Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 21/03/2026 Selesai revisi: 18/05/2026 Disetujui: 25/07/2026 Diterbitkan: 1/08/2026
47
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Edukasi Manajemen Stres bagi Lansia untuk Mendukung Kesehatan
Mental di Pasar Minggu
Rita Komalasari
1
, Siti Maulidya Sari
2
, Intan Farida Yasmin
3
, Liko Maryudhiyanto
4
,
Sri Rahayu Ningsih
5
1,2,3,4
,5
Fakultas Kedokteran, Universitas YARSI, Indonesia
e-mail:
1
rita.komalasari@yarsi.ac.id,
2
siti.sari@yarsi.ac.id,
3
intan.farida@yarsi.ac.id,
4
l.maryudhiyanto@yarsi.ac.id,
5
s.ningsih@yarsi.ac.id
Abstrak
Kesehatan mental merupakan komponen penting dalam mewujudkan healthy ageing,
sehingga diperlukan upaya promotif melalui edukasi kesehatan di tingkat
komunitas. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan
pengetahuan lansia mengenai manajemen stres serta mengevaluasi perubahan
pengetahuan setelah edukasi di Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu,
Jakarta Selatan. Kegiatan dilaksanakan pada 11 Mei 2026 dengan melibatkan 37
lansia yang terdiri atas 9 laki-laki (24,3%) dan 28 perempuan (75,7%). Metode
meliputi koordinasi dengan mitra, pre-test, penyampaian materi oleh dokter
spesialis kedokteran jiwa melalui ceramah interaktif, diskusi, demonstrasi, serta
praktik relaksasi napas dalam, mindfulness, dan strategi coping adaptif yang
didukung poster edukasi. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pre-test dan
post-test berisi 10 pertanyaan, kemudian dianalisis secara deskriptif dan
menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil menunjukkan rerata skor
pengetahuan meningkat dari 91,89 menjadi 92,97 dengan selisih 1,08 poin. Sebanyak
86,5% peserta mempertahankan skor yang sama, 5,4% mengalami peningkatan, dan
8,1% mengalami penurunan skor. Uji Wilcoxon menunjukkan perbedaan tersebut
belum bermakna secara statistik (p=0,680). Meskipun demikian, kegiatan ini
memperkuat pengetahuan peserta mengenai kesehatan mental dan manajemen stres
serta menunjukkan bahwa edukasi berbasis komunitas dengan keterlibatan dokter
spesialis jiwa dan media poster berpotensi menjadi strategi promotif yang
mendukung peningkatan kualitas hidup dan pelayanan kesehatan lansia di
masyarakat.
Kata Kunci: kesehatan mental; lansia; manajemen stres; pengabdian kepada
masyarakat
Abstract
Mental health is an important component in realizing healthy ageing, so promotional efforts
are needed through health education at the community level. This community service aims to
increase the knowledge of the elderly about stress management and evaluate changes in
knowledge after education in East Pejaten Village, Pasar Minggu District, South Jakarta. The
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 48
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
activity was carried out on May 11, 2026 by involving 37 elderly people consisting of 9 men
(24.3%) and 28 women (75.7%). Methods include coordination with partners, pre-test,
delivery of material by psychiatrists through interactive lectures, discussions,
demonstrations, as well as deep breathing relaxation practices, mindfulness, and adaptive
coping strategies supported by educational posters. The evaluation was carried out using pre-
test and post-test instruments containing 10 questions, then analyzed descriptively and using
the Wilcoxon Signed Rank Test. The results showed that the average knowledge score
increased from 91.89 to 92.97 with a difference of 1.08 points. A total of 86.5% of participants
maintained the same score, 5.4% experienced an increase, and 8.1% experienced a decrease in
score. Wilcoxon's test showed that the difference was not statistically significant (p=0.680).
Nevertheless, this activity strengthened participants' knowledge about mental health and
stress management and showed that community-based education with the involvement of
psychiatrists and poster media has the potential to be a promotive strategy that supports
improving the quality of life and health services for the elderly in the community.
Keywords: mental health; elderly; stress management; community service
Pendahuluan
Indonesia sedang mengalami fase perubahan demografi yang terlihat dari
peningkatan presentase jumlah penduduk lanjut usia (Badan Pusat Statistik, 2024;
Kementerian Kesehatan RI, 2023). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2023)
mengklasifikasikan lansia sebagai pra lansia (4559 tahun), lansia (6069 tahun), dan
lansia risiko tinggi (≥70 tahun). Data dari Badan Pusat Statistik pada tahun 2024
menunjukan bahwa proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas sekitar 12% dari
total penduduk Indonesia, dengan gambaran seperti ini maka Indonesia
dikategorikan sebagai negara dengan struktur penduduk menua (ageing population) .
Hal ini menunjukan bahwa angka harapan hidup di Indonesia mengalami
peningkatan. Data dalam lima tahun terakhir memperlihatkan peningkatan 1,10
tahun, dari 73,37 tahun pada tahun 2020 menjadi 74,47 tahun pada tahun 2025. (BPS,
2024).
Sebanyak 55,35% lansia tinggal diperkotaan (Badan Pusat Statistik, 2024).
Kompleknya tantangan kesehatan lansia khususnya diperkotaan bukan hanya
berfokus pada kesehatan fisik tetapi juga pada kesehatan mental (Wang, X., dkk.
(2023); Zhang, Y., dkk., (2023)). Survey yang dilakukan Kementerian Kesehatan RI
pada tahun 2024 memperlihatkan lansia rentan mengalami gangguan kesehatan
mental dengan depresi dan kecemasan sebagai masalah yang sering dilaporkan.
