JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 4, No. 1, Mei 2026, page: 1-9
E-ISSN: 3031-2957
1
Sawaldi Waskito Aji et.al (Reorientasi Nilai Solidaritas Karang Taruna.....)
Reorientasi Nilai Solidaritas Karang Taruna di Dusun
Demen dalam Kegiatan Sinoman di Era Society 5.0
Sawaldi Waskito Aji
a,1
, Febronia Lelis Karmel
b,2
, Anik Widiastuti
c,3
a,b,c
Universitas Negeri Yogyakarta, Jl. Colombo No.1, Karang Malang, Caturtunggal, Kec. Depok, Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
1
sawaldiwaskito.2023@student.uny.ac.id;
2
febronialelis.2023@student.uny.ac.id;
3
anikwidiastuti@uny.ac.id
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 20 Februari 2026
Direvisi: 14 Maret 2026
Disetujui: 27 April 2026
Tersedia Daring: 1 Mei 2026
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji reorientasi nilai-nilai solidaritas
di kalangan Karang Taruna dalam kegiatan sinoman di Dusun Demen
pada era Masyarakat 5.0. Latar belakang penelitian ini adalah
pergeseran pola interaksi sosial kaum muda akibat perkembangan
teknologi yang telah menyebabkan menurunnya partisipasi dalam
kegiatan berbasis komunitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif deskriptif yang dilakukan di Dusun Demen. Subjek dipilih
menggunakan sampling purposif dengan tiga informan yang terdiri dari
anggota Karang Taruna aktif dan tidak aktif yang terlibat langsung
dalam kegiatan sinoman. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-
terstruktur mendalam dan didukung oleh literatur yang relevan.
Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif yang mencakup
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Validitas data
dijamin melalui triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kegiatan sinoman masih ada namun telah mengalami perubahan
dalam bentuk partisipasi dan peran pemuda. Keterlibatan pemuda
cenderung menurun akibat tuntutan pekerjaan, perubahan gaya hidup,
dan pengaruh digitalisasi. Nilai-nilai solidaritas tidak lenyap, namun
telah bergeser dari praktik kolektif menjadi bentuk yang lebih personal
dan situasional. Oleh karena itu, diperlukan reorientasi nilai-nilai
solidaritas melalui integrasi nilai-nilai tradisional dan pemanfaatan
teknologi agar tetap relevan di era modern.
Kata Kunci:
solidaritas sosial
karang taruna
sinoman
society 5.0
ABSTRACT
Keywords:
social solidarity
youth organization
sinoman
society 5.0
This study aims to examine the reorientation of solidarity values among
Karang Taruna in sinoman activities in Dusun Demen in the era of Society
5.0. The background of this research is the shift in youth social interaction
patterns due to technological developments which has led to decreased
participation in community based activities. This study employs a
descriptive qualitative approach conducted in Dusun Demen. The subjects
were selected using purposive sampling with three informants consisting
of active and inactive members of Karang Taruna who were directly
involved in sinoman activities. Data were collected through in depth semi
structured interviews and supported by relevant literature. Data analysis
was carried out using an interactive model which includes data reduction
data display and conclusion drawing. The validity of the data was ensured
through source triangulation. The results show that sinoman activities still
exist but have experienced changes in the form of participation and the
role of youth. Youth involvement tends to decline due to work demands
lifestyle changes and the influence of digitalization. Solidarity values have
not disappeared but have shifted from collective practices to more
personal and situational forms. Therefore a reorientation of solidarity
values is needed through the integration of traditional values and the use
of technology to remain relevant in the modern era.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 4, No. 1, Mei 2026, page: 1-9
E-ISSN: 3031-2957
2
Sawaldi Waskito Aji et.al (Reorientasi Nilai Solidaritas Karang Taruna.....)
©2026, Sawaldi Waskito Aji, Febronia Lelis Karmel, Anik Widiastuti
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Pergeseran sosial yang terjadi di era Society 5.0 telah membawa dampak yang signifikan
terhadap pola interaksi masyarakat, terutama di kalangan generasi muda yang berperan sebagai
pemangku utama dalam transformasi sosial. Society 5.0 adalah konsep masyarakat yang
memadukan antara teknologi digital dan kehidupan manusia secara menyeluruh, di mana
kecerdasan buatan (AI), big data, dan internet of things digunakan untuk meningkatkan kualitas
hidup manusia. Menurut Andriansyah (2025), interaksi sosial tidak lagi terbatas pada ruang
fisik, tetapi berkembang ke ruang digital yang lebih luas dan dinamis. Pola relasi sosial
mengalami pergeseran dari interaksi langsung menuju interaksi virtual yang cenderung lebih
cepat namun kurang mendalam.
