Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
146
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
Tantangan Ideologi Pancasila Di Era Media Sosial:
Analisis Pengaruh Polarisasi Digital terhadap
Persatuan Bangsa
Alfonsa Ema Welan
a,1
, Emiliana Kampas
b,2
a,b
Universitas Pamulang, Jl. Raya Puspitek, Buaran, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Provinsi
Banten, Kode Pos 15310
1
putrigisella623@gmail.com;
2
emikampas@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 16 September 2025
Direvisi: 18 Oktober 2025
Disetujui: 20 November 2025
Tersedia Daring: 1 Desember
2025
Di era digital, media sosial telah mengubah cara informasi diproduksi,
didistribusikan, dan dikonsumsi, sehingga menghadirkan tantangan baru bagi
ideologi Pancasila sebagai pemersatu bangsa Indonesia. Tingginya penetrasi
internet dan media sosial, dengan 73,8% penduduk Indonesia terhubung ke
internet dan 68,9% sebagai pengguna aktif media sosial, meningkatkan risiko
polarisasi digital melalui mekanisme ruang gema, disinformasi, dan kurasi
algoritmik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan ideologi
Pancasila dalam konteks polarisasi digital serta mengkaji implikasinya terhadap
persatuan bangsa. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain
studi pustaka melalui penelaahan kritis terhadap artikel jurnal ilmiah, buku
akademik, laporan kebijakan, dan dokumen penelitian yang relevan. Hasil kajian
menunjukkan adanya celah dalam internalisasi nilai nilai Pancasila, khususnya di
kalangan generasi muda yang sangat dipengaruhi oleh algoritma media sosial.
Polarisasi digital mendorong fragmentasi identitas, meningkatnya intoleransi,
serta menurunnya kualitas dialog publik, yang berdampak negatif terhadap
kohesi sosial dan praktik musyawarah. Selain itu, pola kurasi algoritmik yang
memprioritaskan konten emosional dibdaningkan narasi kritis mempersempit
ruang deliberasi lintas kelompok. Temuan penelitian menegaskan bahwa
tantangan terhadap Pancasila tidak disebabkan oleh lemahnya nilai ideologis,
melainkan oleh perubahan ekologi informasi digital yang membentuk pola
interaksi sosial baru. Oleh karena itu, penguatan literasi digital yang terintegrasi
dengan pendidikan nilai, intervensi berbasis komunitas, serta tata kelola
platform media sosial yang transparan menjadi strategi penting untuk
mengurangi polarisasi digital dan memperkuat persatuan bangsa.
Kata Kunci:
ideologi Pancasila,
media sosial,
polarisasi digital,
persatuan bangsa,
literasi digital
ABSTRACT
Keywords:
Pancasila ideology,
social media,
digital polarization,
national unity,
digital literacy
In the digital era, social media has transformed the way information is produced,
distributed, dan consumed, thereby posing new challenges to Pancasila as the
ideological foundation dan unifying force of the Indonesian nation. The high level of
internet dan social media penetration, with 73.8% of the population connected to
the internet dan 68.9% actively using social media, increases the risk of digital
polarization through echo chambers, disinformation, dan algorithmic curation.
This study aims to analyze the challenges faced by Pancasila in the context of
digital polarization dan to examine its implications for national unity. The research
adopts a qualitative approach using a literature review design by critically
examining scholarly journal articles, academic books, policy reports, dan relevant
research documents. The findings indicate a gap in the internalization of Pancasila
values, particularly among younger generations who are strongly influenced by
social media algorithms. Digital polarization contributes to identity fragmentation,
rising intolerance, dan declining quality of public dialogue, which negatively affects
social cohesion dan deliberative practices. Moreover, algorithmic curation that
prioritizes emotional content over critical narratives further narrows the space for
cross group deliberation. The study concludes that challenges to Pancasila do not
stem from weaknesses in its ideological values, but rather from changes in the
digital information ecosystem that shape new patterns of social interaction.
Therefore, strengthening digital literacy integrated with value education,
community based interventions, dan transparent governance of social media
platforms are essential strategies to reduce digital polarization dan reinforce
national unit.
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
147
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
©2025, Alfonsa Ema Welan, Emiliana Kampas
This is an open access article under CC BY-SA license
1. Pendahuluan
Di era digital, media sosial telah mengalami pergeseran fungsi yang signifikan, dari
sekadar sarana komunikasi interpersonal menjadi ruang publik utama tempat pembentukan
opini, mobilisasi sosial, serta kontestasi identitas berlangsung secara intensif dan masif
(Suhendra dan Pratiwi, 2024). Dalam konteks Indonesia, kondisi ini menjadi semakin
kompleks mengingat Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah pengguna media
sosial terbesar di dunia. Arus informasi yang beredar di ruang digital berlangsung sangat cepat
dan tidak selalu diiringi dengan akurasi, karena informasi faktual bercampur dengan informasi
yang menyesatkan dan manipulatif. Berdasarkan data terkini, dari total 277,7 juta penduduk
Indonesia, sebanyak 204,7 juta orang telah terhubung ke internet atau sekitar 73,8% dari
populasi, sementara pengguna aktif media sosial mencapai 191,4 juta orang atau setara dengan
68,9% penduduk (The Global Statistics, 2024). Jumlah pengguna yang sangat besar ini
menunjukkan bahwa media sosial bukan lagi fenomena netral, melainkan memiliki implikasi
serius terhadap dinamika sosial, termasuk kohesi sosial dan persatuan bangsa.
Intensitas penggunaan media sosial yang tinggi turut diperkuat oleh mekanisme algoritmik
yang mengatur arus informasi berdasarkan preferensi pengguna. Kondisi ini meningkatkan
risiko terbentuknya ruang gema atau echo chamber, yakni situasi ketika pengguna lebih sering
terpapar pada konten dan opini yang sejalan dengan keyakinan mereka sendiri, sementara
pdanangan yang berbeda, bahkan fakta objektif, cenderung diabaikan atau disingkirkan
(Tjasmadi dan Christianto, 2025). Dalam ruang digital semacam ini, proses dialog yang sehat
menjadi terhambat karena interaksi berlangsung secara homogen dan tertutup. Selain itu,
media sosial juga kerap dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran informasi yang tidak
seluruhnya benar. Dengan basis pengguna yang sangat besar, konten hoaks, ujaran kebencian,
dan propagdana dapat menyebar dengan sangat cepat dan luas. Situasi ini mendorong
terjadinya polarisasi sosial yang tidak hanya didasarkan pada perbedaan pendapat, tetapi juga
dipicu oleh misinformasi yang membangkitkan emosi, kecurigaan, dan konflik antarkelompok
(Ramadhani, 2025).
