JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 158-165
E-ISSN: 3031-2957
158
Novrinda Gatri Kirana et.al (Motivasi Belajar Anak dalam....)
Motivasi Belajar Anak dalam Konteks Kehidupan
Pedesaan: Studi Kualitatif di MI Tarbhiyatus Sibyan
Desa Jelun
Novrinda Gatri Kirana
a,1*
, Khalid Syaifullah
b,2
, Ahmad Ridwan
c,3
, M. Jacky
d,4
a,b,c,d
University of Surabaya, Jl. Ketintang Wiyata, Ketintang, Kec. Gayungan, Surabaya 60231, Indonesia
1*
24040564123@mhs.unesa.ac.id;
2
khalidsyaifullah@unesa.ac.id;
3
ahmadridwan@unesa.ac.id,
4
jacky@unesa.ac.id
*
24040564123@mhs.unesa.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 21 Juni 2025
Direvisi: 14 Agustus 2025
Disetujui: 15 Oktober 2025
Tersedia Daring: 1 November
2025
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi motivasi belajar siswa di
Madrasah Ibtidaiyah Tarbhiyatus Sibyan yang terletak di Desa Jelun,
Kabupaten Banyuwangi, dengan cara meninjau pengaruh latar belakang
keluarga serta lingkungan sosial terhadap cara pandang mereka terhadap
pendidikan dan masa depan. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan
adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang melibatkan observasi
partisipatif dan interaksi langsung selama proses pengajaran. Hasil dari
penelitian menunjukkan bahwa motivasi belajar anak-anak dipengaruhi oleh
kebiasaan keluarga, kestabilan emosional, dan adanya modal sosial yang ada
dalam kehidupan sehari-hari mereka. Anak-anak yang berasal dari keluarga
dengan dukungan pendidikan yang kuat umumnya memiliki pandangan masa
depan yang jelas, sementara anak-anak dari keluarga yang tidak harmonis
atau kurang stabil cenderung menunjukkan ketidakpedulian terhadap
sekolah dan lebih memilih untuk bekerja setelah menyelesaikan pendidikan
di MI. Selain itu, penelitian juga menemukan adanya pembentukan identitas
yang tidak sepenuhnya autentik pada sejumlah siswa sebagai bentuk
kompensasi psikologis yang muncul akibat kurangnya perhatian dari orang
tua. Analisis ini didukung oleh teori habitus yang dikemukakan oleh Pierre
Bourdieu serta teori ekologi dari Bronfenbrenner, yang menjelaskan bahwa
motivasi belajar tidak semata-mata muncul dari keinginan individu,
melainkan juga dipengaruhi oleh interaksi antara lingkungan keluarga,
sekolah, dan struktur sosial di desa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa
perbedaan dalam motivasi belajar siswa di MI Tarbhiyatus Sibyan sangat
berkaitan dengan kondisi sosial serta pengalaman hidup masing-masing
anak. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber rujukan bagi
pihak sekolah dan masyarakat untuk meningkatkan dukungan sosial serta
pendidikan bagi anak-anak di wilayah pedesaan.
Kata Kunci:
Habitus
Keluarga
Lingkungan Sosial
Motivasi Belajar
Siswa MI
ABSTRACT
Keywords:
Habitus
Family
Learning Motivation
Rural Student
Social Environment
This study aims to understand the learning motivation of children at Madrasah
Ibtidaiyah Tarbhiyatus Sibyan in Jelun Village, Banyuwangi Regency, by
examining how family background and social environment shape their
perspectives on education and the future. The study employs a qualitative method
with a case study approach, utilizing participatory observation and direct
conversations during teaching activities. The findings indicate that children's
learning motivation is influenced by family habitus, emotional stability, and the
social capital available in their daily lives. Children from families with strong
educational support tend to have a clear future orientation, while children from
non-harmonious or less stable families often show apathetic attitudes toward
school and choose to work after graduating from the MI. In addition, the study
found the existence of a pseudo-identity construction in some students as a form
of psychological compensation due to the lack of parental involvement. This
analysis is reinforced by Pierre Bourdieu's habitus theory and Bronfenbrenner's
ecological theory, which show that learning motivation is not only born from
individual willingness but also from the relationship between the family
environment, school, and village social structures. This study concludes that
differences in children's learning motivation at MI Tarbhiyatus Sibyan are closely
related to each child's social conditions and life experiences. The results of this
study are expected to serve as a reference for schools and communities to
strengthen social and educational support for children in rural areas.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 158-165
E-ISSN: 3031-2957
159
Novrinda Gatri Kirana et.al (Motivasi Belajar Anak dalam....)
