Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 36-42
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 4/2/2026Selesai revisi: 21/2/2026Disetujui: 5/3/2026Diterbitkan: 24/4/2026
36
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Digital Footprint Matters: Edukasi Komunikasi untuk Generasi Melek
Teknologi Bagi Siswa SMP di Pondok Pesantren Al-Kaffah
Sri Utaminingsih
1
, Estiningsih Trihandayani
2
, Meilani Sari
3
,
Salsabila Nurul Khasanah
4
, Putri Delima
5
, Maulida Utami Putri
6
, Zainul Feriady
7
Universitas Pamulang
Jl. Puspitek, Buaran, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310,
Indonesia
e-mail: meilanisari14@gmail.com, salsabilanurulsukirno133@gmail.com,
putridelimafc@gmail.com, maulidautami8@gmail.com, feriady.bentan@gmail.com
Abstrak
Transformasi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar terhadap cara manusia
berkomunikasi. Transformasi digital dalam dua dekade terakhir telah secara drastis mengubah pola
komunikasi manusia. Media sosial kini menjadi medium utama dalam menyampaikan informasi,
membangun interaksi sosial, dan mengekspresikan pendapat secara publik (Afif et al., 2024). Platform
seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan TikTok memungkinkan komunikasi lintas batas geografis dan
budaya, menciptakan ruang komunikasi yang cepat, terbuka, dan masif (Mujahiddin & Harahap, 2017).
Oleh karena itu, kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) dilaksanakan di Pondok Pesantren
Al-Kaffah dengan tema “Digital Footprint Matters: Edukasi Komunikasi untuk Generasi
Melek Teknologi Bagi Siswa SMP di Pondok Pesantren Al-Kaffah”, tujuan dari
pengabdian ini untuk melatih kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan permasalahan
digital di kalangan remaja. Metode kegiatan yang digunakan dalam kegiatan sosialisasi ini bersifat
Partisipatif, edukatif, dan aplikatif, sehingga siswa tidak hanya memahami materi secara teori saja,
tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Dengan kolaborasi aktif antara
mahasiswa, guru, pembina pesantren, dan santri, program ini diharapkan tidak hanya memberikan
manfaat jangka pendek berupa peningkatan literasi digital, tetapi juga membentuk budaya digital
yang positif di lingkungan Pondok Pesantren Al Kaffah secara berkelanjutan.
Kata Kunci: Edukasi Teknologi, Komunikasi, Siswa
Abstract
Rapid digital transformation has brought significant changes to the way people communicate.
Over the past two decades, this transformation has drastically altered communication
patterns, with social media becoming the primary medium for sharing information, building
social interactions, and expressing opinions publicly (Afif et al., 2024). Platforms such as
Facebook, Twitter, Instagram, and TikTok enable communication across geographical and
cultural boundaries, creating a fast, open, and massive communication space (Mujahiddin &
Harahap, 2017). Based on this context, a Community Service Program (PKM) was conducted
at Pondok Pesantren Al-Kaffah under the theme “Digital Footprint Matters: Communication
Education for a Technology-Literate Generation among Junior High School Students at
Pondok Pesantren Al-Kaffah.” The purpose of this program is to train students’ critical
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 36-42
E-ISSN: 3047-2474 (online) 37
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
thinking skills in addressing and solving digital-related issues among adolescents. The
method used in this socialization activity is participatory, educative, and applicative. Through
this approach, students are not only expected to understand the material theoretically but also
to apply it in their daily lives. Through active collaboration between university students,
teachers, boarding school mentors, and students, this program is expected to provide not only
short-term benefits in the form of improved digital literacy but also to foster a sustainable
positive digital culture within the Pondok Pesantren Al-Kaffah environment.
