JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 124-133
E-ISSN: 3031-2957
124
Dwi Indah Lestari et.al (Kearifan lokal suku Madura dalam....)
Kearifan lokal suku Madura dalam menjaga tradisi
nilai sosial dan identitas budaya modern
Dwi Indah Lestari
a,1
, Heri Kurnia
b,2
, Hendri
c,3
a
CV Kurnia Grup, Jl. Imogiri Timur KM 7, Grojogan RT 03/ No 069, Wirokerten, Banguntapan, Bantul
b,c
Universitas Pamulang, Jl. Raya Puspitek, Buaran, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310
1*
dwindahl1707@gmail.com;
2
dosen03087@unpam.ac.id;
3
hendri@unpam.ac.id
*
Corresponding Author: dwindahl1707@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 21 Juni 2025
Direvisi: 14 Agustus 2025
Disetujui: 15 Oktober 2025
Tersedia Daring: 1 November
2025
Suku Madura merupakan salah satu etnis besar di Indonesia yang
memiliki kekayaan sosial budaya dengan ciri khas tersendiri, mulai
dari tradisi karapan sapi, sapi sonok, hingga nilai solidaritas dan
religiusitas yang kuat. Namun, perkembangan globalisasi menimbulkan
tantangan terhadap kelestarian budaya tersebut, seperti pergeseran
makna tradisi, melemahnya solidaritas sosial, hingga berkurangnya
penggunaan bahasa Madura di kalangan generasi muda. Penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis nila sosial sosial dan budaya masyarakat
Madura serta menelaah bagaimana mereka beradaptasi di era
globalisasi. Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan
menelaah berbagai sumber berupa buku, artikel, dan jurnal ilmiah yang
relevan mengenai sosial budaya masyarakat Madura. Analisis
dilakukan dengan menekankan aspek karakteristik sosial, tradisi
budaya, serta tantangan yang dihadapi di era modern. Hasil kajian
menunjukkan bahwa meskipun budaya Madura menghadapi ancaman
serius akibat modernisasi dan stereotip negatif, nilai-nilai luhur seperti
harga diri, gotong royong, dan religiusitas tetap menjadi fondasi kuat.
Pelestarian budaya perlu diarahkan pada inovasi dan digitalisasi agar
tetap relevan di masa depan.
Kata Kunci:
Budaya Madura
Nilai Sosial
Globalisasi
ABSTRACT
Keywords:
Madurese culture
Social Values
Globalization
The Madura tribe is one of the major ethnicities in Indonesia that has a
rich socio-cultural heritage with its own characteristics, ranging from the
tradition of cow karapan and sonok cows, to strong values of solidarity
and religiosity. However, the development of globalization poses
challenges to the preservation of this culture, such as shifting the
meaning of traditions, weakening social solidarity, and reduced use of the
Madurese language among the younger generation. This research aims
to analyze the socio-social and cultural values of the Madura people and
examine how they adapt in the era of globalization. This research uses a
literature study method by examining various sources in the form of
books, articles, and scientific journals that are relevant about the socio-
culture of the Madura people. The analysis is carried out by emphasizing
aspects of social characteristics, cultural traditions, and challenges faced
in the modern era. The results of the study show that although Madura
culture faces serious threats due to modernization and negative
stereotypes, noble values such as self-respect, mutual cooperation, and
religiosity remain a strong foundation. Cultural preservation needs to be
directed at innovation and digitalization to remain relevant in the future.
©2025, Dwi Indah Lestari, Heri Kurnia, Hendri
This is an open access article under CC BY-SA license
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 124-133
E-ISSN: 3031-2957
125
Dwi Indah Lestari et.al (Kearifan lokal suku Madura dalam....)
1. Pendahuluan
Suku Madura merupakan salah satu kelompok etnis besar di Indonesia yang memiliki
keunikan tersendiri dalam aspek sosial dan budaya. Madura sendiri adalah sebuah pulau yang
terletak di sebelah timur laut Pulau Jawa dan secara administratif masuk ke dalam wilayah
Provinsi Jawa Timur. Walaupun wilayahnya tidak sebesar pulau lain di Indonesia, Madura
memiliki posisi penting dalam perkembangan budaya Nusantara. Suku Madura dikenal luas
dengan karakteristik yang khas, baik dari segi bahasa, adat istiadat, sistem kekerabatan, hingga
nilai-nilai sosial yang mereka junjung tinggi. Di tengah perkembangan zaman yang semakin
modern dan globalisasi yang merambah ke seluruh aspek kehidupan, eksistensi budaya
Madura menjadi salah satu topik menarik untuk dikaji. Hal ini karena budaya Madura bukan
hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga sebagai perekat sosial yang membentuk pola
interaksi masyarakatnya (Hasanah, Setiawati, dan Nurhayani 2022).
Dari sisi sosial, masyarakat Madura dikenal memiliki sifat yang tegas, berani, religius,
serta menjunjung tinggi nilai harga diri atau yang sering disebut dengan istilah “kehormatan”.