Setyarini, dkk (2022) melaporkan sebanyak 24,5% lansia mengalami stress dan
kecemasan yang tinggi. Angka stres pada lansia di DKI Jakarta berdasarkan data
yang masuk pada program cek kesehatan gratis mencapai 3% atau sekitar 10.973
orang. Penelitian sebelumnya di daerah Pasar Minggu dari 210 sampel, angka
depresi ringan pada lansia perempuan sebanyak 26,27% sedangkan pada lansia laki-
laki sekitar 28,6% (Prihantoro, 2017). Rendahnya pengetahuan mengenai manajemen
stres serta kurangnya kegiatan kelompok yang bersifat psikososial menjadi faktor
risiko utama terjadinya masalah kesehatan mental pada lansia di perkotaan (Pudjiati
P, dkk, 2022; Prianto FE, dkk, 2026; Ninef VI, dkk, 2025).
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 49
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Masalah kesehatan lain yang dialami termasuk adanya keterbatasan fungsi fisik,
penurunan fungsi kognitif akibat proses penuaan, penyakit kronis, kesepian,
berkurangnya dukungan, dan berkurangnya interaksi sosial. (Harrington, K. D. dkk,
2023; Wen, Z.,dkk, 2024; Peplinski, B.dkk, 2025). Hal ini diperberat oleh dinamika
struktur keluarga, perubahan kemampuan ekonomi, gaya hidup individual dan dan
lingkungan perkotaan yang dinamis (Gong N, dkk, 2022; Suwartika IPA, dkk, 2024,
Priastana IK, 2025).
Menurut teori Health Promotion yang dikembangkan oleh Green dan Kreuter,
pengetahuan merupakan salah satu faktor predisposisi (predisposing factor) yang
berperan penting dalam membentuk sikap, motivasi, dan perilaku kesehatan
seseorang. Pengetahuan yang memadai akan meningkatkan kemampuan individu
dalam memahami masalah kesehatan, mengenali faktor risiko, serta mengambil
keputusan yang tepat terkait upaya pencegahan maupun pemeliharaan kesehatan
(Green & Kreuter, 2005; Notoatmodjo, 2021). Dalam konteks kesehatan mental lansia,
peningkatan pengetahuan menjadi langkah awal yang sangat penting karena masih
banyak lansia yang menganggap gangguan psikologis sebagai bagian normal dari
proses penuaan, sehingga sering kali terlambat mencari pertolongan atau tidak
menerapkan strategi koping yang sesuai. Oleh karena itu, pemberian edukasi
kesehatan mental sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif diharapkan
mampu meningkatkan literasi kesehatan mental, membentuk sikap positif terhadap
pemeliharaan kesehatan jiwa, serta mendorong perilaku sehat yang mendukung
tercapainya healthy ageing. Pendekatan ini sejalan dengan kerangka Decade of Healthy
Ageing yang dicanangkan oleh World Health Organization (WHO), yang
menempatkan kesehatan mental sebagai salah satu komponen penting dalam
mempertahankan kemampuan fungsional dan kualitas hidup lansia (World Health
Organization, 2023; Liu dkk., 2025).
Lebih lanjut, edukasi kesehatan mental tidak hanya berfungsi sebagai media
penyampaian informasi, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat
(community empowerment) untuk meningkatkan kemampuan individu dan komunitas
dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan. Pendekatan edukasi yang
dipadukan dengan kampanye kesehatan, peningkatan literasi kesehatan (health
literacy), serta penguatan ketahanan komunitas (community resilience) terbukti
mampu meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengenali masalah kesehatan,
membangun dukungan sosial, serta mengembangkan kemampuan adaptasi
terhadap berbagai tekanan psikologis (Komalasari, 2024). Konsep community
resilience menekankan bahwa komunitas yang memiliki pengetahuan, akses terhadap
informasi, serta jejaring sosial yang kuat akan lebih siap menghadapi berbagai
tantangan kesehatan, termasuk masalah kesehatan mental pada kelompok rentan
seperti lansia. Dengan demikian, kegiatan edukasi tidak hanya berorientasi pada
peningkatan pengetahuan individu, tetapi juga bertujuan membangun lingkungan
sosial yang mendukung terciptanya kesehatan mental yang berkelanjutan.
Berbagai hasil pengabdian kepada masyarakat maupun penelitian terdahulu
menunjukkan bahwa edukasi berbasis komunitas merupakan strategi yang efektif
untuk meningkatkan pengetahuan, literasi kesehatan, dan kesadaran masyarakat
terhadap pentingnya menjaga kesehatan mental. Nurwahidin dkk., (2025)
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 50
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
melaporkan bahwa penguatan literasi melalui pendekatan edukatif yang disesuaikan
dengan karakteristik sasaran mampu meningkatkan pemahaman, kesadaran, dan
kemampuan individu dalam menghadapi berbagai tantangan kesehatan mental.
Walaupun penelitian tersebut dilakukan pada kelompok remaja, prinsip
pemberdayaan melalui edukasi dan peningkatan literasi kesehatan tetap relevan
untuk diterapkan pada kelompok lansia dengan melakukan penyesuaian terhadap
metode pembelajaran, media edukasi, kemampuan kognitif, serta kebutuhan belajar
peserta. Pendekatan edukasi yang bersifat partisipatif, komunikatif, dan kontekstual
akan lebih mudah diterima oleh lansia sehingga meningkatkan efektivitas proses
pembelajaran.
