JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 72-78
E-ISSN: 3031-2957
72
Fifi Fatmawati et.al (Mengenal Kebudayaan Suku Bugis)
Mengenal Kebudayaan Suku Bugis
Fifi Fatmawati
a,1
, Heri Kurnia
b,2
ab
Universitas Cokroaminoto Yogyakarta Jl. Gambiran, Pandeyan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, DIY
1
fififatmawati34@gmail.com;
2
herikurnia312@gmail.com
*
Email Corresponding: fififatmawati34@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 25 Agustus 2023
Direvisi: 17 September 2023
Disetujui: 04 Oktober 2023
Tersedia Daring: 1 November
2023
Kebudayaan suku Bugis merupakan realitas yang sangat kompleks
dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Suku Bugis, sebagai bagian
dari kelompok Deutero Melayu, datang ke Nusantara setelah
gelombang migrasi pertama dari daratan Asia, khususnya Yunan. Nama
"Bugis" berasal dari "To Ugi," yang merujuk pada orang Bugis. La
Sattumpugi, raja pertama Kerajaan Cina di Pammana, Kabupaten Wajo,
memainkan peran kunci dalam sejarah Bugis. Kisah epik "La Galigo,"
karya sastra terbesar di dunia, menggambarkan perjalanan hidup
Sawerigading, suami We Cudai, dan menciptakan landasan budaya
masyarakat Bugis. Komunitas Bugis membentuk beberapa kerajaan
klasik, seperti Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto, Sidenreng,
dan Rappang. Meskipun tersebar, suku Bugis menjalin hubungan
pernikahan dengan suku Makassar dan Mandar. Saat ini, orang Bugis
tersebar di berbagai Kabupaten, menciptakan wilayah peralihan antara
Bugis dengan Makassar dan Mandar. Kerajaan Luwu dianggap sebagai
salah satu kerajaan tertua bersama dengan Cina, Mario, dan Siang.
Sejarah di wilayah Bone mencatat kekacauan selama tujuh generasi,
yang diatasi oleh tokoh To Manurung, dikenal sebagai Manurungnge ri
Matajang, yang diangkat sebagai Arumpone dan membentuk dewan
legislatif "ade pitue."
Kata Kunci:
Suku Bugis
Kebudayaan
Masyarakat
ABSTRACT
Keywords:
Bugis tribe
Culture
Public
Bugis tribal culture is a very complex reality in the lives of Indonesian
people. The Bugis tribe, as part of the Deutero Malay group, came to the
archipelago after the first wave of migration from mainland Asia,
especially Yunan. The name "Bugis" comes from "To Ugi," which refers to
the Bugis people. La Sattumpugi, the first king of the Chinese Kingdom in
Pammana, Wajo Regency, played a key role in Bugis history. The epic
story "La Galigo," the world's greatest literary work, depicts the life
journey of Sawerigading, We Cudai's husband, and creates the cultural
foundation of the Bugis people. The Bugis community formed several
classical kingdoms, such as Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Suppa, Sawitto,
Sidenreng, and Rappang. However, the Bugis tribe has a marriage
relationship with the Makassar and Mandar tribes. Currently, Bugis
people are spread across various districts, creating a transitional area
between Bugis and Makassar and Mandar. The Luwu Kingdom is
considered to be one of the oldest kingdoms along with Cina, Mario, and
Siang. History in the Bone region records seven generations of chaos,
which was overcome by the To Manurung figure, known as Manurungnge
ri Matajang, who was appointed Arumpone and formed the legislative
council "ade pitue."
©2023, Fifi Fatmawati, Heri Kurnia
This is an open access article under CC BY-SA license
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 72-78
E-ISSN: 3031-2957
73
Fifi Fatmawati et.al (Mengenal Kebudayaan Suku Bugis)
1. Pendahuluan
Pendahuluan Kebudayaan merupakan persoalan yang sangat komplek, Kebudayaan
sebagai bagian dari kehidupan cenderung berbeda antara satu suku dengan suku lainnya,
khususnya suku bugis yang ada di Indonesia. Bugis adalah suku yang tergolong ke dalam
suku-suku Deutero Melayu. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari
daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang
Bugis. Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di
Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La Sattumpugi
menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka menjuluki dirinya
sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi (Kapojos & Wijaya,
2018).
