JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 101-107
E-ISSN: 3031-2957
101
Nur Amalia Zahra et.al (Tantangan Pelestarian Budaya Lokal di Tengah....)
Tantangan Pelestarian Budaya Lokal di Tengah
Modernisasi: Studi Kasus pada Suku Muyu di Papua
Selatan
Nur Amalia Zahra
a,1
, Siti Mariyatul Koimah
b,2
, Fitrah Febri Salam
c,3
a,b,c
Universitas Pamulang, Jl. Raya Puspitek, Buaran, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310
1
araamalia21@gmail.com;
2
mariyatulkoimah@gmail.com;
3
fitrahfebrisalam96@gmail.com
*
Corresponding Author: araamalia21@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 21 Juni 2025
Direvisi: 14 Agustus 2025
Disetujui: 15 Oktober 2025
Tersedia Daring: 1 November 2025
Penelitian ini mengkaji tantangan pelestarian budaya Suku Muyu di
Papua Selatan dalam menghadapi modernisasi, dengan fokus pada
dinamika perubahan sosial-budaya dan strategi adaptasi masyarakat
adat. Permasalahan utama yang diteliti meliputi erosi nilai budaya,
transformasi sistem pengetahuan tradisional, dan ketegangan antara
kelembagaan adat dengan struktur pemerintahan modern. Tujuan
penelitian adalah untuk menganalisis pola perubahan budaya dan
mengidentifikasi model pelestarian yang adaptif melalui pendekatan
kualitatif dengan metode systematic literature review. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa Suku Muyu mempertahankan
ketahanan budaya melalui tiga mekanisme utama: (1) reintepretasi
nilai tradisional dalam konteks modern, (2) adaptasi kelembagaan
adat, dan (3) inovasi transmisi budaya antargenerasi. Tantangan
utama berasal dari pembangunan infrastruktur yang kurang sensitif
budaya dan minimnya partisipasi masyarakat dalam perencanaan
pembanguna. Penelitian menekankan perlunya pendekatan
pelestarian budaya berbasis hak masyarakat adat yang
mengintegrasikan kearifan lokal dengan pembangunan
berkelanjutan, serta pentingnya penguatan kapasitas kelembagaan
adat dalam tata kelola pembangunan. Temuan ini memberikan
kontribusi teoretis bagi studi antropologi pembangunan dan
implikasi praktis bagi perumusan kebijakan
budaya di wilayah adat.
Kata Kunci:
Budaya lokal
Modernisasi
Masyarakat adat
Pelestarian budaya
Suku muyu
ABSTRACT
Keywords:
Local culture
Modernization
Indigenous people
cultural preservation
Muyu Tribe
This study examines the challenges of cultural preservation faced by the
Muyu Tribe in South Papua amidst modernization, focusing on socio-
cultural dynamics and indigenous adaptation strategies. The research
addresses key issues including cultural value erosion, transformation of
traditional knowledge systems, and tensions between customary
institutions and modern governance structures. Employing a
qualitative approach with systematic literature review methodology,
Findings reveal that the Muyu Tribe maintains cultural resilience
through three primary mechanisms: (1) reinterpretation of traditional
values in modern contexts, (2) adaptation of customary institutions,
and (3) innovation in intergenerational cultural transmission. Major
challenges stem from culturally insensitive infrastructure development
and limited community participation in development planning. The
study emphasizes the need for rights-based cultural preservation
approaches that integrate local wisdom with sustainable development,
along with strengthening customary institutions' capacity in
development governance. These findings contribute theoretically to
development anthropology studies and offer practical implications for
cultural policy formulation in indigenous territories.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 101-107
E-ISSN: 3031-2957
102
Nur Amalia Zahra et.al (Tantangan Pelestarian Budaya Lokal di Tengah....)
©2025, Nur Amalia Zahra, Siti Mariyatul Koimah, Fitrah Febri Salam
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Keanekaragaman budaya Indonesia adalah kekayaan berharga yang berperan penting
dalam membentuk jati diri bangsa dan memperkuat persatuan nasional (Nufus et al., 2024).
