Ketergantungan ini memicu ketidakpastian waktu perbaikan, memperpanjang durasi
downtime, menurunkan produktivitas operator, serta menghambat pelayanan pelanggan,
sehingga penerapan perawatan mandiri menjadi langkah strategis untuk menekan
ketergantungan teknisi luar, meminimalkan downtime, dan meningkatkan efisiensi
operasional usaha.
Kondisi Biaya Perawatan dan Downtime Sebelum Penerapan Perawatan Mandiri
Kondisi sebelum penerapan perawatan mandiri mengacu pada periode ketika
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 35 - 53 45
seluruh kegiatan pemeriksaan dan perbaikan mesin diesel masih bergantung pada
teknisi eksternal. Pada kondisi tersebut operator belum memiliki kemampuan yang
memadai untuk melakukan pemeriksaan maupun perbaikan secara mandiri sehingga
setiap kerusakan harus ditangani oleh teknisi dari luar. Data diperoleh melalui
wawancara dengan pemilik usaha dan operator mengenai jenis kerusakan, biaya
perbaikan, serta durasi downtime berdasarkan pengalaman selama kegiatan operasional.
Informasi tersebut digunakan sebagai dasar untuk membandingkan perubahan biaya
perawatan dan downtime setelah penerapan perawatan mandiri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima jenis kerusakan yang paling
sering terjadi pada mesin diesel, yaitu kerusakan pada piston, ring piston dan liner, metal
jalan, rocker arm, pompa oli, dan nozzle. Sebelum penerapan perawatan mandiri,
seluruh kerusakan ditangani oleh teknisi eksternal sehingga usaha harus mengeluarkan
biaya jasa perbaikan selain biaya penggantian komponen. Selain itu, proses perbaikan
memerlukan waktu tunggu hingga teknisi tersedia, yang menyebabkan downtime relatif
tinggi dan menghambat kegiatan operasional.
Tabel 2. Rekapitulasi Kondisi Biaya Perawatan dan Downtime Sebelum Penerapan
Perawatan Mandiri
Komponen
Indikasi Kerusakan
Penanganan
Biaya
Perawatan
Downtime
Piston, ring
piston, dan liner
Asap putih, tenaga mesin
menurun, kehilangan
kompresi
Teknisi
eksternal
Rp750.000
7 Jam 0 Menit
Metal jalan
Suara kasar, asap hitam
akibat keausan
Teknisi
eksternal
Rp187.000
3 Jam 0 Menit
Rocker arm
Mesin sulit dihidupkan,
tenaga berkurang
Teknisi
eksternal
Rp215.000
2 Jam 30
Menit
Pompa oli
Tekanan oli tidak naik
atau terlambat
Teknisi
eksternal
Rp520.000
3 Jam 30
Menit
Nozzle
Tenaga mesin menurun,
asap pekat, pengabutan
tidak optimal
Teknisi
eksternal
Rp260.000
2 Jam 15
Menit
46 Optimalisasi Perawatan Mesin untuk Meningkatkan …. (Prayogo Widagdo, Reza Widhar Pahlevi)
Berdasarkan rekapitulasi tersebut, dapat diketahui bahwa sistem pemeliharaan
sebelum penerapan perawatan mandiri masih bersifat breakdown maintenance, yaitu
perbaikan dilakukan setelah mesin mengalami kerusakan. Ketergantungan terhadap
teknisi eksternal menyebabkan biaya perawatan menjadi lebih tinggi dan downtime
lebih lama karena adanya waktu tunggu sebelum proses perbaikan dapat dilakukan.
Kondisi tersebut mengakibatkan terganggunya kelancaran operasional usaha dan
menjadi dasar perlunya penerapan perawatan mandiri untuk meningkatkan efisiensi
biaya dan waktu operasional.
Perawatan mesin merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga
keberlangsungan operasional usaha penggilingan padi. Pada usaha penggilingan padi
Sabar Sakdremo di Desa Demangan, Klaten, keberadaan mesin penggilingan menjadi
faktor utama yang menentukan kelancaran proses produksi. Mesin yang digunakan
secara terus-menerus akan mengalami penurunan kinerja apabila tidak mendapatkan
perawatan yang memadai. Kondisi tersebut dapat menyebabkan mesin mengalami
kerusakan, meningkatkan waktu berhenti operasi (downtime), menambah biaya
perbaikan, serta menghambat pelayanan kepada pelanggan. Oleh karena itu, penerapan
perawatan mandiri menjadi salah satu pendekatan yang relevan untuk meningkatkan
efisiensi biaya dan waktu operasional.
