Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 1, February 2025, page: 27-34
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 15/01/2025 Selesai revisi: 17/03/2025 Disetujui: 19/04/2025 Diterbitkan: 31/05/2025
27
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Pencegahan Perilaku Negatif Peserta Didik Melalui Metode Bercerita
*Eti Hayati
1
, R. Dede Siswandi
2*
, Ruli Hardi
3
Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Indonesia
e-mail:
1
dosen01391@unpam.ac.id
2
dosen01564@unpam.ac.id
3
dosen01986@unpam.ac.id
Abstrak
Perilaku perundungan dapat menimbulkan trauma psikologis atau luka batin, baik
pada korban maupun pelaku. Oleh karena itu, pentingnya memperhatikan
kesehatan mental bagi peserta didik terutama untuk berani bercerita segala hal yang
dialaminya, baik kepada gurunya maupun orang tuanya dalam mengajarkan anak
tentang bahaya berperilaku perundungan supaya mereka tidak menjadi pelaku atau
korbannya, disinilah peran orang tua, guru dan sekolah untuk dapat berperan aktif
dalam melakukan sosialisasi untuk pencegahannya, terutama dalam proses
pembelajaran di kelas. Banyak cara dalam pencegahan perilaku perundungan yang
bisa dilakukan yaitu melalui komunikasi yang baik dan terbuka. Tanyakan apa yang
anak rasakan selama di sekolah untuk bercerita, bangun kepercayaan diri anak-anak.
Ketika ia mengetahui kemampuan dan perasaan tentang dirinya, perasaan intimidasi
yang mungkin dirasakannya akan berkurang, kemudian tanamkan pola pikir
antibullying dengan tidak mengajarkan berteriak, memukul, mendorong dan
meledek orang lain dan ajarkan peserta didik juga cara untuk mengatasi
perundungan tersebut, kemudian berikan motivasi serta keberanian untuk
melaporkan kepada guru atau orang tua bila mengalami atau melihat perilaku
perundungan diantara teman-temannya. Selain peran orang tua dalam pencegahan
perundungan perundungan, peran guru tentu juga memberikan kontribusi dalam
pencegahan perundungan, hal ini karena guru bisa menerapkannya dalam proses
pembelajaran. Peran guru dalam mencegah perilaku perundungan (bullying)
sangatlah penting karena guru berada di garis depan dalam menciptakan
lingkungan yang aman dan mendukung bagi peserta didik.
Kata Kunci: periaku perundungan, upaya pencegahan, metode bercerita
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 1, February 2025, page: 27-34
E-ISSN: 3047-2474 (online) 28
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Abstract
Bullying behavior can cause psychological trauma or emotional wounds, both for victims and
perpetrators. Therefore, it is important to pay attention to mental health for students,
especially to have the courage to tell everything they experience, both to their teachers and
their parents in teaching children about the dangers of bullying behavior so that they do not
become perpetrators or victims. This is where the role of parents, teachers and schools to play
an active role in socializing for prevention, especially in the learning process in the classroom.
Many ways to prevent bullying behavior can be done, including through good and open
communication. Ask how children feel during school to tell, build children's self-confidence.
When they know their abilities and feelings about themselves, feelings of intimidation they
may feel will decrease. Then instill an anti-bullying mindset by not teaching shouting,
hitting, pushing and teasing others and teach students how to deal with bullying. Then
provide motivation and courage to report to teachers or parents if they experience or see
bullying behavior among their friends. In addition to the role of parents in preventing
bullying, teachers also play a significant role, as they can incorporate this into the learning
process. The role of teachers in preventing bullying is crucial, as they are at the forefront of
creating a safe and supportive environment for students.
