Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 4/2/2026Selesai revisi: 21/2/2026Disetujui: 5/3/2026Diterbitkan: 25/4/2026
86
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA
International License.
Penguatan Budaya Komunikasi Efektif dan Percaya Diri
Generasi Alpha
Muhamad Soleh
1
, Ica Marisa Agustiani
2*
, Nurmah
3
, Siti Aminah
4
, Andika Aditiya
Putra Mendrova
5
, Nurul Intan Khumairoh
6
, Farid Salman Al Farisyi
7
1,2,3,4,5,6,7
Magister Manajemen Pendidikan, Universitas Pamulang, Indonesia
e-mail:
1
soleh.muham4d@gmail.com,
2*
marissaheyhey23@gmail.com,
3
nurmaharqo@gmail.com,
4
aminahciputat@gmail.com,
5
andikaaditiya05@gmail.com,
6
ntnnurul.ik@gmail.com,
7
faridsalmanalfarisyi1@gmail.com
Abstrak
Pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan
komunikasi efektif dan kepercayaan diri pada Generasi Alpha di lingkungan sekolah,
yang ditandai dengan kurangnya keberanian berbicara, keterbatasan dalam
menyampaikan ide secara sistematis, serta rendahnya partisipasi dalam interaksi
pembelajaran. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat budaya komunikasi efektif
dan meningkatkan rasa percaya diri siswa melalui pendekatan pembelajaran
partisipatif. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR)
dengan tahapan analisis kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi dan
refleksi. Strategi pelaksanaan mengintegrasikan model Problem-Based Learning (PBL)
melalui diskusi kelompok, simulasi, role play, dan presentasi sebagai bentuk
experiential learning. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pada aspek
keberanian berbicara, kejelasan penyampaian ide, kepercayaan diri, partisipasi
diskusi, dan komunikasi interpersonal dengan capaian pada kategori baik. Selain itu,
terjadi perubahan perilaku komunikasi siswa yang lebih aktif, terbuka, dan percaya
diri dalam berinteraksi. Kegiatan ini juga berkontribusi dalam membentuk
lingkungan belajar yang lebih komunikatif dan kolaboratif. Dengan demikian,
program pengabdian ini efektif dalam mengembangkan keterampilan komunikasi
Generasi Alpha sebagai bekal menghadapi tantangan akademik dan sosial di era
digital.
Kata Kunci: komunikasi efektif, percaya diri, generasi alpha, public speaking,
pembelajaran partisipatif.
Abstract
This community service initiative was motivated by the low levels of effective communication
skills and self-confidence among Generation Alpha students in the school environment, as
evidenced by a lack of courage to speak up, limited ability to express ideas systematically, and
low participation in classroom interactions. This activity aims to strengthen a culture of
effective communication and boost students’ self-confidence through a participatory learning
approach. The method used is Participatory Action Research (PAR), comprising the stages of
needs analysis, planning, implementation, and evaluation and reflection. The implementation
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474 (online) 87
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
strategy integrates the Problem-Based Learning (PBL) model through group discussions,
simulations, role-playing, and presentations as forms of experiential learning. The results of
the activity show improvements in the aspects of speaking confidence, clarity in conveying
ideas, self-confidence, discussion participation, and interpersonal communication, achieving a
“good” rating. Additionally, there was a change in students’ communication behavior,
becoming more active, open, and confident in interacting. This activity also contributed to
creating a more communicative and collaborative learning environment. Thus, this community
service program was effective in developing the communication skills of Generation Alpha to
prepare them to face academic and social challenges in the digital age.
Keywords: effective communication, self-confidence, Generation Alpha, public speaking,
participatory learning.
Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital dalam satu dekade terakhir telah membawa
perubahan struktural dalam pola interaksi sosial masyarakat, khususnya pada
generasi muda yang dikenal sebagai Generasi Alpha. Generasi ini tumbuh dalam
ekosistem digital yang serba cepat, instan, dan berbasis teknologi, sehingga
membentuk karakter komunikasi yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Intensitas interaksi melalui media digital cenderung menggeser komunikasi tatap
muka, yang berdampak pada menurunnya kualitas komunikasi interpersonal.
Fenomena ini menunjukkan adanya transformasi cara berkomunikasi dari yang
bersifat langsung menjadi virtual, yang tidak selalu diiringi dengan kemampuan
menyampaikan pesan secara efektif dan bermakna. Dalam konteks pendidikan,
perubahan ini menjadi tantangan serius karena komunikasi merupakan fondasi utama
dalam proses pembelajaran dan pembentukan karakter peserta didik. Oleh karena itu,
perlu adanya intervensi yang sistematis untuk mengembangkan keterampilan
komunikasi yang adaptif terhadap era digital (Maulida, 2022).
