JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 43-50
E-ISSN: 3031-2957
43
Eka Ratnawati et.al (Pemikiran Pendidikan K. H. Ahmad Dahlan.)
Pemikiran Pendidikan K. H. Ahmad Dahlan dan
relevansinya dengan dunia pendidikan modern
Eka Ratnawati
a,1
, Hendratno
b,2
, Nurul Istiqfaroh
c,3
a, b, c
Universitas Negeri Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
*1
eka.23004@mhs.unesa.id,
2
hendratno@unesa.ac.id,
3
nurulistiqfaroh@unesa.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 4 Juni 2023
Direvisi: 17 Agustus
Disetujui: 20 Oktober 2023
Tersedia Daring: 1 November
2023
Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri hakikat pemikiran
pendidikan K. H. Ahmad Dahlan dan relevansinya dengan dunia
pendidikan modern sebagai seorang pelopor pendidikan. Jenis
penelitian ini yaitu penelitian kualitatif yang berbentuk library research
(penelitian pustaka). Teknik pengumpulannya yaitu dengan
dokumentasi, analisis dokumen. Teknik analisis data deskriptif
verifikatif dan penarikan kesimpulan. Adapun hasil dari penelitian ini
adalah pemikiran pendidikan K. H. Ahmad Dahlan memadukan materi
pengetahuan agama dan pengetahuan umum. Pertukaran guru, long life
long education, kompetensi guru, program guru pembelajar.
Kompetensi sosial, kepemimpinan, kompetensi sosial terbuka
kosmopolit.
Kata Kunci:
K. H. Ahmad Dahlan
Pendidikan Modern
Inovasi Pendidikan
ABSTRACT
Keywords:
K. H. Ahmad Dahlan
Modern Education
Education Innovation
This study aims to explore the insight essence of K. H. Ahmad Dahlan
and its relevance to the world of modern education as a pioneer of
education. The research was qualitatif approach in the form of library
research. The collection technique is by documentation, document
analysis. The technique of analyzing descriptive data is verification and
drawing conclusions. The results of this study are the educational
thinking of K. H. Ahmad Dahlan combines religious knowledge and
general knowledge. Teacher exchange, long life long education, teacher
competence, teacher learning program. Social competence, leadership,
cosmopolitan open social competence.
©2023, Eka Ratnawati, Hendratno, Nurul Istiq’faroh
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Perubahan dalam kehidupan merupakan suatu keniscayaan yang begitu susah dihindari.
Padahal dalam perubahan hidup tersebut sejatinya terdapat banyak harapan yang bisa diraih.
Termasuk juga dengan kehidupan pendidikan di Indonesia, perubahan yang dilakukan
kebanyakan hanya atas dasar reaksi emosional sesaat atau hanya karena meniru sesuatu dari luar
yang sebenarnya tidak pas ukurannya dengan situasi dan kondisi pendidikan di Indonesia.
Kalau pun ada, baik perorangan maupun lembaga pendidikan yang jargonnya perubahan,
kemajuan atau yang lainnya. Akan tetapi lihat saja aksi yang dilakukannya tetap sama dengan
pendahulunya yang waktunya sudah terpaut lama, artinya yang dilakukan bukan aksi
pembaharuan tapi romantisme pada debu sejarah tanpa semangat untuk terus menyalakan api
semangat pembaharuan. Padahal banyak sekali dinamika-dinamika dalam dunia pendidikan yang
membutuhkan pembaharuan karena semakin besarnya tantangan globalisasi.
Adapun faktor pendidikan merupkan faktor yang teramat penting dalam membangun
peradaban bangsa. Sehingga dibalik bangsa yang sukses dan maju dilatarbelakangi oleh
pendidikan yang bagus juga. Tentunya pendidikan yang dimaksud yaitu pendidikan dengan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 43-50
E-ISSN: 3031-2957
44
Eka Ratnawati et.al (Pemikiran Pendidikan K. H. Ahmad Dahlan.)
proses yang amat sangat panjang sehingga dapat membangun peradaban bangsa yang gemilang.
Indonesia dalam membangun peradabannya dimulai dari pendidikan yang sangat panjang.
Tentunya dengan perjuangan seluruh rakyat dan dipengaruhi oleh para tokoh-tokoh nasional.
