Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-7
E-ISSN: 3025-9843
1
Elsa Meyla Audiana (Pemanfaatan Konten Video dalam Program....)
Pemanfaatan Konten Video dalam Program MBKM
di Humas Bawaslu sebagai Bentuk Sosialisasi Politik
Digital bagi Generasi Z
Elsa Meyla Audina
Universitas Islam Negri Sunan Ampel Surabaya, Jl. Kampus II No.682, Gn. Anyar, Kec. Gn. Anyar, Surabaya,
Jawa Timur 60294
Email elsameylaaudinacantik@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 28 Januari 2026
Direvisi: 25 April 2026
Disetujui: 19 Mei 2026
Tersedia Daring: 1 Juni 2026
Pemanfaatan video konten dikalangan gen Z sebagai bentuk
pembelajaran terkait proses pemilu di media sosial dapat
dimanfaatkan secara strategis untuk pembelajaran proses pemilu,
asalkan didukung konten edukatif berkualitas, literasi digital, dan
kolaborasi antara KPU, Bawaslu, lembaga pendidikan, influencer, dan
platform media sosial. Dengan demikian, Gen Z dapat belajar lebih
banyak tentang pemilu melalui media sosial, bukan hanya sebagai
ruang kampanye, tetapi juga sebagai ruang pendidikan politik digital.
menunjukkan bahwa Gen Z cenderung mengakses informasi politik
melalui konten visual, interaktif, dan cepat, dengan platform utama
berupa TikTok, Instagram, dan X. Gen Z lebih tertarik pada video
pendek, ulasan, konten ringan, maupun konten kreatif yang dibuat oleh
influencer politik atau Lembaga pemilu sehingga materi pemilu yang
disajikan dalam format serupa memiliki potensi besar untuk menarik
perhatian dan memperluas cakupan pembelajaran politik. Namun,
tanpa pendampingan literasi digital, Gen Z sering hanya membaca
tulisan menarik tanpa melakukan verifikasi informasi, sehingga
berpotensi menjadi korban propaganda dan disinformasi.
Kata Kunci:
Sosial media,
Gen Z,
Bawaslu,
Partisipasi politik,
Edukasi
ABSTRACT
Keywords:
Social media,
gen z,
Bawaslu,
Political participation,
Education
The utilization of video content among Gen Z as a form of learning about
the electoral process on social media can be strategically employed for
civic education, provided it is supported by high-quality educational
content, digital literacy, and collaboration between the KPU, Bawaslu,
educational institutions, influencers, and social media platforms. Thus,
Gen Z can learn more about elections through social media, not only as a
space for political campaigning but also as a digital space for political
education. Research indicates that Gen Z tends to access political
information through visual, interactive, and fast-paced content, with
primary platforms such as TikTok, Instagram, and X. Gen Z is more
interested in short videos, reviews, light-hearted content, and creative
material produced by political influencers or election-related institutions;
therefore, electoral content presented in similar formats holds great
potential to capture attention and broaden the scope of political
learning. However, without proper digital literacy guidance, Gen Z often
reads only the appealing text or watches entertaining clips without
verifying the information, making them vulnerable to propaganda and
disinformation.
©2026, Elsa Meyla Audina
This is an open access article under CC BY-SA license
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-7
E-ISSN: 3025-9843
2
Elsa Meyla Audiana (Pemanfaatan Konten Video dalam Program....)
1. Pendahuluan
Humas Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum) memiliki peran penting dalam
menyampaikan edukasi politik dan informasi pemilu kepada masyarakat. Perkembangan
teknologi digital menyebabkan pola komunikasi masyarakat mengalami perubahan dari
media konvensional menuju media sosial. Kondisi tersebut mendorong Humas Bawaslu
untuk memanfaatkan platform digital seperti TikTok, Instagram, dan X sebagai sarana
penyampaian edukasi politik yang lebih efektif dan mudah dijangkau masyarakat, khususnya
Generasi Z.
Generasi Z merupakan generasi digital native yang terbiasa mengakses informasi
melalui media sosial dengan format visual, singkat, dan interaktif. Karakteristik tersebut
membuat video konten menjadi salah satu media komunikasi yang lebih diminati
dibandingkan penyampaian informasi dalam bentuk teks panjang. Oleh karena itu,
penggunaan video konten dinilai mampu membantu penyampaian edukasi pemilu menjadi
lebih menarik dan mudah dipahami oleh pemilih pemula.
