Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 75-85
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 4/2/2026Selesai revisi: 21/2/2026Disetujui: 5/3/2026Diterbitkan: 25/4/2026
75
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA
International License.
Pendampingan Manajemen Waktu Berbasis Self-Regulated Learning
pada Siswa SMP
Amaral Firda
1
, Afrina
2*
, Roro Dewila Morningrum
3
, Siti Rahmawati
4
,
Iqrima Azzahrah
5
, Salsabila
6
, Supyan
7
, Nuryati Djihadah
8
1,2,3,4,5,6,7,8
Magister Manajemen Pendidikan, Universitas Pamulang, Indonesia
e-mail:
1
amaralfirda01@gmail.com,
2*
afrina260217@gmail.com,
3
rorodewilamorningrum@gmail.com,
4
sitirahmawati09121998@gmail.com,
5
iqrima.azzahrah@gmail.com,
6
sabil.lla66@gmail.com,
7
arbiansupyan@gmail.com,
8
dosen00359@unpam.ac.id
Abstrak
Perkembangan teknologi digital memberikan kemudahan akses informasi bagi siswa,
namun juga menimbulkan tantangan dalam pengelolaan waktu belajar yang
berdampak pada rendahnya kemandirian belajar. Kegiatan pengabdian kepada
masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemandirian belajar siswa melalui
pendampingan manajemen waktu berbasis Self-Regulated Learning. Metode yang
digunakan adalah pendekatan partisipatif melalui ceramah, diskusi, tanya jawab, dan
praktik penyusunan perencanaan belajar. Tahapan kegiatan meliputi persiapan,
pelaksanaan, dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan yang
signifikan pada beberapa indikator, yaitu pemahaman manajemen waktu meningkat
dari 65% menjadi 80%, kemampuan menyusun jadwal belajar dari 70% menjadi 85%,
serta kemandirian belajar siswa dari 75% menjadi 90%. Temuan ini menunjukkan
adanya peningkatan konsisten sebesar 15 poin persentase pada setiap indikator. Selain
itu, siswa menunjukkan perubahan perilaku yang lebih disiplin dan bertanggung
jawab terhadap tugas akademik. Dengan demikian, pendampingan berbasis Self-
Regulated Learning terbukti efektif dalam meningkatkan kemandirian belajar siswa di
era digital.
Kata Kunci: manajemen waktu, self-regulated learning, kemandirian belajar, siswa SMP,
pengabdian kepada masyarakat.
Abstract
The rapid development of digital technology provides students with easy access to information
but also creates challenges in managing study time, which affects learning independence. This
community service activity aims to improve students’ learning independence through time
management assistance based on Self-Regulated Learning. The method used was a participatory
approach through lectures, discussions, question-and-answer sessions, and practical exercises
in learning planning. The implementation stages included preparation, execution, and
evaluation. The results showed significant improvements across several indicators: students’
understanding of time management increased from 65% to 80%, their ability to create
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 75-85
E-ISSN: 3047-2474 (online) 76
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
structured study schedules improved from 70% to 85%, and their learning independence rose
from 75% to 90%. These findings indicate a consistent increase of 15 percentage points across
all indicators. In addition, students demonstrated more disciplined and responsible behavior
toward academic tasks. Therefore, Self-Regulated Learning-based assistance is effective in
enhancing students’ learning independence in the digital era.
Keywords: time management, self-regulated learning, learning independence, junior high
school students, community service.
Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital telah membawa transformasi signifikan dalam
sistem pendidikan, khususnya dalam cara siswa mengakses dan mengelola informasi
pembelajaran. Kemudahan akses terhadap sumber belajar berbasis internet, platform
digital, dan media sosial memberikan peluang besar dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga menimbulkan tantangan berupa
meningkatnya distraksi yang berdampak pada rendahnya kemampuan siswa dalam
mengatur waktu belajar secara efektif. Studi menunjukkan bahwa lingkungan
pembelajaran digital menuntut kemampuan regulasi diri yang lebih tinggi, karena
siswa harus mampu mengontrol proses belajar secara mandiri tanpa ketergantungan
penuh pada guru (Rivers et al., 2022).