Transformasi digital mempengaruhi perubahan dalam struktur sosial serta nilai-nilai yang
ada di masyarakat. Salah satu nilai yang terpengaruh adalah solidaritas sosial, yang secara
tradisional dibangun melalui interaksi langsung, kebersamaan, dan pengalaman kolektif. Di
dalam masyarakat Indonesia, solidaritas sosial memiliki akar yang kuat dalam budaya lokal
seperti gotong royong, tolong-menolong, dan kerja sama komunitas. Namun, perkembangan
teknologi digital berpotensi mengubah praktik-praktik tersebut menjadi lebih individualistik dan
pragmatis (Alauddin & Fitri, 2025). Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perubahan ini
tidak menghilangkan solidaritas, tetapi mengubah cara ekspresinya dalam kehidupan sosial
(Zebua et al., 2025).
Di tingkat desa, nilai solidaritas tersebut secara nyata diwujudkan melalui berbagai praktik
budaya, salah satunya adalah kegiatan sinoman. Sinoman adalah tradisi kerja sama dalam
mendukung pelaksanaan hajatan masyarakat, seperti pernikahan atau kegiatan adat lainnya,
yang umumnya melibatkan pemuda sebagai pelaku utama. Melalui kegiatan ini, karang taruna
tidak hanya berfungsi sebagai tenaga bantuan, tetapi juga sebagai bagian dari proses sosial yang
membentuk karakter, memperkuat hubungan sosial, serta menanamkan nilai-nilai kebersamaan
dan tanggung jawab sosial. Keterlibatan pemuda dalam kegiatan tersebut terbukti memperkuat
civic engagement, solidaritas, dan kepedulian sosial (Wardhani & Ruhadi, 2026; Al-Farisi &
Wijayanti, 2025).
Karang Taruna sebagai organisasi kepemudaan memegang peran sangat penting dalam
menjaga kelangsungan kegiatan sinoman. Karang Taruna tidak hanya berfungsi sebagai tempat
untuk aktivitas sosial, tetapi juga sebagai lembaga yang membina generasi muda berdasarkan
nilai-nilai sosial dan budaya lokal. Penelitian dari Al-Farisi dan Wijayanti (2025), menunjukkan
bahwa partisipasi pemuda dalam kegiatan seperti sinoman dapat membentuk karakter kolektif
yang mencakup kerja sama, solidaritas, empati, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Dengan demikian, sinoman dapat dianggap sebagai wujud nyata dari pendidikan sosial
nonformal yang berakar pada kearifan lokal.
Namun, di tengah arus globalisasi dan digitalisasi yang semakin kuat, partisipasi pemuda
dalam kegiatan berbasis komunitas menghadapi tantangan yang cukup serius. Generasi muda
saat ini cenderung lebih banyak berinteraksi di ruang digital dibandingkan dengan ruang sosial
secara langsung. Bahkan, sebagian besar interaksi sosial pemuda telah beralih ke platform
digital, yang berdampak pada penurunan keterlibatan dalam kegiatan sosial tradisional.
Perubahan ini bukan menjadi tanda bahwa nilai solidaritas sosial itu memudar, namun
mengalami perubahan bentuk dan cara ekspresinya.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 4, No. 1, Mei 2026, page: 1-9
E-ISSN: 3031-2957
3
Sawaldi Waskito Aji et.al (Reorientasi Nilai Solidaritas Karang Taruna.....)
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pemuda kurang terlibat dalam kegiatan sosial
berbasis komunitas. Dibandingkan dengan interaksi langsung, generasi muda cenderung lebih
aktif dalam ruang digital. Kondisi ini menyebabkan kurangnya partisipasi dalam gotong royong
tradisional (Manuain & Fanggidae, 2025). Selain itu, peran Karang Taruna dalam aktivitas sosial
dipengaruhi oleh modernisasi desa dan transformasi sosial ekonomi (Jaiz et al., 2025). Menurut
penelitian lain, nilai solidaritas dan gotong royong, yang sebelumnya bersifat kolektif, berubah
menjadi lebih individual dan kontekstual karena pengaruh media sosial (Alauddin & Fitri,
2025).
Berdasarkan temuan wawancara di lapangan, partisipasi Karang Taruna dalam kegiatan
sinoman saat ini semakin menurun. Selain kemajuan teknologi, masalah ini juga dipengaruhi
oleh elemen internal dan eksternal. Secara internal, generasi muda cenderung lebih tertutup
(introvert), sehingga kurang terlibat dalam kegiatan sosial. Secara eksternal, penurunan
partisipasi pemuda disebabkan oleh kesibukan kerja, perubahan fase kehidupan, dan
modernisasi sistem hajatan melalui penggunaan wedding organizer (WO). Akibatnya, fungsi
Karang Taruna dalam sinoman menjadi lebih kecil dari sebelumnya, ketika mereka berkumpul
secara kolektif dan terbatas pada tugas-tugas tertentu seperti parkir dan penerimaan tamu.
Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan dalam mengkaji reorientasi nilai
solidaritas Karang Taruna dalam kegiatan sinoman, mengidentifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhinya, serta merumuskan reorientasi nilai solidaritas yang adaptif terhadap
perkembangan zaman melalui pendekatan empiris berbasis wawancara, dengan menyoroti
faktor internal berupa kepribadian pemuda, faktor eksternal seperti kesibukan dan perubahan
sosial, serta dampak modernisasi melalui penggunaan wedding organizer terhadap praktik
sinoman.
Rumusan masalah dalam penelitian ini meliputi bagaimana bentuk pergeseran partisipasi
pemuda dalam kegiatan sinoman, apa saja faktor yang mempengaruhi menurunnya keterlibatan
Karang Taruna, serta bagaimana bentuk reorientasi nilai solidaritas yang relevan di era Society
5.0. Untuk menjaga fokus penelitian, batasan masalah difokuskan pada kegiatan sinoman di
lingkungan Karang Taruna, partisipasi generasi muda, serta dinamika sosial di era Society 5.0.
Reorientasi ini tidak berarti menggantikan nilai lama dengan yang baru, melainkan
menyesuaikan cara implementasi nilai solidaritas agar tetap relevan dengan perkembangan
zaman. Dalam hal ini, integrasi antara tradisi lokal dan teknologi digital menjadi kunci utama
untuk menjaga keberlanjutan nilai solidaritas di kalangan generasi muda.
2. Metode
Jenis metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Metode
penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif. pendekatan ini digunakan
karena penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena sosial yang
berkaitan dengan perubahan nilai solidaritas karang taruna dalam kegiatan masyarakat yaitu
sinoman di era Society 5.0, melalui perspektif dan pengalaman dari subjek penelitian. Penelitian
ini dilaksanakan di dusun Demen yang lingkungan masyarakat masih menjalankan tradisi
sinoman, dengan fokus pada aktivitas karang taruna sebagai subjek utama penelitian. Informan
dalam penelitian ini berjumlah tiga orang yang dipilih secara purposive berdasarkan kriteria
tertentu seperti pemilihan anggota yang aktif dan tidak aktif dalam kegiatan karang taruna serta
keterlibatan langsung dalam kegiatan sinoman. Menurut Sugiyono (2019), penelitian kualitatif
digunakan untuk meneliti secara mendalam kondisi dari objek yang asli di mana peneliti
memiliki peran sebagai instrumen kunci dan hasil penelitian lebih menekankan makna daripada
generalisasi.
Penggunaan deskriptif kualitatif dalam penelitian ini karena peneliti berusaha untuk
menggambarkan secara sistematis dan faktual mengenai perubahan nilai solidaritas dalam
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 4, No. 1, Mei 2026, page: 1-9
E-ISSN: 3031-2957
4
Sawaldi Waskito Aji et.al (Reorientasi Nilai Solidaritas Karang Taruna.....)
kegiatan sinoman dalam lingkungan masyarakat. Hal ini sejalan dengan pendapat Lexy J.
Moleong (2018) yang menyatakan bahwa penelitian deskriptif kualitatif memiliki tujuan untuk
memahami fenomena yang terjadi dan dialami oleh subjek penelitian secara utuh. Jenis data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif berupa kata-kata dari pernyataan dan
narasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan informan. Sumber data dalam penelitian ini
terdiri dari data primer yang diperoleh langsung dari informan dan data sekunder yang berasal
dari dokumen, literatur, dan sumber lain yang relevan dengan penelitian Pengumpulan data
utama dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara mendalam (in-depth interview).
Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur dengan menggunakan pedoman sebagai
acuan. Namun peneliti tetap memberi kebebasan kepada informan agar dapat menyampaikan
informasi dan pandangan secara lebih luas. Melalui wawancara mendalam peneliti dapat
memperoleh data secara rinci tentang pengalaman serta perubahan nilai solidaritas yang
dirasakan oleh informan. Menurut W. Creswell (2026) wawancara merupakan teknik utama
dalam penelitian kualitatif untuk mendapatkan data yang mendalam.