Nilai harga diri ini menjadi fondasi yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan sosial
mereka, mulai dari interaksi keluarga, hubungan antarwarga, hingga cara mereka memandang
dunia luar. Konsep harga diri tersebut juga berkaitan erat dengan fenomena carok, yaitu tradisi
duel yang muncul akibat persoalan harga diri, meskipun praktik ini kini semakin ditinggalkan
dan dianggap tidak relevan dengan kehidupan modern. Selain itu, masyarakat Madura sangat
menjunjung tinggi nilai gotong royong dan solidaritas sosial. Kegiatan seperti membantu
tetangga yang sedang memiliki hajatan, bekerja bersama dalam menggarap ladang, hingga
saling mendukung dalam kegiatan keagamaan merupakan contoh nyata dari nilai kebersamaan
yang masih terjaga hingga saat ini.
Budaya Madura juga sangat dipengaruhi oleh ajaran agama Islam. Hal ini dapat dilihat
dari kehidupan sehari-hari masyarakat Madura yang hampir tidak dapat dipisahkan dari nilai-
nilai religius. Pesantren menjadi salah satu institusi penting yang berperan besar dalam
membentuk pola pikir, perilaku, serta kehidupan sosial masyarakat Madura. Melalui pesantren,
nilai-nilai Islam tidak hanya diajarkan dalam bentuk ibadah, tetapi juga ditanamkan dalam
kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila tokoh agama atau kiai
memiliki kedudukan sangat tinggi dalam struktur sosial masyarakat Madura. Kehadiran kiai
bukan hanya sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai panutan moral dan rujukan dalam
menyelesaikan berbagai persoalan sosial (Sugiharti 2020).
Dari sisi budaya, suku Madura memiliki berbagai bentuk tradisi yang unik dan menarik.
Salah satu yang paling terkenal adalah tradisi karapan sapi, yaitu perlombaan pacuan sapi yang
tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media silaturahmi dan ajang
menunjukkan status sosial bagi pemilik sapi. Karapan sapi telah menjadi ikon budaya Madura
yang dikenal hingga mancanegara. Selain karapan sapi, terdapat pula tradisi sape sonok, yaitu
kontes keindahan sapi betina yang menonjolkan estetika, seni, serta keharmonisan hubungan
manusia dengan hewan. Kedua tradisi ini mencerminkan bagaimana masyarakat Madura
mengembangkan kearifan lokal yang erat kaitannya dengan kehidupan agraris.
Selain itu, bahasa Madura juga merupakan identitas penting yang membedakan mereka
dari suku lain. Bahasa Madura memiliki tingkatan atau stratifikasi bahasa yang menunjukkan
hubungan sosial antarindividu, mirip dengan sistem bahasa Jawa. Ada bahasa halus yang
digunakan untuk menghormati orang yang lebih tua atau dihormati, serta bahasa kasar untuk
berkomunikasi dengan teman sebaya atau orang yang lebih muda. Sistem bahasa ini
menunjukkan betapa pentingnya hierarki sosial dalam budaya Madura. Di sisi lain, kesenian
tradisional seperti ludruk Madura, tari muang sangkal, serta musik saronen juga memperkaya
khasanah budaya mereka. Semua unsur ini menegaskan bahwa suku Madura memiliki warisan
budaya yang kaya dan layak untuk terus dilestarikan.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 124-133
E-ISSN: 3031-2957
126
Dwi Indah Lestari et.al (Kearifan lokal suku Madura dalam....)
Namun, perkembangan zaman dan arus globalisasi membawa tantangan tersendiri bagi
eksistensi sosial budaya Madura. Perubahan gaya hidup, modernisasi, serta pengaruh budaya
luar sering kali membuat generasi muda kurang tertarik untuk mempelajari atau melestarikan
tradisi leluhur mereka. Tradisi karapan sapi, misalnya, mulai mengalami pergeseran makna
dari ajang silaturahmi menjadi sekadar tontonan komersial. Nilai-nilai gotong royong juga
mulai terkikis akibat meningkatnya individualisme di masyarakat modern. Bahkan
penggunaan bahasa Madura di kalangan generasi muda yang merantau sering kali tergantikan
oleh bahasa Indonesia atau bahasa daerah lain, sehingga berpotensi melemahkan identitas
budaya mereka (Julijanti dan Sos 2025).
Selain itu, stereotip negatif terhadap orang Madura juga masih sering muncul dalam
percakapan sehari-hari masyarakat Indonesia. Sering kali masyarakat Madura dicap sebagai
keras, kolot, atau identik dengan kekerasan karena fenomena carok yang diwariskan dari masa
lalu. Padahal, kenyataannya masyarakat Madura memiliki banyak sisi positif, seperti
keberanian, kerja keras, ketekunan, serta kepatuhan yang tinggi terhadap ajaran agama. Oleh
karena itu, penting untuk membangun pemahaman yang lebih objektif tentang sosial budaya
suku Madura agar tidak terjebak dalam stigma yang menyesatkan.
Dalam konteks pembangunan nasional, kajian mengenai sosial budaya suku Madura
menjadi relevan karena keberagaman budaya merupakan modal sosial yang sangat berharga
bagi Indonesia. Setiap etnis memiliki kontribusi unik dalam memperkaya identitas bangsa.
Bagi suku Madura, nilai-nilai seperti solidaritas, kerja keras, religiusitas, serta penghormatan
terhadap kehormatan diri dapat menjadi teladan dalam membangun masyarakat yang tangguh
dan bermartabat. Apabila nilai-nilai ini dapat dipadukan dengan semangat modernisasi dan
keterbukaan terhadap perubahan, maka budaya Madura tidak hanya akan bertahan, tetapi juga
beradaptasi secara dinamis dengan perkembangan zaman (Dartiningsih 2022).