Dalam konteks tersebut, kemampuan manajemen waktu menjadi salah satu
faktor kunci yang menentukan keberhasilan belajar siswa. Manajemen waktu tidak
hanya berkaitan dengan pengaturan jadwal, tetapi juga mencakup kemampuan dalam
menetapkan prioritas, menghindari penundaan, serta mengalokasikan waktu secara
efektif untuk berbagai aktivitas akademik. Penelitian menunjukkan bahwa
kemampuan manajemen waktu memiliki hubungan positif yang signifikan dengan
keberhasilan akademik dan kemampuan regulasi diri siswa, sehingga siswa yang
memiliki manajemen waktu yang baik cenderung menunjukkan performa belajar
yang lebih optimal (Usroh et al., 2022).
Selain itu, konsep Self-Regulated Learning (SRL) menjadi pendekatan penting
dalam menjawab tantangan pembelajaran di era digital. SRL menekankan pada
kemampuan individu dalam merencanakan, memonitor, dan mengevaluasi proses
belajarnya secara mandiri. Dalam praktiknya, SRL memungkinkan siswa untuk
menjadi pembelajar aktif yang mampu mengontrol motivasi, strategi, serta hasil
belajarnya sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa SRL berkontribusi secara
signifikan terhadap peningkatan hasil belajar dan ketercapaian tujuan akademik siswa
dalam berbagai konteks pembelajaran (Theobald & Bellhäuser, 2022).
Lebih lanjut, integrasi antara manajemen waktu dan Self-Regulated Learning
menjadi kombinasi strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Manajemen
waktu berfungsi sebagai aspek operasional, sedangkan SRL berperan sebagai
kerangka kognitif dan metakognitif dalam mengelola proses belajar. Penelitian
menunjukkan bahwa intervensi berbasis manajemen waktu yang terintegrasi dengan
SRL dapat meningkatkan konsistensi belajar, kedisiplinan, serta kemampuan refleksi
siswa terhadap proses belajar yang dilakukan (Khiat, 2022).
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 75-85
E-ISSN: 3047-2474 (online) 77
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Namun demikian, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa masih banyak
siswa yang belum memiliki kemampuan manajemen waktu dan regulasi diri yang
memadai. Permasalahan ini terlihat dari kecenderungan siswa dalam menunda
pekerjaan, kurangnya perencanaan belajar, serta rendahnya kemampuan dalam
mengevaluasi hasil belajar. Kondisi ini diperkuat oleh temuan bahwa keterampilan
regulasi diri tidak berkembang secara otomatis, melainkan memerlukan intervensi
yang sistematis dan terstruktur melalui proses pembelajaran atau pendampingan
(Baars et al., 2022).
Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu upaya intervensi yang mampu
membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan manajemen waktu sekaligus
meningkatkan keterampilan Self-Regulated Learning. Salah satu pendekatan yang dapat
dilakukan adalah melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis
pendampingan yang terstruktur. Pendampingan ini dirancang untuk memberikan
pengalaman langsung kepada siswa dalam merencanakan, mengelola, dan
merefleksikan proses belajar mereka, sehingga diharapkan dapat meningkatkan
kemandirian belajar serta efektivitas pembelajaran secara berkelanjutan.
Dalam konteks lokal, kondisi siswa di tingkat Sekolah Menengah Pertama
menunjukkan bahwa kemampuan manajemen waktu dan kemandirian belajar masih
berada pada kategori sedang dan belum optimal. Hal ini tercermin dari berbagai
temuan empiris yang menunjukkan bahwa siswa sering mengalami kesulitan dalam
mengatur waktu belajar, menyusun jadwal, serta menjaga konsistensi dalam
menyelesaikan tugas akademik. Penelitian pada siswa SMP menunjukkan bahwa
tingkat self-regulated learning berada pada kisaran menengah, yaitu sekitar 72,6%,
yang mengindikasikan bahwa kemampuan regulasi diri siswa masih perlu
ditingkatkan melalui intervensi yang lebih sistematis (Santika & Zikra, 2023).