Komunikasi efektif merupakan kompetensi dasar yang memiliki peran
strategis dalam membangun hubungan sosial, meningkatkan partisipasi belajar, serta
mengembangkan karakter individu. Dalam perspektif pendidikan, komunikasi tidak
hanya berfungsi sebagai alat penyampaian informasi, tetapi juga sebagai sarana
internalisasi nilai, pembentukan sikap, dan pengembangan keterampilan sosial
(Cutcovschi, 2025). Penelitian oleh Janna & Arni, (2023) menunjukkan bahwa
komunikasi interpersonal yang efektif mampu menciptakan interaksi yang terbuka,
empatik, dan saling menghargai antara guru dan peserta didik. Hal ini ditunjukkan
melalui indikator seperti keterbukaan, kesetaraan, serta kemampuan memahami
perspektif orang lain dalam proses komunikasi. Dengan demikian, komunikasi efektif
menjadi elemen kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan
partisipatif.
Namun demikian, realitas empiris di lapangan menunjukkan bahwa masih
banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi secara efektif,
terutama dalam menyampaikan pendapat secara lisan. Rendahnya kemampuan
komunikasi ini seringkali ditandai dengan kurangnya kepercayaan diri,
ketidakmampuan menyusun gagasan secara sistematis, serta rendahnya keberanian
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474 (online) 88
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
berbicara di depan umum. Kondisi ini diperkuat oleh hasil penelitian Sukma et al.,
(2022) yang menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi siswa masih berada pada
tingkat yang belum optimal dan memerlukan pengembangan melalui intervensi
pendidikan yang terstruktur. Selain itu, aspek komunikasi efektif yang meliputi
respect, empathy, clarity, audible, dan humility juga belum sepenuhnya berkembang
secara seimbang pada peserta didik.
Permasalahan komunikasi pada generasi muda juga tidak terlepas dari
pengaruh lingkungan sosial dan perkembangan psikologis individu. Salah satu faktor
yang berkontribusi terhadap kemampuan komunikasi interpersonal adalah konsep
diri, di mana individu dengan konsep diri yang positif cenderung memiliki
kemampuan komunikasi yang lebih baik. Sebaliknya, rendahnya konsep diri dapat
menyebabkan individu mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial, termasuk
dalam menyampaikan ide dan pendapat. Penelitian Fatimah & Amin, (2022)
menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara konsep diri dengan
keterampilan komunikasi interpersonal siswa, sehingga penguatan aspek psikologis
menjadi bagian penting dalam pengembangan kemampuan komunikasi.
Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga memengaruhi pola
komunikasi generasi muda melalui perubahan bahasa dan makna dalam interaksi
sehari-hari. Generasi Alpha cenderung menggunakan bahasa yang mengalami
pergeseran makna sebagai bentuk ekspresi identitas dan adaptasi terhadap budaya
digital. Pergeseran ini dapat berdampak pada menurunnya kualitas komunikasi
formal, terutama dalam konteks pendidikan yang menuntut penggunaan bahasa yang
jelas, santun, dan terstruktur. Kondisi tersebut menunjukkan adanya kesenjangan
antara kemampuan berkomunikasi dalam konteks digital dan kebutuhan komunikasi
dalam konteks akademik dan sosial formal (Maulida, 2022).
Lebih lanjut, berbagai penelitian menunjukkan bahwa intervensi pedagogis
yang tepat dapat meningkatkan keterampilan komunikasi interpersonal peserta didik
(Muliana et al., 2025; Sofi et al., 2025; Wati et al., 2025). Salah satu metode yang terbukti
efektif adalah penggunaan teknik role playing dan pembelajaran berbasis pengalaman,
yang memungkinkan siswa untuk berlatih komunikasi secara langsung dalam situasi
yang menyerupai kondisi nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode role
playing secara signifikan mampu meningkatkan kemampuan komunikasi
interpersonal siswa, yang ditunjukkan melalui peningkatan skor sebelum dan sesudah
intervensi (Farahi et al., 2025; Palupi et al., 2023). Hal ini menegaskan bahwa
pendekatan pembelajaran yang aktif dan partisipatif menjadi strategi yang efektif
dalam mengembangkan keterampilan komunikasi.