Adapun salah satunya yaitu Muhammad Darwis atau yang lebih dikenal dengan K.H. Ahmad
Dahlan. Beliau -rahimahullah- merupakan salah satu tokoh pendidikan Islam dibumi nusantara
dan merupakan pendiri organisasi Islam bernama organisasi Muhammadiyah. Konsep-konsep
K.H. Ahmad Dahlan mengenai pendidikan sangat revolusioner. Dia mengadakan modernisasi
dalam bidang pendidikan Islam, dari sistem pondok yang melulu diajar pelajaran pendidikan
agama Islam, dari sistem pondok yang melulu diajar secara perseorangan menjadi secara kelas
dan ditambah dengan pelajaran pengetahuan umum.
Untuk itu, penelitian ini diharapkan dapat mencerahkan kembali para pendidik untuk
kembali kedalam citacita Muhammadiyah yang sebenarnya. Sehingga dapat terwujudnya cita-
cita Muhammadiyah untuk bangsa Indonesia yang diberkahi oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
KH. Ahmad Dahlan merupakan seorang pendidik yang benar-benar berjiwa pendidik.
Dalam hal ini sejarah membuktikan bahwa KH. Ahmad Dahlan merupakan tokoh yang sangat
konsisten dengan semangat dan aksi pembaharuan. Oleh karena itu, sangat tepat untuk digali
pokok-pokok pemikirannya berkenaan pembaharuan dalam bidang pendidikan Islam.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang berbentuk library research (penelitian
Pustaka). Jenis penelitian deskriptif verifikatif. Teknik pengumpulan data yaitu dengan
dokumentasi, analisis dokumen. Teknik analisis data yaitu deskriptif verifikatif dan penarikan
kesimpulan. Penelitian ini dilaksanakan untuk menggambarkan dan menjelaskan konsep
pendidikan K.H. Ahmad Dahlan dan relevansinya dengan pendidikan modern.
3. Hasil dan Pembahasan
Biografi Kehidupan K. H. Ahmad Dahlan
Darah intelektual keulamaan mengalir deras pada diri KH. Ahmad Dahlan, berikut
kami uraikan secara singkat riwayat keluarga beliau. KH. Ahmad Dahlan lahir di Kauman,
Yogyakarta pada tanggal 1 Agustus 1868 dengan nama kecil Muhammad Darwis. Ibunya
bernama Siti Aminah binti KH. Ibrahim, seorang penghulu besar Yogyakarta. Sementara
silsilah nasab ayahnya bersambung ke tokoh Walisongo yaitu Maulana Malik Ibrahim dalam
urutan ke-12, yaitu KH. Ahmad Dahlan bin KH. Abu Bakar bin KH. Muhammad Sulaiman
bin K. Murtadha bin K. Ilyas bin Demang Djurung Djuru Kapindo bin Demang Djurung
Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribing (Djatinom) bin Maulana Muhammad
Fadlullah (Sunan Prapen) bin Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq bin
Maulana Malik Ibrahim.
Riwayat Pendidikan K. H. Ahmad Dahlan
Semenjak kecil beliau mengawali pendidikannya dengan belajar Al-Qur’an kepada
ayahnya. Setelah tamat beliau meneruskan pendidikannya dengan belajar berbagai
konsentrasi keilmuan kepada beberapa orang kyai baik yang berada di dalam maupun di luar
negeri. Di dalam negeri beliau belajar fiqh pada KH. Muhammad Shaleh, belajar nahwu
kepada KH. Muhsin, berguru ilmu hadis pada K. Mahfudh Termas dan Syaikh Khayat,
belajar Qiraah pada Syaikh Amien dan Sayyid Bakri Syatha, belajar falaq kepada KH. Dahlan
Semarang, dan belajar ilmu racun binatang kepada Syaikh Hasan. Sementara itu, pengalaman
juga beliau dapatkan selama menunaikan ibadah haji pada tahun 1889 dan 1903. Saat berhaji
beliau belajar fiqh kepada Syaikh Salaf Bafadal, Syaikh Sa’id Yamani, serta Syaikh Sa’id
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 43-50
E-ISSN: 3031-2957
45
Eka Ratnawati et.al (Pemikiran Pendidikan K. H. Ahmad Dahlan.)