Keywords: bullying behavior, prevention efforts, storytelling methods
Pendahuluan
Tantangan mendasar dalam pengembangan aspek intrapersonal dan interpersonal
siswa, khususnya di kelas V dan VI, di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ash-Shidiq,
Kabupaten Bandung, Peserta didik di kelas tersebut cenderung mengalami kesulitan
dalam mengungkapkan emosi, berbagi pengalaman pribadi, atau menyampaikan
persoalan yang mereka hadapi kepada guru maupun teman sebaya. Situasi ini tidak
hanya memengaruhi kenyamanan belajar, tetapi juga menciptakan hambatan dalam
pembentukan karakter, pemahaman diri, serta relasi sosial yang sehat. Hal ini sejalan
dengan Menurut Daniel Goleman, empati adalah memahami perasaan dan masalah
orang lain dan berfikir dengan sudut pandang mereka, menghargai perbedaan
perasaan orang mengenai berbagai hal. Ketika peserta didik tidak memiliki saluran
yang sehat untuk mengekspresikan emosi mereka, maka risiko munculnya tekanan
emosional, ketidakmampuan dalam membangun hubungan sosial, hingga perilaku
agresif dan menyimpang menjadi semakin tinggi. Dalam konteks pendidikan dasar,
tantangan semacam ini memerlukan intervensi yang tidak hanya bersifat akademik,
tetapi juga menyentuh aspek psikososial secara mendalam. Menurut Erikson (1963),
tahap perkembangan anak usia sekolah dasar berada dalam fase industri versus
inferioritas, di mana anak-anak mulai mengembangkan rasa percaya diri melalui
pengalaman belajar dan interaksi sosial yang positif. Ketika mereka tidak
memperoleh kesempatan untuk mengekspresikan diri, mengemukakan ide atau
perasaan, atau bahkan merasa takut untuk berbicara di depan umum, maka rasa
inferioritas akan tumbuh, menghambat perkembangan kepercayaan diri yang
seharusnya dibina secara konsisten. Dalam konteks MI Ash-Shidiq, kondisi inilah
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 1, February 2025, page: 27-34
E-ISSN: 3047-2474 (online) 29
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
yang menjadi titik awal munculnya masalah sosial-emosional pada peserta didik.
Lebih lanjut, isolasi sosial yang dialami sebagian siswa tidak hanya bersifat
sementara, tetapi dapat berdampak jangka panjang apabila tidak ditangani secara
dini. Isolasi ini berpotensi menumbuhkan rasa keterasingan, rendahnya empati, serta
ketidakmampuan untuk menyusun narasi diri yang sehat. Menurut Fivush, R.,
Bohanek, J., Robertson, R., & Duke, M. (2004), cerita tentang masa lalu yang
dibangun dalam keluarga dapat membantu anak memahami dirinya, baik sebagai
individu maupun sebagai bagian dari keluarganya. Dan dalam proses pendidikan,
bercerita merupakan salah satu cara paling alami dan efektif untuk menyusun narasi
tersebut. Dalam hal ini, metode bercerita bukan hanya media komunikasi, tetapi juga
sarana refleksi, terapi, dan pembentukan karakter. Metode bercerita (storytelling)
memiliki kekuatan psikologis yang sangat signifikan, terutama dalam membangun
jembatan antara pengalaman pribadi anak dengan nilai-nilai sosial dan moral.
Sebagaimana Ketiadaan cerita dapat berdampak pada hilangnya sarana untuk
menyampaikan nilai-nilai kehidupan dan moral (McAdam, 2001 Zipes, 2006, Smith,
2014), kurang berkembangnya kemampuan kognitif, daya imajinasi (Gottschall,
2012), dan kemampuan berempati pada orang lain (Oatley, 2016), di samping juga
menghambat kemampuan berkomunikasi dan berpikir kritis (Batson, 1991).