Fenomena tersebut diperkuat oleh data dari Kementerian Komunikasi dan Digital yang
mencatat sepanjang periode 1 Januari hingga 31 Desember 2024 terdapat 1.923 temuan hoaks.
Rincian kasus per bulan menunjukkan angka yang relatif konsisten dan cenderung tinggi,
dengan 143 kasus pada Januari, 131 pada Februari, 162 pada Maret, 143 pada April, 164 pada
Mei, 153 pada Juni, 170 pada Juli, 162 pada Agustus, 173 pada September, 215 pada Oktober,
166 pada November, dan 141 pada Desember. Puncak temuan hoaks tercatat pada Oktober
dengan 215 kasus, yang menunjukkan eskalasi signifikan dalam periode tertentu (Komdigi,
2025). Tingginya angka ini menjadi persoalan serius karena penggunaan media sosial yang
masif tidak diimbangi dengan kemampuan verifikasi informasi yang memadai. Akibatnya,
hoaks mudah dipercaya dan dibagikan kembali, sehingga memengaruhi persepsi, sikap, dan
perilaku masyarakat secara luas. Paparan media digital yang tinggi tanpa kontrol kritis terbukti
menciptakan ruang yang subur bagi berkembangnya misinformasi dan menurunnya kualitas
literasi informasi publik (Yashila dan Athifahputih, 2022).
Implikasi dari berbagai fenomena tersebut berpengaruh kuat terhadap internalisasi
ideologi Pancasila, khususnya di kalangan generasi muda yang merupakan mayoritas
pengguna aktif platform digital. Generasi milenial dan Generasi Z tumbuh dalam lingkungan
informasi yang sangat terbuka, dengan paparan budaya global, algoritme konten, serta
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
148
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
konsumsi narasi yang cepat dan berulang. Dalam situasi ini, proses pembelajaran dan
penanaman nilai-nilai kebangsaan tidak lagi hanya berlangsung melalui institusi formal seperti
sekolah dan keluarga, tetapi juga melalui kultur digital yang sering kali bersifat komersial,
sensasional, dan fragmentaris (Nurlaila et al., 2024). Kondisi tersebut memunculkan celah
antara pengetahuan formal mengenai Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa
dengan praktik penghayatan serta penerapan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Kesenjangan kognitif dan afektif ini membuka ruang bagi berkembangnya narasi alternatif
yang tidak selalu sejalan dengan semangat persatuan, toleransi, dan musyawarah sebagaimana
diamanatkan dalam Pancasila. Oleh karena itu, periode transisi nilai pada generasi muda
menjadi titik rentan yang memerlukan intervensi pendidikan nilai yang lebih adaptif terhadap
ekosistem digital (Rastati, 2022).
Lebih jauh, media sosial juga memfasilitasi penyebaran sentimen identitas dan intoleransi
melalui struktur jaringan daring dan mekanisme viralisasi konten. Isu-isu sensitif yang
berkaitan dengan suku, agama, ras, antargolongan, gender, dan identitas lainnya mudah
terekspos dan kemudian diperkuat oleh akun-akun yang berpihak. Konflik yang semula
bersifat lokal dan terbatas dapat dengan cepat meluas menjadi krisis berskala nasional ketika
dipicu oleh narasi provokatif yang viral. Selain itu, potensi radikalisme digital cenderung lebih
tinggi pada kelompok usia muda yang aktif di internet, sehingga ruang digital menjadi medan
persaingan ideologis yang rawan dan berbahaya (Najib, Maftuh dan Malihah, 2015). Salah
satu akar permasalahan yang memperparah kondisi ini adalah belum matangnya literasi digital
dan literasi ideologi di kalangan masyarakat. Indeks literasi digital nasional menunjukkan
bahwa sebagian besar populasi masih berada pada kategori “sedang”, yang mendanakan
bahwa kemampuan verifikasi informasi, pemahaman terhadap cara kerja algoritme, serta etika
bermedia digital masih perlu ditingkatkan secara sistematis (Saidi, Supriyono dan Atok, 2022).
Ketidaksiapan dalam memverifikasi kebenaran informasi membuat masyarakat mudah
terjebak dalam hoaks, sementara minimnya pemahaman mendalam tentang Pancasila
menyebabkan wacana kebangsaan sering direduksi menjadi slogan normatif tanpa
implementasi praksis yang nyata (Basuki dan Setyawan, 2022). Oleh sebab itu, penguatan
literasi digital semestinya tidak hanya menekankan aspek teknis, tetapi juga pendidikan nilai
yang mengintegrasikan kemampuan berpikir kritis dengan pemahaman ideologi negara.
Berdasarkan berbagai permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
tantangan ideologi Pancasila di era media sosial serta mengkaji bagaimana polarisasi digital
memengaruhi persatuan bangsa. Untuk memperkuat analisis, penelitian ini menggunakan
kerangka teori filter bubble atau echo chamber yang menjelaskan bahwa mekanisme
personalisasi konten di platform digital cenderung menyajikan informasi yang selaras dengan
preferensi pengguna (Wuldanari, Rullyana dan Ardiansah, 2021). Akibatnya, pengguna lebih
sering terpapar pada pesan yang mengonfirmasi keyakinan mereka sendiri dan jarang
berinteraksi dengan sudut pdanang yang berbeda. Dalam konteks kebangsaan, kondisi ini
memfasilitasi terbentuknya kelompok-kelompok sosial yang terfragmentasi, memperkuat
stereotip, serta mempersempit ruang dialog lintas golongan, sehingga melemahkan praktik
musyawarah dan semangat persatuan yang menjadi inti nilai Pancasila. Efek gema ini tidak
semata-mata dipicu oleh preferensi individu, tetapi juga oleh desain platform dan logika
komersial yang memprioritaskan keterlibatan pengguna (engagement) di atas kualitas
diskursus publik (Fajarini, Yuliani dan Kurniawati, 2025).