©2025, Novrinda Gatri Kirana, Khalid Syaifullah, Ahmad Ridwan, M. Jacky
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu aspek sosial yang memengaruhi cara anak membangun
pola pikir tentang dirinya dan masa depannya. Dalam konteks lingkungan pedesaan, kegiatan
belajar tidak sekadar dianggap sebagai proses akademis, tetapi juga sebagai bagian dari
interaksi sosial yang muncul dari keluarganya, sekolah, serta komunitas di mana anak tumbuh.
Fenomena ini dapat dilihat di Desa Jelun Kabupaten Banyuwangi, yang mana siswa-siswa
Madrasah Ibtidaiyah Tarbhiyatus Sibyan memiliki latar belakang keluarga yang sangat
beragam. Beberapa dari mereka berasal dari keluarga dengan pendidikan yang baik, sementara
banyak anak lain tumbuh dalam keluarga yang tidak harmonis atau menghadapi kesulitan
finansial. Situasi ini menciptakan perbedaan yang jelas dalam motivasi belajar di antara para
siswa.
Dalam perspektif sosiologi pendidikan, motivasi untuk belajar tidak hanya muncul dari
keinginan individu, melainkan merupakan bagian dari proses internalisasi habitus yang
dibentuk oleh pengalaman hidup. Bourdieu memaparkan bahwa habitus adalah sebuah struktur
mental yang terbentuk dari kondisi objektif seseorang, seperti pola asuh, stabilitas keluarga,
serta akses terhadap berbagai modal sosial dan budaya yang ada dalam kehidupan sehari-
harinya. Modal-modal ini berperan dalam cara pandang anak terhadap sekolah dan
memengaruhi apa yang mereka anggap dapat dicapai di masa depan. Penemuan awal di MI
Tarbhiyatus Sibyan menunjukkan hal yang serupa, di mana anak-anak yang mendapatkan
dukungan dari keluarga yang stabil memiliki tujuan pendidikan yang lebih jelas, sementara
anak-anak dari keluarga yang kurang mendukung cenderung memiliki pandangan yang
terbatas terhadap masa depan mereka.
Berbagai studi yang telah dilakukan sebelumnya menunjukkan bahwa latar belakang
keluarga memberikan dampak signifikan terhadap motivasi dan pencapaian belajar. Coleman
mengemukakan bahwa hubungan sosial yang lemah dalam keluarga dapat mengurangi
perhatian anak terhadap pendidikan, disebabkan oleh minimnya modal sosial yang bisa mereka
manfaatkan dalam proses belajar (Coleman, 1988). Penelitian lain mencatat bahwa anak-anak
yang berasal dari keluarga yang mengalami stres ekonomi atau ketidakstabilan emosional
cenderung memiliki minat terhadap belajar yang rendah dan visi masa depan yang sempit.
Namun, sebagian besar penelitian tersebut berfokus pada daerah perkotaan atau institusi
pendidikan formal yang lebih stabil, sehingga kajian mengenai konteks pedesaan seperti di
Desa Jelun masih jarang dilakukan secara mendalam.
Oleh karena itu, terdapat kekurangan dalam penelitian yang memahami cara anak-anak
desa memaknai motivasi belajar berdasarkan pengalaman sehari-hari mereka. Penelitian
sebelumnya belum banyak membahas bagaimana anak-anak membangun visi masa depan di
tengah terbatasnya modal sosial dan kultural yang mereka miliki. Sebab, setiap anak
membawa kisah hidup yang mempengaruhi cara pandang mereka terhadap sekolah. Contoh
nyata dari hal ini adalah siswa yang menciptakan identitas semu terkait kondisi keluarga
mereka, serta anak-anak yang memilih untuk bekerja setelah menyelesaikan MI tanpa
mempertimbangkan pendidikan lebih lanjut, yang memperlihatkan bagaimana faktor sosial
membentuk orientasi pendidikan mereka.