3. Hasil dan Pembahasan
Hasil
Berdasarkan hasil wawancara, kegiatan sinoman masih tetap dilaksanakan, namun tidak
lagi berada pada posisi yang sama seperti sebelumnya. Perubahan tidak hanya terjadi pada
tingkat partisipasi, tetapi juga makna sosial, pola keterlibatan, dan cara generasi muda memaknai
solidaritas itu sendiri. Responden secara umum menganggap sinoman sebagai aktivitas yang
bermanfaat, terutama dalam hal membangun hubungan sosial antar remaja. Hal-hal ini masih
dianggap sebagai cara untuk berinteraksi dengan orang lain dan membangun solidaritas. "Ini
adalah sarana untuk mencari dan mempererat solidaritas antar teman" kata salah satu informan
(F, 2026). Sinoman juga dapat diartikan sebagai jenis hubungan timbal balik yang menjadi dasar
hubungan sosial di masyarakat desa. "Kalau kita membantu sekarang, nanti kita juga akan
dibantu," kata salah satu informan (H, 2026). Ini menunjukkan bahwa solidaritas telah
berkembang dari nilai moral universal menjadi bentuk syarat pertukaran sosial.
Meskipun demikian, tingkat partisipasi pemuda dalam kegiatan sinoman cenderung
mengalami penurunan. Keterlibatan pemuda sekarang terbatas pada waktu dan kondisi masing-
masing individu. Menurut informan, "kalau kerja ya tetap kerja, paling 12 jam" (H, 2026).
Karena tidak ada anggota lain yang hadir, terkadang partisipasi dilakukan karena keterpaksaan.
Sebagai contoh, salah satu informan (H, 2026) mengatakan, "pernah bolos ujian praktik demi
sinoman karena tidak ada orang." Ini menunjukkan bahwa ada ketidakseimbangan dalam
partisipasi anggota Karang Taruna. Penurunan partisipasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa
faktor utama, baik internal maupun eksternal. Faktor-faktor tersebut meliputi kesibukan kerja
yang membuat pemuda lebih memprioritaskan aktivitas ekonomi, keterbatasan waktu,
preferensi individu yang kurang nyaman dalam situasi keramaian, serta minimnya keterlibatan
anggota lain yang menyebabkan beban kerja tidak merata.
Pergeseran peran sinoman itu sendiri mengalami perubahan yang cukup signifikan, selain
penurunan partisipasi. Saat ini, pemuda tidak lagi berperan sebagai pelaku utama dalam
penyelenggaraan acara. Pernyataan (H, 2026) "karang taruna tetap dilibatkan, tapi hanya untuk
parkir dan buku tamu" menunjukkan hal ini. Hasilnya menunjukkan bahwa sinoman tidak lagi
menjadi tempat utama bagi pemuda untuk berpartisipasi secara aktif; mereka hanya berfungsi
sebagai pelengkap dalam skema kegiatan yang lebih kontemporer. Pengurangan peran ini
menyebabkan interaksi sosial antar pemuda menjadi kurang intens. Sinoman dulunya
merupakan ruang belajar sosial yang penuh dengan pengalaman kolektif. Sekarang, namun,
fungsinya terbatas pada tugas-tugas teknis yang tidak banyak melibatkan interaksi langsung.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 4, No. 1, Mei 2026, page: 1-9
E-ISSN: 3031-2957
5
Sawaldi Waskito Aji et.al (Reorientasi Nilai Solidaritas Karang Taruna.....)
Oleh karena itu, fungsi sosial sinoman sebagai alat untuk membentuk karakter kolektif
berkurang.
Namun, hasil wawancara menunjukkan bahwa nilai solidaritas tidak sepenuhnya hilang.
Solidaritas masih bertahan dalam bentuk emosional dan moral, bukan lagi dalam bentuk praktik
kolektif yang intens. Hal ini terlihat dari pernyataan salah satu informan (D, 2026) “tetap
membantu karena tidak tega, masih satu lingkungan”. Pernyataan ini menunjukkan bahwa dasar
solidaritas bergeser dari kewajiban sosial menjadi rasa empati dan kedekatan personal.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa solidaritas mengalami transformasi yang cukup
mendasar, dari yang sebelumnya berbentuk praktik kolektif menjadi lebih bersifat individual.
Solidaritas yang dahulu dipahami sebagai kewajiban sosial kini bergeser menjadi pilihan
personal yang bergantung pada kondisi dan kesediaan masing-masing individu.
Selain itu, aktivitas sinoman yang sebelumnya rutin dan merupakan bagian integral dari
kehidupan sosial masyarakat, kini telah bertransformasi menjadi tindakan yang bersifat
situasional. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan sinoman tidak
punah, melainkan mengalami perubahan secara struktural dan kultural. Transformasi ini
ditandai dengan menurunnya tingkat partisipasi, terbatasnya keterlibatan pemuda,
menyempitnya peran dalam pelaksanaan kegiatan, serta pergeseran makna solidaritas dari
praktik kolektif menuju nilai moral yang lebih fleksibel.
