Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 2, No. 1, February 2025, page: 27-34
E-ISSN: 3047-2474 (online) 29
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
yang menjadi titik awal munculnya masalah sosial-emosional pada peserta didik.
Lebih lanjut, isolasi sosial yang dialami sebagian siswa tidak hanya bersifat
sementara, tetapi dapat berdampak jangka panjang apabila tidak ditangani secara
dini. Isolasi ini berpotensi menumbuhkan rasa keterasingan, rendahnya empati, serta
ketidakmampuan untuk menyusun narasi diri yang sehat. Menurut Fivush, R.,
Bohanek, J., Robertson, R., & Duke, M. (2004), cerita tentang masa lalu yang
dibangun dalam keluarga dapat membantu anak memahami dirinya, baik sebagai
individu maupun sebagai bagian dari keluarganya. Dan dalam proses pendidikan,
bercerita merupakan salah satu cara paling alami dan efektif untuk menyusun narasi
tersebut. Dalam hal ini, metode bercerita bukan hanya media komunikasi, tetapi juga
sarana refleksi, terapi, dan pembentukan karakter. Metode bercerita (storytelling)
memiliki kekuatan psikologis yang sangat signifikan, terutama dalam membangun
jembatan antara pengalaman pribadi anak dengan nilai-nilai sosial dan moral.
Sebagaimana Ketiadaan cerita dapat berdampak pada hilangnya sarana untuk
menyampaikan nilai-nilai kehidupan dan moral (McAdam, 2001 Zipes, 2006, Smith,
2014), kurang berkembangnya kemampuan kognitif, daya imajinasi (Gottschall,
2012), dan kemampuan berempati pada orang lain (Oatley, 2016), di samping juga
menghambat kemampuan berkomunikasi dan berpikir kritis (Batson, 1991).
Sehingga, dalam konteks ini, pengabdian masyarakat yang difokuskan pada
penguatan keterampilan bercerita menjadi sangat relevan sebagai pendekatan
preventif terhadap perilaku negatif. Pencegahan bukan hanya soal menghentikan
gejala, tetapi juga membangun sistem daya tahan psikologis pada anak. Sejalan
dengan pemikiran Olweus (2021) menunjukkan bahwa bentuk perundungan verbal,
seperti ejekan dan penghinaan, memiliki dampak negatif terhadap kecerdasan
psikologis anak serta menghambat perkembangan keterampilan sosial mereka. Oleh
karena itu, memberikan ruang aman dan kreatif bagi anak untuk mengekspresikan
diri adalah langkah penting dalam mencegah berkembangnya perilaku yang tidak
diharapkan. Menurut Vygotsky, interaksi sosial memainkan peran kunci dalam
pembentukan pengetahuan dan kemampuan individu. Konstruktivisme Vygotsky
menekankan bahwa proses pembelajaran terjadi melalui interaksi antara individu
dengan lingkungan sosial dan budaya mereka. Dalam kegiatan bercerita, siswa tidak
hanya menjadi subjek pembelajaran tetapi juga agen aktif dalam proses
pembentukan makna. Mereka belajar mendengarkan, memahami perspektif lain,
merespons secara empatik, dan menyusun cerita mereka sendiri sebagai representasi
dari pengalaman dan emosi yang selama ini mungkin terpendam. Proses ini dapat
menjadi bentuk intervensi psikososial yang tidak hanya membangun kepercayaan
diri, tetapi juga meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal. Kepercayaan
diri yang rendah menjadi salah satu indikator lemahnya pengelolaan emosi pada
peserta didik, Kepercayaan diri yang rendah sering kali mencerminkan lemahnya
kemampuan peserta didik dalam mengelola emosi secara efektif. Ketidakmampuan
untuk mengenali dan mengendalikan perasaan dapat menghambat keberanian