Selain itu, teori identitas sosial digunakan untuk menjelaskan bagaimana individu
cenderung mendefinisikan dirinya sebagai bagian dari kelompok tertentu, seperti kelompok
politik, agama, atau komunitas sosial lainnya (Ruslan dan Hakiki, 2022). Dalam kondisi
tersebut, perbedaan pendapat yang seharusnya dapat dibahas secara rasional sering kali
berubah menjadi konflik emosional, karena individu lebih terdorong untuk membela
kelompoknya sendiri tanpa mempertimbangkan informasi atau argumen dari pihak lain.
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
149
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
Situasi ini membuat polarisasi digital semakin tajam, karena kelompok yang berbeda lebih
mudah dipersepsikan sebagai lawan atau ancaman (Naila et al., 2024). Proses inilah yang
berpotensi mengganggu nilai-nilai Pancasila, terutama sikap saling menghormati, toleransi,
dan semangat persatuan. Ketika identitas kelompok menjadi terlalu dominan di ruang digital,
ruang dialog menjadi semakin sempit dan masyarakat semakin sulit menjaga relasi sosial yang
harmonis antar-golongan.
Selanjutnya, penelitian ini juga memanfaatkan perspektif teori demokrasi deliberatif yang
menekankan bahwa kualitas keputusan bersama sangat bergantung pada mutu proses diskusi
publik yang inklusif dan rasional (Murdianto, Alamsyah dan Srisnardi, 2025). Dalam kerangka
ini, masyarakat idealnya saling mendengar, mempertimbangkan argumen satu sama lain, serta
bersedia merevisi pdanangan jika dihadapkan pada alasan yang lebih kuat. Prinsip tersebut
selaras dengan nilai musyawarah yang terkdanung dalam Pancasila. Melalui perspektif
deliberatif, kondisi ruang publik digital dapat dianalisis untuk melihat sejauh mana media
sosial berkontribusi terhadap penurunan kualitas dialog publik. Pendekatan ini sekaligus
membuka ruang untuk merumuskan upaya perbaikan, seperti pengembangan desain platform
yang lebih sehat, regulasi yang mendorong percakapan beretika, serta pendidikan digital yang
mampu menghidupkan kembali budaya musyawarah yang inklusif sesuai dengan amanat
Pancasila.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi pustaka (literature
review) untuk menganalisis pengaruh polarisasi digital terhadap ideologi Pancasila.
Pendekatan kualitatif dipahami sebagai metode penelitian yang menekankan pada upaya
memperoleh pemahaman mendalam terhadap fenomena sosial melalui penafsiran makna,
konteks, serta dinamika pengalaman sosial, bukan semata-mata melalui pengukuran numerik
atau statistik (Wulan et al., 2025). Melalui pendekatan ini, penelitian berupaya menelaah
secara kritis berbagai gagasan, konsep, dan temuan yang berkaitan dengan polarisasi digital,
media sosial, serta internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Desain studi pustaka digunakan karena penelitian ini bertumpu pada pengumpulan,
penelaahan, dan sintesis sumber-sumber ilmiah yang relevan, seperti artikel jurnal
terakreditasi, buku akademik, laporan kebijakan, serta dokumen penelitian yang membahas
tema ideologi, literasi digital, media sosial, dan polarisasi sosial. Studi pustaka memungkinkan
peneliti untuk membangun pemahaman yang komprehensif dan sistematis terhadap
perkembangan wacana serta temuan empiris yang telah ada, sehingga dapat mengidentifikasi
pola, kesenjangan, dan kecenderungan konseptual dalam kajian polarisasi digital dan ideologi
Pancasila (Abdurrahman, 2024). Pemilihan metode kualitatif dengan desain studi pustaka
didasarkan pada pertimbangan bahwa isu polarisasi digital dan tantangannya terhadap ideologi
Pancasila merupakan fenomena sosial yang kompleks, kontekstual, dan sarat makna.
Fenomena tersebut tidak dapat dijelaskan secara utuh hanya melalui data kuantitatif,
melainkan memerlukan penafsiran kritis terhadap narasi, argumen, dan kerangka teoritis yang
berkembang dalam literatur akademik. Dengan demikian, pendekatan ini dinilai paling tepat
untuk menggali secara mendalam hubungan antara dinamika media sosial, pembentukan
polarisasi digital, serta implikasinya terhadap penghayatan dan praktik nilai-nilai Pancasila
dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
3. Hasil dan Pembahasan
Tantangan Ideologi Pancasila di Era Media Sosial
Fenomena polarisasi digital pada platform media sosial memperlihatkan konfigurasi
epistemik yang bersifat fragmentatif sehingga ruang publik menjadi tersegmentasi ke dalam
ruang gema yang meneguhkan preferensi afektif pengguna dan mengesampingkan pluralitas
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
150
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
perspektif. Penguatan echo chamber dan filter bubble berimplikasi pada distorsi akses
informasi sehingga narasi kebangsaan yang memusatkan pada nilai Pancasila mengalami
difusi makna. Bukti empiris yang dikompilasi dari kajian pustaka menunjukkan bahwa kurasi
algoritmik dan mekanika rekomendasi konten mempercepat sirkulasi konten yang memicu
resonansi emosional dibdaningkan konten yang menawarkan refleksi kritis, kondisi yang
menguntungkan reproduksi ujaran kebencian dan disinformasi dan merongrong norma
deliberasi publik. Argumen ini sinkron dengan analisis mengenai keterkaitan antara eksposur
selektif dan intensifikasi polarisasi politik di Indonesia yang menunjukkan bagaimana isu yang
semula bersifat sektoral meluas menjadi konflik afiliasi identitas (Ali dan Eriyanto, 2021).
Analisis wacana akademik terkini menegaskan adanya disonan antara fungsi historis
Pancasila sebagai ideologi pemersatu dan realitas komunikatif era digital yang berciri
kecepatan dan viralitas. Narasi yang dahulu dibangun melalui institusi formal pendidikan dan
ritual kenegaraan kini bersaing dengan perangkat naratif mikro yang menyebar cepat lewat
jejaring sosial. Transformasi ini memunculkan problematik legitimasional yakni bagaimana
nilai Pancasila dapat diinternalisasi ketika sumber otoritas informasi berserakan dan
kredibilitas tradisional mengalami erosi. Literatur tentang revitalisasi nilai kebangsaan
merekomendasikan pendekatan komunikatif yang adaptif termasuk penguatan literasi digital
yang kontekstual dan strategis untuk merekonstruksi kembali wacana kebangsaan agar mampu
berinteraksi produktif dengan ekosistem media baru (Ruyadi et al., 2023).
