Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474
Naskah dikirim: 27/03/2026 Selesai revisi: 19/05/2026 Disetujui: 28/07/2026 Diterbitkan: 13/08/2026
84
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 CC BY-SA International License.
Manajemen Pusat Sumber Belajar (PSB) Sebagai Sarana Peningkatan
Kualitas Pembelajaran di SMP Swasta Sinar Husni
Afrizal Rambe
1*
, Budi
2
1,2
Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan
e-mail:
1
rizalrambey4@gmail.com,
2*
budiama83@uinsu.ac.id
Abstrak
Pusat Sumber Belajar (PSB) merupakan salah satu komponen penting dalam
mendukung terciptanya proses pembelajaran yang berkualitas di sekolah.
Pengelolaan PSB yang dilakukan secara terencana, terorganisasi, terlaksana dan
berkelanjutan juga dapat membantu guru dalam menyediakan sumber, media, serta
lingkungan belajar yang lebih efektif bagi peserta didik. Penelitian ini bertujuan
untuk mendeskripsikan bagaimana manajemen Pusat Sumber Belajar diterapkan
sebagai sarana peningkatan kualitas pembelajaran di SMP Swasta Sinar Husni.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif.
Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi
terhadap kepala sekolah, pengelola Pusat Sumber Belajar, guru, serta peserta didik
yang dipilih berdasarkan pertimbangan tertentu sesuai kebutuhan penelitian. Data
dianalisis melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan,
sedangkan keabsahan data diperkuat dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan Pusat Sumber Belajar telah
dilaksanakan melalui proses perencanaan program, pengorganisasian sumber daya,
pelaksanaan layanan, serta evaluasi secara berkala. Keberadaan Pusat Sumber
Belajar memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas pembelajaran,
antara lain melalui pemanfaatan media pembelajaran yang lebih bervariasi,
meningkatnya kreativitas guru dalam mengelola kelas, bertambahnya motivasi
belajar peserta didik, serta terciptanya pembelajaran yang lebih interaktif dan
berpusat pada peserta didik. Meskipun demikian, pengelolaan PSB masih
menghadapi beberapa kendala, seperti keterbatasan anggaran, belum meratanya
pemanfaatan teknologi pembelajaran, serta perlunya peningkatan kompetensi
pengelola dan guru dalam mengembangkan layanan PSB. Oleh karena itu,
diperlukan upaya penguatan manajemen Pusat Sumber Belajar melalui peningkatan
kualitas sumber daya manusia, penyediaan fasilitas yang memadai, dan optimalisasi
pemanfaatan teknologi sebagai bagian dari strategi peningkatan mutu pembelajaran
di sekolah.
Kata Kunci: Manajemen; Pusat Sumber Belajar; Sarana; Kualitas Pembelajaran
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 85
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Abstract
The Learning Resource Center (LRC) is a key component in supporting high-quality learning
processes at schools. Well-planned, organized, effectively implemented, and sustainable
management of the LRC can also help teachers provide more effective resources, media, and
learning environments for students. This study aims to describe how the management of the
Learning Resource Center is implemented as a means of improving the quality of learning at
Sinar Husni Private Junior High School. The study employs a qualitative approach using a
descriptive research design. Data were collected through observation, in-depth interviews, and
document analysis involving the school principal, the Learning Resource Center manager,
teachers, and students selected based on specific criteria aligned with the research objectives.
Data were analyzed through the stages of data reduction, data presentation, and drawing
conclusions, while data validity was strengthened through triangulation of sources and
techniques. The results of the study indicate that the management of the Learning Resource
Center has been carried out through the processes of program planning, resource
organization, service delivery, and periodic evaluation. The existence of Learning Resource
Centers has a positive impact on improving the quality of learning, including through the use
of a wider variety of learning media, increased teacher creativity in classroom management,
greater student motivation, and the creation of more interactive and student-centered
learning. Nevertheless, the management of Learning Resource Centers still faces several
challenges, such as budget constraints, the uneven adoption of educational technology, and
the need to enhance the competencies of administrators and teachers in developing Learning
Resource Center services. Therefore, efforts are needed to strengthen the management of
Learning Resource Centers through improving the quality of human resources, providing
adequate facilities, and optimizing the use of technology as part of a strategy to improve the
quality of learning in schools.
Keywords: Management; Learning Resource Center; Facilities; Quality of Learning
Pendahuluan
Pendidikan menempati posisi strategis dalam pembangunan suatu bangsa,
sebab melalui pendidikanlah kemampuan berpikir kreatif dan rasa tanggung jawab
setiap individu dapat ditumbuhkan, sehingga maju atau tidaknya suatu masyarakat
sangat bergantung pada mutu pendidikan yang diselenggarakan. Pendidikan pun
bukan semata tanggung jawab negara, melainkan juga merupakan amanah moral
sekaligus keagamaan (Ristianah, 2022; Siahaan et al., 2022), sehingga dibutuhkan
sistem pendidikan yang berjalan efektif guna mewujudkan tujuan pendidikan
nasional, yakni melahirkan generasi yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat
jasmani-rohani, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang
demokratis dan bertanggung jawab (Fuad, 2016). Dalam upaya meningkatkan mutu
sumber daya manusia tersebut, keberhasilan pembelajaran di sekolah tidak semata
bertumpu pada peran guru dan kurikulum, melainkan turut dipengaruhi oleh
ketersediaan dan optimalisasi sarana penunjang pembelajaran, salah satunya Pusat
Sumber Belajar (PSB) yang berfungsi menyediakan beragam sumber dan media
belajar, mulai dari buku, alat peraga, media audio visual, hingga perangkat teknologi
pembelajaran lainnya, sehingga keberadaannya turut membantu guru
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 86
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
menyampaikan materi secara lebih menarik sekaligus memudahkan peserta didik
memahami pelajaran, di samping mendorong tumbuhnya kemandirian dan
keaktifan belajar peserta didik (Nasional, 2010).
