JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 2, No. 1, Mei 2024, page: 31-38
E-ISSN: 3031-2957
31
Misbahul Afrisyah et.al (Representasi sensualitas simbolis….)
Representasi sensualitas simbolis pada iklan alat
kontrasepsi (Analisis Semiotika Roland Barthes)
Misbahul Afrisyah
a,1
, Bima Kurniawan
b,2
a, b
Universitas Trunojoyo Madura
*
Email Corresponding: 180531100117@student.trunojoyo.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 11 April 2024
Direvisi: 14 Mei 2024
Disetujui: 9 Juni 2024
Tersedia Daring: 17 Juli 2024
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi sensualitas
simbolis dalam iklan alat kontrasepsi, khususnya iklan Kondom Sutra
versi "Sutra Gerigi Lebih Berasa #MantapMantapMakinMesra", melalui
analisis semiotika Roland Barthes. Metode ini dipilih untuk
mengungkap makna tersembunyi dalam simbol-simbol visual dan teks
iklan dengan menggunakan konsep-konsep seperti denotasi, konotasi,
dan mitos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iklan tersebut
memposisikan perempuan sebagai objek subordinat dengan
menampilkan bagian-bagian tubuh yang dianggap sensitif dan
menggunakan gestur sensual untuk menarik minat penonton.
Pembahasan mengungkap bahwa representasi ini memperkuat
stereotip bahwa perempuan hanya berfungsi sebagai pemuas nafsu
laki-laki, serta mengeksploitasi kecantikan dan bentuk tubuh
perempuan untuk tujuan komersial. Kesimpulan dari penelitian ini
adalah bahwa iklan alat kontrasepsi tersebut memperkuat stigma
negatif terhadap perempuan dan menunjukkan bahwa kecantikan dan
daya tarik seksual mereka masih dieksploitasi dalam periklanan
modern.
Kata Kunci:
Representasi sensualitas
Analisis semiotika
Iklan alat kontrasepsi
ABSTRACT
Keywords:
Sensuality representation
Semiotic analysis
Contraceptive advertisement
This study aims to examine the symbolic representation of sensuality in
contraceptive advertisements, specifically the "Sutra Gerigi Lebih Berasa
#MantapMantapMakinMesra" version of Sutra Condom ads, through
Roland Barthes' semiotic analysis. This method is chosen to reveal hidden
meanings in the visual symbols and text of the advertisement using
concepts such as denotation, connotation, and myth. The research
findings indicate that the advertisement positions women as subordinate
objects by highlighting sensitive body parts and employing sensual
gestures to attract viewers' interest. The discussion reveals that this
representation reinforces stereotypes that women merely serve to satisfy
men's desires and exploits women's beauty and body shapes for
commercial purposes. The conclusion of this study is that such
contraceptive advertisements strengthen negative stigmas against
women and demonstrate that their beauty and sexual appeal continue to
be exploited in modern advertising.
©2024, Authors Misbahul Afrisyah, Bima Kurniawan
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Periklanan adalah medium bagi pelaku bisnis untuk melakukan kegiatan promosi yang
bertujuan untuk mempersuasi target pasar dengan melakukan tindakan tertentu seperti sadar
terhadap suatu hal, membeli produk, menggunakan layanan atau jasa dan lain sebagainya.
Periklanan juga merupakan praktik komunikasi, dimana pada dasarnya memperlibatkan
penyampaian pesan yang mencakup hal-hal dalam suatu produk termasuk komoditas dan
layanan. Iklan biasanya disalurkan melalui media massa, baik cetak maupun elektronik dengan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 2, No. 1, Mei 2024, page: 31-38
E-ISSN: 3031-2957
32
Misbahul Afrisyah et.al (Representasi sensualitas simbolis….)
tujuan mencakup khalayak yang besar. Hal tersebut terjadi karena iklan ditransmisikan secara
persuasif dan berusaha untuk dapat mempengaruhi khalayak (Sudiana, 1986). Menurut
Johnson (2007) dalam (Siswanti, dkk, 2022) Periklanan juga dapat dikatakan sebagai bentuk
komunikasi impersonal, maksudnya adalah periklanan dideskripsikan sebagai komunikasi
komersial dan imperosnal mengenai bisnis dan produk-produk yang didistribusikan ke
khalayak yang menjadi sasaran melalui media massa seperti halnya televisi, radio, majalah,
surat kabar, surat langsung, reklame ataupun iklan yang dipasang pada angkutan umum.