Dinamika afektif pengguna media sosial menimbulkan modal emosional yang secara
kolektif memfasilitasi pembentukan identitas politik yang eksklusif sehingga kohesi sosial
menjadi rapuh. Penelitian yang menelaah hubungan antara populisme digital dan
performativitas politik mengindikasikan bahwa strategi komunikasi yang bersifat
mengkonstruksi oposisi dan sinisme terhadap lawan politik berpotensi mengkristalkan
polarisasi yang sulit dibalik melalui argumen rasional saja. Dampak praktis dari pola ini adalah
terjadinya fragmentasi jaringan sosial horizontal dan meningkatnya toleransi terhadap
kebencian yang mengancam persatuan yang diidealkan oleh Pancasila. Strategi mitigasi yang
diusulkan oleh sejumlah kajian mencakup intervensi regulatif pada mekanisme platform dan
inisiatif edukatif berbasis komunitas untuk memperkuat kapasitas deliberatif warganegara
(Nadzir, 2022).
Kajian komparatif atas platform yang berbeda mengungkapkan bahwa mekanisme
operasional masing masing platform menghasilkan pola polarisasi yang variatif. Algoritma
rekomendasi pada platform berbasis video menyebabkan amplifikasi konten visual emosional
sedangkan platform berbasis teks memfasilitasi pembentukan narasi yang lebih terpolarisasi
melalui rantai retorika. Variasi medium ini menuntut adaptasi strategi kebijakan publik yang
tidak bersifat satu ukuran untuk semua melainkan responsif terhadap karakteristik teknis dan
demografis masing masing platform. Beberapa studi kasus di Indonesia menunjukkan bahwa
generasi muda memiliki tingkat rentan polarisasi yang dipengaruhi oleh logika gamifikasi dan
estetika konsumsi konten sehingga intervensi literasi digital harus memperhitungkan dimensi
budaya konsumsi tersebut (Avrilia et al., 2025).
Persepsi terhadap Pancasila sebagai living ideology mengalami kontestasi interpretatif
ketika wacana digital memungkinkan aktor non tradisional untuk memonopoli bahasa
kebangsaan. Proliferasi konten yang memanipulasi simbol simbol kebangsaan menghasilkan
dislokasi semantik yang berpotensi mereduksi signifikansi norma normatif Pancasila.
Pendekatan hermeneutik yang diusulkan oleh sejumlah peneliti menekankan perlunya praksis
komunikatif yang rekuperatif untuk merekonstruksi muatan nilai melalui narasi yang menarik
dan relevan bagi sub populasi yang berbeda. Intervensi komunikatif tersebut diharapkan
mampu menahan ekskalasi narasi identitas eksklusif dengan menawarkan narasi alternatif
yang menautkan afiliasi identitas lokal dengan nilai nilai Pancasila (Sajidin, Farhanuddin dan
Saputra, 2025).
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
151
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
Tinjauan empiris terhadap implikasi sosial politik memperlihatkan bahwa polarisasi
digital tidak hanya berdampak pada kualitas diskursus publik tetapi juga pada struktur jaringan
solidaritas sosial. Penelitian mengenai dampak polarisasi terhadap kohesi sosial menyatakan
bahwa fragmentasi jaringan interaksi sosial meningkatkan kerentanan terhadap konflik
horizontal terutama pada konteks multietnik dan multireligius. Ancaman tersebut bukan
sekadar teori melainkan telah didokumentasikan dalam sejumlah kasus di Indonesia yang
mengaitkan eskalasi konflik dengan polarisasi diskursus online. Oleh karena itu penegakan
norma norma kebangsaan memerlukan sinergi antara regulasi platform, program literasi kritik,
dan penguatan institusi institusi kebudayaan yang mampu memfasilitasi pertemuan dialogis
antar kelompok (Wardani, 2025).
Tabel berikut merangkum aspek aspek tantangan, manifestasi di ranah digital, implikasi
terhadap persatuan bangsa, dan rujukan pustaka yang relevan untuk setiap aspek tersebut.
Tabel 1. Tantangan ideologi Pancasila di era media sosial
Aspek Tantangan
Manifestasi di
Media Sosial
Implikasi pada
Persatuan Bangsa
Referensi
Kurasi algoritmik
dan echo chamber
Personalisasi
konten yang
mengurangi
diversitas
perspektif
Penurunan
kapasitas deliberatif
dan meningkatnya
polarisasi identitas
(Avrilia et al.,
2025)
Diseminasi
disinformasi dan
ujaran kebencian
Viralitas konten
provokatif tanpa
verifikasi
Erosi kepercayaan
antar kelompok
sosial
(Hidayat, 2025)
Komodifikasi
simbol kebangsaan
Instrumentalisasi
simbol untuk tujuan
politis mikro
Reduksi makna
ideologis Pancasila
menjadi alat
retorika
(Nasoha et al.,
2025)
Fragmentasi
generasional
Preferensi platform
berbeda mengarah
pada kesenjangan
wacana
Diskontinuitas
transmisi nilai
kebangsaan antar
generasi
(Purboyo et al.,
2025)
Politisisasi identitas
Mobilisasi daring
berbasis identitas
agama etnis
Potensi konflik
horizontal dan
delegitimasi
kesepakatan
bersama
(Faizin et al., 2025)
Pembahasan terapan mengindikasikan bahwa upaya mitigasi polarisasi digital wajib
mengombinasikan strategi preventif dan korektif. Strategi preventif mencakup pembekalan
kemampuan literasi digital yang menekankan kompetensi verifikasional dan hermeneutik
sehingga individu mampu mengidentifikasi manipulasi retoris dan praksis deliberate
misinformation. Program edukatif yang terintegrasi dalam kurikulum formal serta program
non formal yang bersinergi dengan komunitas lokal terbukti penting untuk memperluas basis
pemahaman nilai nilai Pancasila yang kontekstual. Intervensi korektif melibatkan tata kelola
platform yang lebih transparan terkait logika rekomendasi serta mekanisme cepat untuk
mendanai dan menurunkan konten berbahaya. Penelitian terdahulu merekomendasikan
kolaborasi multi pemangku kepentingan di level pemerintah platform dan masyarakat sipil
untuk mengharmonisasikan stdanar moderasi konten tanpa mengorbankan kebebasan
berekspresi (Ali dan Eriyanto, 2021).