Pembahasan
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan sinoman di Dusun Demen tidak hilang,
tetapi mengalami perubahan dalam makna dan praktiknya di tengah perkembangan era Society
5.0. Penurunan partisipasi pemuda dapat dimaknai sebagai pergeseran cara generasi muda
mengekspresikan solidaritas sosial. Solidaritas yang sebelumnya diwujudkan melalui
keterlibatan kolektif dalam kegiatan masyarakat kini cenderung menjadi lebih fleksibel dan
bergantung pada kondisi individu. Perubahan ini mencerminkan adanya transformasi pola
interaksi sosial akibat perkembangan teknologi digital, di mana generasi muda lebih banyak
berinteraksi di ruang virtual dibandingkan ruang sosial secara langsung. Hal ini sejalan dengan
penelitian oleh Riawan (2021) yang menjelaskan bahwa media digital telah mengubah pola
komunikasi dan partisipasi sosial masyarakat menjadi lebih terhubung secara daring. Makna
solidaritas dalam kegiatan sinoman juga mengalami pergeseran dari yang bersifat kewajiban
sosial menjadi lebih didasarkan pada empati dan kedekatan personal. Solidaritas tidak lagi
sepenuhnya dipahami sebagai norma kolektif yang mengikat, tetapi sebagai pilihan individu
yang dipengaruhi oleh situasi dan relasi sosial yang dimiliki. Kondisi ini menunjukkan bahwa
nilai solidaritas tetap ada, namun mengalami perubahan bentuk sesuai dengan dinamika
masyarakat modern. Temuan ini diperkuat oleh penelitian Nurhaliza dan Savandha (2025) yang
menyatakan bahwa digitalisasi tidak menghapus nilai sosial, tetapi mengubah cara nilai tersebut
dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari
Table 1. Perbandingan Perubahan Kegiatan Sinoman: Kondisi Dulu vs Kondisi Saat Ini
No
Aspek
Kondisi Saat Ini
1
Tingkat Partisipasi
Menurun, tergantung
waktu dan kondisi
individu
2
Peran Karang
Taruna
Pelengkap/ petugas
teknis
3
Makna Solidaritas
Pilihan personal berbasis
empati
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 4, No. 1, Mei 2026, page: 1-9
E-ISSN: 3031-2957
6
Sawaldi Waskito Aji et.al (Reorientasi Nilai Solidaritas Karang Taruna.....)
No
Aspek
Kondisi Saat Ini
4
Intensitas Interaksi
Sosial
Rendah, intensitas
terbatas karena beban
kerja tidak merata
5
Sifat Pelaksanaan
Situasional,tergantung
kebutuhan, mendadak
Sumber : Hasil Penelitian, 2026
Tabel 1 menunjukkan bahwa kegiatan sinoman mengalami perubahan struktural dan
kultural. Aspek partisipasi, peran karang taruna, dan arti solidaritas mengalami perubahan yang
paling mencolok. Perubahan ini menunjukkan pergeseran dari solidaritas kolektif ke solidaritas
yang lebih individual dan situasional.
Perubahan partisipasi pemuda dalam kegiatan sinoman terjadi karena adanya pergeseran
pola kehidupan sosial di era digital yang memengaruhi cara generasi muda berinteraksi dan
berprioritas. Tuntutan ekonomi dan kesibukan kerja membuat pemuda lebih fokus pada
aktivitas produktif sehingga waktu untuk kegiatan sosial menjadi terbatas. Di sisi lain,
perkembangan teknologi digital mendorong pergeseran interaksi dari ruang fisik ke ruang
virtual, yang secara tidak langsung mengurangi keterlibatan dalam kegiatan kolektif berbasis
komunitas. Kondisi ini sejalan dengan temuan Lim, M. (2020) yang menunjukkan bahwa media
sosial mengubah pola partisipasi masyarakat menjadi lebih digital, serta didukung oleh
penelitian Moyong, Burhanudin, dan Cahyo (2022) yang menegaskan bahwa keterlibatan
pemuda dalam kegiatan sosial dipengaruhi oleh perubahan orientasi dan gaya hidup. Selain itu,
studi Aisyah dan Vidiati (2025) juga menunjukkan bahwa perubahan perilaku sosial di era
digital cenderung mengarah pada individualisasi, sehingga aktivitas kolektif seperti gotong
royong mengalami penurunan intensitas. Faktor lain yang menyebabkan perubahan ini adalah
modernisasi dalam pelaksanaan kegiatan sosial, seperti penggunaan wedding organizer yang
mengurangi kebutuhan keterlibatan masyarakat secara langsung. Akibatnya, peran Karang
Taruna dalam sinoman menjadi lebih terbatas dan tidak lagi dominan seperti sebelumnya.