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam bagaimana faktor-
faktor latar belakang keluarga dan lingkungan sosial berkontribusi pada motivasi belajar anak-
anak di MI Tarbhiyatus Sibyan Desa Jelun. Penelitian berusaha memahami pengalaman
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 158-165
E-ISSN: 3031-2957
160
Novrinda Gatri Kirana et.al (Motivasi Belajar Anak dalam....)
pribadi para siswa saat menjalani proses pendidikan, bagaimana mereka memaknai
pengalaman di sekolah, dan bagaimana latar belakang keluarga berpengaruh terhadap proyeksi
masa depan yang mereka impikan. Selain itu, penelitian juga berupaya untuk mengamati
bagaimana struktur sosial desa berperan dalam membentuk kondisi pendidikan yang berbeda
antar siswa.
Sumbangan dari penelitian ini terletak pada pemahaman yang lebih baik tentang
hubungan antara habitus keluarga dan motivasi belajar di lingkungan sekolah dasar pedesaan.
Penelitian ini menawarkan pandangan bahwa motivasi belajar anak seharusnya tidak dipahami
sebagai masalah individual, melainkan sebagai hasil dari interaksi berbagai bentuk modal yang
mereka miliki. Dengan mengedepankan analisis menggunakan teori Bourdieu tentang habitus
serta modal-modal, diharapkan penelitian ini mampu memberikan gambaran yang lebih
menyeluruh mengenai pengalaman belajar anak-anak di daerah pedesaan dan membuka
peluang untuk intervensi pendidikan yang lebih sesuai dengan kondisi sosial mereka.
2. Metode
Penelitian ini mengadopsi pendekatan kualitatif dengan menggunakan studi kasus untuk
mengeksplorasi secara rinci pengalaman belajar yang dirasakan oleh siswa di Madrasah
Ibtidaiyah Tarbhiyatus Sibyan yang terletak di Desa Jelun. Metode tersebut dipilih karena
dapat membantu peneliti untuk mengamati secara langsung realitas sosial yang dialami oleh
anak-anak dalam interaksi sehari-hari, khususnya selama proses pembelajaran. Dalam konteks
penelitian kualitatif, peneliti berfungsi sebagai instrumen utama, sehingga pengalaman berada
di ruang kelas dan berkomunikasi secara langsung dengan siswa menjadi sumber data yang
sangat berharga.
Data yang diperlukan dalam penelitian ini dikumpulkan melalui tiga metode utama.
Pertama, observasi aktif dilakukan selama kegiatan pengajaran berlangsung. Melalui observasi
ini, peneliti mendapatkan peluang untuk mengamati perilaku belajar, reaksi siswa terhadap
materi, serta suasana kelas dalam keadaan yang lebih alami. Kedua, interaksi santai dengan
siswa dimanfaatkan sebagai metode wawancara informal yang mengikuti momen-momen
spontan, seperti saat siswa bersantai atau ketika peneliti mengunjungi rumah salah satu anak.
Metode percakapan informal dipilih agar siswa merasa lebih bebas untuk mengekspresikan
pengalaman mereka tanpa merasa tertekan. Ketiga, peneliti juga melaksanakan wawancara
singkat dengan kepala sekolah dan salah satu pengajar guna mendapatkan wawasan terkait latar
belakang keluarga siswa serta situasi sosial di desa tersebut.
Sumber informasi utama untuk kajian ini adalah siswa MI Tarbhiyatus Sibyan yang ditemui
saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, khususnya siswa yang menunjukkan beragam pola
motivasi belajar. Sumber data tambahan berasal dari para guru, kepala sekolah, dan informasi
dari masyarakat desa yang mengetahui situasi keluarga siswa tertentu. Metode analisis data
dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, serta penarikan
kesimpulan yang dilakukan secara berulang hingga data dianggap cukup. Analisis ini dilakukan
dengan memahami temuan di lapangan berdasarkan teori sosiologi pendidikan, terutama
mengenai konsep habitus dan modal dari Pierre Bourdieu. Proses ini memungkinkan peneliti
untuk memahami keterkaitan antara latar belakang keluarga, pengalaman emosional anak, serta
cara pandang mereka terhadap pendidikan dan masa depan mereka. Pendekatan ini dipilih
karena sejalan dengan tujuan penelitian untuk menggali secara mendalam motivasi belajar anak
melalui pengalaman pribadi mereka, bukan hanya melalui pengukuran kuantitatif. Metode
kualitatif memberikan kesempatan kepada peneliti untuk menangkap dinamika sosial yang
tidak selalu tampak dalam angka, tetapi sangat jelas melalui cerita, tindakan, dan sikap anak-
anak dalam keseharian mereka di sekolah.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 158-165
E-ISSN: 3031-2957
161
Novrinda Gatri Kirana et.al (Motivasi Belajar Anak dalam....)