Sehingga, dalam konteks ini, pengabdian masyarakat yang difokuskan pada
penguatan keterampilan bercerita menjadi sangat relevan sebagai pendekatan
preventif terhadap perilaku negatif. Pencegahan bukan hanya soal menghentikan
gejala, tetapi juga membangun sistem daya tahan psikologis pada anak. Sejalan
dengan pemikiran Olweus (2021) menunjukkan bahwa bentuk perundungan verbal,
seperti ejekan dan penghinaan, memiliki dampak negatif terhadap kecerdasan
psikologis anak serta menghambat perkembangan keterampilan sosial mereka. Oleh
karena itu, memberikan ruang aman dan kreatif bagi anak untuk mengekspresikan
diri adalah langkah penting dalam mencegah berkembangnya perilaku yang tidak
diharapkan. Menurut Vygotsky, interaksi sosial memainkan peran kunci dalam
pembentukan pengetahuan dan kemampuan individu. Konstruktivisme Vygotsky
menekankan bahwa proses pembelajaran terjadi melalui interaksi antara individu
dengan lingkungan sosial dan budaya mereka. Dalam kegiatan bercerita, siswa tidak
hanya menjadi subjek pembelajaran tetapi juga agen aktif dalam proses
pembentukan makna. Mereka belajar mendengarkan, memahami perspektif lain,
merespons secara empatik, dan menyusun cerita mereka sendiri sebagai representasi
dari pengalaman dan emosi yang selama ini mungkin terpendam. Proses ini dapat
menjadi bentuk intervensi psikososial yang tidak hanya membangun kepercayaan
diri, tetapi juga meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal. Kepercayaan
diri yang rendah menjadi salah satu indikator lemahnya pengelolaan emosi pada
peserta didik, Kepercayaan diri yang rendah sering kali mencerminkan lemahnya
kemampuan peserta didik dalam mengelola emosi secara efektif. Ketidakmampuan
untuk mengenali dan mengendalikan perasaan dapat menghambat keberanian
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 1, February 2025, page: 27-34
E-ISSN: 3047-2474 (online) 30
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
mereka dalam mengekspresikan pendapat atau menghadapi tantangan. Akibatnya,
proses belajar dan perkembangan sosial mereka pun dapat terganggu.
Dalam praktiknya, metode bercerita dapat menjadi wahana untuk meningkatkan
efikasi diri peserta didik, karena dalam setiap cerita yang mereka sampaikan atau
dengar, terdapat peluang untuk mengidentifikasi kekuatan, harapan, serta
penyelesaian konflik yang aplikatif. Ketika siswa berhasil mengutarakan perasaan
dan mendapatkan respons yang positif dari lingkungan sosialnya, hal tersebut
memperkuat persepsi positif terhadap diri sendiri. Salah satu manfaat utama dari
metode bercerita adalah kemampuannya membentuk empati. Menurut Semiawan
(2007:34) Cerita merupakan wahana untuk mewujudkan terjadinya pertemuan dan
keterlibatan emosi, pemahaman dan keterlibatan mental antara yang bercerita
dengan anak, dapat memahami (verstehen) anak sedemikian, sehingga dapat
menerobos ke dalam (penetrate into) penghayatan dan pengalaman. Lebih jauh
Semiawan menjelaskan bahwa keasyikan pencerita dalam menyelami substansi dan
materi cerita dapat membawanya masuk ke dunia minat (interest) anak, dan
menghasilkan pengalaman yang paling dalam (peakexperience). Dengan demikian,
cerita tidak hanya menyentuh dimensi kognitif, tetapi juga afektif yang mendalam.
Selain itu, bercerita juga mendukung perkembangan kemampuan berpikir kritis dan
reflektif. Hal ini diperkuat Menurut Miller dan Pennycuff dalam (Fuadi et al., 2021)
bahwa salah satu cara untuk meningkatkan Motivasi anak adalah metode bercerita
(storytelling). Selain dapat menumbuhkembangkan minat baca anak, metode
bercerita ini juga dapat meningkatkan kecakapan berbahasa secara verbal,
pemahaman bacaan secara komprehensif dan juga kemampuan menulis pada anak.