Pada kenyataannya, keberadaan Pusat Sumber Belajar di sekolah belum
dimanfaatkan secara maksimal. Di beberapa sekolah, PSB masih terbatas pada
penyediaan sarana tanpa pengelolaan yang baik. Kurangnya perencanaan,
pengorganisasian, serta pengawasan menyebabkan PSB belum memberikan dampak
yang signifikan terhadap peningkatan kualitas pembelajaran. Manajemen Pusat
Sumber Belajar sangat diperlukan agar seluruh sumber belajar dapat digunakan
secara efektif dan efisien. Manajemen PSB mencakup perencanaan,
pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi pengelolaan sumber belajar. Dengan
manajemen yang baik, PSB dapat berfungsi secara optimal sebagai pendukung
kegiatan pembelajaran di sekolah (Mulyasa, 2013).
Kualitas pembelajaran ditandai dengan proses belajar yang aktif, menarik, dan
mampu meningkatkan pemahaman peserta didik. Pemanfaatan Pusat Sumber
Belajar yang dikelola dengan baik dapat membantu guru menciptakan pembelajaran
yang lebih variatif dan inovatif, sehingga berdampak pada peningkatan kualitas
pembelajaran. SMP Swasta Sinar Husni sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam
memiliki peran penting dalam mencetak peserta didik yang berilmu, berakhlak, dan
berdaya saing. Dalam pelaksanaan pembelajaran, sekolah ini telah berupaya
menyediakan berbagai sarana pendukung, termasuk Pusat Sumber Belajar. Namun,
pemanfaatan PSB di SMP Swasta Sinar Husni masih perlu ditingkatkan agar dapat
mendukung proses pembelajaran secara optimal (Rusman, 2020).
Berdasarkan hasil pengamatan awal, masih terdapat beberapa fenomena
ataupun upaya pendukung dalam pengelolaan Pusat Sumber Belajar di SMP Swasta
Sinar Husni. Observasi awal di SMP Swasta Sinar Husni menunjukan bahwa seperti
penggunaan Pusat Sumber Belajar (PSB) Kurang dimanfaatkan oleh guru dan
peserta didik. Banyak fasilitas PSB yang tidak digunakan, dan siswa lebih sering
belajar di kelas dengan menggunakan metode konvensional. Namun, Ketika PSB
digunakan untuk kegiatan belajar yang interaktif, siswa menunjukkan antusiasme
dan peningkatan partisipasi. Ini menunjukkan potensi Pusat Sumber Belajar sebagai
sarana peningkatan kualitas pembelajaran jika dikelola dengan baik. Pada saat ini
Pengunaan Pusat Sumber Belajar seperti media pembelajaran maupun fasilitas yang
telah disedikan oleh sekolah setiap kegiatan mengajar di kelas perlu ditingkatkan
kembali. Selanjutnya pengamatan awal penulis melihat belum adanya perencanaan
yang terstruktur, serta kurangnya pemanfaatan PSB oleh guru dan peserta didik
dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. Kondisi ini menyebabkan potensi PSB
belum sepenuhnya mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.
Berdasarkan tinjauan kritis tersebut, terdapat celah penelitian (research gap)
yang jelas, yaitu kurangnya studi kualitatif yang secara mendalam menganalisis
manajemen pusat sumber belajar yang efektif dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran di sekolah tersebut, terutama dalam konteks pemanfaatan teknologi
digital. Penelitian sebelumnya lebih fokus pada pengembangan PSB, namun belum
banyak yang mengkaji bagaimana manajemen PSB dapat meningkatkan kualitas
pembelajaran secara pesifik. Penelitian bertujuan untuk mengisi kesenjangan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 87
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
tersebut dengan mengidentifikasi manajemen pusat sumber belajar yang efektif dan
relevansi dengan kebutuhan pemebelajaran abad 21. Dengan demikian, penelitian ini
diharapkan mampu memberikan kontribusi yang lebih mendalam dibandingkan
penelitian sebelumnya, baik dari sisi pengelolaan maupun fokus kajian.