Penelitian terdahulu umumnya membahas pengaruh media sosial terhadap literasi
politik, partisipasi politik, dan perilaku pemilih pemula pada Generasi Z. Namun, penelitian
yang secara khusus mengkaji keterlibatan mahasiswa Program Merdeka Belajar Kampus
Merdeka (MBKM) dalam proses produksi konten video edukasi politik di lingkungan Humas
Bawaslu masih terbatas. Selain itu, penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada media
sosial sebagai sarana penyebaran informasi politik tanpa membahas proses kreatif produksi
konten digital, seperti penyusunan ide, konsep video, editing, dan penyesuaian konten
dengan tren media sosial yang dekat dengan Generasi Z.
Keunikan penelitian ini terletak pada fokus penelitian yang mengkaji pemanfaatan
konten video dalam Program MBKM di Humas Bawaslu sebagai bentuk sosialisasi politik
digital bagi Generasi Z. Penelitian ini tidak hanya membahas media sosial sebagai alat
komunikasi politik, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana mahasiswa MBKM
terlibat dalam proses produksi video edukasi politik, mulai dari brainstorming ide, shooting
video, editing, hingga publikasi konten di media sosial Bawaslu.
Dalam pelaksanaan Program MBKM di Humas Bawaslu, mahasiswa turut membantu
pengembangan konten video edukasi pemilu yang dikemas secara visual, singkat, dan
mengikuti tren media sosial. Konten yang dibuat berisi edukasi mengenai tahapan pemilu,
pengawasan partisipatif, anti hoaks, dan ajakan menggunakan hak pilih. Berdasarkan hasil
kegiatan magang, ditemukan bahwa konten video yang menggunakan subtitle, audio populer,
serta konsep visual yang komunikatif memperoleh respons lebih tinggi dari audiens
dibandingkan penyampaian informasi formal.
Dari perspektif sosiologi politik, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola
sosialisasi politik di era digital. Jika sebelumnya sosialisasi politik dilakukan melalui
sekolah, media massa, dan lembaga formal lainnya, kini media sosial menjadi ruang baru
dalam pembentukan kesadaran politik masyarakat, khususnya Generasi Z. Media sosial tidak
hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran politik
digital yang mampu memengaruhi cara Generasi Z memperoleh, memahami, dan merespons
informasi politik.
Pengaruh dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan video konten dalam
media sosial mampu meningkatkan ketertarikan Generasi Z terhadap edukasi politik dan
informasi pemilu. Selain itu, keterlibatan mahasiswa MBKM membantu Humas Bawaslu
menciptakan inovasi komunikasi politik digital yang lebih kreatif dan relevan dengan budaya
media Generasi Z. Dengan demikian, penggunaan video konten dapat menjadi strategi
sosialisasi politik digital yang efektif dalam meningkatkan kesadaran politik pemilih pemula
di era media digital.
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-7
E-ISSN: 3025-9843
3
Elsa Meyla Audiana (Pemanfaatan Konten Video dalam Program....)
Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini berfokus pada pemanfaatan konten video
dalam Program MBKM di Humas Bawaslu sebagai bentuk sosialisasi politik digital bagi
Generasi Z. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses produksi konten video edukasi
politik, keterlibatan mahasiswa MBKM dalam pengelolaan media sosial, serta respons
Generasi Z terhadap penggunaan video konten sebagai media edukasi politik digital.
2. Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif sosiologi politik
yang bertujuan untuk memahami peran Humas Bawaslu dalam memanfaatkan video konten
sebagai media pembelajaran pemilu bagi Generasi Z di media sosial. Penelitian dilaksanakan
melalui kegiatan magang Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) di Bawaslu tingkat
kota dalam kurun waktu tertentu, sehingga data yang diperoleh bersifat langsung dari praktik
di lapangan. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif, di mana peneliti
terlibat secara langsung dalam proses perencanaan, produksi, hingga publikasi konten video
edukasi pemilu. Data yang dikumpulkan berupa deskripsi proses pembuatan konten, strategi
komunikasi yang digunakan, serta bentuk penyampaian pesan politik dalam media sosial.
Pendekatan sosiologi politik digunakan untuk menganalisis hubungan antara produksi
konten komunikasi politik dengan perilaku politik Generasi Z sebagai pemilih pemula. Fokus
penelitian ini meliputi bagaimana Humas Bawaslu merancang pesan dalam bentuk video,
memilih platform media sosial, membangun interaksi dengan audiens, serta mengevaluasi
efektivitas konten dalam meningkatkan kesadaran dan partisipasi politik. Penelitian ini
diharapkan menghasilkan pemahaman mengenai strategi komunikasi digital yang efektif,
identifikasi jenis konten yang sesuai bagi Generasi Z, serta rekomendasi optimalisasi media
sosial dalam sosialisasi dan pengawasan pemilu di masa mendatang.
3. Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan hasil kegiatan magang MBKM di Humas Bawaslu, ditemukan bahwa
proses penyusunan ide dan konsep konten video edukasi politik dilakukan secara kolaboratif
antara mahasiswa MBKM dan tim Humas Bawaslu. Penyusunan konten dilakukan dengan
mempertimbangkan karakteristik Generasi Z sebagai target audiens utama yang lebih aktif
menggunakan media sosial dalam memperoleh informasi. Oleh karena itu, ide konten yang
dikembangkan tidak hanya berfokus pada penyampaian informasi pemilu secara formal,
tetapi juga menyesuaikan dengan pola konsumsi media Generasi Z yang cenderung
menyukai konten visual, singkat, dan interaktif.
Dalam proses perancangan konten, mahasiswa MBKM turut berkontribusi dalam
memberikan ide kreatif terkait konsep video yang mengikuti tren media sosial. Penggunaan
konsep video berbasis tren dilakukan agar konten edukasi politik mampu menarik perhatian
audiens dan bersaing dengan konten hiburan yang lebih dominan di platform digital seperti
TikTok dan Instagram. Konten yang dibuat umumnya dikemas dalam bentuk video singkat
dengan penggunaan bahasa yang santai, visual komunikatif, subtitle, serta audio populer
yang sedang banyak digunakan di media sosial.
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-7
E-ISSN: 3025-9843
4
Elsa Meyla Audiana (Pemanfaatan Konten Video dalam Program....)
Gambar 1 Hasil Konten
Gambar tersebut, memperlihatkan bahwa desain konten podcast dibuat menggunakan
visual yang modern dan komunikatif dengan dominasi warna yang sederhana namun menarik
perhatian. Penggunaan poster digital yang menampilkan narasumber, jadwal tayang, serta
tema podcast menunjukkan adanya strategi komunikasi visual untuk menarik minat audiens
media sosial, khususnya Generasi Z. Selain itu, penggunaan Instagram sebagai media
promosi podcast menunjukkan bahwa Humas Bawaslu memanfaatkan integrasi antarplatform
media sosial untuk memperluas penyebaran edukasi politik digital. YouTube digunakan
sebagai media penyampaian konten berdurasi panjang, sedangkan Instagram dimanfaatkan
untuk membangun engagement dan menarik audiens melalui tampilan visual yang lebih
singkat dan interaktif.
Hasil observasi selama magang menunjukkan bahwa konsep podcast dinilai lebih
efektif dalam membangun komunikasi dua arah dan memberikan pembahasan politik yang
lebih santai dibandingkan penyampaian formal. Generasi Z cenderung lebih tertarik pada
format diskusi ringan karena dianggap lebih mudah dipahami dan tidak terlalu kaku. Selain
itu, pembagian potongan video podcast ke Instagram membantu meningkatkan perhatian
audiens terhadap konten edukasi politik yang dipublikasikan di YouTube. Dari perspektif
sosiologi politik, pemanfaatan podcast sebagai media edukasi menunjukkan adanya
transformasi bentuk sosialisasi politik di era digital. Media sosial tidak hanya digunakan
untuk penyebaran informasi singkat, tetapi juga berkembang menjadi ruang diskusi politik
digital yang memungkinkan masyarakat, khususnya Generasi Z, memperoleh pemahaman
politik melalui pendekatan yang lebih fleksibel dan interaktif. Podcast dalam konteks ini
berfungsi sebagai media komunikasi politik digital yang mampu mendekatkan isu pemilu
dengan budaya media generasi muda.
Proses Editing dan Produksi Konten Video
Berdasarkan hasil kegiatan magang MBKM di Humas Bawaslu, mahasiswa MBKM
terlibat secara langsung dalam proses produksi dan editing konten video edukasi politik yang
dipublikasikan melalui media sosial. Keterlibatan tersebut dimulai dari proses shooting
video, pengambilan gambar, pengaturan konsep visual, hingga tahap editing sebelum konten
dipublikasikan pada platform seperti Instagram dan TikTok. Dalam proses produksi, video
dibuat dengan konsep yang sederhana namun tetap komunikatif agar mudah dipahami oleh
Generasi Z. Pengambilan gambar dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan konten dan
tren media sosial yang sedang berkembang. Selain itu, mahasiswa MBKM juga membantu
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-7
E-ISSN: 3025-9843
5
Elsa Meyla Audiana (Pemanfaatan Konten Video dalam Program....)
menentukan angle video, penyusunan visual, serta pengaturan durasi konten agar lebih
menarik perhatian audiens media sosial.