Babusyel. Belajar ilmu hadis pada Mufti Syafi’i, dan belajar ilmu qira’at pada Syaikh Ali
Misri Makkah.
Dari penjabaran tersebut jelas bahwa beliau tidak punya pengalaman pendidikan
Barat, tapi beliau tetap memberi ruang bagi gerbang rasionalitas dalam ajaran Islam.
Semangat rasionalitas ini tidak bisa lepas dari pengaruh gerakan pembaharuan yang dipahami
sebagai pikiran, aliran, gerakan dan usaha “mengubah” ajaran-ajaran yang terdapat dalam
agama untuk disesuaikan dengan konteks baru yang ditimbulkan oleh kemajuan iptek.6
Gerakan ini berlangsung di Timur Tengah dengan diprakarsai oleh Djamaluddin Al-
Afghanni, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Juga dipengaruhi konten bacaan yang
dimuat dalam tafsir Al-Manar milik perpustakaan Jami’at Khair yang diperoleh dari hasil
penyelundupan di pelabuhan Tuban, Jawa Timur.
Taraf Pendidikan Masyarakat Sekitar K. H. Ahmad Dahlan
Berbicara mengenai taraf pendidikan masyarakat yang melingkupi perjalanan hidup
KH. Ahmad Dahlan terdapat dua hal yang cukup serius untuk dicermati. Berkenaan dengan
akses pedidikan. Kebijakan politik etis atau balas budi yang dilaksanakan pemerintah kolonial
pada dekade pertama abad XX memang terfokuskan pada bidang pendidikan. Akan tetapi,
kesempatan untuk mengakses pendidikan secara merata hanya dibatasi pada jenjang
pendidikan rendah saja, sementara pendidikan menengah dan tinggi masih terbatas
diperuntukkan bagi kelompok elit pribumi saja. Kebijakan ini ditetapkan dengan
dikeluarkannya UU Pendidikan Bumiputera pertama pada tanggal 3 Mei 1871 yang
menyatakan sasaran pendidikan itu adalah aan de kinderen van inlandsche hoofdrn, alsmede
verdere inlandsche bevolking.Lulusannya pun hanya dijadikan sebagai birokrat pribumi
antek-antek Belanda. Berkenaan dengan konten pendidikan. Terdapat dikotomi keilmuan,
lembaga pendidikan pemerintah hanya mengajarkan “ilmu umum” saja dan pesantren hanya
“ilmu agama” saja. Dalam intern Islam ilmu praktis seperti ekonomi, politik, kebudayaan,
pertanian dan sejenisnya dianggap bukan “ilmu agama”, tapi “ilmu kafir”. Oleh karena itu,
kesimpulannya bahwa pendidikan yang ada belum seutuhnya memenuhi kebutuhan hidup
sehari-hari.
Kehidupan Keagamaan Masyarakat Sekitar K. H. Ahmad Dahlan
Jauh sebelum kelahiran KH. Ahmad Dahlan keadaan umat Islam Indonesia sudah
kental dengan Islam sinkretis. Sekalipun tidak bisa dipungkiri bahwa peningkatan jumlah
penganut Islam karena hasil dari proses akulturasi antara Islam dan budaya, akan tetapi efek
umat yang terkristalisasi dengan kebiasaan irasionalitas dari beberapa sisi sikap sinkretis akan
menurunkan kualitas umat Islam. Mereka terbiasa dipaksa tunduk patuh tanpa sikap kritis
sehingga mudah ditindas dan dijajah karena tidak punya semangat untuk kebebasan.
Situasi Politik Masa K. H. Ahmad Dahlan
Situasi politik masa perjuangan pembaharuan KH. Ahmad Dahlan berada pada fase
ketika dunia Islam yang direpresentasikan oleh kekuasaan imperium Turki Usmani
mengalami goncangan dan kondisi nusantara sedang dalam keadaan dicengkram
pemerintahan kolonialisme Hindia Belanda yang sangat diskriminatif terhadap umat Islam.