Sebagai penutup, penelitian umum diharapkan memberikan kontribusi
signifikan bagi pengembang ilmu manajemen pendidikan, khususnya dalam
manajemen pusat sumber belajar. Secara teoritis, penelitian ini memperkaya
diskursus akademik dan teknologi pendidikan mengenai hubungan antar
manajemen dan pusat sumber belajar dalam rangka menciptakan generasi yang
paham akan teknologi yang terus berkembang. Oleh karena itu, sekolah tersebut
menarik untuk dapat diteliti lebih lanjut, serta hal ini mampu diperlukannya
pengelolaan PSB yang lebih baik agar dapat digunakan secara optimal. Berdasarkan
uraian tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai "Manajemen
Pusat Sumber Belajar (PSB) Sebagai Sarana Peningkatan Kualitas Pembelajaran di
SMP Swasta Sinar Husni". Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran
tentang pengelolaan PSB serta memberikan rekomendasi bagi sekolah dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan Pusat Sumber Belajar
secara efektif.
Metode
Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kualitatif deskriptif, yang
dilaksanakan pada latar alamiah (natural setting) dengan peneliti bertindak sebagai
instrumen kunci dalam proses pengumpulan data. Data diperoleh melalui interaksi
langsung dengan informan, sehingga peneliti dapat memahami makna, pandangan,
serta pengalaman para informan terkait Pengelolaan Pusat Sumber Belajar di SMP
Swasta Sinar Husni. Subjek dalam penelitian ini meliputi kepala madrasah,
pengelola Pusat Sumber Belajar, Kepala Sekolah, Wakil Kurikulum dan Guru, serta
pihak-pihak lain yang terlibat langsung dalam pemanfaatan Pusat Sumber Belajar.
Penentuan subjek penelitian dilakukan dengan teknik purposive, yakni dengan
mempertimbangkan bahwa informan yang dipilih memiliki pemahaman dan
pengalaman yang sesuai dengan fokus kajian (Sugiyono, 2017).
Adapun proses pengumpulan data dilaksanakan secara langsung di lapangan
melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Waktu pengumpulan data
disesuaikan dengan jadwal kegiatan sekolah agar tidak mengganggu proses
pembelajaran. Selanjutnya, tahap analisis data dan penulisan hasil penelitian
dilakukan setelah seluruh data yang dibutuhkan terkumpul secara lengkap
(Moleong, 2018). Proses analisis data berlangsung secara berkesinambungan sejak
tahap pengumpulan data hingga penelitian rampung, meliputi reduksi data,
penyajian data, serta penarikan kesimpulan (Fai, 2022). Adapun pemeriksaan
keabsahan data menjadi tahapan krusial dalam penelitian kualitatif guna
memastikan bahwa data yang diperoleh memiliki tingkat kredibilitas yang memadai
serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, antara lain melalui perpanjangan
pengamatan, triangulasi data, dan member check.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 88
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Hasil dan Pembahasan
Perencanaan Pusat Sumber Belajar (PSB) dalam Meningkatkan Kualitas
Pembelajaran di SMP Swasta Sinar Husni
Berdasarkan hasil observasi, peneliti menemukan bahwa SMP Swasta Sinar
Husni memiliki berbagai fasilitas yang berfungsi sebagai Pusat Sumber Belajar,
seperti perpustakaan, laboratorium IPA, laboratorium komputer, ruang multimedia,
serta berbagai media pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan belajar
mengajar. Ketersediaan fasilitas tersebut merupakan hasil dari proses perencanaan
yang dilakukan sekolah secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan
guru dan peserta didik. Sebagaimana hasil wawancara dengan kepala sekolah
berikut:
"Sebagai kepala sekolah, saya memandang bahwa perencanaan Pusat Sumber Belajar
itu ialah langkah pertama yang sangat penting sebagai pondasi untuk memastikan
seluruh sumber belajar dapat dimanfaatkan secara optimal dalam mendukung proses
pembelajaran di kelas. Perencanaan yang kami lakukan disusun secara sistematis dan
berorientasi pada kebutuhan peserta didik serta guru yang mengajar di kelas."
Setiap program yang dirancang tidak dilakukan secara spontan, tetapi melalui
proses yang mempertimbangkan kebutuhan pembelajaran sehingga fasilitas yang
disediakan mampu menunjang pelaksanaan pembelajaran secara efektif. Lebih
lanjut, Kepala Sekolah menjelaskan bahwa tahap awal perencanaan dilakukan
melalui identifikasi kebutuhan pembelajaran. Hal tersebut terlihat pada kutipan
wawancara berikut:
"Dalam tahap awal perencanaan, kami terlebih dahulu melakukan identifikasi
kebutuhan pembelajaran. Guru-guru diminta menyampaikan kebutuhan media
pembelajaran, buku referensi, perangkat teknologi maupun bahan ajar yang
diperlukan sesuai dengan mata pelajaran yang diampu. Identifikasi ini dilakukan
melalui rapat awal tahun pelajaran, diskusi bersama koordinator kurikulum, serta
evaluasi pembelajaran tahun sebelumnya."
Hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa penyusunan program Pusat
Sumber Belajar dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan guru sebagai
pengguna utama sumber belajar. Selain itu, evaluasi pembelajaran pada tahun
sebelumnya juga dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan
kebutuhan fasilitas yang akan dikembangkan sehingga perencanaan yang dilakukan
sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah. Selain melakukan identifikasi
kebutuhan, sekolah juga menyusun program kerja Pusat Sumber Belajar yang berisi
berbagai kegiatan pengembangan fasilitas pembelajaran. Program tersebut meliputi
pengembangan koleksi perpustakaan, penyediaan media pembelajaran digital,
peningkatan jaringan internet, pemanfaatan laboratorium komputer, serta
pengembangan ruang multimedia sebagai sarana pembelajaran berbasis teknologi.
Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Sekolah berikut:
"Selanjutnya, kami menyusun program kerja PSB yang memuat tujuan, sasaran,
kegiatan, jadwal pelaksanaan, serta indikator keberhasilan. Program kerja tersebut
mencakup pengembangan koleksi perpustakaan, penyediaan media pembelajaran
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 89
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
digital, pemanfaatan laboratorium komputer, peningkatan jaringan internet, serta
pengembangan ruang multimedia sebagai sarana pembelajaran berbasis teknologi."
Dalam pelaksanaannya, penyusunan program kerja tersebut didukung oleh
perencanaan anggaran yang disusun melalui RKAS (Rencana Kerja dan Anggaran
Sekolah) dan RAPBS (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah).
Sebagaimana hasil wawancara berikut:
"Misalnya kita memfasilitasi sumber belajar seperti laboratorium, ruang multimedia,
kemudian perpustakaan. Untuk pengadaan fasilitas tersebut kita masukkan ke dalam
RKAS. Semua kebutuhan yang kita butuhkan kita anggarkan, kita masukkan dalam
RKAS dan RAPBS. Itu tahap perencanaannya."
Berdasarkan hasil wawancara tersebut, diketahui bahwa penyusunan anggaran
merupakan bagian penting dalam proses perencanaan Pusat Sumber Belajar. Setiap
kebutuhan fasilitas direncanakan terlebih dahulu agar penggunaan dana dapat
dilakukan secara efektif, terarah, dan sesuai dengan prioritas kebutuhan sekolah.
Kepala Sekolah menyampaikan bahwa:
"Kami juga merencanakan pelatihan bagi guru mengenai penggunaan media
pembelajaran berbasis teknologi informasi agar guru tidak hanya memiliki fasilitas
yang memadai, tetapi juga mampu memanfaatkannya secara optimal dalam proses
pembelajaran."
Pernyataan tersebut juga diperkuat oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang
Kurikulum yang menjelaskan bahwa:
"Kadang-kadang kita buat workshop, kadang kita buat pelatihan. Kadang-kadang
petugas juga ada panggilan dari dinas untuk mengikuti workshop sosialisasi sesuai
bidang yang diampunya."
Berdasarkan hasil observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan kedua
informan, peneliti menyimpulkan bahwa perencanaan Pusat Sumber Belajar di SMP
Swasta Sinar Husni telah dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu identifikasi
kebutuhan pembelajaran, penyusunan program kerja, pengalokasian anggaran
melalui RKAS dan RAPBS, serta perencanaan peningkatan kompetensi guru melalui
pelatihan dan workshop. Tahapan-tahapan tersebut menunjukkan bahwa sekolah
telah berupaya merencanakan pengelolaan Pusat Sumber Belajar secara sistematis
agar mampu mendukung peningkatan kualitas pembelajaran. Temuan ini
memperlihatkan bahwa perencanaan PSB di sekolah ini tidak berdiri sebagai unit
yang terpisah, melainkan telah terintegrasi ke dalam sistem manajemen sekolah
secara keseluruhan sesuai dengan pandangan (Siahaan et al., 2007). Penggunaan
RKAS dan RAPBS sebagai landasan perencanaan turut menunjukkan bahwa
pengelolaan PSB di SMP Swasta Sinar Husni sudah bergerak melampaui sekadar
penyediaan sarana secara ad hoc, menuju pengelolaan yang berbasis perencanaan
anggaran formal sebagaimana lazimnya manajemen berbasis sekolah. Temuan ini
juga relevan dengan hasil penelitian (Herdianty et al., 2025) yang mengkaji strategi
manajemen Pusat Sumber Belajar. Kesesuaian antara temuan di SMP Swasta Sinar
Husni dengan hasil penelitian tersebut memperkuat argumen bahwa keberhasilan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 90
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
pengelolaan PSB sangat ditentukan oleh sejauh mana tahap perencanaan mampu
mengakomodasi kebutuhan riil pengguna, yaitu guru dan peserta didik, bukan
sekadar pengadaan sarana secara formalitas administratif semata.
Meskipun demikian, perencanaan yang telah disusun secara sistematis tersebut
tetap menghadapi tantangan struktural, yaitu ketergantungan pada ketersediaan
anggaran yayasan dan dana BOS yang bersifat terbatas. Fenomena serupa turut
ditemukan dalam kajian (Kholili & Fajaruddin, 2020) mengenai manajemen strategi
peningkatan mutu pendidikan, yang mengidentifikasi keterbatasan infrastruktur dan
pendanaan sebagai salah satu tantangan utama dalam implementasi strategi
pendidikan yang telah direncanakan secara matang. Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa perencanaan PSB di SMP Swasta Sinar Husni telah
menunjukkan orientasi manajerial yang baik, namun keberlanjutan pelaksanaannya
masih rentan terhadap fluktuasi kondisi finansial sekolah.
