Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 40-50
E-ISSN: 3025-9843
40
Taufik Abdullah et.al (Permainan Tradisional Terhadap...)
Permainan Tradiosinal Terhadap Perkembangan
Karakter Pendidikan Luar Sekolah
Taufik Abdullah
a,1
, Fahrun Yamin
b,2
, Andi Suaema
c,3
a
Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Program Studi PGSD
b,c
Universitas Nahdlatul Ulama Maluku Utara, Program Studi Pendidikan IPS
1
taufiktaba@gmail.com;
2
fahrun.pascasarjana@gmail.com;
3
andisuaema2019@gmail.com
*
taufiktaba@gmail.com
INFO ARTIKEL
ABSTRAK
Sejarah Artikel:
Diterima: 28 Januari 2026
Direvisi: 25 April 2026
Disetujui: 19 Mei 2026
Tersedia Daring: 1 Juni 2026
Tujaun penelitian bertujuan untuk melihat lebih dekat kegiatan untuk
melestarikan permainan tradisional terhadap anak diluar sekolah dan
mengetahui permainan tradisional mempengaruhi perkembangan
karakter Pendidikan luar sekolah. Metode penelitian kualitatif yaitu
data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara
dengan menggunakan purposivesampling dan snowballsampling.
Permainan tradisional terhadap perkembangan karakter Pendidikan
luar sekolah diantaranya lomba kelurahan untuk mengenalkan budaya
tradisional seperti Tarik tambang, lari karung, dan permain lainya.
Selain itu kegiatan karnaval tingkat sekolah SMP, Paud dan kelurahan,
tujuan dari kegiatan tersebut untuk melestarikan budaya daerah
kepada masyrakat Kota Ternate pada umunya. Perkembangan sosial
anak merupakan satu proses perkembangan yang membolehkan
mereka berinteraksi dengan orang lain mengikut cara yang boleh
diterima oleh sesuatu masyarakat serta budaya. Permainan tradisional
merupakan salah satu wahana untuk merangsang nilai-nilai karakter
anak dikota Ternate melalui kegiatan bermain, melompat, melempar,
tertawa riang gembira, yang secara langsung mempengaruhi
perkembangan motorik, psihis, fisik, kreatifitas, sportivitas dilakukan
secara berkelompok dengan teman sebaya dan memerlukan
kekompakan kerja sama, jujur, dan tanggungjawab.
Kata Kunci:
Permainan Tradisional
Perkembangan Karakter
Pendidikan Luar Sekolah
ABSTRACT
Keywords:
Traditional Games
Character Development
Out-Of-School Education
The purpose of this study was to examine activities to preserve
traditional games for children outside of school and to determine how
traditional games influence character development in out-of-school
education. The qualitative research method involved data collection
through observation, documentation, and interviews using purposive
sampling and snowball sampling. Traditional games in out-of-school
education include village competitions to introduce traditional culture,
such as tug-of-war, sack races, and other games. In addition, carnival
activities at the junior high school, early childhood education (PAUD),
and village levels aim to preserve regional culture for the Ternate
community in general. Children's social development is a developmental
process that allows them to interact with others in ways acceptable to a
society and culture. Traditional games are a vehicle for stimulating the
character values of children in Ternate through play, jumping, throwing,
and laughing cheerfully. These activities directly influence motoric,
psychological, and physical development, creativity, and sportsmanship.
They are carried out in groups with peers and require solidarity,
cooperation, honesty, and responsibility.
©2026, Taufik Abdullah, Fahrun Yamin, Andi Suaema
This is an open access article under CC BY-SA license
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 40-50
E-ISSN: 3025-9843
41
Taufik Abdullah et.al (Permainan Tradisional Terhadap...)
1. Pendahuluan
Bermain dapat memberikan pengaruh secara langsung terhadap semua area perkembangan
anak. Anak-anak dapat mengambil kesempatan untuk belajar tentang dirinya sendiri, orang
lain dan lingkungannya. Selain itu, pembelajaran juga memberikan kebebasan kepada anak
untuk berimajinasi, bereksplorasi dan menciptakan suatu bentuk kreativitas. Anak-anak
memiliki motivasi dari dalam dirinya untuk bermain, memadukan sesuatu yang baru dengan
apa yang telah diketahui. Dalam bermain, anak belajar untuk berinteraksi dengan lingkungan
dan orang yang ada di sekitarnya. Dari interaksi dengan lingkungan dan orang-orang
disekitarnya maka kemampuan sosialisasi anak pun menjadi berkembang. Pada usia dua
sampai lima tahun, anak memiliki perkembangan bermain dengan teman bermainnya. Zaman
yang terus berkembang memacu peradaban budaya yang semakin terus berubah. Tidak hanya
perkembangan dari seni budaya tetapi juga berkembangnya teknologi semakin bertambah
maju. Perubahan tidak hanya terjadi pada lingkungan sosial tetapi juga pada pola bermain
anak-anak. Pada zaman sekarang anak-anak jarang mengenal permainan tradisional bahkan
ada yang tidak mengenal permainan tradisional. Perubahan tersebut merupakan pergerakan
struktur yang bersangkutan sesuai dengan perubahan waktu.
Hal ini menyebabkan banyak anak-anak tidak mengenal sama sekali permainan tradisional
yang sebenarnya merupakan sebuah sarana bagi anak-anak dari usia sebelum sekolah hingga
usia sekolah untuk melatih motorik dan kognitif mereka. Anak-anak Indonesia sebenarnya
harus mampu mempertahankan permainan tradisional. Permainan tradisional bukan semata-
mata permainan saja, didalamnya terdapat unsur budaya yang melekat kuat dan harus terus
dilestarikan. Permainan tradisional yang mungkin sudah jarang ditemui karena tidak adanya
sosialisasi dari orang tua ke anak. Oleh karena itu tumbuhanya permainan modern yang lebih
dikenal dengan istilah game bagi anak-anak sehingga menghilangkan permainan tradisional.