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil Penelitian
Kondisi Kelas dan Respon Belajar Siswa
Observasi selama kegiatan pembelajaran menunjukkan adanya perbedaan yang sangat
mencolok di antara para siswa mengenai motivasi untuk belajar. Contohnya, dalam kelas
empat, sejumlah murid belum dapat membaca, namun mereka tidak menunjukkan minat yang
kuat untuk belajar. Saat dijelaskan, beberapa dari mereka memilih untuk bermain, bercanda,
atau meninggalkan kelas dengan santai seakan belajar tidaklah penting. Sikap ini lebih
menonjol pada siswa yang berasal dari keluarga dengan kondisi yang tidak stabil atau kurang
mendapat perhatian. Saat mengajarkan pelajaran bahasa Inggris, respons yang sama kembali
terjadi. Banyak siswa langsung menyatakan bahwa mereka merasa tidak akan mampu
memahami materi yang diajarkan. Pernyataan semacam itu mencerminkan rendahnya percaya
diri akademis yang sudah terbentuk sejak lama. Sikap menyerah ini bukan hanya sekadar
karena malas, tetapi merupakan hasil dari pengalaman hidup yang membentuk bagaimana
mereka memandang kemampuan diri mereka.
Arahan Pandangan Masa Depan Anak
Pada tingkat enam, hanya sebagian kecil dari murid yang bisa menunjukkan keinginan
untuk terus melanjutkan pendidikan. Ketika ditanyai tentang rencana mereka setelah
menyelesaikan sekolah, kebanyakan dari mereka menjawab ingin segera bekerja atau
mengikuti orang tua mereka ke luar kota. Respon ini terutama terlihat pada anak-anak yang
berasal dari latar belakang ekonomi yang kurang baik. Pandangan yang lebih pendek ini
menandakan bahwa mereka tidak melihat pendidikan sebagai sebuah investasi, melainkan
sebagai sesuatu yang tidak memberikan banyak dampak pada kehidupan mereka. Di kelas tiga,
terdapat seorang siswa yang menyatakan ingin mengikuti orang tuanya ke Bali untuk bekerja
setelah menyelesaikan MI. Usianya yang masih sangat muda membuat pernyataan ini terdengar
tidak biasa. Setelah dicek dengan pihak sekolah, terungkap bahwa anak ini tinggal bersama
neneknya karena kedua orang tuanya merantau sejak ia masih kecil. Kondisi keluarga tersebut
menjadi faktor penting yang memengaruhi cita-cita dan tujuan hidupnya.
Kasus Identitas Semu sebagai Mekanisme Bertahan
Salah satu temuan lapangan yang paling kuat muncul dari seorang siswa kelas lima yang
sering menceritakan bahwa ia memiliki Play Station lima, telepon genggam keluaran terbaru,
dan keluarga dengan pekerjaan mapan. Namun ketika peneliti berkunjung ke rumahnya,
kondisi rumahnya sangat sederhana. Cerita yang ia sampaikan ternyata tidak sesuai dengan
realitas. Dari informasi warga, diketahui bahwa anak ini tinggal bersama neneknya yang
mengalami gangguan kejiwaan, sementara orang tuanya tidak memberikan peran nyata. Cerita
cerita yang ia buat merupakan bentuk harapan, bukan kenyataan. Ini menunjukkan bahwa anak
membangun identitas semu untuk menutupi kekurangan dari kondisi keluarga. Hal ini memiliki
pengaruh terhadap motivasi belajarnya karena sekolah tidak menjadi ruang aspirasi, tetapi
menjadi ruang pelarian dari realitas.
Pembahasan
Pembahasan ini menafsirkan hasil penelitian dengan menggunakan teori sosiologi pendidikan
serta penelitian relevan.