Dengan demikian, latar belakang kajian sosial budaya suku Madura mencakup pentingnya
memahami warisan budaya, sistem sosial, serta nilai-nilai yang membentuk karakteristik
masyarakat Madura. Di satu sisi, terdapat kebanggaan atas identitas budaya yang kaya dan
unik, sementara di sisi lain ada tantangan besar berupa arus globalisasi, modernisasi, serta
stereotip negatif yang berpotensi melemahkan eksistensi budaya tersebut. Oleh karena itu,
diperlukan upaya serius untuk mendokumentasikan, mempelajari, dan melestarikan budaya
Madura agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam karakteristik sosial, tradisi
budaya, serta tantangan yang dihadapi masyarakat Madura dalam mempertahankan nilai-nilai
kearifan lokal di tengah arus global, sehingga hasil dari kajian ini dapat memberikan hasanah
pengetahuan tentang bagaimana budaya lokal berperan penting dalam memperkuat jati diri
bangsa (civic identity) sekaligus menciptakan harmoni dalam keberagaman.
2. Metode
Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah studi literatur atau kajian
pustaka. Studi literatur dilakukan dengan cara mengumpulkan, membaca, dan menganalisis
berbagai sumber tertulis yang relevan dengan topik sosial budaya suku Madura. Sumber
literatur yang digunakan mencakup buku, jurnal ilmiah, artikel, hasil penelitian terdahulu,
serta dokumen resmi yang berkaitan dengan aspek sosial, budaya, bahasa, tradisi, dan nilai-
nilai kehidupan masyarakat Madura. Langkah pertama dalam studi literatur ini adalah
mengidentifikasi kata kunci penelitian, seperti “sosial budaya Madura”, “tradisi lokal”, dan
“identitas budaya”. Selanjutnya, peneliti melakukan penelusuran literatur dari berbagai
database dan repositori ilmiah. Setelah itu, dilakukan proses analisis dan sintesis untuk
menemukan pola, tema, serta relevansi antarpenelitian yang sudah ada. Metode ini dipilih
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 124-133
E-ISSN: 3031-2957
127
Dwi Indah Lestari et.al (Kearifan lokal suku Madura dalam....)
karena efektif dalam memberikan gambaran komprehensif mengenai fenomena sosial budaya
suku Madura tanpa harus melakukan penelitian lapangan secara langsung.
3. Hasil dan Pembahasan
A. Karakteristik Sosial Masyarakat Madura
Masyarakat Madura dikenal memiliki karakteristik sosial yang khas, yang membedakan
mereka dari kelompok etnis lain di Indonesia. Karakteristik ini terbentuk dari perpaduan antara
kondisi geografis, sejarah, nilai agama, serta pengalaman hidup kolektif yang diwariskan lintas
generasi. Secara umum, karakteristik sosial masyarakat Madura dapat dilihat dari beberapa
aspek penting, yaitu penghargaan tinggi terhadap harga diri atau kehormatan, solidaritas sosial
yang kuat, religiusitas mendalam, peran penting kiai, serta sifat-sifat pribadi yang melekat
seperti keberanian, keuletan, dan keterbukaan dalam merantau. Keseluruhan aspek tersebut
saling berkaitan dan membentuk identitas sosial yang khas, yang membuat masyarakat Madura
mampu bertahan sekaligus beradaptasi dengan berbagai perubahan zaman (Hairul 2022).
Salah satu ciri utama masyarakat Madura adalah penghargaan yang tinggi terhadap
kehormatan atau harga diri, yang dalam istilah lokal sering disebut sebagai “hormat”. Konsep
kehormatan ini begitu kuat sehingga memengaruhi hampir semua aspek kehidupan, baik dalam
lingkup keluarga, pergaulan sosial, maupun hubungan dengan dunia luar. Kehormatan
dianggap sebagai aset yang lebih berharga daripada materi, sehingga setiap tindakan yang
dianggap merendahkan martabat seseorang bisa menimbulkan reaksi keras. Fenomena ini
tercermin dalam tradisi carok, yaitu duel menggunakan senjata tajam yang dulu dilakukan
untuk mempertahankan kehormatan, meskipun kini praktik tersebut semakin berkurang
(Hairul 2022). Bagi masyarakat Madura, kehilangan harta atau kekayaan bisa ditoleransi,
tetapi kehilangan harga diri dianggap sebagai aib besar yang tidak dapat diterima. Nilai ini
memang sering dipandang kontroversial, tetapi di sisi lain menunjukkan betapa pentingnya
martabat individu dalam struktur sosial Madura.
Selain menjunjung tinggi harga diri, masyarakat Madura juga dikenal dengan solidaritas
sosial yang kuat. Solidaritas ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari, terutama di
pedesaan. Masyarakat Madura terbiasa saling membantu ketika ada anggota keluarga atau
tetangga yang menghadapi kesulitan. Misalnya, ketika ada warga yang mengadakan hajatan
pernikahan atau khitanan, hampir seluruh tetangga terlibat, baik dalam bentuk bantuan tenaga,
makanan, maupun dukungan moral. Begitu pula ketika ada musibah, masyarakat dengan sigap
memberikan bantuan. Pola kebersamaan ini menunjukkan bahwa nilai gotong royong bukan
sekadar konsep, tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Bahkan, solidaritas
ini melampaui batas keluarga inti, sehingga hubungan kekerabatan sosial di Madura terasa
sangat erat.
