sering dijadikan rujukan dalam pengambilan keputusan, baik yang berkaitan dengan masalah
keagamaan maupun masalah sosial dan budaya. Bahkan, dalam urusan politik dan ekonomi,
kiai sering memiliki pengaruh besar. Hal ini tidak lepas dari peran pesantren sebagai lembaga
pendidikan Islam yang berakar kuat di Madura. Pesantren menjadi tempat pembentukan
karakter masyarakat sekaligus pusat penyebaran nilai-nilai keislaman. Melalui pesantren,
generasi muda Madura dididik untuk memahami ajaran agama sekaligus mempraktikkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Maka, tidak mengherankan jika masyarakat Madura dikenal
religius, taat, dan menghormati tokoh agama (Faridi 2021).
Di samping nilai kehormatan, solidaritas, dan religiusitas, masyarakat Madura juga
dikenal memiliki sifat-sifat khas yang melekat pada identitas mereka. Salah satu sifat yang
sering disebut adalah keberanian. Orang Madura dikenal berani dalam mengambil risiko, baik
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam merantau. Keberanian ini sering dikaitkan dengan
tradisi carok, tetapi sebenarnya lebih luas daripada itu. Keberanian masyarakat Madura
tercermin dalam semangat mereka menghadapi kesulitan hidup, termasuk ketika mereka
merantau ke daerah lain. Tidak sedikit orang Madura yang merantau ke luar pulau, bahkan ke
luar negeri, untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Keberanian merantau ini didorong oleh
keuletan dan kerja keras yang juga menjadi ciri khas masyarakat Madura.
Keuletan masyarakat Madura terlihat jelas dalam bidang ekonomi. Banyak perantau
Madura yang bekerja keras di sektor informal, seperti berdagang, membuka warung, menjadi
pedagang sate, atau bekerja di bidang transportasi. Meskipun pekerjaan tersebut sering
dianggap sederhana, keberanian dan kerja keras mereka membuat usaha tersebut berkembang
pesat. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Madura memiliki etos kerja yang tinggi. Selain
itu, masyarakat Madura juga dikenal hemat, sederhana, dan gigih dalam mengelola kehidupan
sehari-hari. Etos kerja inilah yang membuat banyak orang Madura mampu bertahan dalam
kondisi ekonomi yang sulit sekalipun (Majid, Muzakki, and Amini 2022).
Selain keberanian dan kerja keras, keterbukaan terhadap dunia luar juga menjadi salah
satu karakteristik sosial masyarakat Madura. Hal ini tercermin dalam budaya merantau yang
telah berlangsung sejak lama. Merantau bagi masyarakat Madura bukan hanya sekadar
mencari nafkah, tetapi juga bagian dari tradisi sosial. Dengan merantau, orang Madura
memperluas jaringan sosial, memperkenalkan budaya mereka ke daerah lain, sekaligus
memperkaya pengalaman hidup. Keberanian merantau ini juga berpengaruh terhadap
persebaran budaya Madura di berbagai daerah Indonesia. Tidak mengherankan jika komunitas
Madura dapat ditemukan di banyak wilayah, mulai dari Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
Meski merantau, mereka tetap mempertahankan identitas budaya, bahasa, serta nilai-nilai
sosial yang dibawa dari tanah kelahiran mereka.
Namun demikian, karakteristik sosial masyarakat Madura juga tidak lepas dari stereotip
yang berkembang di masyarakat luas. Sering kali orang Madura dicap keras kepala,
emosional, atau identik dengan kekerasan. Stigma ini biasanya muncul akibat pemahaman
yang dangkal terhadap konsep harga diri atau karena fenomena carok yang diberitakan secara
berlebihan. Padahal, sifat keras masyarakat Madura sebenarnya berakar dari ketegasan dan
keberanian dalam mempertahankan prinsip hidup. Jika dipahami secara objektif, sifat ini justru
mencerminkan konsistensi mereka dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kehormatan dan
kebenaran. Oleh karena itu, penting untuk melihat karakteristik sosial masyarakat Madura
secara utuh, bukan hanya dari sisi negatif yang sering disorot.
Dari keseluruhan uraian tersebut, dapat dipahami bahwa karakteristik sosial masyarakat
Madura mencakup berbagai aspek yang saling melengkapi. Kehormatan, solidaritas,
religiusitas, peran kiai, keberanian, kerja keras, dan budaya merantau adalah elemen-elemen
yang membentuk identitas sosial mereka. Karakteristik ini tidak hanya berlaku di Madura,
tetapi juga terbawa ke manapun orang Madura berada. Mereka tetap menjaga nilai-nilai