Perawatan mandiri dalam konteks usaha penggilingan padi dapat dipahami
sebagai kegiatan pemeliharaan mesin yang dilakukan secara rutin oleh operator atau
pemilik usaha tanpa selalu bergantung pada teknisi eksternal. Pendekatan ini tidak
berarti seluruh perbaikan mesin harus dilakukan sendiri, tetapi lebih menekankan pada
kemampuan operator untuk melakukan pemeriksaan, pembersihan, pelumasan,
pengencangan, penyetelan sederhana, serta mendeteksi gejala awal kerusakan. Dengan
demikian, perawatan mandiri merupakan bentuk tindakan preventif yang bertujuan
mencegah kerusakan yang lebih besar sebelum mengganggu proses produksi.
Penerapan Perawatan Mandiri
Penerapan perawatan mandiri di Usaha Penggilingan Padi Sabar Sakdremo
dilakukan secara bertahap melalui pendampingan langsung oleh pemilik usaha kepada
operator mesin. Proses ini diawali dengan pengenalan fungsi setiap komponen mesin
diesel, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan praktik dalam melakukan pemeriksaan,
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 35 - 53 47
pembersihan, pelumasan, penyetelan, hingga penggantian komponen yang mengalami
kerusakan ringan sampai sedang. Pengetahuan diberikan secara langsung ketika proses
perbaikan berlangsung sehingga operator memperoleh pengalaman teknis dari setiap
kerusakan yang terjadi.
Penerapan perawatan mandiri memberikan perubahan pada sistem pemeliharaan
mesin dari breakdown maintenance menjadi pemeliharaan yang lebih preventif.
Keterlibatan operator dalam kegiatan pemeliharaan mampu mempercepat proses
penanganan kerusakan, mengurangi ketergantungan terhadap teknisi eksternal, serta
menjaga kesiapan mesin dalam mendukung kegiatan operasional usaha.
Efisiensi Biaya dan Waktu Operasional Setelah Penerapan Perawatan Mandiri
Setelah penerapan perawatan mandiri, terjadi penurunan biaya perawatan dan
downtime pada seluruh komponen yang menjadi objek penelitian. Penurunan tersebut
terjadi karena operator telah mampu melakukan pemeriksaan, penyetelan, serta
penggantian beberapa komponen secara mandiri sehingga penggunaan jasa teknisi
eksternal dapat dikurangi.
Tabel 3. Rekapitulasi Perbandingan Biaya Perawatan dan Downtime
Komponen
Biaya
Sebelum (Rp)
Biaya
Sesudah (Rp)
Downtime
Sebelum
Downtime
Sesudah
Piston, ring piston,
dan liner
Rp750.000
Rp462.000
7 Jam 0 Menit
1 Jam 30 Menit
Metal jalan
Rp187.000
Rp37.000
3 Jam 0 Menit
1 Jam 15 Menit
Rocker arm
Rp215.000
Rp47.000
2 Jam 30 Menit
1 Jam 15 Menit
Pompa oli
Rp520.000
Rp350.000
3 Jam 30 Menit
1 Jam 0 Menit
Nozzle
Rp260.000
Rp103.000
2 Jam 15 Menit
0 Jam 40 Menit
Total
1.932.000
999.000
18 Jam 15
Menit
5 Jam 40 Menit
Berdasarkan hasil penelitian, total biaya perawatan menurun dari Rp1.932.000
menjadi Rp999.000, sehingga terjadi penghematan sebesar Rp933.000 atau 48,29%. Selain
itu, total downtime mesin berkurang dari 18 jam 15 menit menjadi 5 jam 40 menit, atau
menurun selama 12 jam 35 menit (68,95%). Penurunan tersebut menunjukkan bahwa
keterlibatan operator dalam kegiatan pemeliharaan mampu mempercepat proses
48 Optimalisasi Perawatan Mesin untuk Meningkatkan …. (Prayogo Widagdo, Reza Widhar Pahlevi)
penanganan kerusakan sekaligus mengurangi biaya jasa perbaikan yang sebelumnya
harus dikeluarkan ketika seluruh pekerjaan dilakukan oleh teknisi eksternal.
