1. Pendahuluan
Humas Bawaslu (Badan Pengawas Pemilihan Umum) memiliki peran penting dalam
menyampaikan edukasi politik dan informasi pemilu kepada masyarakat. Perkembangan
teknologi digital menyebabkan pola komunikasi masyarakat mengalami perubahan dari
media konvensional menuju media sosial. Kondisi tersebut mendorong Humas Bawaslu
untuk memanfaatkan platform digital seperti TikTok, Instagram, dan X sebagai sarana
penyampaian edukasi politik yang lebih efektif dan mudah dijangkau masyarakat, khususnya
Generasi Z.
Generasi Z merupakan generasi digital native yang terbiasa mengakses informasi
melalui media sosial dengan format visual, singkat, dan interaktif. Karakteristik tersebut
membuat video konten menjadi salah satu media komunikasi yang lebih diminati
dibandingkan penyampaian informasi dalam bentuk teks panjang. Oleh karena itu,
penggunaan video konten dinilai mampu membantu penyampaian edukasi pemilu menjadi
lebih menarik dan mudah dipahami oleh pemilih pemula.
Penelitian terdahulu umumnya membahas pengaruh media sosial terhadap literasi
politik, partisipasi politik, dan perilaku pemilih pemula pada Generasi Z. Namun, penelitian
yang secara khusus mengkaji keterlibatan mahasiswa Program Merdeka Belajar Kampus
Merdeka (MBKM) dalam proses produksi konten video edukasi politik di lingkungan Humas
Bawaslu masih terbatas. Selain itu, penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada media
sosial sebagai sarana penyebaran informasi politik tanpa membahas proses kreatif produksi
konten digital, seperti penyusunan ide, konsep video, editing, dan penyesuaian konten
dengan tren media sosial yang dekat dengan Generasi Z.
Keunikan penelitian ini terletak pada fokus penelitian yang mengkaji pemanfaatan
konten video dalam Program MBKM di Humas Bawaslu sebagai bentuk sosialisasi politik
digital bagi Generasi Z. Penelitian ini tidak hanya membahas media sosial sebagai alat
komunikasi politik, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana mahasiswa MBKM
terlibat dalam proses produksi video edukasi politik, mulai dari brainstorming ide, shooting
video, editing, hingga publikasi konten di media sosial Bawaslu.
Dalam pelaksanaan Program MBKM di Humas Bawaslu, mahasiswa turut membantu
pengembangan konten video edukasi pemilu yang dikemas secara visual, singkat, dan
mengikuti tren media sosial. Konten yang dibuat berisi edukasi mengenai tahapan pemilu,
pengawasan partisipatif, anti hoaks, dan ajakan menggunakan hak pilih. Berdasarkan hasil
kegiatan magang, ditemukan bahwa konten video yang menggunakan subtitle, audio populer,
serta konsep visual yang komunikatif memperoleh respons lebih tinggi dari audiens
dibandingkan penyampaian informasi formal.
Dari perspektif sosiologi politik, fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola
sosialisasi politik di era digital. Jika sebelumnya sosialisasi politik dilakukan melalui
sekolah, media massa, dan lembaga formal lainnya, kini media sosial menjadi ruang baru
dalam pembentukan kesadaran politik masyarakat, khususnya Generasi Z. Media sosial tidak
hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran politik
digital yang mampu memengaruhi cara Generasi Z memperoleh, memahami, dan merespons
informasi politik.
Pengaruh dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemanfaatan video konten dalam
media sosial mampu meningkatkan ketertarikan Generasi Z terhadap edukasi politik dan
informasi pemilu. Selain itu, keterlibatan mahasiswa MBKM membantu Humas Bawaslu
menciptakan inovasi komunikasi politik digital yang lebih kreatif dan relevan dengan budaya
media Generasi Z. Dengan demikian, penggunaan video konten dapat menjadi strategi
sosialisasi politik digital yang efektif dalam meningkatkan kesadaran politik pemilih pemula
di era media digital.