Korelasi peningkatan kemampuan membaca dan menulis pada akhirnya akan
berhilir pada peningkatan kompetensi anak-anak pada berbagai area dalam
kehidupan mereka masing-masing. Kemampuan reflektif ini sangat penting dalam
membantu peserta didik memahami konsekuensi dari tindakan dan pilihan mereka,
sehingga lebih sadar dalam berperilaku. Dalam pelaksanaannya, kegiatan bercerita
juga dapat diselaraskan dengan pendekatan pembelajaran aktif (active learning), di
mana peserta didik tidak hanya menjadi pendengar pasif tetapi juga terlibat dalam
membuat, menafsirkan, dan menanggapi cerita. Kegiatan bercerita yang dirancang
secara interaktif memungkinkan peserta didik untuk menggali potensi kreatif
mereka, membentuk identitas sosial, dan merasa memiliki kontrol atas narasi
hidupnya. Di samping pendekatan teoretis, data empiris juga menunjukkan
efektivitas metode bercerita dalam meningkatkan kesehatan emosional peserta didik.
Dalam konteks MI Ash-Shidiq, penerapan metode bercerita dapat dilakukan melalui
berbagai strategi seperti cerita berantai, drama naratif, pembuatan buku cerita mini,
hingga kegiatan berbagi pengalaman pribadi dalam bentuk narasi lisan. Guru
berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana kondusif, aman, dan bebas
dari penilaian, agar peserta didik merasa nyaman untuk mengekspresikan diri.
Dengan pendekatan ini, metode bercerita dapat menjadi alat diagnosis dini terhadap
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 1, February 2025, page: 27-34
E-ISSN: 3047-2474 (online) 31
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
masalah psikososial peserta didik, karena cerita yang disampaikan kerap
mencerminkan kondisi emosional dan pengalaman pribadi yang selama ini
tersembunyi. Lebih jauh, kegiatan bercerita juga memberikan peluang untuk
integrasi nilai-nilai moral dan keagamaan yang selaras dengan kurikulum madrasah.
Nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, saling menghargai, serta kasih sayang
dapat disampaikan secara implisit melalui cerita, yang kemudian dibahas bersama
untuk memperdalam makna dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pendekatan ini membuat nilai-nilai tersebut tidak hanya menjadi konsep abstrak,
tetapi bagian dari pengalaman emosional peserta didik yang tertanam secara
mendalam. Sebagai upaya preventif, kegiatan ini diharapkan mampu menurunkan
kecenderungan perilaku negatif seperti agresivitas, perundungan, serta
ketergantungan terhadap pelarian emosional melalui media sosial. Ketika peserta
didik memiliki kemampuan untuk mengelola emosi, menyampaikan perasaan, dan
membangun hubungan yang sehat dengan teman sebaya, maka risiko terjadinya
perilaku menyimpang dapat ditekan. Lebih dari itu, mereka akan tumbuh menjadi
individu yang percaya diri, empatik, dan mampu membangun komunikasi yang
efektif. Dalam jangka panjang, pendekatan berbasis bercerita ini dapat
dikembangkan sebagai bagian integral dari strategi pembelajaran berbasis karakter
dan kesehatan mental di madrasah. Melalui penguatan keterampilan naratif, peserta
didik tidak hanya menjadi pembelajar yang aktif, tetapi juga individu yang resilien
dan memiliki kecerdasan emosional yang kuat. Program ini juga dapat diperluas
dengan melibatkan guru, orang tua, dan komunitas sekolah dalam menciptakan
ekosistem yang mendukung ekspresi diri dan kesejahteraan psikologis anak.
Dengan demikian, pengabdian masyarakat melalui metode bercerita bukan hanya
menjadi kegiatan temporer, tetapi investasi jangka panjang dalam membentuk
generasi yang tangguh secara emosional, cerdas secara sosial, dan sehat secara
mental. Diperlukan sinergi antara dunia pendidikan, keluarga, dan masyarakat
untuk terus mengembangkan ruang-ruang ekspresi yang sehat dan bermakna bagi
anak-anak, agar mereka tumbuh dalam lingkungan yang mendukung tumbuh
kembang optimal baik secara kognitif, afektif, maupun sosial.