Efisiensi biaya menjadi salah satu manfaat utama dari penerapan perawatan
mandiri. Pada usaha skala kecil dan menengah, biaya pemeliharaan mesin harus dikelola
secara hati-hati karena kemampuan keuangan usaha relatif terbatas. Ketika mesin
mengalami kerusakan berat, pemilik usaha tidak hanya harus mengeluarkan biaya untuk
membeli suku cadang, tetapi juga membayar jasa teknisi dan menanggung potensi
kehilangan pendapatan selama mesin tidak dapat digunakan. Sebaliknya, pemeriksaan
rutin memungkinkan kerusakan kecil ditemukan lebih awal sehingga tindakan
perbaikan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi kerusakan yang lebih
kompleks.
Sebagai contoh, kondisi belt, bearing, pulley, saluran masuk gabah, saringan, dan
komponen penggerak perlu diperiksa secara berkala. Belt yang mulai kendor atau aus
dapat menyebabkan putaran mesin tidak optimal. Apabila kondisi tersebut tidak segera
ditangani, beban kerja mesin dapat meningkat dan berpotensi mempercepat kerusakan
komponen lain. Demikian pula bearing yang kurang mendapatkan pelumasan dapat
mengalami panas berlebih dan akhirnya rusak. Dengan melakukan pemeriksaan
sederhana dan memberikan pelumasan secara teratur, risiko kerusakan tersebut dapat
diminimalkan. Biaya yang dikeluarkan untuk pelumas atau penggantian komponen
kecil pada tahap awal umumnya lebih rendah dibandingkan biaya perbaikan ketika
terjadi kerusakan berat.
Selain mengurangi biaya perbaikan, perawatan mandiri juga dapat meningkatkan
efisiensi waktu operasional. Kerusakan mesin secara tiba-tiba dapat menyebabkan proses
penggilingan terhenti. Bagi usaha penggilingan padi, waktu berhenti operasi memiliki
dampak langsung terhadap produktivitas dan pelayanan pelanggan (Lam et al., 2025).
Pelanggan yang datang untuk menggiling padi harus menunggu lebih lama atau bahkan
mencari tempat penggilingan lain apabila mesin tidak dapat segera diperbaiki. Dengan
demikian, downtime tidak hanya menimbulkan kehilangan waktu, tetapi juga berpotensi
menimbulkan kehilangan pendapatan dan kepercayaan pelanggan (Asio, 2026).
Perawatan mandiri dapat mengurangi downtime melalui kegiatan pemeriksaan
sebelum mesin digunakan. Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan secara singkat tetapi
konsisten. Operator dapat memeriksa apakah terdapat suara mesin yang tidak normal,
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 35 - 53 49
getaran berlebihan, kebocoran oli, kondisi belt, baut yang longgar, serta kebersihan
bagian mesin. Apabila ditemukan indikasi masalah, tindakan sederhana dapat dilakukan
segera. Jika masalah membutuhkan keahlian teknis yang lebih tinggi, teknisi dapat
dipanggil sebelum kerusakan menjadi lebih parah. Dengan mekanisme tersebut,
perawatan berubah dari pola reaktif menjadi pola preventif (Hidayat et al., 2025).
Aktivitas pertama yang dapat diterapkan secara sederhana adalah pembersihan
mesin secara rutin. Sisa gabah, sekam, debu, dan kotoran dapat menumpuk pada bagian
tertentu dari mesin penggilingan. Penumpukan kotoran dapat mengganggu aliran
bahan, menyebabkan komponen cepat panas, dan menurunkan kinerja mesin. Oleh
karena itu, mesin sebaiknya dibersihkan setelah kegiatan operasional selesai, terutama
pada bagian yang mudah mengalami penumpukan sisa produksi. Pembersihan juga
membantu operator melihat secara lebih jelas apabila terdapat kebocoran, retakan, atau
kerusakan pada komponen (Kitada et al., 2026).