Budaya daerah tidak sekadar menjadi simbol tradisi, tetapi juga mengandung nilai-nilai luhur
seperti kebersamaan, kearifan spiritual, dan keselarasan alam yang telah diwariskan secara
turun-temurun. Bagi masyarakat adat, budaya lokal berfungsi sebagai pedoman dalam menjaga
keseimbangan hubungan manusia dengan alam sekitarnya, sekaligus menjadi tatanan sosial yang
mengatur kehidupan bermasyarakat (Sahoo et al., 2022). Perubahan zaman yang dipengaruhi
oleh arus modernisasi dan globalisasi telah membawa dampak besar pada struktur sosial dan
budaya masyarakat. Kemajuan di berbagai bidang, seperti pembangunan infrastruktur, perluasan
akses pendidikan formal, dominasi media digital, dan penetrasi ekonomi pasar, secara perlahan
namun pasti mengikis keberadaan budaya lokal. Akibatnya, banyak tradisi dan kearifan lokal
yang perlahan berubah, tersisihkan, atau bahkan punah karena dianggap tidak lagi sesuai dengan
tuntutan kehidupan modern (Sari et al., 2022). Fenomena ini menjadi ancaman serius, terutama
bagi komunitas adat yang menggantungkan hidupnya pada pelestarian nilai-nilai budaya dan
sistem pengetahuan turun-temurun.
Modernisasi telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan masyarakat di
seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Gelombang perubahan yang dibawa oleh kemajuan
teknologi, pembangunan infrastruktur, serta penyebaran informasi global secara masif telah
mencapai berbagai pelosok Nusantara. Transformasi ini menciptakan pergeseran besar dalam
cara hidup masyarakat, termasuk dalam hal budaya, nilai, dan identitas local berbagai komunitas
adat kini menghadapi dilema antara mempertahankan warisan leluhur atau menyesuaikan diri
dengan arus perubahan yang terus bergerak cepat (Alam, 2025). Di Indonesia, masyarakat adat
memegang peran penting sebagai pelestari warisan budaya yang diturunkan dari generasi ke
generasi. Mereka mempertahankan tradisi, bahasa, nilai-nilai, serta kearifan lokal yang khas dan
memiliki hubungan erat dengan alam sekitar. Namun, derasnya arus modernisasi tanpa
memperhatikan kearifan budaya setempat dapat mengancam keberadaan mereka, menyebabkan
keterpinggiran, erosi identitas, bahkan kemungkinan punahnya budaya tersebut. Kelompok-
kelompok adat yang tinggal di wilayah terpencil sering kali tidak siap menghadapi perubahan di
berbagai aspek, seperti pendidikan, ekonomi, dan kehidupan sosial, yang terjadi di luar kendali
mereka.
Menurut (Cintya, 2023) Salah satu dampak serius dari modernisasi adalah menurunnya
ketertarikan generasi muda terhadap warisan budaya leluhur. Gaya hidup modern yang serba
cepat dan penetrasi konten digital hingga ke daerah-daerah terpencil membuat tradisi adat
dianggap ketinggalan zaman oleh sebagian anak muda. Kegiatan seperti mempelajari tarian
tradisional, mendengarkan dongeng daerah, atau menggunakan bahasa daerah semakin jarang
ditemui, tergerus oleh maraknya media sosial dan tren budaya global. Hal ini secara perlahan
mengikis hubungan generasi muda dengan akar budaya mereka sendiri. Salah satu komunitas
adat yang mengalami degradasi kultural akibat proses modernisasi adalah Suku Muyu yang
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 101-107
E-ISSN: 3031-2957
103
Nur Amalia Zahra et.al (Tantangan Pelestarian Budaya Lokal di Tengah....)
berdomisili di kawasan Papua Selatan, khususnya wilayah administratif Kabupaten Boven
Digoel dan daerah perbatasannya. Kelompok etnis ini memiliki sistem kebudayaan yang
kompleks, mencakup linguistik indigenous, struktur kekerabatan matrilineal, institusi hukum
adat, serta sistem kepercayaan animistik yang ditransmisikan secara oral melalui generasi
(Katong et al., 2023).
Beberapa faktor kunci turut memperparah laju pemudaran budaya Suku Muyu. Pendidikan
formal yang cenderung seragam dan terstandarisasi secara nasional telah mengurangi ruang
untuk pengajaran nilai-nilai lokal. Di saat yang sama, kebijakan pemerintah yang kurang
mendukung pelestarian budaya, ditambah dengan minimnya upaya pendokumentasian dan
pengakuan terhadap hak-hak budaya masyarakat adat, semakin memperlemah posisi tradisi
mereka (Akhmetova & Klimova, 2022). Selain itu, alih fungsi lahan dan berbagai proyek
pembangunan yang tidak mempertimbangkan kearifan lokal telah mengancam keberlanjutan
ruang hidup beserta simbol-simbol budaya yang menjadi tulang punggung identitas Suku Muyu
selama ini. Perkembangan teknologi digital menimbulkan masalah baru bagi masyarakat Muyu.