La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu,
ayahanda dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan
melahirkan beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia
dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang
dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam tradisi
masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat Luwuk, Kaili,
Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton. Komunitas ini berkembang
dan membentuk beberapa kerajaan. Masyarakat ini kemudian mengembangkan kebudayaan,
bahasa, aksara, dan pemerintahan mereka sendiri (kayana, 2019).
Beberapa kerajaan Bugis.klasik antara lain Luwu.Bone, Wajo, Soppeng, Suppa,
Sawitto, Sidenreng dan Rappang. Meski tersebar dan membentuk suku Bugis, tapi proses
pernikahan menyebabkan adanya pertalian darah dengan Makassar dan Mandar. Saat ini
orang Bugis tersebar dalam beberapa Kabupaten yaitu Luwu, Bone, Wajo, Soppeng, Sidrap,
Pinrang, Sinjai, Barru. Daerah peralihan antara Bugis dengan Makassar adalah Bulukumba,
Sinjai, Maros, Pangkajene Kepulauan. Daerah peralihan Bugis dengan Mandar adalah
Kabupaten Polmas dan Pinrang.
Kerajaan Luwu adalah kerajaan yang dianggap tertua bersama kerajaan Cina (yang
kelak menjadi Pammana), Mario (kelak menjadi bagian Soppeng) dan Siang (daerah di
Pangkajene Kepulauan) Masa Kerajaan Kerajaan Bone Di daerah Bone terjadi kekacauan
selama tujuh generasi, yang kemudian muncul seorang To Manurung yang dikenal
Manurungnge ri Matajang. Tujuh raja-raja kecil melantik Manurungnge ri Matajang sebagai
raja mereka dengan nama Arumpone dan mereka menjadi dewan legislatif yang dikenal
dengan istilah ade pitue.
2. Metode
Penulis menggunakan metode pengumpulan data kualitatif melalui studi dokumentasi.
Metode kualitatif dipilih karena dapat memberikan gambaran yang sistematis dan mendalam
tentang materi pengetahuan yang kompleks. Pengumpulan data melalui studi dokumentasi
dilakukan dengan mengumpulkan sumber-sumber literatur yang terkait dengan analisis
kebudayaan Suku Bugis. Seluruh data yang dikumpulkan dari jurnal ilmiah, laporan
penelitian membentuk topik pembahasan yang akurat.
3. Hasil dan Pembahasan
a. Letak Geografis
Sulawesi Selatan adalah sebuah provinsi di Indonesia, yang terletak dibagian
selatan Sulawesi. Ibu kotanya adalah Makassar, dahulu disebut ”Ujungpandang”.
Sampai dengan Juni 2006, jumlah penduduk di Sulawesi Selatan terdaftar sebanyak
7.520.204 jiwa, dengan pembagian 3.602.000 laki-laki dan 63.918.204 orang
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 72-78
E-ISSN: 3031-2957
74
Fifi Fatmawati et.al (Mengenal Kebudayaan Suku Bugis)
perempuan dan memiliki relief berupa jazirah-jazirah yang panjang serta pipih yang
ditandai fakta bahwa tidak ada titik daratan yang jauhnya melebihi 90 km dari batas
pantai. Kondisi yang demikian menjadikan pulau Sulawesi memiliki garis pantai yang
panjang dan sebagian daratannya bergunung-gunung (Nurkholis, 2018).
Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12′ Lintang Selatan dan116°48′
122°36′ Bujur Timur. Luas wilayahnya 62.482,54 km². Provinsi ini berbatasan
dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat di utara, Teluk Bone danSulawesi
Tenggara di timur, Selat Makassar di barat, dan Laut Flores di selatan.Kombinasi ini
meghamparkan alam yang mempesona dipandang baik dari daerah pesisir maupun
daerah ketinggian. Sekitar 30.000 tahun silam, pulau Sulawesi telah dihuni oleh
manusia. Peninggalan peradaban di masa tersebut ditemukan di gua-gua bukit kapur
daerah Maros kurang lebih 30 km dari Makassar, ibukota Propinsi Sulawesi Selatan.
Peninggalan prasejarah lainnyayang berupa alat batu peeble dan flake serta fosil babi
dan gajah yang telah punah,dikumpulkan dari teras sungai di Lembah Wallanae,
diantara Soppeng dan Sengkang, Sulawesi Selatan. Pada masa keemasan perdagangan
rempah-rempah di abad ke 15 sampai dengan abad ke 19, Kerajaan Bone dan
Makassar yang perkasa berperan sebagai pintu gerbang ke pusat penghasil rempah,
Kepulauan Maluku (putri, 2022).
b. Karakteristik dasar
Suku Bugis merupakan kelompok etnik dengan wilayah asal Sulawesi.Selatan.
Penciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang
Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai
tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga
dikategorikan sebagai orang Bugis. Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun
2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis
menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi
Tengah, Papua, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Jambi, Riau,
dan Kepulauan Riau. Disamping itu orang-orang Bugis juga banyak ditemukan di
Malaysia dan Singapura yang telah beranak pinak dan keturunannya telah menjadi
bagian dari negara tersebut. Karena jiwa perantau dari masyarakat Bugis, maka
orang-orang Bugis sangat banyak yang pergi merantau ke mancanegara. Bugis adalah
suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara
setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis"
berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis (Suryanti dkk., 2020).
Penamaan "ugi" merujuk pada raja pertama kerajaan Cina yang terdapat di
Pammana, Kabupaten Wajo saat ini, yaitu La Sattumpugi. Ketika rakyat La
Sattumpugi menamakan dirinya, maka mereka merujuk pada raja mereka. Mereka
menjuluki dirinya sebagai To Ugi atau orang-orang atau pengikut dari La Sattumpugi.
La Sattumpugi adalah ayah dari We Cudai dan bersaudara dengan Batara Lattu, ayah
dari Sawerigading. Sawerigading sendiri adalah suami dari We Cudai dan melahirkan
beberapa anak termasuk La Galigo yang membuat karya sastra terbesar di dunia
dengan jumlah kurang lebih 9000 halaman folio. Sawerigading Opunna Ware (Yang
dipertuan di Ware) adalah kisah yang tertuang dalam karya sastra I La Galigo dalam
tradisi masyarakat Bugis. Kisah Sawerigading juga dikenal dalam tradisi masyarakat
Luwuk, Kaili, Gorontalo dan beberapa tradisi lain di Sulawesi seperti Buton
(Rahmatiar dkk., 2021).
c. Sistem Kekerabatan dan Bahasa
1) Sistem Kekerabatan
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 72-78
E-ISSN: 3031-2957
75
Fifi Fatmawati et.al (Mengenal Kebudayaan Suku Bugis)
Sistem kekerabatan masyarakat Bugis Bone memiliki struktur bati na wija sebagai
pranata sosial yang menjadi wadah pembentukan knalitas masyarakat untuk
mendukung sistem sosial dan sistem budaya masyarakat yang harmonis.
Masyarakat Bugis Bone sejak dahulu telah menjadikan bati na wija sebagai sarana
yang membentuk sistem pemerintahan efektif dan efisien. Membantu pemimpin
dan pemuka masyarakat yang berkualitas dan mampu menjadi pioner dalam
membangun sistem kerajaan yang besar yaitu kerajaan Bone, Kerajaan Gowa dan
Kerajaan Luwu.
Bergesernya peran wija na bati tersebut sebagai akibat lemahnya ketahanan
budaya orang Bugis-Bone untuk menjadikannya sebagai sarana pembentukan
kualitas individual, kemimpinan dan kualitas masyarakat. Peranan sistem
kekerabatan yang menyimpan nilai-nilai kekerabatan yang dianut pada masa lalu
tidak lagi menjadi sarana yang efektif membentuk struktur sosial masyarakat
Bugis- Bone yang harmonis. Meskipun demikian, mash ada sebagian kecil
kelompok masyarakat Bugis-Bone yang masih konsisten menggunakan nilai-nilai
kekerabatan sebagai sarana pembentukan kualitas individual, pemimpin dan
masyarakat, teruma pada daerah-daerah yang masih terdapat orang-orang yang
menjunjung tinggi tradisi budaya masyarakat Bugis-Bone yang diyakini sebagai
tradisi yang sudah dianut oleh para pendahulunya (meiyani, 2010)
2) Bahasa
Bahasa Bugis adalah salah satu bahasa dari rumpun bahasa Austronesia yang
digunakan oleh suku Bugis. Penutur bahasa Bugis umumnya tinggal di Sulawesi
Selatan. Wilayah penuturnya terutama di Kabupaten Maros, Kabupaten
Pangkajene dan Kepulauan, Kabupaten Barru, Kabupaten Majene, Kabupaten
Luwu, Kabupaten Sidenreng Rappang, Kabupaten Soppeng, Kabupaten Wajo,
Kabupaten Bone, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Pinrang, Kota Parepare. Bahasa
Bugis juga dipertuturkan di sebagian wilayah di Kabupaten Enrekang, Kabupaten
Majene, dan Kabupaten Bulukumba. Bahasa Bugis terdiri dari beberapa dialek.