Gambar 2 Proses Editing
Pada tahap editing, video diedit dengan menambahkan subtitle, audio yang sedang tren,
efek transisi, serta elemen visual yang menarik. Penggunaan subtitle bertujuan
mempermudah audiens memahami isi informasi, terutama karena sebagian pengguna media
sosial cenderung menonton video tanpa suara. Sementara itu, penggunaan audio populer dan
transisi visual dilakukan agar konten lebih relevan dengan budaya media Generasi Z dan
mampu meningkatkan engagement audiens.
Hasil observasi selama kegiatan magang menunjukkan bahwa video dengan durasi
singkat lebih banyak digunakan dibandingkan video berdurasi panjang. Hal tersebut
disebabkan karena Generasi Z cenderung memiliki pola konsumsi informasi yang cepat dan
lebih tertarik pada konten visual singkat yang langsung menyampaikan inti informasi.
Konten berdurasi pendek dinilai lebih efektif dalam mempertahankan perhatian audiens dan
meningkatkan jumlah tayangan pada media sosial.
Berdasarkan dokumentasi proses produksi konten, terlihat bahwa mahasiswa MBKM
dan tim Humas Bawaslu bekerja secara kolaboratif dalam menyusun konten video edukasi
politik. Proses editing menjadi salah satu tahapan penting karena menentukan kualitas visual
dan daya tarik konten sebelum dipublikasikan di media sosial. Peneliti menemukan bahwa
penggunaan subtitle, audio tren, serta visual yang dinamis memiliki pengaruh terhadap
peningkatan engagement audiens. Konten yang dikemas secara kreatif cenderung
memperoleh lebih banyak views, likes, dan komentar dibandingkan video dengan tampilan
formal. Kondisi ini menunjukkan bahwa komunikasi politik digital di era media sosial
membutuhkan strategi visual yang menarik agar informasi politik dapat diterima dengan
lebih efektif oleh Generasi Z.
Dari perspektif sosiologi politik, proses produksi dan editing video menunjukkan
adanya perubahan pola penyampaian informasi politik dari bentuk formal menuju
komunikasi digital yang lebih interaktif dan visual. Media sosial tidak hanya menjadi ruang
hiburan, tetapi juga menjadi sarana sosialisasi politik digital yang menyesuaikan karakteristik
budaya media generasi muda.
Respons Audiens terhadap Konten Video Edukasi Politik
Konten video edukasi politik yang dipublikasikan melalui media sosial Humas
Bawaslu mendapatkan respons dari audiens berupa likes, komentar, dan shares. Interaksi
tersebut menunjukkan bahwa penyampaian informasi politik melalui media sosial mampu
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-7
E-ISSN: 3025-9843
6
Elsa Meyla Audiana (Pemanfaatan Konten Video dalam Program....)
menarik perhatian Generasi Z sebagai pengguna aktif platform digital. Tingginya interaksi
pada beberapa konten juga memperlihatkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana
penyebaran informasi, tetapi juga menjadi ruang komunikasi digital antara lembaga dan
masyarakat. Konten video yang menggunakan konsep visual menarik serta audio yang
sedang tren cenderung memperoleh engagement lebih tinggi dibandingkan video dengan
penyampaian formal. Penggunaan subtitle, transisi visual, dan audio populer membantu
membuat konten lebih relevan dengan budaya media Generasi Z. Selain itu, konsep video
yang mengikuti tren media sosial dinilai lebih mudah menjangkau audiens karena sesuai
dengan pola konsumsi konten pada platform seperti TikTok dan Instagram.
Audiens juga terlihat lebih tertarik pada video dengan durasi singkat dibandingkan
penjelasan yang terlalu panjang. Video singkat dianggap lebih efektif karena mampu
menyampaikan inti informasi secara cepat dan mudah dipahami. Karakteristik Generasi Z
yang terbiasa mengakses informasi secara instan menyebabkan konten dengan visual ringkas
dan komunikatif lebih mudah mempertahankan perhatian audiens dibandingkan video
berdurasi panjang. Gambar engagement media sosial menunjukkan bahwa beberapa konten
video edukasi memperoleh jumlah interaksi yang cukup tinggi. Tingginya likes, komentar,
dan shares memperlihatkan bahwa video konten mampu meningkatkan perhatian audiens
terhadap isu politik dan pemilu.