Selain itu, karakteristik Generasi Alpha yang sangat dekat dengan teknologi
digital turut memengaruhi perkembangan kemampuan komunikasi mereka secara
signifikan. Generasi ini terbiasa berinteraksi melalui media digital yang cenderung
mengedepankan kecepatan dibandingkan kedalaman makna komunikasi. Akibatnya,
kemampuan dalam menyampaikan gagasan secara sistematis, terstruktur, dan
persuasif sering kali kurang berkembang secara optimal. Penelitian menunjukkan
bahwa pola komunikasi Generasi Alpha sangat dipengaruhi oleh penggunaan
perangkat digital dan media sosial yang membentuk gaya komunikasi yang lebih
singkat, visual, dan instan (Sahara et al., 2024). Kondisi ini berdampak pada
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474 (online) 89
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
terbatasnya pengalaman komunikasi langsung yang seharusnya menjadi dasar dalam
pengembangan keterampilan komunikasi interpersonal. Dalam konteks pendidikan,
fenomena ini menuntut adanya strategi pembelajaran yang mampu mengintegrasikan
teknologi dengan penguatan keterampilan komunikasi lisan secara seimbang. Oleh
karena itu, diperlukan pendekatan yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan
teknologi, tetapi juga mampu memperkuat kompetensi komunikasi secara
fundamental.
Permasalahan komunikasi pada Generasi Alpha juga diperkuat oleh adanya
berbagai hambatan komunikasi yang bersifat kompleks dan multidimensional.
Hambatan tersebut meliputi aspek linguistik, emosional, perseptual, hingga budaya
yang secara simultan memengaruhi efektivitas komunikasi antarindividu. Hasil
penelitian Wibisono et al., (2025) menunjukkan bahwa terdapat setidaknya sembilan
jenis hambatan komunikasi yang dialami oleh generasi ini, yang dapat menghambat
proses penyampaian pesan secara efektif. Hambatan-hambatan tersebut tidak hanya
berdampak pada interaksi sosial sehari-hari, tetapi juga pada proses pembelajaran di
kelas yang menuntut partisipasi aktif dan komunikasi dua arah. Dalam situasi ini,
murid yang mengalami hambatan komunikasi cenderung pasif, kurang percaya diri,
serta enggan untuk menyampaikan pendapatnya. Oleh karena itu, diperlukan
intervensi yang mampu mengatasi hambatan tersebut secara sistematis melalui
pendekatan yang kontekstual dan berbasis pengalaman belajar langsung.
Di sisi lain, aspek etika komunikasi juga menjadi perhatian penting dalam
pengembangan keterampilan komunikasi Generasi Alpha. Perkembangan
komunikasi digital telah menyebabkan terjadinya pergeseran dalam penggunaan
bahasa, baik dari segi struktur, pilihan kata, maupun kesantunan berbahasa.
Penelitian Hutagalung et al., (2025) menunjukkan bahwa penggunaan bahasa dalam
komunikasi digital oleh Generasi Alpha cenderung mengalami penurunan dalam
aspek ketepatan dan kesantunan, yang dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran
terhadap etika komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan komunikasi tidak
hanya berkaitan dengan kemampuan teknis dalam berbicara, tetapi juga mencakup
dimensi etika, nilai, dan sikap dalam berinteraksi. Oleh karena itu, program
pengabdian kepada masyarakat perlu dirancang tidak hanya untuk meningkatkan
keterampilan berbicara, tetapi juga untuk menanamkan nilai-nilai komunikasi yang
santun, empatik, dan bertanggung jawab.
Selanjutnya, pentingnya pengembangan keterampilan komunikasi juga
berkaitan erat dengan aspek psikologis, khususnya rasa percaya diri pada peserta
didik. Kepercayaan diri merupakan faktor internal yang sangat menentukan
keberhasilan individu dalam berkomunikasi. Murid yang memiliki tingkat
kepercayaan diri yang tinggi cenderung lebih aktif dalam menyampaikan pendapat,
berani tampil di depan umum, serta mampu berinteraksi secara efektif dengan
lingkungan sekitarnya. Penelitian Qetisya et al., (2025) menunjukkan bahwa pelatihan
public speaking memiliki pengaruh signifikan terhadap peningkatan rasa percaya diri
dan kemampuan komunikasi peserta didik. Hal ini menegaskan bahwa penguatan
keterampilan komunikasi harus dilakukan secara terintegrasi dengan pengembangan
aspek psikologis individu. Dengan demikian, pendekatan yang digunakan dalam
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474 (online) 90
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
kegiatan pengabdian harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang
mendorong keberanian dan kepercayaan diri murid.