Selain meningkatkan pengetahuan, edukasi kesehatan mental perlu dipadukan
dengan intervensi nonfarmakologis yang sederhana, aman, dan mudah dipraktikkan
dalam kehidupan sehari-hari. World Health Organization (2023) merekomendasikan
berbagai strategi promotif yang mencakup pelatihan teknik relaksasi napas dalam,
mindfulness, penguatan strategi koping adaptif, serta aktivitas yang mampu
meningkatkan kesejahteraan psikologis lansia. Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa kombinasi edukasi dengan pelatihan keterampilan manajemen stres
memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan edukasi semata karena peserta
tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan praktis
dalam mengelola tekanan psikologis yang dialami (Ge dkk., 2024; Zhang., 2023).
Teknik-teknik tersebut relatif mudah diajarkan, tidak memerlukan biaya besar, serta
dapat dilakukan secara mandiri sehingga berpotensi meningkatkan kemandirian
lansia dalam menjaga kesehatan mentalnya.
Temuan dari berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat juga
memperlihatkan bahwa edukasi kesehatan mental berbasis komunitas mampu
meningkatkan pemahaman lansia mengenai tanda dan gejala gangguan psikologis,
faktor risiko, serta berbagai strategi sederhana untuk mengelola stres. Keberhasilan
program edukasi dipengaruhi oleh penggunaan metode penyampaian yang
interaktif, media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik lansia, serta
keterlibatan aktif peserta selama proses pembelajaran berlangsung (Komalasari dkk.,
2025). Pendekatan yang melibatkan diskusi, demonstrasi, simulasi, dan latihan
langsung terbukti lebih efektif dibandingkan metode ceramah konvensional karena
memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami sekaligus
mempraktikkan keterampilan yang dipelajari. Dengan meningkatnya pengetahuan
dan keterampilan tersebut, diharapkan lansia mampu mengenali kondisi psikologis
yang dialaminya secara lebih dini, mengurangi stigma terhadap masalah kesehatan
mental, menerapkan strategi koping yang lebih adaptif dalam kehidupan sehari-hari,
serta mempertahankan kesejahteraan psikologis sebagai bagian integral dari proses
healthy ageing (Budury dkk., 2023; Maulana, 2023; Trisnowati dkk., 2024).
Kegiatan pengabdian kepada Masyarakat sebelumnya memperlihatkan peningkatan
pengetahuan dan perilaku sehat pada lansia melalui pemberian edukasi, tetapi
sebagian besar edukasi masih berfokus pada program pengendalian penyakit tidak
menular, seperti hipertensi, diabetes melitus, tetapi edukasi yang membahas
kesehatan mental dan manajemen stres pada lansia di tingkat komunitas masih
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 51
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
relatif terbatas. Padahal, kesehatan mental merupakan komponen penting dalam
mewujudkan healthy ageing dan menjaga kualitas hidup lansia (Liu, Y., dkk. (2025).
Selain itu, berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat telah mengembangkan
edukasi kesehatan bagi lansia, namun implementasi edukasi kesehatan mental yang
memadukan pelatihan teknik relaksasi, mindfulness, dan coping adaptif dengan
keterlibatan dokter spesialis kedokteran jiwa sebagai narasumber masih relatif
terbatas pada tingkat komunitas (World Health Organization, 2023; Maulana, 2023;
Trisnowati dkk., 2024). Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini dilaksanakan untuk
mengisi kesenjangan tersebut melalui edukasi manajemen stres yang disertai
evaluasi peningkatan pengetahuan kesehatan mental lansia secara objektif
menggunakan instrumen pre-test dan post-test. Mitra dalam kegiatan pengabdian ini
di Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan merupakan
salah satu wilayah yang secara rutin menyelenggarakan kegiatan Pos Pembinaan
Terpadu (Posbindu) bagi lansia sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif
kesehatan, tetapi masih jarang materi terkait kesehatan mental.
Sebagai upaya mengatasi permasalahan mitra yaitu tingginya angka cemas dan
stress pada lansia diarea tersebut dan kurangnya materi edukasi kesehatan mental,
tim pengabdian Fakultas Kedokteran Universitas YARSI menyelenggarakan kegiatan
pengabdian masyarakat. Tujuan utama kegiatan pengabdian ini adalah untuk
meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kesehatan mental lansia melalui
edukasi manajemen stres di Kelurahan Pejaten Timur, serta mengukur efektivitas
intervensi tersebut menggunakan evaluasi pre-test dan post-test. Hasil kegiatan ini
diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dan menjadi rujukan model edukasi
promotif-preventif yang dapat diintegrasikan secara berkelanjutan dalam layanan
Posbindu, Puskesmas, maupun kelompok binaan lansia lainnya.
Metode
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 11 Mei 2026
di Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Sasaran
kegiatan adalah masyarakat lanjut usia (lansia) yang mengikuti kegiatan Pos
Pembinaan Terpadu (Posbindu). Kegiatan diikuti oleh 37 peserta, terdiri atas 9 laki-
laki (24,3%) dan 28 perempuan (75,7%). Tim pelaksana terdiri atas lima dosen dan
satu tenaga kependidikan dari Fakultas Kedokteran Universitas YARSI yang bekerja
sama dengan kader Posbindu dalam mempersiapkan dan melaksanakan kegiatan.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan koordinasi bersama kader Posbindu dan tokoh
masyarakat untuk mengidentifikasi kebutuhan mitra, menentukan waktu dan lokasi
kegiatan, serta menyusun materi edukasi yang sesuai dengan karakteristik peserta.
Hasil identifikasi menunjukkan bahwa sebagian besar lansia belum memahami
konsep kesehatan mental, tanda dan gejala stres serta kecemasan, maupun teknik
sederhana untuk mengelola stres dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan hasil
tersebut, tim menyusun program edukasi yang berfokus pada peningkatan literasi
kesehatan mental dan keterampilan manajemen stres sederhana.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 52
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tabel 1. Materi Edukasi dan Tujuan Pembelajaran
Materi
Tujuan Pembelajaran
Konsep kesehatan mental
lansia
Peserta memahami pentingnya kesehatan mental pada
usia lanjut.