Dengan adanya permainan modern anak-anak akan menjadi individualis dan lebih menjadi
pribadi yang tertutup karena permainan modern tidak mengajarkan kerja sama dan hal-hal
positif lainnya. Perubahan kebiasaan pada anak-anak dalam hal bermain dan memudarnya
budaya bangsa pada permainan tradisional inilah yang mendorong penelitian ini dilakukan.
Manusia dan kebudayaan mengalami perubahan sesuai dengan tahapan-tahapan tertentu
dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks, seperti yang dikemukakan Herbert
Spencer dalam unlinear theories of evolution. (Ritzer, 2003:50). Salah satu perubahan yang
mengalami pergerakan cukup terlihat yaitu perubahan pada permainan tradisional, pada zaman
dulu permainan tradisional ini dijadikan permainan sehari-hari, namun pada kenyataannya saat
ini permainan tradisional tidak lagi sebagai permainan sehari-hari. Anak-anak pada zaman
sekarang lebih mengenal permainan modern. Hal ini menjadikan kurangnya eksistensi
permainan tradisional dikalangan anak-anak.
Kaitannya dengan bermain, Jean Piaget mengemukakan bahwa permainan membentuk
konsep keterampilan dan membentuk kognisi anak serta mengembangkan kognisi tersebut.
Artinya permainan (permainan tradisional) sebenarnya mempunyai elemen-elemen yang
mampu menumbuhkan semangat kreatifitas dan kecerdasan seorang anak. Selanjutnya Piaget
berpandangan bahwa, ada tahapan operasional konkrit yang dialami oleh anak-anak pada usia
7-11 tahun, dimana pada usia itu mereka mulai mengenal permainan dengan teman sebaya,
ada tahapan menghilangnya konsep egosentris pada diri anak-anak, sehingga saat mereka
memasuki tahapan operasional formal sampai dewasa mereka mampu berkembang dengan
lebih baik. Selain itu bermain dapat mengembangkan aspek motorik dari anak sehingga
pertumbuhan fisik pun menjadi maksimal. (Mayke,2001:7-9). Bahkan di Indonesia permainan
tradisional yang dilakukan memiliki nilai budaya yang sangat besar. Permainan tradisional
akan mengembangkan karakter anak dan juga mencintai budayanya, yang pada gilirannya
akan memacu perkembangan sosial anak.
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 40-50
E-ISSN: 3025-9843
42
Taufik Abdullah et.al (Permainan Tradisional Terhadap...)
Beberapa aktivitas yang penulis sering diamati dilakukan adalah anak-anak di lingkungan
masyarkat lebih banyak menggunakan permainan modern, Banyak kelurahan, terutama di
perkotaan, mengalami kekurangan lahan terbuka yang aman dan nyaman untuk anak bermain.
Permainan tradisional yang membutuhkan ruang yang luas seperti permaian Boi, dodorobe,
Baramasuen dan lainnya. Selain itu Permainan tradisional tidak diajarkan secara aktif orang
tua dan di sekolah. Gaya hidup masyarakat yang semakin sibuk membuat waktu bermain anak-
anak menjadi terbatas. Banyak orang tua yang lebih memilih anak-anak bermain di dalam
rumah karena dianggap lebih aman dan praktis. Oleh karena itu permainan tradisional
merupakan salah satu warisan budaya yang perlu dilestarikan. Anak-anak di Kota Ternate
perlu dikenalkan dengan permainan tradisional sebagai cara untuk melestarikan nilai-nilai
budaya tradisional yang ada.
2. Metode
Penelitian kualitatif yaitu data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan
wawancara dengan menggunakan purposivesampling dan snowballsampling. Purposive
sampling digunakan sesuai dengan kebutuhan atau pertimbangan tertentu dari peneliti,
sedangkan snowball sampling digunakan bila sumber pertama belum dapat memberikan
informasi yang diharapkan, untuk mencari informasi tambahan dari sumber berikutnya guna
melengkapi data yang diperlukan.
3. Hasil dan Pembahasan
Permainan Tradisional di Kota Ternate
Permainan tradsional merupakan salah satu bentuk permainan anak-anak yang tradisional
dan di warisi secara turun temurun oleh warga setempat, serta banyak memiliki variasi. di
masyarakat dan banyak sekali permainan tradisional yang sering dimainkan oleh anak-anak
kecil. Lingkungan Kota Ternate ini memiliki banyak sekali permainan tradisional ada sekitar
100 permainan tradisional, namun yang sering digunakan untuk kegiatan edukasi hanya sekitar
8-10 permainan tradisional. Hal ini di perkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan ketua
RT Kelurahan Jambula Kota Ternate bahwa permainan tradisional banyak kalau dihitung, tapi
yang biasa digunakan anak-anak hanya sekitar 8-9 permainan saja, karena kendalanya
sebagian besar anak-anak tidak tahu lagi permainan tradisional, anak lebih banyak bermain hp
dari pada main di jalan, padahal permainan tradisional ini membawa peran tersendiri dalam
pembentukan karakter pada anak karena setiap permainan tradisional memiliki nilai-nilai
karakter tersendiri seperti melakukan kerjasama kelompok, jujur dan tanggung jawa tim. Hal
ini juga di ungkapkan oleh salah satu masyarkat bahwa dengan adanya pengaruh Games online
menyebabkan permainan tradisional hilang.