Saat ini dalam periklanan kerap kali menggunakan perempuan sebagai objek yang mampu
menimbulkan daya tarik tersendiri bagi penontonnya yang menerima bentuk pesan sehingga
iklan tersebut dapat memperoleh banyak perhatian. Alhasil keberadaan perempuan pada saat
ini kerap kali direpresentasikan serta dihubungkan dengan stigma bahwasanya perempuan
hanya dapat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik. Stigma tersebut sangat jelas terarah
pada hal-hal yang ekuivalen dengan karakteristik perempuan yang dapat harus melaksanakan
fungsinya seperti di dalam rumah tangga yang dapat dikatakan tidak memiliki kesempatan
serta hak yang sama dengan laki-laki di ruang publik. Bentuk pemberitaan yang tidak ramah
terjadi juga dalam ranah kecantikan serta daya tarik akan hal-hal yang berbau seks, dimana
perempuan kerap kali dikaitkan pada stereotip bahwa kecantikan dan daya tarik terhadap seks
yang dihasilkan dari tubuh wanita dapat dijadikan komoditas yang menarik jika disuguhkan di
media massa khususnya pada tayangan iklan (Irianti, dkk, 2019). Hingga saat ini pun, pada
umumnya unsur kecantikan dan daya tarik seks oleh perempuan masih dikaitkan dengan
perilaku pornografi dan pornoaksi.
Daya tarik dengan menampilkan unsur-unsur sensualitas tentu dapat memantik penonton
untuk berabstraksi terhadap representasi yang ditampilkan seperti lekukan tubuh, ekrepesi
sensual perempuan serta bagaimana model dalam iklan tersebut mengenakan pakaian.
Perempuan memiliki kecenderungan yang melekat dengan stereotip-stereotip atas sesuatu
yang dimilikinya, sehingga dapat berpotensi untuk merendahkan perempuan di hadapan laki-
laki dan sebagai objek komoditas yang cenderung dieksploitasi atas potensi fisiknya
(Widyatama, 2006). Seperti halnya pada iklan alat kontrasepsi yang kerap kali menggunakan
model perempuan sebagai representasi simbolik atas kegunaan dan fungsi dari alat tersebut.
Akan tetapi, visualisasi dalam iklan yang ditayangkan tersebut tidak memiliki keterkaitan
dengan produk yang ditawarkan melainkan hanya sajian pesan-pesan dalam bentuk simbolik.
Cerita dalam iklan yang tidak memiliki keterkaitan dengan produk tersebut kerap kali
mengundang banyak pemahaman lain dari penontonnya sehingga pesan yang disampaikan
dinilai tidak dapat menciptakan kesadaran produk (product awareness).
Penempatan perempuan dalam iklan tersebut kerap kali menimbulkan tujuan yang berbeda
dari iklan yang disuguhkan. Banyak iklan yang menjadikan kaum perempuan seangai entitas
pemanis atau hanya sekadar alat bantu untuk melancarkan promosi bagi produk untuk
mendapatan kekuatan pada produk, sementara hal tersebut justru semakin terkesan untuk
memarjinalkan posisi perempuan (Gora, 2016). Ketika perempuan digunakan sebagai simbol
dalam seni-seni komersial, maka khalayak dapat terpukau terhadap perempuan menjadi sangat
diskriminatif, tendensius dan bahkan menjadi subordinasi dari representasi simbol-simbol
kekuatan laki-laki serta bahkan terkadang menempatkan perempuan menjadi simbol-simbol
kelas sosial dan kehadirannya dalam kelas tersebut hanya karena kredibilitas yang dibutuhkan
oleh laki-laki (Bungin, 2003).
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 2, No. 1, Mei 2024, page: 31-38
E-ISSN: 3031-2957
33
Misbahul Afrisyah et.al (Representasi sensualitas simbolis….)