Stres dan kecemasan
Peserta mampu mengenali tanda dan gejala stres serta
kecemasan.
Relaksasi napas dalam
Peserta mampu mempraktikkan teknik relaksasi
sederhana secara mandiri.
Mindfulness
Peserta memahami cara meningkatkan kesadaran
terhadap kondisi diri saat ini.
Coping adaptif
Peserta mampu memilih strategi penyelesaian masalah
yang sehat dalam menghadapi stres.
Metode yang digunakan adalah edukasi partisipatif yang terdiri atas tahap
persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Sebelum penyampaian materi, seluruh peserta
mengerjakan pre-test yang terdiri atas 10 pertanyaan untuk mengukur tingkat
pengetahuan awal mengenai kesehatan mental dan manajemen stres pada lansia.
Selanjutnya dilakukan edukasi oleh dokter spesialis kedokteran jiwa selama 30 menit
menggunakan metode ceramah interaktif yang dipadukan dengan media poster
edukasi. Materi yang disajikan meliputi pengertian kesehatan mental pada lansia,
faktor penyebab stres dan kecemasan, tanda dan gejala gangguan kesehatan mental,
teknik relaksasi napas dalam, latihan mindfulness sederhana, strategi coping adaptif,
serta langkah-langkah menjaga kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari.
Poster tersebut dikembangkan oleh tim pengabdian berdasarkan materi promosi
kesehatan dan pedoman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengenai
kesehatan jiwa dan kesehatan lansia. Penggunaan poster bertujuan untuk
mempermudah peserta memahami materi melalui penyajian informasi yang ringkas,
sistematis, dan menarik sehingga pesan kesehatan lebih mudah dipahami dan
diingat.
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif selama
30 menit untuk memberikan kesempatan kepada peserta mengajukan pertanyaan,
berdiskusi, dan berbagi pengalaman mengenai masalah psikologis yang dihadapi
dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya dilakukan demonstrasi dan praktik selama
30 menit yang dipandu oleh narasumber mengenai teknik relaksasi napas dalam dan
mindfulness sederhana agar peserta mampu mempraktikkannya secara mandiri. Pada
akhir kegiatan, peserta kembali mengerjakan post-test menggunakan instrumen yang
sama dengan pre-test untuk mengevaluasi perubahan tingkat pengetahuan setelah
mengikuti edukasi.
Evaluasi kegiatan dilakukan melalui analisis hasil pre-test dan post-test.
Karakteristik peserta disajikan secara deskriptif berdasarkan distribusi frekuensi dan
persentase menurut jenis kelamin dan kelompok usia sesuai klasifikasi Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia. Skor pengetahuan sebelum dan sesudah edukasi
disajikan dalam bentuk rerata, simpangan baku, nilai minimum, dan maksimum.
Perbedaan skor pre-test dan post-test dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed
Rank Test karena data merupakan pengukuran berpasangan dan tidak memenuhi
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 53
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
asumsi distribusi normal. Seluruh analisis dilakukan pada tingkat kemaknaan p <
0,05 untuk menilai efektivitas edukasi manajemen stres terhadap perubahan
pengetahuan kesehatan mental pada lansia.
Gambar 1. Poster Lansia Sehat
Gambar 2. Kegiatan Edukasi
Gambar 3. Tim pengmas beserta stakeholder
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 54
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Hasil dan Pembahasan
Hasil
Karakteristik Responden
Kegiatan edukasi kesehatan mental diikuti oleh 37 responden yang terdiri atas lansia
dan pra lansia. Karakteristik responden dianalisis berdasarkan jenis kelamin dan
kelompok usia menurut klasifikasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin
perempuan, yaitu sebanyak 28 orang (75,7%), sedangkan responden laki-laki
berjumlah 9 orang (24,3%). Berdasarkan kelompok usia, mayoritas responden
termasuk kategori pra lansia (4559 tahun) sebanyak 22 orang (59,5%), diikuti
kelompok lansia (6069 tahun) sebanyak 9 orang (24,3%), dan lansia risiko tinggi
(≥70 tahun) sebanyak 6 orang (16,2%).
Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dan Kelompok Usia (n = 37)
Karakteristik
Frekuensi (%)
Jenis Kelamin
Laki-laki
9(24,3)
Perempuan
28(75,7)
Kategori Lansia
Pra lansia
(4559 tahun)
22(59,5)
Lansia
(6069 tahun)
9(24,3)
Lansia risiko tinggi
(≥70 tahun)
6(16,2)
Total
37(100)
Hasil Analisis Pre-test dan Post-test
Evaluasi pengetahuan mengenai kesehatan mental dilakukan menggunakan pre-test
sebelum pemberian edukasi dan post-test setelah kegiatan edukasi selesai
dilaksanakan. Analisis deskriptif menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata
pengetahuan responden setelah mengikuti edukasi.
Nilai rata-rata (mean) pre-test sebesar 91,89, sedangkan nilai rata-rata post-test
meningkat menjadi 92,97, sehingga terdapat peningkatan rerata skor pengetahuan
sebesar 1,08 poin. Hasil ini menunjukkan bahwa secara deskriptif terjadi
peningkatan pengetahuan responden setelah mengikuti kegiatan edukasi kesehatan
mental.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 55
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Tabel 3. Hasil Analisis Deskriptif Skor Pre-test dan Post-test (n = 37)
Variabel
Mean
Pre-test
91,89
Post-test
92,97
Selisih
1,08
Distribusi Perubahan Skor Pengetahuan
Analisis terhadap perubahan skor individu menunjukkan bahwa responden
memberikan respons yang bervariasi setelah mengikuti edukasi. Sebagian besar
responden mempertahankan skor yang sama antara pre-test dan post-test, sementara
sebagian lainnya mengalami peningkatan maupun penurunan skor. Sebanyak 2
responden (5,4%) mengalami peningkatan skor pengetahuan setelah edukasi, 32
responden (86,5%) mempertahankan skor yang sama, sedangkan 3 responden (8,1%)
mengalami penurunan skor pada saat post-test.