Peneliti mengamati pada anak-anak dilingkungan bahwa terlihatnya setiap permainan
tradisional itu memiliki nilai-nilai karakter sendiri seperti main lempar bola, dalam permainan
tersebut mereka saling berkomunikasi dengan kelomponya. Bermacam-macam permainan
tradisional yang selalu dibawa dan digunakan untuk kegiatan edukasi seperti permainan,
Baramasuen, Sem, Permainan Benteng, Permainan Cenge cenge, Permainan boi dan lain-lain.
Dan tentunya ada permainan tradisional di Kota Ternate yang paling diminati oleh anak-anak,
seperti tarik tambang, lompat tali, bekel, Boi. Hal inipun juga di ungkapkan sendiri oleh salah
satu Kabid bidang Paud Kota Ternate bahwa Permainan disini banyak, tapi yang wajib dibawa
ketika kegiatan lomba hari ulang tahun RI seperti lompat tali, tarik tambang, Baramasuen dan
lain lain. Dan diprogramkan di sekolah nonformal untuk diperkenalkan permainan tradisional
kepada anak-anak.
Pemerintah Kota Ternate memiliki program untuk melestarikan permainan tradisional
dengan cara membuat program kegiatan seperti lomba kelurahan, hari ulang tahun Kota
Ternate dan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Wawancara Kabid Paud dinas Pendidikan
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 40-50
E-ISSN: 3025-9843
43
Taufik Abdullah et.al (Permainan Tradisional Terhadap...)
menyabutkan bahwa kegiatan pelestarian budaya dilakukan oleh pemerintah diantaranya
lomba kelurahan untuk mengenalkan budaya tradisional seperti Tarik tambang, lari karung,
dan permain lainya. Selain itu pemerintah membuat karnaval tingkat sekolah SMP, Paud dan
kelurahan, tujuan dari kegiatan tersebut untuk melestarikan budaya daerah kepada masyrakat
Kota Ternate pada umunya. Wawancara masyarakat bahwa untuk permainan tradisional di
masyarakat jarang terlihat anak-anak bermain, dan permainan tradisional yang dijual jarang
lagi dikota Ternate, anak-anak tidak kenal lagi main tradisional (wawancara ibu Rainun
Kelurahan Jambula RT 10). Padahal keinginan orang tua disini juga anaknya ingin bermain
mainan tradisional sehingga anak tidak perlu main hp, karena hp merusak mata dan tidak
membentuk prilaku yang baik.
Hal ini di ungkapkan salah seorang pedagang Gamalama Kota Ternate: tidak terlihat
penjualan permainan tradisional, yang terlihat hanya penjualan karet dan kelereng, untuk
tempat toko-toko permainan lebih banyak mainan modern seperti, remut mobil, buneka anak
dan lainnya. Seharusnya program menjual permainan tradisional ini juga di dukung oleh
pemerintah, sehingga yang dibuktikan dengan peraturan pemerintah Kota Ternate. Wawancara
sala satu warga Kelurahan Jambula menyebutkan saya senang dengan program pemerintah
untuk mengembangkan permainan tradisional, yang didukung dengan Perda Kota sehingga
masyarkat dan sekolah memperkenalkan permainan ini. Dari hasil pengamatan dan wawancara
diatas, dapat ditunjukkan beberapa permainan anak di kota Ternate yang masih terlihat di
masyarakat dan mengandung nilai-nilai karakter adalah
Tebel 1 Permainan Tradisional dan Nilai Karakter
No
Permainan Tradisional Ternate
Memiliki Nilai Karakter
1
Permainan Bola Bekel
Konsisten permainan, Jujur tanggungjawab
dan tertib
2
Dodorobe
Kerjasama tim
3
Baramasuen
Kerjasama tim, tanggung jawab, Jujur dan
tertib
4
Sem
Kerjasama tim, tanggung jawab, Jujur dan
tertib
5
Permainan Benteng
Kerjasama tim, tanggung jawab, Jujur dan
tertib
6
Permainan Cenge cenge
Kerjasama tim, tanggung jawab, Jujur dan
tertib
7
Tuan Donci
Kerjasama tim, tanggung jawab, Jujur dan
tertib
8
Permainan Jilo-jilo
Kerjasama tim, tanggung jawab, Jujur dan
tertib
9
boi-boi
Kerjasama tim, tanggung jawab, Jujur dan
tertib
10
Layang-Layang
Kerjasama tim, tanggung jawab, Jujur dan
tertib
11
Kelereng
Kerjasama tim, tanggung jawab, Jujur dan
tertib
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 40-50
E-ISSN: 3025-9843
44
Taufik Abdullah et.al (Permainan Tradisional Terhadap...)
Dalam hasil pengamatan peneliti bahwa permainan layang-layang dan kelereng sering di
mainkan oleh anak-anak. Permainan Layang-layang sangat sederhana dari bahan yang mudah
didapat yaitu bambu, kertas minyak, benang, gunting dan alat sederhana lainnya, Permainan
layang-layang merupakan salah satu permainan tradisional yang sangat populer di berbagai
daerah termasuk di Kota Ternate, terutama di luar kota. Permainan ini tidak hanya dimainkan
oleh anak-anak, tetapi juga digemari oleh orang dewasa. Layang-layang biasanya diterbangkan
di lapangan luas, atau pantai yang memiliki tiupan angin cukup kencang, Permainan layang-
layang tidak hanya sekadar hiburan, namun memiliki unsur seni dan kreativitas. Membuat
layang-layang membutuhkan keterampilan tangan, ketelitian dalam mengukur dan merangkai
kerangka, serta kreativitas dalam menghiasnya.