Kehadiran HP pintar, internet, dan TV membantu komunikasi dan akses informasi. Namun hal
ini membuat mereka lebih banyak mengonsumsi budaya luar yang tidak sesuai tradisi lokal.
Lagu daerah, permainan tradisional, dan upacara adat mulai terlupakan karena dianggap kuno
dan kurang menarik dibanding konten digital.
Dari segi ekonomi, terjadi perubahan besar dalam pola hidup masyarakat Muyu. Sistem
ekonomi subsisten yang bergantung pada hutan perlahan digantikan oleh ekonomi berbasis uang.
Kini banyak warga lebih memilih membeli kebutuhan di pasar daripada melakukan kegiatan
tradisional seperti meramu, berburu, atau bertani dengan cara leluhur (Roy & Mukhopadhyay,
2022). Padahal, aktivitas-aktivitas ini tidak sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga
mencerminkan kearifan lokal dalam mengelola lingkungan secara lestari. Hilangnya praktik
tradisional ini berarti hilang pula pengetahuan turun-temurun dan nilai-nilai budaya yang
terkandung di dalamnya. Ancaman terhadap eksistensi budaya Muyu semakin nyata dengan
pembangunan yang mengabaikan hak atas wilayah adat. Bagi masyarakat Muyu, hutan dan tanah
bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan inti dari identitas kultural mereka. Ekspansi
industri ekstraktif, alih fungsi lahan, dan berbagai proyek pembangunan dalam beberapa tahun
terakhir justru berjalan tanpa melibatkan partisipasi masyarakat setempat. Kerusakan ekologis
yang terjadi tidak hanya mengancam ketahanan pangan, tetapi lebih dalam lagi turut
meruntuhkan sistem nilai tradisional, tempat-tempat sakral hilang, ritual budaya kehilangan
konteks ruang, dan pengetahuan ekologis turun-temurun perlahan punah (Encep et al., 2022).
Kondisi ini menunjukkan betapa pelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari perlindungan
terhadap ruang hidup masyarakat adat.
Arus urbanisasi yang semakin deras di kalangan generasi muda Muyu untuk mengejar
pendidikan dan pekerjaan di perkotaan turut mempercepat erosi budaya. Di perantauan, mereka
dipaksa beradaptasi dengan lingkungan sosio-kultural yang asing, seringkali harus
meninggalkan nilai-nilai leluhur. Proses migrasi ini menciptakan jurang generasi (generation
gap) dalam transmisi budaya, di mana pengetahuan tradisional yang bersifat lisan dan
kontekstual kesulitan menemukan medium pewarisannya. Tanpa interaksi rutin dengan tetua adat
dan lingkungan alam asli yang menjadi ruang pembelajaran budaya, generasi muda kehilangan
konteks esensial untuk memahami dan mempraktikkan tradisi mereka (Ericson, 2017).
Fenomena ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya membutuhkan dokumentasi,
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 101-107
E-ISSN: 3031-2957
104
Nur Amalia Zahra et.al (Tantangan Pelestarian Budaya Lokal di Tengah....)