Kehidupan sosial masyarakat Madura juga tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai religius,
terutama ajaran Islam yang menjadi pedoman utama. Islam tidak hanya dipraktikkan dalam
bentuk ibadah ritual, tetapi juga menjadi landasan moral dalam interaksi sosial. Kehadiran
masjid dan surau di hampir setiap desa menunjukkan betapa pentingnya agama dalam
kehidupan mereka. Aktivitas keagamaan seperti pengajian, tahlilan, dan peringatan hari besar
Islam tidak hanya berfungsi sebagai media spiritual, tetapi juga sebagai sarana mempererat
hubungan sosial. Dalam konteks ini, agama tidak dipandang sekadar sebagai kewajiban, tetapi
juga sebagai pengikat persaudaraan antarwarga. Bahkan, norma agama sering kali menjadi
rujukan dalam menyelesaikan konflik, sehingga peran agama dalam struktur sosial Madura
sangat sentral.
Terkait dengan nilai religius, kiai atau pemimpin agama memiliki kedudukan yang sangat
tinggi dalam masyarakat Madura. Kiai bukan hanya dipandang sebagai guru spiritual, tetapi
juga sebagai tokoh masyarakat yang berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan. Kiai
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 124-133
E-ISSN: 3031-2957
128
Dwi Indah Lestari et.al (Kearifan lokal suku Madura dalam....)
sering dijadikan rujukan dalam pengambilan keputusan, baik yang berkaitan dengan masalah
keagamaan maupun masalah sosial dan budaya. Bahkan, dalam urusan politik dan ekonomi,
kiai sering memiliki pengaruh besar. Hal ini tidak lepas dari peran pesantren sebagai lembaga
pendidikan Islam yang berakar kuat di Madura. Pesantren menjadi tempat pembentukan
karakter masyarakat sekaligus pusat penyebaran nilai-nilai keislaman. Melalui pesantren,
generasi muda Madura dididik untuk memahami ajaran agama sekaligus mempraktikkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Maka, tidak mengherankan jika masyarakat Madura dikenal
religius, taat, dan menghormati tokoh agama (Faridi 2021).
Di samping nilai kehormatan, solidaritas, dan religiusitas, masyarakat Madura juga
dikenal memiliki sifat-sifat khas yang melekat pada identitas mereka. Salah satu sifat yang
sering disebut adalah keberanian. Orang Madura dikenal berani dalam mengambil risiko, baik
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam merantau. Keberanian ini sering dikaitkan dengan
tradisi carok, tetapi sebenarnya lebih luas daripada itu. Keberanian masyarakat Madura
tercermin dalam semangat mereka menghadapi kesulitan hidup, termasuk ketika mereka
merantau ke daerah lain. Tidak sedikit orang Madura yang merantau ke luar pulau, bahkan ke
luar negeri, untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Keberanian merantau ini didorong oleh
keuletan dan kerja keras yang juga menjadi ciri khas masyarakat Madura.
Keuletan masyarakat Madura terlihat jelas dalam bidang ekonomi. Banyak perantau
Madura yang bekerja keras di sektor informal, seperti berdagang, membuka warung, menjadi
pedagang sate, atau bekerja di bidang transportasi. Meskipun pekerjaan tersebut sering
dianggap sederhana, keberanian dan kerja keras mereka membuat usaha tersebut berkembang
pesat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Madura memiliki etos kerja yang tinggi. Selain
itu, masyarakat Madura juga dikenal hemat, sederhana, dan gigih dalam mengelola kehidupan
sehari-hari. Etos kerja inilah yang membuat banyak orang Madura mampu bertahan dalam
kondisi ekonomi yang sulit sekalipun (Majid, Muzakki, and Amini 2022).
Selain keberanian dan kerja keras, keterbukaan terhadap dunia luar juga menjadi salah
satu karakteristik sosial masyarakat Madura. Hal ini tercermin dalam budaya merantau yang
telah berlangsung sejak lama. Merantau bagi masyarakat Madura bukan hanya sekadar
mencari nafkah, tetapi juga bagian dari tradisi sosial. Dengan merantau, orang Madura
memperluas jaringan sosial, memperkenalkan budaya mereka ke daerah lain, sekaligus
memperkaya pengalaman hidup. Keberanian merantau ini juga berpengaruh terhadap
persebaran budaya Madura di berbagai daerah Indonesia. Tidak mengherankan jika komunitas
Madura dapat ditemukan di banyak wilayah, mulai dari Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Meski merantau, mereka tetap mempertahankan identitas budaya, bahasa, serta nilai-nilai
sosial yang dibawa dari tanah kelahiran mereka.
Namun demikian, karakteristik sosial masyarakat Madura juga tidak lepas dari stereotip
yang berkembang di masyarakat luas. Sering kali orang Madura dicap keras kepala,
emosional, atau identik dengan kekerasan. Stigma ini biasanya muncul akibat pemahaman
yang dangkal terhadap konsep harga diri atau karena fenomena carok yang diberitakan secara
berlebihan. Padahal, sifat keras masyarakat Madura sebenarnya berakar dari ketegasan dan
keberanian dalam mempertahankan prinsip hidup. Jika dipahami secara objektif, sifat ini justru
mencerminkan konsistensi mereka dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan dan
kebenaran. Oleh karena itu, penting untuk melihat karakteristik sosial masyarakat Madura
secara utuh, bukan hanya dari sisi negatif yang sering disorot.
