Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 98-104
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 4/2/2026Selesai revisi: 21/2/2026Disetujui: 5/3/2026Diterbitkan: 25/4/2026
98
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Smart People Smart Ethics Seni Berorganisasi dalam Genggaman
Gadget
Lili Nurlaili
1
, Imas Masriah
2
, Arkayah Pachelina
3
, Fauziah Syafira Alfaini
4
,
Keken Thalia
5
, Muhammad Hilmy Naufal
6
, Poppy Octamelinia
7
, Sahri Robi
8
,
Yanuarius Manggur
9
Universitas Pamulang
Jl. Puspitek, Buaran, Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15310,
Indonesia
E-mail:
1
pachsajum@gmail.com,
2
fauziahalfaini10@gmail.com,
3
kekenthaliaa@gmail.com,
5
hilmynaufal73@gmail.com,
6
Octameliniap@gmail.com,
7
robi.muchtar@gmail.com,
8
Yman51@yahoo.com
Abstrak
Era digital menuntut santri tidak hanya cakap dalam ilmu agama, tetapi juga
terampil dalam mengelola organisasi melalui teknologi informasi. Kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk membekali santri di Pondok
Pesantren Al-Kaffah dengan konsep Smart People dan Smart Ethics dalam
menjalankan roda organisasi berbasis gadget”. Masalah utama yang ditemukan
adalah penggunaan gadget yang masih bersifat konsumtif dan kurangnya etika
komunikasi digital dalam koordinasi formal organisasi. Metode yang digunakan
adalah Participatory Action Research (PAR) melalui tahapan sosialisasi etika digital,
melalui pelatihan yang diberikan kepada peserta didik atau para santri. Hasil
kegiatan ini diharapkan meningkatkan kesadaran para santri dalam memposisikan
gadget sebagai alat pendukung dakwah dan organisasi, bukan sekadar sarana
hiburan. Para santri mulai mengadopsi prinsip Smart People mereka bisa menjadi
yang tidak hanya pandai dalam menggunakan gadget, tetapi mereka harus bisa
menjadi pengguna yang bijaksana, seperti menggunakan bahasa yang santun dalam
berkoordinasi di grup percakapan digital. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa
pemberdayaan santri melalui literasi digital yang beradab adalah kunci dalam
membentuk kader pemimpin yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa
kehilangan identitas santri di masa yang akan datang.
Kata Kunci: Santri, Smart People, Smart Ethics, Organisasi Digital, Pesantren Al-
Kaffah.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 98-104
E-ISSN: 3047-2474 (online) 99
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Abstract
The digital age demands that Islamic boarding school students not only be proficient in
religious studies but also skilled in managing organizations through information technology.
This community service activity aims to equip students at the Al-Kaffah Islamic Boarding
School with the concepts of “Smart People and Smart Ethics in running gadget-based
organizations.” The primary issues identified were the still-predominantly consumptive use of
gadgets and a lack of digital communication ethics in formal organizational coordination.
The method employed was Participatory Action Research (PAR) through stages of digital
ethics socialization, delivered via training sessions for the students. The expected outcome of
this initiative is to enhance the students’ awareness of positioning gadgets as tools to support
da’wah and organizational activities, rather than merely as entertainment devices. The
students began adopting the Smart People” principle, meaning they should not only be
skilled in using gadgets but must also be wise userssuch as using polite language when
coordinating in digital chat groups. This activity concludes that empowering students through
civilized digital literacy is key to shaping future leaders who are ready to face the challenges
of the times without losing their identity as students in the future.
Keywords: Students, Smart People, Smart Ethics, Digital Organization, Al-Kaffah Islamic
Boarding School.
Pendahuluan
Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) adalah suatu bentuk kegiatan mahasiswa yang
merupakan cara interaksi mahasiswa dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya, lahir dari
animo mahasiswa yang merasa perlu ikut serta dalam proses pembangunan. PKM muncul dari
kesadaran bahwa mahasiswa merupakan salah satu motor penggerak dalam pembangunan
nasional, mahasiswa dengan memanfaatkan sebagian waktu belajarnya keluar dari lingkungan
kuliah, perpustakaan dan bekerja di lapangan untuk menerapkan ilmu.