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
152
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
Evaluasi kualitatif atas efektivitas program revitalisasi nilai kebangsaan menunjukkan
bahwa pendekatan komunikatif yang memedomani kultur lokal memiliki peluang lebih tinggi
untuk resonansi dibdaningkan narasi top down yang eksklusif. Pendekatan bottom up yang
memanfaatkan agen agen budaya lokal serta media komunitas mampu menjembatani jurang
epistemik antara generasi dan kelompok sosial yang berbeda. Upaya ini perlu didampingi
indikator indikator evaluasi yang operasional untuk mengukur perubahan disposisi warga
terhadap nilai Pancasila serta tingkat keterlibatan deliberatif di ruang online. Studi studi sukses
di tingkat lokal menyajikan bukti bahwa narasi kebangsaan yang disesuaikan dengan konteks
setempat dapat menekan eskalasi polarisasi dan memperkuat ikatan sosial (Sajidin,
Farhanuddin dan Saputra, 2025).
Pertimbangan normatif dalam ranah kebijakan menuntut keseimbangan antara
perlindungan persatuan dan kebebasan berekspresi. Rangka kebijakan yang efektif harus
menyediakan mekanisme akuntabilitas bagi aktor platform sekaligus memberikan ruang
remedial bagi korban ujaran kebencian. Regulasi semacam itu sebaiknya dirancang dengan
prinsip proporsionalitas dan keterbukaan sehingga tidak menjadi instrumen represi terhadap
wacana kritis yang sah. Kajian hukum dan kebijakan di Indonesia menekankan perlunya
dialog multi sektoral untuk merumuskan pedoman yang adaptif terhadap perubahan teknologi
tanpa melemahkan prinsip prinsip demokrasi deliberatif (Nasoha et al., 2025).
Penting untuk dilakukan penelitian lanjutan yang mengintegrasikan perspektif inter
disipliner. Pendekatan yang mengombinasikan analisis jaringan sosial kuantitatif dengan
kajian wacana kualitatif mampu memberikan gambaran komprehensif tentang bagaimana
polarisasi terbentuk dan bagaimana efeknya terhadap internalisasi nilai nilai Pancasila. Perlu
perhatian khusus terhadap dimensi demografis dan geografis karena dinamika polarisasi dapat
berbeda antara wilayah perkotaan dan pedesaan. Penelitian longitudinal direkomendasikan
untuk memetakan trajektori pergeseran sikap kebangsaan seiring dengan evolusi ekosistem
digital dan kebijakan platform (Sukidin, Hudha dan Basrowi, 2025).
Terakhir, implikasi praktis bagi penguatan Pancasila di era media sosial menuntut
orkestrasi antara kurikulum pendidikan kebangsaan literasi digital kebijakan platform dan
inisiatif komunitas. Sinergi tersebut bertujuan menciptakan ekosistem informasi yang kondusif
bagi pembentukan wacana kebangsaan inklusif dan deliberatif. Penciptaan mekanisme
evaluasi berkelanjutan terhadap intervensi kebijakan menjadi kunci agar upaya revitalisasi
nilai kebangsaan dapat diadaptasi seiring evolusi teknologi komunikasi. Bukti pustaka
memperkuat gagasan bahwa respons multidimensi dan adaptif merupakan prasyarat agar
Pancasila tidak hanya menjadi simbol tetapi suatu praktik hidup yang resilien terhadap arus
polarisasi digital (Sajidin, Farhanuddin dan Saputra, 2025).
Polarisasi Digital dan Pengaruhnya terhadap Persatuan Bangsa
Fenomena polarisasi digital menampakkan konfigurasi afektif dan epistemik yang berlapis
sehingga ruang publik daring berubah menjadi medan kompetisi naratif; kecenderungan
algoritmik untuk mengoptimalkan keterlibatan menghasilkan kurasi yang privileging konten
emosional sehingga paparan publik terhadap argumen yang bersifat kritis atau multi perspektif
mengalami penyempitan signifikan. Observasi empiris lintas negara menunjukkan bahwa
diseminasi disinformasi dan ujaran permusuhan berkolerasi dengan peningkatan split afektif
yang mengikis modal sosial diperlukan untuk kohesi kolektif, dengan dinamika tersebut
menjadi lebih akut pada momen politik sensitif atau krisis nasional di mana sirkulasi konten
viral mampu memicu mobilisasi massa yang terfragmentasi. Kajian komparatif menegaskan
peran kompleks disinformasi sebagai katalisator polarisasi yang bekerja bersama mekanisme
platform untuk memperkuat segregasi informasi dalam klaster homofilik sehingga probabilitas
kontak deliberatif antarklaim berkurang drastis (Vasist, Chatterjee dan Krishnan, 2024).
Transformasi simbolik nilai kebangsaan di arena digital menunjukkan pergeseran
semantik dimana simbol nasional berisiko dikomodifikasi sebagai instrumen mobilisasi
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
153
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
identitas sempit sehingga fungsi normatif ideologi yang menyatukan menjadi tergusur oleh
pragmatisme retoris; proses ini termanifestasi lewat kampanye hashtag yang menyasar
resonansi emosional serta melalui konten audiovisual yang dioptimasi untuk viralitas alih alih
rekonstruksi makna normatif. Studi kasus pada konteks Indonesia memaparkan bagaimana
narasi xenofobia dan polaritas terhadap kelompok rentan berkembang pesat di beberapa
wilayah melalui kampanye terkoordinasi yang memanfaatkan celah moderasi platform,
menghasilkan erosi kepercayaan antar komunitas dan menurunkan kapasitas negosiasi sosial.
Perlu strategi rekontekstualisasi nilai yang memadukan hermeneutika lokal dengan praktik
komunikasi digital yang responsif agar simbol kebangsaan dapat dibaca ulang secara inklusif
(Chan dan Yi, 2024).