Kondisi tersebut juga relevan dengan fenomena yang terjadi di lingkungan
mitra, yaitu siswa SMP yang cenderung belum memiliki pola belajar terstruktur dan
masih bergantung pada arahan eksternal. Rendahnya kemampuan dalam
merencanakan dan mengevaluasi proses belajar menyebabkan siswa kurang mampu
mengoptimalkan potensi akademiknya. Studi menunjukkan bahwa banyak siswa
melakukan aktivitas belajar tanpa perencanaan dan refleksi yang jelas, sehingga
berdampak pada rendahnya pencapaian akademik dan kurangnya keterlibatan dalam
proses pembelajaran (Boleng, 2023).
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital yang semakin pesat justru
memperkuat urgensi penguatan keterampilan regulasi diri. Lingkungan belajar digital
menuntut siswa untuk mampu mengelola waktu secara mandiri dan efektif, karena
fleksibilitas akses belajar seringkali tidak diimbangi dengan kemampuan kontrol diri
yang memadai. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa dalam lingkungan
pembelajaran digital, siswa cenderung mengalami kesulitan dalam mengalokasikan
waktu belajar secara konsisten, sehingga berdampak pada hasil belajar yang kurang
optimal (Hsu et al., 2023).
Meskipun berbagai penelitian telah mengkaji hubungan antara manajemen
waktu dan self-regulated learning, sebagian besar masih berfokus pada konteks
pendidikan tinggi atau menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif murni tanpa
intervensi langsung. Padahal, hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 75-85
E-ISSN: 3047-2474 (online) 78
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
sangat kuat antara kemampuan manajemen waktu dan self-regulated learning, dengan
korelasi signifikan yang menegaskan bahwa peningkatan manajemen waktu akan
berdampak langsung pada peningkatan regulasi diri dalam belajar (Mulyani, 2024).
Namun demikian, kajian yang mengintegrasikan kedua konsep tersebut dalam bentuk
kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis pendampingan di tingkat SMP
masih relatif terbatas.
Selain itu, pendekatan pelatihan atau pembelajaran yang berorientasi pada Self-
Regulated Learning terbukti mampu meningkatkan keterlibatan dan kualitas belajar
siswa. Intervensi berbasis strategi SRL, khususnya pada fase perencanaan
(forethought), dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran serta
mendorong mereka untuk lebih aktif dalam mengelola proses belajarnya sendiri
(Aripin et al., 2023). Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan SRL tidak hanya relevan
secara teoritis, tetapi juga efektif secara praktis dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran.
Berdasarkan analisis situasi, kesenjangan penelitian, serta kebutuhan nyata di
lapangan, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dirancang untuk memberikan
solusi melalui pendampingan manajemen waktu berbasis Self-Regulated Learning pada
siswa SMP. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam
merencanakan, mengelola, dan mengevaluasi proses belajar secara mandiri, sehingga
berdampak pada peningkatan kemandirian belajar dan efektivitas pembelajaran.
Dengan demikian, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam
penguatan kompetensi belajar siswa di era digital sekaligus menjadi model
implementasi PKM yang aplikatif dan berkelanjutan.
Metode
Metode dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan
pendekatan partisipatif dengan model pendampingan berbasis Self-Regulated Learning
(SRL) untuk meningkatkan kemampuan manajemen waktu dan kemandirian belajar
siswa. Kegiatan ini dilaksanakan di SMP Negeri 7 Tangerang Selatan dengan
melibatkan 30 siswa sebagai peserta. Pendekatan partisipatif dipilih karena
menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses pembelajaran melalui tahapan
perencanaan, monitoring, dan evaluasi diri. Dalam kajian pendidikan, SRL
didefinisikan sebagai proses aktif di mana siswa mengatur tujuan, strategi, dan
refleksi belajar untuk mencapai hasil yang optimal, serta terbukti berkontribusi
terhadap peningkatan hasil belajar dan strategi belajar siswa (Chen, 2022).
Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui tiga tahapan utama, yaitu persiapan,
pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap persiapan meliputi identifikasi masalah dan analisis
kebutuhan siswa terkait manajemen waktu dan kemandirian belajar. Tahap
pelaksanaan dilakukan melalui metode ceramah, diskusi, tanya jawab, serta praktik
langsung berupa penyusunan jadwal belajar, penetapan target, dan refleksi diri.
Dalam proses ini digunakan strategi scaffolding atau pendampingan bertahap untuk
membantu siswa mengembangkan keterampilan regulasi diri secara sistematis.
Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas SRL seperti perencanaan, monitoring, dan
evaluasi memiliki hubungan langsung dengan peningkatan hasil belajar dan
kedalaman pemahaman siswa (Van Der Graaf et al., 2022). Selain itu, intervensi
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 75-85
E-ISSN: 3047-2474 (online) 79
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
berbasis SRL terbukti efektif dalam meningkatkan strategi belajar, motivasi, dan
keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (Chen, 2022).
Tahap evaluasi dilakukan menggunakan desain pre-test dan post-test untuk
mengukur perubahan pada tiga indikator utama, yaitu pemahaman manajemen
waktu, kemampuan menyusun jadwal belajar, dan kemandirian belajar siswa.
Instrumen yang digunakan berupa angket dan lembar observasi yang diberikan
kepada seluruh peserta (N=30). Data dianalisis menggunakan teknik persentase untuk
mengidentifikasi perubahan sebelum dan sesudah pelaksanaan kegiatan. Pendekatan
evaluasi ini sejalan dengan penelitian intervensi pendidikan yang menekankan
pentingnya pengukuran perubahan sebagai indikator efektivitas program berbasis
SRL, terutama dalam meningkatkan keterampilan regulasi diri dan hasil belajar siswa
(Baars et al., 2022).
Gambar.1 Diagram Alur Pelaksanaan PKM
Hasil dan Pembahasan
Hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat menunjukkan adanya
perubahan positif pada kemampuan manajemen waktu dan kemandirian belajar
siswa setelah mengikuti pendampingan berbasis Self-Regulated Learning (SRL).
Pengukuran dilakukan melalui perbandingan nilai sebelum (pre-test) dan sesudah
(post-test) pada tiga indikator utama, yaitu pemahaman manajemen waktu,
kemampuan menyusun jadwal belajar, dan kemandirian belajar. Data diperoleh dari
30 siswa yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Secara umum, hasil
menunjukkan adanya peningkatan pada seluruh indikator yang diukur, yang
mengindikasikan efektivitas intervensi berbasis SRL dalam meningkatkan kualitas
belajar siswa, sebagaimana ditegaskan dalam penelitian bahwa SRL berperan
signifikan dalam meningkatkan performa dan keterlibatan belajar siswa (Chen, 2022).
Berdasarkan hasil pengukuran, terjadi peningkatan pada indikator
pemahaman manajemen waktu dari 65% menjadi 80%. Peningkatan ini menunjukkan
bahwa siswa mengalami perubahan dalam memahami pentingnya pengelolaan waktu
dalam kegiatan belajar. Sebelum kegiatan, sebagian besar siswa belum memiliki
kesadaran yang kuat terhadap pengaturan waktu, namun setelah pendampingan,
siswa mulai mampu mengidentifikasi prioritas belajar dan mengalokasikan waktu
secara lebih efektif. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa
manajemen waktu merupakan komponen penting dalam regulasi diri yang
Identifikasi
Masalah
Analisis
Kebutuhan
(30 siswa)
Perancangan
Program SRL
Pelaksanaan
Pendampingan
(Ceramah
Diskusi Praktik)
Scaffolding &
Monitoring
Evaluasi (Pre-Test
& Post-Test)
Analisis Data
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 75-85
E-ISSN: 3047-2474 (online) 80
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
berkontribusi langsung terhadap keberhasilan akademik siswa (Van Der Graaf et al.,
2022).