tetapi juga pemeliharaan ekosistem sosial dan ruang fisik tempat budaya itu hidup dan
berkembang. Menyadari betapa krusialnya masalah ini, penelitian ini berupaya memahami
berbagai tantangan utama yang dihadapi Suku Muyu dalam mempertahankan budaya mereka di
era modern. Kami menggunakan pendekatan studi pustaka dengan menelaah berbagai sumber,
termasuk penelitian sebelumnya, dokumen pemerintah, dan karya akademis terkait. Harapannya,
temuan dari kajian ini tidak hanya bermanfaat secara akademis, tetapi juga bisa menjadi acuan
praktis dalam menyusun strategi pelestarian budaya yang melibatkan masyarakat setempat dan
sesuai dengan kondisi lokal, khususnya untuk daerah-daerah rawan seperti Papua Selatan
2. Metode
Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran ekstensif terhadap berbagai sumber
akademik dan dokumen kebijakan yang relevan. Pencarian literatur dilakukan secara sistematis
melalui beberapa platform database terkemuka, termasuk Google Scholar untuk cakupan
publikasi internasional, Garuda Ristek-BRIN untuk literatur lokal Indonesia, serta ScienceDirect
untuk akses terhadap jurnal-jurnal berkualitas tinggi. Selain itu, penelusuran juga mencakup
repositori institusional beberapa universitas terkemuka dan dokumen resmi dari lembaga-
lembaga pemerintah terkait. Strategi pencarian menggunakan kombinasi kata kunci yang
mencakup berbagai aspek penelitian, antara lain: "pelestarian budaya lokal", "transformasi sosial
Suku Muyu", "perubahan budaya di Papua", "adat dan modernisasi", serta "masyarakat adat dan
pembangunan". Untuk memastikan relevansi temporal, seleksi literatur dibatasi pada publikasi
dalam rentang waktu 2015-2025, dengan pengecualian beberapa karya seminal yang dianggap
sangat relevan meskipun diterbitkan sebelum tahun 2015. Kriteria inklusi mencakup jurnal
penelitian peer-reviewed, buku akademis, laporan penelitian, tesis/disertasi, dan dokumen
kebijakan resmi yang secara khusus membahas isu masyarakat adat di kawasan timur Indonesia,
dengan fokus utama pada Suku Muyu.
Analisis data dilakukan melalui pendekatan tematik yang ketat dengan beberapa tahapan
kerja. Tahap pertama melibatkan identifikasi pola-pola utama yang muncul dari literatur,
termasuk perubahan sistem nilai budaya, transformasi mata pencaharian tradisional, ancaman
terhadap pengetahuan ekologi tradisional, serta dampak intervensi pembangunan terhadap
struktur sosial masyarakat. Setiap pola yang teridentifikasi kemudian diklasifikasikan
berdasarkan tiga aspek analitis utama: sosial-budaya, ekonomi, dan lingkungan. Tahap analisis
lebih lanjut melibatkan penelusuran hubungan antar tema dan kontekstualisasi terhadap
fenomena serupa di komunitas adat lainnya di Indonesia Timur. Proses ini memungkinkan
peneliti untuk mengidentifikasi kesamaan pola dan kekhususan kasus Suku Muyu. Pendekatan
komparatif ini membantu dalam memahami apakah tantangan yang dihadapi Suku Muyu bersifat
unik atau merupakan bagian dari tren yang lebih luas di kalangan masyarakat adat Papua.
Penelitian ini mengembangkan kerangka pemahaman yang menghubungkan berbagai level
analisis, mulai dari perubahan di tingkat komunitas hingga pengaruh kebijakan nasional dan
global.
Pendekatan multidisiplin menjadi ciri khas dalam analisis ini, dengan memadukan
perspektif antropologi budaya untuk memahami transformasi nilai-nilai, ekologi manusia untuk
menganalisis perubahan relasi masyarakat dengan lingkungan, serta studi kebijakan untuk
mengevaluasi dampak intervensi pembangunan. Analisis tidak hanya bersifat deskriptif tetapi
juga kritis dan reflektif. Setiap temuan dari literatur diuji validitasnya melalui triangulasi sumber,
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 101-107
E-ISSN: 3031-2957
105
Nur Amalia Zahra et.al (Tantangan Pelestarian Budaya Lokal di Tengah....)
dengan membandingkan informasi dari berbagai jenis literatur dan perspektif. Proses ini
memungkinkan peneliti untuk membangun argumentasi yang kuat dan berbasis bukti tentang
dinamika pelestarian budaya di tengah modernisasi. Meskipun penelitian ini memberikan
analisis komprehensif melalui tinjauan literatur sistematis, terdapat beberapa keterbatasan yang
perlu diakui, terutama terkait ketergantungan pada sumber sekunder yang mungkin tidak
sepenuhnya mencerminkan realitas di tingkat komunitas dan potensi bias dalam representasi
suara masyarakat Muyu itu sendiri.