Berdasarkan berbagai kajian empiris dan teoretis, permasalahan komunikasi
pada Generasi Alpha menunjukkan karakter yang kompleks dan saling berkaitan
antara faktor teknologi, psikologis, sosial, dan budaya. Generasi ini tumbuh dalam
lingkungan digital yang intens, sehingga pola komunikasi yang terbentuk cenderung
instan, singkat, dan kurang mendalam. Di sisi lain, faktor psikologis seperti
kepercayaan diri dan konsep diri juga berperan dalam menentukan keberanian
individu dalam menyampaikan pendapat di ruang publik. Penelitian Muliana et al.,
(2025) dan J., (2025) menunjukkan bahwa pengaruh penggunaan teknologi terhadap
efektivitas komunikasi interpersonal relatif kecil, sementara faktor lain seperti
lingkungan sosial dan pembiasaan komunikasi memiliki kontribusi yang lebih besar
dalam membentuk keterampilan komunikasi . Selain itu, keberadaan berbagai
hambatan komunikasi, baik yang bersifat linguistik, emosional, maupun budaya,
turut memperkuat tantangan yang dihadapi Generasi Alpha dalam berinteraksi secara
efektif (Wibisono et al., 2025). Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan komunikasi
perlu dilakukan secara komprehensif melalui pendekatan yang terintegrasi dan
berkelanjutan dalam lingkungan pendidikan.
Dengan mempertimbangkan kondisi tersebut, pengabdian kepada masyarakat
ini diarahkan pada upaya penguatan budaya komunikasi efektif dan peningkatan rasa
percaya diri murid melalui pendekatan pembelajaran partisipatif dan berbasis
pengalaman. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan ruang bagi murid
untuk terlibat secara aktif dalam proses komunikasi, baik melalui diskusi, simulasi,
maupun presentasi. Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan
keterampilan teknis dalam berbicara, tetapi juga pada pembentukan sikap komunikasi
yang santun, empatik, dan bertanggung jawab. Penelitian menunjukkan bahwa aspek
etika komunikasi memiliki pengaruh terhadap kualitas penggunaan bahasa dan
kejelasan penyampaian pesan pada Generasi Alpha (Hutagalung et al., 2025). Selain
itu, penguatan komunikasi empatik juga berkaitan dengan perkembangan kesehatan
mental dan kualitas interaksi sosial generasi muda di era digital (Harahap &
Sampurna, 2024). Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi peningkatan keberanian
berbicara, kemampuan menyampaikan ide secara sistematis, serta terbentuknya
budaya komunikasi yang lebih terbuka, partisipatif, dan beretika di lingkungan
sekolah.
Metode
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini menggunakan pendekatan
Participatory Action Research (PAR) yang menekankan keterlibatan aktif peserta dalam
seluruh proses kegiatan, mulai dari identifikasi masalah hingga refleksi hasil.
Pendekatan ini dipilih karena mampu mengintegrasikan tindakan nyata dengan
proses pembelajaran yang bersifat kolaboratif dan kontekstual di lingkungan sekolah.
Dalam implementasinya, peserta tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek yang
terlibat langsung dalam penguatan keterampilan komunikasi. Model ini sejalan
dengan penelitian tindakan yang melibatkan tahapan perencanaan, pelaksanaan,
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474 (online) 91
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
observasi, dan refleksi secara berulang untuk menghasilkan perubahan yang
signifikan dalam pembelajaran (Wahono, 2023).
Tahapan pelaksanaan kegiatan terdiri atas empat fase utama, yaitu analisis
kebutuhan, perencanaan program, pelaksanaan kegiatan, serta evaluasi dan refleksi.
Tahap analisis kebutuhan dilakukan melalui observasi awal terhadap kondisi
keterampilan komunikasi murid, yang menunjukkan masih rendahnya keberanian
berbicara dan kemampuan menyampaikan ide secara sistematis. Selanjutnya, tahap
perencanaan dilakukan dengan menyusun desain pelatihan berbasis kebutuhan
peserta. Tahap pelaksanaan menggunakan pendekatan Problem-Based Learning (PBL)
melalui diskusi kelompok, simulasi, role play, dan presentasi untuk melatih
komunikasi secara langsung. Model pembelajaran berbasis masalah terbukti efektif
dalam meningkatkan keterampilan komunikasi karena mendorong partisipasi aktif
dan kemampuan berpikir kritis peserta didik (Nurhasanah, 2023; Rohmatin et al.,
2023).
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan
dokumentasi selama kegiatan berlangsung, sedangkan analisis data menggunakan
pendekatan deskriptif kualitatif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan
interpretasi hasil. Pendekatan ini digunakan untuk menggambarkan perubahan
perilaku komunikasi peserta, khususnya dalam aspek keberanian berbicara, kejelasan
penyampaian ide, dan interaksi sosial. Penggunaan metode observasi dan
dokumentasi dinilai efektif dalam mengidentifikasi peningkatan keterampilan
komunikasi siswa secara bertahap selama proses pembelajaran berlangsung (Azizah
et al., 2023).