Tabel 4. Distribusi Perubahan Skor Pengetahuan Responden (n = 37)
Frekuensi (n)
Persentase (%)
2
5,4
32
86,5
3
8,1
37
100
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan skor pengetahuan sebelum dan
sesudah edukasi, dilakukan analisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test
karena data bersifat berpasangan dan didominasi oleh nilai yang sama (ties). Hasil
analisis menunjukkan nilai statistik Wilcoxon sebesar W = 6,0 dengan p-value =
0,680. Nilai p yang lebih besar dari 0,05 menunjukkan bahwa tidak terdapat
perbedaan yang bermakna secara statistik antara skor pre-test dan post-test.
Meskipun demikian, secara deskriptif terlihat adanya peningkatan rerata skor
pengetahuan setelah pelaksanaan edukasi.
Tabel 5. Hasil Uji Wilcoxon Signed Rank Test Skor Pre-test dan Post-test (n = 37)
Variabel
Statistik
Uji (W)
p-value
Keterangan
Pre-test vs
Post-test
6
0,68
Tidak terdapat
perbedaan yang
bermakna
(p>0,05)
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 56
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Secara keseluruhan, kegiatan edukasi kesehatan mental menunjukkan adanya
peningkatan rerata skor pengetahuan sebesar 1,08 poin setelah intervensi. Sebagian
besar responden (86,5%) mempertahankan skor pengetahuan yang sama, 5,4%
mengalami peningkatan skor, dan 8,1% mengalami penurunan skor. Meskipun
terjadi peningkatan rerata secara deskriptif, hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa
peningkatan tersebut belum signifikan secara statistik (p = 0,680). Hasil ini
menunjukkan bahwa pengetahuan responden sebelum intervensi sudah relatif tinggi
sehingga perubahan skor setelah edukasi cenderung kecil.
Pembahasan
Kegiatan edukasi kesehatan mental pada lansia bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental sebagai bagian dari
upaya mempertahankan kualitas hidup pada usia lanjut. Hasil evaluasi
menunjukkan bahwa rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 91,89 pada pre-test
menjadi 92,97 pada post-test atau meningkat sebesar 1,08 poin. Meskipun secara
deskriptif terjadi peningkatan skor, hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test
menunjukkan bahwa peningkatan tersebut belum bermakna secara statistik
(p=0,680). Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi memberikan penguatan terhadap
pengetahuan responden, meskipun besarnya peningkatan belum cukup untuk
menghasilkan perbedaan yang signifikan secara statistik.
Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa perbedaan skor pengetahuan sebelum dan
sesudah edukasi tidak bermakna secara statistik (p = 0,680). Temuan ini
kemungkinan dipengaruhi oleh ceiling effect, yaitu kondisi ketika sebagian besar
responden telah memiliki tingkat pengetahuan awal yang tinggi sehingga instrumen
memiliki ruang yang terbatas untuk mendeteksi peningkatan skor setelah intervensi.
Pada penelitian ini, sebagian besar lansia telah memperoleh nilai pre-test yang tinggi,
bahkan banyak responden mencapai nilai maksimum, sehingga perubahan skor
setelah edukasi menjadi relatif kecil. Kondisi tersebut merupakan salah satu
tantangan yang sering dijumpai dalam evaluasi intervensi pendidikan kesehatan
karena tingginya skor dasar (high baseline knowledge) dapat mengurangi sensitivitas
instrumen dalam mendeteksi perubahan setelah intervensi (Polit & Beck, 2021;
Aldossari dkk., 2022). Selain itu, Liu dkk. (2025) melaporkan bahwa pada lansia yang
tinggal di komunitas, tingkat literasi kesehatan mental yang telah baik lebih berperan
dalam memperkuat perilaku promosi kesehatan dibandingkan menghasilkan
peningkatan skor pengetahuan yang besar setelah edukasi.
Sejalan dengan hal tersebut, World Health Organization (2023) menegaskan bahwa
edukasi pada kelompok lanjut usia tidak hanya bertujuan meningkatkan
pengetahuan, tetapi juga memperkuat (reinforce) pemahaman, meningkatkan efikasi
diri, serta mendorong penerapan perilaku sehat yang mendukung healthy ageing.
Dengan demikian, meskipun peningkatan rerata skor pengetahuan pada penelitian
ini relatif kecil dan tidak bermakna secara statistik, kegiatan edukasi manajemen
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 57
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
stres tetap memberikan manfaat sebagai upaya promotif untuk mempertahankan
literasi kesehatan mental, memperkuat pemahaman peserta, serta mendorong
penerapan strategi manajemen stres dalam kehidupan sehari-hari.
Temuan penelitian ini sejalan dengan berbagai kegiatan pengabdian kepada
masyarakat yang menunjukkan bahwa edukasi kesehatan berbasis komunitas
berperan dalam meningkatkan maupun mempertahankan pengetahuan lansia
mengenai kesehatan. Edukasi yang disampaikan melalui ceramah interaktif, diskusi,
demonstrasi, dan praktik memberikan kesempatan bagi lansia untuk memperoleh
informasi yang benar sekaligus memperkuat pemahaman yang telah dimiliki (Green
& Kreuter, 2005; Notoatmodjo, 2021).