Transformasi ini juga dipengaruhi oleh perubahan struktur sosial desa yang semakin dinamis
serta preferensi individu yang cenderung lebih selektif dalam berpartisipasi. Hal ini sejalan
dengan penelitian Anista (2023) yang menjelaskan bahwa interaksi sosial masyarakat
mengalami transformasi akibat digitalisasi, serta diperkuat oleh temuan Polnaya, Murwani, dan
Pariela (2023) yang menyatakan bahwa media digital membentuk ulang cara individu
membangun relasi sosial.
Hasil penelitian ini selaras dengan teori solidaritas sosial yang dikemukakan oleh Émile
Durkheim yang membedakan antara solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Dalam
konteks penelitian ini, perubahan dalam kegiatan sinoman menunjukkan adanya pergeseran dari
solidaritas yang bersifat kolektif menuju solidaritas yang lebih individual dan situasional.
Perubahan dari solidaritas mekanik ke solidaritas organik menurut Émile Durkheim juga
didukung oleh penelitian Anik Widiastuti (2024). Penelitian tersebut menjelaskan bahwa SAP
(Social Action Project) dapat membantu membangun kerja sama sosial yang lebih fleksibel
melalui kegiatan komunitas yang memanfaatkan kreativitas digital. Model ini bisa diterapkan
untuk mengarahkan kembali peran Karang Taruna Sinoman agar sesuai dengan perkembangan
di era Society 5.0. Solidaritas yang sebelumnya dibangun melalui keterlibatan bersama kini
berubah menjadi lebih fleksibel dan bergantung pada kondisi masing-masing individu.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa struktur sosial masyarakat mengalami perubahan dalam
cara individu membangun hubungan sosial di tengah perkembangan zaman (Robert D. Putnam,
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 4, No. 1, Mei 2026, page: 1-9
E-ISSN: 3031-2957
7
Sawaldi Waskito Aji et.al (Reorientasi Nilai Solidaritas Karang Taruna.....)
2020). Temuan ini juga dapat dijelaskan melalui teori perubahan sosial dalam masyarakat
digital yang menekankan bahwa pola interaksi akan menyesuaikan dengan perkembangan
teknologi. Perkembangan media digital telah mengubah cara individu berinteraksi dan
berpartisipasi dalam kehidupan sosial sehingga keterlibatan dalam kegiatan kolektif seperti
sinoman menjadi tidak lagi dominan. Hal ini sejalan dengan pemikiran Manuel Castells yang
menjelaskan bahwa masyarakat modern bergerak menuju network society, di mana relasi sosial
tidak lagi bergantung pada kedekatan fisik tetapi pada jaringan digital (Merlyna Lim, 2020).
Hasil penelitian ini menunjukkan kesamaan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang
mengkaji perubahan partisipasi sosial generasi muda di era digital. Penurunan keterlibatan
pemuda dalam kegiatan berbasis komunitas seperti sinoman sejalan dengan temuan Mulyono
et al. (2022) yang menyatakan bahwa media digital telah menggeser bentuk partisipasi
masyarakat dari interaksi langsung ke ruang daring. Selain itu, penelitian oleh Toriq dan Hasib
(2025) juga menunjukkan bahwa keterlibatan pemuda dalam kegiatan sosial dipengaruhi oleh
perubahan orientasi dan gaya hidup yang semakin individual dan fleksibel. Kesamaan juga
terlihat pada penelitian Ramadhani dan Jatnika (2025) yang menemukan bahwa masyarakat di
era digital cenderung mengalami penurunan intensitas interaksi sosial langsung akibat
meningkatnya penggunaan teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa fenomena yang terjadi
dalam kegiatan sinoman bukanlah kasus yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari
kecenderungan umum dalam masyarakat modern di mana solidaritas sosial tetap ada, namun
mengalami perubahan dalam bentuk dan cara ekspresinya.
Perkembangan teknologi komunikasi dan media sosial mendorong pemuda lebih banyak
berinteraksi di ruang digital sehingga intensitas pertemuan tatap muka dan kerja sama langsung
yang sebelumnya menjadi inti kegiatan gotong royong seperti sinoman dan aktivitas Karang
Taruna mengalami penurunan Widiatmaka et al. (2023). Kondisi tersebut menuntut adanya
reorientasi nilai solidaritas yang lebih adaptif melalui integrasi teknologi dalam praktik
sinoman, misalnya dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana koordinasi, publikasi
kegiatan, serta dokumentasi partisipasi pemuda, sehingga fungsi sinoman sebagai ruang
pembelajaran sosial tetap dapat terjaga meskipun pola interaksi mengalami perubahan
(Ningtyas, 2025).