Gambar 1.1 Potongan Adegan Iklan Kondom Sutra Detik 0.05 Versi “Sutra Gerigi Lebih
Berasa #MantapMantapMakinMesra”
(Sumber: Official Youtube Kondom Sutra Indonesia, https://www.youtube.com/watch?v=uMOQhzKnIZw)
Salah satu iklan yang menggunakan perempuan sebagai model untuk menyampaikan
pesan kepada penontonnya terkait dengan fungsi produk adalah iklan alat kontrasepsi seperti
gambar diatas yaitu iklan Kondom Sutra yang diunggah pada media sosial Youtube. Iklan
tersebut diunggah pada tanggal 8 Agustus 2022 dengan durasi 15 detik. Saat ini, iklan tersebut
telah ditonton sebanyak 1.4 juta kali dan mendapatkan 91 likes. Sekilas adegan dalam iklan
tersebut menampilkan seorang perempuan yang sedang kesulitan saat mencuci baju lalu
terdapat seorang laki-laki yang memberinya alat bantu cuci pakaian dengan tekstur gerigi.
Sesaat kemudian kegiatan perempuan tersebut menjadi terbantu lalu laki-laki tadi bergegas
pergi ke toko untuk membeli alat kontrasepsi (kondom sutra) dan menunjukkannya kepada
pemeran perempuan. Adegan berlanjut pada laki-laki menggendong perempuan tadi masuk ke
dalam sebuah ruangan yang terdapat tulisan “jangan diganggu”. Di akhir adegan iklan tersebut
ditutup dengan tagline “Sutra Gerigi Lebih Berasa #MantapMantapMakinMesra” yang
diucapkan oleh perempuan.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, peneliti telah
merumuskan rumusan masalah yaitu bagaimana representasi sensualitas tubuh perempuan
yang ditampilkan pada iklan Kondom Sutra Versi “Sutra Gerigi Lebih Berasa
#MantapMantapMakinMesra” dengan melakukan analasisi semiotika Roland Barthes yaitu
menggunakan pemaknaan denotasi, makna konotasi dan mitos.
Landasan Teoretis
Iklan/ Periklanan
Iklan atau advertising dapat dijelaskan sebagai Any paid form of nonpersonal
communication about and organization, product, service or idea by an identified sponsor”.
(Setiap bentuk komunikasi non personal tentang suatu organisasi, produk, servis atau ide yang
dibayar oleh suatu sponsor yang diketahui) (Morrisan, 2007). Iklan merupakan suatu metode
untuk menyampaikan ide-ide ataupun gagasan yang menyuguhkan pada khalayak mengenai
suatu makna-makna secara simbolik melalui visualisasi yang ditayangkan dalam suatu iklan
(Vera, 2014). Iklan yang ditampilkan secara visual dapat dengan mudah memberikan makna
dan kesan kepada para penontonnya. Kata-kata yang ditujukan melalui pesan dalam iklan
tersebut juga dapat dengan mudah mempengaruhi pola pikir calon konsumen untuk melalukan
apa yang disampaikan pada iklan atau dengan kata lain dapat menimbulka minat dan
kebutuhan bagi calon konsumen sehingga tergerak untuk membeli dan mencoba produk
ataupun jasa yang ditawarkan.
Representasi Sensualitas Tubuh Perempuan dalam Iklan
Ekspolitasi perempuan dalam visualisasi media massa tidak hanya kerelaan perempuan
akan tetapi juga terdapat kebutuhan kelas sosial itu sendiri sehingga kehadiran perempuan
dalam kelas sosial itu masih menjadi bagian dari refleksi realitas sosial masyrakatnya, bahwa
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 2, No. 1, Mei 2024, page: 31-38
E-ISSN: 3031-2957
34
Misbahul Afrisyah et.al (Representasi sensualitas simbolis….)
perempuan kerap menjadi subordinat kebudayaan laki- laki (Bungin, 2006). Penggunaan
perempuan dalam iklan semakin marak dengan disusulnya citra negatif dalam bentuk
eksploitatif. Perempuan selalu memiliki potensi untuk dimanfaatkan karena tubuh perempuan
disinyalir memiliki nilai ekonomis yang tinggi dalam dunia industri media. Eksploitasi dalam
sudut pandang Glosarium seks dan gender memiliki arti sebagai pemanfaatan tubuh seseorang
(perempuan) untuk kemaslahatan suatu hal (misal; bisnis), penindasan perempuan yang malah
dilancarkan dengan berbagai cara dan alasan karena menguntungkan (Sugiharti, 2007). Dalam
masyarakat patriarchal, seks adalah bagian yang dominan pada hubungan laki-laki dan
perempuan serta menempatkan perempuai sebagai subordinasi (Bungin, 2006).