Pengorganisasian Pusat Sumber Belajar untuk Menjadikan Kualitas Pembelajaran
yang Efektif di SMP Swasta Sinar Husni
Pengorganisasian yang baik akan memudahkan setiap personel memahami
perannya (Amelia et al., 2022) sehingga pengelolaan Pusat Sumber Belajar dapat
berjalan secara terarah dan mampu mendukung peningkatan kualitas pembelajaran.
Hasil wawancara mengungkapkan sebagai berikut:
"Dalam pengorganisasian PSB, kami membentuk struktur organisasi yang jelas agar
setiap personel memahami tugas dan tanggung jawabnya masing-masing. Sebagai
kepala sekolah, saya bertindak sebagai penanggung jawab utama terhadap seluruh
pelaksanaan program PSB. Selanjutnya terdapat wakil kepala sekolah bidang
kurikulum yang bertugas mengoordinasikan pelaksanaan pemanfaatan PSB dalam
kegiatan pembelajaran."
Lebih lanjut, Kepala Sekolah menjelaskan bahwa sekolah juga menunjuk
pengelola atau koordinator Pusat Sumber Belajar yang bertanggung jawab terhadap
pengelolaan berbagai fasilitas pembelajaran, seperti perpustakaan, laboratorium
komputer, ruang multimedia, media pembelajaran, serta perangkat LCD proyektor.
Selain mengelola fasilitas tersebut, koordinator Pusat Sumber Belajar juga bertugas
melakukan inventarisasi, pemeliharaan, dan penyusunan jadwal penggunaan
fasilitas agar dapat dimanfaatkan secara merata oleh seluruh guru. Sebagaimana
disampaikan dalam hasil wawancara berikut:
"Kami juga menunjuk seorang pengelola atau koordinator PSB yang bertanggung
jawab mengelola seluruh fasilitas pembelajaran seperti perpustakaan, laboratorium
komputer, ruang multimedia, perangkat LCD proyektor, media pembelajaran, serta
berbagai sumber belajar lainnya. Pengelola PSB juga bertugas melakukan
inventarisasi, pemeliharaan, dan penyusunan jadwal penggunaan fasilitas agar dapat
dimanfaatkan secara merata oleh seluruh guru."
Menurut peneliti, dengan adanya penanggung jawab pada setiap fasilitas
pembelajaran, proses pengelolaan, pemeliharaan, dan pemanfaatan sarana
pembelajaran dapat dilakukan secara lebih terarah dan efisien. Sesuai dengan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 91
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
pernyataan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum menyampaikan sebagai
berikut:
"Pengorganisasiannya kita sudah ada tupoksi-tupoksinya. Kita buatkan dalam
struktur pengelola penanggung jawab. Misalnya seperti petugas perpustakaan.
Kemudian untuk laboratorium IPA ada guru yang ditunjuk sebagai penanggung
jawab laboratorium. Untuk fasilitas multimedia juga ada penanggung jawabnya. Jadi
secara pengorganisasian itu terstruktur."
Selain pembagian tugas, koordinasi antar personel juga menjadi bagian penting
dalam pengorganisasian Pusat Sumber Belajar. Berdasarkan hasil wawancara,
Kepala Sekolah menjelaskan bahwa:
"Koordinasi dilakukan secara rutin melalui rapat bulanan maupun rapat evaluasi
semester untuk membahas kendala yang dihadapi, kebutuhan tambahan fasilitas, serta
efektivitas pemanfaatan PSB dalam mendukung pembelajaran."
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum juga memperkuat bahwa:
"Kadang-kadang kita buat workshop, kadang kita buat pelatihan. Kadang-kadang
petugas juga ada panggilan dari dinas untuk mengikuti workshop sosialisasi sesuai
bidang yang diampunya."
Peneliti menyimpulkan bahwa pengorganisasian Pusat Sumber Belajar di SMP
Swasta Sinar Husni telah dilaksanakan melalui pembentukan struktur organisasi
yang jelas, pembagian tugas sesuai kompetensi, penunjukan penanggung jawab
pada setiap fasilitas pembelajaran, serta pelaksanaan koordinasi dan evaluasi secara
berkala. Struktur pengorganisasian sejalan dengan konsep Learning Resources
Center (LRC) yang dikemukakan (Rusman & Riyana, 2011) yang menyatakan bahwa
Pusat Sumber Belajar idealnya memiliki struktur organisasi yang jelas, dengan
pimpinan serta tenaga pendukung seperti pustakawan, laboran, dan tenaga
administrasi yang mengelola sumber belajar secara profesional. Pengorganisasian ini
tidak hanya berhenti pada pembentukan struktur di atas kertas, tetapi
ditindaklanjuti dengan mekanisme koordinasi yang berkelanjutan melalui rapat
rutin bulanan dan rapat evaluasi semester, yang membahas kendala pelaksanaan,
kebutuhan tambahan fasilitas, serta efektivitas pemanfaatan PSB. Mekanisme ini
menunjukkan bahwa fungsi pengorganisasian di sekolah ini berjalan beriringan
dengan fungsi pengawasan, sebagaimana konsep siklus manajemen yang
menekankan keterkaitan antara perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan
pengendalian (Mulyasa, 2008). Selain itu, menurut (Herdianty et al., 2025) dalam
penelitiannya turut menekankan bahwa pengarahan yang jelas merupakan salah
satu pilar penting dalam manajemen PSB yang efektif, sehingga aspek ini menjadi
ruang yang masih dapat diperkuat dalam pengelolaan PSB di SMP Swasta Sinar
Husni ke depannya.