Gambar.1 Diagram Alur Pelaksanaan Pengabdian
Hasil dan Pembahasan
Hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat menunjukkan
adanya peningkatan yang signifikan pada keterampilan komunikasi dan rasa percaya
diri Siswa Generasi Alpha. Perubahan ini terlihat dari meningkatnya keberanian
murid dalam menyampaikan pendapat baik dalam diskusi kelompok maupun
presentasi di depan kelas. Pada kondisi awal, sebagian besar siswa cenderung pasif,
kurang percaya diri, serta mengalami kesulitan dalam menyusun dan menyampaikan
ide secara sistematis. Setelah mengikuti kegiatan, terjadi perubahan perilaku yang
ditandai dengan meningkatnya partisipasi aktif, kemampuan berbicara yang lebih
terarah, serta penggunaan bahasa yang lebih jelas dan komunikatif. Temuan ini sejalan
dengan penelitian Pratolo et al., (2023) yang menyatakan bahwa pelatihan komunikasi
Analisis Kebutuhan Perencanaan Program
Pelaksanaan Kegiatan
(PBL, Diskusi, Role Play,
Presentasi)
Evaluasi dan Refleksi
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474 (online) 92
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
dan public speaking dapat meningkatkan keberanian siswa dalam tampil dan
berkomunikasi di lingkungan belajar.
Peningkatan tersebut juga tercermin dalam aspek komunikasi interpersonal
dan kepercayaan diri. Siswa mulai menunjukkan keberanian dalam melakukan
kontak mata, penggunaan intonasi suara yang lebih stabil, serta ekspresi yang lebih
meyakinkan saat berbicara. Dalam kegiatan presentasi dan simulasi, sebagian besar
murid mampu menyampaikan gagasan secara runtut dan memahami konteks
komunikasi yang tepat. Partisipasi aktif dalam diskusi kelompok juga meningkat, di
mana murid tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga mampu memberikan
tanggapan dan ide secara konstruktif. Hal ini memperkuat temuan bahwa metode
berbasis pengalaman seperti role play dan simulasi efektif dalam meningkatkan
komunikasi interpersonal siswa secara signifikan (Ningsih et al., 2023; Nurhayati &
Dartiningsih, 2024).
Selain itu, peningkatan kepercayaan diri menjadi salah satu indikator penting
dalam keberhasilan kegiatan ini. Murid yang sebelumnya ragu dalam berkomunikasi
mulai menunjukkan sikap lebih terbuka dan percaya diri dalam berinteraksi. Hal ini
menunjukkan bahwa keterampilan komunikasi tidak hanya berkaitan dengan aspek
kognitif, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor psikologis seperti konsep diri dan rasa
percaya diri. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara
kepercayaan diri dengan kemampuan komunikasi interpersonal siswa, di mana
individu dengan kepercayaan diri yang baik cenderung lebih aktif dan efektif dalam
berkomunikasi (Eoh & Monika, 2023).
Tabel 1. Peningkatan Keterampilan Komunikasi Siswa
No
Parameter
Nilai (%)
1
Keberanian berbicara
78
2
Kejelasan penyampaian ide
75
3
Kepercayaan diri
80
4
Partisipasi dalam diskusi
82
5
Komunikasi interpersonal
76
Data pada tabel 1 menunjukkan bahwa seluruh indikator berada pada kategori
baik, dengan nilai tertinggi pada aspek partisipasi diskusi dan kepercayaan diri. Hal
ini menunjukkan bahwa lingkungan pembelajaran yang interaktif mampu
meningkatkan keterlibatan siswa serta kualitas komunikasi mereka. Kondisi ini
sejalan dengan temuan A’yun et al., (2023) yang menyatakan bahwa komunikasi yang
efektif dalam pembelajaran akan meningkatkan partisipasi dan kualitas interaksi
siswa di kelas.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474 (online) 93
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Gambar 2. Diagram Peningkatan Keterampilan Komunikasi
Gambar 3. Dokumentasi Kegiatan
(Foto kegiatan pelatihan komunikasi: diskusi, presentasi, role play siswa)
Gambar 4. Foto Bersama
(Foto bersama siswa dan tim PKM)
Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan keterampilan
komunikasi dan kepercayaan diri murid yang cukup signifikan, terutama pada aspek
partisipasi diskusi dan keberanian berbicara. Temuan ini mengindikasikan bahwa
intervensi berbasis pengalaman langsung mampu mengatasi hambatan komunikasi
yang sebelumnya dialami peserta. Secara teoretis, komunikasi interpersonal yang
efektif ditandai oleh keterbukaan, empati, dan kesetaraan dalam interaksi, yang
menjadi fondasi dalam membangun hubungan sosial yang sehat di lingkungan
pendidikan (Janna & Arni, 2023). Dengan meningkatnya keberanian berbicara, murid
tidak hanya mengalami perkembangan dalam aspek komunikasi, tetapi juga dalam
kemampuan beradaptasi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474 (online) 94
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Peningkatan pada aspek komunikasi interpersonal juga memperkuat temuan
bahwa metode pembelajaran berbasis praktik seperti role play dan simulasi memiliki
efektivitas tinggi dalam meningkatkan kemampuan komunikasi siswa. Dalam
kegiatan ini, murid dilibatkan secara aktif dalam situasi komunikasi yang menyerupai
kondisi nyata, sehingga mereka memperoleh pengalaman langsung dalam mengelola
interaksi sosial. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa
teknik bermain peran secara signifikan mampu meningkatkan komunikasi
interpersonal siswa melalui proses pembelajaran yang partisipatif dan kontekstual
(Nurhayati & Dartiningsih, 2024). Dengan demikian, keberhasilan program ini tidak
terlepas dari strategi pembelajaran yang menempatkan peserta sebagai aktor utama
dalam proses komunikasi.