Semiotika Roland Barthes
Semiotika adalah suatu metode analisis yang dipergunakan untuk mengkai sebuah tanda
dan makna (Sobur, 2006). Sebuah tanda merujuk pada suatu selain dirinya sendiri yang
merepresentasikan barang atau suatu hal yang lain dan suatu makna adalah penghubung antara
sebuah objek dengan sebuah tanda (Hartoko dan Rahmanto, 1986). Kata “semiotika” berasal
dari bahasa Yunani “semeion” yang berarti “tanda” atau “seme” yang berarti “penafsir tanda”
(Cobley dan Jans, 1999). Ferdinand de Sauure beranggapan bahwa tanda merupakan
pertemuan antara bentuk dan makna. Ia juga menggunakan istilah significant (penanda) bagi
sisi bentuk suatu tanda dan signifier (pertanda) bagi sisi maknanya (Hoed, 1994). Roland
Barthes adalah tokoh yang melanjutkan pemikiran Saussure. Saussure meletakkan perhatian
dan ketertarikannya pada bagaimana cara kompleks pebentukan kalimat dan cara bentuk-
bentuk kalimat dalam memilih makna, akan tetapi ia krang tertarik bahwa pada faktanya
kalimat yang sama atau pesan yang disampaikan bisa saja memiliki makna yang berbeda pada
orang yang berada pada situasi yang berbeda pula. Analisis semiotika yang diciptakan oleh
Roland Barthes ini lebih dominan pada pemaknaan denotasi, pemaknaan konotasi dan mitos.
Makna denotasi merupakan makna yang sesungguhnya. Makna Konotasi merupakan makna
kiasan dari suatu makna. Sementara itu mitos adalah suatu bentuk pesan atau penuturan dari
masyarakat pada masanya yang harus diyakini kebenarannya tanpa harus dapat dibuktikan.
2. Metode
Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah analisis semiotika Roland
Barthes untuk mengkaji representasi sensualitas simbolis dalam iklan alat kontrasepsi.
Metode ini dipilih karena mampu mengungkap makna-makna tersembunyi yang terkandung
dalam simbol-simbol visual dan teks iklan. Penelitian ini akan melalui beberapa tahapan,
dimulai dari pengumpulan data berupa iklan-iklan alat kontrasepsi yang dipublikasikan di
berbagai media. Selanjutnya, iklan-iklan tersebut akan dianalisis menggunakan konsep-
konsep kunci dari semiotika Barthes, seperti denotasi, konotasi, dan mitos, untuk
mengidentifikasi dan menginterpretasikan simbol-simbol sensualitas yang digunakan.
Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menggali bagaimana iklan-iklan tersebut
membangun makna sensualitas dan bagaimana makna tersebut dikomunikasikan kepada
khalayak. Hasil dari analisis ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih dalam
tentang strategi komunikasi iklan alat kontrasepsi serta implikasinya terhadap persepsi dan
sikap masyarakat terhadap penggunaan alat kontrasepsi.
3. Hasil dan Pembahasan
Iklan Kondom Sutra Versi “Sutra Gerigi Lebih Berasa #MantapMantapMakinMesra”
Deskripsi iklan tersebut sedara umum divisualisasikan dengan seorang perempuan yang
menggunakan pakaian berwarna biru dengan corak polkadot sedang mencuci pakaian
menggunakan tangannya, raut wajah perempuan tersebut seperti kesusahan karena mencuci
menggunakan tangan lalu perempuan itu berkata “Gak mantap nih bang!” dengan nada lesu.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 2, No. 1, Mei 2024, page: 31-38
E-ISSN: 3031-2957
35
Misbahul Afrisyah et.al (Representasi sensualitas simbolis….)
Lalu tampilan berganti kepada seorang laki-laki yang memberikan alat bantu cuci dengan
tekstur gerigi kepada perempuan tadi dengan mengatakan Nih!”. Setelah pemeran perempuan
menerima alat bantu cuci yang diberi oleh pemeran laki-laki, kemudian perempuan tadi
mengatakan “Gerigi ah, lebih berasa” dengan nada menggoda beserta gestur tangan yang
bergerak dari leher hingga dada. Lalu tampilan berganti lagi kepada pemeran laki-laki yang
termenung heran dan tiba-tiba wajah laki- laki tersebut tersemprot air.