Pelaksanaan Pemanfaatan Pusat Sumber Belajar dalam Meningkatkan Kualitas
Pembelajaran di SMP Swasta Sinar Husni
Pemanfaatan berbagai fasilitas menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya
menyediakan sumber belajar, tetapi juga mengupayakan agar seluruh fasilitas dapat
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 92
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
digunakan sebagai penunjang pembelajaran yang lebih aktif, inovatif, dan berpusat
pada peserta didik. Sebagaimana hasil wawancara berikut.
"Pelaksanaan PSB kami lakukan dengan memanfaatkan seluruh fasilitas yang ada di
sekolah sebagai sumber belajar. Guru tidak hanya menggunakan buku paket, tetapi
juga memanfaatkan perpustakaan, laboratorium, ruang multimedia, internet, serta
media pembelajaran digital sesuai dengan kebutuhan materi yang diajarkan. Kami
mendorong guru agar memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran, seperti
menggunakan LCD proyektor, video pembelajaran, presentasi interaktif, maupun
sumber belajar digital yang dapat membantu peserta didik memahami materi dengan
lebih mudah."
Menurut peneliti, penggunaan berbagai media pembelajaran tersebut
menunjukkan bahwa pemanfaatan Pusat Sumber Belajar di SMP Swasta Sinar Husni
telah mengikuti perkembangan teknologi pendidikan. Beberapa mata pelajaran lebih
sering menggunakan laboratorium, sementara mata pelajaran lainnya memanfaatkan
perpustakaan, ruang multimedia, maupun media pembelajaran berbasis teknologi.
Sebagaimana hasil wawancara dengan Wakol Kepala Sekolah Bidang kurikulum
berikut.
"Pelaksanaan pemanfaatan sumber belajar disesuaikan dengan kebutuhan mata
pelajaran. Kalau IPA tentu lebih banyak menggunakan laboratorium. Mata pelajaran
lain bisa memanfaatkan perpustakaan, ruang multimedia, atau media pembelajaran
digital. Guru menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai."
Selain memanfaatkan fasilitas pembelajaran, sekolah juga melaksanakan
pengawasan terhadap penggunaan Pusat Sumber Belajar. Kepala Sekolah
menjelaskan:
"Kami melakukan monitoring terhadap penggunaan fasilitas pembelajaran. Apabila
terdapat kendala atau fasilitas yang perlu diperbaiki, kami segera melakukan evaluasi
agar pemanfaatan PSB tetap berjalan dengan baik."
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum juga menjelaskan bahwa:
"Kalau guru memanfaatkan media pembelajaran dan fasilitas yang ada, siswa tentu
lebih tertarik mengikuti pelajaran. Mereka lebih aktif bertanya, lebih mudah
memahami materi, dan pembelajaran juga menjadi lebih menyenangkan."
Berdasarkan hasil wawancara tersebut dapat dipahami bahwa pemanfaatan
Pusat Sumber Belajar tidak hanya memberikan manfaat bagi guru dalam
menyampaikan materi, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap peserta
didik. Peneliti menyimpulkan bahwa pelaksanaan pemanfaatan Pusat Sumber
Belajar di SMP Swasta Sinar Husni telah berjalan dengan baik. Hal tersebut terlihat
dari pemanfaatan berbagai fasilitas pembelajaran, penggunaan media pembelajaran
berbasis teknologi, fleksibilitas guru dalam memilih sumber belajar sesuai kebutuhan
pembelajaran, serta adanya kegiatan monitoring dan evaluasi secara berkala.
Temuan tersebut selaras dengan pandangan (Sanjaya, 2008) bahwa pemanfaatan
Pusat Sumber Belajar dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar peserta didik
melalui penyajian pembelajaran yang lebih variatif dan inovatif. Menurut (Lance &
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 93
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Hofschire, 2010) yakni penyediaan sumber belajar yang beragam guna memenuhi
kebutuhan peserta didik dengan gaya belajar yang berbeda-beda.