Seperti dialek Pinrang yang mirip dengan dialek Sidrap. Dialek Bone (yang
berbeda antara Bone utara dan Selatan). Dialek Soppeng. Dialek Wajo (juga
berbeda antara Wajo bagian utara dan selatan, serta timur dan barat). Dialek Barru,
Bahasa Bugis Sinjai dan sebagainya. Ada beberapa kosakata yang berbeda selain
dialek. Misalnya, dialek Pinrang dan Sidrap menyebut kata Loka untuk pisang.
Sementara dialek Bugis yang lain menyebut Otti atau Utti,adapun dialek yang
agak berbeda yakni kabupaten Sinjai setiap Bahasa Bugis yang menggunakan
Huruf "W" diganti dengan Huruf "H". Contoh; diawa di ganti menjadi diaha.
Huruf "C" dalam dialek bahas Bugis lain, dalam dialek Sinjai berubah menjadi
"SY". Contoh: cappa(ujung) menjadi "syappa".
d. Sistem Ekonomi dan Mata Pencaharian
Karena letaknya yang berada di daerah dataran yang subur kebanyakan
masyarakat bugis bermata pencaharian sebagai petani. Faktor ini sangat di dukung
oleh kesuburan tanah yang sangat sehingga menjadikan wilayah suku bugis menjadi
wilayah pertanian.mata pencaharian lainnya di suku bugis adalah nelayan, selain
terletak di dataran yang subur suku bugis juga mempunyai wilayah di pesisir yang di
anugrahi banyak sumber daya yang melimpah di lautan. Hal ini di manfaatkan
masyarakat untuk mencari penghasilan di lautan. Mata pencaharian terakhir yang
banyak di geluti oleh masyarakat bugis adalah pedagang karena hasil dari para petani
dan nelayan akan di distribusikan ke pedagang pedagang, lalu pedagang
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 72-78
E-ISSN: 3031-2957
76
Fifi Fatmawati et.al (Mengenal Kebudayaan Suku Bugis)
mengumpulkan jumlah yang lebih besar dan di distribusikan kembali ke masyarakat
umum suku bugis. Dari semua mata pencaharian semua inilah masyarakat suku bugis
mendapatkan perekonomian untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya. Selain itu
pada masa sekarang masyarakat suku bugis juga sudah banyak yang mengenyam
dunia pendidikan dan masuk ke dunia birokrasi pemerintahan. jadi dari birokrasi yang
telah dijalankan sebagian kecil masyarakat bugis mampu mendapatkan perekonomian
yang baik (Uyun, 2023)
Tapi mata pencaharian yang sangat umum adalah petani, hal ini dikarenakan
banyak kebutuhan kebutuhan masyarakat suku bugis sehari harinya dihasilkan oleh
lading pertanian misalnya seperti beras, jagung, tembakau dll. Salah satu corak
budaya tani orang Bugis adalah mappataneng, tradisi berusahatani ala Bugis yang
dilakukan suku Bugis di Kalimantan, khususnya Kabupaten Nunukan. Tradisi
mappataneng di lakukan oleh masyarakat tani suku Bugis yaitu bertanam padi di
sawah secara berkelompok. Sebelum acara mappattaneng dilaksanakan, tokoh adat
atau orang yang dituakan(panrita) akan mengundang petani setempat untuk tudang
sipulung (bermusyawarah) menentukan waktu bertanam. Dalam acara ini biasanya
unsur pemerintah ikut dilibatkan, yaitu PPL maupun aparat desa atau kecamatan
setempat.
e. Rumah adat
Indonesia memiliki beragam budaya yang mempengaruhi bentuk rumah
tradisional. Setiap rumah adat menyimpan keistimewaan yang menjadi pembeda di
antara rumah-rumah tradisional. Perbedaan rumah adat itu seperti struktur, cara
pembuatan, bentuk, fungsi, dan ragam hiasnya. Setiap struktur memiliki ciri khas
yang digunakan suku tertentu secara turun-temurun. Demikian juga dengan rumah
adat di Sulawesi Selatan. Pulau Sulawesi memiliki enam provinsi yaitu Gorontalo,
Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan
Sulawesi Utara. Di Sulawesi Selatan, rumah adat dipengaruhi oleh beberapa suku.