Struktur yuridis formal masyarakat kolonialis secara tegas membedakan kelompok
masyarakat berdasarkan suku bangsa. Dalam stratifikasi kolonial, masayarakat pribumi yang
notabene kebayakan adalah orang-orang Islam ditempatkan pada posisi yang paling rendah di
bawah orang Eropa, di bawah orang China, di bawah orang jepang, di bawah orang Arab, dan
bahkan di bawah orang India.Dalam melakukan usaha pembaharuan KH. Ahmad Dahlan
menggunakan organisasi Muhammadiyah sebagai sarananya. Persyarikatan ini didirikan KH.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 43-50
E-ISSN: 3031-2957
46
Eka Ratnawati et.al (Pemikiran Pendidikan K. H. Ahmad Dahlan.)
Ahmad Dahlan pada 18 November 1912 atau 8 Dzulhijjah 1330 dan resmi keluar badan
hukumnya pada tahun 1914 saat dimulainya perang dunia I. Perang dunia I diikuti oleh blok
sekutu (Inggris, Perancis dan Rusia) dan blok poros (Jerman, Austria dan Hongaria).
Sementara Belanda sebagai pemerintah kolonial di Indonesia bersikap netral. Namun
belakangan Ratu Wilhelmia menunjukkan sikap tidak senang dengan Inggris. Investasi bisnis
Jerman yang sangat besar di Belanda memaksa Inggris memblokade pelabuhan Belanda
untuk melemahkan kekuatan blok poros. Akibatnya Belanda merugi karena kapal dagangnya
banyak yang terkena torpedo.Selanjutnya keadaan dunia menjadi kacau, pengangguran
meningkat, pabrik-pabrik ditutup, pasar dunia terpuruk, bahkan terjadi kelangkaan pangan.
Akibatnya, Turki Usmani yang awalnya netralpun kemudian juga berubah sikap bergabung
ke blok poros. Keadaan demikian membuat Inggris berkesempatan untuk meruntuhkan dinasti
pemegang jabatan khalifah itu sekaligus merebut tanahnya. Kampanye anti Turki meluas,
Inggris pun mendapat banyak sekutu seperti Ibnu Saud di Najd bersama kaum Wahabinya,
kaum pembaharu sekuler Turki Muda, Syarif Husein di Hijaz dan Zionis Zahudi. Meskipun di
antara mereka kepentingannya saling berseberangan tapi semua sama dalam hal melawan
Turki Usmani dengan harapan bisa menguasai tanahnya.
Kondisi Perekonomian Masa K. H. Ahmad Dahlan
Pada masa KH. Ahmad Dahlan diberlakukan kebijakan ekonomi liberal yang sudah
lama berlangsung sejak tahun 1870. Adanya kebijakan ini memberikan kesempatan pada
pemerintah kolonial sekaligus pihak swasta asing untuk mengeksploitasi sumber-sumber
ekonomi Indonesia. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebijakan tersebut membuahkan hasil
peningkatan infrastruktur dan kesempatan ekonomi baru yang tentunya mempunyai dampak
positif terhadap penduduk pribumi. Tapi di sisi lain tekanan ekonomi juga semakin berat
akibat kenaikan biaya hidup, penarikan pajak tunai, nilai pendapatan riel yang rendah,
maupun petani yang teralienasi dari tanah sebagi faktor produksi utamanya sehingga
kehidupan masyarakat pribumi semakin sengsara di banyak tempat.
Pemikiran-pemikiran K. H. Ahmad Dahlan
Bagi Ahmad Dahlan, pembaruan dalam Islam yaitu merealisasikan ajaran Islam dalam
praktek kehidupan sosial. Kemudian KH. Ahmad Dahlan meletakkan dasar pemikirannya
digerakan Muhammadiyah yaitu semangat tarjih dan tajdid (pembaruan). Pergerakan
Muhammadiyah dalam lintasan satu abad merupakan perwujudan dari pembaruan (tajdid)
Kyai Ahmad Dahlan. Ahmad Dahlan melakukan pembacaan gejala sosial di tengah
masyarakat. Tarjih yaitu suatu pendekatan dalam pemberian fatwa terhadap masalah-masalah
yang berkaitan erat dengan akidah Islamiyah, ibadah, dan mu’amalah. “Ijtihad” Petani:
Pribumisasi Islam Murni. Ijtihad merupakan pembaruan, yang beriorentasi pada kemajuan,
peradaban. Bagi Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah, memajukan peradaban langkah
awalnya memberantas bid’ah dalam akidah, misalnya ketergantungan masyarakat awalnya
pada supranatural utamanya dalam masyarakat petani. Demikian akan menghambat
kemajuan.