Keywords: Technology Education, Communication, Student
Pendahuluan
Transformasi digital yang sangat pesat telah membawa perubahan besar terhadap cara
manusia berkomunikasi. Transformasi digital dalam dua dekade terakhir telah secara drastis
mengubah pola komunikasi manusia. Media sosial kini menjadi medium utama dalam
menyampaikan informasi, membangun interaksi sosial, dan mengekspresikan pendapat secara
publik (Afif et al., 2024). Platform seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan TikTok
memungkinkan komunikasi lintas batas geografis dan budaya, menciptakan ruang
komunikasi yang cepat, terbuka, dan masif (Mujahiddin & Harahap, 2017). Namun,
kemudahan ini juga disertai tantangan kompleks, terutama dalam hal etika komunikasi
(Parwitasari et al., 2022) Generasi saat ini, khususnya generasi muda, tumbuh sebagai generasi
melek teknologi yang aktif menggunakan media sosial dan platform digital lainnya dalam
kehidupan sehari-hari. Generasi muda sebagai generasi melek teknologi (digital natives)
menjadi kelompok yang paling aktif dalam memanfaatkan media digital, seperti media
sosial, platform pesan instan, dan forum daring, sebagai sarana berekspresi, berinteraksi,
serta membangun identitas diri. Namun demikian, kemudahan akses dan tingginya aktivitas
digital remaja tidak selalu diiringi dengan pemahaman yang memadai mengenai etika
berinteraksi di media sosial. Minimnya literasi digital dan rendahnya kesadaran terhadap
tanggungjawab digital dapat memunculkan berbagai risiko, di antaranya penyebaran hoaks,
perundungan siber (cyberbullying), pelanggaran privasi, penyalahgunaan data pribadi, hingga
kerusakan reputasi akibat jejak digital yang buruk (Khanetal., 2022).
Sejumlah temuan juga menunjukkan bahwa literasi digital pelajar Indonesia masih
berada pada kategori sedang hingga rendah, khususnya dalam aspek etika, keamanan digital,
dan pengelolaan identitas digital (Harmawati et al., 2024). Kondisi tersebut menunjukkan
perlunya intervensi edukatif yang relevan untuk membekali remaja agar mampu menjadi
pengguna media digital yang bertanggung jawab. Salah satu aspek krusial yang sering
diabaikan adalah konsep digital footprint atau jejak digital, yaitu rekam jejak aktivitas
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 36-42
E-ISSN: 3047-2474 (online) 38
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
seseorang di dunia maya yang bersifat permanen, dapat dilacak, dan berpotensi
memengaruhi reputasi individu dalam jangka panjang. Jejak digital tidak hanya berdampak
pada kehidupan sosial, tetapi juga dapat memengaruhi peluang akademik dan profesional,
seperti proses seleksi beasiswa maupun rekrutmen kerja.
Di sisi lain, banyak generasi muda yang belum menyadari bahwa setiap unggahan,
komentar, maupun interaksi digital merupakan representasi dari identitas diri mereka di
ruang publik. Kurangnya kesadaran ini dapat berujung pada konsekuensi serius, baik secara
personal maupun sosial. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya edukatif yang
terstruktur dan kontekstual untuk meningkatkan pemahaman generasi muda
mengenai pentingnya menjaga jejak digital serta menerapkan etika komunikasi yang
baik di ruang digital khususnya di Pondok Pesantren Al Kaffah. Melalui kegiatan
Sosialisasi “Digital Footprint Matters: Edukasi Etika Komunikasi untuk Generasi
Melek Teknologi”, diharapkan peserta tidak hanya memahami konsep secara
teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan uraian latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka
rumusan masalah dalam kegiatan pengabdian ini adalah sebagai berikut: (1)
Bagaimana tingkat pemahaman siswa di Pondok Pesantren Al - Kaffah tentang jejak
digital (digital footprint) dan etika komunikasi di dunia digital? (2) Bagaimana
perilaku komunikasi digital siswa di Pondok Pesantren Al - Kaffah dalam penggunaan
media saat menggunakan Gadget? (3) Apa saja faktor yang memengaruhi rendahnya
kesadaran siswa terhadap etika komunikasi dan jejak digital? (4) Bagaimana bentuk
edukasi etika komunikasi digital yang efektif bagi siswa Pondok Pesantren Al -
Kaffah? (5) Bagaimana penerapan edukasi tersebut dapat meningkatkan kesadaran
siswa dalam menjaga jejak digital yang positif? (6) Bagaimana peran guru dan orang
tua dalam mendukung pembentukan etika komunikasi digital pada siswa Pondok
Pesantren Al Kaffah?
(1) Tujuan internal Pengabdian Kepada Masyarakat bagi Mahasiswa,
khususnya mahasiswa Universitas Pamulang, bertujuan untuk : (a)
Mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi di bidang Pengabdian kepada
Masyarakat (PKM) melalui solusi inovatif dan aplikatif terhadap masalah sosial
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 36-42
E-ISSN: 3047-2474 (online) 39
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
kemasyarakatan di lingkungan pesantren (b) Menumbuhkan kepedulian sosial serta
tanggung jawab sebagai agen perubahan (c) Melatih kemampuan berpikir kritis
dalam menyelesaikan permasalahan digital di kalangan remaja (d) Menjalin kerja
sama antara perguruan tinggi dengan sekolah/pondok pesantren. (2) Tujuan
eksternal dalam Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) khususnya yang
menjadi sasaran siswa yaitu: (a) Meningkatkan kesadaran siswa tentang pentingnya
menjaga jejak digital (b) Membentuk sikap bijak dalam berkomunikasi di media
digital. (c) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis sebelum membagikan
konten (d) Menanamkan nilai tanggung jawab dalam penggunaan teknologi.
