yang kuat. Dalam konteks adat, bahasa isyarat digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan
penting terkait tradisi dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh suku Korowai. Misalnya, saat
upacara adat, penggunaan bahasa isyarat dapat membantu menjaga fokus dan kesakralan
momen tersebut. Data dari penelitian lapangan menunjukkan bahwa sekitar 70% anggota suku
Korowai mengandalkan bahasa isyarat dalam situasi di mana suara tidak dapat digunakan,
seperti saat berburu atau dalam situasi yang memerlukan ketenangan (Sari, 2022).
Statistik menunjukkan bahwa ada sekitar 1.500 individu yang tergabung dalam suku
Korowai, dan penggunaan bahasa isyarat di antara mereka sangat bervariasi tergantung pada
konteks sosial. Menurut sumber dari Lembaga Penelitian Budaya Papua (2023), sekitar 60%
dari anggota suku Korowai yang diwawancarai mengaku menggunakan bahasa isyarat dalam
keseharian mereka, terutama saat berkomunikasi dengan anak-anak atau dalam situasi yang
membutuhkan komunikasi yang lebih halus. Selain itu, bahasa isyarat juga berperan dalam
sistem hukum suku Korowai. Dalam tradisi mereka, terdapat berbagai norma dan aturan yang
harus dipatuhi, dan bahasa isyarat menjadi salah satu cara untuk menyampaikan hukum-hukum
tersebut. Misalnya, saat ada pelanggaran adat, para tetua menggunakan bahasa isyarat untuk
menjelaskan konsekuensi dari tindakan tersebut tanpa harus mengganggu ketenangan
lingkungan sekitar. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam
mengenai penggunaan bahasa isyarat dalam konteks adat dan hukum suku Korowai, serta
bagaimana hal ini berkontribusi pada pelestarian budaya mereka. Melalui pemahaman yang
lebih baik tentang komunikasi non-verbal ini, diharapkan akan ada upaya yang lebih efektif
dalam melestarikan dan menghargai budaya suku Korowai di tengah arus globalisasi yang
semakin kuat.
Bahasa Isyarat dalam Konteks Adat Suku Korowai
Bahasa isyarat dalam konteks adat suku Korowai memiliki fungsi yang sangat penting
dalam menjaga dan mentransmisikan nilai-nilai budaya. Dalam setiap upacara adat,
penggunaan bahasa isyarat menjadi alat untuk menyampaikan pesan-pesan simbolis yang tidak
hanya dimengerti oleh anggota suku, tetapi juga oleh generasi mendatang. Misalnya, saat
upacara pernikahan, bahasa isyarat digunakan untuk menyampaikan doa dan harapan kepada
pasangan yang menikah, yang mencerminkan harapan kolektif masyarakat (Wulandari,
2021).Menurut penelitian oleh Hinton (2020), suku Korowai menggunakan bahasa isyarat
dalam situasi tertentu, terutama ketika berbicara dalam konteks yang lebih formal atau saat
berinteraksi dengan orang luar. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa isyarat bukan hanya alat
komunikasi, tetapi juga sarana untuk mempertahankan identitas budaya mereka. Sebagai
contoh, dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Rahman (2022), ditemukan bahwa saat
upacara adat, isyarat tertentu digunakan untuk menyampaikan makna yang dalam, seperti
isyarat untuk "kesatuan" dan "harmoni". Isyarat ini tidak hanya berfungsi sebagai komunikasi,
tetapi juga sebagai pengingat akan pentingnya nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Hal ini menunjukkan bahwa bahasa isyarat bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga
merupakan media pendidikan budaya yang efektif.
Statistik menunjukkan bahwa 85% anggota suku Korowai merasa bahwa bahasa isyarat
memperkuat ikatan sosial di antara mereka. Dalam situasi di mana komunikasi verbal mungkin
tidak mencukupi, bahasa isyarat menjadi cara untuk mengekspresikan perasaan dan pikiran
dengan lebih jelas. Penelitian oleh Lestari (2023) menunjukkan bahwa interaksi menggunakan
bahasa isyarat dalam konteks adat juga membantu mengurangi kesalahpahaman dan konflik di
antara anggota suku. Di samping itu, bahasa isyarat juga berfungsi sebagai sarana untuk
menjaga tradisi lisan suku Korowai. Dalam banyak kasus, cerita-cerita adat disampaikan
melalui kombinasi antara verbal dan isyarat, di mana isyarat menambah dimensi visual pada
cerita tersebut. Hal ini penting untuk memastikan bahwa generasi muda dapat memahami dan
menghargai warisan budaya mereka. Menurut data dari Badan Pelestarian Budaya Papua