Aktivitas kedua adalah pemeriksaan dan pelumasan komponen bergerak. Bagian
seperti bearing dan komponen lain yang mengalami gesekan membutuhkan pelumasan
sesuai kebutuhan. Pelumasan yang dilakukan secara teratur dapat mengurangi gesekan
dan membantu menjaga umur komponen. Namun, penggunaan pelumas juga perlu
dilakukan secara tepat. Operator perlu mengetahui titik pelumasan, jenis pelumas yang
digunakan, serta frekuensi pemberiannya. Penggunaan pelumas secara berlebihan juga
tidak diperlukan karena dapat menyebabkan kotoran lebih mudah menempel pada
komponen (Daniels, 2026).
Aktivitas ketiga adalah pemeriksaan belt dan pulley. Belt memiliki peran penting
dalam meneruskan tenaga dari sumber penggerak menuju komponen mesin. Belt yang
terlalu kendor dapat menyebabkan tenaga tidak tersalurkan secara optimal, sedangkan
belt yang terlalu tegang dapat memberikan beban tambahan pada bearing dan
komponen penggerak. Pemeriksaan visual terhadap kondisi belt, tingkat kekencangan,
dan keausannya dapat dilakukan oleh operator. Apabila ditemukan kerusakan atau
keausan yang cukup berat, penggantian dapat dilakukan sebelum belt putus ketika
mesin sedang digunakan (Guruge et al., 2026).
Aktivitas keempat adalah pengencangan baut dan pemeriksaan sambungan
mesin. Getaran yang muncul selama mesin beroperasi dapat menyebabkan beberapa
baut atau sambungan menjadi longgar. Pemeriksaan dan pengencangan secara berkala
50 Optimalisasi Perawatan Mesin untuk Meningkatkan …. (Prayogo Widagdo, Reza Widhar Pahlevi)
merupakan tindakan sederhana yang tidak membutuhkan biaya besar. Kegiatan ini
penting karena baut yang longgar dapat menyebabkan getaran semakin besar dan
berpotensi merusak komponen lain. Operator dapat memasukkan pemeriksaan baut ke
dalam rutinitas perawatan mingguan atau sesuai intensitas penggunaan mesin (Kapelko
et al., 2026).
Aktivitas kelima adalah pemeriksaan kondisi mesin sebelum dan setelah operasi.
Pemeriksaan sebelum operasi dapat difokuskan pada kondisi umum mesin, bahan bakar
atau sumber energi, pelumas, belt, serta kebersihan komponen. Setelah operasi, operator
dapat memeriksa apakah terdapat suara, panas, getaran, atau kondisi lain yang tidak
biasa. Kebiasaan tersebut membantu membangun kemampuan deteksi dini. Operator
menjadi lebih familiar dengan karakteristik mesin sehingga perubahan kecil dalam suara
atau getaran dapat segera diketahui (Cannas et al., 2025).
Agar perawatan mandiri dapat berlangsung secara berkelanjutan, diperlukan
pembagian tanggung jawab yang jelas. Operator yang menjalankan mesin sehari-hari
dapat diberikan tanggung jawab terhadap pemeriksaan rutin dan pembersihan.
Sementara itu, pemilik usaha dapat melakukan pemeriksaan berkala terhadap kondisi
umum mesin dan memastikan ketersediaan suku cadang serta bahan perawatan dasar.
Perbaikan yang bersifat kompleks tetap sebaiknya diserahkan kepada teknisi yang
memiliki kompetensi. Batas antara perawatan mandiri dan perbaikan teknis perlu
dipahami agar aktivitas perawatan tidak justru menimbulkan kerusakan baru (Li et al.,
2025).
SIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian mengenai efisiensi biaya dan waktu operasional melalui
penerapan perawatan mandiri (Autonomous Maintenance) pada mesin diesel di Usaha
Penggilingan Padi Sabar Sakdremo, dapat disimpulkan bahwa Sebelum penerapan
perawatan mandiri, sistem pemeliharaan mesin masih bergantung pada teknisi eksternal
sehingga setiap kerusakan memerlukan biaya jasa perbaikan dan waktu tunggu yang
relatif lama. Kondisi tersebut menyebabkan biaya perawatan meningkat dan downtime
yang menghambat kelancaran operasional usaha; penerapan perawatan mandiri
memungkinkan operator melakukan pemeriksaan, pelumasan, penyetelan, serta
perbaikan dasar secara mandiri. Keterlibatan operator dalam kegiatan pemeliharaan
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 35 - 53 51
mampu mengurangi ketergantungan terhadap teknisi eksternal sehingga proses
penanganan kerusakan menjadi lebih cepat; Penerapan perawatan mandiri terbukti
meningkatkan efisiensi biaya dan waktu operasional. Total biaya perawatan menurun
dari Rp1.932.000 menjadi Rp999.000 atau terjadi penghematan sebesar Rp933.000
(48,29%). Selain itu, total downtime berkurang dari 18 jam 15 menit menjadi 5 jam 40
menit atau menurun sebesar 68,95%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan
Autonomous Maintenance dengan pendekatan Lean Production mampu meningkatkan
efisiensi operasional pada Usaha Penggilingan Padi Sabar Sakdremo.