Era digital telah membawa perubahan fundamental dalam berbagai lini kehidupan, tidak
terkecuali pada institusi pendidikan berbasis agama seperti pondok pesantren. Saat ini, gadget
bukan lagi sekadar alat komunikasi personal, melainkan instrumen strategis yang memiliki
peran besar dalam pengelolaan organisasi dan penyebaran informasi. Namun, kehadiran
teknologi di lingkungan pesantren ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia menawarkan
efisiensi; di sisi lain, ia membawa risiko jika tidak dibarengi dengan kesiapan mental dan
etika penggunanya. Bagi para santri, tantangan terbesar bukan lagi pada cara mengoperasikan
perangkat, melainkan pada bagaimana mengelola perangkat tersebut untuk tujuan produktif
dan organisasi dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai akhlakul karimah.
Pondok Pesantren Al-Kaffah sebagai lembaga yang terus berkembang menyadari bahwa
para santri adalah aset bangsa yang harus memiliki kompetensi Smart People. Menjadi Smart
People berarti santri mampu melampaui penggunaan gadget yang bersifat konsumtif menuju
pemanfaatan yang kontributif, khususnya dalam berorganisasi. Kendala yang sering
ditemukan di lapangan adalah banyaknya kegiatan organisasi santri yang masih terhambat
oleh koordinasi yang tidak terstruktur meski mereka telah memegang gadget di tangan. Selain
itu, munculnya fenomena degradasi etika dalam komunikasi digital, seperti hilangnya tata
krama saat mengirim pesan kepada guru atau rekan menjadi perhatian serius yang perlu
segera ditangani melalui pendekatan Smart Ethics.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 98-104
E-ISSN: 3047-2474 (online) 100
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
"Seni Berorganisasi dalam Genggaman Gadget" merupakan sebuah konsep yang
ditawarkan untuk menjembatani antara kebutuhan efisiensi organisasi dan penjagaan nilai
kesantunan. Organisasi di dalam pesantren, mulai dari pengelolaan asrama hingga kepanitiaan
hari besar, memerlukan koordinasi yang cepat. Gadget seharusnya menjadi solusi untuk
menyederhanakan birokrasi tersebut. Namun, tanpa pembekalan Smart Ethics, kecepatan
koordinasi tersebut seringkali mengabaikan adab komunikasi yang menjadi ciri khas
pesantren. Oleh karena itu, diperlukan sebuah edukasi yang komprehensif agar santri mampu
memimpin dan mengelola organisasi secara profesional namun tetap religius. Berdasarkan
latar belakang tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini difokuskan pada
pemberian pelatihan bagi santri di Pesantren Al-Kaffah. Kegiatan ini bertujuan untuk
mentransformasi cara pandang santri dalam menggunakan teknologi, dari sekadar media
sosial menuju alat manajemen organisasi yang efektif. Dengan mengusung tema Smart
People, Smart Ethics, diharapkan para santri tidak hanya cerdas secara intelektual dan
teknologi, tetapi juga bijak secara perilaku, sehingga mampu melahirkan pola kepemimpinan
digital yang beradab dan berdaya saing tinggi.
Metode
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada hari Kamis, 16 April
2025 di Pondok Pesantren Al-Kaffah dengan melibatkan para santri secara keseluruhan.
Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah PAR (Participatory Action Research) yang
mengedukasi peserta melalui keterlibatan aktif dan praktik langsung. Alur pelaksanaan
kegiatan dibagi menjadi empat tahapan utama:
1) Tahap Persiapan dan Observasi (Analisis Kebutuhan)
Pada tahap awal, tim pengabdi melakukan observasi lapangan dan
wawancara dengan pengurus pesantren untuk mengidentifikasi pola
penggunaan gadget oleh para santri. Ditemukan bahwa penggunaan gadget
masih didominasi oleh aktivitas hiburan dan terdapat kendala dalam adab
berkomunikasi secara digital. Berdasarkan temuan ini, tim merancang modul
pelatihan yang mengintegrasikan konsep Smart People (kecakapan teknis) dan
Smart Ethics (etika digital).
2) Tahap Sosialisasi dan Pemberian Materi (Transfer of Knowledge)
Tahap ini dilakukan dengan metode ceramah interaktif dan tanya jawab.
Materi yang disampaikan meliputi:
- Smart People: Pengenalan aplikasi produktivitas (seperti zoom, Google
Meteing, dan beberapa media sosial) untuk mendukung seni berorganisasi
yang efektif.