Program pengabdian yang dilaporkan oleh Budury dkk. (2023) menunjukkan bahwa
edukasi kesehatan jiwa yang dipadukan dengan terapi menulis ekspresif dapat
meningkatkan pemahaman lansia mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental
dan mendorong partisipasi aktif selama kegiatan. Demikian pula, Trisnowati dkk.
(2024) melaporkan bahwa pelatihan kesehatan holistik pada lansia melalui
pendekatan edukatif mampu meningkatkan kesadaran peserta terhadap pentingnya
menjaga kesehatan fisik dan mental secara terpadu. Selain itu, Maulana (2023)
melaporkan bahwa kegiatan edukasi kesehatan pada lansia di tingkat komunitas
menjadi salah satu strategi promotif dan preventif yang efektif untuk meningkatkan
literasi kesehatan masyarakat. Temuan tersebut memperkuat bahwa edukasi
kesehatan merupakan pendekatan yang relevan untuk meningkatkan kapasitas
lansia dalam menjaga kesehatan mental dan kualitas hidup.
Pada penelitian ini, 86,5% responden mempertahankan nilai yang sama, 5,4%
mengalami peningkatan, dan 8,1% mengalami penurunan pada post-test. Dominasi
responden yang mempertahankan skor menunjukkan bahwa edukasi tetap berperan
sebagai penguatan (reinforcement) terhadap pengetahuan yang telah dimiliki.
Menurut Notoatmodjo (2021), tujuan pendidikan kesehatan tidak hanya
meningkatkan pengetahuan, tetapi juga mempertahankan dan memperkuat
pemahaman sehingga individu mampu menerapkan informasi tersebut dalam
kehidupan sehari-hari. Green dan Kreuter (2005) menjelaskan bahwa perubahan
perilaku kesehatan merupakan proses bertahap yang dipengaruhi oleh faktor
predisposisi, faktor pemungkin, dan faktor penguat. Hasil ini juga sejalan dengan
rekomendasi World Health Organization (2023) yang menekankan bahwa promosi
kesehatan mental pada lansia perlu dilakukan secara berkelanjutan agar
pengetahuan yang telah dimiliki dapat dipertahankan dan diterjemahkan menjadi
perilaku hidup sehat. Dengan demikian, meskipun peningkatan skor pengetahuan
pada penelitian ini belum bermakna secara statistik, kegiatan edukasi manajemen
stres tetap memberikan kontribusi dalam memperkuat literasi kesehatan mental
lansia dan mendukung upaya healthy ageing di tingkat komunitas.
Sebanyak tiga responden (8,1%) mengalami penurunan skor pada post-test.
Penurunan tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa edukasi yang diberikan
tidak efektif. Pada kelompok lansia, hasil pengukuran pengetahuan dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan dengan proses penuaan, seperti
penurunan fungsi kognitif, terutama pada aspek perhatian (attention), memori kerja
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 58
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
(working memory), kecepatan pemrosesan informasi (processing speed), dan fungsi
eksekutif (Harada dkk., 2021). Selain itu, kondisi fisik dan lingkungan saat pengisian
kuesioner, seperti kelelahan setelah mengikuti rangkaian kegiatan, berkurangnya
konsentrasi, gangguan penglihatan atau pendengaran, serta kesalahan dalam
memahami pertanyaan, juga dapat memengaruhi konsistensi jawaban pada post-test
(Kementerian Kesehatan RI, 2023; World Health Organization, 2023). Polit dan Beck
(2021) menjelaskan bahwa pada evaluasi intervensi pendidikan kesehatan, variasi
skor individu setelah intervensi dapat dipengaruhi oleh karakteristik responden
maupun kondisi saat proses pengukuran sehingga perubahan skor tidak selalu
mencerminkan keberhasilan atau kegagalan intervensi secara langsung. Temuan ini
juga didukung oleh Harrington dkk. (2023), yang melaporkan bahwa penurunan
fungsi kognitif ringan, perhatian, dan memori pada lansia dapat memengaruhi
kemampuan menerima, mengingat, dan menjawab informasi selama proses evaluasi.
Selain itu, Liu dkk. (2025) menunjukkan bahwa pada lansia yang tinggal di
komunitas, literasi kesehatan mental lebih berkontribusi terhadap pembentukan
perilaku promosi kesehatan dibandingkan perubahan skor pengetahuan dalam
jangka pendek. Oleh karena itu, penurunan skor pada sebagian kecil responden
dalam penelitian ini lebih mungkin mencerminkan variasi respons individu
dibandingkan tidak efektifnya edukasi yang diberikan.
Mayoritas responden pada penelitian ini adalah perempuan (75,7%) dan berada pada
kelompok pra lansia (4559 tahun). Perempuan diketahui memiliki kecenderungan
lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan promotif dan preventif di masyarakat,
sehingga memiliki peluang lebih besar memperoleh informasi kesehatan
dibandingkan laki-laki (World Health Organization, 2023). Selain itu, kelompok pra
lansia umumnya masih memiliki fungsi kognitif yang lebih baik dibandingkan
kelompok usia lanjut yang lebih tua sehingga lebih mudah menerima, memahami,
dan mengingat materi edukasi yang diberikan (Harada dkk., 2021). Karakteristik
tersebut diduga turut berkontribusi terhadap tingginya skor pengetahuan awal
responden, yang selanjutnya menyebabkan ruang peningkatan skor setelah
intervensi menjadi relatif terbatas (ceiling effect) (Polit & Beck, 2021; Aldossari dkk.,
2022). Hasil ini sejalan dengan temuan Wen dkk. (2024) yang menunjukkan bahwa
dukungan sosial, ketahanan psikologis (resilience), dan karakteristik individu turut
memengaruhi kemampuan lansia dalam menerima edukasi kesehatan dan
mempertahankan kesehatan mental.