Selain itu ada juga permainan kelereng Permainan ini sangat sederhana dari segi alat,
tetapi memerlukan keterampilan dan strategi. Setiap pemain memiliki beberapa butir kelereng.
Tujuan permainan kelereng biasanya adalah untuk mengenai kelereng lawan atau memasukkan
kelereng ke dalam lingkaran tertentu. Siapa yang paling banyak mendapatkan kelereng lawan,
dialah pemenangnya. Ada juga variasi permainan kelereng lainnya seperti “masuk lubang,” di
mana pemain harus menggulirkan kelereng ke dalam lubang-lubang kecil yang telah dibuat di
tanah. Siapa yang paling banyak memasukkan kelereng ke dalam lubang akan memenangkan
permainan tersebut. Permainan kelereng bukan hanya soal keberuntungan, tetapi juga
membutuhkan ketepatan, konsentrasi, dan keahlian dalam menembak atau mengarahkan
kelereng. Anak-anak belajar memperhitungkan sudut dan kekuatan dorongan untuk
memastikan kelereng mereka mengenai sasaran dengan tepat.
Tanggung jawab merupakan semua tugas dan kewajibannya dengan sungguh-sungguh.
Dalam diri seseorang sangat penting memiliki karakter tanggung jawab agar tidak mengalami
kegagalan ataupun kerugian untuk diri sendiri maupun oranglain. Karakter ini, dapat dibentuk
melalui permainan tradisional dengan ketika anak sedang bermain boi-boi, hal ini dapat di
perkuat dengan yang telah diungkapkan oleh Masyarakat Keluarah Jambula: permainan boi-
boi ini mengandung nilai karakter tanggung jawab dan kerjasama bagaimana dia belajar
tanggung jawab dengan dirinya sendiri agar tidak terjatuh saat bermain memegang bola,
kerjasama untuk melempar bola mengena lawannya di haruskan kerjasama baik temn
kelomponya. Hal ini juga di ungkapkan oleh salah satu orang tua anak yang bermain boi-boi
kalau di amati, permainan tradisional ini selain mengandung nilai karakter taat aturan menurut
saya juga mengandung nilai karakter tanggung jawab dan kerjasama kelompok” Pada
beberapa wawancara diatas, dapat disimpulkan bahwa pada permainan boi-boi ini
mengandung nilai karakter tanggung jawab dan kerjasama yang dapat membentuk karakter
pada setiap diri anak yang dapat digunakan pada kehidupan sehari-hari.
Tata Tertib Permainan
Taat aturan yang ada dengan berusaha mematuhi segala larangan dan perintah atau aturan
yang sudah ditetapkan oleh masing-masing tim untuk tidak melanggarnya. Karakter ini, dapat
dibentuk melalui permainan tradisional dengan ketika anak sedang bermain mainan, Hal ini
padat dijelaskan oleh Rahmat anak dari Bapak Ilham permainan boi-boi ini kalau tidak diatur
mungkin kita bisa berantam, maka kami sebelum main boi-boi kami buat kesepakatan bersama
kelompok tim dan ketika tim main tidak sesuai dengan kesepakatan maka kami beri sangsi
yaitu main ulang, maka dari itu permainan ini pun juga ada aturannya, dan sudah memiliki
karakter taat.
Hal ini juga di ungkapkan oleh orang tua anak yang bermain sama seperti halnya
permainan yang lainnya permainan ini tentunya juga memiliki aturan, kalau dipikir permainan
ini aturannya mungkin bisa dimainkan dengan baik. Saya setuju jika anak boi-boi bisa menjadi
sarana untuk membentuk karakter anak” Hal serupa juga di ungkapkan oleh salah satu anak
yang bermain boi-boi mengerti permainan boi-boi ini juga pasti ada aturan mainnya, kalau
main harus taat sama aturan agar bisa main dengan baik dan menyenangkan bagi kami semua
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 40-50
E-ISSN: 3025-9843
45
Taufik Abdullah et.al (Permainan Tradisional Terhadap...)
dalam kelompok. Pada beberapa wawancara kepada informan tersebut dapat disimpulkan
bahwa permainan tradisional ini mengandung nilai karakter yaitu taat aturan, karena ketika
sebelum dan sedang bermain secara tidak langsung anak suda mengikuti aturan yang suda
disepakati bersama kelompok timnya, disinilah membentuk karakter anak.
Nilai-Nilai Karakter yang Terkandung dalam Permainan Tradisional
Pembentukan karakter pada penelitian ini difokuskan untuk meneliti 4 aspek karakter
yaitu tanggungjawab, taat aturan, kerja sama, jujur. Memilih keempat aspek karakter tersebut
karena dirasa keempat aspek karakter tersebut mendominasi pembentukan karakter anak
melalui permainan tradisional di yang terdapat di Kota Ternate. Sebelum membahas keempat
aspek karakter tersebut, nilai-nilai karakter yang terkandung dalam permainan tradisional
diungkapkan oleh Kabid PAUD Kota Ternate: karakter jujur, peduli, kerja sama, saling
menghormati, toleransi dan mengharagai sesama teman mainnya. Hal serupa juga
diungkapkan oleh staf dinas pendidikan Kota Ternate bahwa percaya diri, peka, sensitive,
kebersamaan, tanggungjawab, dan menyenangkan, bahkan kekompakan pada tim bermainnya.