Hal yang menarik untuk diinterpretasikan lebih dalam adalah keterkaitan yang
diungkapkan guru antara pemanfaatan PSB dengan kemampuan awal atau intake
peserta didik. Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas Pusat Sumber Belajar
tidak berdiri sendiri, melainkan berinteraksi erat dengan kesiapan belajar peserta
didik dan kompetensi pedagogik guru dalam memilih metode yang tepat. Hal ini
memperkuat pandangan (Mulyasa, 2013) bahwa keberhasilan pembelajaran
ditentukan bukan hanya oleh ketersediaan sarana, melainkan juga oleh ketepatan
pemanfaatannya sesuai kebutuhan peserta didik. Selain itu, penelitian (Novriliam &
Yunaldi, 2012) mengenai pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai Pusat Sumber
Belajar turut menemukan bahwa pemanfaatan sumber belajar oleh peserta didik
sangat dipengaruhi oleh dorongan tugas yang diberikan guru, pola yang juga
tampak jelas di SMP Swasta Sinar Husni, di mana peserta didik cenderung
mengakses PSB ketika diberi tugas oleh guru. Kondisi ini mengindikasikan bahwa
pemanfaatan PSB di sekolah ini masih bersifat guru-driven, dan belum sepenuhnya
berkembang menjadi kebiasaan belajar mandiri yang melekat pada diri peserta didik
tanpa perlu diinstruksikan.
Faktor Pendukung dan Penghambat Manajemen Pusat Sumber Belajar (PSB)
Pengelolaan Pusat Sumber Belajar tidak terlepas dari faktor pendukung yang
memperlancar pelaksanaannya maupun faktor penghambat yang membatasi
efektivitasnya. Berdasarkan observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan
di SMP Swasta Sinar Husni, ditemukan beberapa faktor pada kedua aspek tersebut.
Wawancara dengan Kepala SMP Swasta Sinar Husni mengungkap bahwa:
"Alhamdulillah sekolah selalu berupaya memenuhi kebutuhan pembelajaran
melalui penyediaan berbagai fasilitas belajar sesuai dengan kemampuan
sekolah."
Pernyataan ini menegaskan bahwa keberpihakan kebijakan pimpinan sekolah
turut memperkuat pengembangan Pusat Sumber Belajar sebagai bagian dari
peningkatan mutu layanan pendidikan. Dukungan tersebut ditopang pula oleh
ketersediaan dana BOS dan bantuan Yayasan Sinar Husni, sebagaimana
disampaikan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum:
Sumber pendanaan untuk pengadaan fasilitas pembelajaran berasal dari
dana BOS dan juga dukungan dari yayasan."
Kejelasan sumber pendanaan ini memungkinkan sekolah mengembangkan
fasilitas belajar secara bertahap dan berkelanjutan. Faktor pendukung berikutnya
adalah kesiapan sumber daya manusia. Guru-guru di sekolah ini dinilai cukup
antusias mengikuti pelatihan dan workshop guna meningkatkan kemampuan
memanfaatkan media dan teknologi pembelajaran. Kesediaan guru untuk terus
mengembangkan diri ini menjadi kunci agar fasilitas yang tersedia dapat
dimanfaatkan secara optimal dalam proses pembelajaran.
Di samping berbagai faktor pendukung tersebut, penelitian juga menemukan
sejumlah kendala yang memengaruhi efektivitas pengelolaan Pusat Sumber Belajar.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 94
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Kendala pertama adalah keterbatasan anggaran, yang membuat sekolah tidak dapat
memenuhi seluruh kebutuhan fasilitas secara serentak, sehingga pengadaannya
harus disusun berdasarkan skala prioritas. Kepala Sekolah menjelaskan:
"Tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi dalam satu waktu karena harus
menyesuaikan dengan kemampuan anggaran sekolah."
Selain itu, kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran juga
belum merata. Sebagian guru masih membutuhkan pendampingan, sebagaimana
diungkapkan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum:
"Masih ada beberapa guru yang perlu dibimbing dalam penggunaan
teknologi pembelajaran."
Kendala lain yang ditemukan melalui observasi adalah belum optimalnya
pemanfaatan sebagian fasilitas oleh seluruh guru, yang dipengaruhi oleh
karakteristik mata pelajaran, tingkat kemampuan guru, serta kondisi peserta didik
yang beragam. Meski demikian, sekolah terus berupaya meminimalkan kendala
tersebut melalui koordinasi, evaluasi rutin, workshop, dan pengembangan fasilitas
secara bertahap.
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa manajemen Pusat Sumber
Belajar di SMP Swasta Sinar Husni ditopang oleh komitmen pimpinan, ketersediaan
sarana-prasarana, dukungan pendanaan BOS dan yayasan, serta kompetensi guru
yang terus dibina. Namun demikian, keterbatasan anggaran, kesenjangan
kemampuan teknologi guru, dan pemanfaatan fasilitas yang belum merata masih
menjadi tantangan yang terus diupayakan penyelesaiannya oleh pihak sekolah.
Simpulan dan Rekomendasi
Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa manajemen Pusat Sumber
Belajar (PSB) di SMP Swasta Sinar Husni telah berjalan secara sistematis dan
terkoordinasi dengan baik pada aspek perencanaan, pengorganisasian, maupun
pelaksanaan. Perencanaan PSB dilakukan melalui identifikasi kebutuhan pembelajaran
yang dituangkan ke dalam RKAS dan RAPBS, meskipun pengadaan fasilitas masih
dilakukan secara bertahap akibat keterbatasan anggaran dari dana BOS dan yayasan.