Selain faktor metode, peningkatan kepercayaan diri murid menjadi elemen
penting yang berkontribusi terhadap keberhasilan komunikasi. Kepercayaan diri
berfungsi sebagai faktor internal yang memengaruhi keberanian individu dalam
menyampaikan ide dan berinteraksi dengan orang lain. Murid yang memiliki
kepercayaan diri yang lebih baik cenderung lebih aktif, responsif, dan mampu
mengemukakan pendapat secara terbuka. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang signifikan antara self-esteem dan kemampuan komunikasi
interpersonal, di mana individu dengan konsep diri positif memiliki kecenderungan
komunikasi yang lebih efektif (Anggriyani et al., 2023). Hal ini memperkuat bahwa
peningkatan komunikasi tidak dapat dipisahkan dari penguatan aspek psikologis
peserta didik.
Lebih lanjut, hasil kegiatan ini juga menunjukkan bahwa lingkungan
pembelajaran yang interaktif dan suportif memiliki peran penting dalam
mengembangkan keterampilan komunikasi siswa. Lingkungan yang memberikan
ruang untuk berekspresi, berdiskusi, dan berpendapat secara bebas akan mendorong
siswa untuk lebih aktif dalam berkomunikasi. Dalam konteks ini, komunikasi yang
efektif antara guru dan siswa juga menjadi faktor pendukung utama dalam
menciptakan suasana belajar yang kondusif. Penelitian menunjukkan bahwa
komunikasi yang terbuka dan responsif dari pendidik dapat meningkatkan motivasi
belajar serta kualitas interaksi siswa di kelas (A’yun et al., 2023). Oleh karena itu,
keberhasilan program ini juga dipengaruhi oleh terciptanya iklim belajar yang
kolaboratif selama kegiatan berlangsung.
Temuan dalam kegiatan ini juga mengindikasikan bahwa keterampilan
komunikasi siswa pada dasarnya masih berada pada tingkat yang perlu terus
dikembangkan secara berkelanjutan. Hal ini sesuai dengan penelitian yang
menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori sedang dalam
keterampilan komunikasi interpersonal, sehingga memerlukan intervensi pendidikan
yang terstruktur untuk meningkatkannya (Sijabat et al., 2023). Dengan demikian,
program pengabdian ini memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kualitas
komunikasi murid, sekaligus menjadi dasar bagi pengembangan program lanjutan
yang lebih sistematis dan berkelanjutan di lingkungan sekolah.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474 (online) 95
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Simpulan dan Rekomendasi
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan tema Penguatan Budaya Komunikasi
Efektif dan Percaya Diri Generasi Alpha menunjukkan bahwa program yang dirancang
secara partisipatif dan berbasis pengalaman mampu meningkatkan keberanian
berbicara, kepercayaan diri, serta keterampilan komunikasi murid dalam lingkungan
sekolah. Murid menjadi lebih aktif dalam diskusi, lebih berani menyampaikan
pendapat, dan lebih terampil dalam mengemukakan gagasan secara jelas, santun, dan
terstruktur. Temuan ini menegaskan bahwa penguatan budaya komunikasi efektif
tidak hanya berdampak pada kemampuan berbicara, tetapi juga berkontribusi pada
pembentukan sikap sosial yang lebih terbuka, kolaboratif, dan percaya diri. Kegiatan
ini juga memperlihatkan bahwa lingkungan belajar yang suportif dan interaktif
merupakan faktor penting dalam mendorong perkembangan komunikasi murid
Generasi Alpha. Berdasarkan hasil tersebut, sekolah disarankan untuk terus
mengintegrasikan pelatihan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran maupun
ekstrakurikuler agar penguatan keterampilan ini dapat berlangsung berkelanjutan.