Secara keseluruhan, hasil kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan
mental mampu mempertahankan tingkat pengetahuan responden yang sudah baik
dan meningkatkan pengetahuan pada sebagian responden. Oleh karena itu, kegiatan
edukasi kesehatan mental perlu dilakukan secara berkesinambungan melalui
Posbindu, Puskesmas, maupun kelompok lansia dengan menggunakan metode
pembelajaran yang lebih interaktif, seperti diskusi kelompok, demonstrasi, media
audiovisual, dan pendampingan keluarga. Pendekatan tersebut diharapkan dapat
meningkatkan retensi informasi serta mendorong perubahan perilaku kesehatan
mental pada lansia.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 59
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Simpulan dan Rekomendasi
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi manajemen stres pada
lansia di Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu telah terlaksana
dengan baik dan diikuti oleh 37 peserta. Edukasi yang disampaikan melalui ceramah
interaktif, diskusi, demonstrasi teknik relaksasi napas dalam, mindfulness, dan coping
adaptif dengan dukungan media poster memberikan penguatan terhadap
pemahaman peserta mengenai kesehatan mental lansia. Hasil evaluasi menunjukkan
adanya peningkatan rerata skor pengetahuan dari 91,89 pada pre-test menjadi 92,97
pada post-test dengan selisih 1,08 poin. Sebagian besar peserta (86,5%)
mempertahankan skor pengetahuan yang sama, 5,4% mengalami peningkatan, dan
8,1% mengalami penurunan skor. Meskipun secara deskriptif terjadi peningkatan
rerata skor pengetahuan, hasil uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan bahwa
perbedaan tersebut belum bermakna secara statistik (p = 0,680). Temuan ini
mengindikasikan bahwa edukasi berperan sebagai penguatan (reinforcement)
terhadap pengetahuan yang telah dimiliki peserta, yang kemungkinan dipengaruhi
oleh tingginya tingkat pengetahuan awal responden.
Hasil pengabdian ini menunjukkan bahwa edukasi manajemen stres memiliki peran
sebagai strategi promotif dalam meningkatkan kesiapan lansia menghadapi berbagai
tekanan psikososial yang muncul selama proses penuaan. Meskipun peningkatan
skor pengetahuan tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik,
kegiatan edukasi tetap memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh
informasi yang benar mengenai kesehatan mental, mengenali tanda-tanda stres, serta
memahami langkah sederhana yang dapat dilakukan secara mandiri melalui latihan
relaksasi napas, mindfulness, dan strategi coping adaptif. Pendekatan tersebut sejalan
dengan konsep healthy ageing yang menekankan pentingnya mempertahankan
kemampuan fungsional lansia agar tetap mandiri, aktif, dan memiliki kualitas hidup
yang baik (World Health Organization, 2023). Selain itu, Wang dkk. (2023)
menjelaskan bahwa kesehatan mental lansia di kawasan perkotaan dipengaruhi oleh
berbagai faktor, termasuk lingkungan sosial, dukungan komunitas, akses terhadap
pelayanan kesehatan, dan ketahanan masyarakat (urban resilience). Oleh karena itu,
edukasi kesehatan mental yang dilaksanakan secara rutin melalui Posbindu atau
Puskesmas berpotensi menjadi salah satu strategi promotif yang berkelanjutan
dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis lansia.
Daftar Pustaka
Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik penduduk lanjut usia 2024. Badan Pusat
Statistik.
Budury, S., Ainiyah, N., Bistara, D. N., Ahmad Sharoni, S. K., & Abdul Rahman, H.
(2023). Edukasi kesehatan jiwa dan menulis ekspresif pada lansia di Malaysia.
Martabe: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(9), 33753379.
https://doi.org/10.31604/jpm.v6i9.3375-3379
Ge, L., Yap, C. W., Ong, R., & Heng, B. H. (2024). Mindfulness-based interventions
for older adults: A systematic review and meta-analysis. International Journal
of Geriatric Psychiatry.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 60
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Green, L. W., & Kreuter, M. W. (2005). Health program planning: An educational and
ecological approach (4th ed.). McGraw-Hill.
Gong, N., Meng, Y., Hu, Q., Du, Q., Wu, X., Zou, W., Zhu, M., Chen, J., Luo, L.,
Cheng, Y., & Zhang, M. (2022). Obstacles to access to community care in urban
senior-only households: A qualitative study. BMC Geriatrics, 22(1), 122.
Harrington, K. D., Vasan, S., Kang, J. E., Sliwinski, M. J., & Lim, M. H. (2023).
Loneliness and cognitive function in older adults without dementia: A
systematic review and meta-analysis. Journal of Alzheimer's Disease, 91(4),
12931312. https://doi.org/10.3233/JAD-220832
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Profil kesehatan Indonesia 2023.
Kementerian Kesehatan RI.
Komalasari, R. (2024). Navigating mental health crises: Understanding pivotal
phases, health campaigns, and community resilience for recovery and reform.
In Role of Health Literacy in Major Healthcare Crises.
Komalasari, R., Sari, S. M., Hakimah, A. R., Ardita, D. P., Fauzi, H. F., Lucy, L.,
Felicia, L., & Rasyad, R. D. (2025). Involvement medical students in postpartum
depression (PPD) educational program among community in Koper Village.