Pengorganisasian PSB telah memiliki struktur pembagian tugas yang jelas, mulai dari
kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang kurikulum, hingga guru atau petugas
teknis, yang dikoordinasikan melalui rapat rutin, meskipun pengembangan kompetensi
guru dalam pemanfaatan teknologi pembelajaran belum dilaksanakan secara terprogram
dan berkelanjutan. Pada aspek pelaksanaan, pemanfaatan PSB melalui perpustakaan,
laboratorium, ruang multimedia, media digital, dan pembelajaran berbasis proyek
terbukti mampu meningkatkan minat dan keterlibatan peserta didik, meskipun
pemanfaatannya masih bergantung pada arahan guru dan belum sepenuhnya
membentuk budaya belajar mandiri. Keberhasilan manajemen PSB ini ditopang oleh
sejumlah faktor pendukung, seperti dukungan pendanaan, komitmen dan kreativitas
guru, ketersediaan sarana, serta antusiasme peserta didik, di sisi lain masih dihadapkan
pada faktor penghambat berupa keterbatasan anggaran dan fasilitas, gangguan jaringan
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 95
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
internet, kedisiplinan pengguna, serta kesenjangan kompetensi teknologi sebagian guru,
sehingga diperlukan penguatan pada aspek pengembangan sumber daya manusia,
peningkatan fasilitas, dan optimalisasi pemanfaatan teknologi pembelajaran guna
mendukung peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.
Daftar Pustaka
Amelia, A., Manurung, K. A., & Purnomo, D. B. (2022). Peranan manajemen
sumberdaya manusia dalam organisasi. Mimbar Kampus: Jurnal Pendidikan Dan
Agama Islam, 21(2), 128138.
Fai. (2022). Metode Penelitian Kualitatif [Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara].
https://umsu.ac.id/metode-penelitian-kualitatif-adalah/
Fuad, N. (2016). Manajemen Sarana dan Prasarana Pendidikan. Raja Grafindo Persada.
Herdianty, E., Kridayani, G., Novianti, N., Ramadina, R., Resdianto, J., & Widiyan, T.
(2025). Strategi manajemen pusat sumber belajar untuk meningkatkan
aksesibilitas dan kualitas sumber daya pendidikan. Jurnal Ilmiah Wahana
Pendidikan, 11(10), 5666.
https://www.jurnal.peneliti.net/index.php/JIWP/article/view/11774
Kholili, A. N., & Fajaruddin, S. (2020). Manajemen strategik peningkatan mutu
lembaga pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Gunungkidul. Jurnal
Akuntabilitas Manajemen Pendidikan, 8(1), 5369.
https://doi.org/https://doi.org/10.21831/jamp.v8i1.31630
Lance, K. C., & Hofschire, L. (2010). The impact of school Libraries on student
Achievement: Exploring the school Library Paradox.
Moleong, L. J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. In PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. (2008). Menjadi Guru Profesional; Menciptakan Pembelajaran Kreatif
danMenyenangkan. Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. (2013). Manajemen berbasis sekolah konsep, strategi, dan implementasi.
Remaja Rosdakarya.
Nasional, D. P. (2010). Konsep Pusat Sumber Belajar SMA.
Novriliam, R., & Yunaldi. (2012). Pemanfaatan perpustakaan sekolah sebagai pusat
sumber belajar di Sekolah Dasar Negeri 23 Painan Utara. Ilmu Informasi
Perpustakaan Dan Kearsipan, 1(1), 141150. https://doi.org/10.24036/499-0934
Ristianah, N. (2022). Konsep Manajemen Peserta Didik. CERMIN: Jurnal Manajemen
Dan Pendidikan Berbasis Islam Nusantara, 2(1), 7176.
https://ejournal.staidapondokkrempyang.ac.id/index.php/cjmp/article/view
/100
Rusman. (2020). Model-Model Pembelajaran: Mengembangkan Profesionalisme Guru.
Rajawali Pers.
Kurnia Mengabdi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat
Vol. 3, No. 2, Agustus 2026, page: 84-96
E-ISSN: 3047-2474 (online) 96
https://kurniajurnal.com/index.php/kurnia-mengabdi
Rusman, D. K., & Riyana, C. (2011). Pembelajaran berbasis teknologi informasi dan
komunikasi. Rajawali Pers.
Sanjaya, W. (2008). Strategi Pembelajaran. Kencana Prenada Media Group.
Siahaan, A., Akmalia, R., Syafriani, Y., Ramadhani, S., Ahmad, A. K., & Sihombing,
H. R. S. (2022). Manajemen Mutu Pendidikan dalam Meningkatkan Proses
Belajar Mengajar di SMP Negeri 2 Binjai. ANWARUL, 2(6), 436446.
https://doi.org/https://doi.org/10.58578/anwarul.v2i6.696
Siahaan, A., Khairuddin, & Irwan Nasuiton. (2007). Manajemen Pendidikan Berbasis
Sekolah,. In Manajemen Pendidikan Berbasis Sekolah, (pp. 2425). Quantum
Teaching.
Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan
RnD. Alfabet.