Empat nilai-nilai karakter yang terbentuk dalam permainan tradisional sebagai berikut :
Tanggung Jawab
Menurut Myers B, Charles bahwa tanggung jawab seorang anak di tangannya harus
tercipta manusia-manusia yang berbudi luhur, berperilaku baik, berprestasi, berkualitas, dan
berakhlak mulia”. Tanggung jawab ini merupakan alat ukur kesuksesan anak dalam memberi
karakter, sebagai seorang yang dimintai pertanggung jawaban dalam pembelajaran, maka guru
harus memiliki seperangkat kapabilitas. Myers B, Charles menyebutkan beberapa tanggung
jawab sebagai berikut: (1) anak harus memiliki tanggung jawab sempurna dan mengerti
pekerjaannya dengan jelas, (2) anak harus memiliki kualifikasi dan kapabilitas untuk
mengerjakan sesuatu, dan (3) harus memiliki kewenangan yang cukup untuk menyelesaikan
pekerjaannya dalam permainannya.
Karakter tanggungjawab merupakan sebuah sikap atau perilaku untuk melaksanakan tugas
serta kewajibannya dengan sungguh-sungguh, tanggungjawab juga memiliki arti siap
menanggung segala resiko atas perbuatan sendiri. Dalam diri seseorang sangat penting
memiliki karakter tanggung jawab agar tidak mengalami kegagalan ataupun kerugian untuk
diri sendiri maupun orang lain. Dengan bertanggung jawab berarti dia dapat menjalankan
kehidupannya dengan baik dan dapat mengetahui mana yang harus dia lakukan. Bukti
permainan tradisional dapat membentuk karakter tanggung jawab ini dapat dibuktikan pada
permainan-permainan yang ada di Kota Ternate yaitu permainan seperti Jilo-Jilo, Dodorobe,
Bola Bekel, Sem dan lainnya.
Nilai Karakter yang Terbentuk Setelah Anak Bermain Permainan Tradisional
Pada setiap permainan tradisional yang ada di Kota Ternate tentunya masing-masing
mengandung nilai-nilai karakter positif yang dapat membentuk karakter pada anak.
Membentuk karakter anak perlu adanya proses, karena membentuk karakter tidak terjadi
secara instan, jika terbentuk secara instan karakter tersebut tidak akan bertahan lama akan
cepat hilang dan kembali lagi ke karakter yang sebelumnya, dengan adanya proses untuk
membentuk karakter pada anak, kita dapat mengetahui perkembangan karakter yang terbentuk
setiap anak bermain permainan tradisional.
Dalam teorinya Lickona (1991: 38) Nilai karakter menjadi bagian dari nilai kejujuran,
tanggung jawab terhadap anak dan peduli perbuat baik, seperti terdapat dua macam nilai yakni
nilai moral dan non moral. Nilai moral antara lain jujur, tanggung jawab, kesungguhan dalam
mengemban kewajiban, menepati janji, peduli pada anak-anak dan adil dalam membuat
kesepakatan dengan pihak lain artinya Ketika anak bermain tidak pernah membuat konflik
pada siapa saja apabila suda ada kesepakatan bersama. Nilai moral mengajarkan apa yang
seharusnya dikerjakan dan tidak dipaksakan orang lain tetapi niat dan ikhlas. Sedangkan nilai
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 40-50
E-ISSN: 3025-9843
46
Taufik Abdullah et.al (Permainan Tradisional Terhadap...)
non moral adalah nilai yang tidak menuntut suatu kepatuhan, misalnya anak memberikan
apresiasi terhadap permainan yang ia menang dan perlu di patuhi yang disepakati bersama.
a. Permainan Bola Bekel Permainan yang dalam pelaksanaannya menggunakan aturan
tersendiri. Aturan tersebut menggambarkan aturan yang harus dimiliki manusia dalam
kehidupannya. Dan untuk mencapai keselamatan dan kemenangan hidup (kemenangan
dalam permainan), maka seorang harus mengikuti aturan permainan yang suda disepakati
bersama. Seperti kegiatan saat bola dilempar ke atas, saat itu bisa berfikir untuk
mengambil bekel dan bolahnya yang dilempar. Setelah itu, biji atau bekel yang ada diraup
jadi satu dalam genggaman dan disebar, Satu persatu bekel disebar, bola kembali dilempar
ke atas sambil membolak-balik timbel (bekel) dari urutan 1 sampai 5. Hal ini
menggambarkan karakter bahwa anak harus sesuai aturan dan harus bisa mengendalikan
apa yang dia inginkan, karena sesuatu hal dalam hidup manusia akan berhubungan dengan
hal yang lain.
b. Dodorabe berarti tembak-menembak, biasanya di mainkan oleh anak-anak dan remaja.
Permainan ini di laksanakan hanya pada saat musim jambu air karena jambu yang masih
kecil itulah yang menjadi peluru senjata dodorabe tersebut. Alat yang di gunakan terbuat
dari ruas bambu yang lubang dalamnya maksimal garis tengah 1 cm. Pangkal ruasnya
yang berbuku di pakai sebagai gagang bilah pendorong peluru. Cara bermain dodorabe
terdiri atas dua kelompok, masing-masing lima orang. Keduanya berhadapan dengan jarak
2 m dan jarak ke belakang dari kelompok tersebut 3 m sebagai garis penalti (garis mati).