Berdasarkan hasil penelitian, beberapa saran yang dapat diberikan adalah Usaha
Penggilingan Padi Sabar Sakdremo perlu mempertahankan penerapan perawatan
mandiri melalui pemeriksaan, pelumasan, dan perawatan rutin agar kondisi mesin tetap
optimal serta dapat meminimalkan potensi kerusakan; Operator perlu terus
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengenai perawatan mesin diesel
sehingga mampu menangani kerusakan ringan secara mandiri dan mendukung
keberlangsungan operasional usaha; Penelitian selanjutnya diharapkan dapat
mengembangkan kajian mengenai penerapan Autonomous Maintenance pada objek
penelitian yang lebih luas atau menggunakan indikator kinerja pemeliharaan lainnya
sehingga diperoleh hasil yang lebih komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA
Aeddula, O., Frank, M., Ruvald, R., Askling, C. J., Wall, J., & Larsson, T. (2024). AI-Driven
Predictive Maintenance for Autonomous Vehicles for Product-Service System
Development. Procedia CIRP, 128, 8489.
https://doi.org/10.1016/j.procir.2024.06.008
Asio, J. M. R. (2026). AI anxiety , AI self-competence , AI literacy , and AI self-efficacy among
nursing students: A parallel mediation analysis. 13(1), 110.
Bezerra, M., Kaline, A., Ribeiro, C., Tayn, P., Rosalia, C., Medeiros, P. De, Xavier, L.,
Menezes, B. De, Wanderley, Y., Srinivasan, M., & Porto, F. (2026). 3D-printed versus
conventionally fabricated complete dentures: Time-efficiency and cost-effectiveness
analysis. 175(July).
Cannas, V. G., Pozzi, R., Saporiti, N., & Urbinati, A. (2025). Unveiling the interaction
among circular economy, industry 4.0, and lean production: A multiple case study
analysis and an empirically based framework. International Journal of Production
Economics, 282(January). https://doi.org/10.1016/j.ijpe.2025.109537
Crespo rquez, A., & Gómez Fernández, J. F. (2026). Agentic AI for autonomous
preventive maintenance policy governance: a multi-agent framework for dynamic
52 Optimalisasi Perawatan Mesin untuk Meningkatkan …. (Prayogo Widagdo, Reza Widhar Pahlevi)
industrial environments. Expert Systems with Applications, 314(December 2025).
https://doi.org/10.1016/j.eswa.2026.131767
Daniels, K. N. (2026). AI investment , cost efficiency , and the three-speed banking architecture:
CDFI credit unions , non-CDFI credit unions , and community banks. 2(June).
Guanghua, L., Jiao, D., AlKassem, A., Ying, D., Arshad, R., Ni, J., Liu, Z., & Shah, S. H. H.
(2026). Autonomous UAV Swarm Maintenance for Dust and Hotspot Control in
Photovoltaic Farms. Fluid Dynamics and Materials Processing, 22(4), 125.
https://doi.org/10.32604/FDMP.2026.077648
Guedes, M. J. C., do Rego Ferreira Lima, M., Bendoly, E., Patel, P., & Bachrach, D. (2026).
Enabling empowerment over exploitative specialization: The role of total
productive maintenance in precarious work contexts. International Journal of
Production Economics, 301(June). https://doi.org/10.1016/j.ijpe.2026.110150
Hidayat, H., Nordin, N. M., Anwar, M., & Saputra, H. K. (2025). How Students Problem-
Solving Abilities Influence Their Digital Competence Skill in the Use of Problem-Based
Learning Application. 14(2), 14941507. https://doi.org/10.18421/TEM142
Hos, T., Cohen, O., Koukouliev, V., Bloch, G., Sror, G., Vidruk-Nehemya, R., Landau, M.