3. Hasil dan Pembahasan
Analisis dari beberapa artikel menjelaskan tantangan pelestarian budaya suku muyu
ditunjukkan pada table berikut ini:
Tabel 1 Analisis Literatur Review
No
Nama
Penulis &
Tahun
Terbit
Judul Artikel
Hasil Penelitian
1
(Ardani,
2023)
Pengaruh Mitos
Terhadap Cepat atau
Lambatnya Suatu
Perubahan di dalam
Masyarakat
Masyarakat suku Muyu, meskipun
mereka menerima modernisasi
secara intensif, budaya dan mitos
tetap lestari dan mempengaruhi pola
pikir serta perilaku masyarakat,
Faktor eksternal seperti interaksi
budaya, sistem pendidikan yang
maju, dan sistem lapisan
masyarakat yang terbuka turut
mempengaruhi proses perubahan
sosial dan modernisasi.
2
(Sutiyo et
al., 2024)
Relasi Adat dan
pemerintahan di
Papua Selatan,
Analisis
kelembagaan
mengeksplorasi dinamika sosial,
politik, dan budaya yang kompleks
yang melibatkan masyarakat adat
dan tata kelola daerah di Papua
Selatan, Indonesia. Dokumen-
dokumen ini menyoroti pentingnya
adat (hukum adat) dan
kepemimpinan tradisional dalam
membentuk identitas masyarakat
dan penyelesaian konflik, sekaligus
mengatasi tantangan dalam
mengintegrasikan lembaga-
lembaga adat dalam struktur
pemerintahan formal.
3
Suhendrawan
et al., 2023
Penataan wilayah
pertahanan di
provinsi papua guna
menghadapi potensi
ancaman dalam
rangka menjaga
Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penataan wilayah pertahanan
di Provinsi Papua dipengaruhi oleh
berbagai faktor seperti aspek
geografis, demografi, sumber
kekayaan alam, politik, ekonomi,
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 101-107
E-ISSN: 3031-2957
106
Nur Amalia Zahra et.al (Tantangan Pelestarian Budaya Lokal di Tengah....)
keutuhan NKRI
sosial budaya, serta perlindungan
dan keamanan. Dibutuhkan
langkah- langkah dari pemerintah
daerah untuk meningkatkan
kesiapan wilayah dalam
mendukung operasi gabungan,
termasuk kesiapan sarana dan
prasarana TNI serta dukungan
logistik wilayah di Papua.
4
(Numberi et
al., 2022)
Analisis
pembangunan
bendungan digoel di
kabupaten boven
digoel dalam rangka
pengembangan
wilayah di papus
pengembangan dan pengelolaan
Bendungan Digoel di Kabupaten
Boven Digoel, Papua, dengan
menyoroti aspek teknis,
lingkungan, sosial, ekonomi, dan
budaya yang terlibat dalam
pembangunannya. Dokumen ini
merinci proses perencanaan,
termasuk penilaian teknis, analisis
dampak lingkungan, dan koordinasi
pemangku kepentingan.
5
(Rachmadilla
h, 2021)
Peran Komunikasi
antar budaya
terhadap
keberagaman dan
gerakan separatisme
di indonesia
mengeksplorasi dinamika
kompleks konflik dan keberagaman
budaya di Papua, Indonesia, dengan
menekankan faktor-faktor yang
berkontribusi terhadap munculnya
Organisasi Papua Merdeka (OPM)
seperti isu-isu ideologis, ekonomi,
dan politik tersebut menyoroti
pentingnya komunikasi dan
pemahaman lintas budaya yang
efektif untuk mengelola kelompok-
kelompok etnis yang beragam dan
mencegah konflik,
termasuk gerakan separatis.
Proses modernisasi telah menciptakan dinamika kompleks dalam kehidupan masyarakat
Suku Muyu di Papua Selatan. Meski menghadapi penetrasi nilai-nilai modern melalui berbagai
saluran, komunitas ini mempertahankan ketahanan budaya yang mengesankan. Penelitian
Ardani (2023) mengungkapkan bagaimana mitos dan nilai tradisional tetap menjadi kompas
dalam kehidupan sosial masyarakat Muyu, tidak sekadar bertahan tetapi benar-benar hidup
dalam praktik sehari-hari. Faktor eksternal seperti sistem pendidikan modern dan interaksi
antarbudaya memang memengaruhi perubahan sosial, namun tidak serta-merta menggerus nilai-
nilai inti kebudayaan mereka. Keberlanjutan budaya lokal sangat bergantung pada vitalitas
struktur adat yang mengatur kehidupan masyarakat. Temuan Sutiyo et al., (2024) menunjukkan
bahwa hukum adat dan kepemimpinan tradisional di Papua Selatan tetap memainkan peran
sentral dalam mengatur hubungan sosial dan menjaga identitas kolektif. Namun, tantangan
muncul ketika terjadi ketidakselarasan antara sistem pemerintahan modern dengan lembaga-
lembaga adat. Ketegangan antara otoritas formal dan tradisional ini berpotensi melemahkan
fungsi sosial-budaya institusi adat, yang justru menjadi tulang punggung pelestarian budaya.