Dari keseluruhan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa karakteristik sosial masyarakat
Madura mencakup berbagai aspek yang saling melengkapi. Kehormatan, solidaritas,
religiusitas, peran kiai, keberanian, kerja keras, dan budaya merantau adalah elemen-elemen
yang membentuk identitas sosial mereka. Karakteristik ini tidak hanya berlaku di Madura,
tetapi juga terbawa ke manapun orang Madura berada. Mereka tetap menjaga nilai-nilai
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 124-133
E-ISSN: 3031-2957
129
Dwi Indah Lestari et.al (Kearifan lokal suku Madura dalam....)
tersebut sebagai pedoman hidup, sekaligus berusaha beradaptasi dengan lingkungan baru.
Inilah yang menjadikan masyarakat Madura unik sekaligus tangguh dalam menghadapi
perubahan zaman (Syamsuddin 2019).
Dengan demikian, karakteristik sosial masyarakat Madura bukan hanya bagian dari
identitas kultural, tetapi juga aset sosial yang berharga bagi bangsa Indonesia. Nilai-nilai yang
mereka junjung tinggi dapat menjadi inspirasi dalam membangun masyarakat yang
bermartabat, religius, dan memiliki solidaritas kuat. Tantangan modernisasi dan globalisasi
memang dapat memengaruhi pola kehidupan sosial mereka, tetapi selama nilai-nilai dasar
tersebut terus dijaga dan diwariskan, masyarakat Madura akan tetap mampu mempertahankan
identitasnya sekaligus berkontribusi positif dalam keberagaman bangsa.
B. Kebudayaan dan Tradisi Madura
Suku Madura merupakan salah satu etnis besar di Indonesia yang memiliki kebudayaan
dan tradisi khas, diwariskan secara turun-temurun, dan masih dipertahankan hingga saat ini.
Walaupun sering kali terpinggirkan dalam diskursus kebudayaan Nusantara, Madura
sesungguhnya menyimpan kekayaan tradisi yang sangat beragam, mulai dari seni pertunjukan,
bahasa, kesenian, ritual, hingga sistem nilai sosial yang unik. Kebudayaan Madura tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakatnya, karena tradisi tersebut bukan sekadar
warisan, melainkan bagian dari identitas sosial sekaligus cerminan kearifan lokal. Dengan latar
belakang geografis berupa pulau yang relatif gersang, masyarakat Madura membangun pola
kehidupan yang keras, namun dari situlah lahir karakter budaya yang penuh dinamika, sarat
makna, dan berakar pada nilai solidaritas serta religiusitas yang kuat (Romadhon 2020).
Salah satu tradisi paling terkenal dari Madura adalah karapan sapi, yakni perlombaan
pacuan sapi yang sudah menjadi ikon budaya. Karapan sapi awalnya lahir dari kehidupan
agraris, di mana sapi tidak hanya digunakan sebagai hewan ternak, tetapi juga simbol status
sosial. Perlombaan ini biasanya diselenggarakan pada musim panen sebagai wujud rasa syukur
sekaligus hiburan rakyat. Karapan sapi tidak hanya sekadar adu cepat sapi, melainkan juga
mengandung nilai-nilai sosial yang penting. Pemilik sapi yang mampu memenangkan
perlombaan dianggap memiliki prestise tinggi di mata masyarakat. Bahkan, dalam beberapa
kasus, kemenangan karapan sapi bisa mengangkat status sosial keluarga pemilik sapi. Saat ini,
karapan sapi juga berkembang menjadi atraksi wisata budaya yang menarik perhatian
wisatawan, meskipun dalam perkembangannya terjadi pergeseran makna dari tradisi agraris
menjadi pertunjukan komersial.
Selain karapan sapi, masyarakat Madura juga memiliki tradisi sapi sonok. Jika karapan
sapi menonjolkan kecepatan dan kekuatan, sapi sonok lebih menonjolkan keindahan dan
keanggunan. Dalam tradisi ini, sepasang sapi betina dihias dengan berbagai ornamen lalu
diperagakan dengan iringan musik tradisional saronen. Gerakan sapi dikendalikan sedemikian
rupa agar tampak harmonis dan indah, layaknya pertunjukan seni. Sapi sonok bukan hanya
ajang hiburan, tetapi juga simbol keterikatan masyarakat Madura dengan hewan ternak, yang
menjadi bagian penting dalam kehidupan mereka. Tradisi ini juga mencerminkan estetika lokal
serta penghargaan terhadap keindahan yang diintegrasikan ke dalam budaya agraris.
Dari sisi kesenian, Madura memiliki kekayaan yang tidak kalah menarik. Saronen adalah
musik tradisional yang dimainkan dengan alat musik tiup mirip seruling panjang, yang
menghasilkan suara keras dan melengking. Musik ini sering mengiringi berbagai acara
penting, seperti pernikahan, karapan sapi, hingga sapi sonok. Bunyi saronen yang khas
menjadi penanda identitas budaya Madura, sekaligus menunjukkan semangat masyarakatnya
yang penuh energi. Selain saronen, terdapat pula kesenian topeng Madura yang menampilkan
tari dengan menggunakan topeng berwarna mencolok. Pertunjukan topeng ini biasanya
mengandung pesan moral atau kisah yang diambil dari cerita rakyat. Kesenian topeng Madura
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 124-133
E-ISSN: 3031-2957
130
Dwi Indah Lestari et.al (Kearifan lokal suku Madura dalam....)
juga berkembang sebagai media hiburan sekaligus sarana pendidikan masyarakat (Kurniawan,
Hidayah, dkk 2024).