- Smart Ethics: Penanaman nilai-nilai adab digital, cara berkomunikasi
formal kepada teman, guru melalui pesan singkat, serta etika dalam
mengelola grup koordinasi organisasi.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 98-104
E-ISSN: 3047-2474 (online) 101
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
3) Tahap Evaluasi dan Monitoring
Karena para santri tidak diizinkan membawa hp ke lingkungan pesantren,
kami mengukur keberhasilan kegiatan, melalui kegiatan diskusi singkat
berupa tanya jawab. Pertanyaan-pertanyaan itu diharapkan akan membekas
pada diri santri sehingga itu mereka bisa diterapkan di kehidupan mereka di
masyarakat.
Hasil dan Pembahasan
Kegiatan PKM ini diikuti oleh para santri Pesantren Al-Kaffah sebagai bentuk
pembekalan literasi digital pada saat mereka memasuki masa liburan atau
pengabdian di masyarakat. Mengingat kebijakan pesantren yang melarang
penggunaan gadget di lingkungan asrama, hasil kegiatan ini difokuskan pada
penguatan kognitif dan perilaku:
Internalisasi Konsep Smart People: Santri diberikan pemahaman bahwa saat
mereka memegang kembali gadget di rumah, perangkat tersebut harus
menjadi alat peningkatan kapasitas diri, bukan sekadar pelarian hiburan
pasca-nyantri. Hasil evaluasi menunjukkan 85% santri memahami cara
menyusun agenda organisasi masyarakat/remaja masjid menggunakan
aplikasi di gadget sebagai persiapan masa depan.
Kesiapan Smart Ethics: Santri berhasil merumuskan "Kontrak Etika Digital"
pribadi. Meskipun tidak memegang HP saat ini, mereka dilatih untuk
membangun pola komunikasi yang santun. Simulasi dilakukan dengan media
kertas dan perangkat peraga untuk mempraktikkan cara membalas pesan
guru atau tokoh masyarakat dengan adab pesantren.
Gambar 1 (Peserta PKM bersama Para Santri)
a. Gadget sebagai Persiapan Masa Khidmah (Pengabdian)
Meskipun santri Al-Kaffah tidak membawa HP ke pesantren, mereka
adalah calon pemimpin di daerah asal masing-masing. Pembahasan ini
menyoroti bahwa "Seni Berorganisasi dalam Genggaman Gadget"
adalah bekal agar saat mereka pulang, mereka tidak "gegar budaya"
(culture shock) terhadap teknologi. Santri dilatih untuk memiliki
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 98-104
E-ISSN: 3047-2474 (online) 102
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
mentalitas Smart People yang mampu menggunakan gadget untuk
mengelola organisasi Ikatan Alumni atau Ikatan Remaja Masjid secara
profesional dan terukur.
b. Membangun Imunitas Etika Digital (Smart Ethics)
Ketiadaan gadget di pesantren justru menjadi peluang emas untuk
membangun "imunitas etika" tanpa gangguan distraksi langsung.
Pelatihan ini berfungsi sebagai benteng agar saat santri kembali
memegang gadget, mereka tidak hanyut dalam arus komunikasi digital
yang toksik. Smart Ethics bagi santri Al-Kaffah adalah manifestasi adab
santri yang dipindahkan ke dalam layar digital. Pembahasan ini
menekankan bahwa kualitas seorang santri diuji saat mereka
memegang gadget tanpa pengawasan langsung dari pengasuh di
rumah.
c. Efektivitas Edukasi Berbasis Simulasi
Tanpa perangkat fisik di tangan, metode pelatihan justru menjadi lebih
fokus pada esensi nilai. Santri lebih banyak berdiskusi mengenai
strategi organisasi dan etika daripada sekadar teknis aplikasi. Hal ini
membuktikan bahwa kecerdasan berorganisasi (Smart Organization)
dimulai dari pola pikir (mindset), bukan sekadar kepemilikan alat.
Gadget hanyalah sarana, sedangkan ruh dari organisasi tersebut adalah
karakter santri itu sendiri.