Habitus Keluarga dan Pembentukan Pola Pikir Anak
Menurut Pierre Bourdieu, habitus adalah sistem disposisi yang terbentuk dari pengalaman
hidup dan lingkungan sosial seseorang. Habitus tidak bersifat bawaan tetapi dipelajari melalui
pola hidup keluarga dan struktur sosial tempat anak tumbuh. Pada konteks Desa Jelun, habitus
anak dibentuk melalui kehidupan pedesaan yang sederhana, pola kerja orang tua yang lebih
menekankan kebutuhan harian, dan kondisi keluarga yang tidak selalu stabil. Anak anak yang
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 158-165
E-ISSN: 3031-2957
162
Novrinda Gatri Kirana et.al (Motivasi Belajar Anak dalam....)
dibesarkan dalam keluarga dengan modal kultural dan modal sosial yang kuat cenderung
memiliki habitus yang lebih mendukung pendidikan. Mereka melihat sekolah sebagai ruang
mobilitas sosial. Sebaliknya, anak yang berasal dari keluarga yang rapuh memiliki habitus yang
membatasi cara mereka memandang masa depan. Sebagaimana ditulis Bourdieu dalam The
Forms of Capital, modal sosial dan modal kultural memengaruhi posisi seseorang dalam
struktur sosial karena modal modal tersebut membentuk peluang yang dianggap mungkin untuk
dicapai. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa anak langsung mengatakan bahwa mereka
tidak mungkin bisa belajar bahasa Inggris atau membaca dengan baik. Pernyataan itu
merupakan refleksi dari habitus yang telah tertanam dalam diri mereka.
Modal Sosial dalam Keluarga dan Dampaknya pada Semangat Belajar
Coleman berpendapat bahwa modal sosial dalam keluarga muncul dari hubungan yang
stabil, kehadiran emosional orang tua, dan komunikasi yang teratur. Penelitian ini
menunjukkan bahwa anak yang tidak tinggal bersama orang tua atau mengalami ketidakhadiran
figur keluarga cenderung memiliki motivasi belajar rendah. Anak kelas lima yang menciptakan
identitas semu merupakan contoh bagaimana ketidakstabilan hubungan keluarga membuat anak
mencari alternatif untuk membentuk citra dirinya. Minimnya modal sosial dalam keluarga juga
membuat anak tidak memiliki figur yang dapat menjadi teladan. Sebaliknya, anak dari guru
atau tenaga pendidik justru menunjukkan semangat belajar lebih tinggi. Mereka memiliki
model sosial yang dekat dan relevan.
Lingkaran Pengaruh menurut Bronfenbrenner
Teori ekologi Bronfenbrenner melihat perkembangan anak sebagai hasil interaksi antara
berbagai sistem sosial. Dalam konteks ini, mikro sistem berupa keluarga dan sekolah
merupakan faktor paling berpengaruh. Anak Desa Jelun tumbuh dalam lingkungan yang
cenderung homogen secara ekonomi dan kultural. Lingkungan tersebut turut membentuk
pandangan bahwa bekerja lebih penting daripada sekolah. Mesosistem, yaitu hubungan antara
sekolah dan keluarga, juga tidak selalu terjalin baik. Guru menyampaikan bahwa beberapa
orang tua jarang hadir atau berkomunikasi mengenai perkembangan anak. Hal ini memperkuat
ketidakselarasan antara nilai pendidikan di sekolah dan nilai yang diterima anak di rumah.
Perbandingan Temuan dengan Penelitian Sebelumnya
Penelitian sebelumnya banyak menyoroti hubungan antara kondisi ekonomi keluarga dan
prestasi belajar. Namun penelitian ini memperluas pemahaman dengan menunjukkan bahwa
motivasi belajar bukan hanya dipengaruhi oleh ekonomi, tetapi juga kondisi emosional,
pengalaman kehilangan peran orang tua, dan proses internalisasi habitus yang berlangsung
sejak kecil. Temuan mengenai identitas semu pada salah satu anak menunjukkan bahwa
motivasi belajar juga terkait dengan kebutuhan anak untuk membangun gambaran diri yang
dianggap ideal. Ini jarang dibahas dalam penelitian pendidikan di pedesaan.