Guru juga perlu secara konsisten menerapkan pendekatan yang memberi ruang bagi
murid untuk berbicara, berdiskusi, dan tampil di depan umum, sehingga kepercayaan
diri dan budaya komunikasi positif semakin berkembang. Bagi pelaksana kegiatan
selanjutnya, program serupa dapat dikembangkan dengan cakupan peserta yang lebih
luas, metode yang lebih variatif, serta evaluasi yang lebih mendalam agar dampaknya
terhadap perkembangan karakter dan komunikasi murid semakin optimal.
Daftar Pustaka
Anggriyani, S. T., Murad, A., & Hasanuddin, H. (2023). Hubungan Self Esteem dan
Self Disclosure dengan Komunikasi Interpersonal pada Siswa Madrasah Aliyah
Negeri (MAN) Binjai. Tabularasa: Jurnal Ilmiah Magister Psikologi, 5(1), 3742.
https://doi.org/10.31289/tabularasa.v5i1.1598
A’yun, A. Q., Zuhro, F., & Madaniah, A. (2023). Proses Komunikasi Antara Guru dan
Siswa di SMA Gema 45 Surabaya. Jurnal Ilmu Komunikasi, 13(1), 84102.
https://doi.org/10.15642/jik.2023.14.1.84-102
Azizah, I. Y., Soesilawaty, S. A., & Marhamah, R. (2023). Improving Students’
Communication Skills Using Student Worksheets on Nervous System
Concepts. Jurnal Pendidikan Indonesia Gemilang, 3(2), 197208.
https://doi.org/10.53889/jpig.v3i2.257
Cutcovschi, L. (2025). Communication an important component of education.
Abordarea Predării Integrate a Conţinuturilor Lingvistice Şi Nonlingvistice În
Formarea Profesorilor = Approaching the Integrated Teaching of Linguistic and Non-
Linguistic Content Un Teacher Education: Conferinţa Ştiinţifică Naţională Cu
Participare Internaţională, 26 Noiembrie 2024, 184190.
https://doi.org/10.46727/c.26-11-2024.p184-190
Eoh, V. B., & Monika, M. (2023). Analisis korelasi antara Kepercayaan Diri dengan
Komunikasi Interpersonal pada Siswa SMA. Jurnal Pendidikan Tambusai, 7(3),
2982229826. https://doi.org/10.31004/jptam.v7i3.11799
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474 (online) 96
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Farahi, F., Amouzeshi, Z., Nazari, H., & Oudi, D. (2025). The effect of blended role-
playing and reflective training on nursing students’ communication skills with
depressed patients. Journal of Medical Education Development, 18(2), 3645.
https://doi.org/10.61882/edcj.18.2.36
Fatimah, T., & Amin, A. (2022). Konsep Diri dan Komunikasi Interpersonal Pada Siswa
SMP. Academic Journal of Psychology and Counseling, 3(1), 5372.
https://doi.org/10.22515/ajpc.v3i1.4260
Harahap, F. A., & Sampurna, A. (2024). Membangun Kesehatan Mental Generasi
Alpha: Urgensi Konseling dalam Mengatasi Tantangan Bullying di Era Sosial
Media Melalui Komunikasi Empati. Jurnal Indonesia: Manajemen Informatika Dan
Komunikasi, 5(2), 11791185. https://doi.org/10.35870/jimik.v5i2.693
Hutagalung, H., Situmorang, M. A., & H, D. K. (2025). The Influence of
Communication Ethics on the Accuracy of Indonesian in Digital Writing of
Generation Alpha. Jurnal Multidisiplin Sahombu, 5(5), 13421347.
J., O. K. (2025). The Impact of Technology on Interpersonal Relationships. NEWPORT
INTERNATIONAL JOURNAL OF SCIENTIFIC AND EXPERIMENTAL
SCIENCES, 6(3), 172178. https://doi.org/10.59298/NIJSES/2025/63.172178
Janna, E., & Arni, A. (2023). Efektivitas Komunikasi Interpersonal: Studi Kasus SMAN
3 Luwu Timur. Jurnal Komunikasi Dan Organisasi (J-KO), 3(2), 16.
https://doi.org/10.26618/jko.v3i2.12022
Maulida, U. (2022). Pergeseran Makna Kata pada Komunikasi Generasi Alpha sebagai
Kontestasi Identitas. Kode: Jurnal Bahasa, 11(1).
https://doi.org/10.24114/kjb.v11i1.33492
Muliana, N. A., Anggraini, V., DwiTitus M, H., & Putra A, M. N. (2025). Interpersonal
Communication of Students: Skills, Mental Well-Being, and Digital Challenges.