Metode
Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini
melibatkan observasi, wawancara, pelatihan, serta evaluasi partisipatif. Tahapan
pelaksanaan dimulai dari identifikasi masalah melalui observasi langsung terhadap
dinamika sosial-psikologis peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ash-Shidiq,
Kabupaten Bandung, khususnya pada kelas V dan VI. Observasi ini dilengkapi
dengan wawancara bersama wali kelas untuk menggali data mengenai kondisi
emosional peserta didik, bentuk interaksi sosial mereka, serta perilaku yang muncul
akibat ketidakmampuan dalam mengekspresikan diri. Data yang terkumpul
dianalisis secara deskriptif dengan mengkategorikan pola-pola perilaku dan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 1, February 2025, page: 27-34
E-ISSN: 3047-2474 (online) 32
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
kecenderungan psikososial peserta didik. Berdasarkan hasil analisis tersebut,
dirancanglah melalui metode bercerita (storytelling) sebagai pendekatan utama.
Gambar.1 Proses Pelaksanaan Metode Bercerita
Melalui pendekatan ini, kegiatan pengabdian tidak hanya menyasar aspek kognitif
siswa, tetapi juga menyentuh ranah emosional dan sosial mereka. Metode bercerita
menjadi sarana multifungsi: sebagai media ekspresi diri, penyampaian nilai moral,
pembentukan karakter, serta penguatan kompetensi komunikasi interpersonal yang
sehat. Dengan memberikan ruang aman bagi siswa untuk bercerita, kegiatan ini
bertujuan mencegah berkembangnya perilaku negatif akibat represi emosi dan
ketidakmampuan komunikasi. Pendekatan ini juga sesuai dengan pandangan
Olweus (1993) dan Rigby (2002) yang menekankan pentingnya pengelolaan emosi
sebagai faktor kunci dalam pencegahan perilaku agresif. Dengan demikian, metode
yang digunakan dalam program ini merupakan sintesis antara pendekatan edukatif,
psikososial, dan partisipatif yang bersifat preventif serta berorientasi pada
penguatan karakter siswa sejak usia dini.
Hasil dan Pembahasan
Hasil yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di
Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ash-Shidiq, Kabupaten Bandung, menunjukkan dampak
positif yang signifikan terhadap perkembangan emosional dan sosial peserta didik,
khususnya siswa kelas V dan VI. Berdasarkan hasil observasi awal dan wawancara
mendalam dengan wali kelas, ditemukan bahwa sebagian besar siswa mengalami
kesulitan dalam mengekspresikan perasaan secara terbuka, yang berdampak pada
munculnya perilaku menyendiri, mudah tersinggung, hingga kecenderungan agresif
dalam interaksi sosial. Setelah diberikan stimulus melalui metode bercerita
(storytelling), terjadi perubahan positif yang terukur, baik dari segi keterbukaan
komunikasi, sikap empati, maupun penurunan frekuensi perilaku negatif.
Tabel 1. Perbandingan Kondisi Psikososial Siswa Sebelum dan Sesudah Motivasi
Aspek yang Dinilai
Sebelum
Sesudah
Skala
Rata-rata Ekspresi Emosi
2,1
4,3
1 5
Perilaku Kerja Sama (%)
45%
78%
0 100%
Perilaku Empati (%)
39%
69%
0 100%
Keterbukaan Berkomunikasi (%)
41%
73%
0 100%
Pendekatan Awal
Teknik bercerita
Bercerita secara
berkelompok
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 1, February 2025, page: 27-34
E-ISSN: 3047-2474 (online) 33
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Dengan demikian, hasil dan pembahasan menunjukkan bahwa pendekatan bercerita
mampu menjembatani kebutuhan peserta didik dalam menyalurkan emosi secara
sehat sekaligus menjadi media edukatif yang efektif. Efektivitas metode ini tidak
hanya terlihat dari peningkatan indikator kuantitatif, tetapi juga dari penguatan
kualitas interaksi antar peserta didik dan peningkatan kesadaran emosional yang
terungkap dalam sesi cerita. Secara umum, keberhasilan kegiatan ini menguatkan
relevansi metode partisipatif, edukatif, dan berbasis pendekatan psikososial dalam
konteks pengembangan karakter anak usia sekolah dasar. Pendekatan ini juga
membuka peluang untuk pengembangan program lanjutan yang lebih terstruktur,
termasuk integrasi dalam kurikulum pembelajaran berbasis nilai dan karakter.