Jawaban terhadap Tujuan Penelitian
Penelitian ini menjawab bahwa motivasi belajar anak di MI Tarbhiyatus Sibyan dipengaruhi
oleh keseluruhan pengalaman hidup mereka. Anak dari keluarga dengan modal sosial dan
kultural yang kuat memiliki orientasi pendidikan yang lebih jelas. Sebaliknya, anak yang tidak
memiliki dukungan emosional atau mengalami ketidakhadiran orang tua cenderung
memandang pendidikan secara pragmatis dan memilih bekerja lebih awal. Hasil ini
menunjukkan bahwa motivasi belajar bukan persoalan individu, tetapi bentuk refleksi dari
hubungan antara habitus, modal modal, dan lingkungan sosial.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 158-165
E-ISSN: 3031-2957
163
Novrinda Gatri Kirana et.al (Motivasi Belajar Anak dalam....)
4. Kesimpulan
Penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi belajar anak anak di Madrasah Ibtidaiyah
Tarbhiyatus Sibyan Desa Jelun tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik atau
kemauan pribadi. Motivasi tersebut terbentuk dari keseluruhan pengalaman hidup yang
dipengaruhi oleh kondisi keluarga, modal sosial, modal kultural, serta lingkungan sosial di mana
anak tumbuh. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa anak yang berasal dari keluarga dengan
hubungan emosional stabil dan dukungan pendidikan yang kuat memiliki orientasi masa depan
yang lebih jelas dan menunjukkan ketekunan dalam belajar. Sebaliknya, anak yang menghadapi
ketidakhadiran orang tua, keluarga yang tidak harmonis, atau kondisi ekonomi yang terbatas
cenderung memiliki pandangan masa depan yang lebih sempit dan menunjukkan sikap pasrah
ketika berhadapan dengan pelajaran di sekolah.
Temuan penting lain dari penelitian ini adalah munculnya identitas semu pada salah satu
siswa yang membangun cerita mengenai kondisi keluarga yang sebenarnya tidak ia miliki. Hal
ini memperlihatkan bahwa proses pendidikan tidak lepas dari kebutuhan psikologis anak untuk
merasa setara dengan teman sebayanya. Fenomena tersebut menegaskan bahwa motivasi belajar
juga berkaitan dengan upaya anak mempertahankan nilai diri dalam lingkungan sosial. Temuan
ini memperkuat teori Bourdieu mengenai bagaimana habitus dan berbagai bentuk modal
membentuk cara seseorang memahami posisinya dalam struktur sosial.
Penelitian ini menegaskan bahwa motivasi belajar di lingkungan pedesaan perlu dipahami
secara komprehensif dan tidak dapat disederhanakan hanya sebagai persoalan minat belajar.
Implikasi dari penelitian ini adalah perlunya perhatian khusus pada dukungan keluarga dan
lingkungan sosial sebagai bagian dari strategi untuk meningkatkan motivasi belajar anak.
Sekolah dapat berperan sebagai ruang yang tidak hanya memberikan materi akademik tetapi
juga memberikan dukungan emosional melalui guru yang memahami kondisi sosial siswa.
Selain itu, kerja sama antara sekolah, keluarga, dan komunitas desa perlu diperkuat agar anak
memiliki lingkungan yang stabil dalam membangun orientasi pendidikan dan masa depan.
5. Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak Madrasah Ibtidaiyah Tarbhiyatus Sibyan
Desa Jelun yang telah memberikan izin dan kesempatan untuk melakukan penelitian di
lingkungan sekolah. Terima kasih juga disampaikan kepada kepala sekolah, guru, serta siswa
yang telah membantu memberikan informasi dan pengalaman berharga selama proses penelitian
berlangsung. Penulis menghargai dukungan dosen pembimbing yang telah memberikan arahan
dan referensi yang membantu penyusunan artikel ini. Ucapan terima kasih juga diberikan
kepada warga Desa Jelun yang telah membuka ruang dialog dan memberikan informasi
tambahan mengenai kondisi sosial lingkungan desa.
6. Daftar Pustaka
Aditomo, A. (2020). Motivation and learning in Indonesian primary schools: A sociocultural
perspective. Journal of Educational Research and Practice, 10(2), 4556.
Ariani, D., & Putri, N. (2021). Family support and children's learning motivation in rural
Indonesia. Indonesian Journal of Educational Studies, 25(1), 3347.