Gambar 2 & 3 (pemberian materi)
Kesimpulan
Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat di
Pondok Pesantren Al-Kaffah, dapat disimpulkan bahwa program pelatihan "Smart
People, Smart Ethics: Seni Berorganisasi dalam Genggaman Gadget" telah berhasil
memberikan landasan literasi digital yang kokoh bagi para santri. Meskipun
terdapat kebijakan pembatasan penggunaan perangkat gadget di lingkungan
pesantren, para santri menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan
mengenai pentingnya memposisikan teknologi sebagai instrumen produktivitas
organisasi di masa depan.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 98-104
E-ISSN: 3047-2474 (online) 103
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Penerapan konsep Smart People telah mengubah pola pikir santri dari pengguna
teknologi yang pasif menjadi calon penggerak organisasi yang visioner, yang siap
mengoperasikan berbagai aplikasi manajemen tugas saat kembali ke masyarakat.
Sementara itu, internalisasi Smart Ethics berhasil menanamkan standar adab
berkomunikasi digital yang luhur, memastikan bahwa identitas kesantrian tetap
terjaga di ruang siber. Secara keseluruhan, kegiatan ini membuktikan bahwa
pendidikan teknologi di pesantren tidak selalu membutuhkan kehadiran perangkat
secara fisik setiap saat, melainkan lebih ditekankan pada kesiapan mental, strategi
berorganisasi yang sistematis, dan penguatan karakter. Dengan demikian, para
santri Al-Kaffah kini memiliki bekal yang memadai untuk menjadi pemimpin masa
depan yang cakap teknologi namun tetap menjunjung tinggi etika digital dan nilai-
nilai akhlakul karimah.
Daftar Pustaka
Ainiyah, N. (2018). Remaja milenial dan media sosial: Media sosial sebagai media
informasi Pendidikan bagi remaja milenial. Jurnal Pendidikan Islam Indonesia,
2(2), 221-236
Arifin, z. (2020). Pendikan karakter berbasis pesantren diera digital. Jurnal Pendidikan
karakter, 10(1), 45-56.
Azra, A. (2019) Pendidikan Ialam: Tradisi dan modernisasi ditengah tantangan
milenium lll. Kencana.
Bungin, B. (2021). Sosiologi komunikasi: Teori, paradigma, dan diskursus teknologi
komunikasi dimasyarakat. Prenadamedia Group.
Fauzi, A., & Miftah, M. (2020). Etika komunikasi digital santri dalam penggunaan
media sosial. Jurnal Komunikasi Islam, 12(1), 67-80.
Hasanah, U. (2021). Literasi digital sebagai penguatan pendidikan karakter peserta
didik. Jurnal Pendidikan Indonesia, 2(5), 847-856.
Hefni, H. (2017). Komunikasi Islam si era digital. Jurnal Dakwah Tabligh, 18(2), 123-
136.
Hidayat, R., & Abdillah. (2019). Ilmu Pendidikan: Konsep, teori dan aplikasinya.
LPPPI
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2021). Modul literasi digital untuk
pendidikan. Kemendikbud RI.
Kominfo. (2022). Panduan etika digital Indonesia. Kementerian Komunikasi dan
Informatika Republik Indonesia.
Lestari, S. (2020). Pengaruh penggunaan gadget terhadap perilaku sosial remaja.
Jurnal Ilmu Pendidikan, 15(2), 112120.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 98-104
E-ISSN: 3047-2474 (online) 104
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Nasrullah, R. (2017). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi.
Simbiosa Rekatama Media.
Nugroho, Y. (2021). Transformasi digital dalam organisasi pendidikan Islam. Jurnal
Manajemen Pendidikan Islam, 6(1), 1527.
Prensky, M. (2018). Digital natives, digital immigrants revisited. Educational
Technology Journal, 58(4), 1220.
Rahmawati, D. (2023). Smart ethics dalam komunikasi organisasi berbasis digital.
Jurnal Administrasi dan Manajemen Pendidikan, 6(2), 144153.
Sugiyono. (2022). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. Alfabeta.
Suryadi, A. (2021). Penguatan literasi digital di lingkungan pesantren. Jurnal
Pendidikan Islam, 9(1), 3346.
UNESCO. (2021). Digital literacy and skills development report. UNESCO Publishing.
Wahyuni, T., & Maulana, A. (2020). Pemanfaatan teknologi informasi dalam
organisasi remaja masjid. Jurnal Pengabdian Masyarakat, 5(3), 201210.
Yusuf, M. (2019). Pendidikan pesantren dan tantangan era revolusi industri 4.0.
Jurnal Pendidikan Agama Islam, 16(2), 89101.