Aspek komunikasi antarbudaya muncul sebagai faktor kritis dalam menjaga harmoni
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 101-107
E-ISSN: 3031-2957
107
Nur Amalia Zahra et.al (Tantangan Pelestarian Budaya Lokal di Tengah....)
sosial. Seperti dijelaskan Rachmadillah (2021), minimnya dialog yang efektif antara masyarakat
lokal dengan pemerintah atau pendatang sering memicu kesalahpahaman dan memperdalam rasa
ketidakadilan. Situasi ini turut menyuburkan gerakan-gerakan perlawanan seperti OPM.
Pelestarian budaya dalam konteks ini bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga
menjamin pengakuan terhadap identitas budaya dalam ruang sosial-politik yang lebih luas.
Dampak pembangunan fisik terhadap budaya lokal juga patut mendapat perhatian serius.
Suhendrawan et al., (2023) menegaskan pentingnya mempertimbangkan aspek sosio-budaya
dalam perencanaan pembangunan infrastruktur dan wilayah pertahanan di Papua. Kajian
Numberi et al., (2022) tentang proyek bendungan Digoel memperlihatkan bahwa pembangunan
skala besar harus melibatkan proses perencanaan partisipatif yang sungguh-sungguh
mempertimbangkan dampak budaya. Keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam pengambilan
keputusan menjadi prasyarat penting untuk melindungi nilai-nilai budaya di tengah arus
modernisasi. Menghadapi tantangan ini, diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan
berbagai pemangku kepentingan. Modernisasi sebagai keniscayaan sejarah harus diimbangi
dengan kebijakan yang peka terhadap nilai-nilai lokal. Ketahanan budaya tidak bisa hanya
dibebankan pada masyarakat adat, tetapi memerlukan komitmen negara dan aktor pembangunan
untuk menciptakan ruang integrasi antara sistem modern dan tradisional. Sinergi antara lembaga
adat, pemerintah, dan masyarakat luas melalui penguatan partisipasi, dialog antarbudaya, dan
perencanaan pembangunan yang inklusif menjadi kunci keberhasilan pelestarian budaya Suku
Muyu di masa depan.
4. Kesimpulan
Modernisasi menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi pelestarian budaya Suku
Muyu di Papua Selatan. Hasil kajian menunjukkan bahwa masyarakat Muyu mampu
mempertahankan nilai-nilai budaya inti meski menghadapi penetrasi nilai modern, namun
menghadapi ancaman serius dari ketegangan struktural antara lembaga adat dengan sistem
pemerintahan modern. Kesenjangan komunikasi antarbudaya dan pembangunan fisik yang tidak
sensitif semakin memperumit upaya pelestarian budaya. Di tengah tantangan ini, generasi muda
Muyu berada pada posisi strategis sekaligus rentan - sebagai penerus budaya yang harus
beradaptasi dengan perubahan zaman sambil mempertahankan identitas kultural. Solusi
berkelanjutan memerlukan pendekatan terpadu yang mengakomodasi dinamika sosial budaya
masyarakat Muyu. Integrasi kelembagaan adat dengan sistem modern perlu dibangun melalui
dialog setara, sementara pembangunan fisik harus melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal.
Transmisi budaya kepada generasi muda dapat diperkuat melalui metode adaptif yang
memanfaatkan teknologi modern tanpa meninggalkan akar tradisi. Pada akhirnya, keberhasilan
pelestarian budaya Muyu bergantung pada kemampuan menciptakan keseimbangan antara
perlindungan nilai-nilai tradisional dan adaptasi terhadap perubahan, dengan tetap menjadikan
masyarakat Muyu sebagai subjek utama dalam proses pembangunan dan pelestarian budaya
mereka sendiri.
5. Daftar Pustaka
Akhmetova, A. V., & Klimova, E. V. (2022). Preservation of Cultural and Historical Heritage of
Indigenous Peoples of the Far East. In D. B. Solovev, V. V. Savaley, A. T. Bekker, & V.