Kebudayaan Madura juga melahirkan tari muang sangkal, sebuah tarian tradisional yang
memiliki makna simbolis. Tarian ini biasanya dipentaskan dalam acara penyambutan tamu
atau perayaan tertentu. Gerakan tari muang sangkal melambangkan doa agar terhindar dari
bahaya dan kesialan, sekaligus menyampaikan harapan akan keselamatan. Dengan balutan
busana khas dan gerakan lemah gemulai, tari ini tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga
sarat dengan nilai spiritual. Tari muang sangkal mencerminkan bagaimana masyarakat Madura
menyatukan aspek seni dengan doa dan harapan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, ludruk Madura juga menjadi bagian dari warisan seni pertunjukan yang masih
dipertahankan. Ludruk Madura mirip dengan ludruk Jawa Timur, tetapi memiliki gaya dan ciri
khas tersendiri, terutama dalam bahasa, humor, serta tema cerita. Ludruk biasanya
menceritakan kisah kehidupan sehari-hari masyarakat, dengan tambahan unsur komedi yang
menghibur. Melalui ludruk, masyarakat Madura dapat menyampaikan kritik sosial secara
halus, sehingga kesenian ini memiliki fungsi ganda, yaitu hiburan sekaligus media komunikasi
budaya. Sayangnya, ludruk Madura kini mulai jarang dipentaskan karena kalah bersaing
dengan hiburan modern, meskipun beberapa komunitas masih berusaha melestarikannya.
Bahasa Madura sendiri juga merupakan bagian penting dari kebudayaan. Bahasa ini
memiliki sistem tingkatan bahasa atau stratifikasi yang menunjukkan hubungan sosial
antarindividu. Misalnya, terdapat bahasa halus yang digunakan kepada orang yang lebih tua
atau dihormati, dan bahasa kasar untuk orang sebaya atau lebih muda. Sistem stratifikasi ini
mirip dengan bahasa Jawa, tetapi memiliki kekhasan tersendiri. Keberadaan tingkatan bahasa
ini mencerminkan betapa pentingnya penghormatan dalam budaya Madura. Bahasa tidak
hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana menjaga etika sosial. Dalam
perantauan sekalipun, masyarakat Madura tetap menggunakan bahasa ibu sebagai bentuk
identitas, meskipun pengaruh bahasa Indonesia semakin kuat di kalangan generasi muda.
Dalam ranah kepercayaan dan ritual, masyarakat Madura juga memiliki tradisi yang
berkaitan dengan Islam, agama mayoritas di Madura. Misalnya, tradisi nyadar, yaitu upacara
ziarah kubur massal yang dilakukan di makam leluhur. Tradisi ini biasanya diiringi doa
bersama, tahlil, serta pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Nyadar bukan hanya ritual
spiritual, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial antarwarga, karena dilakukan secara
kolektif. Di samping itu, ada pula tradisi rokat tasek atau rokat laut, yakni upacara adat sebagai
ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil laut yang melimpah. Dalam acara ini, nelayan
Madura membawa sesajen ke laut, diiringi doa, musik tradisional, dan pertunjukan seni. Rokat
laut menunjukkan hubungan erat antara masyarakat Madura dengan laut, yang menjadi sumber
utama mata pencaharian mereka.
Kebudayaan Madura juga tercermin dalam pola kehidupan sehari-hari, termasuk nilai
kesederhanaan dan kerja keras. Hal ini terlihat dalam kebiasaan masyarakat Madura yang
hidup dengan hemat, berpakaian sederhana, tetapi tetap menjunjung tinggi harga diri.
Kesederhanaan tidak dipandang sebagai kelemahan, melainkan sebagai bagian dari identitas
yang membuat mereka tahan banting dalam menghadapi kesulitan hidup. Nilai kesederhanaan
ini berpadu dengan etos kerja tinggi yang menjadikan masyarakat Madura terkenal sebagai
perantau gigih. Banyak di antara mereka yang sukses membangun usaha kecil maupun besar di
tanah rantau, tanpa melupakan budaya asal (Lutfi and Hidayatin 2023).
Namun, kebudayaan Madura juga menghadapi tantangan besar di era globalisasi. Tradisi
seperti karapan sapi dan ludruk mulai mengalami komersialisasi, sehingga makna asli yang
sarat nilai sosial dan spiritual perlahan memudar. Generasi muda Madura, terutama yang
tinggal di perkotaan atau merantau, cenderung lebih akrab dengan budaya populer modern
daripada tradisi leluhur. Bahasa Madura pun menghadapi ancaman karena semakin jarang
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 124-133
E-ISSN: 3031-2957
131
Dwi Indah Lestari et.al (Kearifan lokal suku Madura dalam....)
digunakan dalam komunikasi formal maupun di kalangan anak muda. Jika tidak ada upaya
pelestarian, sebagian warisan budaya Madura bisa hilang ditelan zaman.