4. Kesimpulan
Kegiatan sinoman di Dusun Demen masih berlangsung namun mengalami perubahan
dalam pelaksanaan dan tingkat partisipasi pemuda. Reorientasi solidaritas terlihat dari
perubahan cara pemuda berpartisipasi, yang sebelumnya bersifat bersama dan menjadi
kewajiban sosial, kini menjadi lebih fleksibel dan bergantung pada kesadaran masing-masing
individu. Keterlibatan generasi muda cenderung menurun karena dipengaruhi oleh kesibukan
kerja, perubahan gaya hidup, serta perkembangan teknologi di era Society 5.0. Peran Karang
Taruna juga tidak lagi dominan seperti sebelumnya sehingga interaksi sosial dalam kegiatan
sinoman menjadi lebih terbatas dan tidak seintens masa lalu. Nilai solidaritas tidak hilang tetapi
mengalami pergeseran dari yang bersifat kolektif menjadi lebih personal dan situasional.
Solidaritas kini lebih didasarkan pada rasa empati dan kedekatan sosial, bukan lagi sebagai
kewajiban bersama. Oleh karena itu diperlukan reorientasi nilai solidaritas yang lebih adaptif
dengan menggabungkan nilai tradisional dan pemanfaatan teknologi agar tetap relevan dengan
perkembangan zaman serta mampu menjaga keberlanjutan fungsi sinoman sebagai ruang
pembelajaran sosial bagi generasi muda.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 4, No. 1, Mei 2026, page: 1-9
E-ISSN: 3031-2957
8
Sawaldi Waskito Aji et.al (Reorientasi Nilai Solidaritas Karang Taruna.....)
5. Daftar Pustaka
Ahmad, B., Laha, M. S., Lopies, I. J., Nurlin, N., Tamher, F., & Saiful, N. (2025). Pendampingan
Rekonstruksi Solidaritas Komunitas Kampung di Era Digital untuk Mendukung Agenda
SDGs dan Asta Cita Pembangunan Nasional di Kabupaten Biak Numfor. Jurnal
Pengabdian Kepada Masyarakat, 2(2), 6-9.
Aisyah, F., & Vidiati, C. (2025). Shifting Perilaku Manusia: Peralihan dari Interaksi Fisik ke
Digital; Digital Society & Networked Individualism. EKONOMIKA45: Jurnal Ilmiah
Manajemen, Ekonomi Bisnis, Kewirausahaan.
https://doi.org/10.30640/ekonomika45.v13i1.5308
Alauddin, M. B., Fitri, D., & Wenando, F. A. (2025). Tradition to technology: The
transformation of Indonesian culture in the social media era. Asian Journal of Media and
Culture, 1(1), 1-21. https://doi.org/10.63919/ajmc.v1i1.16
Al-Farisi, S. A., & Wijayanti, L. M. (2025). Pendampingan Karang Taruna desa melalui budaya
nyinom sebagai penguatan karakter pemuda. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(1), 4558.
Andriansyah, Y. (2025). Youth Activism and Digital Advocacy: Indonesian Young Generation's
Solidarity with Palestine. Millah: Journal of Religious Studies, xvii-xxxviii.
https://doi.org/10.20885/millah.vol24.iss2.editorial
Anista, R. (2023). Transformasi Kebudayaan: Dampak Perkembangan Teknologi dan Media
Sosial. JUPSI: Jurnal Pendidikan Sosial Indonesia.
https://doi.org/10.62238/jupsijurnalpendidikansosialindonesia.v1i1.6.
Creswell, J. W. (2016). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan Mixed.
Hamidsyukrie, Z. M., & Utomo, J. (2025). Tradisi lokal dan pembentukan solidaritas sosial
dalam masyarakat desa. Jurnal Pendidikan Sosial, 9(1), 6678.
Jaiz, M., Fitriyah, N., Ahmad, I., & Kurnianingsih, A. (2025). COLLABORATION IN
COMMUNITY EMPOWERMENT INNOVATION FOR ACCELERATING
SUSTAINABLE VILLAGE DEVELOPMENT IN SERANG DISTRICT.
Multidisciplinary Indonesian Center Journal (MICJO), 2(4), 5467-5487.
https://doi.org/10.3390/heritage8060200.
Kasemsarn, K., & Nickpour, F. (2025). Digital Storytelling in Cultural and Heritage Tourism: A
Review of Social Media Integration and Youth Engagement Frameworks. Heritage.
https://doi.org/10.3390/heritage8060200.