Watak dasar pemikiran Ahmad Dahlan dalam Muhammadiyah sebagai gerakan
pembaru atau pemurnian ajaran Islam. Mempelopori pemberantasan TBKh (Takhayul,
Bid’ah, dan Khurafat), mempelopori pendidikan Islam modern melalui bangku sekolah.
Pertama kali memperkenalkan khutbah jumat dalam Bahasa Indonesia, ied di lapangan
terbuka, dan pemakaian Bahasa Indonesia dalam rapat-rapatnya.
Melihat keadaan yang serba memperihatinkan seperti penulis uraikan di atas, KH.
Ahmad Dahlan terpanggil untuk mengatasinya dengan jalan mengangkat sisi profetik Islam
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 43-50
E-ISSN: 3031-2957
47
Eka Ratnawati et.al (Pemikiran Pendidikan K. H. Ahmad Dahlan.)
berupa langkah ijtihad. Berikut adalah ijtihad-ijtihad beliau yang di dalamnya terkandung
semangat pemikiranpemikiran pembaharuan.
Analisis Relevansi Pemikian K. H. Ahmad Dahlan bagi Pendidikan Modern
Berbicara dalam konteks dunia pendidikan modern Indonesia tidak bisa lepas dari topik
tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Karena hanya dengan memenuhi kriteria-kriteria
dalam SNP inilah suatu lembaga pendidikan tidak dikatakan abal-abal. Oleh karena itu, SNP
dijadikan pisau dalam menganalisis relevansi pemikiran-pemikiran KH. Ahmad Dahlan bagi
dunia pendidikan modern.
Pada era modern umat islam khususnya yang sedang dalam masa pembelajaran di
sekolah ataupun juga di perguruan tinggi (baik pesantren ataupun sekolah formal lainnya)
berupaya menghadapi sebuah tantangan zaman yang mengharuskan siapapun harus melek
dan bisa menggunakan teknologi digital. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam pun juga
mengalami perubahan yang tak bisa dihindarkan. Namun tantangan perubahan dan
perkembangan zaman inilah yang menjadikan pembelajaran terdahap Pendidikan Agama
Islam berkembang dan mengalami pembaruan (tajdid). Pemikiran atau perspektif K.H.
Ahmad Dahlan dalam kaitannya dengan perubahan dan perkembangan zaman ini masih
sangat relevan dan mempunyai pengaruh yang masih bisa diterapkan pada pendidikan agama
Islam di era modern.
Pada tajdid (pembaharuan) pendidikan harus mengembangkan dan menerapkan
kontekstualisasi konsep pendidikan yang sudah ada, dengan mengembangkanya sesuai degan
kemajuan zaman dan tekonlogi yang ada. Namun konsep ini tidak keluar dari landasan dasar
(filosofis) pendidika itu sendiri. Maksudnya adalah, dalam pembelajaran para siswa/ murid
dan juga guru dituntut untuk lebih bisa memanfaatkan teknologi yang ada, namun di sini juga
harus digaris bawahi bahwa pendidikan yang dikerjakan tidak keluar dari landasan dasar
pendidikan itu sendiri.
Pemanfaatan teknologi digital ini digunakan untuk membantu proses pembelajaran
yang ada. Pemanfaatan tekonologi ini bisa berupa pengajaran atau dakwah dengan media
digital yang ada tetapi dengan mengedepankan kesantunan, kebermanfaatan, dan juga
keilmuan keislaman yang sesuai dengan Al-Quran dan Hadist. Konsepsi dari K.H Ahmad
Dahlan masih sangat relevan digunakan pada era sekarang di mana kebebasan dalam hal
keilmuan dan teknologi semakin nyata adanya. Pendidikan agama Islam pada era ini haruslah
bersifat terbuka, namun juga harus memeperhatikan kebaikan moral, kemanusiaan, dan juga
tidak terlepas dari keyakinan tauhid yang harus dibangun.