Bourdieu, P. (1986). The forms of capital. In J. Richardson (Ed.), Handbook of Theory and
Research for the Sociology of Education (pp. 241258). Greenwood Press.
https://www.marxists.org/reference/subject/philosophy/works/fr/bourdieu-forms-
capital.htm
Bourdieu, P. (1990). The logic of practice. Stanford University Press.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 158-165
E-ISSN: 3031-2957
164
Novrinda Gatri Kirana et.al (Motivasi Belajar Anak dalam....)
Bronfenbrenner, U. (1979). The ecology of human development. Harvard University Press.
Budiman, R., & Latif, M. (2020). School environment and student engagement in rural
communities. Journal of Rural Education Review, 18(3), 112124.
Coleman, J. S. (1988). Social capital in the creation of human capital. American Journal of
Sociology, 94, 95120.
Creswell, J. W., & Poth, C. (2018). Qualitative inquiry and research design. Sage.
Desmita. (2019). Psikologi perkembangan peserta didik. Rosdakarya.
Fauzia, S. (2021). The role of parents in shaping children's learning outcomes in Indonesian
villages. Journal of Social Behavior and Development, 14(2), 7689.
Fitriani, A. (2023). Child well being and parental involvement in low income families. Asian
Journal of Child and Family Studies, 7(1), 5470.
Gunawan, I. (2020). The challenges of elementary education in remote areas. International
Journal of Basic Education, 4(2), 89101.
Hurlock, E. (1990). Child development. McGraw Hill.
Iswahyudi, S., & Hartono, D. (2022). Motivation and barriers to learning among rural
elementary students. Journal of Indonesian Educational Research, 11(2), 144160.
Khotimah, N., & Maulana, R. (2022). Parenting style and academic aspirations in rural
communities. Pedagogia: Jurnal Pendidikan, 11(1), 2231.
Lestari, W. (2020). Socio emotional condition of children in unstable families. Jurnal Psikologi
Indonesia, 9(3), 165176.
Moleong, L. J. (2021). Metodologi penelitian kualitatif. Remaja Rosdakarya.
Nurdin, E., & Safitri, A. (2023). Children’s academic resilience in disadvantaged areas.
Journal of Education and Social Transformation, 6(2), 97115.
Pratama, H., & Widodo, S. (2020). The influence of family background toward students'
academic attitude in rural Java. Jurnal Sosiologi Pendidikan Indonesia, 5(2), 88103.
Putri, M. D., & Suyanto, B. (2021). Social inequality and children’s access to education in
Indonesian villages. Indonesian Journal of Sociology, 3(1), 5570.
Rahmawati, K. (2023). Aspirasi pendidikan anak dari keluarga buruh migran. Jurnal
Pendidikan dan Kebudayaan, 13(2), 101115.
Ramdani, A. (2024). Rural students’ perceptions of school and work opportunities. Journal of
Youth and Society Southeast Asia, 4(1), 2139.
Sari, R., & Nugraha, F. (2022). Learning motivation and emotional support for children in
elementary schools. Jurnal Psikologi Terapan Indonesia, 7(1), 1225.
Setiawan, R., & Astuti, N. (2020). The role of teachers in improving learning interest in rural
areas. Jurnal Ilmu Pendidikan Indonesia, 9(2), 110123.
Suwanto, I. (2023). Parent child interaction and the formation of learning discipline. Journal of
Early Childhood and Family Studies, 8(2), 6783.
Suyanto, B. (2013). Sosiologi anak. Kencana.
Triana, D. (2024). Educational orientation among rural elementary school students. Journal of
Rural Childhood Studies, 2(1), 4158.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 3, No. 2, November 2025, page: 158-165
E-ISSN: 3031-2957
165
Novrinda Gatri Kirana et.al (Motivasi Belajar Anak dalam....)
Utami, F., & Pranata, B. (2021). Family dysfunction and academic behavior in primary school
students. Educational Psychology Review Indonesia, 5(1), 2339.
Widyasari, S. (2020). Social support and school engagement in disadvantaged communities.
Journal of Community and Education Studies, 18(4), 211230.
Yulianti, T., & Harsono, A. (2022). Socio cultural factors influencing children’s learning in
rural Indonesia. Jurnal Pendidikan Dasar Nusantara, 7(2), 98116.