V., & Herskowitz, M. (2026). High-performance process for production of
sustainable aviation fuel from lean-hydrogen feedstock: an integrated case study.
Fuel, 418(January), 1215. https://doi.org/10.1016/j.fuel.2026.138747
Kapelko, M., Sotiros, D., & Klaudiusz, S. (2026). A hybrid cost efficiency model under fixed
and non-fixed prices: A case study on the Polish justice courts
. 144(July).
Kitada, H., Kitada, T., & Guenther, T. (2026). The relationship between waste intensity
and corporate cost behavior: Implications for the circular economy and resource
efficiency. Journal of Cleaner Production, 574(April).
https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2026.149056
Lam, B. Q., Tran, H. Y., Nguyen, K. A., Nguyen, K. T., & Minh, P. (2025). Digital competence
and digital entrepreneurial intention: A social cognitive approach Digital competence and
digital entrepreneurial intention: A social cognitive approach.
Li, W., Chen, X., Sun, J., Yang, Y., & Xie, M. (2025). Improved DDQN-Based Autonomous
Cooperative Control for UAV Formation Maintenance. IFAC-PapersOnLine, 59(22),
501506. https://doi.org/10.1016/j.ifacol.2025.11.683
Panigrahi, S. S., & Singh, C. B. (2026). Comparison on energy efficiency, carbon emissions,
and cost implications of cross-flow, mixed-flow, and double-flow grain dryers in
evaluating process sustainability. Cleaner Engineering and Technology, 34(July).
https://doi.org/10.1016/j.clet.2026.101289
Rajab, A. M., & Wang, B. (2024). Autonomous and reliable fingerprint map maintenance
for indoor positioning system. Computer Networks, 251(November 2023).
https://doi.org/10.1016/j.comnet.2024.110626
Sitinamaluwa Guruge, L. G., Disaratna, V., Mannapperuma, M. M. N., & Perera, B. A. K.
S. (2026). Adaptability of UAVs to improve the accuracy and efficiency of cost
management practices in road construction projects in Sri Lanka. Engineering,
Journal of Economics, Business, Accounting and Management (JEBAM)
Volume 4 No. 1 April 2026, Page 35 - 53 53
Construction and Architectural Management. https://doi.org/10.1108/ECAM-02-
2025-0210
Wang, T., Huang, Q., Liu, A., Qin, G., Zhang, J., Yang, Y., & Cheng, Y. (2026). Dual-
resolution next-best-view planning for manipulator-based autonomous mapping in
fusion reactor maintenance. Fusion Engineering and Design, 229(May).
https://doi.org/10.1016/j.fusengdes.2026.115840
Wänström, C., Medbo, L., Hallin, M., & Kusén, R. (2026). How a lean learning system can
improve operators’ work performance and well-being in a production setting.
International Journal of Quality and Reliability Management, 43(6), 15691592.
https://doi.org/10.1108/IJQRM-05-2024-0165
Xue, X., Hu, N., Qiu, F., & Li, G. (2025). Chief operating officers’ long-term orientation
and corporate lean production. Journal of Business Research, 191(September 2023).
https://doi.org/10.1016/j.jbusres.2025.115247
Yang, Y., Yee, R. W. Y., Lee, P. K. C., & han Zhu, J. (2026). When digital technologies meet
lean production: A socio-technical system perspective for operational efficiency and
innovativeness. Information and Management, 63(1).
https://doi.org/10.1016/j.im.2025.104238
Zhang, C., Liu, C., Mao, H., Tian, G., Jiang, Z., Cai, W., & Wang, W. (2024). Integration of
lean production and low-carbon optimization in remanufacturing assembly.
Advanced Engineering Informatics, 62(December 2023).
https://doi.org/10.1016/j.aei.2024.102789
Zhao, M., Tang, Z., Zhou, M., Zhang, X., Wang, X., & Gong, X. (2026). Online monitoring
of Chinese herbal medicine production process toward lean six sigma: multimodal
data fusion based on transformer architecture. Spectrochimica Acta - Part A: Molecular
and Biomolecular Spectroscopy, 351(December 2025).
https://doi.org/10.1016/j.saa.2026.127507