Di era modern setiap orang semakin menggila dengan adanya teknologi yang
memudahkan mereka untuk mengakses apa saja. Kaitannya dengan pendidikan akhlak ini
adalah bahwa setiap muslim selain mengikuti perkembangan yang ada, juga tidak boleh
meminggirkan pendidikan akhlak. Karena sejatinya orang muslim harus tahu bahwa pada
dasarnya Nabi Muhammad diutus ke dunia adalah untuk menyempurnakan akhlak dan
membuat tatanan kehidupan manusia menjadi baik dan beradab. K.H. Ahmad Dahlan sejak
awal mengembangkan pendidikan, dalam pendidikannya mempunyai konsep pendidikan yang
berelevansi dengan lingkungan kehidupan. Konsep ini melahirkan prinsip ilmu amaliah, amal
ilmiah. Jadi, ilmu akan bermanfaat ketika diamalkan untuk kepentingan masyarakat banyak.
Adapun implementasi ilmu amaliah dan amal ilmiah saat berupa proses KBM. Di dalam
pembelajaran, guru memberikan dasar-dasar amalan bernilai ibadah yang sesuai dengan
hadits atau sunnah. Sehingga para peserta didik saat melakukan ibadah dapat mengerti dasar
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 43-50
E-ISSN: 3031-2957
48
Eka Ratnawati et.al (Pemikiran Pendidikan K. H. Ahmad Dahlan.)
hukumnya. Hal-hal seperti ini yang dapat diberikan kepada peserta didik untuk dapat
mengamalkan apa yang sesuai dengan yag seharusnya.
Ahmad Dahlan menginginkan dan mendorong kaum muslimin untuk mengembangkan
wawasan lebih luas. Ia menyarankan mereka untuk mempelajari agama-agama dan ide-ide
orang lain. Ia yakin bahwa kebenaran berdasarkan wawasan yang lebih luas ini akan
memberikan dukungan yang lebih besar bagi implementasi agama dalam kehidupan
seseorang (Jainuri, 2002: 45). Bagi Ahmad Dahlan, untuk mencari kebenaran, orang tidak
boleh merasa benar sendiri. Oleh karena itu, orang harus berani berdialog dan diskusi dengan
semua pihak, walaupun dengan orang atau golongan yang bertentangan dan berbeda pendapat
(Mulkan 2010, 11).
Dengan sifat yang terbuka ini menjadikan Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah menjadi
rujukan kelompok Nasionalis ataupun komunis untuk menuangkan gagasan-gagasan mereka
tentang kemerdekaan Indonesia. Sifat terbuka ini tercermin dari kesediaan Ahmad Dahlan
menerima tawaran pemimpin Indische Social Democratische Party (ISDV) (Raharjo 1999,
234) untuk berbicara di hadapan Aisyiyah, sebuah organisasi perempuan di bawah
Muhammadiyah Walaupun keputusan ini banyak mendapat protes dari para anggota
Muhammadiyah, tetapi bagi Ahmad Dahlan, pertemuan itu merupakan pembelajaran bagi
kader-kader Muhammadiyah dalam menerima gagasan orang lain. Kenyataannya, sambutan
kader-kader Muhammadiyah dalam memandang komunisme patut disimak. Mereka
mengatakan, “Ideologi Islam merupakan pilihan yang lebih baik bagi perjuangan
kemerdekaan dibandingkan komunisme.”Hadirnya pernyataan ini adalah hasil kerja dan
pemikiran Ahmad Dahlan dalam menerima dan membuka pintu organisasinya terhadap dunia
luar, terutama organisasi yang pro-kemerdekaan. Bahkan salah seorang anggota
Muhammadiyah yang paling cemerlang,
Fahruddin (lahir 1889) menjadi wartawan di koran terbitan ISDV, yaitu Islam Bergerak.
Koran ini diasuh oleh Haji Misbach, seorang Muslim-Komunis (Alfian 2010, 200).
Perjumpaan Ahmad Dahlan dengan pemimpin Sarekat Islam (SI) terutama dengan jajaran
pimpinan pusat SI juga menjadi pemicu rasa nasionalisme Ahmad Dahlan. Walaupun dia
telah mendirikan Muhammadiyah (1912), tahun 1914-1917 ia tetap menjadi penasehat SI.