Proceeding International Symposium on Global Education, Psychology, and Cultural
Synergy, 1(1), 410414. https://doi.org/10.30651/psychoseries.v1i1.28764
Ningsih, A. F., Kamaruzzaman, K., & Maulana, R. (2023). Upaya Meningkatkan
Komunikasi Interpersonal Siswa melalui Layanan Bimbingan Kelompok
dengan Teknik Permainan Simulasi. BIKONS, 3(1), 111.
Nurhasanah, I. (2023). Penerapan Model Pembelajaran Jigsaw untuk Meningkatkan
Keterampilan Komunikasi Siswa dalam Pembelajaran Ilmu Pengetahuan
Sosial. Cendikia: Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran, 1(2), 230234.
https://doi.org/10.572349/cendikia.v1i2.243
Nurhayati, S., & Dartiningsih, M. W. (2024). Penerapan Layanan Bimbingan Kelompok
Teknik Bermain Peran untuk Meningkatkan Komunikasi Interpersonal Siswa
Kelas Vii di SMP Negeri 1 Kuta Utara Tahun Pelajaran 2023/2024. Jurnal
Pendidikan Inovatif, 6(3).
https://journalversa.com/s/index.php/jpi/article/view/2736
Palupi, R. E. A., Purwanto, B., & Wuryanto, T. (2023). Role-Playing Method for
Students’ Interpersonal Communication Improvement. Khatulistiwa: Jurnal
Pendidikan Dan Sosial Humaniora, 3(2), 259270.
https://doi.org/10.55606/khatulistiwa.v3i2.2085
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 86-97
E-ISSN: 3047-2474 (online) 97
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Pratolo, S., Zaqinadevi, A. S., & Yuniarti, V. (2023). Implementasi Public Speaking
dalam Meningkatkan Kemampuan Berkomunikasi Siswa SMP Insan Amanah
Malang. Sinteks: Jurnal Teknik, 12(2), 2932.
Qetisya, C. F., Hataki, A. P., Pratiwi, S. F. A., & Dapi, P. A. (2025). Pengembangan
Keterampilan Generik (Public Speaking) Pada Generasi Alpha. DEDIKASI
PKM, 6(1), 7378. https://doi.org/10.32493/dkp.v6i1.46004
Rohmatin, D. N., Masfingatin, T., & Widodo, C. W. (2023). Project Based Learning:
Suatu Upaya untuk Meningkatkan Keterampilan Komunikasi dan Hasil Belajar
Siswa. Quantum: Jurnal Inovasi Pendidikan Sains, 14(2), 173.
https://doi.org/10.20527/quantum.v14i2.16292
Sahara, K. D., Lukitasari, R., & Maulana, S. (2024). Pola Komunikasi Generasi Alpha
di Tengah Pesatnya Transformasi Teknologi Digital. Prosiding Seminar Nasional
Ilmu Ilmu Sosial (SNIIS), 3, 11201128.
Sijabat, D. U. C., Angela, I., Simammora, N. S., Qibtiyah, M., & Muslifar, R. (2023).
Analisis Tingkat Keterampilan Komunikasi Interpersonal Peserta Didik.
Prosiding Seminar Nasional PPG Universitas Mulawarman, 4, 9296.
https://doi.org/10.30872/semnasppg.v4.3061
Sofi, S., Ansor, J., & Ohan Lusia, M. (2025). Improving High School Students’
Interpersonal Communication Skills through Collaborative Learning: An
Experimental Study. Journal of Education Technology and Inovation, 8(1), 7585.
https://doi.org/10.31537/jeti.v8i1.2365
Sukma, H. M., Habibi, M., Vebrianto, R., & Yovita, Y. (2022). Pengembangan
Instrumen Effective Communication: Identifikasi Komunikasi Efektif Siswa
Sekolah Dasar. EDUKATIF: JURNAL ILMU PENDIDIKAN, 4(6), 79807991.
https://doi.org/10.31004/edukatif.v4i6.3621
Wahono, S. S. (2023). The Portrait of Scientific Approach Assisted by Video in EFL
Reading: Participatory Action Research. TELL-US JOURNAL, 9(1), 6277.
https://doi.org/10.22202/tus.2023.v9i1.6684
Wati, I. W. I. I., Wahyuni, K. T., & Mei, B. S. (2025). Collaborative Learning as a
Pedagogical Strategy to Foster Interpersonal Communication Skills among
Senior High School Students. Journal of Education Technology and Inovation, 8(1),
6574. https://doi.org/10.31537/jeti.v8i1.2358
Wibisono, B., Yusnita, T. R., & Haryono, A. (2025). Communication barriers between
gen Z and alpha in the cultural digitalization era. JOALL (Journal of Applied
Linguistics and Literature), 10(1), 120.
https://doi.org/10.33369/joall.v10i1.35077