Pada indikator kemampuan menyusun jadwal belajar, terjadi peningkatan dari
70% menjadi 85%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya memahami
konsep, tetapi juga mampu mengimplementasikan strategi perencanaan belajar secara
sistematis. Kemampuan ini merupakan bagian dari fase forethought dalam Self-
Regulated Learning (SRL), yaitu tahap perencanaan sebelum aktivitas belajar dimulai,
yang mencakup penetapan tujuan, analisis tugas, serta pemilihan strategi belajar yang
tepat. Dalam penelitian empiris, fase ini terbukti berperan penting dalam menentukan
kualitas keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Siswa yang mampu merencanakan
kegiatan belajar secara efektif cenderung menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi
serta pencapaian akademik yang lebih baik dibandingkan siswa yang tidak memiliki
perencanaan yang jela (Jaramillo et al., 2022).
Selanjutnya, pada indikator kemandirian belajar, terjadi peningkatan dari 75%
menjadi 90%. Peningkatan ini menunjukkan adanya perubahan perilaku belajar siswa
yang lebih mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap tugas akademik. Siswa
mulai menunjukkan inisiatif dalam belajar tanpa ketergantungan penuh pada guru.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang menyatakan bahwa SRL tidak hanya
mempengaruhi aspek kognitif, tetapi juga aspek motivasional dan perilaku dalam
pembelajaran (Baars et al., 2022).
Secara keseluruhan, hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan yang
konsisten sebesar 15 poin persentase pada setiap indikator. Konsistensi ini
menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan memberikan dampak yang merata
pada berbagai aspek kemampuan belajar siswa. Visualisasi data dalam bentuk tabel
dan diagram juga memperkuat temuan bahwa pendekatan berbasis Self-Regulated
Learning (SRL) mampu meningkatkan efektivitas pembelajaran secara signifikan.
Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa intervensi SRL
yang mengintegrasikan latihan strategi belajar, praktik langsung, serta refleksi diri
mampu memberikan dampak yang lebih optimal dibandingkan pendekatan
pembelajaran konvensional (Kubik et al., 2021). Selain itu, dalam kajian sistematis, SRL
terbukti sebagai pendekatan yang efektif karena melibatkan proses siklik yang
mencakup perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi diri yang saling terintegrasi,
sehingga memungkinkan peningkatan performa belajar secara berkelanjutan (Gambo
& Shakir, 2021).
Tabel 1. Hasil Peningkatan Kemampuan Siswa
No
Parameter
Sebelum (%)
Sesudah (%)
Peningkatan
1
Pemahaman Manajemen Waktu
65%
80%
+15 poin
2
Kemampuan Menyusun Jadwal
Belajar
70%
85%
+15 poin
3
Kemandirian Belajar
75%
90%
+15 poin
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 75-85
E-ISSN: 3047-2474 (online) 81
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Gambar 2. Diagram Peningkatan Hasil Sebelum dan Sesudah
Diagram menunjukkan adanya peningkatan yang konsisten pada seluruh
indikator setelah pelaksanaan kegiatan.
Gambar 3. Dokumentasi Kegiatan (Pemaparan Materi 1)
Gambar 4. Dokumentasi Kegiatan (Pemaparan Materi 2)
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 75-85
E-ISSN: 3047-2474 (online) 82
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Gambar 5. Dokumentasi Kegiatan (Foto Bersama Siswa)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendampingan berbasis Self-Regulated
Learning (SRL) mampu meningkatkan kemampuan manajemen waktu dan
kemandirian belajar siswa secara signifikan. Peningkatan yang konsisten sebesar 15
poin pada setiap indikator mengindikasikan bahwa intervensi yang diberikan tidak
hanya berdampak pada satu aspek, tetapi menyentuh keseluruhan proses belajar
siswa. Secara teoritis, SRL merupakan pendekatan yang menekankan keterlibatan
aktif siswa dalam mengelola proses belajar melalui perencanaan, monitoring, dan
evaluasi diri. Model ini menjelaskan bahwa keberhasilan belajar sangat dipengaruhi
oleh kemampuan individu dalam mengontrol strategi belajar yang digunakan.
Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas SRL memiliki hubungan langsung dengan
peningkatan hasil belajar, baik pada tingkat pemahaman dasar maupun pemahaman
mendalam (Van Der Graaf et al., 2022). Dengan demikian, peningkatan yang terjadi
dalam penelitian ini dapat dipahami sebagai konsekuensi logis dari penerapan
prinsip-prinsip SRL dalam pembelajaran.
Peningkatan pada aspek pemahaman manajemen waktu dari 65% menjadi 80%
menunjukkan bahwa siswa mulai memiliki kesadaran metakognitif terhadap
pentingnya pengelolaan waktu dalam belajar. Dalam perspektif SRL, manajemen
waktu merupakan bagian dari strategi regulasi diri yang berfungsi untuk
mengoptimalkan alokasi sumber daya belajar. Ketika siswa mampu mengatur waktu
secara efektif, mereka cenderung lebih fokus dan memiliki kontrol yang lebih baik
terhadap aktivitas belajar. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menyatakan
bahwa kemampuan regulasi diri, termasuk manajemen waktu, merupakan prediktor
utama keberhasilan belajar dalam berbagai konteks pendidikan (Yu, 2023). Oleh
karena itu, peningkatan yang terjadi pada indikator ini menunjukkan bahwa siswa
telah mulai menginternalisasi strategi belajar yang lebih efektif dan terarah.
Pada indikator kemampuan menyusun jadwal belajar, peningkatan dari 70%
menjadi 85% menunjukkan bahwa siswa telah mampu mengimplementasikan fase
perencanaan (forethought phase) dalam SRL secara lebih optimal. Fase ini merupakan
tahap awal dalam siklus SRL yang mencakup penetapan tujuan dan perencanaan
strategi belajar. Kemampuan menyusun jadwal belajar yang terstruktur
mencerminkan adanya peningkatan dalam kemampuan siswa untuk merancang
aktivitas belajar yang sistematis. Penelitian meta-analisis menunjukkan bahwa
intervensi berbasis SRL secara signifikan meningkatkan kemampuan perencanaan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 75-85
E-ISSN: 3047-2474 (online) 83
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
dan penggunaan strategi belajar siswa, yang pada akhirnya berdampak pada
peningkatan hasil belajar (Chen, 2022). Dengan demikian, hasil penelitian ini
memperkuat temuan bahwa perencanaan yang baik merupakan faktor kunci dalam
keberhasilan belajar.
Peningkatan pada indikator kemandirian belajar dari 75% menjadi 90%
menunjukkan adanya perubahan yang signifikan dalam aspek afektif dan perilaku
siswa. Kemandirian belajar merupakan salah satu outcome utama dari SRL, di mana
siswa tidak lagi bergantung sepenuhnya pada guru, tetapi mampu mengelola proses
belajarnya secara mandiri. Dalam kerangka teori SRL, kemandirian belajar berkaitan
erat dengan motivasi intrinsik dan kontrol diri dalam belajar. Penelitian eksperimental
menunjukkan bahwa pelatihan SRL di sekolah mampu meningkatkan kinerja
akademik serta membentuk kebiasaan belajar mandiri dalam jangka pendek maupun
jangka panjang (Tuero et al., 2022). Oleh karena itu, peningkatan kemandirian belajar
dalam penelitian ini menunjukkan bahwa intervensi yang dilakukan berhasil
membentuk pola belajar yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Jika dianalisis secara lebih mendalam, keberhasilan intervensi ini tidak terlepas
dari pendekatan pendampingan yang mengintegrasikan praktik langsung dan refleksi
diri. Dalam SRL, proses refleksi merupakan tahap penting yang memungkinkan siswa
mengevaluasi efektivitas strategi belajar yang digunakan dan melakukan perbaikan
secara berkelanjutan. Penelitian menunjukkan bahwa intervensi SRL yang melibatkan
praktik aktif dan umpan balik memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan
pendekatan yang hanya bersifat teoritis (Bellhäuser et al., 2022). Hal ini menjelaskan
mengapa peningkatan yang terjadi dalam penelitian ini bersifat konsisten pada
seluruh indikator, karena siswa tidak hanya memahami konsep, tetapi juga
menerapkannya secara langsung dalam aktivitas belajar mereka.