Sehingga ide-ide nasionalisme untuk mencapai kemerdekaan Indonesia mulai bersemi
Kutipan
Sekilas, pemikiran Ahmad Dahlan mirip dengan Paulo Freire dalam bukunya
Pendidikan Kaum Tertindas. Kesamaannya terletak pada, pertama, konsep pendidikan
kontekstual dan aplikatif yang melatih pembelajar untuk membaca teks agar dapat menjawab
persoalan yang dihadapi. Kedua, proses belajar dua arah yang melibatkan partisipasi murid
pembelajar untuk mengasah kemampuan berpikir. Ketiga, cita-cita pendidikan ditujukan bagi
pembebasan manusia dari ketertindasan baik ekonomi, sosial dan politik. Perbedaannya ialah,
Ahmad Dahlan memadukan pendidikan keagamaan dengan pengetahuan umum. Agama
menjadi landasan kuat bagi pendidikan yang diterapkan Ahmad Dahlan. Hal tersebut
dilakukan untuk menyempurnakan relasi antara manusia dengan Tuhannya, dan manusia
dengan alam semesta. Ilmu pengetahuan menjadi penyeimbang antara relasi tersebut.
Pendidikan yang diterapkan Ahmad Dahlan telah memerdekakan umat dari perilaku
menyimpang. Pendidikan juga telah memerdekakan umat dari kungkungan penjajah dan dari
kebodohan. Pendidikan itulah yang menjadi benih atas rimbun dan rindangnya gerakan
Muhammadiyah hingga saat ini.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 43-50
E-ISSN: 3031-2957
49
Eka Ratnawati et.al (Pemikiran Pendidikan K. H. Ahmad Dahlan.)
4. Kesimpulan
Pemikiran dan gerakan K.H. Ahmad Dahlan dalam Organisasi Muhammadiyah
cenderung berbeda dari gerakan Islam lain, baik di dalam negeri begitu pun di negara lain di
zamannya. K.H. Ahmad Dahlan bergerak dan berdakwah melalui pendidikan, kegiatan sosial,
dan kesehatan. Berbicara dalam konteks dunia pendidikan modern Indonesia tidak bisa lepas
dari topik tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Karena hanya dengan memenuhi
kriteriakriteria dalam SNP inilah suatu lembaga pendidikan dikatakan berkualitas. Oleh
karena itu, SNP dijadikan pisau analisis dalam menganalisis relevansi pemikiranpemikiran
KH. Ahmad Dahlan bagi dunia pendidikan modern.
Dari penjabaran tersebut jelas bahwa beliau tidak punya pengalaman pendidikan Barat,
tapi beliau tetap memberi ruang bagi gerbang rasionalitas dalam ajaran Islam. Semangat
rasionalitas ini tidak bisa lepas dari pengaruh gerakan pembaharuan yang dipahami sebagai
pikiran, aliran, gerakan dan usaha “mengubah” ajaran-ajaran yang terdapat dalam agama
untuk disesuaikan dengan konteks baru yang ditimbulkan oleh kemajuan iptek.
5. Ucapan Terima Kasih
Saya menyadari bahwa tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, cukup sulit bagi
saya untuk menyelesaikan jurnal ini. Oleh sebab itu saya mengucapkan terima kasih kepada:
a. Bpk. Hendratno selaku Dosen Teori Belajar Prodi S2 Pendidikan Dasar Fakultas ilmu
Pendidikan.
b. Ibu Nurul Istiq’faroh selaku selaku Dosen Teori Belajar Prodi S2 Pendidikan Dasar
Fakultas ilmu Pendidikan.
Yang telah memberikan bimbingan, arahan, dukungan serta masukan kepada penulis.