Konten dengan konsep visual kreatif dan penggunaan audio tren memperoleh respons
lebih besar dibandingkan video formal. Hal tersebut menunjukkan bahwa strategi komunikasi
politik digital pada media sosial dipengaruhi oleh cara penyampaian pesan yang
menyesuaikan budaya digital Generasi Z. Dalam konteks ini, visual dan tren media sosial
menjadi faktor penting dalam meningkatkan efektivitas penyampaian edukasi politik. Dari
perspektif sosiologi politik, interaksi audiens pada media sosial menunjukkan adanya
perubahan pola sosialisasi politik di era digital. Generasi Z tidak hanya menerima informasi
politik secara pasif, tetapi juga terlibat melalui komentar, membagikan ulang konten, dan
memberikan respons terhadap isu politik yang dipublikasikan di media sosial.
4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, pemanfaatan konten video dalam Program MBKM di
Humas Bawaslu menjadi salah satu bentuk sosialisasi politik digital yang efektif bagi
Generasi Z. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube dimanfaatkan sebagai
sarana penyampaian edukasi politik dengan konsep yang lebih visual, singkat, dan
komunikatif. Mahasiswa MBKM turut berperan dalam proses produksi konten mulai dari
penyusunan ide, shooting, editing, hingga publikasi konten media sosial. Penggunaan
subtitle, audio tren, serta konsep visual yang mengikuti perkembangan media sosial terbukti
mampu meningkatkan ketertarikan audiens terhadap informasi politik dan pemilu.
Selain itu, respons audiens terhadap konten video menunjukkan bahwa Generasi Z
lebih tertarik pada penyampaian informasi politik melalui media digital dibandingkan media
konvensional. Tingginya engagement berupa likes, komentar, dan shares menunjukkan
bahwa media sosial telah menjadi ruang baru dalam proses sosialisasi politik di era digital.
Dari perspektif sosiologi politik, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola
komunikasi politik masyarakat, di mana media sosial tidak hanya berfungsi sebagai media
hiburan, tetapi juga sebagai sarana pembentukan kesadaran politik dan partisipasi generasi
muda terhadap isu demokrasi dan pemilu.
5. Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Humas Bawaslu Kota Surabaya yang telah
memberikan kesempatan dan dukungan selama pelaksanaan Program Merdeka Belajar
Kampus Merdeka (MBKM). Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh pihak
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 1-7
E-ISSN: 3025-9843
7
Elsa Meyla Audiana (Pemanfaatan Konten Video dalam Program....)
yang telah membantu proses pelaksanaan magang, pengumpulan data, serta penyusunan
artikel ini sehingga penelitian dapat diselesaikan dengan baik. Penulis juga mengucapkan
terima kasih kepada dosen pembimbing dan pihak kampus yang telah memberikan arahan
serta masukan selama proses penelitian dan penulisan artikel ilmiah ini.
6. Daftar Pustaka
Ani, A. L. (2024). Strategi KPU Kota Bandar Lampung Dalam Meningkatkan Partisipasi
Pemilih Gen-Z Melalui Program “GOES TO CAMPUS” (Doctoral dissertation, UIN
Raden Intan Lampung
Ausath, J. A. (2024). Strategi Komunikasi Komisi Pemilihan Umum Daerah Istimewa
Yogyakarta (KPU DIY) dalam meningkatkan Pemilih Pemula Gen Z Pada Pemilu
2024 (Doctoral dissertation, Universitas Islam Indonesia).
Diazzaki, Y. F., & Mubarak, A. (2024). Peran Komisi Pemilihan Umum Dalam
Meningkatkan Partisipasi Generasi-Z Pada Pemilu Tahun 2024 Di Kabupaten
Agam. Jurnal Administrasi Pemerintahan Desa, 5(2), 1-12.
Muhammad, S. A. (2024). STRATEGI KAMPANYE KOMUNIKASI MELALUI MEDIA
SOSIAL BAWASLU UNTUK MENINGKATKAN PARTISIPASI PEMILIH.
Nabila, V., Nurhadi, Z. F., & Kurniawan, A. W. (2025). Pengaruh media sosial Instagram
terhadap literasi politik Gen Z pada Pilkada 2024 di Kabupaten Garut. Jurnal
Communio: Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi, 14(2), 269-285.
RIANDHITA, L. S. (2026). REKRUTMEN PANITIA PENGAWAS KECAMATAN PADA
PEMILIHAN UMUM TAHUN 2024 (Studi Pada Bawaslu Kota Bandar Lampung).
Qalbuadi, G. Q., Muhammad, M., & Saad, M. (2025). Media Sosial dan Keterlibatan Politik
Generasi Z pada Pilkada Kabupaten Enrekang Tahun 2024. Jurnal Noken: Ilmu-Ilmu
Sosial, 11(2), 575-586.