Simpulan dan Rekomendasi
Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan di
Madrasah Ibtidaiyah (MI) Ash-Shidiq, Kabupaten Bandung, dapat disimpulkan
bahwa melalui penerapan metode bercerita (storytelling), kegiatan pengabdian ini
berhasil menciptakan ruang yang aman dan menyenangkan bagi peserta didik untuk
menyalurkan emosi, berbagi pengalaman, serta mengembangkan keterampilan sosial
dan emosional secara positif. Data kuantitatif menunjukkan peningkatan signifikan
dalam ekspresi emosi, kerja sama, empati, dan keterbukaan berkomunikasi. Secara
kualitatif, peserta didik juga menunjukkan perkembangan dalam membangun
hubungan sosial yang lebih sehat dan menunjukkan keberanian untuk berbicara
serta mendengarkan secara aktif. Metode bercerita terbukti efektif sebagai
pendekatan edukatif dan psikososial yang mampu memperkuat karakter peserta
didik, meningkatkan efikasi diri, serta membangun empati dan refleksi diri sejak
dini. Kegiatan ini tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga membuka
peluang untuk dikembangkan lebih lanjut dalam pembelajaran yang berbasis
karakter dan kesehatan mental peserta didik. Dengan demikian, intervensi berbasis
narasi ini dapat menjadi strategi preventif yang berkelanjutan dalam membentuk
generasi yang tangguh secara emosional, cerdas secara sosial, dan berakhlak mulia.
Daftar Pustaka
Amin, L., Fauzi, M., Mathori, M., Nasiruddin, N., Surur, M., & Rasyidi, A. H. (2024).
Analisis metode penerapan strategi bercerita untuk meningkatkan motivasi dan
pemahaman konsep pembelajaran. Jurnal Kajian Penelitian Pendidikan dan
Kebudayaan, 2(2), 01-12.
Aprianti, Y., Ramdani, I. L. A., Ali, M., Rifki, M., & Utomo, R. B. Perspektif Teori
Konstruktivisme Vygotsky terhadap kemampuan bersosialisasi siswa slow
learner di sekolah dasar inklusi. DWIJA CENDEKIA: Jurnal Riset Pedagogik, 9(1),
135-147.
Hadi, S. H. S. (2011). Pembelajaran sosial emosional sebagai dasar pendidikan
karakter anak usia dini. Jurnal Teknodik, 227-240.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 1, February 2025, page: 27-34
E-ISSN: 3047-2474 (online) 34
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Hapsarani, D., Djuwita, R., Liyanti, L., Djumala, R., Tuasuun, D. N., Islafatun, N., &
Ummah, S. (2024). Menanamkan Nilai Toleransi Pada Anak Melalui Narrative
Parenting. Prosiding Simposium Pengabdian Masyarakat Humaniora, 158-167.
Muyasari, N., & Sunarso, A. (2025). Dampak Perundungan Lisan terhadap
Kecerdasan Interpersonal Peserta Didik Sekolah Dasar. Bulletin of Counseling
and Psychotherapy, 7(1).
Refhalina, R., & Suriani, A. (2024). Peran Guru Dalam Membangun Rasa Percaya Diri
Pada Anak SD. Journal Central Publisher, 2(6), 2191-2196.
Saparwadi, S., & Sahrandi, A. (2021). Mengenal konsep daniel goleman dan
pemikirannya dalam kecerdasan emosi. Al-Musyrif: Jurnal Bimbingan dan
Konseling Islam, 4(1), 17-36.