6. Daftar Pustaka
A Muttaqin - 2017 - etheses.uin-malang.ac.id-Pemikiran Pembaharuan Pendidikan Islam: Studi
Komparasi Atas Pemikiran KH. Hasyim Asy'ari dan KH. Ahmad Dahlan,
Implementasinya dalam Pendidikan Islam di Era Global. Diakses http://etheses.uin-
malang.ac.id/10533/
F Ahmad - Profetika: Jurnal Studi Islam, 2015 - journals.ums.ac.id-Pemikiran KH Ahmad
Dahlan tentang pendidikan dan implementasinya di SMP Muhammadiyah 6 Yogyakarta
tahun 2014/2015. Diakses
https://journals.ums.ac.id/index.php/profetika/article/view/1854/1303
Fida Yanti, W., Hendratno, H., & Istiq’faroh, N. (2023). Analisis Implementasi Teori Ki Hajar
Dewantara: Mengungkap Praktik-Praktik Pendidikan Inovatif Di Sekolah Dasar. Jurnal
Ilmu Sosial Dan Budaya Indonesia (JISBI), 1(1), 28-35.
https://kurniajurnal.com/index.php/jisbi/article/view/41
I Setiawan - Hayula: Indonesian Journal of Multidisciplinary Islamic …, 2018 -
journal.unj.ac.id-Islam dan Nasionalisme: Pandangan Pembaharu Pendidikan Islam
Ahmad Dahlan dan Abdulwahab Khasbullah. Diakses
https://journal.unj.ac.id/unj/index.php/hayula/article/view/4343
Jadidah, I. T., Lestari , U. M., Smanah Fatiha, K. A., Riyani, R., Neli, & Wulandari, C. A.
(2023). Analisis maraknya judi online di Masyarakat. Jurnal Ilmu Sosial Dan Budaya
Indonesia (JISBI), 1(1), 20-27. https://kurniajurnal.com/index.php/jisbi/article/view/28
M Ali, SA Kuntoro, S Sutrisno - Jurnal Pembangunan Pendidikan …, 2016 - journal.uny.ac.id-
Pendidikan Berkemajuan: Refleksi Praksis Pendidikan KH Ahmad Dahlan. Diakses
https://journal.uny.ac.id/index.php/jppfa/article/view/7821
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2023, page: 43-50
E-ISSN: 3031-2957
50
Eka Ratnawati et.al (Pemikiran Pendidikan K. H. Ahmad Dahlan.)
M Fidri, M Tahir - JURNAL TA'LIMUNA, 2022 - e-journal.institutabdullahsaid.ac.id-
PEMIKIRAN AHMAD DAHLAN TERHADAP PENDIDIKAN. Diakses https://e-
journal.institutabdullahsaid.ac.id/index.php/jurnal-ta-limuna/article/view/136
M Hamsah, N Nurchamidah… - Risâlah, Jurnal …, 2021 - jurnal.faiunwir.ac.id-Pemikiran
Pendidikan Kh Ahmad Dahlan Dan Relevansinya Dengan Dunia Pendidikan Modern.
Diakkses http://www.jurnal.faiunwir.ac.id/index.php/Jurnal_Risalah/article/view/198/162
Mardiyanti, L. R., Ramadhan, I., & Kurnia, H. (2023). Profil melayu Sambas dalam konteks
asal-usul, tradisi dan budaya di Kalimantan Barat. Jurnal Ilmu Sosial Dan Budaya
Indonesia (JISBI), 1(1), 1-9. https://kurniajurnal.com/index.php/jisbi/article/view/16
Oktaviani, D., & Kurnia, H. (2023). Suku Dayak: Mengenal Tradisi Adat dan Kehidupan
Masyarakatnya. Jurnal Ilmu Sosial Dan Budaya Indonesia (JISBI), 1(1), 10-19.
https://kurniajurnal.com/index.php/jisbi/article/view/22
R Wijayati, MD Habibi - IQ (Ilmu Al-qur'an): Jurnal Pendidikan Islam, 2021 -
journal.ptiq.ac.id-Perbandingan Pendidikan Islam Menurut Perspektif KH. Ahmad
Dahlan dan KH. Hasyim Asy'Ari.diakses
https://journal.ptiq.ac.id/index.php/iq/article/view/234
Widyalistyorini, D., Istiq’faroh, N., & Hendratno, H. (2023). Implementasi Teori Pendidikan
Ki Hajar Dewantara: Tinjauan Praktik Pembelajaran dan Dampaknya pada Peningkatan
Kualitas Pendidikan Dasar. Jurnal Ilmu Sosial Dan Budaya Indonesia (JISBI), 1(1), 36-
43. https://kurniajurnal.com/index.php/jisbi/article/view/46