Untuk itu, berbagai pihak berupaya melestarikan kebudayaan Madura. Pemerintah daerah,
lembaga pendidikan, serta komunitas budaya sering mengadakan festival karapan sapi, lomba
tari muang sangkal, hingga pentas ludruk untuk menarik minat generasi muda. Media digital
juga dimanfaatkan untuk mempromosikan kebudayaan Madura agar dikenal lebih luas.
Dengan dokumentasi modern, tradisi Madura tidak hanya dipelajari secara akademis, tetapi
juga bisa dikemas menjadi daya tarik wisata budaya. Upaya ini penting agar kebudayaan
Madura tetap hidup, relevan, dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dari uraian tersebut, jelas bahwa kebudayaan dan tradisi Madura mencakup berbagai
aspek yang saling terkait. Karapan sapi, sapi sonok, musik saronen, tari muang sangkal,
ludruk, bahasa Madura, serta ritual keagamaan merupakan bagian dari identitas budaya yang
khas. Tradisi tersebut bukan hanya berfungsi sebagai hiburan atau ritual semata, melainkan
juga sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial, menjaga etika, serta meneguhkan jati diri
masyarakat Madura. Di tengah arus modernisasi, kebudayaan Madura menghadapi tantangan
besar, tetapi dengan kesadaran kolektif dan inovasi pelestarian, budaya tersebut dapat terus
berkembang tanpa kehilangan makna aslinya. Kebudayaan Madura pada akhirnya tidak hanya
menjadi milik masyarakat lokal, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya nasional yang
memperkaya identitas Indonesia di mata dunia.
C. Tantangan Sosial Budaya Madura di Era Globalisasi
Globalisasi membawa arus perubahan yang sangat cepat dalam berbagai aspek kehidupan,
termasuk pada masyarakat Madura yang memiliki tradisi dan budaya kuat. Di satu sisi,
globalisasi membuka peluang baru untuk memperkenalkan budaya Madura ke tingkat nasional
bahkan internasional. Namun, di sisi lain, globalisasi juga menghadirkan tantangan besar
terhadap kelestarian nilai sosial dan budaya yang sudah diwariskan secara turun-temurun.
Salah satu tantangan utama adalah pergeseran makna tradisi. Tradisi karapan sapi, misalnya,
yang dahulu sarat nilai religius dan sosial kini semakin bergeser menjadi pertunjukan
komersial dan objek wisata semata. Pergeseran makna ini berpotensi menghilangkan nilai
kebersamaan dan rasa syukur yang menjadi inti dari tradisi tersebut. Demikian pula kesenian
ludruk Madura yang dulunya berfungsi sebagai hiburan rakyat sekaligus media kritik sosial,
kini mulai ditinggalkan karena kalah bersaing dengan hiburan modern seperti televisi, internet,
dan media sosial.
Selain itu, tantangan berikutnya adalah melemahnya solidaritas sosial dan nilai gotong
royong. Globalisasi membawa pola hidup yang lebih individualistis, terutama di kalangan
generasi muda. Padahal, solidaritas dan gotong royong merupakan fondasi sosial masyarakat
Madura, tercermin dari kebiasaan saling membantu dalam hajatan, musibah, maupun
pekerjaan sehari-hari. Jika pola individualisme semakin menguat, dikhawatirkan nilai
solidaritas tersebut akan semakin luntur. Hal ini juga berdampak pada ikatan sosial yang
biasanya sangat kuat di pedesaan Madura, karena masyarakat lebih sibuk dengan urusan
pribadi dibandingkan kepentingan kolektif (Susantin dan Rijal 2020).
Tantangan lain adalah ancaman terhadap bahasa dan identitas budaya. Bahasa Madura
memiliki peran penting dalam menjaga jati diri dan hierarki sosial masyarakat. Namun,
pengaruh bahasa Indonesia dan bahasa asing di era globalisasi menyebabkan generasi muda
semakin jarang menggunakan bahasa Madura, terutama dalam perantauan. Akibatnya,
stratifikasi bahasa yang menunjukkan tata krama dan penghormatan berpotensi hilang.
Hilangnya bahasa lokal berarti hilangnya sebagian identitas budaya, karena bahasa adalah
simbol paling nyata dari warisan leluhur.
Tidak kalah penting, masyarakat Madura juga menghadapi tantangan berupa stereotip
negatif yang terus melekat. Globalisasi seharusnya membuka ruang dialog lintas budaya,
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 124-133
E-ISSN: 3031-2957
132
Dwi Indah Lestari et.al (Kearifan lokal suku Madura dalam....)
namun justru sering memperkuat stigma melalui media massa yang cenderung menyoroti sisi
negatif, seperti carok atau kekerasan. Padahal, stereotip ini tidak sepenuhnya mencerminkan
realitas sosial masyarakat Madura. Tantangan ini berbahaya karena dapat memengaruhi cara
pandang generasi muda terhadap identitas mereka sendiri, sehingga muncul rasa minder atau
enggan melestarikan budaya leluhur.
Terakhir, globalisasi menuntut adanya inovasi dalam pelestarian budaya. Jika tidak
beradaptasi dengan teknologi digital, tradisi Madura akan semakin ditinggalkan. Festival
budaya, tari tradisional, atau musik saronen perlu dikemas lebih modern tanpa menghilangkan
nilai aslinya agar dapat diterima oleh generasi muda dan dikenal dunia. Tanpa upaya kreatif
ini, kebudayaan Madura berisiko hanya menjadi artefak masa lalu yang tidak lagi relevan
dengan kehidupan modern.