I. Petukhov (Eds.), Proceeding of the International Science and Technology
Conference “FarEastСon 2021” (Vol. 275, pp. 825831). Springer Nature Singapore.
https://doi.org/10.1007/978-981-16-8829-4_80
Alam, M. (2025). The Impact of Globalization on Indigenous Cultures: Preservation and
Adaptation. Research Journal of Humanities and Social Sciences, 4(1).
https://doi.org/10.58924/rjhss.v4.iss1.p1
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 101-107
E-ISSN: 3031-2957
108
Nur Amalia Zahra et.al (Tantangan Pelestarian Budaya Lokal di Tengah....)
Ardani, S. A. (2023). Pengaruh Mitos Terhadap Cepat atau Lambatnya Suatu Perubahan
Sosial di Dalam Masyarakat.
Cintya, H. A. B. (2023). Redesign The Traditional Folklore: Achieving A Sustainable Folklore
For The Future Generation. Ultimart: Jurnal Komunikasi Visual, 16(1), 5064.
https://doi.org/10.31937/ultimart.v16i1.3131
Encep, E., Anwar, H., & Febriani, N. A. (2022). Ekospiritual: Relasi Alam dan Manusia dalam
Pandangan berbagai Agama. SALAM: Jurnal Sosial Dan Budaya Syar-i, 9(3), 921950.
https://doi.org/10.15408/sjsbs.v9i3.26465
Ericson, M. (2017). Indigenous Ecological Survivance. In E. S. Huaman & B. M. J. Brayboy
(Eds.), Indigenous Innovations in Higher Education (pp. 195217). SensePublishers.
https://doi.org/10.1007/978-94-6351-014-1_11
Katong, N., Junaedy, S. P., & Sendow, D. Ch. (2023). Indigenous Peoples and Customary Law
in Lolayan District, Bolaang Mongondow Regency in a Modern State. West Science Law
and Human Rights, 1(04), 226234. https://doi.org/10.58812/wslhr.v1i04.261
Nufus, A. B., Malihah, E., Darmawan, C., Anggraeni, L., Budimansyah, D., & Sehadun, F.
(2024). Cultural Diversity and Harmony of Tionghoa Good Character: Towards Unity
with Incremental Change of Citizenship. Jurnal Moral Kemasyarakatan, 9(1), 4152.
https://doi.org/10.21067/jmk.v9i1.10212
Numberi, E., Rante, H., & Numberi, J. J. (2022). Analisis pembangunan bendungan digoel di
kabupaten boven digoel dalam rangka Pengembangan wilayah di papua. Jurnal ELIPS
(Ekonomi, Lingkungan, Infrastruktur, Pengembangan Wilayah, dan Sosial Budaya),
5(3), 130136. https://doi.org/10.31957/jurnalelips.v5i3.2415
Rachmadillah, M. R. (2021). Peran Komunikasi Antarbudaya Terhadap Keberagaman Dan
Gerakan Separatisme Di Indonesia. Perspektif, 1(2), 203215.
https://doi.org/10.53947/perspekt.v1i2.33
Roy, S., & Mukhopadhyay, M. (2022). Transformation of a pristine livelihood in response to
developmentAn overview of the Onge tribal community, Little Andaman Island, India.
In Indigenous People and Nature (pp. 525542). Elsevier. https://doi.org/10.1016/B978-
0-323-91603-5.00012-9
Sahoo, G., Wani, A. M., Swamy, S. L., Mishra, A., & Mane, S. P. (2022). Indigenous people
activities on ecosystems and sustainable development- a paradigm shift. In Indigenous
People and Nature (pp. 327). Elsevier. https://doi.org/10.1016/B978-0-323-91603-
5.00023-3
Sari, T. Y., Kurnia, H., Khasanah, I. L., & Ningtyas, D. N. (2022). Membangun Identitas Lokal
Dalam Era Globalisasi Untuk Melestarikan Budaya dan Tradisi Yang Terancam Punah.
Academy of Social Science and Global Citizenship Journal, 2(2), 7684.
https://doi.org/10.47200/aossagcj.v2i2.1842
Sutiyo, S., Polyando, P., Aser, F., & Ilham, T. (2024). Relasi Adat Dan Pemerintahan Di Papua
Selatan: Analisis Kelembagaan. Jurnal Ilmu Pemerintahan Widya Praja, 50(1), 9199.
https://doi.org/10.33701/jipwp.v50i1.4064