Mayoritas suku di sana yaitu: Suku Bugis, Suku Makassar, Suku Mandar, Suku
Toraja, Suku Duri, Suku Pattinjo, Suku Maiwa, Suku Endekan, Suku Pattae, Suku
Kajang atau Konjo. Ada beberapa rumah tradisional di Sulawesi Selatan. Salah satu
yang terkenal yaitu Tongkonan, rumah tradisional suku Toraja. Selain itu ada
beberapa rumah adat yang masih berdiri hingga sekarang (anisa, 2016).
Rumah suku Bugis dan Makassar memiliki kemiripan yaitu berbentuk panggung.
Rumah adat ini hampir sama seperti rumah di Asia Tenggara. Terdapat kayu yang
atapnya berlereng dua, kerangka berbentuk H terdiri dari tiang dan balok. Tiang
tersebut dirakit tanpa menggunakan pasak dan paku. Fungsi tiang ini untuk menopang
lantai dan atap, sementara dinding diikat dengan tiang di bagian luar. Rumah ini
untuk berbagai aktivitas karena ukurannya besar. Ada tiga tingkatan rumah suku
Bugis dan Makassar yaitu dunia atas (voting langi), dunia tengah (ale kawa), dunia
bawah (buri liu). Rumah Saoraja dibedakan berdasarkan status sosial. Jurnal
"Arsitektur Rumah Tradisional Suku Kajang di Provinsi Sulawesi Selatan"
menuliskan bentuk dan filosofinya. Ada Saoraja (Bugis)/Balla Lompoa (Makassar)
artinya adalah istana, dan Bola (Bugis) Ballak (Makassar) artinya rumah masyarakat
biasa (fajri, 2021). Dari status sosial ini, bahan material rumah, ukuran rumah, hingga
hiasan dinding pun berbeda. Sementara dari segi makna, rumah yang seperti istana
menjadi status sosial dan banyak hiasan di dalam rumah. Rumah di Sulawesi Selatan
menjadi simbol dan strata sosial. Semakin bagus rumahnya maka makin tinggi
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 72-78
E-ISSN: 3031-2957
77
Fifi Fatmawati et.al (Mengenal Kebudayaan Suku Bugis)
pembuatan rumah seperti tiang, porselen sebagai hiasan, dan ukuran rumah. Ukuran
rumah melambangkan kehidupan dan kematian.
f. Pakaian adat
Pakaian adat Bugis-Makassar terkenal dengan tampilannya yang mewah dan
elegan. Baju adat ini memberi kesan berwibawa dan terhormat bagi yang
mengenakannya. Dilansir dari laman resmi Museum Daerah Kabupaten Maros, Ciri
khas pakaian adat Bugis-Makassar adalah nuansa ketimur-timuran yang dipadukan
dengan corak lokal khas masyarakat setempat. Baju adat Bugis-Makassar yang cukup
dikenal adalah Baju Bodo untuk wanita dan Baju Jas Tutu' untuk kaum pria. Baju
adat Bugis-Makassar ini umumnya dikenakan pada acara-acara resmi, khususnya
pada upacara adat, budaya, agama, maupun pada pesta pernikahan (ridwan, 2022).
1) Baju Bodo adalah nama baju adat Bugis Makassar untuk kaum wanita. Baju adat
ini sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan Baju Bodo disebut sebagai salah satu
pakaian adat tertua di Indonesia.Ciri khas utama Baju Bodo adalah berbentuk segi
empat dan memiliki lengan pendek. Baju ini terbuat dari bahan dari kain kasa yang
lembut. Umumnya, ukuran Baju Bodo dibuat longgar atau jauh lebih besar dari
ukuran badan pemakainya. Setiap Baju Bodo memiliki warna yang berbeda-beda.
Penggunaan warna ini mengandung arti yang menunjukkan usia atau status sosial
seseorang.
2) Baju Jas Tutu' adalah pakaian adat Bugis-Makassar yang diperuntukkan untuk
kaum laki-laki. Sesuai namanya, baju ini adalah baju jas berwarna hitam dengan
bagian dada yang tertutup. Baju Jas Tutu' memiliki lengan yang panjang dan
bagian leher berkerah. Pada bagian depan dipasangkan kancing yang terbuat dari
emas atau perak. Baju Jas Tutu' biasanya dikenakan kaum laki-laki bersama
dengan celana dan Lipa Sabbe (sarung sutera). Penggunaan Baju Jas Tutu'
biasanya dipadukan dengan Songkok Recca khas Bugis-Makassar.
