mengumpulkan jumlah yang lebih besar dan di distribusikan kembali ke masyarakat
umum suku bugis. Dari semua mata pencaharian semua inilah masyarakat suku bugis
mendapatkan perekonomian untuk mencukupi kehidupan sehari-harinya. Selain itu
pada masa sekarang masyarakat suku bugis juga sudah banyak yang mengenyam
dunia pendidikan dan masuk ke dunia birokrasi pemerintahan. jadi dari birokrasi yang
telah dijalankan sebagian kecil masyarakat bugis mampu mendapatkan perekonomian
yang baik (Uyun, 2023)
Tapi mata pencaharian yang sangat umum adalah petani, hal ini dikarenakan
banyak kebutuhan kebutuhan masyarakat suku bugis sehari harinya dihasilkan oleh
lading pertanian misalnya seperti beras, jagung, tembakau dll. Salah satu corak
budaya tani orang Bugis adalah mappataneng, tradisi berusahatani ala Bugis yang
dilakukan suku Bugis di Kalimantan, khususnya Kabupaten Nunukan. Tradisi
mappataneng di lakukan oleh masyarakat tani suku Bugis yaitu bertanam padi di
sawah secara berkelompok. Sebelum acara mappattaneng dilaksanakan, tokoh adat
atau orang yang dituakan(panrita) akan mengundang petani setempat untuk tudang
sipulung (bermusyawarah) menentukan waktu bertanam. Dalam acara ini biasanya
unsur pemerintah ikut dilibatkan, yaitu PPL maupun aparat desa atau kecamatan
setempat.
e. Rumah adat
Indonesia memiliki beragam budaya yang mempengaruhi bentuk rumah
tradisional. Setiap rumah adat menyimpan keistimewaan yang menjadi pembeda di
antara rumah-rumah tradisional. Perbedaan rumah adat itu seperti struktur, cara
pembuatan, bentuk, fungsi, dan ragam hiasnya. Setiap struktur memiliki ciri khas
yang digunakan suku tertentu secara turun-temurun. Demikian juga dengan rumah
adat di Sulawesi Selatan. Pulau Sulawesi memiliki enam provinsi yaitu Gorontalo,
Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan
Sulawesi Utara. Di Sulawesi Selatan, rumah adat dipengaruhi oleh beberapa suku.
Mayoritas suku di sana yaitu: Suku Bugis, Suku Makassar, Suku Mandar, Suku
Toraja, Suku Duri, Suku Pattinjo, Suku Maiwa, Suku Endekan, Suku Pattae, Suku
Kajang atau Konjo. Ada beberapa rumah tradisional di Sulawesi Selatan. Salah satu
yang terkenal yaitu Tongkonan, rumah tradisional suku Toraja. Selain itu ada
beberapa rumah adat yang masih berdiri hingga sekarang (anisa, 2016).
Rumah suku Bugis dan Makassar memiliki kemiripan yaitu berbentuk panggung.
Rumah adat ini hampir sama seperti rumah di Asia Tenggara. Terdapat kayu yang
atapnya berlereng dua, kerangka berbentuk H terdiri dari tiang dan balok. Tiang
tersebut dirakit tanpa menggunakan pasak dan paku. Fungsi tiang ini untuk menopang
lantai dan atap, sementara dinding diikat dengan tiang di bagian luar. Rumah ini
untuk berbagai aktivitas karena ukurannya besar. Ada tiga tingkatan rumah suku
Bugis dan Makassar yaitu dunia atas (voting langi), dunia tengah (ale kawa), dunia
bawah (buri liu). Rumah Saoraja dibedakan berdasarkan status sosial. Jurnal
"Arsitektur Rumah Tradisional Suku Kajang di Provinsi Sulawesi Selatan"
menuliskan bentuk dan filosofinya. Ada Saoraja (Bugis)/Balla Lompoa (Makassar)
artinya adalah istana, dan Bola (Bugis) Ballak (Makassar) artinya rumah masyarakat
biasa (fajri, 2021). Dari status sosial ini, bahan material rumah, ukuran rumah, hingga
hiasan dinding pun berbeda. Sementara dari segi makna, rumah yang seperti istana
menjadi status sosial dan banyak hiasan di dalam rumah. Rumah di Sulawesi Selatan
menjadi simbol dan strata sosial. Semakin bagus rumahnya maka makin tinggi