Kemudian terdapat adegan jika pemeran laki-laki tadi berlari dengan kencang ke dalam
toko kelontong dan menabrak pemilik toko hingga jatuh. Pada adegan ini, tertera tulisan pada
atap toko “Sutra tersedia disini” serta Voice Over (V.O) seorang laki-laki yang mengatakan
“Mau yang lebih berasa?”. Adegan berlanjut pada pemeran laki-laki yang menghampiri
perempuan yang selesai mencuci pakaian tadi dengan membawa Kondom Sutra Gerigi dan
mengatakan “Pakai Sutra Gerigi” (sebagai lanjutan dari v.o tadi) lalu kondom tersebut juga
disentuh oleh pemeran peremuan. Kemudian, adegan berlanjut pada pemeran laki-laki
menggendong dan membawa pemeran perempuan yang sambil lalu mendesah “ah-ah” ke
dalam kamar yang tertera tulisan “Jangan diganggu”. Kemudian iklan ditutup dengan kredit
gambar Kondom Sutra Gerigi yang ditambah tulisan “Sutra Gerigi Lebih Berasa
#MantapMantapMakinMesra” serta juga terdapat v.o perempuan yang mengatakan “Sutra
Gerigi Lebih Berasa” dengan nada yang mendesah.
Analisis Semiotika, Visualisasi dan Deskripsi Iklan Kondom Sutra Versi “Sutra Gerigi
Lebih Berasa #Mantapmantapmakinmesra”
a. Scene 1 (Detik 00.00 00.07)
Makna Denotasi, seorang perempuan yang sedang mencuci pakaian dengan raut
wajah sedang kesusahan. Kemudian seorang laki-laki yang berada disebelahnya sedang
terlihat memperbaiki kran air, memberikan alat bantu cuci dengan tekstur gerigi kepada
perempuan yang sedang mencuci itu. Kemudian perempuan tersebut terlihat sangat
terbantu berkat alat bantu cuci yang diberikan oleh seorang laki-laki tadi. Lalu terlihat
wajah seorang laki-laki tadi yang sedang takjub, kemudian tersiram air yang tidak diketahui
darimana asalnya.
Makna Konotasi, seorang perempuan tersebut memanglah sedang mencuci pakaian
akan tetapi gestur tubuh yang ditunjukkan terlihat sedang menggoda laki-laki yang
disebelahnya. Alat bantu cuci dengan tekstur gerigi yang diberikan kepada seorang
perempuan yang sedang mencuci tadi merupakan kiasan dari suatu makna (terselubung),
artinya tekstur gerigi alat bantu cuci tersebut adalah representasi dari Kondom Sutra yang
memiliki tekstur gerigi. Setelah itu, seorang perempuan tadi merasa begitu puas sembari
menyentuh tekstur gerigi itu diiringi dengan gestur tangan yang menyentuh leher hingga
dada. Kemudian laki-laki tadi terlihat mengerti bahwa si perempuan sudah tidak tahan
untuk melakukan hubungan intim yang disimbolkan dengan semprotan air kepada wajah
si laki-laki.
Mitos, pemeran perempuan pada cuplikan iklan Kondom Sutra tersebut
divisualisasikan dengan seksi dan sensual diiringi gerakan-gerakan seperti seorang
penggoda. Visualisasi pemeran perempuan tersebut yang sedang mencuci menggunakan
pakaian yang terlihat seksi hingga memberikan kesan bahwa perempuan hanya dapat
diandalkan bentuk tubuh dan kecantikannya sebagai daya tarik sensual agar dapat terlihat
menarik.
b. Scene 2 (Detik 00.07 00.08)
Makna Denotasi, seorang laki-laki tadi berlari ke toko kelontong lalu menabrak
pemiliki toko hingga terjatuh. Pada bagian atas toko kelontong tersebut terdapat tulisan
“Sutra Tersedia Di Sini”, Etalase toko yang dipenuhi dengan Kondom Sutra dan tembok
toko yang terdapat poster perempuan berbusana merah.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 2, No. 1, Mei 2024, page: 31-38
E-ISSN: 3031-2957
36
Misbahul Afrisyah et.al (Representasi sensualitas simbolis….)
Makna Konotasi, seorang laki-laki yang berlari ke toko kelontong lalu menabrak
pemili toko hingga terjatuh seperti merepresentasikan bahwa laki-laki tersebut sudah tidak
tahan lagi ingin berhubungan intim dengan perempuan yang menggodanya tadi. Dirinya
bergegas ke toko kelontong untuk membeli Kondom Sutra. Dengan visualisasi toko
kelontong dan tulisan “Sutra Tersedia Di Sini” merepresentasikan bahwa Kondom Sutra
tersedia serta mudah didapatkan di toko terdekat penontonnya.