Dimensi generasional memperlihatkan heterogenitas repertoar media yang menjadi faktor
determinan pola paparan informasi dan predisposisi terhadap polarisasi; preferensi generasi
digital native terhadap platform yang mengdanalkan format video singkat dan estetika
gamifikasi menghasilkan jalur kurasi yang memiliki norma epistemik tersendiri sehingga
perdebatan nilai tidak lagi berlangsung di ruang shared yang sama. Penelitian kuantitatif dan
kualitatif pada perilaku media generasi muda menyingkap bahwa algoritma rekomendasi
memfasilitasi terciptanya subkultur digital dengan repertoar wacana yang cepat berubah
sementara saluran tradisional untuk transmisi nilai kebangsaan menjadi semakin kurang
relevan untuk segmen tersebut. Intervensi edukatif yang bersifat generasional dan berbasis
media spesifik direkomendasikan untuk menjangkau ekosistem konsumsi konten yang berbeda
sambil mempertahankan muatan normatif nilai kebangsaan (Komara dan Widjaya, 2024).
Struktur jaringan sosial daring memperlihatkan perubahan topologis yang signifikant
dimana pembentukan klaster afinitas homogen mengurangi frekuensi hubungan lintas klaster
sehingga probabilitas kompromi serta pemahaman mutual mengalami depresiasi; analisis
jaringan sosial mengindikasikan bahwa semakin modular suatu jaringan maka kapasitasnya
untuk memediasi konflik menurun sehingga risiko eskalasi horizontal meningkat. Hasil
pemodelan menyarankan bahwa intervensi yang rekayasa affordance ruang publik, seperti
mendorong konten kolaboratif antar kelompok dan platform fitur yang mempromosikan
eksposur terukur terhadap perspektif lain, memiliki potensi untuk menurunkan tingkat
polarisasi sekaligus memperbesar ruang untuk deliberasi rasional. Pendekatan ini harus
dioperasionalkan melalui sinergi antara desain platform dan kebijakan publik yang
mengutamakan keterbukaan algoritma serta fasilitasi pertemuan dialogis antar komunitas
(Komara dan Widjaya, 2024).
Mekanisme normatif dan regulatif menjadi elemen penting untuk menahan ekskalasi
polarisasi tanpa mereduksi hak kebebasan berekspresi sehingga prinsip proporsionalitas dan
akuntabilitas harus menjadi ldanasan pembuatan kebijakan; beberapa yurisdiksi telah mulai
menerapkan kewajiban transparansi terkait logika rekomendasi serta kewajiban penyediaan
saluran pengaduan yang responsif untuk korban ujaran kebencian. Evaluasi kebijakan tersebut
menunjukkan bahwa tata kelola platform yang hanya bersifat teknokratis tidak mencukupi
karena tanpa peningkatan kapabilitas literasi masyarakat, intervensi regulatif dapat berujung
pada efek balik berupa penguatan narasi victimhood dan teori konspirasi. Oleh karena itu
kebijakan yang efektif perlu dilengkapi dengan program literasi kritis yang kontekstual serta
partisipasi aktif aktor masyarakat sipil untuk memastikan akuntabilitas kolektif (Chan dan Yi,
2024).
Dinamika afektif yang terinternalisasi oleh kelompok digital memengaruhi predisposisi
terhadap kompromi sehingga penguatan modal emosional inklusif menjadi strategi nonteknis
yang esensial; intervensi yang berhasil di beberapa studi melibatkan inisiatif community
engagement yang memfasilitasi kontak langsung antarpelaku wacana serta penggunaan narasi
yang menautkan kepentingan lokal dengan nilai kebangsaan secara sinergis. Terapan pedagogi
deliberatif yang mengembangkan kapasitas argumentasi, empati epistemik, serta literasi
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
154
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
verifikasional menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam menurunkan percaya pada
disinformasi dan meningkatkan toleransi terhadap perbedaan. Pendekatan ini mensyaratkan
pengukuran outcome sekaligus monitoring longitudinal untuk menilai perubahan disposition
warga terhadap narasi kebangsaan dalam jangka menengah hingga panjang (Vasist, Chatterjee
dan Krishnan, 2024).
Metodologi penelitian pada topik polarisasi digital menuntut sintesis interdisipliner yang
menggabungkan analisis jaringan kuantitatif, analisis wacana kualitatif, dan eksperimen
lapangan untuk menguji efektivitas intervensi; studi longitudinal dan eksperimen naturalistik
dapat memetakan trajektori perubahan sikap serta menilai dampak kebijakan platform dalam
konteks nyata. Penekanan pada varian demografis dan geografis merupakan hal penting karena
heterogenitas kapasitas digital serta pengalaman historis masing masing komunitas
memengaruhi kerentanan terhadap polarisasi. Pengembangan metrik operasional untuk
mengukur kualitas deliberasi serta internalisasi nilai kebangsaan di ranah digital akan
meningkatkan kemampuan evaluatif terhadap program program revitalisasi nilai kebangsaan
sehingga intervensi dapat diadaptasi berdasarkan bukti empiris yang valid (Ahmmad et al.,
2025).
Perlu adanya kombinasi tindakan preventif dan korektif yaitu peningkatan literasi digital
kontekstual, keterbukaan algoritmik, dan penguatan institusi kultur lokal yang mempunyai
legitimasi sosial; pelaksanaan program program tersebut harus disertai indikator evaluasi yang
jelas agar perubahan kualitas interaksi sosial daring dapat diukur. Sinergi antarpemangku
kepentingan merupakan prasyarat karena platform teknologi, lembaga pendidikan, organisasi
masyarakat sipil, dan pembuat kebijakan memiliki peran komplementer yang tidak dapat
digantikan satu sama lain. Implementasi yang adaptif terhadap dinamika teknologi serta
kesensitifan terhadap konteks lokal menjadi kunci agar rasionalitas normatif kebangsaan tetap
hadir sebagai fondasi persatuan dalam ekosistem komunikasi yang semakin terdistribusi (Chan
dan Yi, 2024).
Polarisasi digital memanifestasi sebagai fenomena multifaset dengan implikasi langsung
terhadap kohesi sosial sehingga respons yang efektif harus bersifat multidimensional dan
evidence based; kebijakan regulatif yang berpijak pada prinsip keterbukaan, program edukatif
yang menghantarkan literasi verifikasional, serta inisiatif komunitas yang memfasilitasi dialog
antarmotivasi berbeda diperlukan untuk mereduksi fragmentasi naratif. Investasi pada
penelitian transformatif yang memadukan pendekatan kuantitatif dan kualitatif serta kolaborasi
lintas sektor akan meningkatkan kapasitas adaptif institusi sosial untuk menjaga persatuan
dalam menghadapi arus polarisasi digital yang terus berevolusi (Vasist, Chatterjee dan
Krishnan, 2024).