Apabila salah satu anggota kelompok ketika di serang lawan mundur melewati garis mati,
maka ia di nyatakan gugur (tidak lagi turut bermain), tinggal anggota yang tersisa yang
melanjutkan permainan sampai di nyatakan juri selesai. Kelompok penyerang tidak di
perkenankan memasuki garis mati. Kalau demikian, ia di beri peringatan, dengan cara di
berikan kartu kuning. Kelompok di nyatakan menang apabila ia tidak mundur sampai ke
garis mati atau sisa kawannya masih lebih banyak ketika juri mengisyaratkan waktu
bermain telah habis. Disini membentuk nilai karakter anak mampu bekerjasama tim,
konsisten, jujur, tanggungjawab dan displin
c. Baramasuen adalah permainan yang di mainkan oleh minimal 5 orang dan maksimal
sepanjang bambu yang di gunakan, selain itu juga terdapat seorang yang menjadi pawang
dalam permainan ini. Pawang inilah yang nantinya mengerahkan dan mengendalikan serta
membuat permainan ini menjadi seru karena memiliki kekuatan jampi-jampi untuk
membuat sebuah bambu menjadi gila maka seluruh peserta dalam permainan ini harus
melawan atau menenangkan bambu ini. Cara bermain: Untuk melaksanakan permainan ini
peserta di haruskan memegang bambu yang sudah di sediakan dengan kedua tangannya
yang kemudian di letakkan di depan dada (seperti memeluk bambu dengan kedua tangan).
Kemudian pawang akan mulai membacakan mantra untuk membuat bambu menjadi gila
yang mengikuti arah asap kemenyan. Saat bambu mulai menggila, peserta harus segera
bersiap melawan arah gerak bambu ini dan harus mendengar intruksi dari pawang
misalnya pawang mengatakan kekiri maka harus di arahkan ke kanan bambunya dan
sebaliknya, disini anak-anak harus kerjasama yang baik itu tidak jatuh dari pegangan
bambu, dan tanggungjawab bambu yang anak pegang tersebut.
d. Sem adalan Permainan ini di mainkan oleh 2 kelompok yang terdiri lebih dari 4 orang
tergantung dari panjangnya garis yang di sepakati tim. Peraturan permainannya adalah
orang yang menjaga pertahanan tepat di empat garis yang berlainan arah dan
merentangkan tangan mencoba menyentuh lawannya untuk mengurung lawan tersebut di
dalam garis untuk memenangkan pertandingan sampai setiap anngota lawan terkumpul di
dalam garis yang berbentuk empat garis. Dan hal itu terjadi berulang-ulang untuk
berusaha memenangkan permainan. Sem memiliki nilai karakter kerjasama tim,
tanggungjawab, jujur dan konsisten dalam permaiannya.
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 40-50
E-ISSN: 3025-9843
47
Taufik Abdullah et.al (Permainan Tradisional Terhadap...)
e. Permainan Benteng adalah Permainan yang dimainkan oleh dua kelompok, masing
masing kelompok terdiri dari 4 sampai 8 orang. Kedua kelompok kemudian akan memilih
suatu tempat sebagai markas, biasanya sebuah tiang, batu atau pilar yang disebut sebagai
“benteng”. Tujuan utama permainan ini adalah untuk menyerang dan mengambil alih
“benteng” lawan dengan menyentuh tiang atau pilar yang telah dipilih oleh lawan dan
meneriakkan kata benteng. Kemenangan juga bisa diraih dengan “menawan” seluruh
anggota lawan dengan menyentuh tubuh mereka. Untuk menentukan siapa yang berhak
menjadi “penawan”, ditentukan dari siapa yang paling akhir menyentuh “benteng”
mereka. Hal ini memiliki nilai karakter kerjasama tim, tanggungjawab, jujur dan konsisten
dalam permaiannya
f. Permainan Cenge cenge merupakan permainan khas daerah Maluku Utara, permainan ini
biasa dimainkan oleh anak-anak dan remaja. Permainan ini menggunakan sebuah alat
yaitu gaco, sebuah potongan keramik atau batu yang sudah diasah sampai tipis atau
apasaja sesuai pilihan para pemain. Kata cenge berarti jinjit sesuai dengan cara
memainkan permainan ini dengan cara berjinjit. Ada berbagai bentuk petak untuk bermain
cenge cenge. Bentuk yang akan dipilih tergantung dari kesepakatan para pemain. Bentuk-
bentuk petak cenge-cenge yang dikenal antara lain Cenge-cenge Rok, cenge cenge 1000
dan cenge cenge Payung. Cenge-cenge adalah memiliki nilai karakter anak kerjasama tim,
tanggungjawab, jujur dan konsisten dalam permaiannya.
g. Tuan Donci, Permainan ini biasanya dimainkan oleh dua kelompok anak-anak, masing-
masing terdiri dari 4 hingga 6 orang. Arena bermain bisa di lapangan tanah, halaman
rumah, atau tempat terbuka lainnya yang cukup luas. Garis-garis dibentuk di tanah untuk
menciptakan kotak-kotak yang menjadi medan permainan. Setiap kotak memiliki aturan
dan peran tersendiri dalam strategi permainan. Tuan Donci merupakan salah satu
permainan tradisional yang masih dimainkan oleh anak-anak di beberapa Kelurahan Kota
Ternate. Permainan ini mengandung unsur kebersamaan, kelincahan, dan strategi, serta
menjadi simbol kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Inti dari permainan
ini adalah adu tangkas antara kelompok penjaga dan kelompok penyerang. Kelompok
penyerang harus melewati kotak-kotak yang dijaga oleh lawan tanpa tersentuh.
Sebaliknya, kelompok penjaga berusaha menghadang pergerakan penyerang dengan
menyentuh mereka saat mereka melintasi batas yang dijaga. Siapa pun yang tersentuh
harus keluar dari arena permainan. Hali ini membentuk nilai karakter anak belajar untuk
membaca gerak tubuh lawan, bekerja sama dengan tim, pengambilan Keputusan,
semangat kemebrsamaan, tanggung jawab tim dan lainnya.
h. Permainan Jilo-jilo adalah salah satu permainan tradisional anak-anak yang berasal dari
Indonesia, khususnya dikenal di beberapa wilayah seperti Jawa Sumatra dan Ternate.