4. Kesimpulan
Suku Bugis adalah suku asli yang berasal dari Sulawesi Selatan khususnya Kota
Makassar. Bugis berasal dari kata “To Ugi” yang berarti orang Bugis. Bugis adalah suku
yang tergolong kedalam suku-suku Melayu Deutro. Suku Bugis merupakan kelompok
etnik dengan wilayah asal Sulawesi Selatan. Penciri utama kelompok etnik ini adalah
bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke
Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa
dan telah terakulturasi, juga dikategorikan sebagai orang bugis. Berdasarkan sensus
penduduk Indonesia tahun 2000, populasi orang Bugis sebanyak sekitar enam juta jiwa.
Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi
Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, DKI Jakarta, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan,
Jambi, Riau, dan Kepulauan Riau. Disamping itu orang-orang Bugis juga banyak
ditemukan di Malaysia dan Singapura yang telah beranak pinak dan keturunannya telah
menjadi bagian dari negara tersebut. Karena jiwa perantau dari masyarakat Bugis, maka
orang-orang Bugis sangat banyak yang pergi merantau ke mancanegara.
5. Daftar Pustaka
Kapojos, S. M., & Wijaya, H. (2018). Mengenal Budaya Suku Bugis. In Jurnal Lembaga
STAKN Kupang . researchgate.net. https://www.researchgate.net/profile/Hengki-
Wijaya/publication/329016857_Mengenal_Budaya_Suku_Bugis_Pendekatan_Misi_Ter
hadap_Suku_Bugis/links/5bf0142f4585150b2bbdaa96/Mengenal-Budaya-Suku-Bugis-
JISBI: Jurnal Ilmu Sosial dan Budaya Indonesia
Vol. 1, No. 2, November 2024, page: 72-78
E-ISSN: 3031-2957
78
Fifi Fatmawati et.al (Mengenal Kebudayaan Suku Bugis)
Pendekatan-Misi-Terhadap-Suku-Bugis.pdf
Nurkholis, A. (2018). Mengenal Pusat Kebudayaan Maritim: Suku Bajo, Suku Bugis, Suku
Buton, Suku Mandar di Segitiga Emas nusantara. osf.io. https://osf.io/t2xup/download
Rahmatiar, Y., Sanjaya, S., Guntara, D., & ... (2021). Hukum adat suku bugis. Jurnal
Dialektika . http://ejournal.fisip.unjani.ac.id/index.php/jurnal-dialektika-
hukum/article/view/536
Suryanti, S., Mz, I., & Rahmah, S. T. (2020). Sejarah Diaspora Suku Bugis-Makassar di
Kalimantan Tengah. … : Jurnal Sejarah Dan . https://journal3.uin-
alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/15707
Uyun, N. (2023). Sejarah Perkembangan Suku Bugis di Karangantu Banten Tahun 1984-
2021. repository.uinbanten.ac.id. http://repository.uinbanten.ac.id/id/eprint/13112
Anisa, H. (2016). upacara adat naik tojang. gloria yuris jurnal.
Annistri, A. (2020, juli 29). Retrieved from cekaja.com: https://www.cekaja.com/info/11-
kesenian-tradisional-sulawesi-selatan
Fajri, D. L. (2021, agustus 26). rumah adat dan fungsinya. Retrieved from katadata:
https://katadata.co.id/redaksi/berita/612739f22cb45/nama-rumah-adat-sulawesi-
selatan-dan-fungsinya
Kayana, H. (2019, agustus 5). prosesi pernikahan adat bugis. Retrieved from popbela.com:
https://www.popbela.com/relationship/married/hyrasti-kayana/prosesi-pernikahan-
adat-bugis
Meiyani, E. (2010). sistem kekerabatan orang bugis di sulawesi selatan. al-qalam.
Putri, M. I. (2022, oktober 5). sistem kepercayaan hingga kekerabatan. Retrieved from
tirto.id: https://tirto.id/kenali-kebudayaan-suku-bugis-sistem-kepercayaan-hingga-
kekerabatan-gjv5
Ridwan, E. (2022, oktober 15). baju adat bugis-makasar dan kelengkapannya. Retrieved
from detik sulsel:
https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jmfh/article/view/16535#:~:text=Naik%20Tojan
g%20berasal%20dari%20Bahasa,seorang%20bayi%20diperbolehkan%20masuk%20
keayunan.