Metode
Metode kegiatan yang digunakan dalam kegiatan sosialisasi ini bersifat Partisipatif,
edukatif, dan aplikatif, sehingga siswa tidak hanya memahami materi secara teori saja,
tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan seharihari. Pelaksanaan ini
dilakukan melalui beberapa tahapan sebagai berikut: (1) Tahap Persiapan. Pada tahap
ini dilakukan koordinasi dengan pihak sekolah atau pondok pesantren terkait waktu,
tempat, dan peserta kegiatan. Selain itu, tim pelaksana menyusun materi sosialisasi,
media pembelajaran (slide, video, dan studi kasus), serta instrumen evaluasi seperti
pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman siswa. (2) Tahap Pelaksaan
Sosialisasi.Kegiatan sosialisasi dilakukan melalui ceramah interaktif yang
menyampaikan pemahaman dasar tentang jejak digital, mencakup pengertian,
pentingnya, serta dampak positif dan negatifnya, disertai penanaman etika
komunikasi di media digital. Proses ini dikombinasikan dengan sesi tanya jawab agar
siswa lebih aktif, kritis, dan terlibat dalam memahami materi yang disampaikan.
Selanjutnya, pemahaman siswa diperkuat melalui diskusi dan studi kasus, di
mana peserta menganalisis permasalahan nyata terkait pelanggaran etika digital serta
dampak jejak digital, kemudian mencari solusi yang tepat. Sehingga mereka mampu
menerapkan pengetahuan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. (3) Tahap
Pendampingan. Setelah sosialisasi, dilakukan pendampingan oleh guru atau pihak
pondok Pesantren untuk memperkuat pemahaman siswa. Kegiatan tersebut dapat
berupa bimbingan lanjutan melalui guru BK, Penguatan Materi dalam pembelajaran,
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 36-42
E-ISSN: 3047-2474 (online) 40
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
serta pembentukan duta atau agen literasi digital di kalangan siswa. (4) Tahap
Evaluasi. Pada tahap evaluasi untuk mengetahui efektivitas kegiatan, dapat dilakukan
dengan cara peninjauan secara berkala oleh pihak pondok tentang perubahan perilaku
siswa dalam bermedia sosial, dan juga refleksi bersama antara tim pelaksana dan
pihak sekolah. (5) Tahap Tindak Lanjut. Sebagai bentuk keberlanjutan program,
dilakukan upaya tindak lanjut yang terstruktur agar dampak sosialisasi tidak
berhenti pada kegiatan awal saja. Tim pelaksana menyusun rekomendasi bagi
sekolah sebagai acuan dalam mengembangkan program literasi digital yang
berkelanjutan. Selain itu, dilakukan kampanye “Bijak Bermedia Sosial” untuk
menumbuhkan kesadaran kolektif siswa dalam menggunakan media digital secara
positif dan bertanggung jawab. Selanjutnya, diterapkan kode etik komunikasi digital
siswa sebagai pedoman perilaku dalam berinteraksi di dunia maya, sehingga tercipta
lingkungan sekolah yang lebih aman, beretika, dan mendukung pembentukan jejak
digital yang positif.
Hasil dan Pembahasan
Sosialisasi “Digital Footprint Matters: Edukasi Etika Komunikasi untuk
Generasi Melek Teknologi” merupakan upaya strategis untuk membekali generasi
muda, khususnya para santri di Pondok Pesantren Al Kaffah, dengan pemahaman
yang mendalam mengenai jejak digital dan etika komunikasi di dunia maya.