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini memperkuat temuan-temuan
sebelumnya bahwa SRL merupakan pendekatan yang efektif dalam meningkatkan
kualitas pembelajaran siswa, khususnya dalam konteks pembelajaran di era digital.
Lingkungan belajar yang semakin fleksibel menuntut siswa untuk memiliki
kemampuan regulasi diri yang tinggi agar dapat mengelola proses belajar secara
mandiri. Penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan belajar dalam lingkungan
digital sangat bergantung pada kemampuan SRL yang dimiliki oleh siswa (Yu, 2023).
Dengan demikian, pendampingan berbasis SRL tidak hanya relevan, tetapi juga
menjadi kebutuhan dalam upaya meningkatkan kemandirian belajar siswa di tingkat
SMP. Hasil penelitian ini memberikan implikasi bahwa model pendampingan yang
diterapkan dapat dijadikan sebagai alternatif strategi pembelajaran yang efektif dan
dapat direplikasi pada konteks pendidikan lainnya.
Simpulan dan Rekomendasi
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui pendampingan manajemen
waktu berbasis Self-Regulated Learning memberikan dampak positif terhadap
peningkatan kualitas belajar siswa, khususnya dalam aspek pengelolaan waktu dan
kemandirian belajar. Melalui proses pendampingan yang terstruktur, siswa
menunjukkan perubahan dalam cara merencanakan, mengorganisasi, dan
mengevaluasi aktivitas belajar mereka secara lebih sistematis. Pendekatan ini tidak
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 75-85
E-ISSN: 3047-2474 (online) 84
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
hanya membantu siswa memahami pentingnya manajemen waktu, tetapi juga
mendorong terbentuknya kebiasaan belajar yang lebih disiplin, terarah, dan
bertanggung jawab. Dengan demikian, integrasi konsep Self-Regulated Learning dalam
kegiatan pendampingan terbukti mampu memperkuat peran siswa sebagai
pembelajar aktif yang memiliki kontrol terhadap proses belajarnya sendiri.
Berdasarkan hasil tersebut, kegiatan ini merekomendasikan agar pendekatan
pendampingan berbasis Self-Regulated Learning dapat diimplementasikan secara lebih
luas dalam lingkungan pendidikan, baik melalui kegiatan pembelajaran di kelas
maupun program pengembangan diri siswa. Guru diharapkan dapat
mengintegrasikan strategi perencanaan, monitoring, dan refleksi belajar dalam proses
pembelajaran sehari-hari untuk mendukung penguatan kemandirian belajar siswa.
Selain itu, pihak sekolah perlu memberikan dukungan dalam bentuk kebijakan dan
program yang mendorong pengembangan keterampilan regulasi diri sebagai bagian
dari kompetensi abad ke-21. Untuk pengembangan selanjutnya, kegiatan serupa dapat
dilakukan dengan cakupan yang lebih luas serta dikombinasikan dengan
pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan efektivitas dan keberlanjutan
program.
Daftar Pustaka
Aripin, N. A., Savitri, J., & Megarini, M. Y. (2023). Pelatihan Strategi Self-Regulated
Learning Fase Forethought untuk Student Engagement Siswa SMP. JIP (Jurnal
Intervensi Psikologi), 15(2).
https://doi.org/10.20885/intervensipsikologi.vol15.iss2.art4
Baars, M., Khare, S., & Ridderstap, L. (2022). Exploring Students’ Use of a Mobile
Application to Support Their Self-Regulated Learning Processes. Frontiers in
Psychology, 13, 793002. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.793002
Bellhäuser, H., Liborius, P., & Schmitz, B. (2022). Fostering Self-Regulated Learning in
Online Environments: Positive Effects of a Web-Based Training With Peer
Feedback on Learning Behavior. Frontiers in Psychology, 13, 813381.