Permainan ini biasanya dimainkan secara berkelompok oleh anak-anak usia sekolah dasar,
baik laki-laki maupun perempuan. Jilo-jilo mengandalkan kecepatan, kecermatan, dan
kerja sama tim. Selain menghibur, permainan ini juga syarat nilai kebersamaan dan
sportivitas. Permainan ini umumnya dilakukan di lapangan terbuka atau halaman rumah
yang cukup luas. Tidak dibutuhkan alat khusus untuk memainkannya, hanya diperlukan
garis yang dibuat di tanah atau lantai untuk menandai area permainan. Itulah salah satu
keunggulan Jilo-jilo permainan ini murah dan mudah dimainkan kapan saja. Jumlah
pemain Jilo-jilo bisa bervariasi, biasanya antara 4 hingga 10 orang. Pemain dibagi menjadi
dua tim, satu tim sebagai penjaga dan satu tim lainnya sebagai penyerang. Tujuan dari tim
penyerang adalah melewati garis yang dijaga oleh lawan tanpa tersentuh, sementara tim
penjaga berusaha menangkap atau menyentuh lawan yang melintas. Keunikan permainan
ini terletak pada koordinasi tim. Tim penyerang tidak bisa asal maju; mereka harus saling
bekerja sama untuk mengecoh penjaga. Sering kali, satu pemain bertindak sebagai
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 40-50
E-ISSN: 3025-9843
48
Taufik Abdullah et.al (Permainan Tradisional Terhadap...)
pengalih perhatian, sementara pemain lain mencari celah untuk menyelinap ke area
berikutnya.
i. Boi-boi adalah Permainan yang dikenal di berbagai daerah di Maluku Utara, terutama di
wilayah Ternate, Tidore, dan Halmahera. Nama "Boi" kemungkinan berasal dari pelafalan
lokal atau merupakan singkatan dari istilah yang berkembang dalam budaya lisan.
Permainan ini sudah dimainkan sejak lama dan diwariskan secara turun-temurun dari
generasi ke generasi. Adapun cara bermain adalah permainan Boi biasanya dimainkan
oleh dua kelompok, masing-masing terdiri dari beberapa anak. Permainan ini memerlukan
alat sederhana, yaitu tumpukan pecahan batu atau kaleng yang disusun secara vertikal.
Penyusunan Boi salah satu tim menyusun pecahan batu atau tempurung kelapa menjadi
sebuah menara kecil, melempar Bola tim lawan berusaha merobohkan susunan tersebut
dengan melempar bola dari jarak tertentu, menara roboh tim yang melempar harus segera
menyusun kembali menara sambil menghindari lemparan bola dari tim lawan. Pertahanan
dan Serangan tim lawan akan berusaha mengenai lawan dengan bola agar mereka tidak
bisa menyusun kembali menara, permainan berakhir jika tim berhasil menyusun menara
kembali tanpa terkena bola. Jika semua pemain terkena bola sebelum menara selesai,
maka mereka kalah. Dari cara pemainan tersebut terlihat nilai karakter Kerjasama tim,
sportivitas, tanggungjawab tim, jujur dan displin.
Permainan Tradisional Mempengaruhi karakter anak di luar sekolah
Permainan tradisional merupakan warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai
hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan karakter bagi anak-anak. Di luar lingkungan
sekolah, anak-anak banyak menghabiskan waktu bermain, dan permainan tradisional menjadi
medium yang efektif untuk membentuk nilai-nilai positif secara alami dan menyenangkan.
Permainan seperti Jilo-Jilo, Boi, Benteng dan lainnya, semua permainan ini penting
menumbuhkembangkan nilai karakter anak seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kerjasama.
Anak-anak belajar bahwa kerja tim dan sportivitas sangat diperlukan untuk mencapai
kemenangan dalam permainan. Hal ini kemudian membentuk karakter anak yang jujur dan
adil dalam berinteraksi dengan teman sebaya. Sebagaimana ungkapan orang tua anak Julfikar
menyebutkan bahwa Ketika anak bermain akan membentuk karakter Kerjasama,
tanggungjawab tim dan jujur Menyusun permainannya.
Di tambahkan oleh ibu Nurmia bahwa Selain nilai karakter, permainan tradisional juga
menanamkan semangat kebersamaan dan empati anak-anak untuk bermain, anak-anak belajar
menyesuaikan diri dengan kelompok, berbagi peran, dan saling mendukung. Sikap toleransi
terhadap perbedaan karakter teman juga tumbuh secara alami dari interaksi ini. Dalam proses
pengamatan penulis bahwa permainan tradisional cenderung mengedepankan aktivitas fisik
dan interaksi langsung dengan temannya ini berbeda dengan permainan digital yang cenderung
individual dan pasif. Dengan permainan tradisional ini anak-anak selalu bergerak aktif dan
berinteraksi langsung kepada teman lainnya, anak-anak juga belajar mengelola emosi dan
meningkatkan kemampuan komunikasi secara sehat. Selain itu dari aspek disiplin juga diasah
melalui aturan main yang harus dipatuhi dalam permainan tradisional. Anak-anak yang
melanggar aturan biasanya mendapat sanksi dalam bentuk giliran bermain yang tertunda atau
dikurangi.