Leki, F., Rahayu, M. H. S., & Murtiningsih, I. (2025). Peranan Karang Taruna dalam
Mewujudkan Solidaritas Sosial Antar Warga. Civics Education and Social Science Journal
(CESSJ), 7(2), 145-156. https://doi.org/10.32585/cessj.v7i2.7541
Lim, M. (2020). Freedom to hate or freedom to engage: Social media and political participation
in Indonesia. International Journal of Communication, 14, 41414163.
Manuain, A. F., Fanggidae, I. G., Pandie, A. Y., Benyamin, R. A., Long, B. L., Tamba, D., ... &
Kohlikin, R. A. (2025). Penguatan Tata Kelola Desa Berbasis Nilai Lokal Madene dan
Inovasi Digital di Desa Busalangga Barat. Society: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan
Masyarakat, 6(1), 104-112. https://doi.org/10.37802/society.v6i1.1101
Moleong, L. J. (2018). Metodologi Penelitian Kualitatif.
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 4, No. 1, Mei 2026, page: 1-9
E-ISSN: 3031-2957
9
Sawaldi Waskito Aji et.al (Reorientasi Nilai Solidaritas Karang Taruna.....)
Moyong, T., Burhanudin, B., & Cahyo, I. (2022). Pengaruh Literasi Keuangan dan Gaya Hidup
Terhadap Perilaku Konsumtif Pemuda (Studi Kasus Pada Organisasi Kepemudaan YISC
Al Azhar). Duconomics Sci-meet (Education & Economics Science Meet).
https://doi.org/10.37010/duconomics.v2.5924.
Mulyono, B., Affandi, I., Suryadi, K., & Darmawan, C. (2022). Online civic engagement:
Fostering citizen engagement through social media. Jurnal Civics: Media Kajian
Kewarganegaraan. https://doi.org/10.21831/jc.v19i1.49723.
Nurhaliza, N., & Savandha, S. (2025). The Transformation of Social Values in the Digital Era:
A Study on Changing Family Relations Among the Middle Class. Journal of Social Science
(JoSS). https://doi.org/10.57185/joss.v4i3.450.
Permatasari, N., & Wicaksono, A. (2026). Transformation of Local Cultural Values in Digital
Spaces through an Ethnographic Approach to Indonesian Youth. Qriset Indonesia Journal
of Cultural Science, 1(1), 17-24. https://doi.org/10.63668/qjcs.v1i1.22
Polnaya, T., Murwani, P., & Pariela, T. (2023). Transformasi Budaya dan Interaksi Sosial dalam
Masyarakat Adat: Dampak Masuknya Teknologi Digital. BAILEO : JURNAL SOSIAL
HUMANIORA. https://doi.org/10.30598/baileofisipvol1iss1pp1-14.
Riawan, Y. (2021). Refleksi Teologis Solidaritas Menurut Mgr. Johannes Pujasumarta dalam
Terang Ajaran Sosial Gereja. Jurnal Teologi. https://doi.org/10.24071/jt.v10i1.2624.
Ramadhani, A., & Jatnika, D. (2025). DINAMIKA INTERAKSI SOSIAL REMAJA DI ERA
DIGITAL DAN PERAN PEKERJA SOSIAL. Share : Social Work Journal.
https://doi.org/10.24198/share.v14i2.59963.
Saputri, A., Yuhastina, Y., & Trinugraha, Y. (2022). Perubahan Partisipasi Pemuda dalam
Tradisi Sinoman dalam Tradisi Sinoman di Dusun Karanglor Kecamatan Manyaran
Kabupaten Wonogiri. JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan).
https://doi.org/10.58258/jisip.v6i2.3087.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan.
Toriq, M., & Hasib, M. (2025). Pengaruh Rendahnya Minat Pemuda Bergabung dalam
Organisasi Gerakan Pemuda Ansor di Desa Sukodono Kecamatan Karangrejo Kabupaten
Tulungagung. CENDEKIA : Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmiah.
https://doi.org/10.62335/cendekia.v2i7.1551.
Widiastuti, A. (2024). Meningkatkan sikap sociopreneur peserta didik melalui social action
project dan project based learning. Scholaria: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 9(2),
107-118. https://doi.org/10.24246/j.skholaria.v9i2.11337
Widiatmaka, P.,Mujahidah, N., Rahmap, R., & Arifudin, A. (2023). Pendidikan karakter melalui
karang taruna untuk membangun karakter sosial pada generasi digital native. Jurnal
Pendidikan Karakter. https://doi.org/10.21831/jpka.v14i1.57036.
Zebua, F., Zahra, N. K., Malik, R., Sitompul, M. A. Y., & Habibi, A. (2025, December).
Melawan Sunyi Sosial: Pemuda Dalam Revitalisasi Gotong Royong di Era Pembangunan.
In Prosiding Seminar Nasional Teologi (Vol. 1, pp. 81-92).