Mitos, seorang laki-laki terlihat tidak memiliki kesabaran hingga tidak
memperdulikan keselamatan orang lain hanya karena dirinya hendak memuaskan nafsu
dengan perempuan yang menggodanya.
c. Scene 3 (Detik 00.09 00.11)
Makna Denotasi, pada adegan ini terlihat seorang laki-laki yang telah membeli
Kondom Sutra Gerigi dari toko kelontong lalu menghampiri perempuan yang selesai
mencucui pakaian. Laki-laki tersebut memberikan Kondom Sutra Gerigi yang dibawanya
kepada si perempuan, terlihat jelas bahwa laki-laki memegang sudut kiri bawah kemasan
Kondom Sutra Gerigi dan si perempuan memegang sudut kanan bawah kemasan Kondom
Sutra Gerigi (Sudut pandang penonton).
Makna Konotasi, laki-laki tersebut terlihat mengajak perempuan berhubungan intim
dengan menggunakan Kondom Sutra Gerigi yang telah ia beli di toko kelontong. Dengan
raut wajah si laki-laki yang menunjukkan jika dirinya ingin berhubungan intim lalu
dibalas dengan raut wajah perempuan yang seolah-olah mengiyakan ajakan tersebut.
Adegan pada scene ini fokus untuk menampilkan seorang laki-laki datang kepada seorang
perempuan untuk memberikan Kondom Sutra Gerigi yang telah dibelinya, letak tangan
kedua pemeran tersebut ketika memegang Kondom Sutra Gerigi terlihat seperti simbol
hati (love sign) atau making love.
Mitos, perempuan dalam agedan ini divisualisasikan seolah-olah perempuan adalah
entitas yang mudah untuk diajak berhubungan intim dengan laki-laki. Ekspresi wajah
yang ditampilkan, merepresentasikan bahwa perempuan tersebut adalah seorang penggoda
hingga membuat seorang laki-laki menjadi tertarik untuk mengajak berhubungan intim.
d. Scene 4 (Detik 00.11 00.12)
Makna Denotasi, terlihat seorang laki-laki yang terburu-buru membawa seorang
perempuan dengan menggendongnya masuk ke dalam sebuah ruangan. Hingga tirai
penutup ruangan tersebut terjatuh dan menutupi ruangan yang laki-laki dan perempuan
tersebut masuki. Serta terlihat juga pada tirai yang jatuh terdapat sebuah tulisan “Jangan
Ganggu”.
Makna Konotasi, seorang laki-laki masuk ke dalam kamar dengan menggendong
perempuan yang menerima ajakannya untuk berhubungan intim dengan terburu-buru.
Tirai yang tiba-tiba jatuh dengan sendirinya serta terdapat tulisan “Jangan Ganggu”
memiliki arti bahwa keduanya sedang melakukan hubungan intim.
Mitos, sebagai adegan visualisasi terakhir dari iklan Kondom Sutra Gerigi.
Perempuan ditampilkan sebagai sosok yang dengan pasrah ataupun terlihat suka rela
dibawa oleh laki-laki untuk berhubungan intim. Terlihat bahwa perempuan adalah sosok
yang lemah dengan visualisasi perempuan digendong laki-laki yang mengandung makna
lain bahwa perempuan merupakan sosok pemuas nafsu.
4. Kesimpulan
Iklan Kondom Sutra Versi “Sutra Gerigi Lebih Berasa #MantapMantapMakinMesra”
dikemas dengan menampilkan makna-makna kiasan pada setiap adegannya. Representasi
sensualitas tubuh perempuan dalam hal ini memposisikan perempuan sebagai objek atau
subordinat dengan memanfaatkan tampilan pada bagian-bagian tubuhnya yang dianggap
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 2, No. 1, Mei 2024, page: 31-38
E-ISSN: 3031-2957
37
Misbahul Afrisyah et.al (Representasi sensualitas simbolis….)
