Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 1, Februari 2026, page: 98-104
E-ISSN: 3047-2474 (online) 99
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Abstract
The digital age demands that Islamic boarding school students not only be proficient in
religious studies but also skilled in managing organizations through information technology.
This community service activity aims to equip students at the Al-Kaffah Islamic Boarding
School with the concepts of “Smart People and Smart Ethics in running gadget-based
organizations.” The primary issues identified were the still-predominantly consumptive use of
gadgets and a lack of digital communication ethics in formal organizational coordination.
The method employed was Participatory Action Research (PAR) through stages of digital
ethics socialization, delivered via training sessions for the students. The expected outcome of
this initiative is to enhance the students’ awareness of positioning gadgets as tools to support
da’wah and organizational activities, rather than merely as entertainment devices. The
students began adopting the “Smart People” principle, meaning they should not only be
skilled in using gadgets but must also be wise users—such as using polite language when
coordinating in digital chat groups. This activity concludes that empowering students through
civilized digital literacy is key to shaping future leaders who are ready to face the challenges
of the times without losing their identity as students in the future.
Keywords: Students, Smart People, Smart Ethics, Digital Organization, Al-Kaffah Islamic
Boarding School.
Pendahuluan
Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) adalah suatu bentuk kegiatan mahasiswa yang
merupakan cara interaksi mahasiswa dengan masyarakat dan lingkungan sekitarnya, lahir dari
animo mahasiswa yang merasa perlu ikut serta dalam proses pembangunan. PKM muncul dari
kesadaran bahwa mahasiswa merupakan salah satu motor penggerak dalam pembangunan
nasional, mahasiswa dengan memanfaatkan sebagian waktu belajarnya keluar dari lingkungan
kuliah, perpustakaan dan bekerja di lapangan untuk menerapkan ilmu.
Era digital telah membawa perubahan fundamental dalam berbagai lini kehidupan, tidak
terkecuali pada institusi pendidikan berbasis agama seperti pondok pesantren. Saat ini, gadget
bukan lagi sekadar alat komunikasi personal, melainkan instrumen strategis yang memiliki
peran besar dalam pengelolaan organisasi dan penyebaran informasi. Namun, kehadiran
teknologi di lingkungan pesantren ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, ia menawarkan
efisiensi; di sisi lain, ia membawa risiko jika tidak dibarengi dengan kesiapan mental dan
etika penggunanya. Bagi para santri, tantangan terbesar bukan lagi pada cara mengoperasikan
perangkat, melainkan pada bagaimana mengelola perangkat tersebut untuk tujuan produktif
dan organisasi dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai akhlakul karimah.
Pondok Pesantren Al-Kaffah sebagai lembaga yang terus berkembang menyadari bahwa
para santri adalah aset bangsa yang harus memiliki kompetensi Smart People. Menjadi Smart
People berarti santri mampu melampaui penggunaan gadget yang bersifat konsumtif menuju
pemanfaatan yang kontributif, khususnya dalam berorganisasi. Kendala yang sering
ditemukan di lapangan adalah banyaknya kegiatan organisasi santri yang masih terhambat
oleh koordinasi yang tidak terstruktur meski mereka telah memegang gadget di tangan. Selain
itu, munculnya fenomena degradasi etika dalam komunikasi digital, seperti hilangnya tata
krama saat mengirim pesan kepada guru atau rekan menjadi perhatian serius yang perlu
segera ditangani melalui pendekatan Smart Ethics.