Dengan demikian, tantangan sosial budaya Madura di era globalisasi meliputi pergeseran
makna tradisi, melemahnya solidaritas sosial, ancaman terhadap bahasa dan identitas, stereotip
negatif, serta kebutuhan akan inovasi dalam pelestarian budaya. Tantangan-tantangan ini harus
dihadapi dengan kesadaran kolektif, agar budaya Madura tetap hidup, relevan, dan mampu
memberikan kontribusi bagi keberagaman bangsa Indonesia.
4. Kesimpulan
Suku Madura merupakan salah satu etnis besar di Indonesia yang memiliki kekayaan
sosial budaya yang khas dan unik. Karakteristik sosial masyarakat Madura tercermin dari
penghargaan tinggi terhadap harga diri, solidaritas sosial yang kuat, serta religiusitas yang
mendalam. Nilai-nilai ini berpadu dengan peran sentral kiai, semangat keberanian, kerja keras,
serta tradisi merantau yang menjadikan orang Madura tangguh dan berdaya saing. Dari sisi
budaya, berbagai tradisi seperti karapan sapi, sapi sonok, musik saronen, tari muang sangkal,
ludruk Madura, serta ritual keagamaan seperti nyadar dan rokat laut memperlihatkan betapa
kayanya warisan leluhur yang masih dijaga. Bahasa Madura dengan stratifikasi sosialnya juga
menjadi identitas penting yang memperkuat tata nilai dan etika dalam interaksi masyarakat.
Namun, di era globalisasi, sosial budaya Madura menghadapi tantangan serius.
Pergeseran makna tradisi, melemahnya solidaritas akibat individualisme, menurunnya
penggunaan bahasa Madura, serta stereotip negatif yang melekat menjadi persoalan yang
dapat menggerus identitas budaya. Globalisasi juga menuntut inovasi agar tradisi Madura
tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup dan relevan dengan
perkembangan zaman. Jika tantangan ini tidak segera diantisipasi, maka sebagian besar
warisan budaya Madura berisiko hilang atau terpinggirkan.
Dengan demikian, pelestarian budaya Madura menjadi tanggung jawab bersama, baik
masyarakat, pemerintah, maupun generasi muda. Upaya konkret dapat dilakukan melalui
pendidikan, penguatan peran pesantren, festival budaya, hingga pemanfaatan teknologi digital
untuk promosi dan dokumentasi. Melalui langkah-langkah tersebut, budaya Madura dapat
terus bertahan, beradaptasi, dan bahkan berkembang sebagai bagian penting dari identitas
bangsa Indonesia. Keberadaan sosial budaya Madura bukan hanya milik masyarakat lokal,
melainkan juga aset berharga yang memperkaya keberagaman Indonesia di tengah arus
globalisasi.
5. Daftar Pustaka
Dartiningsih, B. E. 2022. Budaya Dan Masyarakat Madura. books.google.com.
Faridi, M. 2021. “Etnolinguistik Falsafah Hidup Masyarakat Madura.” Halimi: Journal of
Education.
Hairul, M. 2022. “Diaspora Bahasa Madura Dalam Masyarakat Pandhalungan Bondowoso.”
Paramasastra: Jurnal Ilmiah Bahasa Sastra Dan ….
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 124-133
E-ISSN: 3031-2957
133
Dwi Indah Lestari et.al (Kearifan lokal suku Madura dalam....)
Hasanah, H., E. Setiawati, and I. Nurhayani. 2022. “Afiksasi Verba Bahasa Madura Dialek
Pamekasan Berdasarkan Perspektif Derivasi Dan Infleksi.” Diglosia: Jurnal Kajian ….
Julijanti, D. M., and S. Sos. 2025. Budaya Dan Komunikasi Masyarakat Madura.
books.google.com.
Kurniawan, B., S. N. Hidayah, and ... 2024. “Pengaruh Penggunaan Bahasa Indonesia
Terhadap Budaya Lokal Pada Masyarakat Madura.” Jurnal Media ….
Lutfi, A., and Z. Hidayatin. 2023. “Peran Bahasa Madura Dalam Meningkatkan Kearifan
Lokal.” Jurnal Lentera Edukasi.
Majid, A. N., Z. Muzakki, and I. Amini. 2022. “Harmonisasi Sosial Berbasis Kearifan Lokal
Islami Dalam Masyarakat Tanèan Lanjâng Madura.” Jurnal Asy-Syukriyyah.
Romadhon, S. 2020. “Kiai Bagi Orang Madura.” ICONIS: International Conference on ….
Sugiharti, D. R. 2020. Bahasa Madura Di Kabupaten Bangkalan Madura: Kajian Geografi
Dialek. repository.unair.ac.id.
Susantin, J., and S. Rijal. 2020. “Tradisi Bhen-Ghiben Pada Perkawinan Adat Madura; Studi
Kasus Di Kabupaten Sumenep-Madura.” Kabilah: Journal of Social Community.
Syamsuddin, H. M. 2019. History of Madura: Sejarah, Budaya, Dan Ajaran Luhur Masyarakat
Madura. books.google.com.