sensitif dan rahasia sekalipun tidak ditunjukkan dengan utuh (telanjang). Gestur-gestur yang
ditunjukkan secara sensual oleh perempuan, dapat menarik minat penonton untuk membeli
produk yang ditawarkan. Iklan ini juga semakin menguatkan stereotip dalam kehidupan sosial
bahwasanya perempuan hanya dapat menjadi sebagai pemuas nafsu laki-laki. Meskipun dapat
menunjukkan eksistensinya dalam ruang publik, perempuan hanya dapat mengandalkan
bentuk tubuhnya dan lekukan tubuhnya sebagai hal yang bernilai lebih agar mendapatkan
pusat perhatian. Adegan-adegan dari beberapa scene yang ditampilkan dalam iklan ini
merepresentasikan mengenai sensualitas tubuh perempuan yang terjadi, baik pada makna
denotasi, konotasi hingga mitosnya mendeskripsikan realitas bahwa kecantikan dan bentuk
tubuh perempuan hingga saat ini masih dieksploitasi untuk melancarkan bisnis kapitalis.
5. Daftar Pustaka
Bungin, Burhan. (2003). Pornomedia: Konstruksi Sosial Teknologi Telematika dan Perayaan
Seks di Media Massa. Bogor: Kencana.
Bungin, Burhan. (2006). Sosiologi Komunikasi. Jakarta: Kencana.
Glosarium seks dan gender. Yogyakarta: Carasvati Books.
Gora, Radita. (2016). Representasi Perempuan Dalam Iklan Televisi (Studi Analisis Semiotika
Iklan Beng-Beng Versi “Great Date”). Jurnal Semiotika. Vol. 10, No. 1.
Hapsah, M. (2013). Globalisasi Erotika Media: Studi Kritis Terhadap Etika Seksualitas Iklan
Televisi. Journal of Ethics and Character, 77.
Hidayati, W. (2021). Analisis Semiotika Roland Barthes Dalam Film Dua Garis Biru Karya
Sutradara Gina S. Noer. JPT: Jurnal Pendidikan Tematik, 2(1), 53-59.
Hoed, Benny H. (1994). Dampak Komunikasi Periklanan, Sebuah Ancangan dari Segi
Semiotika. Seni (Jurnal Pengetahuan dan Pencipta Seni). Yogyakarta: BPISI.
Huriani, Y. (2021). Pengetahuan fundamental tentang perempuan.
Irianti, dkk. (2019). Representasi Perempuan Dalam Perspektif Gender (Analisa Wacana Kritis
Van Dijk Pada Pemberitaan Kasus Hoks Ratna S, Paet Dalam Media Massa Republik dan
Kompas.com). Journal of Scientific Communication. Vol. 1, Issue 2.
Morrisan. (2007). Periklanan: Komunikasi Pemasaran Terpadu. Jakarta: Ramdiana Perkasa.
Official Youtube Kondom Sutra Indonesia. (8 Agustus 2022). Iklan Sutra Gerigi Terbaru
(15sec) Versi “Sutra Gerigi Lebih Berasa #Mantapmantapmakinmesra”.
https://www.youtube.com/watch?v=uMOQhzKnIZw. Diakses pada tanggal 12 Juli 2022,
14.27 WIB.
Piliang, Y. A. (2004). Semiotika teks: Sebuah pendekatan analisis teks. Mediator: Jurnal
Komunikasi, 5(2), 189-198.
Sartini, N. W. (2007). Tinjauan teoritik tentang semiotik. Masyarakat, Kebudayaan Dan
Politik, 20(1), 1-10.
Siswanti R, Sunarto & Yusriana A. (2022). Representasi Objektifikasi Seksualitas Wanita
Pada Iklan Kondom Sutra Versi “Mantap-Mantap Makin Mesara” Di ANTV Pada Pukul
02.00 WIB Malam. Semarang: Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro.
Sobur, Alex. (2006). Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik dan Analisis Framing. Bandung: Remaja Rosdakarya.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 2, No. 1, Mei 2024, page: 31-38
E-ISSN: 3031-2957
38
Misbahul Afrisyah et.al (Representasi sensualitas simbolis….)
Sudiana, Dendi. (1986). Komunikasi Periklanan Cetak. Bandung: Remadja Karya.
Vera, Nawiroh. (2014). Semiotika dalam Riset Komunikasi. Bogor: Penerbit Ghalia.
Wahyuningratna, R. N., & Saputra, W. T. (2018). Ragam Representasi Iklan Sensual di
Televisi (Kajian Semiotika Roland Barthes). DIALEKTIKA, 5(2).
Widyatama. (2006). Pengantar Periklanan. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.