Jurnal Loyalitas Sosial: Journal of Community Service in Humanities and Social
Sciences, 7(1), 2228. https://doi.org/10.32493/JLS.v7i1.p22-28
Liu, Y., Zhang, L., Wang, X., et al. (2025). Mental health literacy and its relationship
with health-promoting behaviors of community-dwelling older adults: A latent
profile analysis. Geriatric Nursing, 62, 123130.
Maulana, N. (2023). Upaya promotif dan preventif penyakit hipertensi serta
kesehatan mental pada usia lanjut. Martabe: Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat, 6(2), 543547. https://doi.org/10.31604/jpm.v6i2.543-547
Ninef, V. I., Kartinah, N., Putra, N. A., Rahmawati, N. E., Purwanti, N. S., Christian,
F., & Rohimah, A. (2025). Bunga rampai kesehatan mental lansia. Nuansa Fajar
Cemerlang.
Notoatmodjo, S. (2021). Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan (Edisi revisi). PT
Rineka Cipta.
Nurwahidin, M., Sofia, A., Perdana, D. R., Diana, S. M., & Hermawan, J. S. (2025).
Gen Z Bijak Digital: Penguatan Mental Remaja Melalui Dakwah Kreatif dan
Literasi Keagamaan di Media Sosial.
Peplinski, B., et al. (2025). Loneliness and cognition in older adults: A meta-analysis
of harmonized studies from the United States, England, India, China, South
Africa, Mexico, and Chile. Aging & Mental Health.
Prianto, F. E., Fadila, N., & Lestari, W. (2026). Aktivitas kreatif dan reminiscence
sebagai cara mengatasi kesepian pada lansia di UPT PSRLU Mulia Dharma.
GANESHA: Jurnal Pengabdian Masyarakat, 6(1), 3239.
Priastana, I. K., Wirya, I. M., & Widiantara, I. G. (2025). Pendampingan lansia
tangguh pada komunitas perkotaan. Bhakti Patrika, 1(1), 1419.
Prihantoro, I. G. (2017). Hubungan keseimbangan statis dengan tingkat depresi
menurut jenis kelamin pada lansia di Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan
Sukawangi, Bogor Tahun 2016 (Bachelor's thesis). Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan Binawan. https://repository.binawan.ac.id/116/
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 61
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Pudjiati, P., Sukoco, A. S., Maryam, R. S., & Khairunnisa, K. (2022). Gambaran
pengetahuan lansia terkait manajemen stres di masa pandemi COVID-19. In
Prosiding Seminar Nasional Hilirisasi Hasil Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat Tahun 2022 (pp. 193201).
Setyarini, E. A., Niman, S., Parulian, T. S., & Hendarsyah, S. (2022). Prevalensi
masalah emosional: Stres, kecemasan, dan depresi pada usia lanjut. Bulletin of
Counseling and Psychotherapy, 4(1), 2127.
Suwartika, I. P. A., Sawitri, N. K., & Suindrayasa, I. M. (2024). Perbandingan tingkat
stres antara lansia yang tinggal di daerah wisata perkotaan dengan daerah
wisata pedesaan. Coping, 12(5).
Trisnowati, H., Naini, R., Gustina, E., Aziizah, A. U., Rohman, E. M., Wulan, U. K., &
Pratamawati, D. A. (2024). Potret kesehatan mental lansia: Pelatihan
peningkatan kesehatan holistik lansia di Kota Yogyakarta. Martabe: Jurnal
Pengabdian Kepada Masyarakat, 7(7).
Wang, X., et al. (2023). Driving the determinants of older people's mental health in
the context of urban resilience: A scoping review. BMC Geriatrics, 23, 711.
https://doi.org/10.1186/s12877-023-04387-y
Wen, Z., Wang, H., Liang, Q., Liu, L., Zhang, W., & Zhang, X. (2024). Mediating effect
of social support and resilience between loneliness and depression in older
adults: A systematic review and meta-analytic structural equation modeling.
Journal of Affective Disorders, 365, 102112.
https://doi.org/10.1016/j.jad.2024.08.062
World Health Organization. (2021). Global report on ageism. World Health
Organization.
World Health Organization. (2023). Mental health of older adults.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-of-older-
adults
Zhang, Y., et al. (2023). Cultural ecosystem services show superiority in promoting
subjective mental health of senior residents: Evidences from old urban areas of
Beijing. Urban Forestry & Urban Greening, 86, 128011.
https://doi.org/10.1016/j.ufug.2023.128011
Polit, D. F., & Beck, C. T. (2021). Nursing research: Generating and assessing
evidence for nursing practice (11th ed.). Wolters Kluwer.
Aldossari, M., Alharbi, N., van Houwelingen, C. T. M., & Huisman-de Waal, G.
(2022). Assessing the effects of eHealth tutorials on older adults' eHealth
literacy. International Journal of Environmental Research and Public Health,
19(12), 7248. https://doi.org/10.3390/ijerph19127248
Harada, C. N., Love, M. C. N., & Triebel, K. L. (2021). Normal cognitive aging. Clinics
in Geriatric Medicine, 37(1), 113. https://doi.org/10.1016/j.cger.2020.08.002
Harrington, K. D., Vasan, S., Kang, J. E., Sliwinski, M. J., & Lim, M. H. (2023).
Loneliness and cognitive function in older adults without dementia: A
systematic review and meta-analysis. Journal of Alzheimer's Disease, 91(4),
12931312. https://doi.org/10.3233/JAD-220832
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 47-62
E-ISSN: 3047-2474 (online) 62
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Wen, Z., Wang, H., Liang, Q., Liu, L., Zhang, W., & Zhang, X. (2024). Mediating effect
of social support and resilience between loneliness and depression in older
adults: A systematic review and meta-analytic structural equation modeling.
Journal of Affective Disorders, 365, 102112.
https://doi.org/10.1016/j.jad.2024.08.062.