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.813381
Boleng, L. M. (2023). Self Regulated Learning: Its Role and Influence in Improving
Student Achievement and Interest in Learning. Al-Fikrah: Jurnal Manajemen
Pendidikan, 11(2), 323. https://doi.org/10.31958/jaf.v11i2.12079
Chen, J. (2022). The effectiveness of self-regulated learning (SRL) interventions on L2
learning achievement, strategy employment and self-efficacy: A meta-analytic
study. Frontiers in Psychology, 13, 1021101.
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1021101
Gambo, Y., & Shakir, M. Z. (2021). Review on self-regulated learning in smart learning
environment. Smart Learning Environments, 8(1), 12.
https://doi.org/10.1186/s40561-021-00157-8
Hsu, C.-Y., Horikoshi, I., Li, H., Majumdar, R., & Ogata, H. (2023). Supporting “time
awareness” in self-regulated learning: How do students allocate time during
exam preparation? Smart Learning Environments, 10(1), 21.
https://doi.org/10.1186/s40561-023-00243-z
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 75-85
E-ISSN: 3047-2474 (online) 85
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Jaramillo, A., Salinas-Cerda, J. P., & Fuentes, P. (2022). Self-Regulated Learning and
Academic Performance in Chilean University Students in Virtual Mode During
the Pandemic: Effect of the 4Planning App. Frontiers in Psychology, 13, 890395.
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.890395
Khiat, H. (2022). Using automated time management enablers to improve self-
regulated learning. Active Learning in Higher Education, 23(1), 315.
https://doi.org/10.1177/1469787419866304
Kubik, V., Frey, I.-G., & Gaschler, R. (2021). PLAT 20(3) 2021: Promoting Self-
Regulated Learning: Training, Feedback, and Addressing Teachers’
Misconceptions. Psychology Learning & Teaching, 20(3), 306323.
https://doi.org/10.1177/14757257211036566
Mulyani, M. D. (2024). Hubungan antara Manajemen Waktu dengan Self Regulated
Learning pada Mahasiswa. Educational Psychology Journal, 2(1), 4348.
https://doi.org/10.15294/epj.v2i1.9366
Rivers, D. J., Nakamura, M., & Vallance, M. (2022). Online Self-Regulated Learning
and Achievement in the Era of Change. Journal of Educational Computing
Research, 60(1), 104131. https://doi.org/10.1177/07356331211025108
Santika, M., & Zikra, Z. (2023). Hubungan Self Regulated Learning dengan Perilaku
Menyontek Siswa pada Saat Ujian. MASALIQ, 3(6), 10661077.
https://doi.org/10.58578/masaliq.v3i6.1705
Theobald, M., & Bellhäuser, H. (2022). How am I going and where to next? Elaborated
online feedback improves university students’ self-regulated learning and
performance. The Internet and Higher Education, 55, 100872.
https://doi.org/10.1016/j.iheduc.2022.100872
Tuero, E., Núñez, J. C., Vallejo, G., Fernández, M. P., Añón, F. J., Moreira, T., Martins,
J., & Rosário, P. (2022). Short and Long-Term Effects on Academic Performance
of a School-Based Training in Self-Regulation Learning: A Three-Level
Experimental Study. Frontiers in Psychology, 13, 889201.
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.889201
Usroh, L., Laily, N., & Munir, F. (2022). Manajemen Waktu dan Self Regulated
Learning pada Siswa. Jurnal Psikologi: Jurnal Ilmiah Fakultas Psikologi Universitas
Yudharta Pasuruan, 9(1), 4763. https://doi.org/10.35891/jip.v9i1.2762
Van Der Graaf, J., Lim, L., Fan, Y., Kilgour, J., Moore, J., Gašević, D., Bannert, M., &
Molenaar, I. (2022). The Dynamics Between Self-Regulated Learning and
Learning Outcomes: An Exploratory Approach and Implications. Metacognition
and Learning, 17(3), 745771. https://doi.org/10.1007/s11409-022-09308-9
Yu, B. (2023). Self-regulated learning: A key factor in the effectiveness of online
learning for second language learners. Frontiers in Psychology, 13, 1051349.
https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.1051349