4. Kesimpulan
Polarisasi digital di media sosial telah memperkuat fragmentasi sosial, memperlemah
ruang dialog, serta menggeser pemaknaan nilai-nilai Pancasila, terutama prinsip persatuan dan
musyawarah. Fenomena seperti echo chamber, bias algoritmik, disinformasi, dan politisasi
identitas tidak hanya memperdalam perbedaan pdanangan, tetapi juga memicu ketegangan
emosional antarkelompok yang berdampak pada menurunnya kepercayaan sosial. Kondisi ini
menunjukkan bahwa tantangan terhadap ideologi Pancasila di era digital bukan terletak pada
kelemahan konsep Pancasila itu sendiri, melainkan pada perubahan ekologi informasi yang
membentuk pola interaksi sosial baru di masyarakat. Dengan demikian, penelitian ini
menegaskan bahwa polarisasi digital merupakan faktor signifikan yang perlu ditangani secara
sistematis guna menjaga keberlanjutan nilai-nilai kebangsaan dalam ruang publik. Upaya
penguatan ideologi Pancasila perlu disesuaikan dengan dinamika ekosistem digital yang terus
berkembang. Penguatan literasi digital, pembenahan tata kelola platform media sosial,
rekontekstualisasi nilai-nilai Pancasila bagi generasi muda, serta penciptaan ruang dialog yang
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
155
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
lebih inklusif menjadi langkah strategis yang perlu diarahkan pada transformasi budaya
digital, bukan semata-mata pada pendekatan regulatif. Pendidikan ideologi Pancasila juga
tidak lagi cukup jika hanya berbasis ceramah atau kurikulum formal, melainkan harus
terintegrasi dengan pola komunikasi dan interaksi masyarakat di media sosial. Dengan
pendekatan tersebut, penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi perumusan kebijakan
dan program yang lebih responsif terhadap tantangan ideologis di era media digital.
5. Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Universitas Pamulang atas dukungan
akademik dan fasilitas yang diberikan selama proses penyusunan artikel ini. Ucapan terima
kasih juga disampaikan kepada seluruh pihak yang telah memberikan masukan, saran, dan
kontribusi pemikiran sehingga artikel ini dapat diselesaikan dan dipublikasikan dengan baik.
6. Daftar Pustaka
Abdurrahman (2024) ‘Metode Penelitian Kepustakaan dalam Pendidikan Islam’, Adabuna:
Jurnal Pendidikan dan Pemikiran, 3(2), pp. 102113.
Ahmmad, M. et al. (2025) ‘Trap of Social Media Algorithms : A Systematic Review of
Research on Filter Bubbles , Echo Chambers , and Their Impact on Youth’, Societies,
15(301), pp. 117. Available at: https://doi.org/https:// doi.org/10.3390/soc15110301.
Ali, D.J. and Eriyanto (2021) ‘Political Polarization and Selective Exposure of Social Media
Users in Indonesia’, Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 24(3), pp. 268283. Available
at: https://doi.org/10.22146/jsp.
Avrilia, M.V. et al. (2025) ‘The Role of TikTok s Algorithm in Political Polarization and
Disinformation in Indonesia’, CAKRA COMMUNICO: Journal of Communication
Science, 2(2), pp. 6775.
Basuki, U. and Setyawan, H. (2022) ‘LANGKAH STRATEGIS MENANGKAL HOAX:
SUATU PENDEKATAN KEBIJAKAN DAN HUKUM’, Jurnal Hukum Caraka Justitia,
2(1), pp. 122.
Chan, M. and Yi, J. (2024) ‘Social Media Use and Political Engagement in Polarized Times .
Examining the Contextual Roles of Issue and Affective Polarization in Developed
Democracies Social Media Use and Political Engagement in Polarized Times .
Examining the Contextual Roles of Issue and Affective Polarization in Developed
Democracies’, Political Communication, 41(5), pp. 743762. Available at:
https://doi.org/10.1080/10584609.2024.2325423.
Faizin, B. et al. (2025) ‘Polarization of Religious Issues in Indonesia s Social Media Society
and Its Impact on Social Conflict’, Journal of Applied Data Sciences, 6(1), pp. 426442.
Available at: https://doi.org/https://doi.org/10.47738/jads.v6i1.447.
Fajarini, S.D., Yuliani, F. and Kurniawati, J. (2025) ‘PERAN ALGORITMA MEDIA SOSIAL
DALAM MEMBENTUK FILTER BUBBLE DAN ECHO CHAMBER DI
KALANGAN MILENIAL DAN GEN Z KOTA’, Jurnal Sarjana Ilmu Komunikasi (J-
SIKOM), 6(1). Available at: https://doi.org/DOI. 10.36085/jsikom.v6i1.8456.
Hidayat, N. (2025) ‘Narasi Kebangsaan di Era Media Sosial : Relevansi Pancasila dalam
Ekosistem Digital Pancasila diakui sebagai nilai dasar yang tidak tergantikan , tetapi
proses aktualisasinya’, PACIVIC (Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan),
5(1), pp. 105118.
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
156
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
Komara, D.A. and Widjaya, S.N. (2024) ‘Memahami Perilaku Informasi Gen-Z dan Strategi
Melawan Disinformasi: Sebuah Tinjauan Literatur Penggunaan Media Sosial’, Jurnal
Pustaka Ilmiah, 10(2), p. 155. Available at: https://doi.org/10.20961/jpi.v10i2.85775.
Komdigi (2025) Komdigi Identifikasi 1.923 Konten Hoaks Sepanjang Tahun 2024,
Kementerian Komunikasi dan Digital.
Murdianto, R.B., Alamsyah, M.N. and Srisnardi (2025) ‘Demokrasi deliberatif dalam
musyawarah rencana pembangunan desa di desa kayu agung kecamatan mepanga
kabupaten parigi moutong’, JSIP: Jurnal Studi Inovasi Pemerintahan, 1(04), pp. 204216.