Anak-anak terlihat dalam permainan mereka sering kali menciptakan variasi permainan
sendiri, dan berinovasi dalam strategi bermain untuk memenangkan permainan. Permainan
tradisional juga menjadi cara yang efektif untuk mempererat hubungan antar anak dari
berbagai latar belakang sosial budaya yang berbeda, seperti terlihat anak suku makian, ternate,
dan Tidore saling berinterkasi. Permainan tradisional memberi ruang bagi anak-anak untuk
belajar menerima kekalahan dan menghargai kemenangan orang lain.
Hasil penelitian di atas yang dirujuk teori Maria, Montessori bahwa perkembangan sosial
anak merupakan satu proses perkembangan yang membolehkan mereka berinteraksi dengan
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 40-50
E-ISSN: 3025-9843
49
Taufik Abdullah et.al (Permainan Tradisional Terhadap...)
orang lain mengikut cara yang boleh diterima masyarakat serta budaya. Pada prinsipnya
perkembangan sosial melibatkan proses sosialisasi yang membolehkan anak mempelajari
tingkah laku sosial atau melakukan penyesuaian sosial dalam suatu lingkungan masyarkat.
Perkembangan sosial anak-anak dapat dikaji melalui beberapa aspek seperti proses peniruan
dalam satu permainan dan identifikasi, aktivitas bermain, perkembangan kongnisi sosial,
persahabatan, dan interaksi dengan rekan sebaya.
Proses bermain anak akan selalu mempelajari tradisi, kepercayaan, nilai, dan adat yang
dianut oleh kumpulan masyarakat. Anak-anak juga mempelajari peraturan -peraturan
permainan yang disepakati bersama lalu diikutinya misalnya anak mempelajari cara
pemaparan emosi yang sesuai, dan cara mentafsir tingkah laku dan pernyataan emosi orang
lain dengan tepat. Proses ini pula ditentukan oleh konteks latar belakang budaya dan tingkah
laku sosial dlingkungannya yang sesuai budaya mereka.
4. Kesimpulan
Bardasarkan hasil analisis data dalam penelitian ini, dan pembuktian pada sebelumnya,
maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut (1) anak-anak di luar sekolah
cenderung sudah jarang melakukan permainan tradisional seperti petak umpet, loncat tali,
Kelereng, layang-layang, boi-boi, jilo-jilo dan sebagainya, hanya terdapat beberapa kelurahan
Kota Ternate tertentu masih ada anak yang memainkan permainan tradisional, namun terbatas
pada satu atau dua jenis permainan saja. (2) Membentuk karakter pada anak dirasa melalui
permainan tradisional yang terdapat di Kota Ternate yaitu permainan tradisional cenderung
mendorong anak agar bergerak dan beraktivitas, sehingga mereka akan jauh lebih sehat, selain
itu permainan tradisional yang rata-rata dilakukan bersama-sama, mendorong anak-anak untuk
belajar bekerja sama, peduli, rasa tanggungjawab, jujur dan saling menghargai sesama teman.
Dengan semua nilai karakter yang ditanamkan melalui permainan tradisional, penting bagi
orang tua dan masyarakat untuk kembali mengenalkan permainan ini kepada anak-anak. Di era
digital saat ini, permainan tradisional berpotensi menjadi penyeimbang dari pengaruh gadget
yang berlebihan dan membentuk anak menjadi pribadi yang lebih sosial dan sehat secara
emosional. Dengan permainan tradisional anak-anak bisa melatih konsentrasi, pengetahuan,
sikap, keterampilan dan ketangkasan yang secara murni dilakukan oleh otak dan tubuh
manusia.
5. Daftar Pustaka
Budiamin, Amin, dkk. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Bandung: UPI PRESS.
Jhon, Wirnani, et al. 2021. “Challenges in the Implementation of Character Education in
Elementary School: Experience from Indonesia”. Ilkogretim Online. No. 20
Mayke, S. Tedjasaputra. 2001. Bermain, Mainan dan Permainan untuk Pendidikan Usia Dini
Jakarta: Grasindo.
Maria, Montessori. (2008). The Absorbent, Pemikiran yang Mudah Menyerap. Penerjemah
Dariyatno. New York: Fifth Avenue.
Myers B, Charles at all. (2000). Program standards for the initial preparation of social studies
Teachers. NCSS Vol ll
M. Arif, Arifudin et al. 2023. “Character Education Management at Islamic Grassroot
Education: The Integration of Local Social and Wisdom Values”. Jurnal Manajemen
Pendidikan Islam. Vol. 17, No. 3.
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Politik (JPKP)
Vol. 4, No. 1, Juni 2026, page: 40-50
E-ISSN: 3025-9843
50
Taufik Abdullah et.al (Permainan Tradisional Terhadap...)
Maiga Chang, Dkk. (2009) Learning by Playing. Game-based Education System Design and
Development4th International Conference on E-learning, Edutainment, Banff, Canada,
August 9-11, 2009, Proceedings
Lynn Revell and James Arthur. 2007. Character education in schools and the education of
teachers. Journal of Moral Education Vol. 36, No. 1, March 2007, pp. 7992
Peorwandari, Krsitie. 2007. Pendekatan Kualitatif dalam Penelitian Psikologi. Jakarta : LPSP3
Universitas Indonesia
Purwastuti, Ardiani, dkk. 2010. Pelatihan pembuatan alat permainan edukatif
Piaget, Jean, dan Barbel Inheler. 2011. Psikologi Anak, terjemahan Miftahul Jannah.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar,.
Sagala, Syaiful. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta, 2010
Sunarto dan Hartono, A. 2006. Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta
Thomas Lickona., Eric Schaps., (2007). Eleven Principles of Effective Character Education
Partnership. New York: Catherine Lewis