Kegiatan ini tidak hanya memberikan pengetahuan secara teoritis, tetapi juga
melatih keterampilan praktis dalam membuat konten positif, menilai kelayakan
informasi sebelum dibagikan, serta mempraktikkan komunikasi yang etis di media
digital. Dengan kolaborasi aktif antara mahasiswa, guru, pembina pesantren, dan
santri, program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek
berupa peningkatan literasi digital, tetapi juga membentuk budaya digital yang
positif di lingkungan Pondok Pesantren Al Kaffah secara berkelanjutan. Dengan
demikian, jurnal ini menjadi dasar bagi pelaksanaan kegiatan pengabdian
masyarakat yang terstruktur, relevan, dan berdampak nyata bagi pengembangan
karakter serta kesiapan santri menghadapi tantangan dunia digital masa kini dan
masa depan.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 36-42
E-ISSN: 3047-2474 (online) 41
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Simpulan
Berdasarkan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat dapat disimpulkan bahwa
dengan kolaborasi aktif antara mahasiswa, guru, pembina pesantren, dan santri,
program ini diharapkan tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek berupa
peningkatan literasi digital, tetapi juga membentuk budaya digital yang positif di
lingkungan Pondok Pesantren Al Kaffah secara berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Afif, D. A., Ferina, A. T., Fahmi, A., Albab, M. U., & Nurmiati, E. (2024).
TANTANGAN ETIS DALAM PENGGUNAAN JEJARING SOSIAL: A
SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW. Jurnal Perangkat Lunak, 6(3), 400
404.
Harmawati, Y., Sapriya, Abdulkarim, A., Bestari, P., & Sari, B. I. (2024). Data of
digital literacy level measurement of Indonesian students: Based on the
components of ability to use media, advanced use of digital media, managing
digital learning platforms, and ethics and safety in the use of digital media.
Data in Brief, 54, 110397.
https://doi.org/https://doi.org/10.1016/j.dib.2024.110397 .
Hassan, A, Yang, J, Usman, A, Bilal, A, & Ullah, S (2023). Green growth as a
determinant of ecological footprint: do ICT diffusion, environmental
innovation, and natural resources matter?. PLoS One, journals.plos.org,
https://journals.plos.org/plosone/article?id=10.1371/journal.pone.0287715
Mir, AA, Rathinam, S, & Gul, S (2022). Public perception of COVID-19 vaccines
from the digital footprints left on Twitter: analyzing positive, neutral and
negative sentiments of Twitterati. Library Hi Tech, emerald.com,
https://www.emerald.com/lht/article-abstract/40/2/340/452133
Mujahiddin, M., & Harahap, M. S. (2017). Model penggunaan media sosial di
kalangan pemuda. Jurnal Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 1(2), 142155.
Muhammad, SS, Dey, BL, Alwi, SF Syed, & ... (2023). Consumers' willingness to
share digital footprints on social media: the role of affective trust.
Technology &People, emerald.com,
https://www.emerald.com/itp/article/36/2/595/181983
Nwakanma, AP (2022). From black lives matter to EndSARS: Women's socio-
political power and the transnational movement for black lives. Perspectives
on Politics, cambridge.org, https://www.cambridge.org/core/journals/perspectives-on-
politics/article/fromblack-lives-matter-to-endsars-womens-sociopolitical-power-and-the-
transnationalmovement-for-black-lives/5B65728A08EEE5764326CD180681FCF5
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 36-42
E-ISSN: 3047-2474 (online) 42
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Savin-Baden, M, & Mason-Robbie, V (2020). Digital afterlife: Death matters in a
digital age., books.google.com,
https://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=X0jWDwAAQBAJ&oi=fnd&pg=PP1&dq=
digital+footprint+matters&ots=yRRLN3gk8z&sig=G5gCIlWcGal3Znhqbhr5yFlhXmc
Sharifi, A, Ahmadi, M, Mehni, MA, & ... (2021). Experimental and numerical
diagnosis of fatigue foot using convolutional neural network. Computer
Methods in …, Taylor &Francis, https://doi.org/10.1080/10255842.2021.1921164
Tosun, N, & Mihci, C (2020). An examination of digital parenting behavior in
parents with preschool children in the context of lifelong learning.
Sustainability, mdpi.com, https://www.mdpi.com/2071-1050/12/18/7654
Waters, S, Russell, WB, & Hensley, M (2020). Cyber bullying, social media, and
character education: why it matters for middle school social studies. The
Clearing House: A Journal …, Taylor &Francis,
https://doi.org/10.1080/00098655.2020.1760770
Wang, L, & Chen, L (2024). Resource dependence and air pollution in China: Do
the digital economy, income inequality, and industrial upgrading matter?.
Environment, Development and Sustainability, Springer,
https://doi.org/10.1007/s10668-022-02802-9
Yang, X, Xu, Y, Razzaq, A, Wu, D, Cao, J, & ... (2024). Roadmap to achieving
sustainable development: does digital economy matter in industrial green
transformation?. Sustainable …, Wiley Online Library,
https://doi.org/10.1002/sd.2781