Nadzir, I. (2022) ‘PERFORMATIVE POLITICS AND DIGITAL POPULISM IN
INDONESIA’, Jurnal Penelitian Politik, 19(2), pp. 7392.
Naila, T. et al. (2024) ‘Mengoptimalisasikan Dampak Perbedaan Pendapat Masyarakat Akibat
Kesalahpahaman Dari Bahasa Daerah’, KONSENSUS : Jurnal Ilmu Pertahanan, Hukum
dan Ilmu Komunikasi, 1(4). Available at:
https://doi.org/https://journal.appisi.or.id/index.php/konsensus.
Najib, M., Maftuh, B. and Malihah, E. (2015) ‘PERANAN PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL
UNTUK MEMINIMALISASI KONFLIK ISU SARA DI INDONESIA’, Jurnal
Kolaborasi Resolusi Konflik, 5(2), pp. 127136.
Nasoha, A.M.M. et al. (2025) ‘Digital Pancasila : Strategi Komunikasi dalam Mempromosikan
Nilai-Nilai Kebangsaan di Era Media Sosial’, Jurnal Hukum, Administrasi Publik Dan
Negara, 2(3), pp. 137152. Available at:
https://doi.org/https://doi.org/10.62383/hukum.v2i3.274.
Nurlaila, C. et al. (2024) ‘Dinamika Perilaku Gen Z Sebagai Generasi Internet’, Konsensus:
Jurnal Ilmu Pertahanan, Hukum dan Ilmu Komunikasi, 1(6), pp. 95102. Available at:
https://doi.org/10.62383/konsensus.v1i6.433.
Purboyo, M.G. et al. (2025) ‘Ambivalensi Politik Digital : Algoritma , Gamifikasi , dan
Polarisasi Generasi Z di TikTok’, JSA (Jurnal Sosiologi Andalas), 11(2), pp. 172190.
Available at: https://doi.org/https://doi.org/10.25077/jsa.11.2.172-190.2025.
Ramadhani, S. (2025) ‘PUBLISTIK : Riset Jurnalistik dan Komunikasi Media Analisis
Penyebaran Informasi Palsu dan Ujaran Kebencian di Media Sosial Indonesia : Studi
Kasus Berita Hoax Dan Hate Speech’, Publistik: Riset Jurnalistik dan Komunikasi
Media, 2(1), pp. 2834.
Rastati, R. (2022) ‘INTERNALIZING PANCASILA THROUGH POP CULTURE AND
YOUTH COMMUNITY’, Jurnal Masyarakat dan Budaya, 24(2). Available at:
https://doi.org/10.55981/jmb.1601.
Ruslan, I. and Hakiki, K.M. (2022) ‘ANTAR AGAMA DI INDONESIA’, Al-Adyan: Jurnal
Studi Lintas Agama, 17(2), pp. 201222.
Ruyadi, Y. et al. (2023) ‘Challenges and strengthening the role of Pancasila ideology in the
reform era through increasing literacy’, Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan,
20(2), pp. 312321. Available at: https://doi.org/https://doi.org/10.21831/jc.v20i2.63991.
Saidi, M.R., Supriyono and Atok, R. (2022) ‘THE EFFECT OF DIGITAL LITERACY AND
CIVIC LITERACY ON THE PERSONAL ’’, Jurnal Ilmiah Pendidikan Pancasila dan
Kewarganegaraan, 7(1), pp. 119128.
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 3, No. 2, Desember 2025, page: 146-157
E-ISSN: 3025-9843
157
Alfonsa Ema Welan et.al (Tantangan Ideologi Pancasila Di Era...)
Sajidin, M., Farhanuddin and Saputra, I. (2025) ‘Revitalization of Pancasila Ideological Values
to Strengthen the Role of Youth in National Resilience’, Integralistik, 36(2), pp. 155
167. Available at: https://doi.org/https://doi.org/10.15294/v7600e28 Submitted:
Suhendra and Pratiwi, F.S. (2024) ‘Peran Komunikasi Digital dalam Pembentukan Opini
Publik : Studi Kasus Media Sosial’, IAPA | Universitas Sriwijaya Prosiding: Resiliensi
Indonesia dalam Pusaran Disrupsi Global, 2(6), pp. 293315.
Sukidin, Hudha, C. and Basrowi (2025) ‘Shaping democracy in Indonesia : The influence of
multicultural attitudes and social media activity on participation in public discourse and
attitudes toward democracy’, Social Sciences & Humanities Open, 11(March), p.
101440. Available at: https://doi.org/10.1016/j.ssaho.2025.101440.
The Global Statistics (2024) Pengguna Media Sosial di Indonesia Sepanjang 2024, Info
Ketapang.
Tjasmadi, M.P. and Christianto (2025) ‘Jurnal shanan’, Jurnal Shanan: Kajian Pendidikan
Agama Kristen, 9(1), pp. 130146. Available at:
https://doi.org/10.33541/shanan.v9i2.7302.
Vasist, P.N., Chatterjee, D. and Krishnan, S. (2024) ‘The Polarizing Impact of Political
Disinformation and Hate Speech: A Cross-country Configural Narrative’, Information
Systems Frontiers, 26(2), pp. 663688. Available at: https://doi.org/10.1007/s10796-023-
10390-w.
Wardani, M. (2025) ‘The Impact of Political Polarization on Social Cohesion in a Multicultural
Society’, Indonesian Journal of Islamic Jurisprudence,Economic and Legal Theory, 3(1),
pp. 713722.
Wulan, N. et al. (2025) ‘Konsep dan Praktik Metode Kualitatif untuk Penelitian Sosial’,
RISOMA : Jurnal Riset Sosial Humaniora dan Pendidikan, 3(4). Available at:
https://doi.org/https://doi.org/10.62383/risoma.v3i4.860.
Wulandari, V., Rullyana, G. and Ardiansah (2021) ‘Pengaruh algoritma’, Berkala Ilmu
Perpustakaan dan Informasi, 17(1). Available at:
https://doi.org/https://doi.org/10.22146/bip.v17i1.423.
Yashila, P. and Athifahputih, R. (2022) ‘Penegakan hukum terhadap penyebaran berita hoax di
lihat dari tinjauan hukum’, Jurnal Hukum dan Pembangunan Ekonomi, 10(1), pp. 6477.